Terima kasih banyak yang sudah apresiasi (favorite, follow, review), karena dengan begitu sudah bikin author semangat melanjutkan lagi. Nah, ini adalah bab kedua dan terakhir dari cerita ini. Maafkan jika kurang mengena.

.

Disclaimer: Harry Potter punya J.K. Rowling. Saya tidak mengambil keuntungan materil apapun dari penulisan fanfiksi ini.

.


Malfoy Manor, akhir 1998

Draco menatap perapian ruang keluarganya dengan mata sembab. Bolak-balik ia menggerakkan tubuhnya sedikit agar kursinya goyangnya tetap mengayun ke depan dan ke belakang. Pikirannya sibuk merenungi jalan hidup yang telah ditempuh keluarganya selama ini. Setidaknya, sejak masuk kelas enam Draco sudah benar-benar merasa kalau jalan yang ditempuh keluarganya salah. Dan jalan yang salah selalu membawa pada kehancuran. Dan itu sudah terbukti. Ia beruntung dirinya dan Narcissa tak dipenjara, walau ia harus merelakan sang ayah meringkuk di Azkaban barang beberapa tahun. Beberapa tahun yang sebenarnya tak sepadan dengan kejahatannya. Harusnya Lucius dipenjara lebih lama, tapi keluarganya mendapat keberuntungan itu berkat seseorang yang tak disangka-sangka.

Rasanya seperti baru beberapa bulan yang lalu ketika ia pertama kali bertemu Harry Potter. Bocah tujuh tahun berkacamata, berambut hitam berantakan, bermata hijau bening yang menyenangkan, berhati tulus, namun nasib baik tak berpihak padanya. Itu bisa dilihat hanya dengan melihat baju besar agak lusuh yang dipakainya.

Dan jangan lupakan bekas luka berbentuk sambaran kilat itu…

Bekas luka yang katanya akibat dari kecelakaan mobil yang menewaskan kedua orang tuanya. Tapi pada akhirnya Draco tahu kalau berita kecelakaan itu bohong, hanya bualan bibi Harry. Dan bekas luka itu ternyata pemberian Voldemort, yang tak lain adalah orang yang dibela keluarga Draco.

Orang teramat jahat yang bahkan jadi penyebab kehancuran keluarga Malfoy.

Draco mengerang pelan sambil menatap kedua telapak tangannya. Dengan tangan itulah ia membantu para Pelahap Maut jahat itu. Dengan tangan itulah ia mencelakai Katie Bell, Ron Weasley, bahkan nyaris membunuh Dumbledore. Tapi dengan tangan itu pulalah Draco berjabat tangan pertama kalinya dengan Harry Potter. Dengan tangan itu pulalah ia makan dari piring yang sama dengan Harry Potter. Dan dengan tangan itu pula ia melambai mengucapkan selamat tinggal pada Harry Potter, dalam hati tidak ingin terpisah dan ingin menjadi teman selamanya.

Draco perlahan tersedu. Ia ingin sekali kembali menjadi anak kecil. Jadi anak kecil yang tidak terkontaminasi dengan paham-paham jahat yang tidak masuk akal. Ingin jadi anak kecil yang polos dan hanya paham soal bermain.

.

.

Toko Jubah Madam Malkin, Diagon Alley, 1991

"Tahun pertama juga?" tanya Draco pada anak berkacamata itu.

"Iya," ucapnya.

Pandangan Draco beralih pada kening lawan bicaranya. Poninya tersibak dan menampakkan bekas luka berbentuk sambaran kilat. Seketika Draco merasa yakin. Tak salah lagi, itu memang Harry Potter yang pernah bertemu dengannya empat tahun lalu. Wajahnya, suaranya, bahkan pakaiannya, tak ada yang berubah darinya. Melihat pandangan Draco, Harry buru-buru membenahi poninya agar menutup bekas lukanya.

Harry Potter tampaknya tak begitu antusias, tampak tak terkesan dengannya. Namun begitu Harry terlihat seperti berpikir. Draco mengira Harry mungkin sudah menyadari siapa dirinya… atau malah tidak? Mungkin seperti mengenali Draco di suatu tempat tapi lupa di mana? Atau bahkan tak ingat sama sekali? Entahlah. Yang Draco tahu anak itu kelihatan agak bingung dan canggung dengan sekitarnya. Itu pasti karena ia berasal dari latar belakang Muggle.

Awal-awal mendengar cerita tentang Anak-Yang-Bertahan-Hidup setelah pengalaman tersesatnya, Draco kaget karena namanya persis sama dengan teman kecilnya itu. Draco sempat berpikir mungkin hanya kebetulan punya nama yang sama. Tapi Harry Potter yang diceritakan orang-orang mirip dengan Harry Potter yang ia tahu. Yatim piatu sejak umur satu tahun dan tinggal dengan kerabat ibunya yang Muggle. Draco berusaha menahan keinginnya untuk bertemu Harry lagi. Ia akhirnya memilih bersabar dan menunggu waktu yang membuktikan.

Tapi Draco sudah diberitahu keluarganya apa-apa tentang Muggle dan kelahiran-Muggle. Mereka tak berharga. Dan kesalahan besar jika Draco ingin kembali ke Privet Drive dan melanjutkan pertemanan dengan Harry, begitu kesimpulannya. Apalagi Harry yang merupakan produk gagal dari penyihir. Anak dari seorang darah-lumpur, begitu yang pernah ia dengar dari orang-orang. Kaum seperti itu adalah rival mereka yang menentang paham kemurnian darah penyihir. Kaum darah-murni harusnya yang menjadi penduduk dunia sihir. Cuci otak itu begitu hebat hingga membuat pola pikir Draco kecil berubah. Itulah yang membuatnya mengerem rasa antusias di saat bertemu Harry lagi. Rasa antusias yang bukan hanya karena bertemu teman lama, tapi juga rasa antusias karena tahu kalau Harry sebenarnya penyihir. Bukan sembarang penyihir, tapi anak yang rumornya telah mengalahkan Voldemort. Tapi Draco ingin melihat dulu apakah Harry memang tidak berharga untuk jadi temannya.

"Sudah tahu ingin masuk asrama mana?" tanya Draco, berusaha memunculkan aura superiornya lagi. Seorang Malfoy yang memang pantas arogan karena kedudukan keluarganya.

"Tidak."

"Kalau aku sih ingin masuk Slytherin. Seluruh keluargaku di sana," jawab Draco. Walau dengan segala paham darah-murninya, entah kenapa dalam hati ia berharap Harry akan terpengaruh dan masuk Slytherin juga. Dengan begitu mungkin mereka bisa berteman lagi. "Tapi kurasa Ravenclaw dan Gryffindor boleh juga. Hanya jangan sampai aku masuk Hufflepuff. Hanya orang-orang tak penting dan lemah yang masuk sana."

Harry memandanginya dengan mengernyit. Ia tampak tak suka dengan perkataan Draco, tapi tak bilang apa-apa.

.

.

Aula Depan Hogwarts, 1991

"Jadi benar apa yang dikatakan orang-orang. Harry Potter telah tiba di Hogwarts."

Kata-kata Draco menggema. Hanya dialah yang sedang berbicara di situ. Semua anak memandanginya, dan Draco senang diperhatikan.

"Ini Crabbe, ini Goyle," katanya menunjuk dua anak berbadan besar di sebelahnya. "Dan aku Malfoy. Draco Malfoy."

Draco memerhatikan dengan saksama ekspresi Harry. Ia yakin sekali Harry sudah benar-benar menyadari siapa sebenarnya dirinya. Namun Harry diam seperti sebelumnya. Tentunya Harry mengingat Draco sebagai anak sombong di toko Madam Malkin.

Namun ada suara terkikik yang ditahan dari anak di sebelah Harry.

"Kaupikir namaku lucu?" kata Draco dingin pada anak itu. "Aku tak perlu menanyakan namamu. Rambut merah dan jubah bekas, kau pasti Weasley."

Draco tak memedulikan reaksi siapapun atas ucapannya. Ia kembali beralih pada Harry.

"Kau akan tahu keluarga penyihir tertentu lebih baik dari keluarga lainnya, Potter. Kau tak ingin berteman dengan orang yang salah. Disini aku bisa membantumu."

"Kupikir aku bisa membedakan sendiri. Terima kasih," jawab Harry, tidak menyambut tangan Draco sama sekali. Mata hijau itu bukan mata hijau yang sebelumnya pernah dilihat Draco. Mata hijau itu tidak memancarkan keakraban, bahkan kesal pada sikap Draco. Tersinggung, Draco menarik tangannya kembali. Ia merasa direndahkan, bahkan tak ada harganya dibanding keluarga Weasley yang miskin itu. Sejak saat itu padangan Draco pada Harry benar-benar berubah. Tak ada harapan untuk bisa berteman dengan Harry lagi. Harusnya Draco tahu itu dari awal. Ia hanya mempermalukan diri sendiri.

Muggle, darah-lumpur, Squib, bahkan darah-campuran yang banyak terkontaminasi dengan Muggle seperti Harry sama saja. Tak berharga untuk berteman dengannya.

Sebenarnya ada rasa sakit yang berusaha disingkirkan Draco. Diatas penghinaan karena dianggap ada di bawah keluarga Weasley, ada rasa sakit karena ditolak Harry. Padahal ia hanya ingin berteman kembali dengan teman lamanya. Namun mungkin sang Harry Potter kini ternyata lebih arogan dari Draco Malfoy sendiri…

.

.

Kamar Mandi Anak Laki-laki, Hogwarts, 1997

"Jangan," kata Myrtle Merana, menatap remaja laki-laki di depannya. "Jangan… Beritahu aku ada apa… Aku bisa menolongmu…"

Tubuh Draco bergetar. "Tidak ada yang bisa menolongku. Aku tidak bisa melakukannya. Ini tidak akan berhasil… kecuali aku segera melakukannya… dia bilang dia akan membunuhku…"

Air mata mengaliri wajahnya. Ia tak peduli ia menangis dan curhat di depan perempuan, hantu pula. Tapi rasanya ia tak ingin berinteraksi dengan manusia siapapun saat ini.

Draco mengangkat wajahnya di depan cermin dan menjumpai sosok lain di kamar mandi itu. Sosok yang selama bertahun-tahun ini dibencinya. Ia segera berbalik menghadap Harry, yang segera mencampakkan kutukan yang Draco lancarkan. Setelah itu serangan demi serangan—diiringi dengan teriakan Myrtle—meramaikan ruangan itu. Sampai akhirnya—

"Cruci—"

"SECTUMSEMPRA!" teriak Harry.

Draco langsung roboh. Darah keluar dari wajah dan dadanya seperti serangan pedang yang tak kelihatan. Ia bergetar tak terkontrol, mungkin sudah tak mengingat apapun. Yang tak ia tahu, Harry di sampingnya panik dengan apa yang terjadi.

"Tidak."

"Tidak. Aku tidak—"

"Tidak. Draco, maafkan aku!"

"Sungguh! Bertahanlah. Kau harus kuat, Draco!"

Sementara Myrtle berteriak "Pembunuhan! Pembunuhan di kamar mandi! Pembunuhan!", pintu menjeblak terbuka dan tampaklah Profesor Snape yang langsung mendorong Harry ke samping. Ia menunduk dan dengan mantra-mantra yang tidak diketahui Harry perlahan menyembuhkan Draco.

Harry masih ketakutan dengan apa yang sudah ia lakukan. Sungguh, sejahat apapun Draco padanya, dan sebenci apapun ia pada Draco, ia tak bermaksud membuat Draco celaka. Tidak dengan luka yang seperti ini. Sungguh, ia tak bermaksud begitu. Hatinya berteriak. Ia ingin menangis. Sifat Draco memang sudah berubah banyak, tapi melihat Draco terluka nyaris tak sadar, ia jadi ingat anak dari sepuluh tahun yang lalu. Anak yang tak berdaya karena terpisah dari orang tuanya dan memasuki dunia yang asing dan membuatnya takut. Namun kini ia sudah membuat temannya dari masa lalu itu terluka parah. Rasa bersalahnya masih belum hilang bahkan ketika Snape berhasil menangani luka-luka Draco.

Setelah Snape memapah Draco untuk ke Rumah Sakit, Harry tetap mematuhi Snape untuk tinggal di situ. Ia mengamati dirinya sendiri, tak percaya telah menghiasi dirinya sendiri dengan darah teman lamanya. Ia merasa sedih karena itu, tapi juga sedih menyadari Draco sendiri bukanlah anak baik. Jauh berbeda dengan yang dulu. Jauh di dalam hatinya, Harry ingin mendapatkan kembali teman kecilnya yang dulu. Teman pertamanya yang sejati.

"Draco, kembalilah," bisiknya.

.

.

Surrey, 1999

Draco berdiri di depan sebuah rumah makan yang cukup besar. Tampaknya memang rumah makan ini terkenal dan makanannya enak. Ia meyakinkan sekali lagi kalau rumah makan inilah yang memang seharusnya ia kunjungi. Diangkatnya jubah yang telah ia masukkan ke sebuah kantong plastik putih bergambar ayam dan bertuliskan 'Nando's' pemberian Harry dulu. Alamatnya sudah cocok. Draco menerawang dalam restoran dengan tangan di atas kening, melindungi matanya dari sinar matahari. Suasana di dalam rumah makan cukup ramai tapi ia lihat masih ada meja yang kosong. Ia diam beberapa saat di luar sebelum memutuskan untuk masuk.

Ia masih ingat makanan yang Harry makan dulu dari restoran ini adalah ayam goreng. Tapi ketika dilihatnya daftar menu, disitu ada beragam makanan lain. Ia mencoba pesan burger dengan level extra hot dan segelas jus jeruk.

Tak lama pesanannya datang. Ia tak tahu kenapa ia harus memilih extra hot, sebab kenyataannya ia tak begitu kuat memakannya. Keringat mulai keluar. Sebentar-sebentar ia berhenti makan sejenak untuk mengurangi sensasi pedas dan panas. Dan pada saat berhenti makan itu ia teringat kembali dengan teman masa kecilnya. Harry Potter yang tulus dan baik hati, namun jadi orang yang sangat dibencinya ketika sekolah. Orang yang membela sisi yang berlawanan dengan dirinya. Mereka adalah musuh. Dan Draco merasa sedih karena itu. Bukan hanya karena pertemanan mereka yang rusak, tapi juga kesadaran kalau dirinya bukanlah orang baik. Ia terkenang kembali dengan kejahatan yang telah ia dan keluarganya lakukan. Ia bahkan belum meminta maaf secara langsung pada Harry. Ia kembali menangis seperti beberapa bulan belakangan ini.

Draco buru-buru menggigit burger ekstra pedasnya untuk menyamarkan air mata kesedihannya. Ia lebih baik terlihat menangis karena rasa pedas daripada ketahuan menangis karena masalah hidupnya di muka umum.

Setelah menyelesaikan makan dan akan meninggalkan restoran, Draco menyempatkan diri untuk membungkus makanan dari situ. Ia pilih menu andalan yang dulu dimakan Harry, ayam goreng. Kali ini ia memilih level kepedasan medium. Ia memesan empat potong dan setelah mendapatkannya, segera keluar rumah makan untuk melanjutkan perjalanannya.

.

XxX

Hari semakin terik ketika Draco berhasil menemukan SD tempat Harry bersekolah dulu. Bangunan itu tidak banyak berubah, mungkin hanya sedikit penambahan fasilitas di depannya dengan warna cat yang sudah diganti. Draco bahkan masih menemukan taman tempat ia terisak dulu. Semak yang sama pun masih ada. Hanya lingkungan tempatnya berdiri sekarang terasa lebih sempit karena dirinya yang sudah bertumbuh lebih besar.

Tak sulit untuknya mengingat jalan menuju Privet Drive. Tidak banyak belokan yang harus ia tempuh dan ada perbedaan sana-sini di sepanjang jalan. Rumah-rumah diperbesar, pohon-pohon yang rasa-rasanya makin banyak, dan makin banyak mobil yang melintas. Draco jadi ingat mobil bagus Paman Vernon, dan bertanya-tanya apakah mobilnya masih sama sekarang.

Rumah-rumah di Privet Drive bentuknya masih seragam seperti dulu. Ia masih ingat betul dimana letak rumah nomor empat walau tanpa mobil Paman Vernon di depannya. Ketika menemukannya, Draco sedikit terlonjak melihat seseorang yang dikenalnya sedang ada di depan rumah.

Selagi Draco berjalan mendekat, sosok itu tambah kelihatan jelas. Sosok berkacamata itu sedang sibuk melakukan sesuatu pada sebuah sepeda. Entah apa yang dikerjakannya, namun ia kelihatan serius sekali. Rambut hitamnya masih berantakan sama seperti yang dilihat Draco berbulan-bulan lalu. Namun perbedaannya, ia tidak sekurus sewaktu kecil dulu dan pakaiannya tidak lagi longgar dan kusam. Untuk yang terakhir Draco memang sudah tak melihatnya sejak mereka masuk Hogwarts. Syukurlah

Harry tak menyadari langkah ringan Draco yang mendekatinya. Draco memandanginya agak lama. Tapi semakin lama memandang, makin bersalah perasaan Draco. Ia tidak hanya memikirkan tentang sang pahlawan dunia sihir yang sudah ia sakiti selama di Hogwarts, tapi juga memandang Harry sebagai teman masa kecilnya yang baik hati.

"Hai bocah aneh."

Harry mendongak mendengar Draco berbicara. Sesaat Harry hanya diam, seperti tak percaya dengan apa yang dia lihat. Kemudian matanya menangkap bungkusan Nando's di tangan Draco, dan saat itulah Harry tersenyum lebar, nyengir.

"Hai juga, bocah aneh."

"Lama sekali tak jumpa. Dua belas tahun lalu, bukan?"

Harry berpikir sejenak, kemudian mengangguk. "Dan kau sudah pergi ke Nando's? Untuk pertama kalinya?"

"Ya. Dan kau ingin kuberitahu rahasia kenapa aku begitu aneh?" tanya Draco, senyum belum lepas dari wajahnya. Kemudian ia sedikit berbisik, "Karena aku memang alien."

Harry tertawa. Ia kemudian berdiri dari posisi duduknya, menghilang sebentar ke samping rumah, dan kembali lagi dengan tangan yang sudah bersih.

Harry berdiri di depan Draco, tangannya terulur. "Kalau kau lupa, namaku Harry. Harry Potter."

Draco membalas tangan Harry. "Aku Draco. Draco Malfoy."

Harry melirik sepeda di sebelahnya. "Kutebak kau masih belum bisa bersepeda?"

Draco tergelak. "Benar. Dan kamu berjanji mau mengajariku lagi, kan?"

Harry mengangguk bersemangat hingga menyibak poninya. Saat itulah bekas luka berbentuk sambaran kilatnya tampak kembali, tapi Draco tak menanyakannya lagi.

Sedetik kemudian Draco meletakkan bungkusan ayam dan jubahnya ke rerumputan taman kecil Bibi Petunia. Harry memberikan sepedanya pada Draco, dan memori masa lalu langsung muncul. Senyum Draco tambah lebar. Teman masa kecilnya telah kembali, dan Draco kecil juga sudah kembali.

Di mata Draco, Harry tak ubahnya anak kecil dari dari dua belas tahun lalu. Baik hati dan bersemangat mendorong sepeda dari belakang selagi Draco mencoba tetap seimbang mengayuh pedal. Dan di mata Harry, Draco masih sama seperti anak dua belas tahun lalu, masih tidak bisa dan canggung mengendarai sepeda.

"Kukira kau tak akan kembali," kata Harry.

"Bohong. Kau tahu aku akan kembali, kan?"

"Dari mana kau tahu?"

"Dari boncengan sepeda ini," jawab Draco. Harry memandang boncengan yang ia pegang. Seperti sepeda punya Mrs Figg, sepeda Harry yang masih terhitung baru ini juga punya boncengan, bedanya ini sepeda yang dirancang secara khusus untuk laki-laki.

"Menurutmu aku beli sepeda yang ada boncengannya karena kau, begitu?"

"Aku pernah janji memboncengmu kalau sudah bisa bersepeda soalnya," jawab Draco. "Atau aku salah? Boncengan itu untuk kau membonceng orang lain? Seperti Granger, contohnya?" Harry tertawa, tapi Draco bisa menebak kalau temannya itu berwajah merah sekarang. "Aku anggap aku benar."

"Kau sok tahu sekali! Ambil satu ayam Nando's dari Slytherin!"

"Tidak semudah itu, Potter. Kau harus membuatku bisa bersepeda dulu."

"Siap, Mr Malfoy!" Harry mendorong sepedanya kuat-kuat, hingga membuat Draco kelabakan. Ia nyaris jatuh dan Harry menertawakannya. Kemudian Harry mendorong lagi, cepat sekali hingga rasanya seperti membawa Draco terbang di udara. Draco tertawa lepas, menikmati sensasi seperti pertama kalinya ia naik sepeda waktu kecil dulu.

Bahkan ini lebih indah daripada naik sapu terbang…

.

.

.

*a bit of Harmony accomplished*

TAMAT