Chapter 02

Anak Baru

.

.

"BoBoiBoy, bagaimana keadaanmu? Sudah baikan?"

"Iya, Komandan. Saya baik-baik saja."

"Syukurlah kalau begitu. Sekarang ini, prioritas kita adalah membangun kembali Stasiun TAPOPS. Tapi ... itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama."

"Maaf ... Stasiun TAPOPS jadi hancur gara-gara saya ..."

"Tak perlu risau. Itu sangat sepadan dengan jasamu, dan juga pencapaian kita, yang pastinya akan membuat gentar para pemburu Power Sphera yang masih berkeliaran di luar sana. Karena itu ..."

"Ng?"

"Kau ... dan kalian semua ... memerlukan liburan."

"Eh?"

.

.


oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

Animasi "BoBoiBoy Galaxy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta©

Fanfiction "Huru-Hara Elemental" ditulis oleh kurohimeNoir. Khusus Chapter 2, untuk event #CanonJuly (Prompt hari ke-9: Kita). Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.

AR. Canon-based. Humor-Drama. Ancaman OOC dan tebaran bahasa tidak baku.

Timeline: Setelah BoBoiBoy Galaxy Season 1 Finale.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo


.

.

"Hhhhhhhhhh ..."

Tok Aba mengangkat sebelah alis dari balik counter Kedai Kokotiam, waktu mendengar helaan napas yang panjaaang banget. Cek aja tuh, ada berapa huruf 'h'-nya tadi.

"BoBoiBoy?" sang pemilik kedai menyebut nama orang yang tadi mendesah lelah, yaitu cucu satu-satunya. "Kamu capek? Kan Atok sudah bilang, kamu tidak usah bantu-bantu dulu di sini. Istirahat saja di rumah."

Sepasang iris cokelat menatap Tok Aba yang tampak cemas. Bibirnya pun melengkungkan sebuah senyuman.

"BoBoiBoy nggak apa-apa, Atok," jawab remaja empat belas tahun itu. "Kalau di rumah terus, nanti malah bosan."

"Tok Aba benar, BoBoiBoy," suara lain ikutan nimbrung. Ialah Ochobot, yang membantu Tok Aba di counter, lengkap dengan celemek biru tua khas Kokotiam. "Kita kan pulang untuk liburan. Sambil kamu memulihkan diri."

"Iya, iya." BoBoiBoy meneruskan kegiatannya mengelap meja-meja kedai sampai mengilap. "Kalau capek, aku akan istirahat."

Tok Aba ikut menghela napas. Tahu anak itu memang keras kepala.

Cucunya siapa sih, dia?

"Ya sudah, yang penting kamu jangan memaksakan diri," akhirnya Tok Aba menyerah. "Oh ya, Atok mau pergi sebentar. Kalian jaga kedai, ya!"

"Siap, Tok!" Ochobot dan BoBoiBoy menyahut berbarengan.

"Nah, mumpung sedang sepi pengunjung, kalian istirahat dulu." Tok Aba beranjak dari counter. "Ochobot, tolong buatkan Ice Choco Special buat cucu kesayangan Atok."

"Beres, Tok!"

.

Oo)=-=-=-=o=-=-=-=(oO

.

"Ochobot~"

Sang Power Sphera kuning mungil teralih sejenak dari kesibukannya meramu es cokelat istimewa kedai Tok Aba. Dilihatnya BoBoiBoy sudah menelungkupkan separuh tubuhnya ke atas meja. Dia sudah langsung males-malesan gitu setelah Tok Aba nggak kelihatan lagi.

Terus, apa-apaan cara memanggil yang dimanja-manjain tadi? Ochobot langsung berdoa supaya sahabatnya nggak lagi 'masuk Angin'.

"Kenapa, BoBoiBoy?" tanya Ochobot, sambil nerusin bikin es cokelat.

Dia sok tenang aja. Padahal diam-diam rada khawatir juga kalau BoBoiBoy kenapa-napa.

Cieee ... Sejak kapan Ochobot jadi tsundere? Kelamaan gaul sama BoBoiBoy, dia jadi ketularan sifat salah satu persona sahabatnya. Itu tuh, si Petir alias Halilintar.

"Hhhhh ..."

Bukannya jawab, BoBoiBoy malah menghela napas lagi. Nggak sepanjang yang tadi, sih. Hitung aja, jumlah huruf 'h' kali ini cuma setengahnya.

"Apa sih, Boy?"

Lah? Ochobot jadi nyolot. Geregetan, kayaknya. Cepetan ngomong, napa? Penasaran, nih! Tuh, pembaca juga udah pada kepo mukanya.

"Aku sebel sama si Cahaya. Jadi orang songong amat, ya?"

Walaupun cuma ekspresi digital, Ochobot sekarang menampilkan muka datar.

Kesambet apa ini anak? Begitu pikir Ochobot. Yaa ... kalau dia bisa mikir, sih. Dia kan robot.

"Cahaya itu kan kamu juga," kata Ochobot akhirnya.

"Iya, sih. Tapi, kan ..."

BoBoiBoy bersungut-sungut. Dia bangkit berdiri, lantas tiba-tiba menggebrak meja.

BRAK!

Gitu. Keras banget! Kaget, dodol!

"Aaargh—nggak bisa kayak gini terus!" BoBoiBoy teriak kayak orang stress.

Untung Ochobot itu robot. Kalau nggak, mungkin jantungnya udah loncat-loncat sekarang. Tapi ... dia mulai takut kalau BoBoiBoy stress beneran. Jangan-jangan pas di pertempuran dahsyat tempo hari, kepalanya kebentur keras?

Tidaaaaak! BoBoiBoy, jangan jadi gesrek, pliiiiis! Sudah cukup para pecahanmu yang pada gesreeek! Kamu harus tetap normal, sewaras si elemental tanah yang tampan dan berani.

"Ochobot~?"

Duh. BoBoiBoy manggil, tuh. Kayaknya Ochobot kelamaan diem. Baru tahu, ternyata Ochobot bisa delusi juga.

"A-Ada apa, BoBoiBoy?"

Fyuh! Untung masih kedengaran kalem. Biar nggak mencurigakan, Ochobot ngelanjutin bikin es cokelatnya. Ya kali', masa' pegawai teladan bikin es cokelat aja lama banget.

"Aku boleh berpecah tujuh, nggak?"

"Hah?"

Ochobot diam. BoBoiBoy ngomong apaan tadi?

"Aku mau pecah tujuh," BoBoiBoy berkata lebih tegas. "Boleh, 'kan?"

Oke. Kalau Ochobot nggak mendadak budeg, berarti BoBoiBoy mungkin beneran udah gesrek otaknya.

"Nggak boleh!" Galak bener Ochobot jawabnya. "Dulu kamu pecah lima, terus pecah tujuh. Habis itu apa? Kamu mau Jam Kuasa kamu rusak lagi kayak dulu?"

Diomelin, BoBoiBoy pasang muka cemberut.

"Dulu kan kupaksain, pakai tahap kedua semua pula." BoBoiBoy mendadak pasang tampang imut. "Sekarang kan beda, semua elemen tahap pertama udah lengkap. Boleh, yaaa?"

Ochobot bingung sekarang. "Tapi ... buat apa, sih, mau pecah tujuh segala?"

BoBoiBoy tertawa kecil. "Hehehe ... Nggak apa-apa, kok. Cuma ngobrol aja, biar lega. Lima belas meniiit aja. Ya? Ya? Ya?"

Uuuh ... Puppy eyes no jutsu!

Inilah jurus paling mematikan yang dimiliki BoBoiBoy tanpa harus pakai kuasa. Dengan jurus ini, lawan akan mendapat damage yang besar. Ditambah efek samping, nggak akan bisa menolak permintaan BoBoiBoy.

"Hhh ..." Ya, termasuk Ochobot juga. "Lima menit."

"Pelit." Sang superhero elemen kembali bersungut-sungut. "Empat belas menit, kek."

"Tujuh menit."

"Dua belas setengah?"

"Delapan."

Demikianlah, proses tawar-menawar terus berlanjut. Hingga keduanya mencapai kata sepakat.

"Oke, oke, sepuluh menit!" seru Ochobot pasrah.

BoBoiBoy tertawa kecil. "Hehehe ... Makasih, ya! Ochobot baik, deh!"

Dengan demikian, sang superhero elemen mempersiapkan Jam Kuasa miliknya.

"BoBoiBoy Kuasa Tujuh!"

.

Oo)=-=-=-=o=-=-=-=(oO

.

Tujuh orang. Tujuh elemen. Tujuh sifat. Tujuh kekuatan. Tapi satu wajah. Semuanya berkumpul di satu tempat yang sama.

"Waaah, Cahayaaa ... akhirnya bisa ketemuuu!"

BoBoiBoy Daun, pecahan BoBoiBoy yang lekat dengan baju hijau dan paling kekanakan. Begitu melihat pecahan elemental baru berbaju serba putih, Daun langsung mendekat dan memeluknya erat-erat. Yang dipeluk nggak bereaksi. Tapi kayaknya dia seneng, sih. Barusan senyum dikit.

BoBoiBoy Cahaya, pecahan elemental 'termuda'. Disebut-sebut sebagai elemental terpandai. Harga dirinya tinggi, kayak si Petir, tapi mungkin lebih parah. Kalau pas songong sih, kayaknya ngalahin si Petir juga. Kalau ditanya, rasanya dia juga menganggap dirinya LEBIH KUAT dan LEBIH CEPAT dibandingkan si Petir.

Iya, pakai CAPSLOCK. Apa perlu dikasih bold sama italic plus underline sekalian?

"Entah kenapa, aku jadi kesal," Petir berkata tiba-tiba.

Sesuatu berkilat di matanya.

Nah, lho! Dia berasa ya, tadi baru aja diomongin? Seraaam.

BoBoiBoy Petir. Si kuning yang selalu disebut-sebut sebagai pecahan tercepat dan terkuat. Setelah Jam Kuasa lama rusak, terus ganti yang baru, dia juga elemental pertama dan satu-satunya yang mendapatkan tahap kedua. Tapi, itu dulu sih, sebelum si Cahaya nongol.

Jujur nih, kalau ditanya, bentuk tahap kedua Cahaya—Solar namanya—pasti akan bilang kalau dirinya yang paling febeles. Udah keren, swag, populer, ganteng, lagi! Dia juga tidak sombong dan rajin menabung.

Beneran nggak sombong, paling cuma narsis dikit.

"Ahahaha ... Aku juga seneng, lho! Akhirnya kita semua lengkap!"

Yang barusan ngomong sambil cengar-cengir nggak jelas itu si Angin. Penyuka warna biru yang selalu hepi. Kadang agak penakut juga, sih. Tapi dia elemental yang paling gampang diajak combo sama yang lain.

"Aku juga senang."

Yang barusan bicara dengan lembut sambil tersenyum ramah, siapa lagi kalau bukan BoBoiBoy Tanah. Elemental serba cokelat tanah itu menatap hangat ke arah Angin yang barusan ikut menepuk bahu Cahaya.

"Woohoo! Tujuh elemen siap beraksiii!"

Elemental yang lekat dengan warna merah, BoBoiBoy Api, berseru penuh semangat sambil loncat tinggi. Di dekatnya ada juga elemental yang bertolak belakang dengannya. BoBoiBoy Air, yang sedang duduk santai di atas sebuah bola air besar.

"Hmm."

Udah, dia cuma bergumam gitu aja.

"Terus ... ini kita mau ngapain?" Angin bertanya antusias sambil mengedarkan pandang.

"Eh? Bukan karena ada musuh, 'kan?" tanya Daun sambil celingak-celinguk.

"Ish! Kamu ini!" kata Petir. "Lupa, ya? Tadi kita berpecah buat apa?"

Petir menatap Cahaya, setengah berkacak pinggang. Yang lain ikut-ikutan menatap sang elemental ketujuh.

"Nggak usah pasang tampang polos gitu," kata Petir ketika melihat reaksi Cahaya saat ditatap semua orang.

"Nggak perlu pasang tampang kesel seolah kami semua gangguin kamu juga, 'kan?!" Petir meradang.

Barusan saja, Cahaya ganti menampilkan ekspresi yang sama dengan BoBoiBoy waktu di ruang medis Markas Tempur A. Waktu itu, dia baru sadar dan dikerjai Fang dan Gopal yang pura-pura tua pakai cambang dari kekuatan bayangan Fang. Terus, bilang BoBoiBoy udah koma selama lima puluh tahun. Padahal cuma lima hari.

Ngeselin, emang.

Tapi bagi Petir, kelakuan Cahaya sekarang lebih ngeselin lagi.

Cahaya cuma mendengkus sambil buang muka. Petir langsung naik pitam. Andai saja Tanah tak lekas-lekas menepuk bahunya.

"Cahaya," Tanah berkata dengan hati-hati. "Kamu sudah tahu 'kan, kita semua berkumpul buat apa?"

Pecahan elemental terbaru itu menghela napas pelan.

"Kalian semua mau nyalahin aku?"

Tanggapan Cahaya membuat semuanya kaget.

"Nggak gitu," sahut Tanah. "Tapi—"

"Tapi gara-gara kamu sombong, kita semua hampir celaka!" Petir memotong ucapan Tanah. Nadanya ketus seketus-ketusnya.

Cahaya diem. Semua ikut diem. Sampai Daun tiba-tiba mendekat dan memeluk Cahaya sekali lagi.

"Kalian jangan bully Cahaya, dong!" protesnya dengan tatapan mata bening.

Semua menatap Daun. Mereka bahkan nggak yakin, memangnya Daun ngerti enggak 'bully' itu artinya apa.

"Daun," Petir berkata lagi. Kalau ngomong ke Daun sih, dia langsung melunak. "Cahaya jangan dimanjain gitu. Nanti dia besar kepala!"

Daun melepas pelukannya, lalu menatap Petir sambil memiringkan kepalanya sedikit.

"Kepalanya nggak besar, kok. Sama aja kayak kepala kita semua."

Petir langsung tepok jidat.

"Yah ... maksudnya, nanti dia makin nggak mau dengerin orang lain!" Petir beneran ngerasa kesabarannya sedang diuji. "Pokoknya, sekarang ini, dia memang perlu dimarahi. Ngerti, 'kan?"

Daun masih menatap Petir. Kayaknya mata dia tambah bulet aja. "Petir jangan marah-marah terus. Nanti cepat tua."

"SIAPA YANG TUA?!"

Mendadak dibentak, Daun kaget. Terus matanya berkaca-kaca. Mukanya udah kayak mau nangis. Petir ikutan kaget. Kalau ada yang paling nggak dia suka, itu adalah bikin orang lain nangis. Apalagi Daun.

Yah, walaupun Daun sebenarnya bukan 'orang lain', sih.

"Sorry," kata Petir dengan suara melembut. "Aku nggak bermaksud bentak kamu."

Petir menepuk-nepuk lembut puncak kepala Daun. Untungnya, itu bocah cepet tenang lagi. Nggak jadi nangis dia.

"Eh, bentar." Tiba-tiba Petir menyadari sesuatu. "Mana bocah itu?"

Dia nanya begitu, soalnya makhluk serba putih yang tadinya berdiri di samping Daun, udah nggak kelihatan lagi batang hidungnya.

"Kalau Cahaya sih," Tanah yang menyahut, "ada di situ, tuh."

Petir mengikuti arah yang ditunjuk Tanah. Ternyata Cahaya sudah duduk manis di salah satu meja-kursi kedai yang kosong. Kedai memang lagi kosong melompong, sih. Dan itu anak malah enak-enakan minum es cokelat. Sementara, Air tampak duduk semeja dengannya.

Ralat, nggak cuma duduk sih, tapi dia juga merebahkan setengah badan ke atas meja. Tidur, kayaknya. Berbantalkan lengannya sendiri.

"WOY!" Petir menghampiri meja Cahaya."Ngapain malah santai-santai minum es di sini?!"

Sruuut.

Cahaya meminum isi gelasnya pelan-pelan melalui sedotan plastik.

"Memangnya kenapa?" kata Cahaya kemudian dengan santainya. "Kan Ochobot bikinin esnya buat aku."

Petir jadi pengin bejek-bejek itu wajah tanpa dosa. Tapi terus dia mikir, Ochobot memang bikin es cokelat itu buat BoBoiBoy. Jadi, secara teknis, mereka semua berhak meminumnya, termasuk Cahaya.

"Aku lagi ngomong, kamu seenaknya aja pergi!" Petir masih lanjut marah-marah.

"Oh? Kamu tadi ngomong sama aku?" sahut Cahaya.

Petir naik darah lagi. "Ya iyalah! Masa' ngomong sama rumput yang bergoyang?!"

Dih, si Petir.

"Waaah ... Petir bisa ngomong sama rumput?" tiba-tiba Daun nimbrung seenaknya. "Ajarin, dong!"

Petir mengurut pelipisnya. "Daun."

"Ya?"

"Udah. Kamu diem dulu, nggak usah ikut ngomong."

"Oh, iya! Daun ingat!" Daun mulai ngerandom. "Tadi 'kan Petir lagi ngomong sama Daun, ya? Bukan sama rumput, kok!"

Petir diam. Semua ikut diam. Tanah yang setia di samping Petir, yang sudah hapal luar-dalam tabiat Petir, yakin seyakin-yakinnya, si Petir dikit lagi udah mau 'meledak'.

"AAAAAAARGH!"

Buset! Petir teriak sekenceng itu saking frustasinya, Air tetap aja tidur dengan nyenyaknya.

"Petir, yang sabar, ya?" Tanah berkata sambil menepuk bahu sang pengendali listrik.

"Tanah, bantuin aku, dong!" akhirnya Petir mengeluh juga pada pecahan yang disebut-sebut paling mirip dengan 'BoBoiBoy' yang asli itu. "Eh, bentar ... Api sama Angin mana?"

Menjawab pertanyaan itu, Tanah mengarahkan pandang ke tempat yang lebih lapang di sisi kedai, diikuti Petir. Tampaklah, Api sedang asyik bermain bola-bola api mini. Dan Angin duduk santai di rerumputan menonton aksi itu dengan riang gembira.

"Eh, Angin. Cahaya 'kan udah muncul, tuh. Kita semua udah lengkap. Berarti ... aku juga boleh pakai kuasa tahap kedua, dong!"

"Wah, iya! Aku juga mauuu! Udah kangen banget nih, sama hoverboard kesayangan aku~!"

Petir dan Tanah yang mendengarkan percakapan itu, nggak tahu kenapa langsung ngerasa kayak ada firasat buruk, gitu.

"Ya udah, Api. Kita coba sekarang aja, gimana?"

"Beneran?! Ayo, ayo!"

Tuh,'kan? Dua bocah petakilan itu langsung kelihatan semangat.

"JANGAN!" Petir dan Tanah teriak bersamaan.

Angin dan Api kaget, tapi akhirnya cuma bisa cemberut. Nggak berani ngelanggar kata-kata Tanah, sang leader. Apalagi Petir yang galaknya udah sampai ke tulang sumsum. Ogah banget kalau kudu kena setrum. Api sama Angin masih pengin ganteng.

Yah, pokoknya, Petir dan Tanah lega Taufan dan Blaze nggak jadi muncul. Bisa rusuh ntar. Kalau nggak, ancur semua.

Habis itu, Petir langsung pundung di bawah pohon terdekat.

"Kenapa pecahanku nggak ada yang bener otaknya ...?" dia meratap.

Tanah menatap prihatin. Dia mendekat, lantas mengusap-usap punggung Petir.

Katanya, "Aku mengerti perasaanmu."

.

Oo)=-=-=-=o=-=-=-=(oO

.

Akhirnya, semua pecahan elemental BoBoiBoy berkumpul mengelilingi meja tempat Cahaya (dan Air yang lagi tidur) berada. Tanah sudah bersabda, karena itu semuanya harus nurut.

Iyalah! Kalau semua elemen keluar begini, otomatis Tanah yang jadi leader-nya.

"Semuanya, ayo kita selesaikan masalah ini secepatnya," kata Tanah sambil menatap yang lain satu per satu. "Ochobot cuma kasih kita waktu sepuluh menit, lho."

Ya, itu dia. Juga karena jatah words udah mau habis. Author-nya juga udah bingung mau ngelawak apa lagi.

"Intinya," Tanah melanjutkan, "kita semua di sini, ingin Cahaya lebih bisa diajak kerja sama."

Cahaya menyadari semua tatap mata terarah padanya.

"Aku bisa kok, sendiri."

Dih, masih keras kepala aja itu bocah. Petir sudah hampir marah-marah lagi. Tapi karena sudah janji mau menyerahkan semuanya pada Tanah, dia menahan diri.

"Nggak bisa gitu dong, Cahaya." Nada suara Tanah tetap lembut, tapi juga ada ketegasan di dalamnya. "Kadang ada juga, masalah atau lawan yang harus dihadapi bersama-sama. Baik dengan kami, atau dengan kawan-kawan kita yang lain."

"Ya. Sama kayak pas kejadian tempo hari, 'kan?" Petir ikut bicara lagi. "Kamu nggak akan bisa kalau sendirian. Ngerti?"

Cahaya menunduk diam. Kali ini terlihat sedih.

"Tapi, aku—"

"Kita!" Petir memotong tajam ucapan Cahaya. "Mulai sekarang, biasakan bilang 'kita' daripada 'aku'. Bisa, 'kan?"

"Kamu 'kan kita-kita juga, hehehe ...," celetuk Angin tiba-tiba diikuti tawa kecil.

"Padahal itu 'kan sama aja sebenarnya," Daun ikut nyeletuk.

Petir mengernyitkan kening tanda tak setuju. "Sama gimana maksudmu?"

Daun tersenyum, lantas memandang berkeliling. "Kan kita semua BoBoiBoy."

"Ah ..."

Kali ini semuanya terdiam. Dasar Daun. Kalau ngomong suka bener. Cahaya aja sampai tertegun. Habis itu dia senyum. Tipis, sih.

"Iya, deh. Maafkan aku."

Petir membelalak. Apaan tadi? Beneran itu tadi Cahaya yang ngomong? Cahaya minta maaf? Serius?

"Sama-sama, Cahaya," Tanah menyahut lembut sambil tersenyum. "Kami juga minta maaf sudah menekanmu."

Petir hanya mendengkus samar. Angin dan Api tersenyum lebar. Daun memeluk Cahaya lagi, dan kali ini Cahaya tersenyum senang. Air masih tidur.

Astagaa ... kebo banget ini anak!

"Heeei!"

Keenam BoBoiBoy (minus Air soalnya) menoleh dan langsung melihat Ochobot melayang mendekat.

"Udah selesai 'kan, BoBoiBoy?" tanya sang Power Sphera. "Ini udah sebelas menit lebih, lho."

Tanah langsung mengacungkan jempol kanannya. "Sip, Ochobot. Udah beres, kok!"

"Baguslah kalau gitu," sahut Ochobot.

Tepat pada saat itu, Air mendadak terbangun. Dia bingung sejenak. Tapi hanya memandangi yang lain tanpa bertanya.

"Ooh ... udah kelar ya, masalahnya?" komentarnya.

Api menatap Air takjub. "Kok tahu, sih?"

"Soalnya muka kalian kelihatan lebih rileks," Air menyahut malas. "Oh, iya ... Aku nggak keberatan sih, kalau Cahaya mau mengatasi semuanya sendiri. Jadi, aku bisa tidur dengan tenang."

Semua langsung sweatdrop berjamaah. Sementara, Air sudah siap merebahkan lagi tubuhnya ke atas meja kedai. Tapi langsung dicegah Ochobot, sih.

"BoBoiBoy, cepetan balik ke wujud semula!" kata Ochobot.

"Oke," Tanah yang menyahut. "Bergabung semula!"

Semua elemen menjelma jadi cahaya keemasan, lalu kembali ke Tanah. Yang tersisa hanyalah sosok BoBoiBoy yang wajahnya dipenuhi senyum.

"Gimana?" tanya Ochobot. "Udah lega?"

BoBoiBoy duduk di kursi yang tadi diduduki Cahaya. Lantas meraih gelas berisi es cokelat yang tinggal setengah, dan sudah nyaris mencair seluruhnya. Dengan sedotan, diminumnya seteguk es cokelat khas kedai sang kakek. Rasanya memang mantap, guys!

Dih, malah promo.

"Yah," BoBoiBoy menjawab pertanyaan Ochobot tadi. "Lumayanlah."

.

.

.


* Author's Note *

.

Alkisah, tersebutlah seorang author FFN. Suatu ketika, author tersebut sedang membuat fic humor panjang pertamanya untuk fandom BoBoiBoy, multichapter gitu.

Akan tetapi, setelah selesai menulis chapter 1, dia malah galau sendiri. Kesambet apa kok bisa bikin humor se-absurd itu? Tetiba nggak pede kelak bisa bikin humor sekeren itu lagi, dia pun bikin fic-nya jadi one-shot aja.

Waktu berlalu. Series berjalan.

Tetiba Monsta upload segala macam tentang kehidupan dan interaksi para elemental. Author fic ini pun jadi mupeng. Ngidam mau ngelanjutin Huru-Hara Elemental lagi. Padahal dah telanjur jadi one-shot, dah dicontreng 'complete'.

Dodol, emang.

Kemudian Cahaya muncul. Semua elemental lengkap sudah. Dan otak si author langsung penuh dengan bayangan kelakuan para elemental yang absurd bin gaje dan bikin huru-hara.

Akhirnya, fic ini resmi berubah jadi multichap. Oh ya, tiap chapter genre-nya agak beda. Kayak chapter ini, nggak ada aksi macam Chapter 01, dan jadinya drama komedi. Tapi, semua chapter nanti genre utamanya tetap humor, kok.

Ampunilah author yang plin-plan ini. Semoga readers menikmati segala huru-hara yang ada. Aamiin.

Kemudian, kepada Yth. Panitia #CanonJuly, saya ucapkan terima kasih banyak bila berkenan membaca sampai di sini. Saya putuskan untuk mengikutsertakan fic ini karena belum ada fic humor yang ikut event-nya. Semoga nggak apa-apa cuma chapter ini aja yang diikutkan. Soalnya, secara teknis, ini kumpulan one-shot yang cerita tiap chapter-nya berdiri sendiri-sendiri.

Eh, masih ada ekstra di bawah. Ciao~! :")

.

Regards,

kurohimeNoir

14.07.2018

.


.

Ekstra:

.

.

"Lho?" Kening BoBoiBoy berkerut-kerut saat menemukan foto baru di komputer tablet canggih miliknya. "Kok ada foto semua pecahan elementalku di sini?"

"Aku yang fotoin," Ochobot menjawab. "Pas pertama kali kalian semua ngumpul tadi, momennya pas banget, sih. Kupikir, harus diabadikan."

BoBoiBoy tertawa kecil. "Makasih, Ochobot."

"Sama-sama. Udah aku unggah juga lho, ke Spacebook."

"Oh, ya?"

"Pakai akunmu, tapi. Habis, tadi akunmu di tablet itu pas kebuka, sih. Ya udah aku pakai aja."

Penasaran, BoBoiBoy membuka akun Spacebook miliknya. Tampaklah unggahan foto terbaru, sekitar dua puluh menit sebelumnya.

"Lho?" Kening BoBoiBoy berkerut-kerut lagi, persis cucian belum disetrika. "Kok ... background-nya bisa di atas ... apa ini? Kapal angkasa kita, bukan?"

"Yak, betul!" Ochobot kelihatannya seneng bener. "Aku edit dikit, pakai Sotoshop. Keren, 'kan? Nggak kelihatan editannya, hehehe ..."

BoBoiBoy langsung sweatdrop. Tapi pas ngeliat lagi foto itu di akunnya ... yah, memang keren, sih.

Gila! Belum setengah jam diunggah, tapi udah dapet 777 likes. Kayaknya memang semua orang menanti-nantikan kehadiran Cahaya, ya?

Masih sambil menatap foto itu, BoBoiBoy diam-diam tersenyum.

"Ya sudahlah."

.

.

.

Chapter 02 - FIN