Fandom : Narto and the Kyuubi

Disclaimer : Kishimoto Masashi

Summary : Deidara mendapat kejutan…

Warning : ooc, …karena Akatsuki menggila

--

SURPRISE

Baru saja Deidara siuman dari pingsan. Dinginnya udara yang berhembus cukup membuat bulu kuduknya berdiri merinding. Tampaknya Tobi telah mencampur obat bius yang membuat pingsan Deidara dengan obat pelumpuh. Badannya masih lemas, sama sekali tidak ada tenaga.

Ia bisa merasakan tangan dan kakinya diikat dengan tali tambang yang kencang. Ia bisa merasakan bahwa ia berada dalam posisi duduk, juga dengan badan yang terikat, untunglah di sebuah kursi yang empuk. Ia bisa merasakan kedua kantong tanah liat yang biasa dipasang di samping celananya sudah tidak ada. Ia bisa merasakan beberapa detak jantung dan beberapa hembusan nafas yang berasal dari beberapa orang. Ya, ia hanya bisa merasakan. Hal ini disebabkan oleh kain hitam tebal yang terikat kencang menutup kedua matanya.

'Aduh un… apakah aku diculik un?'

Deidara hanya bisa berbicara dalam hati. Ketiga mulutnya juga dibekap oleh kain yang terikat kencang. Keringat dingin mengucur membasahi tubuhnya. Bisa-bisanya seorang S-class missing nin diculik dan sedang diperlakukan sedemikian memalukannya seperti ini, oleh juniornya yang masih anggota baru di Akatsuki!Tanpa tanah liat, tanpa kekuatan. Deidara menggeram frustasi.

Tawa geli sayup-sayup terdengar dari salah seorang yang berada di tempat itu. Bisik-bisik yang lirih silih berganti berseliweran di telinganya. Terdengar suara menyebalkan yang tertawa tergelak-gelak yang sudah tidak asing lagi bagi Deidara.

'Anak sialan itu un… Tobi un…!!'

Deidara sudah naik pitam. Badannya berontak, berusaha melepaskan diri dari kursi itu walau tahu itu hanya sia-sia saja karena tenaganya belum pulih benar.

"Dei-chan!! Jangan memaksakan diri! Nanti kulit badanmu jadi lecet-lecet!"

Terdengar suara cemas dari seorang wanita. Deidara segera mengetahui bahwa wanita itu adalah Konan. Konan segera mendekat dan menenangkan Deidara, lalu mengusap keringat Deidara dengan menggunakan kertas.

"Hhmmmph un! Hbbbhphbh un!"

Deidara berusaha untuk beteriak meminta penjelasan, namun kain yang membekap mulutnya menghalangi suaranya sehingga hanya terdengar gumaman tak jelas, anehnya, hanya kata 'un' saja yang bisa terdengar jelas.

"Sudah, sudah… Dei-chan ga perlu bicara… jangan habiskan tenagamu sekarang"

Konan mengelus-elus kepala Deidara dengan lembut. Deidara kembali tenang, bukan karena elusan dari Konan, karena ia memang masih pusing dan tak ada energi.

"Konan darling, Dei-kun udah ditenangin?"

Kali ini terdengar dari kejauhan suara dari tak lain dan tak bukan siapa lagi kalau bukan sang leader Akatsuki.

"Iya Pein darling, Dei-chan udah tenang nih. Gimana persiapannya?"

"Bentar lagi Konan darling, Kisa-kun ma Hidan-kun lagi nyiapin!"

'Un? Apa maksudnya ini un? Apa semua anggota Akatsuki lagi di sini un? Betewe di sini ntu di mana un?' Deidara semakin bingung apa yang sebenarnya sedang terjadi. Akhirnya ia memilih untuk pasrah saja menghadapi kelakuan rekan-rekan kriminalnya.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara manusia yang lain. Suara kali ini berasal dari Zetsu.

"Persiapan udah selesai…" ucap sisi putih Zetsu.

"Ayo cepetan keburu laper nih…" ucap sisi hitam Zetsu.

Deidara merinding kaget mendengar perkataan Zetsu. 'Persiapan un? Laper un? Jangan-jangan un… aku mau dimasak lalu dimakan rame-rame unn?? TIDAAAAKKK un!!' Deidara menjadi panik histeris dalam hati.

'Aku emang pernah mecahin celengannya Kakuzu-danna un, numpahin aer akuarium Kisame-danna mpe Kichame-chan megap-megap sekarat un, nginjek bunga-bunganya Zetsu-danna un, ngebakar kertas-kertas kerjaannya Leader-sama un, ngilangin kalung Jashinnya Hidan-danna un, ngegunting rambut Itachi-danna mpe pitak un, eng… uh klo ke Tobi mah udah ga keitung lagi un.. tapi ntu semwa ga sengaja unn!!' secara tak sadar Deidara melakukan pengakuan dosa dalam hatinya.

Sekali lagi ia berusaha melepaskan diri dari ikatan yang membelenggu badannya. Saking kencangnya ikatan, Deidara hanya bisa melompat-lompat bersama kursi yang masih menempel di pantatnya.

Bletak

Sebuah jitakan melayang dari tangan Itachi, mendarat sukses di kepala Deidara. Membulat dengan indahnya sebuah benjol di antara rambutnya yang pirang. Sekali lagi sang shinobi pembuat bom itu jatuh tersungkur, pingsan.

"Eh? Gitu aja pingsan? Ehm… setidaknya Dei-pyon jadi lebih tenang" Itachi mengatakan hal itu sambil menyengir kecil. Konan menjerit dan segera berusaha untuk menyadarkan kembali Deidara yang malang itu. Pein yang melihat kejadian barusan segera mendatangi Itachi dengan aura kemarahan.

"Ngapain kamu bikin Dei-kun jadi pingsan lagi!! Kita udah nunggu berjam-jam mpe dia siuman tauk!!" Pein memarahi Itachi dengan bonus local rain no jutsu. Itachi segera mengaktifkan amaterasu supaya hujan lokal tersebut menguap terkena panas api hitamnya (haiah).

"Ng.. euh.. maap Leader-sama.. Yawdah kita bangunin lagi aja, klo dah bangun biar ku kasih genjutsu biar tenang" Itachi berusaha melepaskan tangan Pein yang mencengkeram kerah jubahnya. Ia pun segera memanggil partnernya, "Kisa-pyooon! Tolong bangunin Dei-pyon doonk"

"Oke Ita-san!" Sang shinobi berkulit biru itu langsung mendatangi tempat kejadian perkara. Dilihatnya sang korban yang tengah dirawat oleh Konan. Setelah meminta semua orang yang ada di tempat itu untuk menjauh sejauh radius 10meter, ia segera melancarkan aksinya untuk membangunkan Deidara.

"Dei-san, tahan bentar ya, ini ga sakit kok" Kisame segera menggerak-gerakkan tangannya membentuk segel ninjutsu dengan super cepat.

"SUITON! BAKUSUI SHOUHA NO JUTSU!! …ZUOOOOOOOORRRH!!"

Dalam sekejap keluar air laut dari mulut Kisame. Seluruh tempat itu segera digenangi air muntahannya setinggi dua meter, menjadi banjir bandang mendadak. Kakuzu sibuk berenang mengejar uang-uang kertasnya yang hanyut terbawa arus. Zetsu sudah mencari tempat yang aman di dalam tanah. Itachi berenang tak tentu arah dan selalu menabrak barang-barang yang mengapung. Konan tidak bisa berbuat banyak karena kertas-kertasnya menyerap terlalu banyak air sehingga memberatkan badannya untuk berenang. Sementara Deidara yang tadi pingsan segera siuman karena tidak bisa bernapas. Dengan seluruh badan masih terikat seluruh ia hanya bisa megap-megap di dasar lantai.

"Dasar bodohhhhh!! Kamu mau menenggelamkan tempat ini hahhh!!" amarah Pein meledak melihat Konan yang sekarat. Rasanya beberapa helai rambut oranyenya mulai rontok akibat stress berkepanjangan menghadapi para anak buahnya yang pendek akal semua itu.

Hidan segera mengayunkan sabitnya untuk membuat lubang di dinding. Seluruh air yang memenuhi ruangan itu langsung mengalir keluar melalui lubang tersebut. Setelah semua air habis dari tempat itu, Tobi mengayunkan sebuah kipas raksasa yang baru-baru ini ia colong sewaktu mampir ke Sunagakure. Hanya dalam satu ayunan, terjadi angin kencang dan mampu mengeringkan ruangan yang basah kuyup tersebut.

Pein langsung lari pontang-panting mendatangi Konan yang tergeletak sekarat, "Konan darling, kamu gapapa?? Sini kuberi napas buatan!! Chuuu" …mengambil kesempatan dalam kesempitan ceritanya…

Plakh

Satu tamparan membekas di pipi Pein, "Aduh Pein darling, ga usah kamu gituin juga aku gapapa kok!. Yang gituan kita lakuin di tempat laen okey, sekarang bantuin aku meres kertas-kertas ini ajah! Kyaah! Pein darling! Jangan mpe sobek kertasnya!" satu tamparan membekas di sebelah pipi yang lain.

Tobi tidak sengaja melihat kejadian itu sewaktu ia akan mendatangi seniornya yang terkapar, "Deidara-senpai! Senpai gapapa?? Sini Tobi beri napas buatan!! Chu—" Tobi mempraktekkan apa yang dilakukan Pein, dengan tetap mengenakan topeng permen lollipopnya, dengan Deidara yang mulutnya masih dibekap kain.

Duakh

Karena tidak bisa menggerakkan anggota badannya, Deidara melancarkan headbang ke kepala Tobi. Biarlah kepalanya benjol lagi selama Tobi tidak bisa berbuat macam-macam lagi terhadap dirinya. Namun benjol hanya milik dahi Deidara seorang akibat kerasnya bahan yang dipakai untuk membuat topeng permen lollipop itu.

"Grrrmmblllh un! Khhhhhshsh un!!"

Deidara berusaha mengeluarkan semua amukannya, yang tentu saja, sia-sia belaka. Tiba-tiba ditinggal sendirian di markas, tiba-tiba dibekap dan diculik, tiba-tiba akan dimasak, tiba-tiba dibanjiri air laut muntahan Kisame, dan tiba-tiba akan dicium juniornya yang menyebalkan. Deidara tak kuasa membendung emosinya, tetes demi tetes air mata yang hangat mengalir, membasahi kain yang menutup matanya. Seluruh anggota Akatsuki menjadi tersentak kaget.

"Wuaaa!! Jangan nangis Deidara-senpai!!" Tobi panik dan segera memeluk seniornya yang masih terikat di kursi. Deidara sudah tidak peduli lagi, ia tidak melawan ketika pelukan Tobi semakin erat menelan tubuhnya yang kecil.

Isakan tangis Deidara terdengar memilukan di telinga para Akatsuki. Selama ini mereka telah berusaha mengeraskan hati agar tidak iba melihat semenyedihkan apapun Deidara demi hal yang sedang mereka persiapkan ini.

"Maaf senpai… Tobi dan yang lain melakukan ini bukan untuk menyakiti hati Senpai. Ini semua demi menyenangkan hati Senpai" Tobi berbisik di dekat telinga Deidara. Tentu saja Deidara tidak bisa menerima hal itu. 'Apanya yang ingin menyenangkan hati un? Hatiku sudah hancur lebur kalian permalukan dan siksa seperti ini un!!'

"Leader-sama, semua persiapan sudah selesai, bisa kita mulai sekarang saja? Kita terlalu banyak menghabiskan waktu, tempat ini kita sewa perjam!" Kakuzu tampak depresi meratapi dinding yang dilubangi oleh sabit Hidan. Sempoanya hampir remuk ia remas untuk menghitung biaya ganti rugi yang harus dibayar untuk menambalnya. Hidan dengan tampang innocent hanya menanggapi "Maaf, Kuzu… tapi sempoa itu harusnya manik-maniknya digeser, bukan diremas"

"Jadi semua beneran udah siap?" Pein sekali lagi mengecek semua anak buahnya dan segala persiapannya. Semuanya mengangguk. Deidara masih sedikit terisak di dalam pelukan Tobi.

"Tobi-sama, eh, maksud saya, eh, maksudku, Tobi-kun, semua ikatan Dei-kun bisa dilepas sekarang" Pein agak keceplosan dan hanya dijawab oleh tatapan mengancam dari balik topeng permen lollipop itu.

"Deidara-senpai, permisi Tobi mau nglepas tali tambangnya ya. Jangan berontak lagi…" dengan hati-hati Tobi mulai melepaskan satu persatu tali yang mengikat erat tubuh seniornya. Deidara masih terduduk di kursi. Kain yang menyumpal ketiga mulutnya juga sudah dilepas. Yang tersisa kini hanya kain yang menutup matanya.

Deidara sama sekali tidak mengucapkan satu patah kata pun. Ia tidak mau mengucapkan apa pun. Urat kemarahannya sudah putus. Ngambek.

"Oke!! Semuanya di posisi masing-masing!" Pein memerintahkan pada semua anak buahnya.

Konan mulai menghitung mundur, "Seratus! Sembilan puluh sembilan! Sembilan puluh delapan!"

…….setengah jam kemudian, ketika semuanya hampir tertidur….

"Empat! Tiga! Dua! Saaaa…..!"

Satu kunai melesat dari tangan Itachi, menyobek kain yang menutup mata Deidara.

Delapan terompet khas tahun baru berkumandang dari tiap anggota Akatsuki.

Ribuan confetti kerlap kerlip bertebaran dari tangan Hidan dan Kakuzu.

"HAPPY BIRTHDAYYYY!!"

Mata Deidara yang masih merah sehabis menangis itu terbelalak melihat pemandangan yang di depannya. Ternyata ia berada di suatu ruangan yang cukup luas, duduk di panggung, dengan berderet-deret kursi di area penonton. Terlihat lubang besar di salah satu sisi dinding. Berbagai macam dekorasi yang meriah menghiasi seluruh ruangan. Hawa dingin yang sedari tadi dirasakan oleh Deidara berasal dari belasan AC yang terpasang dengan rapi.. Ada meja di dekat Deidara, tiga buah kue tart yang berlainan bentuk berjejer rapi di atasnya. Kedelapan Akatsuki tengah mengenakan topi kerucut warna-warni, meniup-niup terompet yang bersuara cempreng Di dekat pintu masuk terdapat spanduk yang lebar dan besar, bertuliskan ejaan ngawur 'HAPPY BIRTHYAD DEIRADA'

Deidara hanya diam.

Semua anggota Akatsuki jadi ikut terdiam melihat reaksi Deidara.

…sepuluh menit berlalu

Semua masih diam. Jangkrik mulai mengisi kesunyian yang menyelimuti ruang itu.

Krik krik…

"Hei! Hei! Deidara-senpai!! Met ulang taun yah!!" Tobi memecah keheningan dengan riangnya. Ia kembali memeluk seniornya erat-erat.

Buakh

Kali ini Deidara dapat meninju Tobi dengan sekuat tenaga. Tobi terpental jauh dan ditangkap oleh Zetsu yang sudah ngiler dengan perut berkriuk-kriuk.

"Apa maksud semua ini un?" Deidara bertanya dengan tampang kesal.

"Ehm.. kata Tobi-sama, eh, maksud saya, eh, maksudku, kata Tobi-kun, hari ini hari ulang tahun Dei-kun. Jadi kami beramai-ramai mengadakan pesta kejutan buat Dei-kun, karena Dei-kun adalah anggota Akatsuki yang paling imut" Pein menjelaskan dengan keringat mengucur karena keceplosan lagi, "Eh Konan darling jangan manyun, Konan darling ntu anggota Akatsuki yang paling cantik!"

"…" urat kemarahan berkedut di dahi Deidara.

"DUASUAR BUODUOOOOH UN!!" kaca jendela hampir pecah karena teriakan Deidara yang menggelegar. Semua anggota Akatsuki terlempar oleh gelombang suaranya.

"Maap Dei-kun kalo kamu marah soal tulisan di spanduk yang salah eja itu, masalahnya kalo mau diperbaiki musti keluar duit lagi!!" tegas Kakuzu tanpa basa-basi.

"Ulang tahunku masih lima bulan lagi tauukk un!!"

"Apuaaaa??" semua Akatsuki terkejut dan melakukan paduan suara bersamaan. Bahkan Zetsu berhenti mengunyah lengan Tobi. Tobi segera melepaskan diri dari gigi-gigi tajam itu.

"Loh? Tapi Tobi liat di kalender saku yang ada di dalam laci meja rias Senpai, tanggal hari ini dilingkari bentuk hati begitu??" Tobi dengan santainya tanpa ragu mengakui hobi menggeledah barang pripadi milik orang lain. Bajunya sudah compang-camping dan penuh bekas gigitan Zetsu.

"Hari ini harusnya jadwalku untuk creambath dan spa di Salon Orochi-danna un! Gara-gara ga ada meja setrika aku jadi ga bisa keluar dari markas un!!"

"Eeeehhh??" semua Akatsuki kembali melakukan paduan suara.

Semuanya segera berkumpul di pojok ruangan dan mulai berdiskusi, meninggalkan Deidara yang masih dongkol di atas panggung.

"Tobi-sama, eh Tobi-kun! Gimana ini?" Tanya Pein cemas.

"Kasian Dei-chan udah kita kerjain ternyata salah tanggal" Konan menyeka air matanya dengan kertas.

"Aku ingin makan kue tartnya… laper…" kedua sisi Zetsu bicara bersamaan.

"Aku juga udah capek-capek nyiapin semuanya nih" keluh Kisame.

"Permisi, toilet di mana ya?" Itachi sudah tak kuat menahannya dari tadi.

"Aku sampai bela-belain mbolos ritual hari ini loh!" gerutu Hidan.

"Cepet diputusin! Aku musti ngitung ulang biayanya kalo ada perubahan rencana!" Kakuzu sibuk berkutat dengan sempoanya.

"Hm… Hm…" Tobi hanya bergumam sambil manggut-manggut. Tobi begitu menyayangi seniornya hingga menyuruh semua anggota Akatsuki menghentikan misi untuk sementara waktu dan merayakan ulang tahunnya, yang ternyata salah tanggal. Ia tidak tega melihat Deidara menjadi sedih dan marah lebih dari ini. Setelah beberapa saat, akhirnya ia mendatangi Deidara.

Deidara masih cemberut dengan kedua tangan terlipat, memberikan sinar mata yang mengatakan jauh-jauh ato mati. Bagi Tobi tentu saja hal itu tidak memberi efek apapun.

Ia mulai berbicara, "Karena udah tanggung…" semua Akatsuki memasang telinga baik-baik.

"Dan karena Tobi anak yang baik..." semua Akatsuki mendengarkan perkataan Tobi dengan seksama.

"KITA LANJOTIN AJAH PARTY NYAH!!" Tobi melompat-lompat riang sambil menebar confetti di atas kepala Deidara. Deidara hanya melotot dengan sweatdrops.

"Yaaaay!!" semua Akatsuki menyambut keputusan Tobi dengan gembira karena tidak ada yang mau rugi setelah capek-capek menyiapkan pesta ini.

TOET TOET TOET TOET

Terompet ulang tahun kembali berkumandang dengan cempreng. Kisame sebagai operator teknis telah menyiapkan mirror ball. Lampu-lampu ditemaramkan dan berganti dengan lampu disko. Lagu-lagu house music mulai berdebam kencang di setiap loudspeaker. Para pegawai katering mengantarkan berbagai macam makanan ke dalam ruangan.

"GYAAA! Siapa yang pesen katering nasi goreng seafood!!" Kisame hampir pingsan.

"Deidara… cepet potong kuenya…" Zetsu sudah tidak sabar.

"Pein darling, ngedance yuk" Konan menuju ke dance floor sambil menggandeng tangan Pein yang masih menggenggam sepotong paha ayam goreng.

"Nasi putih dua bakul, nasi kuning sebakul, nasi gurih sebakul, trus lauknya…." Kakuzu mengecek semua pesanan katering yang datang, kalau-kalau ada yang salah.

Sementara itu Itachi masih nyasar mencari toilet.

"Tunggu dulu!! Sebelum kita mulai pesta ini, ada baiknya kita awali dengan berdoa dulu" Hidan segera menginterupsi kegiatan hura-hura mereka.

Setelah semua berdoa ala kadarnya, yah maklum dasar kriminal, mereka melanjutkan pesta dengan gila-gilaan. Satu persatu menyalami Deidara dan memeluknya mengucapkan selamat ulang tahun, padahal tidak ada yang ulang tahun di hari itu.

Deidara tidak bisa berkata banyak atas semua keedanan rekan-rekannya.

"Me, myself, and idiots un"

tbc…

--

ufufufu… saia lagi mbayangin Dei dibondage di alinea-alinea ptama tadi fufufu… -mimisan-

yah… begitulah kenyataan di balik hilangnya anggota Akatsuki...

Dei ntu yang paling imut di Akatsuki, coz ktika saia liat cover manga vol.40… Dei ntu yang paling kontet di antara mereka smwa!! Ya ampon! Kirain slama ini jawara bantet Akatsuki ntu Sasori… what the heaven…

crita ini masih tbc loh…

emang apalagi yang mau dicritain? tunggu aja dah…

oya, Dei selama di chapter ini cuma pake celana loh, coz di chap ptama bajunya kan Deidei lepas waktu ketiban cicak en blom sempet dipake lagi setelah dibius Tobi fufufu… (yaelah, ada fanservice baru dicritain di author's note –disantet massal-)

en cerita di balik nemploknya cicak naas ntu ada di chapter 3… (jadi chap 3 dibikin cuman buwat nyritain si cicak??)

betewe ada yang tau brapa umur Deidei?

direview yah pembaca yang terhormad un…

jangan lupa review karya saia yang lain un…

judulnya Team Sannin un (Sannin waktu masih embryo un)

yang atunya lagi bjudul I'M NOT FREAK!! I'm Just… errr…? un (Naruhina un)

makasiii un…

-tidak ada Deidara yang disakiti dalam pembuatan fanfic ini un, baik secara fisik maupun mental un (bohong un T-T)-