Fandom : Narto and the Gamabunta

Disclaimer : Kishimoto Masashi

Summary : Deidara mendapatkan banyak hal…

Warning : ooc, karena semua makhluk menggila. …dan rahasia si cicak ada di akhir crita XD

--

GIFTS

Di suatu ruangan yang cukup besar, dengan berbagai hiasan khas perayaan ulang tahun, dengan berbagai jenis makanan terhidang di meja, dengan berbagai suara hiruk pikuk orang-orang berpesta, terduduk seorang Deidara yang berwajah suntuk di kursi mewah dan empuk di atas panggung.

"Yak hadirin sekalian! Telah kita saksikan penampilan ballet dari Kisame! Beri tepuk tangan meriah!!"

Tak ada satu pun Akatsuki yang bertepuk tangan. Semua masih mematung setelah melihat keindahan tarian gemulai dan tubuh kekar Kisame yang hanya terbalut kain putih tipis dan rok ballet yang mekar.

Pein adalah ketua panitia merangkap seksi publikasi merangkap seksi acara dan bertindak sebagai MC pesta ulang tahun Deidara, …walaupun ulang tahunnya masih lima bulan lagi. Melihat omongannya diacuhkan oleh para penonton, ia merogoh jubahnya untuk mengambil surat PHK. Semua Akatsuki langsung kelabakan dan segera bertepuk tangan sekencang-kencangnya hingga tangan mereka bengkak dan merah. Pein tersenyum puas melihat antusiasme para Akatsuki dan kembali berbicara melalui micknya.

"Dan sekarang akan saya tampilkan pertunjukan selanjutnya! Si sakti mandraguna, tak ada yang bisa membunuhnya, mari kita sambut! Hiidaaaaaaaaaan!!"

Hidan naik ke panggung setelah sebelumnya memaksa dan menyeret-nyeret Kakuzu untuk jadi asistennya. Tak lupa diawali dengan doa, shinobi berambut putih itu lalu melepas sepatu sandal dan jubahnya. Sambil menggurutu Kakuzu menebarkan pecahan botol beling di depan rekannya, lalu menyambar mick dari tangan Pein dan mulai memberi narasi dengan intonasi datar.

"Sekarang bocah ini akan berjalan di atas pecahan beling"

Dengan perlahan Hidan mulai menapakkan kakinya di atas pecahan beling.

"Aw! Aw! Adouw! Gyaa!! Telapak kakiku berdarah!!"

"Bodoh"

"Kuzuuu!!!"

Setelah sukses melewati semua pecahan beling, tak lupa duo zombie itu adu mulut tanpa henti sampai Pein menarik surat PHK dari balik jubahnya. Mereka berdua pun melanjutkan atraksinya. Kakuzu kembali memberi narasi untuk aksi Hidan selanjutnya.

"Sekarang bocah ini akan dicambuk dan digolok, seperti aksi debus kuda lumping"

Kakuzu menggenggam cambuk di tangan kiri dan golok di tangan kanan. Dari matanya terpantul kilat semangat yang membara. Nafsu untuk membantai bocah cerewet yang selalu mengganggu hidupnya sudah tidak terbendung lagi.

Ctar ctar ctar

"Aw! Aw! Aw! Woy Kuzu!! Tadi kan kubilang jangan keras-keras pake cambuknya!! Upahmu kupotong!!"

Kakuzu menggeram.

CTAR CTAR CTAR SLASH SLASH SLASH

Tubuh Hidan tercerai berai. Darah segar melumuri golok yang digenggam Kakuzu, menetes membasahi panggung. Para Akatsuki merinding ngeri sekaligus bersyukur tidak dipasangkan dalam satu tim bersama Kakuzu. Shinobi bermasker itu turun dari panggung dan kembali ke tempat duduknya, meninggalkan potongan-potongan tubuh yang masih mengomel dan bersumpah serapah padanya.

"……Be-begitulah atraksi dahsyat dari Hidan yang dibantu oleh Kakuzu!! Hebat bukan!? Mana tepuk tangannya!!"

Suara Pein sedikit bergetar karena masih pusing dan shock melihat banyak darah berceceran. Para Akatsuki bertepuk tangan dengan lirih.

Sebelum melanjutkan acaranya, Pein memerintahkan seksi kebersihan alias Konan dan Zetsu untuk membereskan 'sisa-sisa' atraksi Hidan. Tidak, Zetsu tidak akan memakan Hidan. Zetsu tahu kalau Hidan tidak bisa mati. Zetsu tidak mau dari dalam perutnya menggema suara ocehan Hidan. Karenanya Zetsu hanya akan menyingkirkan 'sisa-sisa' tersebut ke tempat yang tidak akan mengganggu acara pesta. Sedangkan Konan bertugas membersihkan ceceran darah yang mengotori lantai panggung dengan apa lagi kalau bukan kertas kebanggaannya.

Selain itu, Pein juga menyuruh seksi P3K alias Kakuzu untuk membereskan apa yang sudah ia perbuat. Awalnya Kakuzu tidak mau karena masih sebal dengan Hidan yang memotong upahnya setelah memaksa untuk membantu atraksi debusnya. Namun akhirnya terpaksa Kakuzu menurut ketika sekali lagi Pein menarik secarik surat PHK dari balik jubahnya. Hidan pun kembali utuh menjadi manusia, dengan tuntutan tambahan upah menjahit dari Kakuzu tentunya.

"Ehm… Sebelum kita beranjak ke atraksi selanjutnya, mari kita tanyakan pendapat Dei-kun yang berulang tahun lima bulan lagi ini!!"

Pein berjalan menuju tempat Deidara duduk. Disodorkannya mick tepat di depan mulut cemberut Deidara yang masih sedikit belepotan cream tart.

"Nah Dei-kun! Bagaimana pendapatmu tentang atraksi-atraksi dari para Akatsuki ini? Goyang ngedrill Tobi-sama, eh maksudku Tobi-kun, karaoke keroncong duo Zetsu-tachi, ballet Kisa-kun, dan debus Hidan-kun. Mereka sudah sengaja mempersiapkan semua ini jauh-jauh hari demi kamu lho! Kita juga masih ada atraksi-atraksi lain yang sudah tidak sabar menunggu untuk tampil!!"

"Leader-sama kumohon… un"

Deidara geleng-geleng kepala dan tertunduk lesu dengan kedua telapak tangan menutup matanya. Masih terlihat jelas bekas merah melingkar di pergelangan tangan Deidara. Itu adalah bekas ikatan tali tambang yang sudah menyiksa lahir batinnya ketika 'diculik' Tobi untuk pesta kejutan ini..

"Eh? Kenapa? Ada apa? Dei-kun belum puas? Mau dipuaskan seperti apa??"

Sang pembawa acara tampak cemas. Tugasnya untuk memeriahkan pesta ulang tahun sesuai yang diperintahkan tidak boleh gagal atau ia akan menerima surat PHK dari sang permen lollipop bermata Sharingan. Deidara tidak boleh sampai menangis lagi. Deidara tidak boleh sampai marah. Deidara tidak boleh sampai bosan. Atau PHK.

"Plis dong un! Aku sudah berusaha menerima keedanan kalian dengan pesta ini un!! …Kue tartnya enak sih un" Deidara menjilat bibirnya yang masih belepotan cream, "tapi un! Bikin atraksi yang ga bikin orang muntah aja knapa un?? Slaen itu buat apa ngadain pesta di ruang seluas ini kalo cuma kita bersembilan un!?"

Semua uneg-uneg Deidara tertumpahkan juga. Memang benar yang dikatakan olehnya. Kantong-kantong plastik khusus tempat muntah memenuhi tong sampah akibat atraksi yang sudah ditampilkan. Banyak kursi-kursi kosong berjajar di dalam ruangan yang berkapasitas seribu orang tersebut. Serasa mengadakan pesta di lapangan sepak bola. Untuk main sepak bola saja butuh 22 orang plus wasitnya, sementara Akatsuki hanya ada sembilan orang di situ.

"Ooh… kalo gitu Dei-kun harus punya perut yang kuat biar ga muntah" Pein menjawab keluhan Deidara sambil cengar-cengir harap-harap cemas Tobi tidak memecatnya, "kalo masalah penonton yang sedikit, itu sedang diatur! Dei-kun tunggu aja bentar, nanti tempat ini pasti penuh!"

Sebagai ketua panitia merangkap seksi acara merangkap seksi publikasi, Pein berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan tugasnya. Salah satu tugasnya sebagai seksi publikasi adalah mengundang orang sebanyak-banyaknya untuk menghadiri pesta ulang tahun Deidara. Maka dari itu Pein telah memerintahkan kelima belahan tubuhnya untuk pergi ke lima negara besar shinobi dan mengundang para penghuninya untuk datang.

BRAKK

Pintu ruangan terbanting dengan keras. Sungguh panjang umur. Kelima Pein yang baru saja dibicarakan sudah datang. Di belakang mereka terdapat lautan shinobi dari lima negara besar. Seketika itu juga ruang pesta penuh sesak oleh berbagai jenis ninja dari berbagai desa.

Kelima Pein naik ke atas panggung dan bergabung dengan pembawa acara. Lengkaplah menjadi enam Pein sekarang. Panitia seksi sarana prasana alias Kisame sudah mempersiapkan set drum dan alat musik lainnya. Setiap Pein mengambil alat musik dan posisinya masing. Sang ketua panitia hanya memegang mick dan mulai berbicara lagi.

"Oke! Pein band sudah lengkap! Penontong juga sudah banyak! Sekarang akan kami tampilkan atraksi selanjutnya! Permainan musik keren yang bakal bikin kalian terpana! Come on guys, tri, tu, wan!!"

GENJRENG GENJRENG GENJRENG kicik kicik JENG JONG JREENG

"UOUWOOWOOH!! WOAAHHYAAAHYAAAGYAAA!! IYEYEEYEYEWALAHWALAH!!!!"

Tomat dan semangka beterbangan menuju panggung, sukses membuat Pein band terpaksa menghentikan permainan musik mereka bahkan sebelum intronya selesai.

"Aduh aduh cukup penonton! Stop melempar!! Dei-kun! Berhenti melempar sisa tart!!" Pein berusaha meredakan amukan massa sambil menyeka makanan yang mengotori jubah hitam awan merahnya, "mengapa kalian tidak bisa memahami indahnya heavymetalpunkrockdut? Aduh! Kubilang stop melempar!! Konan-darling juga!! Knapa ikut-ikutan nglempar kertas??"

"Hiks… bahkan darling-ku juga… yasudahlah… hiks mari kita lanjutkan pestanya…"

Pein terlalu sedih terpuruk untuk melanjutkan tugasnya sebagai pembawa acara. Konan adalah wakil ketua panitia merangkap sekretaris merangkap seksi kebersihan. Ia mengambil mick dari tangan Pein yang sedang jongkok menghadap dinding di pojokan ruang, dan segera bertindak sebagai pembawa acara, mengambil alih tugas kekasihnya.

"Ya, daripada kita melihat atraksi-atraksi yang aneh bin gajelas, sebaiknya kita lanjutkan pesta ini dengan kegiatan yang lebih bermanfaat"

Tepuk tangan yang meriah menyambut pendapat Konan. Deidara pun mengangguk setuju. Akhirnya ada orang yang cukup waras di dalam Akatsuki.

"Bagi hadirin yang baru saja datang, bisa makan jamuan yang sudah tersedia di meja. Bagi yang ingin dugem, bisa dansa di dancefloor. Bagi yang ingin memberi sedekah dan hibah untuk Akatsuki, bisa menemui bendahara Kakuzu-chan. Bagi yang ingin memberi kado dan ucapan selamat kepada Dei-chan, bisa langsung naik ke atas panggung"

Para shinobi pun berpencar sesuai keinginan masing-masing. Ada yang menuju meja makan, ada yang menuju dancefloor, ada yang naik ke atas panggung, tapi tak ada yang menemui Kakuzu.

Di atas panggung, antrian mengular memanjang, menunggu giliran untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada Deidara, walaupun hari ulang tahunnya masih lima bulan lagi. Dengan tampang bete Deidara terpaksa meladeni mereka satu persatu.

"Yo Deidara! Slamat ulang taun dattebayo!" Naruto menyalami Deidara dengan ceria, "Hei Deidara! Aku sangat berterima kasih padamu!! Berkat kamu menculik dan membunuh sahabatku Gaara-kun, untung hidup lagi hehe, kini ia jadi lebih percaya diri menjadi Kazekage karena dapat mengetahui betapa rakyat Sunagakure sangat menyayanginya! Kamu hebat! Sugoi dattebayo!!"

Naruto memeluknya dengan kencang. Deidara sendiri tak pernah peduli dan menyangka apa yang telah dilakukannya ketika melaksanakan misi menangkap Ichibi bisa berefek seperti itu. Sebuah amplop berisi sepuluh voucher makan di Ichiraku diberikan dengan sukarela oleh Naruto kepada Deidara sebagai hadiah dan rasa terima kasih. Deidara merasa tidak butuh dan membuangnya setelah Naruto pergi dari hadapannya, dan Zetsu segera menangkap amplop tersebut dengan seringai di wajah hitam putihnya.

"Kukuku Dei-kyun… selamat ulang tahun… lama ga mampir ke salonku nih…"

Suara yang mengerikan terdengar dari makhluk pucat yang ikut mengantri di barisan. Sesosok pucat pasi menyalami Deidara dengan tangannya yang putih dan dingin. Rambut yang hitam panjang menutupi sebagian wajahnya. Sambil merinding Deidara membalas ucapan selamat dari pemilik salon dan spa langganannya, Orochimaru.

"Maap Oro-danna un, lagi banyak kerjaan un, haha un"

Deidara menjawab asal-asalan sambil menggaruk kepalanya, membuat mulut yang ada di tangannya terbatuk karena tak sengaja menelan beberapa helai rambut kepalanya. Orochimaru hanya tersenyum dengan lidah terjulur sambil merogoh tas tangannya. Sekotak kado kecil yang terbungkus kertas warna-warni muncul dari dalamnya. Mulut di tangan Deidara bahkan bisa menelan kado itu saking kecilnya...

"Kukuku… Ini paket ekonomis peralatan make up lulur menipedi creambath spa deelelesbe dari salon. Dei-kyun adalah ninja yang sibuk, jadi sekarang Dei-kyun ga perlu jauh-jauh ke salonku untuk merawat diri. Tapi kalo udah abis ya Dei-kyun musti ke salonku… kukuku"

Orochimaru kemudian melenggang turun dari panggung menuju meja makan bersama budak setianya yang bernama Kabuto, yang sedari tadi bersamanya terus. Deidara tidak mau ambil pusing dengan kotak kecil yang berisi 1001 macam alat salon tersebut dan meletakkannya di meja di sampingnya.

Di antrian selanjutnya adalah seorang kunoichi dari Konohagakure. Deidara heran. Ia serasa sedang becermin. Sama-sama bermata biru. Sama-sama berambut pirang. Sama-sama berponi sebelah yang menutupi sebelah wajah. Sama-sama dikucir ekor kuda. Dan sama-sama cantik. Mereka pun bersalaman.

"Waw, tak kusangka bener-bener mirip seperti yang dicritain Naruto-kun!"

Gadis itu terkagum-kagum melihat duplikatnya. Setelah puas memandang dari ujung rambut sampai ujung jempol kaki, kunoichi tersebut memberi Deidara sebuah gentong besar berisi bunga yang dari tadi diseretnya susah payah ke atas panggung..

"Slamat ulang tahun ya, errr, Deirada-kun!" Ino lupa nama duplikatnya dan membaca spanduk yang terpajang di atas pintu masuk, "ini, vas bunga spesial dari toko bunga Yamanaka, limited edition lho! Sedangkan isinya ini adalah bunga Acanthus. Aku dengar dari Naruto-kun saat kalian bertarung kamu terus meneriakkan hal itu. Jadi kupikir ini bunga yang paling cocok untukmu. Moga panjang umur ya, Deirada-kun!!"

Deidara hanya terbengong melihat duplikatnya yang kemudian pergi menuju dancefloor dan mulai menari. Ia sendiri tidak mengerti mengapa gadis itu memberinya bunga acanapatadinamanya yang ditanam dalam gentong itu. Dengan sekuat tenaga Deidara menggeser gentong tersebut ke sampingnya agar tidak mengganggu orang-orang selanjutnya. Zetsu menunduk untuk mencium wangi bunga tersebut dan berniat untuk meminta sedikit bibitnya agar bisa ditanam di kamarnya.

"Dei-pyon, keindahan dirimu telah membutakan mataku. Ingin hatiku memeluk jiwamu yang rapuh, memberinya kehangatan bagai sinar mentari agar tak kunjung layu. Semenjak pertama kali ku melihatmu, di hari perekrutanmu ke dalam Akatsuki, aku telah tersihir oleh pesonamu. Kedua mataku tak dapat lepas dari sosokkmu. Oh Dei-pyon. Terimalah wujud cintaku padamu ini. Selamat menjalani usia yang baru dan menapaki kehidupan yang diiringi doa dan berkat dariku"

Seucap kalimat penuh gombal terlontar dari salah seorang Akatsuki. Deidara merinding jijik mendengarnya.

"Euh Itachi-danna un, makasih un. Tapi knapa kamu ngomongnya ma Zetsu-danna un?"

krik

Mangekyou Sharingan dan juga pesona Deidara sungguh telah membutakan kedua mata Itachi. Sang Uchiha segera memakai kacamata berpola spiral setebal pantat botol susu yang jarang ia gunakan kerena jaim. Setelah menyadari bahwa sosok hijau hitam putih di hadapannya bukan orang yang ia maksud, Itachi segera berpaling dan menuju Deidara. Tanpa basa-basi sebuah bungkusan kado diberikannya kepada Deidara dan ia langsung berlari turun panggung sambil melepas kacamatanya karena malu. Tersandung karpet tiga kali, menabrak loudspeaker dua kali, dan menubruk orang sepuluh kali sebelum akhirnya Itachi mencium dinding sampai pingsan.

Tak ada yang mempedulikan nasib Itachi karena semua sedang sibuk berpesta. Deidara mengintip ke dalam bungkusan dari Itachi. Pita hijau berenda pink dengan polkadot kuning terlihat dari sela-sela bungkusan. Deidara cemberut kesal.

'Ini kan pita yang sering dipakai Itachi-danna buat ngucir rambutnya sendiri un. Ga modal banget sih un'

BRAKK

Sekali lagi pintu ruang pesta terbanting keras. Kali ini pelakunya adalah seorang kunoichi berambut pirang dengan empat buah kucir rambut, yang tampangnya sedang marah-marah. Di belakangnya terdapat seorang shinobi berwajah kabuki dan segerombol ninja bodyguard yang menjaga seorang pemuda berambut merah dengan tato 'ai' di dahinya. Ya, itu adalah Temari, Kankurou dan adiknya Gaara yang seorang Kazekage sehingga harus dikawal setiap kali bepergian.

Mereka berjalan menuju panggung dan langsung menerobos antrian tanpa pandang bulu. Begitu sampai di hadapan Deidara, Gaara menyodorkan tangannya, mengajak untuk bersalaman. Deidara kembali teringat pertempuran mereka dan khawatir sang Kazekage akan balas dendam, apalagi kalau melihat mata Gaara yang tak berekspresi dengan lingkaran hitam di sekelilingnya.

Pasir Gaara setengah memaksa tangan Deidara untuk menjabat tangannya. Mereka pun bersalaman dalam keadaan canggung. Tangan Deidara kembali terbatuk karena sebagian pasir Gaara masuk dan tertelan. Setelah beberapa menit mengheningkan cipta karena tidak ada satupun yang berbicara, Temari segera bertindak sebagai juru bicara Kazekage yang pendiam itu.

"Selamat ulang tahun, wahai Deidara-dono. Sebagai Kazekage saya sangat bangga bisa berjumpa dengan seorang shinobi yang sangat berkompeten seperti Anda. Setelah pertarungan yang kita lakukan di waktu lalu membuat mata saya terbuka bahwa kekuatan dan kemampuan saya sebagai shinobi belumlah cukup karena kekalahan dan kematian yang saya alami. Karenanya sejak saat itu saya mulai menempa ilmu ninja saja agar kelak dapat melindungi segenap dunia shinobi pada umumnya dan segenap warga Sunagakure pada khususnya. Semua hal itu tidak akan terjadi jika saya tidak bertemu dengan Anda, wahai Deidara-dono. Bila ada salah kata harap tidak dimasukkan ke dalam hati. Sekian, terima kasih atas perhatiannya."

Demikian ucap Temari panjang lebar sampai hampir berbusa sambil membaca sepuluh halaman teks pidato yang dibuat Gaara semalam suntuk dan akhirnya diringkas oleh Temari menjadi satu paragraph untuk mempersingkat waktu dan tenaga. Gaara lalu menyodorkan satu lagi kertas pidato lain kepada kakakknya untuk dibacakan. Dengan pasrah Temari melanjutkan pidatonya.

"Lalu sebagai penghargaan saya selaku Kazekage kepada Deidara-dono, saya berikan satu truk pasir asli dari bumi Sunagakure hanya untuk Anda. Saya telah mengetahui kemampuan Anda di bidang seni saat kita bertempur. Maka dari itu, pergunakanlah pemberian tulus dari hati saya ini untuk mengembangkan kemampuan Anda. Campurkan dengan air yang cukup dan pasir Sunagakure tersebut akan menjadi tanah liat, sesuai dengan selera Deidara-dono"

Gaara menunjuk ke luar pintu, mengisyaratkan bahwa truk pasir yang dimaksud sudah diparkir di depan gedung. Mata Deidara berbinar bahagia mendengar hal tersebut dan memeluk sang Kazekage erat-erat.

"Makasih un! Tau aja sih kesukaanku un!"

Sang Kazekage hanya menunjukkan wajah bersemu merah tanpa satu patah kata pun. Sementara itu Temari menoleh ke kanan kiri mencari sesuatu. Begitu seonggok permen lollipop berjalan berada dalam area penglihatannya, Temari segera berlari mendatangi makhluk tersebut dengan aura murka.

"Hei kamu lollipop sialan!! Kamu kan yang maling kipas besiku!??"

Tobi teringat akan kipas raksasa yang ia pakai sewaktu Kisame membanjiri ruang pesta dengan ninjutsu bodohnya. Thousand shadows running no jutsu segera diaktifkan dan adegan kejar-kejaran pun tak dapat dihindari. Tanpa mempedulikan kakaknya, Gaara mohon diri untuk menuju meja makan karena sebenarnya perjalanan dari Sunagakure ke tempat pesta sangatlah jauh hingga ia kelaparan sampai tidak kuat bicara. Namun salah satu kakaknya yang lain, Kankurou, belum beranjak dari tempatnya.

"Ehm, Deidara, met ultah ya. Ehm, ini kado buat kamu, ehm, aku buatnya dengan segenap hati setulus jiwa sekuat tenaga loh. Sebagai rasa hormat karena kamu adalah partner idolaku, Akasuna no Sasori. Ehm, kadoku ini bernama Deidara!!"

Segumpal besar bungkusan kain hitam dengan pita merah diberikan oleh Kankurou pada Deidara. Deidara tidak berniat membukanya sekarang, tapi Kankurou sudah terburu melepas pitanya dan jreng jreng…

Sebuah boneka kayu yang tampangnya mirip Karasu, boneka kesayangan Kankurou. Hanya saja bedanya adalah rambut boneka ini pirang dan dikucir serapi mungkin walau masih berantakan dan mencuat-cuat seperti milik Karasu, tentu saja, karena rambutnya terbuat dari sapu ijuk. Boneka tersebut berbunyi gemeletuk di setiap sendinya tiap kali bergerak, menambah kesan mengerikan. Deidara memaksakan bibirnya untuk tersenyum atas pemberian tersebut.

Deidara memandang onggokan boneka kayu tersebut. Ia kembali teringat akan manispahit kenangannya bersama orang yang sangat ia kagumi, yang juga ahli dalam boneka kayu. Tak terasa air mata kembali menetes. Tak disangkal bahwa dirinya sangat merindukan Sasori. Mengharapkan kedatangannya di pesta ini adalah hal yang mustahil karena shinobi berambut merah itu sudah meninggal. Jika saja ia bisa datang.

Pluk

Sebuah kotak kado kecil jatuh dari langit-langit ruang pesta, menimpa kepala Deidara dan terjatuh di depan kakinya. Deidara mendongak ke atas. Tidak ada lubang atau apapun yang bisa membuat kado itu jatuh dari atas. Dengan penasaran Deidara mengambil dan melihat kado tersebut. Terselip kartu ucapan di antara pita yang membungkus kado tersebut dan Deidara mulai membacanya.

'Dear Deidarling. Aku tahu ulang tahunmu masih lima bulan lagi. Tapi dari atas aku melihat semangat orang-orang bodoh di sekitarmu yang merayakannya sekarang, aku pun ingin memeriahkannya juga. Aku tahu jam wekermu berbentuk doraemon yang norak. Karena itu, ini hadiah spesial dariku untukmu. Jam weker berbentuk Hiruko. Jika kau membuka punggungnya, kau bisa menemukan boneka miniatur diriku, sebagai pelipur lara dan rindumu padaku. Aku tahu kau selalu tersedu saat mengingat akan diriku. Sekarang kau tidak perlu seperti itu lagi. Jangan menangis. Aku akan selalu melihat dan menjagamu dari atas. Selamat ulang tahun. With love, Sasori'

Air mata yang tadinya hanyalah tetesan butiran-butiran kecil, sekarang adalah semburan deras air terjun Niagara. Deidara sangat terharu dan bahagia mengetahui Sasori masih memperhatikannya walaupun sudah terpisah oleh dunia yang berbeda. Ia pun meletakkan kotak kado tersebut lekat-lekat di dadanya yang masih belum berbaju (!?), meresapi aroma entah itu dari neraka atau surga yang masih tersisa di kado tersebut.

Tobi yang masih dikejar-kejar oleh Temari tak sengaja melihat seniornya yang sedang bernostalgia dengan hadiah dari langit tersebut. Sang permen lollipop menghentikan pelariannya dan membereskan kunoichi berkucir empat tersebut dalam sekejap mata. Secepat kilat ia berlari menuju panggung dan membubarkan antrian.

"Deidara-senpai lagi pingin sendiri. Jangan diganggu. Karena Tobi anak yang baik, kalian boleh makan-makan atau ngedance dulu. Kadonya bisa dititipin Kakuzu-senpai. Ayo bubar bubar!"

Antrian yang tadi mengular panjang telah hilang, membaur dengan tamu yang lain. Deidara sedikit senang melihat juniornya ternyata bisa juga mengerti perasaan orang. Biasanya juga permen lollipop itu selalu saja mengganggu ketentraman hidupnya.

"DEEIIIDAARAAAA-SENPAAAAAAAAAAAAAIIIIII!!!!"

Deidara meralat pemikirannya. Tobi tetaplah Tobi yang menyebalkan. Pelukan penuh sukacita dari Tobi meremukkan tubuh mungil Deidara. Begitu erat hingga Deidara tidak dapat bernapas. Urat kemarahan berkedut-kedut hampir pecah.

"Deidara-senpai, seneng kan ulang taunnya dirayain ma Tobi dan yang lainnya? Iya kan? Iya kan?"

Hanya gerutu yang terdengar dari ketiga mulut Deidara, membuat pelukan Tobi makin erat menenggelamkan tubuh mungilnya.

"Deidara-senpai, Tobi mempersiapkan dan membuat semua ini hanya untuk Deidara-senpai, karena Tobi sangat sayaaang Deidara-senpai"

Tak ada jawaban. Deidara terdiam, ia tidak mendengarkan. Ia masih menggenggam hadiah pemberian Sasori. Tobi melihatnya dan menyingkirkan hadiah tersebut dari tangan seniornya yang tentu saja menjadi marah.

"Deidara-senpai, Tobi sedang berbicara pada Deidara-senpai. Tobi anak yang baik jadi dengerin Tobi!"

Tobi mencengkeram erat kedua lengan Deidara dalam pelukannya. Raut wajah kesal dan cemberut terpasang di wajah Deidara yang berontak untuk melepaskan diri.

"Menaklukkan Deidara-senpai memang susah ya. Udah Tobi lemparin cicak ternyata Senpai ga kaget, apalagi pingsan, malah cicaknya mati Senpai ledakin. Tobi sampai terpaksa membius Senpai supaya pingsan dan bisa Tobi angkut ke tempat ini"

"Jadi cicak itu ulahmu juga un!?"

"Gemesnyaa… Senpai yang lagi marah juga imuut! Tobi makin sukaa!!"

Tobi menyeringai dari balik topeng permen lollipopnya yang ia geser sedikit, memperlihatkan sebagian kecil wajahnya.

Chu-

Sekecup hadiah dari Tobis sukses mendarat di… salah satu bagian wajah Deidara. Tak dapat dielakkan, darah Deidara sudah mendidih dan menguap. Dengan sekuat ia menyepak juniornya hingga akhirnya ia bisa melepaskan diri. Ingin sekali rasanya melenyapkan makhluk penuh musibah itu dari hadapannya. Ia melihat sekeliling, mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata.

Zetsu yang dari tadi ada di sebelah Deidara sedang asyik menyiram bunga pemberian Ino. Tanpa babibu Deidara segera mencabut bunga-bunga tersebut dan melahap semua tanah yang sudah basah, diiringi jeritan putus asa dari Ino, sementara Zetsu sudah pingsan melihat perbuatan kejam Deidara.

"Rasakan ledakan seni dariku un!! C4 un!!!"

Sebuah cahaya terang bersinar dari tubuh Deidara. Cahaya tersebut semakin membesar dan membesar. Dan meledak. Membinasakan semua yang ada radius 10km darinya. Inilah akhir dari Deidara, juga semua shinobi yang bertamu di pesta ulang tahunnya. Semua diakhiri dengan indah oleh dirinya sebagai karya seni itu sendiri.

END

-diamaterasu oleh segenap klan Uchiha-

"Rasakan ledakan seni dariku un!! C4 un!!!"

shiing…

Gumpalan boneka tanah liat Deidara tak memberi reaksi apa-apa. Walau kekuatan fisiknya sudah kembali, namun kekuatan chakranya belum pulih benar setelah dibius sehingga boneka-boneka tanah liatnya tidak dapat meledak. Tobi tertawa geli. Deidara makin murka.

"#!$%^#$%!#!"

Semua sumpah serapah yang bahkan dapat menandingi Hidan terlontar dari mulut Deidara. Karena tidak dapat meledak, Deidara pun melemparkan boneka-bonekanya ke arah Tobi dengan penuh emosi..

Cprot cprot cprot

Jubah hitam motif awan merah Tobi belepotan oleh tanah liat. Sebagian tanah liat yang dilempar Deidara meleset dan mengenai orang lain. Namun tidak ada yang marah.

"Oh, ini perang lempar makanan ya?"

Saat itu juga, ayam goreng, gurame bakar, nasi uduk, sop jagung, kerupuk udang, es kelapa muda, kopi panas, kecap manis, dan berbagai hidangan pesta beterbangan. Setiap orang saling melempar makanan tanpa peduli targetnya. Seluruh gedung menjadi kotor dan berantakan. Tak ada yang peduli. Semua sedang bersenang-senang, kecuali Kakuzu yang stress menghitung kerugian sewa gedung sampai sempoanya benar-benar remuk menjadi serpihan kayu, sementara Deidara masih terus mengejar buronannya dan tanpa ampun melemparinya dengan tanah liat.

END

Fyuh… selesai juga fic atu ini.

Bgitulah crita di balik sang cicak. Ga penting banged kan. Gara-gara aniue complain betapa ga pentingnya ada adegan cicak nyungsep di baju Deidei, jadi saia jelasin aja di chap ini –ditendang-

Sebenernya banyak tokoh yang maw saia masukin buwat ngasi kado, tapi gila aja ngetik segitu banyak, dipisah jadi chap baru lagi juga ga sreg, author aja males apalagi yang baca, –ditimpuk- mana Oro-chama jadi banci salon begono aaargh emang sih saia ga suka beliaw waktu udah tuir… -shotacon fufu-

Hug Tobi, hug Dei, hug Hidan, hug Kuzu, hug Ita, hug Pein, hug Saso, hug Konan, hug Kisa, hug, euh, Zetsu (bingung gimana meluknya). I looove Akatsuki! Chu chu chu chu!! –para Akatsuki rebutan masuk WC pengen muntaber-

Quiz :

1. apa arti bunga Acanthus pemberian Ino buat duplikatnya?

2. siapa anggota aktif Akatsuki yang di chapter ini muncul tapi ga punya dialog? (keenam pein diitung satu, yang almarhum dan pensiunan ga diitung)

3. di bagian wajah Deidei yang mana Tobi mendaratkan ciumannya XD kyah!!

Prize : request fics are welcomed –halah-

Don't forget to review, critic, and comment my fics (and answer my useless questions if you want the prize XD) Tengkiuuuuuuuuuuuuuuuu!!