Author's Notes: Makasih banyak buat yang udah review...kebanyakan pake anonim sich, jadi g tau mo bales kemana...yang mau baca balasan review masing-masing baca di akhir chappie aja deh...

Disclaimer: Masashi Kishimoto own Naruto characters, and I own this story and the OC, thank you.


Bel istirahat berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar kelas. Itachi memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas dan beranjak dari kursi untuk menuju kantin. Tapi belum sempat ia menapakkan kakiknya keluar dari kelas, sebuah tangan menahannya untuk berjalan lebih jauh. Itachi menoleh dan benar saja, Shana yang menggenggam tangannya.

"Jangan bilang kamu lupa apa yang aku bilang tadi?" katanya dengan wajah cemberut.

"Aku nggak lupa. Aku mau beli makanan dulu di kantin," elak Itachi. Padahal sebenarnya dia lupa.

"Oh...ya sudah. Aku temanin ke kantin deh."

"Shana-chan!! Kamu nggak mau makan sama kita?" tanya seorang siswi yang tampaknya adalah teman Shana.

"Aku mau diskusi tentang kafe untuk festival itu sama Uchiha-kun. Maaf ya? Lain kali deh..."

Cemberut, gadis itu pergi keluar dari kelas bersama beberapa temannya yang lain sementara Shana masih bersama Itachi. Shana mendongak melihat Itachi yang raut wajahnya masih datar dan tersenyum. "Yuk."


Maka, setelah membeli roti melon dan susu kotak dari kantin, mereka berdua pergi ke atap. Ini bulan November dan sebentar lagi musim dingin menghampiri. Makanya tidak ada seorangpun di sana kecuali mereka berdua. Sebenarnya Itachi mau protes karena dia merasa kedinginan dan mau mengusulkan untuk berdiskusi di perpustakaan saja, tapi Shana tidak memberinya kesempatan untuk menyatakan sugestinya itu.

"Jadi..." Itachi membuka bungkus roti melonnya, "...aku Cuma perlu menggunakan uangku untuk membayar uang sewa kostum, 'kan?"

"Yups, pada dasarnya sih begitu. Tapi sebagai panitia, kita harus mengkoordinir pekerjaan teman-teman," sahut Shana, yang sibuk me'mutilasi' kaki-kaki sosis guritanya menjadi beberapa bagian. "Meski kedengarannya enak jadi mandor kelas, sebenarnya tugas ini berat lho..."

"Trus, kenapa kamu terima?"

Setelah mengunyah dan menelan sosisnya tadi, ia melanjutkan, "Soalnya aku suka festival sih. Jadi, meskipun mesti berjuang untuk menciptakan festival yang bagus, aku rela kok."

"...Termasuk berpasangan denganku?"

"Yups."

Itachi menghela napas dan melanjutkan makan roti. Ternyata cewek ini memang berselera pemberani. Saking sukanya festival sampai rela berpasangan denganku, yang dikucilkan orang ini...Itachi geleng-geleng. Salut deh...atau jangan-jangan dia ini memang nggak takut apapun yah.

"Eh, aku boleh panggil Itachi-kun saja tidak?" tanya Shana tiba-tiba.

"Terserah," sahut Itachi cuek.

"Hehe, teng kyu...kalau begitu kamu panggil aku Shana saja ya..."

"..."

"Eh...Itachi-kun. Kamu kok pendiam sekali? Aku lihat-lihat selama ini kamu itu sukanya duduk di pojokan kelas, baca buku-buku berat. Coba ngobrol sama yang lain sekali-kali gitu...kayak misalnya, er, sama kelompoknya Deidara-kun sama Hidan-kun."

Itachi tetap diam. Cis, mana mau aku bergaul sama kelompok preman begitu? Kerjaanya ngelaba di kelas, sering cabut buat main bola di lapangan, mana pakai perhiasan metal lagi! Nanti aku kena cap anak berandalan juga lagi!, omel Itachi dalam hati.

"Aku bukannya terlalu diam. Kalian saja yang tidak mau bicara denganku," sahut Itachi ketus.

"Lhooo...itu kan karena sorot mata Itachi-kun terlalu sadis," ledek Shana. "Terus, kalau misalnya sekelas ketawa karena tsukkomi-nya Deidara-kun, Itachi-kun nggak ketawa. Pantas saja semuanya bilang Itachi-kun seram, Itachi-kun jutek, Itach-kun preman, de el el, de es te, de es be, es be ye..."

Itachi mengerjapkan matanya. "Mereka pikir begitu?"

Shana mengangguk sambil nyengir usil. "Coba sekali-sekali senyum gitu, kan sayang, cakep-cakep kok jutek."

Sebuah kotak susu kosong melayang ke kepala Shana. Gadis itu mengernyit kesakitan sambil mengelus bagian yang sakit. "Adaow...sakit, dudutz!" protesnya, kesal.

"Habis daritadi mangap, kupikir tong sampah...sori kalo meleset," balas Itachi.

Shana mau membalasnya dengan melempar garpu makannya. Tapi sesaat kemudian, ia melihat senyum terutas di bibir Itachi. Senyum yang sangat langka, yang jarang ia perlihatkan ke orang lain selain keluarganya. Gadis itu terkesiap, kemudian ia tersenyum lucu, yang malah ditangkap sebagai ledekan oleh Itachi.

"Apanya yang aneh?"

"Nggak. Senyummu bagus," pujinya. "Coba lebih sering senyum seperti itu."

Itachi merasa pipinya memerah mendengar komentar itu. Ia menghela napas dan mengambil kotak susu kosong yang baru saja ia lempar ke Shana, memasukkannya dalam plastik kosong bekas roti melonnya tadi.

"Aku ini...nggak terlalu pintar dalam hal pertemanan," Itachi mengaku. "Sebenarnya aku kesal dengan diriku yang seperti itu. Tapi ayahku bilang kalau hal itu wajar, karena banyak orang takut pada kekuasaan keluarga kami dan kami memang tidak seharusnya berteman dengan kalian, orang yang, yah, bisa dibilang kalangan bawah."

Shana tidak mengomentari apa-apa, melainkan membiarkan pemuda itu meneruskan ceritanya.

"Tapi, seiring dengan berjalannya waktu...aku sadar bahwa memang akunya saja yang tidak pandai bersosialisasi. Terbukti bahwa sekarang adikku, Sasuke, yang sekarang masih bersekolah di tingkat SMP, sudah punya banyak teman dan bahkan memiliki seorang sahabat. Yah, walaupun caranya berkomunikasi dengan sahabatnya itu agak aneh sih. Aku jadi merasa...agak minder dengannya."

"Kalau mau, aku bisa jadi teman pertamamu."

Itachi melihat ke arah Shana. Gadis itu tersenyum manis, tak ada sedikitpun tanda-tanda yang menunjukkan bahwa itu adalah senyum palsu, yang ia tunjukkan karena merasa simpati atau hanyalah bohong belaka untuk menyemangatinya.

"Aku juga akan bantu kamu, supaya kamu bisa berkenalan lebih jauh dengan teman-teman sekelas. Pokoknya aku jamin kamu bisa punya banyak teman, nggak kalah sama adikmu," tambahnya penuh semangat.

Itachi tak tahu harus berkata apa. Ia melirik ke bawah, menolak melihat senyum gadis itu, yang entah kenapa bagaikan cahaya terang di matanya.

"...Kenapa?"

"Hah? Apanya yang kenapa?"

"...Kenapa kau mau sampai segitunya menolongku? Apa hanya demi melancarkan jalannya festival, seperti katamu tadi?"

Shana menggeleng cepat. "Aku hanya merasa tak enak karena kamu merasa tak enak."

Itachi melihat Shana lagi. Dahinya mengernyit mendengar rangkaian kata-kata yang terdengar tak wajar itu. Shana menyadarinya dan pipinya memerah sedikit.

"Err...maksudku, aku ingin kamu punya teman juga. Rasanya tidak adil kalau semuanya berteman satu sama lain sementara kamu disisihkan. Kamu juga pasti merasa kesepian kan? Makanya..." ia berhenti sebentar sebelum menunduk karena ia merasa mukanya benar-benar semerah apel sekarang. Ia menambahkan dengan suara yang lebih mirip bisikan, "...maaf."

Itachi tersenyum. Ternyata...di dalam keegoisan, kenekatan, dan keberanian itu...dia masih saja anak kecil yang polos.

"Tidak apa," Itachi menjitak kepala Shana dengan pelan, "Terima kasih kamu mau membantuku. Kita bekerja sama ya...partner."

Shana mendongak dan tersenyum. "Yap, partner!"


Individul Reviews:

. : Cewenya gaara? Hmm...mungkin...kalau cewenya Sasori sih bisa banget. Chappie depan muncul deh. Oce? Iya, nanti saya coba baca...kalau g terbebani tes yach... .

noriko saionji : Waduh...pacar gaara lagi? Apa virus gaara sudah menyebar -halah, ngawur- Yah, entar saya coba. Gaara temen lamanya itachi? Hmm...maybe. Tapi umurnya...

Rie Mizuki : Thx dah ripiu...slamat berjuang dengan kulaih u...aku mendoakan keselamatanmu...-apa sih, lebay dech-