Author's Notes: Review replynya ada di bawah...oh ya, ada beberapa OC baru, yaitu Chaa a.k.a panda-kun, P. Ravenclaw dan Noriko Saionji. Jadi temen sekelas aja boleh ya? Abis bingung mo dikasih role apa...enjoy.

Disclaimer: Masashi Kishimoto own Naruto characters, and I own this story and the OC, thank you.


Chapter 3

4 hari sebelum festival, semua pelajaran diliburkan supaya para siswa bisa mendekor kelas dan menyiapkan hal-hal yang akan mereka lakukan di festival. Rata-rata, semua kelas masih sibuk membuat rencana dan mondar-mandir keluar masuk sekolah untuk membeli alat-alat. Tapi lain halnya dengan kelas 2-1.

Kelas itu sudah siap dengan bahan-bahannya, tinggal bekerja saja. Semuanya berkat rencana yang sudah dibuat jauh-jauh hari oleh Shana dan si investor Itachi. Sekarang pemuda itu sedang sibuk mengomandoi murid cowok yang membuat dekor kelas, sementara partner-nya itu membantu murid cewek membuat resep di ruang PKK.

"Haiz...gila, banyak banget kerjaan kita. Kalau nggak kejual sampai habis gimana?" tanya seorang gadis berambut kuncir empat yang sedang memotong cake yang sudah jadi. Sebut saja Raven.

"Gampang. Nanti Itachi-kun bawa ke rumah sisanya, biar pembantu di rumahnya yang habisin tuh makanan," sahut Shana enteng. Dia menyolek krim cokelat untuk crepe. "Oishi neeee..."

"Kamu...berani banget sama Uchiha-kun," gumam Raven.

"Iya. Nggak takut suatu saat kamu dipukulin sama ajudannya apa?" tanya gadis lain yang sedang mengeluarkan puding dari cetakan. Namanya Panda-chan (di bio sih nulisnya Panda-kun tapi...ya sutralah)

"Duh...kalian ini overdramatis banget deh. Kalau dia kaya belum tentu dia tuh sombong, punya ajudan serem, dan gampang tersinggung, kan?" rutuk Shana.

"Tuh kan, dia ngebelain deh," seorang gadis yang sedang menghias chocolate cake bernama Noriko-chan ikut-ikutan menyahut. "Susah sih yah, punya cowok tajir..."

"Whad? Aku bukan pacarnya teu...yang susah itu kamu, Panda-chan punya pacar cowok datar macam Sasori-kun," balas Shana.

"Iya tuh, susah sih ya..."

"Heh, yang susah itu Noriko-chan, masa udah SMU pacaran sama anak SMP macam Gaara-chan...duh plis deh, ga banget..." ledek Panda-chan.

"Yee, gue kan Cuma naksir! Naksir tuh ga ada salahnya kaan...lagian kakaknya oke-oke aja kok malah kalian sih yang sewot!"

"Udah, udah. Ini malah ngomongin soal cowok lagi," Shana mengeluh. "Sudah jadi, 'kan? Kita bawa ke kelas yuk, minta pendapat para cowok."


"Yang itu agak ke kanan sedikit...yang sebelah sana tolong di tambah pakunya, soalnya nggak cukup kuat. Terus...oi, yang sana hati-hati, nanti jatuh nggak ada yang bisa nolong!"

Komando Itachi terdengar di mana-mana. Pemuda berambut hitam itu terbukti berbakat menjadi mandor konstruksi bangunan...atau manajer cerewet untuk anak buah pemalas macam anak cowok di kelas 2-1 itu. Sasori, yang merupakan ketua kelas sekaligus anggota OSIS yang ditugaskan untuk mengawasi pekerjaan kelas itu, tersenyum kagum melihat Itachi memerintah para cowok yang, tumben-tumbennya, patuh.

"Uchiha-kun, kamu berbakat jadi mandor," katanya sambil menghampiri Itachi.

"Sudah biasa," jawab Itachi pendek.

"Aku senang kamu mau menerima tawaran ini. Nggak salah Sumeragi-san menunjukmu jadi panitia utama," lanjut si rambut merah. Itachi diam saja. "Aku kaget, kamu diam saja dan menerima ajakan itu..."

"Aku sendiri heran," sahut sang panitia asal saja.

"Yah...aku ngerti juga sih. Bahkan kami, yang sering ngobrol dengannya saja susah menolak tawarannya."

Itachi dan Sasori menoleh ke asal suara, melihat Hidan dan Deidara, dua tukang ngocol di kelas sedang memaku kayu untuk membuat kursi panjang.

"Dia itu keras kepala banget sih," tambah Hidan. Mulutnya penuh paku, tapi hampir tidak bisa dibedakan dengan piercing yang ditempel di bibirnya. "Kalau ikut debat juga...dia nggak akan mau berhenti sampai pendapatnya dimenangkan. Agak egois."

"Terus kalau sudah marah gayanya kayak yankee...pokoknya seram deh. Yah, maklum sih. Keluarganya kan buka dojo di rumah mereka," sambung Deidara, yang rambut panjangnya hari ini dikelabang dengan seenaknya sendiri sehingga tampak awut-awutan.

"Kalian tahu banyak ya..." gumam Itachi tak jelas.

"Ya iyalah. Dia asyik di ajak ngobrol sih. Nggak kerasa kayak ngomong sama cewek," Hidan nyengir. "Sayang dia beringas banget. Nggak sesuai selera gue."

"Alah, selera Hidan-kun kan cewek semok yang mau-maunya disuruh pakai bikini sepanjang hari."

Semuanya menoleh ke arah pintu dan menemukan Shana bersama murid cewek lainnya memasuki ruang kelas. Beberapa membawa hasil percobaan pertama mereka. Shana berkacak pinggang dan menambahkan, "Aku kan cewek bermoral. Lagian Hidan-kun bukan tipe ku banget."

"Yeee...siapa juga yang mau!"

"Kalau begitu sama aku aja!!!" kata Deidara iseng ditambah mupeng alias muka pengen.

"Ya, ya...nanti kalau cowok-cowok di dunia ini selain kamu sudah mati, baru aku pacarin."

Semuanya spontan tertawa. Itachi berdiri diam di dekat meja guru, tak menginterupsi. Dia sebenarnya ingin ikut mengobrol, tapi tak tahu harus bagaimana. Makanya ia memutuskan untuk kembali mengawasi pekerjaan para cowok.

"Eh, eh, Sasori-ku~n, coba deh, shortcakenya!" si Panda-chan menyodorkan sesuap shortcake.

"Hyah, dia malah mesra-mesraan," ledek Raven.

"Mmm...kira-kira aku bisa mangkir sebentar buat ke gedung SMP trus ngasih Gaara-chan kue ini tidak yaa..." Noriko-chan berangan-angan sendiri.

"Yee..maunya!" olok Deidara.

"Itachi-kun!"

Itachi menoleh begitu mendengar suara yang akrab di telinganya. Tapi belum sempat dia melakukan apa-apa, tangan Shana yang memegang sepotong torte sudah menjejalkan makanan itu ke dalam mulutnya. Itachi terpaksa menelan kue itu sementara Shana menarik mulutnya dan membersihkan remah roti yang mengotori jarinya.

"Gimana? Enak ga? Buatan Raven lho..." dia tersenyum girang.

Itachi terdiam. Ia mengunyah dan menelan kue itu sebelum berkomentar singkat: "Manis..."

"Artinya?"

"Manis, dalam kamus lengkap bahasa Indonesia berarti rasa gula, lalu bisa juga sebutan untuk seseorang yang memiliki paras atau penampilan rupawan."

"Aduh...bukan itu, dudutz! Yang aku tanya itu enak apa enggak..."

"Ya manis."

Shana terdiam sebentar, kemudian menjetikkan jari. "Oh...aku ngerti, ngerti! Kamu suka manis yaaaa? Ayo ngaku!!!"

Itachi diam saja. Raut wajahnya sedatar Sasori. Tapi sekilas Shana melihat semburat merah muda di pipi pemuda itu. Gadis itu menyeringai lebar.

"Yap, aku betul! Jadi kalau kamu bilang manis itu tandanya enak, iya kan???" goda Shana sambil menyikut Itachi pelan. Pemuda itu kekeuh mempertahankan kebisuannya. "YES! Semuanya, suruh Itachi-kun nyobain masakan kalian! Kalau dia bilang manis itu tandanya enak."

"Kalau dia bilang yang lain gimana?" tanya Sasori iseng.

"Hmmm...kalau pahit berarti nggak enak. Kalau dia bilang asin berarti memang asin. Kalau dia bilang asam berarti terlalu asam. Simpel kok."

"Kalau dia nggak bilang apa-apa?" tanya Raven.

Shana melipat tangannya dan berpikir. "Kalau dia muntah berarti nggak enak...kalau dia minta lagi berarti ketagihan..."

"Woi plis deh! Kalau begitu kita juga ngerti kaleeee!" protes Deidara.

"Biarkan saja, Deidara! Kita lihat cara Shana mendemonstrasikan bahasa isyarat suaminya tercinta," ledek Hidan.

Mendengar itu, semuanya spontan tertawa kecuali Shana dan Itachi. Wajah Shana datar, sementara Itachi kelihatan sekali bahwa pipinya memerah. Shana mendatangi Hidan dan menginjak kakiknya, membuat pemuda itu mengernyit kesakitan.

"Sudah kubilang dia bukan pacarku," kata Shana keras kepala. Ia menoleh dan tersenyum ke arah Itachi. "Kita Cuma partner. Iya kan, Itachi-kun?"

"Ya...begitulah," sahut Itachi.

Akhirnya hari ini Itachi, di bawah ultimatum dari Shana, mencicipi setiap kue kreasi para siswi. Meski reaksinya biasa-biasa saja, yaitu hanya mengatakan tiga jenis kata: manis, kurang manis, terlalu manis; Shana bisa melihat kalau sekarang teman-teman sekelasnya itu lebih berani dan setidaknya Itachi bisa bicara dengan mereka, meski kata-katanya masih sangat minim.

"Uph..." Itachi menutup mulut. Raut wajahnya pucat.

"Waduh, kayaknya kebanyakan makanan manis tuh," Sasori mengomentari.

"Hah?! Itachi-kun, kamu mau muntah?" tanya Shana panik.

"Nggak, kok...Cuma sedikit mual," jawab Itachi pelan.

"Kita ke UKS, ya?"

"Nggak usah..."

"Harus!"

"Nggak!"

"Harus!!"

"Udahlah, Uchiha-kun...turutin aja," Deidara menyela. "Nggak mungkin bisa nolak deh...kan dia keras kepala."

"Ukh, Dei-kun, kuharap kamu kejatuhan palu," Shana mengutuk pemuda berambut pirang itu.

Tiba-tiba dua orang siswa lewat. Mereka mau memindahkan kursi yang sudah selesai dibuat. Saat itulah, alat pertukangan yang ditaruh di atasnya, jatuh dari kursi yang digotong kedua pemuda itu dan sebuah palu mendarat di kaki Deidara. Spontan saja cowok itu menjerit kesakitan sementara Shana tersenyum licik.

"Omaigod, Mbah Shana beraksi! Ampuni kami, mbah..." Hidan langsung ketakutan. Dia sembah sujud di hadapan Shana.

"Hidan-kun, itu Cuma kebetulan...tidak usah berlebihan," hardik Sasori.

"Biar saja, Sasori-kun! Biar dia tau rasa," Shana melipat tangan kesal.

Saat itulah, terdengar suara kikih pelan dari belakang mereka. Semuanya menoleh dan mendapati Itachi tertawa kecil melihat penderitaan Deidara yang sekarang melompat-lompat tidak jelas, mengganggu pekerjaan yang lain. Shana tersenyum dan ikut tertawa.

"Wow, Uchiha-kun...ternyata kamu bisa tertaw—ugh!" Panda-chan mengernyit kesakitan karena Noriko-chan menyikutnya di perut.

"Memang kalian pikir dia itu apa, patung?" Shana tersenyum. "Itachi-kun Cuma jarang senyum saja kok...terlalu sering baca buku sih."

"Shana, kamu itu mendukung atau meledek sih?" gerutu Itachi, agak kesal.

"Dua-duanya! Sudahlah, ayo kita ke UKS! Let's gooo!"

Shana menyeret Itachi ke UKS, meninggalkan teman-temannya yang masih terkejut bahwa Itachi bisa tertawa juga.

"Kalau dia tertawa seperti tadi...dia terlihat tidak jauh berbeda dari kita semua, ya..." gumam Raven.

"Hmm...tapi aku mendapat kesan kalau dia itu Cuma bisa tertawa kalau Shana ada di dekatnya deh," tambah Noriko-chan.

Tiba-tiba, sebuah senyum mistik tersungging di bibir Panda-chan. "Bagaimana kalau kita comblangin saja? Kan bagus, kalau mereka jadian beneran, kita bisa berteman lebih dekat dengan Uchiha-kun."

"Hmm...boleh. Lagian kayaknya si Uchiha itu ada hati deh sama Shana," Deidara nyengir.

Keenam siswa itu saling pandang satu sama lain dan nyengir, lalu mereka tertawa aneh dan mulai menyusun rencana untuk menjodohkan Itachi dengan Shana, sementara kedua pasangan yang tak tahu apa-apa itu hanya bisa bersin-bersin tanpa sebab di UKS...


Individual Reviews:

Uchiha Kanata'ana-cHan : G apa. Kamu ripiu satu chapter aja aku sudah senang... OC...yah, bisa sih....chapter depan, mungkin? Makasih dukungannya...

Chaa a.k.a panda-kun : Iya, jadi pacarnya Sasori tuh...Gaara-nya nggak muncul, Cuma disebut aja. Sasu...emm...sebenarnya pas gue ngetik nama tu makhluk tangan gue sampe gatel...alergi-SasukeTemeBaka –kena Chidori gelombang ke-2-

P. Ravenclaw : Mau minta jadi OC? Sebatas teman sekelas boleh ga? Tuh, namanya udah masuk kan? About the fic...udah sering baca kok. Cuman jarang bisa ngasih ripiu...hehehe. Kapan2 q ripiu deh.

Rie Mizuki: Wakz, OOC yach? Gomen neee ^ Yah, namanya juga AU, usil dikit sama sifat karakter boleh dunkz...