Author's Notes: Terima kasih semua ripiunya!!! Aku seneng kalian suka OC-nya...(though Noriko didn't leave any word :| ...) Lagi-lagi ada OC baru... Solaritica Chika, mo jadi pacar Deidara. Yosh, granted! Trus buat Philip William-Wammy, kamu muncul di chapter depan yaaaa...sori. Hari ini giliran Uchiha Kanata'Ana-chan, jadi sepupunya Itachi. Ada slight Subaru (from X/1999) juga. Dan...chapter ini agak panjang dari biasanya. Mohon jangan keberatan. Oke deh, lanjut...
Disclaimer: Masashi Kishimoto own Naruto characters, and I own this story and the OC, thank you.
Chapter 4
"Oi, Uchiha-kun."
Itachi menoleh. Baru saja dia mau pulang setelah persiapan untuk festival hari ini selesai, Sasori memanggilnya. Di belakangnya, ada Deidara dan Hidan yang berekspresi aneh, seperti mati-matian menahan tawa.
"Ini, ada pesan dari Sumeragi-san," Sasori menyodorkan sebuah kertas yang dilipat dua kepada Itachi.
Itachi menerima dan membuka surat itu.
Besok Minggu temui aku di Konoha Theme Park, jam 10 pagi. Kalau sampai telat, awas!
-Shana.
Itachi menghela napas. Nggak usah kamu ancam juga aku datang kok... ia melipat surat itu dan menyimpannya sembarangan di kantung celananya. "Tapi kenapa dia pakai surat? Kenapa nggak ngomong aja langsung denganku?" Itachi heran sendiri.
"Mungkin karena malu? Biasalah, anak gadis..." Sasori mengangkat bahu. "Sudah dulu ya. Kami duluan." Sasori berjalan sambil menyeret Hidan dan Deidara yang sudah tak kuat menahan tawa.
Itachi berpikir sejenak. Tapi ia kemudian mengangkat bahu dan berjalan keluar bangunan sekolah, berniat untuk segera pulang karena mobil yang menjemputnya sudah tiba di parkiran sekolah.
Sementara itu, di tempat lain...
"Shaaaaannnaaa!!!"
Shana menoleh dan menemukan ketiga teman sekelasnya—Zooi (a.k.a Raven), Panda-chan, dan Noriko-chan—berlari-lari menghampirinya. "Ada apa? Kok kayak dikejar setan gitu?" gadis berambut hitam itu terheran-heran.
"Nih, kami dititipin surat sama Uchiha-kun!!" Zooi menyodorkan sepucuk surat kepada Shana.
Shana mengambilnya dan memperhatikan tampilannya. Ada tulisan To: Shana di depannya, dan tulisannya itu Itachi banget—serapi Font tipe Papyrus. Tanpa ragu lagi, Shana membuka lipatan surat itu dan membacanya.
Temui aku hari Minggu besok jam 10 pagi di Konoha Theme Park. Penting.
-Itachi U.
"Hah? Kalau penting kenapa nggak telepon aja sih?" Shana heran.
"Umm...belum beli pulsa kali?" sahut Noriko-chan asal-asalan.
Shana berpikir sebentar. Kemudian dia mendapat ide. Ini kesempatan bagus untuk membuat mereka lebih mengenal Itachi-kun! Yap, kutanyain deh!
"Hei, kalian minggu besok ada waktu luang nggak?"
"H-hah? Ngg...aku besok ada kencan sama Sasori-kun!" jawab Panda-chan buru-buru. "Mereka berdua juga! Ada les besok!"
"Yah, sayang dong...padahal aku mau ngajak kalian semua jalan-jalan bareng di KTP(a/n: Konoha Theme Park, bukan Kartu Tanda Penduduk ataupun Kartu Tanda Pelajar!)...mumpung Itachi-kun yang ngajakin," Shana mengeluh.
"Whad? Uchiha-kun ngajakin kamu jalan di KTP?" Zooi sok-sok kaget.
"Iya. Nih, dia bilang di surat ini," Shana menunjukan surat itu.
"Ya amplop...Shana, itu kan artinya dia ngajakin kamu kencan!!!" Noriko-chan pura-pura kegirangan.
"Mana mungkin. Kalau dia mau ngajakin kencan, bilang aja terus terang: 'Eh, besok kita kencan yuk?' Kayak yang dilakuin Deidara-kun sama Hidan-kun itu lho..."
"Yah...mungkin aja dia malu gitu? Kan kalian baru beberapa hari deketnya, terus ntar takutnya seperti biasa kalau kamu diajakin kencan sama Dei-kun dan Hidan-kun kamu nolak tawarannya...jadi dia ngirim surat gitu..." Panda-chan menjelaskan.
Shana garuk-garuk kepala. "Hmm...iya juga yah. Ya sudah deh. Besok aku dateng aja."
Shana pun melangkah pergi dari ketiga cewek itu. Setelah dia tidak kelihatan lagi, ketiganya bersorak kegirangan. Mereka langsung pergi ke suatu tempat.
Ruang OSIS SMU Konoha.
Sasori, Deidara dan Hidan masuk ke dalam ruangan dan menemukan beberapa anggota OSIS di sana: Pein dan Konan lagi mesra-mesraan di pojok sambil makan cokelat; Kakuzu lagi sibuk menghitung dana OSIS dan anggaran untuk persiapan festival sekolah; dan Tobi yang 'mengerumuni' sang bendahara OSIS tapi dicuekin total. Keempatnya melihat Sasori cs masuk dan menyambut mereka.
"Gimana?" tanya Pein.
"Rencana berhasil!" Deidara bersorak kegirangan.
"Teng qiu Konaaan...kamu baik deh, mo nyalinin gaya tulisan Shana supaya bisa menipu Itachi," Hidan nyengir.
"Nggak apa. Yang penting janji beliin syal Armani-nya ditepatin, oke?" Konan tersenyum bahagia.
"Trus, trus? Yang Tobi mati-matian tulis supaya mirip suratnya Itachi mana?" tanya Tobi, akhirnya berhenti merecoki Kakuzu.
Saat itu juga, Panda-chan, Noriko-chan dan Zooi memasuki ruang OSIS dengan wajah riang gembira. Panda-chan, yang melihat Sasori ada di sana, langsung memeluk Sasori sampai jatuh.
"Berhasil!! Shana nggak tau itu surat bo'ongan!" serunya.
"Untung deh, nggak ketauan. Ntar bisa-bisa kita dibantai Shana," Zooi lega.
"Makasih, Tobi-kun! Kamu hebat deh!" puji Noriko-chan.
"Nggak apa. Makasih juga udah dibeliin permen sekardus kemarin. Enak lho," Tobi nyengir bangga.
"Pertanyaan," Kakuzu mengangkat tangan. Semuanya menoleh ke arahnya. "Aku bisa meniru tulisan keduanya dengan mudah. Kenapa kalian tidak minta tolong ke aku saja?"
"Soalnya kamu pasti minta bayaran lebih mahal daripada yang diterima Konan dan Tobi," semuanya berpikir bersamaan. Tapi toh mereka mendiamkan pertanyaan itu dan melanjutkan pembicaraan yang terpotong tadi.
"Ya sudah," Sasori bangkit dari posisinya dan menenangkan Panda-chan. "Semoga saja besok berhasil. Paling parah mereka bisa bertengkar siapa yang sebenarnya mengirim surat itu sebenarnya."
"Eh, gimana kalau kita besok kencan aja sekalian di sana, supaya bisa memata-matai mereka?" ajak Panda-chan.
"Bukannya besok kalian mau kencan sambil shopping?" tanya Hidan.
"Lagian nanti bisa ketauan Sumeragi-san...kalau dia curiga bagaimana? Kita bisa dibantai," Noriko-chan ketakutan.
Sasori tampak berpikir. "Oh ya, Deidara, bukannya kamu punya pacar? Kenapa nggak kamu saja yang memata-matai mereka?"
Deidara berjengit. "OGAH! GUE BLUM MAU MATIIII!!!" cowok itu langsung bersembunyi di balik Kakuzu. "Kakuzu, bilang sesuatu dong! Belain gue! Kan kita plend, ya kan, ya kan?"
"Plend muka lo? Gue nggak sudi berteman sama lo sebelum lo balikin duit yang gue pinjemin kemarin buat beli sepatu baru!" Kakuzu menjauh dari si pemuda berambut pirang.
Panda-chan menoel Tobi. "Eh, Tobi-kun, bujukin dong. Kan kamu anggota geng yang paling disayang sama Deidara! Ntar kukasih alpenliebe sekotak deh!"
"Ho-oh," Tobi mengangguk. Ia menghampiri Deidara yang meringkuk ketakutan. "Dei-senpai, kan udah jarang kencan lagi sama Chika-san, sekali-sekali senengin cewek dong..."
"OGAH!!" seru Deidara keras kepala.
"...nanti Chika-san kurebut lho..."
Deidara tertegun. Ia menelan ludah. Tobi itu cakep sih...sekali rayupun semua cewek di sekolah ini bisa pingsan saking bahagianya. Lagipula dia itu anggota keluarga Uchiha juga. Siapa yang nggak mau jadi gebetannya? "Ya udah deh...gue mau, sekalian kencan sama Chika..."
"Bagus kalau begitu, berjuang ya," Zooi nyengir usil.
"Selamat berjuang, Deidara! Maaf aku tak bisa menemani perjuanganmu! Semoga kamu bertahan hidup, soalnya nggak ada lo nggak rame," kata Hidan, sambil berlinang air mata haru.
"Nggak usah lebay deh!" Noriko-chan menjitak kepala Hidan.
"Ya sudah. Pulang yuk, udah sore nih," kata Pein sambil beranjak dari pojok bersama Konan. Semuanya mengangguk dan mereka pulang ke rumah masing-masing.
Konoha Theme Park.
Itachi turun dari jaguar keluarganya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari Shana. Ia akhirnya menemukannya sedang berdiri di dekat pintu masuk. Ia tampak cantik dengan baju bebas hari ini: kaos lengan panjang berwarna putih, rompi denim berwarna biru muda, syal biru yang dililit di sekitar lehernya, dan celana jeans panjang selutut. Ia tampak sempurna, seandainya saja wajahnya tidak cemberut.
"Hei, Shana," Itachi menghampirinya.
Shana menoleh dan melotot ke arahnya. "HEI!? Kamu pikir ini jam berapa? Ini jam 10.15! Ga on time banget sih!"
"Sori, macet..."
"Huh. Yang ngundang kok yang telat...dasar."
Itachi menaikkan sebelah alisnya. "Apa? Yang ngundang?"
"Iya. Kamu kan yang ngajakin aku ke taman bermain ini? Padahal kan bisa aja kamu ngomong di telepon untuk membicarakan apapun denganku. Ada masalah apa sih?"
"Tunggu...aku? Bukannya yang ada masalah itu kamu? Sampai ngancem aku lewat surat segala...kamu juga cukup datang ke tempatku untuk membicarakan apapun kan?"
"Aku nggak ngirim surat kok. Kamu tuh...udah, nggak usah bo'ong."
"Nggak. Ngapain juga aku bohong?"
Mereka bertengkar tentang siapa yang sebenarnya mengajak ke taman bermain itu. Dari jauh, Deidara dan seorang cewek berambut ikal berwarna hitam kecoklatan mengamati dari jauh, berusaha untuk tidak ketahuan bahwa mereka sedang menjalankan tugas suci: memata-matai proses blind date.
"Waduh, bertengkar," Deidara mengeluh. "Bisa gagal nich..."
"Dei-kun, kenapa kita mesti kencan sambil memata-matai kencan orang sich?" sang cewek, yang merupakan pacar Deidara atau lebih dikenal bernama Chika Hiragaishi, cemberut.
"Sabar Chika-chan...ini tugas penting." Nggak juga sih. Seandainya gue nggak diancam Tobi, gue juga nggak mau kencan hari Minggu gini. Ugh, damn Tobi!
Chika mengangkat bahu dan ikut mengamati pertengkaran Itachi dan Shana. Mereka masih bertahan dengan pendapat mereka masing-masing. Itachi mengeluarkan surat yang diberikan Sasori kemarin. "Ini kan? Tulisan kamu?"
Shana mengambil surat itu dan membacanya. "Itachi...kamu dodol juga yah?" Shana tertawa dan menunjukkan tulisan di surat itu. "Sejak kapan aku punya pena tinta warna ungu? Ada juga biru, merah, sama hijau. Ini jelas-jelas bukan buatanku!"
"Hah? Berarti..." Itachi merengut dan menendang tanah, "Dasar ketua kelas sialan!"
"Kalau begitu, ini bukan darimu juga ya?" giliran Shana yang menunjukkan surat yang diterimanya kemarin.
Itachi membaca surat itu dan tersenyum geli. "Ini sih tulisan Tobi...lihat, masa' dia nulis tanda tanganku pake 'Itachi U.' gini. Aku biasanya tuh tanda tangannya pakai 'Itachi' aja kali..."
"Oh..." Shana mudeng. "Sial! Mereka nipu kita! Dasar temen-temen biadab!!"
"Gimana dong? Jemputanku sudah pulang. Kan rasanya nggak enak kalau aku telepon sekarang," Itachi kebingungan, antara dia harus pulang atau jalan-jalan sebentar. Kalau pulang ke rumah, dia bisa lanjut membaca novel yang dia beli kemarin. Tapi perasaan tidak nyaman terhadap supirnya tadi membuatnya mengurungkan niat untuk menelpon supaya dijemput pulang.
Shana tersenyum ketika ia mendapat ide. "Ya sudah! Udah sampai di sini, sekalian aja kita main! Yuk, masuk! Kamu yang bayarin, oke?" ajaknya sambil menyeret Itachi ke gerbang masuk ke KTP.
"Dua pelajar," kata Shana kepada mbak-mbak penjual tiket.
"360 yen, tapi karena datang berpasangan, di diskon jadi 190 yen," sahut mbaknya sambil mengeluarkan dua lembar tiket masuk.
Itachi mengeluarkan dompetnya dan membayar tiket itu. Setelah menerima tiket dan menunjukkannya pada petugas penjaga pintu masuk, Shana membawa Itachi bermain di berbagai wahana. Jet coaster, rumah kaca, ontang-anting, rumah hantu, komidi putar, dan banyak lagi yang lainnya. Tak lupa, Deidara dan Chika mengikuti mereka. Lumayan, main-main sedikit meski masih konsentrasi mengamati jalannya kencan Itachi dan Shana. Setelah puas dan kecapean main ke sana kemari, mereka berhenti untuk makan siang di kafetaria di dalam taman bermain itu.
"Sudah lama nggak main ke sini. Hehe, lega rasanya," komentar Shana setelah meneguk habis segelas penuh coca cola. Dia sedikitpun tidak menyadari kehadiran Deidara dan Chika di dalam kafetaria itu, dan keduanya bersyukur ia tak memerhatikan sekelilingnya.
"Ternyata menyenangkan sekali...selama ini aku hanya bisa lewat di depan sini dan mendengarkan sorak-sorai pengunjung yang asyik bermain dengan wahana di sini," Itachi tersenyum. "Rasanya...seperti kembali menjadi anak kecil."
Shana tertawa. "Yah, taman bermain ada kan awalnya untuk menghibur anak kecil. Tapi...hei, kamu benar-benar tidak pernah ke sini?"
"Nggak pernah. Kalau Sasuke sih mungkin sudah sering ke sini sama teman-temannya pas hari libur."
"Hmmm...aku mulai berpikir jadi orang kaya itu tidak selamanya enak," Shana memainkan sedotannya dan mengaduk-aduk es batu yang masih penuh di dalam gelasnya. "Atau...kamu saja yang malas keluar rumah?"
Itachi menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah mendengar komentar spontan itu. "Sepertinya aku memang malas."
Gadis berambut hitam itu tertawa lagi. "Dasar," katanya setelah berhenti tertawa. "Kamu harus sering-sering keluar supaya lebih mudah berinteraksi sosial dengan orang sekitarmu! Kulihat kamu juga tidak punya style yang bagus," tambahnya sambil mengamati Itachi dari ujung sepatu sampai ke ujung rambut.
"Hei, ini dipilihkan Sasuke, jangan salahkan aku."
Hari ini, Itachi memakai turtleneck berwarna hitam dengan jaket putih plus celana jeans biru panjang ketat dan sepatu sandal hitam-abu abu. Semuanya memang pilihan Sasuke.
Kemarin malam saat bocah satu itu masuk ke kamar abangnya seenaknya, ditemukannya surat yang dibuat Tobi. Sasuke menafsirkan bahwa Itachi akan kencan besok, jadi dia sok menceramahi tentang fashion yang bagus untuk dipakai besok plus tips and trick tentang kencan hot. Itachi sempat kesal dengan sifat sok tahu adiknya itu, tapi toh dia nurut.
"Adik yang perhatian," Shana tertawa kecil. "Hhhh...seandainya Aniki-ku sebaik itu... "
"Kamu punya saudara?" Itachi penasaran.
"Kakak kembar silang: yang cowok Subaru dan yang cewek Hokuto. Usia mereka terpaut 6 tahun dariku sih..." gadis itu tersenyum aneh, "Ya sudahlah. Kita di sini bukan untuk membicarakan keluargaku, kan? Yuk, kita main lagi!"
Akhirnya, setelah mencoba seluruh wahana di tempat itu, keduanya keluar dari KTP, diikuti Deidara dan Chika.
"Kayaknya udah selesai deh," kata Chika. "Sudah sore. Masih mau dilanjutkan, misinya?"
"Ng...kalau mau pulang, boleh kok," sahut Deidara.
Chika cemberut. Apa segitu pentingnya, misi ini ketimbang dia, yang pada kenyataanya adalah pacarnya sendiri? Tapi bukan Chika namanya kalau tidak tahu bagaimana cara membuat Deidara mau mengantarkannya pulang. Gadis itu mendekat ke arah Deidara dan mencium pipinya. Deidara kaget, mulutnya terbuka saking kagetnya. Chika tersenyum.
"Tolong antarkan aku pulang ya...sudah gelap...takuuuut..."
"O-oke deh..." dan Deidara yang bahagia itu mengantarkan gadisnya pulang.
Itachi dan Shana sudah menelpon rumah supaya ada yang menjemput mereka. Sambil menunggu jemputan, mereka ngobrol sedikit.
"Trims udah nemenin seharian ini. Lebih menarik daripada baca novel di rumah," kata Itachi. Dia puas sekali menghabiskan waktu bersama Shana hari ini.
"Nggak apa. Thanks juga udah mau nraktirin makanan, minuman, sama tiketnya...kapan-kapan aku traktir kamu deh," jawab Shana. "Aku beneran nggak abis pikir, kalau kamu itu sebenarnya asyik diajak jalan tapi nggak punya teman sama sekali. Heh, coba semua orang tahu kamu tuh asyik kayak gini, pasti semuanya pengin berteman sama kamu."
Wajah Itachi bersemu merah mendengar komentar gadis itu. "Makasih..."
"I-TA-CHI-KUUUUUUNNN!!"
Itachi dan Shana menoleh, dan mereka menemukan seorang cewek melompat ke arah mereka. Terima kasih atas latihan yang ia jalani di dojo keluarganya, Shana refleks berpindah tempat supaya tidak ikut tertimpa sementara gadis itu langsung jatuh di atas Itachi. Suara jatuhnya keras banget, Shana yakin Itachi kesakitan.
"A-apa-apaan sih ini?" Itachi bangkit dan melihat siapa yang menyerangnya. "Eh...Ana-chan."
"Itachi-kuuuuuuuun...jahat, masa' ke taman bermain nggak bilang-bilang. Katanya kalau mau senang-senang pasti ngajak Ana-chan...bhuuuu, Itachi-kun bo'ong!" Ana memukul dada bidang Itachi.
"Aduh, hei, sakit, tauk!"
"Biar! Itachi-kun jahat sih!"
"Hei, aku ke sini Cuma untuk ketemu teman kok. Memang Sasuke bilang apa sih sama kamu?"
"Sasuke bilang kamu dapat kencan hari ini! Dasar jahat! Ada kencan sama cewek lain kok nggak bilang-bilang..."
Shana bingung menghadapi situasi ini. Tapi dari sudut pandangnya, cewek ini dan Itachi akrab sekali berbicara, membuktikan bahwa mereka sudah kenal lama. Dia sampai tidak takut menerjang Itachi seperti itu. Shana Cuma bisa menarik kesimpulan kalau dia itu temannya Itachi...
"Jadi, mana cewek itu?" Ana-chan bangkit dan melihat Shana terbengong-bengong di sana. "Oh, ini toh. Lumayan juga. Selera Itachi bagus banget."
Wajah Itachi berubah semerah tomat. "Bu-bukan...Shana itu bukan apa-apa..."
"Ya, aku bukan apa-apanya Itachi-kun, kok. Cuma teman sekelas," Shana tersenyum kecil. "Jadi, dia temanmu, Itachi-kun? Aku nggak tahu kamu sudah punya teman...bilang-bilang dong."
"Ah...yah...Uchiha Ana...adik sepupuku," Itachi memperkenalkan gadis itu.
"Hai! Ana-chan sepupunya Itachi-kun! Karena Ana-chan anak dari kakak ayahnya Itachi-kun, jadi Ana-chan dibolehkan memanggilnya tanpa embel-embel 'san' atau 'oniisan' atau apalah itu," Ana-chan memperkenalkan dirinya sendiri.
"Oh...salam kenal..."
"Jadi, kamu itu bukan pacarnya yah? Hmmm...padahal Itachi-kun sudah pusing mikirin penampilan buat ketemu kamu hari ini. Ternyata bukan...percuma dong. Eh, atau kalian baru jadian hari ini?"
"A-Ana-chan!"
"Shana!"
Shana menoleh dan tersenyum. "Oniisan!" serunya senang. "Ah, Itachi-kun, aku pulang dulu yah. Kamu juga akan pulang sama Ana-chan, kan? Kalau begitu aku duluan. Sampai ketemu besok di sekolah...dan siapkan lambung, soalnya kita akan membuat kue kreasi baru! Daah!"
Shana pun berlari menjauhi Itachi dan Ana-chan, menghampiri abangnya yang datang untuk menjemput memakai motor Honda Tiger. Setelah mereka pergi, Ana-chan geleng-geleng kepala dan memberi tatapan kecewa kepada sepupunya itu.
"Gadis yang baik...tapi polos. Malangnya Itachi-kun, menyukai cewek senaif dia..."
Itachi berusaha agar wajahnya tidak memerah. "Sudah kubilang, dia itu Cuma partner di festival sekolahku. Dia juga teman pertamaku di sekolah itu."
"Ya, terserah mau bilang apa. Tapi Ana-chan tahu Itachi-kun suka sama dia. Nggak usah mengelak deh, jelas banget," Ana-chan menodong. Itachi diam saja. "Dia itu tipe yang nggak akan mengerti perasaan seseorang sebelum orang itu bilang sendiri sama dia lho. Kalau kamu nggak menyatakan rasa sukamu sama dia, dia nggak akan sadar!"
"Tapi...dia Cuma menganggapku teman."
"Tenang saja! Ana-chan dan Sasuke kan suka gonta-ganti pacar. Kami ahlinya dalam hal ini! Konsultasi saja pada kami, oke? Nah, karena sudah sore, ayo kita pulang! Biar Ana-chan bisa mendiskusikan hal ini sama Sasuke dan masalahnya cepat selesai! Let's goooo!!!"
"Aku malah jadi khawatir..."
Individual Reviews:
Nakamura arigatou : Thanks!
Solaritica Chika : OC pacar Deidara kan? Yosh, sudah siap, boss!
Chaa a.k.a panda-kun : Waks, kayak dikacangin? Sori, abis Sasori kan datar...jadi paling reaksinya dikit-dikit aja...kucoba bikin lebih mesra, oke?
P. Ravenclaw : Oke...dah diganti kan namanya? Thx for da ripiu :3
Phillip William-Wammy: Mau jadi OC juga? Boleh...oh ya, sebenarnya ttg kuncir empat itu...mo nulis Temari tapi g jadi...:p Ravenclaw-san, forgive me!
Rie Mizuki: Wakz, berarti crita nya agak susah dimengerti ya? Gomen nee...tp trims as always!
