Author's Notes: Thanks for all the review guys...it meant a lot to me...-terharu- Chapter ini Phillip William-Wammy bergabung bersama yang lain. Welcome aboard! Dan slight Subaru dan Hokuto...oh ya, Kisame dan 3 anggota Hebi lainnya juga muncul...cameo sich.
Disclaimer: Masashi Kishimoto own Naruto characters, and I own this story and the OC, thank you.
Chapter 5
Itachi berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ruang kelasnya. Ia bisa melihat beberapa siswa yang ada di koridor langsung merasa gugup dan menolak untuk bertatap mata dengannya. Itu pemandangan biasa baginya. Walaupun sudah berkenalan baik dengan beberapa teman sekelasnya, rumor-rumor aneh tentang Itachi masih saja terus beredar di kalangan siswa.
"Pagi, Itachi!"
Itachi menoleh dan melihat Shana berlari-lari kecil di sebelahnya. Ia juga bisa melihat beberapa murid yang ia temui tadi melihat Shana dengan terkejut sekaligus kagum. Tapi keduanya cuek saja, karena memang begitulah apa adanya.
"Kemarin terima kasih ya. Hari ini kamu beli roti melon lagi kan? Kutraktir deh, sekalian bayar hutang budi," Shana tersenyum riang.
"Makasih...tapi nggak usah repot-repot," Itachi membalas senyumannya.
Saat itulah, semua siswi yang melihat senyuman Itachi mematung. Setelah keduanya hilang dari pandangan, mereka tersadar dan langsung ribut.
"Omaigod! Cakep banget tuh cowok!"
"Eh, itu bukannya Uchiha Itachi yang katanya serem itu?"
"Nggak mungkin! Senyumnya tadi baik banget, nggak kerasa jahat!"
"Sorot matanya juga...kyaaa, keren banget deh!"
"Tapi, yang jalan sama dia tadi...jangan-jangan pacarnya?"
"Waaaaah...sayang banget..."
Sementara itu, di kelas 2-1, Itachi dan Shana sedang mengobrol seperti biasa—membicarakan tentang festival yang akan dilaksanakan besok. Hidan, Deidara, Chika, Noriko-chan dan Zooi melihat mereka dari jauh.
"Buset dah, kayaknya kalau mereka lagi ngobrol itu nggak ada yang bisa ganggu deh...kayaknya, mereka tuh ada di dunia mereka sendiri!" Zooi geleng-geleng kepala.
"Berarti siasat kencan kemarin sukses besar dong," Hidan nyengir puas.
"Belum tentu lho. Mereka nggak kayak pasangan sungguhan. Mungkin Itachi belum nembak?" tebak Noriko-chan.
"Memang belum."
Keempatnya menoleh dan menemukan Ana-chan ada di sana. Spontan semuanya kaget melihat anak tak dikenal itu ada di kelas mereka.
"S-siapa kamu?" Deidara kaget.
"Tidak penting," sahut Ana-chan tegas. "Itachi-kun belum nembak. Dia masih takut...kalau dia ditolak, takutnya dia tak berteman dengan Shana lagi."
"Hoo..." Chika mengangguk mengerti. "Tapi kan ada kita...kita udah nggak takut sama dia lagi kok."
Tiba-tiba, Sasori dan Panda-chan menyeruak masuk ke dalam kelas dan langsung menutup pintu kelas. Semuanya bengong, kaget dengan tingkah laku keduanya. Sasori lalu berlari ke pintu belakang kelas dan menutupnya juga, membuat semua orang tambah bingung. Itachi dan Shana sampai berhenti mengobrol.
"Kalian kenapa?" tanya Shana, bingung.
"Tadi...entah kenapa kami dikejar-kejar cewek-cewek," jelas Panda-chan.
"Palingan fans-nya Sasori..." Deidara mengibaskan tangannya, cuek.
"Bukan...tadi kami ditanya, apa kami sekelas dengan Uchiha-kun, lalu kujawab ya, tiba-tiba mereka menghujani kami segudang pertanyaan...ya sudah, kami lari sampai ke sini," Sasori menerangkan.
"Hah? Memang kenapa mereka nanyain tentang Uchiha-kun?" Noriko-chan bingung.
"Ya pasti karena Itachi-kun populer lha!" sorak Ana-chan.
"Lho, Ana-chan? Ngapain kamu di sini?" Itachi kaget, menyadari kehadiran adik sepupunya di sana.
"Kelas Ana-chan sudah selesai persiapannya. Jadi dibolehin main-main..."
"Tunggu...Itachi-kun tidak sepopuler itu lho, sampai bikin semua cewek histeris. Palingan mereka semua langsung diam, trus kabur kalau ngeliat Uchiha-kun lewat," kata Deidara.
"Oh aku tahu! Mereka tadi ngeliat Uchiha-kun senyum, mungkin? Makanya jadi seperti itu..." duga Zooi.
"Oh, jadi mereka suka senyumnya Itachi-kun? Wah, sama dong!" Shana tertawa. "Memang sih, senyumnya Itachi-kun itu salah satu charming pointnya!"
Wajah Itachi spontan memerah mendengar pujian itu. Memangnya senyumnya sebagus itu ya? Ya, bagi beberapa orang, Shana misalnya, mungkin akan menilai senyumnya sangat rupawan, tapi bagi beberapa orang lain, contohnya Panda-chan atau Noriko-chan, senyumnya biasa saja.
"Itu bagus, kan, Itachi-kun? Kenapa tidak kau sapa saja mereka?" tawar Shana, membuat semuanya heran. "Kan impianmu itu punya teman yang banyak. Ini kesempatan yang bagus! Dan...siapa tahu kamu bertemu gadis yang kamu sukai! Hebat kan?"
Semuanya melongo. Ana-chan tertawa terbahak-bahak. Shana sendiri heran kenapa reaksi semuanya seperti kaget begitu. Chika, Noriko-chan, Panda-chan dan Zooi geleng-geleng kepala pasrah. Deidara, Hidan dan Sasori menghampiri Itachi dan menepuk pundaknya.
"Tuh kan," Ana-chan menghentikan tawanya dengan susah payah, "Aku bilang juga apa."
"Malangnya Uchiha-kun..." Chika turut perhatin.
"Berusahalah sobat...masih ada harapan..." hibur Hidan, sok dramatis.
"Hah? Kok kalian nggak ikut senang sih? Kalian harusnya membantu Itachi-kun dapat teman dong! Kasihan dia, selama ini jarang ngobrol dengan 'sesama'-nya!" omel Shana.
"Sudah deh...belnya sudah bunyi tuh," Sasori menginterupsi, karena memang bel masuk sudah berbunyi dan murid-murid segera memasuki ruang kelas. "Hari ini tinggal menyiapkan kue untuk besok dan menyelesaikan dekorasi meja dan kursinya..."
"Suruh anak cewek bantuin ngejahit taplak dong!" usul Deidara.
"Kalau begitu aku! Aku! Aku mau tinggal buat bantuin jahit!" sorak Chika.
"Aku juga mau," Zooi mengacungkan tangan.
"Kalau Zooi tinggal, aku juga tinggal deh!" salah satu gadis yang seharusnya ikut memasak mengacungkan tangan juga. Namanya Wammy.
"Ana-chan boleh bantu?" tanya Ana-chan antusias.
"Boleh, asal kamu nggak mengacau di sini," kata Itachi.
"Kalau begitu, keempat cewek ini tinggal untuk membantu di kelas, sementara yang lain memasak di ruang PKK...oh ya, tolong cepat, soalnya kelas lain ada yang mau pakai juga..." tegas Sasori.
"Siap bos!" sahut Noriko-chan.
"Sasori-ku~n nanti kalau udah selesai kita jalan-jalan ngeliat kelas lain, oke?" Panda-chan mengecup sebelah pipi Sasori, sukses membuat wajah pemuda satu itu menyatu dengan warna rambutnya.
"Dah, Itachi-kun!" Shana melambai pada partner-nya itu dan pergi bersama siswi lainnya ke ruang PKK. Dimulailah persiapan terakhir untuk acara festival besok.
Saat Itachi selesai memberi komando kepada semuanya, ia berjalan berkeliling, memperhatikan pekerjaan masing-masing siswa. Ia berhenti saat Ana-chan dan gadis-gadis lainnya terkikik melihatnya lewat. Ia berbalik dan mengangkat sebelah alisnya. "Ada yang lucu, gadis-gadis?"
"Ada! Kenyataan bahwa kamu tidak bisa memilih busana yang bagus untuk kencan kemarin!" jawab Ana-chan pede.
"Haha! Uchiha-kun benar-benar suka sama Shana, ya?" Wammy tertawa. Tanpa sadar jarinya tertusuk jarum. "Aduh! Ouch..."
Itachi merasa pipinya memerah. "Memang kenapa? Nggak boleh?"
"Nggak sih...kalau memang Uchiha-kun suka, kenapa nggak nembak aja?" tawar Zooi, memberikan plester kepada Wammy yang duduk di sebelahnya.
"Kalian tahu sendiri kalau dia Cuma menganggapku sebagai teman biasa."
"Tidak juga...selama ini tak ada satupun cowok yang ia ajak bicara sambil tertawa selebar itu. Kalau soal Dei-kun dan Hidan-kun siiih...lain soal. Mereka berdua itu Cuma sasaran kekesalannya saja, sekaligus partner kalau mau cari ribut di kelas," terang Chika sambil terus menjahit pola di kain itu.
"Ana-chan cerita pada kami pendapatnya tentang Shana, dan dia benar: Shana nggak akan sadar tentang perasaan seseorang kecuali orang itu bilang sendiri padanya. Dia itu nggak peka," tambah Wammy.
"Trus aku harus gimana? Aku ini nggak bisa dengan gamblang bilang 'suka' sama seseorang," rutuk Itachi, kesal.
"Hmmm...kalau dipikir-pikir, benar juga! Bahkan bilang 'sayang' sama Sasuke aja susahnya minta ampun," Ana-chan tertawa, disusul tawa gadis-gadis lainnya.
"Ngomong apa kalian di sini? Kerjaannya gimana?" tanya Sasori.
Keempatnya menunjukkan taplak hasil jahitan mereka. Sasori shock. "Cepatnya...bagus pula."
"Siapa dulu dong...kita gitu lho," Zooi mulai narsis.
"Dei-kun!! Puji dong!" pinta Chika manja.
"Hah? Muji apaan?" Deidara menoleh. Langsung saja palunya memukul jempolnya, bukan memukul paku. Bukannya memuji pekerjaan Chika, cowok itu menjerit kesakitan. Parahnya, Hidan dan semua cowok yang melihat kejadian itu tertawa tanpa ampun, bahkan Itachi ikut-ikutan tertawa. "Whops, sori..." sang kekasih nyengir bersalah.
"Lagi ngomongin apa sih?" tanya Deidara, yang mencoba menduduki kursi yang sudah selesai ia paku.
"Ini nih, mikirin cara supaya Shana sadar akan dan membalas cinta Uchiha-kun!" sahut Wammy.
"Tembak aja langsung, apa susahnya sih?"
"Nggak segampang itu," keluh Itachi. Ia melirik Chika, yang buru-buru menghampiri Deidara dan meniup jempol cowok itu. Maksudnya supaya mendingan. "Kalian berdua...awalnya gimana, sampai bisa jadian?"
"Gampang! Aku manggil Dei-kun ke halaman belakang trus kucium! Pas aku menyatakan cinta, langsung diterima!" jelas Chika, singkat, padat dan jelas. "Eh, kamu coba aja trikku tadi, Uchiha-kun! Siapa tahu berhasil!"
"Mana mungkin Uchiha-kun sudi melakukan hal begitu! Lagian, kalau dia beneran melakukan hal macam itu, ada juga Shana ngehajar dia sampe mampus!" hardik Zooi.
"Kalau kamu?" Itachi menatap sang ketua kelas.
"Hmm...waktu itu dia memanggilku ke kelas kosong dan menyatakan cinta padaku. Karena aku pikir, 'anak ini tulus banget', jadi kuterima," sahut Sasori, simpel.
"Ya, semoga Shana nggak kabur dan menjauhi Uchiha-kun setelah ia menyatakan cintanya secara lugas seperti itu," ledek Wammy, langsung dipelototi Sasori. "Ehm...kalau Ana-chan? Katanya udah berpengalaman?" tanya gadis itu, berusaha mengalihkan topik.
"Biasanya cowok-cowok yang nembak Ana-chan bawa bunga, cokelat atau hadiah gitu deh...sok romantis dan sok lucu. Ana-chan suka aja ngeliat mereka bertingkah konyol begitu demi Ana-chan. Dan lagi, mereka bisa jadi pembantu yang baik, jadi yah...why not?" dengan ringannya Ana-chan menjelaskan.
Ya ampyun, ini sih playgirl cap jempolan, pikir semua orang secara bersamaan.
"Kalau adikmu gimana? Dia juga lumayan sering gonta-ganti cewek kan, Uchiha-kun?" tanya Deidara.
Itachi berpikir. "Kalau Sasuke sih...bilang 'pacaran sama aku, yuk' juga sudah menyelesaikan masalah. Pokok permasalahannya saat ini aku tidak bisa menyatakan cintaku kepada Shana dengan jelas..."
Semuanya jadi ikut berpikir. Sasorilah yang paling pertama dapat ide. "Bagaimana kalau buat dia suka padamu juga? Dengan begitu, resiko ditolak menjadi sangat kecil dan hampir tak mungkin. Kamu juga lebih mudah menyatakan cintamu."
"Dan bagaimana caranya membuat Shana suka pada Itachi, jenius?" tanya Zooi, setengah meledek.
"Itu gampang," Sasori meraih ponselnya dan memencet nomor telepon seseorang.
Di ruang PKK, para gadis sibuk memanggang dan menghiasi kue. Shana, sebagai mandor, mondar-mandir memberi komando ini-itu. Tiba-tiba, ponsel Panda-chan berbunyi. Ia segera melepas sarung tangan pangangannya dan meraih ponsel di sakunya. Dari Sasori.
"Halo, Panda-chan?"
"Ya, Sasori-kun? Bentar lagi selesai kok. Cuma 10 kue lagi yang belum dihiasin..."
"Bukan...bukan itu. Dengar, aku mau minta tolong sesuatu..."
"Hah? ...Oh...oh ya? Hmm...ho-oh. Ya, ya. Aku ngerti....beres! Nanti imbalannya kencan di festival besok yah? Ya ya? Oke deh, bye..."
Panda-chan mematikan ponselnya dan tersenyum girang. Shana-chan dan Noriko-chan memandanginya heran.
"Sasori-kun bilang apa?" tanya Shana, penasaran.
"Ada deh!" Panda-chan kembali menghias kue.
Shana mengangkat bahu dan kembali mengawasi pekerjaan yang lainnya. Panda-chan masih senyam-senyum sendiri. Noriko-chan, yang bekerja di sebelahnya, menghampiri dan bertanya, "Kenapa? Ada rencana baru?"
Panda-chan mengangguk. Ia segera membisikan rencana yang ia terima dari kekasihnya. Noriko-chan pun ikut tersenyum usil dan mengangguk tanda mengerti. Setelah keduanya selesai menghiasi kue bagian mereka, mereka melepas celemek dan duduk, membiarkan Shana menilai kue hasil hiasan mereka.
"Bagus. Kalau begitu, kita simpan di box supaya besok siap," katanya.
"Ehmm...eh, Shana...kamu beneran Cuma pengin Uchiha-kun dapat teman?" tanya Noriko-chan tiba-tiba.
Shana mengangkat sebelah alisnya. "Ya. Memang kenapa?"
"Maksudku...dulu kan senyumannya itu Cuma kamu yang bisa lihat. Kamu nggak takut, kalau dia punya teman banyak, kamu nggak bisa melihat senyumannya itu? Kamu suka kan, charming pointnya itu?" tambah Panda-chan.
Shana terdiam. Ucapan mereka berdua sepertinya masuk ke dalam benaknya. "Uhmm...aku tidak tahu. Tapi aku lebih suka kalau dia lebih sering tersenyum. Sayang kan, kalau senyum seindah itu jarang ditunjukkan ke orang-orang?"
"Iya sih...eh, kalian Cuma jadi partner sampai festival besok kan? Berarti nggak usah berteman lagi dong...lagian, 'misi mendapatkan teman untuk Itachi Uchiha'-mu sudah selesai."
"Aku...tidak...tahu," kata Shana terbata-bata. "Jujur saja, aku ingin melihat senyumnya itu lebih sering. Tapi...kalau Itachi-kun tidak ingin bersamaku lagi...apa boleh buat. Aku harus mendukungnya, sebagai teman."
"Iya, tapi--"
"Sumeragi-san! Tolong cek anmitsu dan castella ini dong!" salah satu siswi yang sudah selesai menghias memanggil Shana.
"Ya, tunggu!" sahut Shana. Ia menoleh ke arah Panda-chan dan Noriko-chan sebelum berjalan ke arah siswi itu. "Tolong masukkan box, ya. Kalau sudah, kalian boleh kembali ke kelas, lalu kalian bebas."
Keduanya ditinggal bengong. Panda-chan garuk-garuk kepala. "Wuiets, gagal. Gimana nich?"
"Ah! Aku ada ide! Coba telepon Sasori-kun, terus..." Noriko-chan membisikkan rencanya. Keduanya tersenyum nakal dan Panda-chan langsung menelpon Sasori, menyampaikan ide brilian itu.
Akhirnya, persiapan kelas 2-1 selesai lebih cepat daripada yang lain: jam 10. Setelah semua masakan dimasukkan ke box, para gadis itu menggotong box itu bersama-sama ke kelas, supaya besok lebih mudah mengambilnya. Saat mereka tiba di kelas, ruangan itu sudah didekorasi dengan indah dan bernuansa girly. Sasori segera melapor ke ruang OSIS, tak lupa Panda-chan ikut bersamanya. Deidara dan Chika sudah daritadi ngeloyor jalan-jalan. Noriko-chan langsung lari ke gedung SMP, mau ngobrol sama Gaara.
"Eh, Ana-chan...Itachi-kun mana?" tanya Shana, menyadari bahwa pemuda berambut hitam itu tak kelihatan batang hidungnya di dalam ruang kelas itu.
"Tadi sih katanya mau ke toilet," sahut Ana-chan, menyunggingkan senyum palsu.
"Hmm...padahal aku mau ajak lihat-lihat persiapan kelas lain...kucari dulu ah."
Shana pergi dari ruang kelas. Ana-chan, Zooi, dan Hidan nyengir bersama. Zooi langsung memencet tombol ponselnya untuk menelpon seseorang. "Hallo? Wammy? Rencana bisa dilaksanakan sekarang. Siap-siap."
Shana berlari sepanjang koridor di lantai dua. Daritadi ia belum menemukan Itachi. Aneh. Toilet ada di setiap lantai, kok nggak ketemu juga ya? Masa' dia ke lantai lain buat pergi buang air? Repot amat...
Shana pun bergegas berjalan ke arah anak tangga menuju lantai tiga. Wammy dan Itachi bisa melihat rambut hitamnya dan suara langkah kakinya yang terburu-buru. Keduanya mengangguk. Aksi dimulai.
Saat Shana mendongak ke atas, gadis itu melihat Wammy dan Itachi berjalan akan menuruni tangga. Shana melambaikan tangan, memanggil mereka. Wammy balas melambai. Saat itulah, kakinya terpeleset di anak tangga. Shana kaget dan spontan berteriak, "Awas!"
Namun, sebelum Wammy jatuh dari tangga, Itachi dengan sigap menangkap dan mendorong gadis itu ke belakang, membuat keduanya jatuh bersamaan ke lantai keras itu. Shana bengong. Tapi setelah sadar apa yang terjadi, ia segera naik ke atas untuk melihat keadaan mereka berdua, dan ia melihat Wammy menimpa Itachi.
"Aduh...Uchiha-kun, kamu tidak apa-apa?" tanya Wammy, mencoba bangkit dari posisinya.
"Ng...nggak apa," sahut Itachi.
Tapi belum sempat Wammy berdiri, ia sudah jatuh menimpa Itachi lagi. Shana bengong, melihat keduany sedang ada dalam...posisi begitu (taulah posisinya gimana...). Setelah terdiam agak lama, Wammy mengernyit kesakitan sambil memegang mata kakinya. "Adaow...kayaknya terkilir nich..."
"Kalau begitu, ke UKS aja ya?" tawar Itachi baik hati.
"Thanks..."
Itachi membantu Wammy berdiri dengan tertatih-tatih. Shana diam saja. Penasaran karena tak ada reaksi dari gadis itu, Itachi menoleh dan bertanya, "Mau ikut, Shan?"
"Apa?" Shana kaget. "Oh um, nggak deh. Aku mau...ngeliat kelas-kelas senior, persiapannya kayak apa. Kamu aja yang nganterin Wammy ke UKS. Oke, bye!" dan ia langsung kabur.
Setelah yakin bahwa Shana telah pergi meninggalkan daerah sekitar situ, Wammy berdiri tegak dan berkacak pinggang. "Sepertinya taktik berhasil," katanya, tersenyum puas.
"Kau pikir begitu?" tanya Itachi, ragu. "Aku rasa dia hanya kebetulan ada di sana."
"Kau tidak lihat ekspresinya? Dia kelihatan benar-benar cemburu."
"Benarkah?"
"Ya. Pasti sekarang dia sedang kabur ke tempat kakak-kakaknya, menangis pada mereka dan..." Wammy terdiam. Sesaat kemudian, matanya membelalak lebar dan mulutnya menganga, seperti melihat hantu. "Gawat!"
"Apanya yang gawat?"
"Kalau dia bilang sama kakak-kakaknya itu...GAWAT!"
Wammy langsung menuruni tangga, berlari ke arah ruang kelas 2-1 diikuti Itachi yang heran. Di sana, mereka menemukan Sasori dan Panda-chan yang sudah kembali tengah membicarakan siasat tadi. Mereka heran kenapa Wammy terlihat pucat dan Itachi terlihat bingung.
"Kenapa?" tanya Hidan.
"Shana...Shana pasti lagi laporan sama kakak-kakaknya!" Wammy mengabari, membuatnya semuanya shock.
"Omaigod, kita lupa memperhitungkan kemungkinan itu!" Zooi menepuk jidat.
"Memangnya kenapa sih?" tanya Itachi.
"Kalau kakak-kakaknya Shana yang overprotektif itu tahu kalau adik kesayangan mereka dibuat sedih, bisa tamat kita!" jelas Panda-chan buru-buru.
"...Hah?"
Kelas 3-1 menyiapkan rumah hantu. Beberapa siswanya tengah mencoba kostum masing-masing. Ada drakula, ada mumi, ada kepala labu...pokoknya macam-macam. Tampak juga hantu berkepala dua berbadan satu. Mukanya juga mirip satu sama lain. Ya, siapa lagi kalau bukan si kembar Subaru dan Hokuto Sumeragi. Keduanya didandani seperti itu, tapi pada akhirnya penampilan mereka lebih mirip hantu yang kiyut daripada hantu yang seram.
"Bagaimana kalau kalian bagi-bagi selebaran saja?" tawar Kisame, salah satu murid kelas 3-1. Ia mencoba kostum manusia hiu.
"Ogah. Nanti bukannya datang ke kelas ini, mereka malah ngerubungin aku," tolak Subaru.
"Susah sih ya, punya muka cakep," ledek Karin, siswi yang berkostum kuntilanak.
"Ah, bisa saja," Hokuto malah berbagia mendengar pujian macam itu.
Tiba-tiba, pintu terbuka dan muncullah seorang gadis. Semuanya kaget. "Ya ampun! Ada hantu Hanako!" Juugo, murid berpakaian ala dewa kematian, menunjuk gadis yang muncul itu.
"Heh, mana ada hantu muncul siang bolong dari koridor yang rame gitu?" hardik Suigetsu, siswa yang tanpa make-up sudah mirip drakula.
"Ng? Tunggu dulu...!" Hokuto melihat si 'Hanako' baik-baik. Ia langsung kaget begitu menyadari siapa si hantu itu. "Shana-chan!?"
Shana mengangkat wajahnya yang seperti mau menangis begitu. "Oneesan, Oniisan..." ia memanggil lirih.
Subaru, insting kakaknya langsung aktif, segera menghampiri adiknya sambil setengah menyeret Hokuto—karena kostum mereka tersambung. "Kamu kenapa, Shana? Siapa yang bikin kamu nangis? Bilang sama aku, nanti biar kubuat dia menyesal sudah macam-macam sama kamu!"
"Subaru, nggak usah sesadis itu kali!" Hokuto mencubit Subaru dari dalam jubah itu, membuat sang adik kembar mengernyit kesakitan. "Shana-chan kenapa? Ayo bilang sama Oneesan, ya?"
Shana mengangguk dan masuk ke dalam kelas. Pintu kelas ditutup demi kepentingan privasi. Dari balik tembok persimpangan di koridor itu, Itachi dan yang lainnya mengintip kejadian tadi. Semuanya menelan ludah.
"Gawat...sudah nggak bisa dicegah," Sasori menepuk jidat.
"Itachi-kun, lebih baik kamu segera pulang dan besok nggak usah datang ke sekolah," usul Zooi.
"Kenapa? Itu Cuma amukan seorang kakak," Itachi heran.
"Believe me, kamu nggak akan mau berurusan dengan Subaru-san," Hidan merinding. "Pernah sekali aku mengusili Shana, pas saja dia lewat. Tiba-tiba aku dipelototi dan ditanya nama. Lalu sejak hari itu sampai sebulan setelahnya, badanku sakit semua setiap malam karena dikutuk olehnya..."
"Aku menolak. Aku belum menjelaskan apa yang terjadi pada Shana."
Wammy menoleh dan tersenyum usil. "Jadi, pada akhirnya kamu mau nembak Shana, nih?"
"Ya."
"Meskipun ada resiko kamu mati di tangan kakak-kakanya itu?" tanya Panda-chan, menguji.
Itachi mengangguk yakin. "Aku sudah membulatkan tekad...aku akan menyatakan cintaku pada Shana. Tak perlu cara pengecut seperti ini lagi."
Semuanya salut pada semangat Itachi. Mereka jadi ingin menolong prosesi pernyataan cinta ini, sekaligus menebus kesalahan mereka tadi.
"Kalau begitu...kurasa aku punya rencana bagus," Sasori tersenyum. Dan jika ia tersenyum seperti itu, mereka tahu rencananya akan berhasil. Yah, meskipun kadang gagal juga sih.
Individual Reviews:
P. Ravenclaw : Iya nih...kapan Itachi pacaran? Tunggu chapter depan! –ketawa gaje-
Phillip William-Wammy: Yap. Wammy muncul...walau rasanya perannya agak tidak mengenakkan...gomen kalo nggak enak hati...
Uchiha Kanata'ana-cHan: Tenang aja! Muncul lagi kok...
Solaritica Chika & Rie Mizuki: Ehehe...thanks as always.
