Can I See That Smile ?
Disclaimer : Tite Kubo punya Bleach, Riztichimaru punya fict ini.
Pairing : K. Ichigo x K. Rukia
Genre : Romance 40% Friendship 40% Humor 20%
Noto : Kata-kata yang di bold adalah kata-kata dalam hati/batin atau penekanan kata tertentu.
Gomen, kalau bahasa dan tanda bacanya masih ancur vs aneh dan tidak ketinggalan tambah 'membosankan'.
Chapter ini sudah memasuki chapter-chapter terakhir jadi sudah tambah 'sok' romance, humornya dikit banget.
Arigatou yang sudah mereview Fict-nya Author Rizt.
Gomenasai ne! Yang tidak suka baca ini, harap tidak usah di baca. Gak apa-apa... Author paham kok…
Tolong di review ya !
Review apapun author terima, apalagi kue keranjang. He.. he.. he…
Domo arigatou :)
Chapter 15
"BYE RUKIA, BYE ICHIGO"
Pagi itu Rukia rasanya malas pergi ke kantor tempatnya bekerja, rasanya capek sekali di depan komputer setiap hari mengerjakan setumpuk paperwork yang menggunung. Akhirnya Rukia melangkahkan kakinya juga menuju tempat kerjanya dan sampai di halte bus mahasiswa Karakura university. Rukia melihat cowok yang sudah lama tidak dilihatnya dan sangat tidak asing dipikirannnya. Ya, itu Ichigo. Rukia melihat Ichigo duduk sendirian menunggu bus sambil membaca majalah bola favoritnya, Rukia juga sedang akan berangkat ke kantornya dan biasaanya dia juga menunggu bus di halte yang sama dengan Ichigo tetapi berbeda tujuan dan arahnya lagipula Rukia biasanya berangkat lebih pagi dari Ichigo jadi tidak pernah bertemu. Baru kali ini mereka bertemu di halte yang sama itu.
"Hei kepala jeruk!" sapa Rukia, mahasiswa-mahasiswa yang duduk di dekat Ichigo menoleh kearah Ichigo dan menatapnya heran.
"Hei! Mau berangkat kerja ya? Sudah lama gak ketemu," jawab Ichigo sambil tersenyum. Hati Rukia berdetak, melihat senyum Ichigo, tidak mungkin pikirnya. Tidak mungkin dia menyukai Ichigo, tidak mungkin ia merindukan senyuman cowok bermata coklat dan berambut aneh itu pikirnya lagi.
"Eh iya ya, lama ya gak ketemu," jawab Rukia lalu mendekati Ichigo dan duduk disebelahnya.
"Jeruk kelihatannya kamu tambah keren aja sekarang, maksudnya rambutmu. He… he…" ledek Rukia sambil tertawa kecil, Ichigo hanya tersenyum. Rukia dan Ichigo saling bertanya dan bercerita tentang kejadian lucu waktu mereka masih SMA dulu. Lalu ada dua orang teman Ichigo yang datang dan segera duduk di sebelah Ichigo setelah menyapanya.
"O ya Ichigo, kamu kan tadi katanya sudah tambah keren, sudah ada pengganti si Senna belum?" tanya Rukia dengan ekspresi datar sambil tersenyum pada Ichigo.
"Wah… belum ada, gak ada yang mau sama aku," jawab Ichigo.
"Ah masa sih… kan disini banyak cewek-cewek cuantikk gak mungkin gak ada yang gak suka sama kamu?" tanya Rukia heran tapi terlihat meledek Ichigo.
"Gak ada, kamu juga *** sama aku kan? padahal aku *** kamu," ucap Ichigo pelan dan hampir tidak terdengar di telinga Rukia dan juga bersamaan dengan kata-kata yang diucapkan Ichigo tadi temannya berteriak sangat kencang didekat Ichigo dan Rukia, nyaris mereka menutup terlinga.
"Hei Ichigo! Busnya sudah datang ayo cepat-cepat nanti ketinggalan. Ayo cepetan!!" teriak teman Ichigo -Keigo- dan dengan sukses memecahkan gendang telinga orang yang ada didekatnya. Rukia memaksa Ichigo mengulangi kata-katanya tadi, tapi Ichigo menolaknya.
"O ya, aku akan berangkat ke Soul Sosiety dua bulan lagi kalau aku berhasil diterima di Seiretei University," ucap Rukia pada Ichigo.
"Oh, gitu ya… telpon aku kalau kamu jadi perginya. Janji?" jawab Ichigo.
"Oke! Oh iya, aku lupa aku sudah terlambat masuk kerja ni. Jeruk, ja ne!" Rukia berpamitan pada Ichigo pergi menjauh tanpa menoleh lagi pada Ichigo.
"Hati-hati Rukia!" seru Ichigo yang tidak diperhatikan lagi oleh Rukia karena dia berlari-lari kearah bus karyawan tempatnya bekerja dengan kecepatan Casey Stoner. Tinggalah Ichigo yang hanya bisa memandangi punggung Rukia sambil tersenyum kecil walaupun ada kerutan di dahinya.
Enam bulan kemudian…………
Semua itu berlalu dan sekarang Rukia sudah ada di Kota Soul Society, dia sudah masuk kuliah di Seiretei University jurusan Psikologi. Rukia menatap buku-buku kuliah dan sketsa-sketsa lukisannya yang ada di meja di depannya dan teringat sesuatu.
Rukia's POV
Sekarang tepat enam bulan setelah terakhir kali aku bertemu si kepala jeruk itu di halte bus dekat photo copy milik pak Urahara itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Aku tahu bahwa aku melupakan satu janji padanya Ichigo. Yah… janji untuk menelponnya ketika aku akan berangkat ke Soul society ini.
Tapi janji itu tidak kulakukan karena aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal padanya, akan merasa aneh jika harus mengucapkan selamat tinggal padanya –pada orang yang mengajari aku satu perasaan yang sebelumnya belum aku tahu atau tidak ingin aku ketahui-. Tidak ingin mengucapkan selamat tinggal pada sahabat bertengkarku itu.
Aku hanya menitipkan sebuah benda kecil yang dibungkus kotak berwarna coklat tua sebagai kenangan-kenangan persahabatan kami bukan karena maksud lain. Aku menitipkan benda itu pada Tatsuki sahabat kami, yang datang satu hari sebelum keberangkatannku ke Soul Society.
Flash back
"Rukia… kamu jadi pergi besok siang," tanya Tatsuki sambil membantuku mengemasi barang-barang yang akan aku bawa ke Soul Society.
"Ya, aku sudah memesan tiketnya, aku berangkat jam 2 siang besok," jawabku.
"Kamu gak mau ketemu Ichigo dulu sebelum kamu pergi atau minimal kamu menelponnya lah," tanya Tatsuki lagi. Aku terdiam dan menghela napas.
"Ah… gak usah, aku tidak mau meyulitkannya," jawabku sambil membuka laci meja belajarku dan menyerahkan dua kotak kecil berwarna colklat kepada Tatsuki.
"Ini apa?" tanyanya heran.
"Oh… itu Cuma kenang-kenangan kecil dariku sebagai tanda persahabatan kita," jawabku singkat.
"Untukku atau untuk Ichigo?" tanyanya, aku tersenyum melihat rasa penasaran muncul di wajahnya yang putih bersih dengan rambut pendeknya yang sangat indah.
"Untuk kalian berdua, ada namanya kok," ujarku sambil memperlihatkan padanya nama-nama yang tertulis dibungkus kotak itu.
"O ya, makasih untuk semua hal selama ini di SMA Karakura, sampaikan juga sama Momo, Isane dan yang lainnya," ucapku lagi.
"Oke! O ya Rukia, kamu beneran gak mau nelpon si kepala jeruk itu?" ledeknya padaku.
"Ah kamu ini… gak usah lah, kalo kamu ketemu dia tolong berikan kotak itu dan bilang juga sama si kepala jeruk itu terimakasih dan maaf kalo selama ini aku sering membuatnya kesal, sorry juga aku gak jadi menelponnya," jawabku datar padanya.
"Oke kalau begitu, oh ya… aku juga terima kasih karena kamu juga sudah mau jadi teman kami dan maaf juga karena kami sering meledekmu," jawabnya dengan nada sedih.
"Oh ya, ada satu rahasia lagi yang sebenarnya gak boleh dikasih tahu ke kamu, tapi aku merasa bersalah jika gak ngasih tahu ini ke kamu," ucapnya pelan.
"Apa lagi rahasianya? Bukannya kalian sudah terlalu banyak merahasiakan sesuatu tentang dariku" sindirku padanya, Tatsuki tertawa.
"Iya Iya… gomen ne? Sebenarnya kamu gak tau kan kenapa kamu tiba-tiba digossipkan sama Ichigo," tanyanya.
"Gak, aku gak tahu. Tiba-tiba aja gossip itu sudah menyebar kayak virus di kelas kita," jawabku sambil tertawa.
"Gomen ne, sebenarnya yang ngerencanain nyebarin gossip itu ke kelas kita siapa lagi kalo bukan aku dan si Renji juga Ikkaku. Tapi si Ichigo juga gak tau tentang rencana ini, dia gak ada hubungannya sama sekali," jawabnya polos.
"APAAA??? Oh… jadi benar pemikiranku selama ini, kalian berbertiga biang keladinya ya? Tapi gak apa, kamu sama Renji juga akhirnya digossipkan sampe-sampe Aizen-sensei dan Unohana-sensei tau iya kan?" ledekku padanya. Tatsuki jadi malu lalu tertawa dan akupun ikut tertawa.
End flashback.
Sebenarnya aku ingin meraihnya, tapi tidak usah saja, lebih baik pergi. Gak ada lagi yang perlu aku tunggu di kota Karakura.
"Hei, Kuchiki ayo ke masuk kelas!" panggil teman-temanku –Higurasiyasha , Kudo Ran dan Kira Yagami- sambil melambaikan tangan mereka ke arahku.
"Oke!" seruku. Aku berlari kearah teman-teman kuliahku yang dari tadi memperhatikanku duduk melamun di taman Kampusku, kampus Seiretei.
Bye Ichigo…
End of Rukia's POV
Ichigo's POV
Sebenarnya aku ingin mengulangi kata-kataku pada Rukia, saat di halte bus kampusku beberapa bulan yang lalu. Tapi kenapa aku jadi tidak berani mengatakannya. Walaupun dia memaksaku untuk mengulangi kata-kata itu, tetapi aku tetap menolaknya sampai dia meyerah dan tidak memaksaku lagi.
Lima bulan setelah itu, aku bertemu dengan Tatsuki. Dia memberikan sebuah kotak kecil berwarna coklat, katanya dari Rukia .
"Itu dari Rukia, katanya kenang-kenangan persahabatan. O ya Ichigo, dia juga bilang terimakasih dan maaf kalo selama ini dia sering ngebuat kamu kesal. Satu lagi sorry juga katanya dia gak jadi nelpon kamu waktu dia mau berangkat, aku juga gak tahu kenapa." Tatsuki menjelaskannya panjang lebar padaku.
"Eh… Ichigo buka dong, isinya apaan ya?" lanjutnya penasaran.
"Oke sabar, biasa aja kalee!" ujarku. Lalu kubuka kotak kecil itu, aku menemukan sebuah gantungan kunci di dalamnya berupa Action Figure Captain Tsubasa dengan pose ganbatte.
Aku tidak mengerti kenapa dia tidak jadi menelponku, padahal aku sangat ingin bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya karena aku tahu mungkin dia tidak akan pernah kembali lagi.
Rukia pergi? Apa alasannya? Mengapa tidak berpamitan padaku? Bisakah kamu tetap tinggal disini bersamaku. Ah… sudahlah, lagi pula aku juga tidak tahu apa dia suka atau tidak padaku. Aku juga tidak tahu apa aku suka apa tidak dengan dia, sekarang aku juga sudah punya pacar lagi.
"Ichigo!!! Tendang kesini bolanya, jangan ngelamun terus," teriak si pendek berambut putih dan si kurus kering berambut silver plus senyum "kramnya" itu.
"Oke… oke!" Lalu kutendang bola itu sampai tepat masuk ke gawang, sementara si kipper –Ikkaku- sedang tidur di sisi tiang gawang dengan kepalanya yang mengkilat terkena sinar matahari di lapangan football Karakura University.
Bye Rukia…
End of Ichigo's POV
…To be Continued…
Noto : kalo ceritanya jadi gak enak karena alurnya yg kecepatan maaf ya...
arigatou
