Can I See That Smile ?

Disclaimer : Tite Kubo punya Bleach, Riztichimaru punya fict ini.

Pairing : K. Ichigo x K. Rukia

Genre : Romance 40% Friendship 40% Humor 20%

Noto : Kata-kata yang di bold adalah kata-kata dalam hati/batin atau penekanan kata tertentu.

Chapter ini adalah chapter terakhir dari fict buatan author 'aneh' ini dan ada bonus chapter khusus buat interview all stars yang berperan di fict ini.

Gomen kalau masih banyak typo, alur ceritanya ancur, tidak enak di baca dan mungkin terkesan lebay.

Arigatou yang sudah RnR dan dengan setia atau terpaksa membacanya walaupun author rasa fict ini sangat panjang dengan Seventeen Chapter.

Gomenasai ne! Yang tidak suka baca ini, harap tidak usah di baca. Gak apa-apa... Author paham kok…

Tolong di review ya !

Review apapun author terima dengan senang hati. He.. he.. he…

Domo arigatou :)



Chapter 17 (FINAL)

"GUBRAKKK…3, I CAN SEE THAT SMILE AGAIN "

Gubrakkkk…….

Rukia bertabrakan dengan seseorang yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. "Sorry, Sorry, aku tidak sengaja" ujar Rukia pada seseorang yang berambut orange dan bertumbuh tinggi itu.

"Sorry, sorry aku juga tidak sengaja," seru si rambut orange itu.

Mata Rukia terbelalak melihat pria itu, tapi tetap berusaha tenang. Ya, pria itu adalah Ichigo Kurosaki pria yang tadi dipikirkannya. Rukia masih terduduk di jalan berbatu yang dipenuhi dedaunan berwarna coklat sambil memegangi lututnya yang lecet karena terjatuh ketika saling bertabrakan dengan Ichigo.

Ichigo tetegun melihat wanita dihadapannya. Seorang wanita berkacamata yang berpenampilan feminim. Mengenakan Baju atasan berwarna krem dipandu rok selutut berwarna coklat marun dan sepatu wanita tanpa hak berwarna coklat. Rambut lurus-panjangnya tergerai hingga melewati punggung dengan sebuah jepit rambut yang dijepitkan di disebelah kanan atas kepalanya.

Lalu Ichigo mengulurkan tangannya ke arah Rukia untuk membantunya berdiri. Rukia menerima uluran tangan Ichigo dan segera berdiri.

"Kamu baik-baik saja, apa lututmu terluka?" tanya Ichigo.

" Tidak… tidak apa-apa," jawab Rukia.

Secara tidak sengaja padangan mereka bertemu untuk beberapa detik, Rukia merasa seperti telah mengenal pria berambut orange itu. Tapi sekarang pria itu sudah agak berbeda, tubuhnya sedikit lebih tinggi, wajahnya terlihat lebih tampan dan keren serta terlihat sangat dewasa.

Setelah memastikan wanita yang ditabraknya baik-baik saja, Ichigo kemudian berbalik dan melangkah pergi menjauhi Rukia. Rukia hanya memandangi punggung pria itu kemudian dia kembali melihat lututnya yang lecet, secara tidak sengaja Rukia melihat sebuah benda tergeletak di dekatnya.

Dia lalu mengambil benda itu dan memperhatikannya. Sebuah gantungan kunci Captain Tsubasa, benda tersebut mengingatkannya pada seseorang.

Benda itu sama persis seperti yang dulu pernah ia berikan kepada sahabatnya Ichigo. Rukia tersadar bahwa pria yang tadi menambraknya hingga jatuh adalah orang yang pernah ada dimasa lalunya. Ya, ia baru ingat kalau pria tadi adalah sahabatnya Ichigo Kurosaki.

Rukia berbalik untuk memanggil si rambut rambut orange itu, pria itu masih terus melangkah pergi menjauhinya. Rukia memanggilnya dan berjalan tergesa-gesa mendekati pria itu, hingga tanpa sadar sketsa-sketsa lukisannya terjatuh.

"Hei! Hei rambut orange! Hei rambut orange!" Rukia memanggil pria itu. Ichigo berbalik ketika mendengar ada suara seorang wanita yang memanggilnya. Kemudian wanita itu mendekatinya, dia pun berjalan mendekati wanita itu.

"Gantungan kunci ini milikmu? Sepertinya kamu menjatuhkannya tadi," tanya Rukia pada pria berambut orange itu sambil menunjukkan sebuah gantungan kunci Captain Tsubasa. Ichigo lalu memperhatikan gantungan kunci yang sedang dipegang wanita itu dan terkejut.

"Iya Itu milikku! Untunglah tidak sampai hilang, kalau tidak… " guman Ichigo.

" Sepertinya kamu takut sekali kalau gantungan kunci itu hilang, apa gantungan kunci itu sangat berharga?" tanya Rukia lagi.

"Ya, gantungan kunci ini adalah satu-satunya kenanganku dengan seseorang yang sangat berharga bagiku" jawab Ichigo.

"Beruntung sekali seseorang itu," ucap Rukia pelan.

'Wah.. berarti Ichigo si kepala jeruk ini, masih mengingatku' inner Rukia.

"Ya… tapi aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Aku sudah tidak tahu lagi dia ada dimana sekarang," ujar Ichigo.

"Sayang sekali ya, padahal mungkin seseorang itu juga sedang mencarimu atau menunggumu di suatu tempat," ucap Rukia.

"Ya, mungkin saja… aku harap begitu," jawab Ichigo.

"Ini gantungan kuncinya. Aku harap kamu segera bertemu dengannya," ucap Rukia pada Ichigo dan menyerahkan gantungan kunci itu. Ichigo mengambil gantungan kunci itu dan berterimakasih pada Rukia.

"Masih ada yang harus aku kerjakan. Good luck ya!" seru Rukia sambil berbalik pergi menjauhi Ichigo dan memunguti kertas-kertas sketsanya yang baru ia sadari kalau tadi terjatuh saat tergesa-gesa mendekati Ichigo.

Ichigo masih memperhatikan tingkah wanita itu yang kesulitan mengumpulkan kertas-kertas sketsa yang berterbangan tertiup angin -Angin musim gugur-. Lalu dia ikut membantu mengumpulkan kertas-kertas sketsa itu sambil memperhatikan apa yang disketsa oleh wanita itu dan diantara kertas-kertas yang dikumpulkanya itu, ia terhenyak melihat salah satu sketsa.

Wajahnya pucat melihat sketsa itu, kemudian dia memperhatikan wanita itu lebih mendalam.

'Ah.. tidak mungkin wanita ini Rukia, penampilannya sangat berbeda,' inner Ichigo.

Ichigo masih terus memandanginya, lalu perlahan ia mendekati wanita itu. Rukia masih sibuk menata kertas-kertas sketsa yang sudah selesai ia kumpulkan. Rukia tidak sadar kalau Ichigo itu sudah ada dibelakangnya. Tiba-tiba bahunya di tepuk oleh seseorang, ia lalu berbalik.

"Apa sketsa ini kamu yang membuatnya?" tanya Ichigo pada wanita itu.

"Ya… semua sketsa ini aku yang membuatnya."

"Yang di sketsa ini, apa ini dirimu?" tanya Ichigo lagi.

"Menurutmu?" Rukia balik bertanya ke Ichigo. Ichigo heran, terdiam sesaat. Lalu ichigo memberanikan diri untuk melepas kacamata wanita itu, dengan gemetar dia menarik kacamata wanita itu. Tiba-tiba jantungnya seakan berhenti berdetak setelah melihat mata violet yang sangat dikenalinya.

Rukia membiarkan pria itu membuka kacamatanya, tapi jantungnya bedegup kencang. Mereka saling berpandangan.

"Ru…Ru.. Rukia," guman Ichigo terbata-bata. Rukia tersenyum memandang Ichigo.

"Woii… midget! kemana aja loe!" teriak Ichigo.

"WouiI!!! Jangan panggil aku midget, kepala jeruk, jeruk busuk. Dasar baka!!!" balas Rukia.

Ichigo menarik tangan Rukia dengan tiba-tiba dan cepat, hingga membuat tubuh Rukia terhempas ke dada Ichigo. Ichigo langsung memeluknya dengan erat seakan tidak ingin melepaskannya lagi. Lalu dia membisikkan sesuatu pada Rukia.

"Jangan berani-berani pergi lagi. Awas kau!" ancam Ichigo.

"Memangnya kenapa kalau aku pergi lagi?" jawab Rukia.

"Pokoknya jangan pergi lagi, kubilang jangan pergi ya jangan pergi!" seru Ichigo.

"Aishiteru Rukia…" ucap Ichigo pelan.

Walaupun pelan, Rukia dapat dengan jelas mendengar apa yang diucapkan Ichigo. Ada perasaan nyaman mendengar ucapan Ichigo itu.

"Aishiteru Ichigo…" jawab Rukia pelan lalu balas memeluk Ichigo dengan erat.

Beberapa menit kemudian.

"Ichigo, lepaskan aku bodoh! Aku gak bisa napas tau," teriak Rukia. Ichigo mulai merenggangkan pelukannya. Lalu memandangi wajah Rukia, perlahan Ichigo mendekatkan wajahnya ke wajah Rukia. Semakin mendekat, semakin mendekat, dekat, dekat, dekat.

Rukia memejamkan matanya, Rukia merasakan bibir Ichigo menyentuh bibirnya. Ichigo mencium bibir Rukia dengan lembut, hangat dan penuh perasaan. Tidak lama kemudian Ichigo melepaskan ciumannya. Lalu memeluk Rukia lagi dengan hangat.

Rukia merasa hangat dan nyaman dipelukan Ichigo. Ichigo melepaskan pelukkannya dan tersenyum pada Rukia, Rukia pun tersenyum pada Ichigo. Keduanya tersenyum, ada kelegaan ketika mereka melihat lagi senyuman itu. Senyuman yang selalu ingin mereka lihat, senyuman yang selalu mereka rindukan selama ini.

Kemudian mereka berjalan bersama menuju taman sambil bergandengan tangan. Ichigo mengajak Rukia duduk di sebuah bangku taman kota London itu. Ichigo ingin menanyakan banyak hal pada Rukia dan juga sebaliknya.

Setelah duduk, Ichigo merangkul bahu Rukia. Rukia menyandarkan kepalanya di dada Ichigo, Ichigo memegang tangan Rukia dengan hangat.

"Rukia , boleh aku tanya sesuatu," tanya Ichigo.

"Apa, kepala jeruk?" jawab Rukia pelan.

" Ehn, jangan panggil aku kepala jeruk lagi dong!" Ichigo kesal.

"Ya.. iya, oke kalo gitu. Ichigo keren… mau tanya apa?" sambung Rukia.

"Kenapa kamu gak menelponku saat kamu berangkat ke Kota Soul Society dan kenapa kamu begitu ingin pergi menjauhiku dan tidak pernah memberitahuku kemana kau pergi?" tanya Ichigo serius.

"Ah… itu, saat aku berangkat ke Soul Society. Aku gak pengen ngucapin kata perpisahan ke kamu, karena aku takut kalo ngucapin kata perpisahan aku benar-benar gak akan pernah ketemu kamu lagi. Kalau masalah kenapa aku ingin sekali menjauhimu, itu karena aku tidak ingin menyulitkanmu lebih jauh lagi kalo kamu tetap bersamaku" jawab Rukia.

" Menyulitkan aku, maksudnya?" tanya Ichigo penasaran.

" Aku dengar cerita dari Tatsuki tentang kamu dan keluargamu, kamu bahkan tidak bisa memilih sendiri orang yang kamu cintai. Karena statusmu sebagai orang yang terkenal, milioner dan juga posisi keluargamu terlebih lagi ayahmu. Jadi aku tidak ingin menyulitkakanmu, Kalo kamu memilih bersamaku. kamu gak tahu kan, bagaimana aku dan semua hal tentang aku?" tanya Rukia, Ichigo tertawa

"Kamu ini baka atau apa sih?" ledek Ichigo.

"Oh.. masalah posisi kita yang beda itu ya," jawab Ichigo santai.

"Aku tahu semua tentang kamu dan posisimu. Tapi aku gak pernah bisa membaca pikiranmu dan membaca ekspresimu," sambung Ichigo. Rukia hanya diam dalam dekapan Ichigo.

"Semua yang dikatakan Tatsuki benar, tentang aku dan posisi keluargaku. Tapi aku tidak ingin hidup dengan posisi seperti itu. Aku ingin membuktikan kalau aku adalah aku, bukan karena aku adalah bagian dari keluarga Kurosaki yang terkenal. Aku ingin bisa berpijak di kakiku sendiri dan memiliki impian sendiri untuk membahagiakan orang-orang yang aku sayangi termasuk keluargaku dan Rukiaku." Ichigo menjelaskan panjang lebar, Rukia blushing mendengar jawaban Ichigo wajahnya kini semerah semangka.

"Tapi kenapa kamu nyembunyin semua identitasmu dariku. Aku bahkan gak tahu kalau Tatsuki gak ngasih tahu aku, kamu juga melarang Tatsuki dan Momo untuk gak cerita tentang kamu ke aku kan?" tanya Rukia.

"Oh, itu karena aku ingin orang yang kucintai, mencintaiku bukan karena posisiku dan segala atribut yang kumiliki. Aku ingin ada yang mencintaiku, benar-benar mencintai aku yang biasa, bukan karena aku seorang Kurosaki Ichigo dan mencintaiku dengan hatinya," jawab Ichigo tegas.

"Aku tau, kau menyukaiku dari pertama kali kita ngobrol di depan kelas waktu pelajaran Aizen-sensei 9 tahun yang lalu, apa kamu masih ingat hari itu?" lanjut Ichigo.

"Ya, aku masih ingat. Darimana kamu tahu aku menyukaimu, waktu itu aku kan gak bilang kalau itu beneran" jawab Rukia heran.

"Feeling," jawab Ichigo singkat.

"Kau bercanda, gak mungkin feeling?" tanya Rukia yang tidak percaya kata-kata Ichigo. Ichigo tertawa keras.

"Ha.. ha.. ha.. ya enggak lah, aku gak tau kamu suka apa enggak sama aku tapi aku merasa yakin kalau kamu juga menyukaiku walaupun kamu gak pernah bilang dan gak nunjukinnya sama aku ataupun sama orang lain," jawab Ichigo.

"Kenapa kau merasa yakin?" tanya Rukia semakin penasaran.

"Entahlah… aku merasa kamu sangat berbeda dari semua cewek yang pernah aku kenal. Kamu itu aneh, pendek, pemarah dan gak punya ekspresi. Karena itulah aku suka kamu, kamu yang apa adanya," jawab Ichigo tegas.

"Oh… gitu! O ya aku penasaran sama apa yang kamu bilang sama aku waktu terakhir kali kita ketemu di halte bus karakura University?" tanya Rukia.

"Oh itu, itu rahasia! Biar author aja ntar yang jelasin, oh ya satu lagi tentang gambar di sketsa yang kamu buat itu biar author juga yang jelasinnya," bisik Ichigo pada Rukia.

"O ya, kenapa kamu gak menikah dengan cewek-cewek pilihan orang tua kamu, bukannya kamu sudah dijodohkan?" tanya Rukia heran pada Ichigo, Ichigo tersenyum.

"Ah… mereka! Aku tidak tertarik. Masalah cewek yang dijodohin itu, dia kabur entah kemana sama pacarannya. Kalo kamu kenapa masih belum menikah apa kamu nunggu aku ya?" ledek Ichigo.

"Enak aja… bukan gitu, sebenarnya aku… rahasia juga ah!"

"Kenapa kamu pergi ke England?" tanya Ichigo ke pada Rukia.

"Aku dapat beasiswa dan sekarang aku bekerja disini," Jawab Rukia.

"Kalo kamu, ngapain kamu disini jeruk?" tanya Rukia.

" Apa? Kamu bilang jeruk, dasar midget!" balas Ichigo

"Oopsss… maaf aku lupa sama janjiku waktu itu." Ichigo tertawa, Rukia cemberut.

"Oke, gomen ne! Aku janji gak bakal ngomong itu lagi. Aku anggap jeruk itu panggilan sayang kamu buat aku. O ya… Aku juga bekerja di sini," jawab Ichigo.

"Lohh! Kok sama?" ujar Rukia.

"Yah… mungkin jodoh kalee…" jawab Ichigo cengengesan.

"Kenapa kamu jadi feminim gini? Padahal kan gak kenapa-kenapa kalo kamu kayak dulu," tanya Ichigo heran.

"Aku gak tau juga, pengen berubah aja…"

"Sekarang kamu tampak lebih manis… cantik sekali," ucap Ichigo blusing sambil mengecup lembut dahi wanita yang sangat disayanginya itu.

Tidak terasa sudah berjam-jam mereka di taman itu, membicarakan banyak hal dan saling melepas rindu. Kemudian Ichigo mengajak Rukia melihat sunset dengan landscape Bridge London. Terlihat rona bahagia di wajah, senyuman dan hati mereka.

Ichigo dan Rukia sebenarnya memiliki perasan yang sama.

Tapi mereka terlalu takut untuk mengakuinya, terlalu gengsi untuk mengatakannya.

Meski kata ini tak bisa kuucap

Rasa ini tak nampak

Raga ini menolak mengakui

Pikiran ini memaksa berbohong

Namun,

Hati ini selalu mencintai.

…Sebelum terlambat…

Jadi Katakanlah, jika kau mencintainya!

The End


----------- Go to next chapter, sebelumnya baca dulu noto dibawah ini!


Noto :

-Buat reader Honto ni arigatou gozaimashita sudah baca N Review fict-nya author'aneh' ini.

-Buat all stars Bleach punya Tite Kubo : Honto ni arigatou gozaimashita, udah meranin peran kalian dengan sangat "keren" author jadi terharu…*Padahal kan author gak bisa terharu*

O ya, jadi lupa buat jelasin perintah Ichigo tadi… He..he..

Kata-katanya : "Kamu juga *** sama aku kan? Padahal aku *** kamu"

lengkapnya gini : "Kamu juga gak suka sama aku kan? Padahal aku mencintai kamu."

Gambar yang ada di sketsa itu adalah sketsa foto Ichigo dan Rukia yang ditake sama Gin Ichimaru waktu mereka masih di kelas X.d dulu. Foto "Ancur" mereka karena gak siap sama sekali buat di foto, tapi foto itu sangat berarti bagi Ichigo dan Rukia.

Special Thanks for :

Temen-temen kost author –Missy, Mbk Dina,Lely, Dian, Naru, Dewi d el el – yang udah bantuin author jg nyumbangin love storynya dan juga bela-belain ngeliat tampang aneh author kalo lagi buat fict ini.

Buat yg jd bagian dr alur cerita fict ini arigatou atas memoriesnya –aku gak pernah lupa kekocakkan yg kita buat-. Kita sahabat selamanya, kan?