Mungkin masih ada yang belum puas dengan ending-nya, maka saia kasih bonus….

Chapter 2: Bonus

5 tahun kemudian....

Ino memejamkan matanya. Menikmati dinginnya angin hujan yang meniup dirinya. Gaun putihnya dikibarkan angin, begitu pula dengan rambut pirang panjangnya yang digerai.

Wanita yang berusia 22 tahun itu menyanyikan lagu favoritnya. Ia bersenandung ria. Suaranya mengalun merdu di malam itu bersama hujan lebat dan gemuruh petir.

Sudah lama ia tak melakukan ini. Teringatlah ia diwaktu itu, waktu di mana ia menjadi sangat dekat dengan seseorang, begitu dekat hingga sekarang ini.

Sahabatnya? Sahabatnya yang menjadi belahan jiwanya. Sahabatnya yang malam ini menjadi pendamping hidupnya. Dapatkah kalian memikirkan ada apa sebenarnya?

Ya, jika kalian menjawab malam ini adalah malam pertamanya. Malam yang dinanti-nantikan olehnya.

Ia membuka matanya. Kembali lagi menatap hujan dari jendela kaca itu. Seulas senyum merias wajah cantiknya.

"Sudah selesai dengan lagumu?" pria yang sebaya dengannya itu melingkarkan tangannya di pinggang Ino, memeluknya dari belakang.

"Kau bisa dengar sendiri kan?" balasnya.

Pria itu mengecup tengkuknya, membuatnya agak merinding. Bukan karena dinginnya malam, tetapi karena sensasi yang diberikan oleh pria itu.

"Kau sudah siap, Ino?" bisik pria itu.

"Iya, aku akan selalu siap untukmu." balas Ino.

Mereka terdiam sejenak.

"Kiba..." panggil Ino, memulai pembicaraan.

"Hn,"

"Apa kau ingat janji kita dulu?" tanya Ino.

"Janji yang mana?" Kiba balas bertanya.

"Janji bahwa kita akan selalu menjadi sahabat." tukas Ino.

"Tentu saja aku ingat,"

"Tapi kenapa kita melanggarnya?" tanya Ino lagi, tapi kali ini ia bertanya pada dirinya sendiri dan juga Kiba.

"Kita tidak melanggarnya." tukas Kiba. "Tapi kita mengubah persahabatan kita menjadi lebih dekat."

Ino tersenyum. "Hm... Kau benar." Ia berbalik ke arah Kiba. "Kita sekarang menjadi sahabat yang tak terpisahkan." Ia mengecup bibir Kiba singkat.

"Aishiteru, Ino-chan." kata Kiba seraya mendekap Ino dalam pelukannya.

"Aku juga..." balas Ino.

"Jadi, bisakah kita mulai sekarang?" tanya Kiba dengan senyum jahilnya.

"Dengan senang hati." Ino melepas pelukan Kiba.

"Arigatou..." ucap Kiba.

Ino tersenyum. Ia menutup matanya lagi. Merasakan deru napas Kiba yang panas. Wajah mereka berdekatan dan akhirnya terbenam dalam sebuah ciuman yang panjang.

FIN

Nah, kali ini benar-benar end….