Cha-cha-chapter 2 is up! Oke, tanpa panjang lebar, kita mulai saja! (g ada yang mau diomongin juga).

Disclaimer : Yang membuat Eyeshield 21 bukanlah aku.


oooooooooooo Agreement and Day 1: The Beginning ooooooooooo

Hiruma tetap membatu, tidak percaya bahwa wanita sialan yang ada di depannya ini mau mengatakan hal seperti itu. Tiba-tiba meminta dia jadi pacar sementara bukanlah seperti Mamori yang biasa. Berpikir sejenak, dengan otak jenius sialan miliknya, dia mendadak mengerti apa maksud Mamori. Dia tertawa sinis seraya berkata, "Kekeke, manajer sialan, kalau kau mau mengerjaiku, cobalah cara lain yang lebih bagus."

Namun ternyata Mamori tidak menjawab seperti apa yang diduga Hiruma.

"Menurutmu aku bercanda?" kata Mamori, tampak kecewa karena apa yang dipikirkan Hiruma. Hal ini malah tambah membuat Hiruma tambah keheranan. 'Kalau bukan bercanda, lalu apa mau wanita sialan ini?'

"Kalau begitu, apa maumu, manajer sialan?" Hiruma bertanya dengan kebingungan dan ingin tahu.

Mamori mengambil nafas sejenak, lalu mulai menjelaskan, "Dengar Hiruma, sebentar lagi ada pesta Valentine di sekolah, dan kita diminta membawa pasangan. Masalahnya, semua orang di luar sana selalu mengikuti dan mengerumuniku, memintaku menjadi pasangan mereka, padahal kenal saja denganku tidak. Dan itu sangat menganggu, jadi aku harus bertindak duluan. Jika mereka tahu aku sudah pacaran, mereka pasti akan mundur."

Hiruma sudah bisa menangkap apa maksud Mamori, namun ada satu hal yang menganggunya lagi. "Kalau kau mau cari orang lain buat dijadiin pacar bohongan, kenapa kau tidak pilih saja salah satu dari mereka, lalu putusin setelah selesai? Atau kau bisa ajak yang lain, seperti kakek sialan itu atau…"

"Kau belum mengerti?" Mamori mendadak berbicara, "Kalau semudah itu, aku pasti tidak akan seperti ini. Aku pilih kau, karena pertama, kau itu paling ditakuti di sekolah ini," – muka Hiruma memberengut mendengar hal ini, menganggapnya sebuah ejekan – , "jadi tidak akan ada yang berani melawan. Jika yang lain, mungkin saja mereka malah akan bertingkah tambah gila. Kedua, kau dan aku bisa dibilang cukup dekat. Kau kapten tim Amefuto, dan aku manajernya. Jadi mereka pasti akan percaya dengan hal ini. Ketiga," Mamori mendadak berhenti sejenak, "aku percaya kau tidak akan berbuat macam-macam denganku, jika yang lain, siapa tahu apa yang akan dilakukannya?"

Mendengar penjelasan itu, Hiruma sudah bisa mengerti semuanya. Namun tetap saja dia mau menolak, karena dia memang tidak suka dengan hal yang berbau cinta atau semacamnya. Melihat raut muka Hiruma yang menandakan siap mengelaurkan berbagai alasan penolakan, Mamori segera bertindak cepat. Dia memegang kedua tangan Hiruma dengan erat, matanya menatap dengan penuh harap. "Tolong, sekali ini saja, please…"

Melihat tingkah Mamori, akhirnya Hiruma menyerah juga. Dia setuju mau menolongnya.

"Baiklah, aku mau, tapi dengan syarat." kata Hiruma dengan nada ketidaksenangan yang jelas.

Mamori langsung merasa ada batu besar menimpuk kepalanya. Apapun syarat yang diajukan Hiruma, yang jelas bukanlah hal baik. Namun demi ketenangannya, dia mau tidak mau harus terus. "Baiklah, apa syaratnya?" tanya Mamori dengan ragu-ragu.

Hiruma tersenyum tahu dia ada kesempatan memanfaatkan manajer sialan ini, otak liciknya berputar cepat. "Pertama, kau harus mau menuruti semua apa yang kukatakan, apapun itu." Sampai sini, setengah pikiran Mamori langsung menyesali karena dia memilih setan seperti ini untuk menolongnya. "Kedua, kau harus hapus aku dari daftar incaran Komite Disiplin Sekolah konyol itu, supaya aku bisa bebas melakukan apapun yang aku mau."

Sekarang, Mamori langsung sepenuhnya menyesali pilihannya.

"Ketiga," Hiruma mendekatkan wajahnya ke arah Mamori, yang sekarang pipinya memerah sedikit, "walaupun kita nanti pura-pura jadi pasangan dekat – tampaknya kata 'pacaran' sangat menganggu di lidahnya – kau jangan berakting manis atau segala lovey-dovey yang berlebihan, atau aku akan membunuhmu. Mengerti?"

Mendengar permintaan mengerikan Hiruma, Mamori hanya menghela nafas dan bergumam pelan, "Baiklah, aku setuju. Jadi kita mulai besok. Ingat, kita harus berakting seperti pacaran." Lalu Mamori segera pergi, hanya mau menjauh dari setan neraka yang tetawa senang melihat tingkahnya.

Mereka tidak menyadari bahwa Sena dan Monta mencuri-dengar percakapan mereka.

Mulut Sena menganga, matanya melotot lebar, setengah terkejut dan tidak percaya. Dia berpaling ke Monta.

"Monta, menurutmu…" Sena mau bertanya, namun melihat Monta terbakar api kecemburuan, kemarahan dan kekesalan, warnanya bukan lagi merah tapi biru-super panas, wajahnya sekarang hampir 99,99999% mirip monyet, dia langsung mundur ke belakang, ketakutan.

ooooo Esok harinya / Selasa, hari #1 ooooo

KRIINGG!!!

"Ugh…" Mamori terbangun dari tidurnya. Mematikan jam weker, mandi, memakai seragam, turun sarapan, dan pergi ke kamar lagi untuk mempersiapkan keperluan sekolahnya. Ya, seperti pagi biasa yang lain.

"Mamori, cepat turun ke bawah." teriak ibunya, Mami Anezaki dari bawah.

"Sabar sebentar." balas Mamori. Dia memasukkan buku pelajaran, bekal makan siangnya dan Sena, kotak P3K untuk Sena, peralatan tulis cadangan kalau Sena lupa bawa, minuman penambah tenaga untuk latihan Sena, payung cadangan untuk Sena, dan yah…segalanya soal Sena.

"Ada cowok yang nungguin kamu di bawah, sudah 5 menit loh. Katanya pacar kamu. Apa iya?" teriak ibunya lagi, kali ini ada nada teasing dalam suaranya.

"Hah? Pacar? Si…" Mamori tidak ingat kalau ada pacar, tapi segera dia tahu siapa yang dimaksud. Bagaimana dia bisa lupa soal itu, padahal baru aja kemarin kejadiannya?

"Sialan!" gerutu Mamori marah, langsung menyambar tasnya dan berlari ke bawah, tidak menghiraukan pertanyaan – tepatnya godaan – ibunya.


"HIRUMA! JELASKAN APA MAKSUDMU!"

Mamori berbicara dengan keras dan marah ke orang berambut kuning kepirangan di depannya. Tidak terkejut, Hiruma malah melanjutkan meniup permen karetnya, berdiri tenang, keduanya dilipat di depan dadanya, bersandar di motor Ducati 484 merah miliknya, kakinya disilangkan. Dia menatap ke arah belakang Mamori dengan pandangan hampa.

Kesal karena tidak dijawab, Mamori berteriak lagi. "Stop meniup permen karet dan jawab pertanyaanku!!"

Akhirnya Hiruma memecahkan balon permen karetnya, dan berkata, "Ke ke ke, pakai otakmu sedikit, manajer sialan."

"Apa maksudmu?" tanya Mamori, kini kemarahannya berganti menjadi kebingungan.

"Kan sudah jelas, kita sekarang pura-pura kau-tahu-apa, jadi kita harus minimal terlihat bersama. Kalau tidak, mereka bisa curiga dan kita ketahuan. Dan itu berarti, pergi sekolah juga harus bersama-sama."

Untuk hal ini, Mamori hanya mengiyakan. Namun ada satu hal lagi yang mengganggunya. "Aku tahu, tapi kenapa kau bilang sama ibuku kalau kau pacarku? Apa itu penting?" tanyanya sambil menahan malu.

"Ke ke ke, aku lupa. Apa itu emang harus dirahasiakan dari ibu sialanmu ya?" ejek Hiruma, sekarang mukanya sudah seperti setan licik.

Mamori sekarang kesal tingkat tinggi mendengar jawaban Hiruma. "Kau mengerjaiku?" tanyanya dengan kejengkelan dan tidak percaya.

"Diam dan cepat naik." potong Hiruma, melemparkan helm dengan kasar ke Mamori. Ditangkapnya helm itu, Mamori cemberut sebentar di tempat sebelum memakai helm itu dan naik ke atas motor. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Hiruma. Sontak Hiruma kaget.

"Hei, manajer sialan!" bentak Hiruma. "Apa yang kau lakukan?"

"Jika aku tidak melakukan ini, aku pasti akan jatuh." jawab Mamori dengan santai. Hiruma hanya memaki kata-kata kotor yang sangat terlarang. Langsung dinyalakan motornya, dan tanpa menunggu lama tancap gas dengan kecepatan tinggi.

Mamori langsung ngeri tahu mereka ngebut. "Hiruma, jangan ngebut!" protesnya.

"Ke ke ke, jika aku tidak melakukan ini, kita pasti telat ke sekolah." balas Hiruma dengan sindiran dan ejekan. Padahal kenyataannya sekolah masih 45 menit lagi.

Sekarang mereka masuk jalan besar, melewati beberapa mobil dan – beruntung atau tidak – mobil polisi yang sedang patroli. Sontak saja mereka dikejar mobil polisi itu.

"TIDAAKK!!!" teriak Mamori ketakutan, dan Hiruma senang bisa mengerjai manajer sialan itu lagi.

Tentu saja, alasan utamanya mengantar Mamori hanya untuk bisa mengerjainya.


"Hah…hah…" Mamori mengambil nafas cepat-cepat ketika mereka tiba di sekolah. Sekarang Hiruma sedang beraksi dengan buku ancaman kesayangannya tentunya, untuk mengancam 1 personil penuh polisi yang mengejar mereka tadi. Mamori tidak pernah menyangka seumur hidupnya dia akan mengalami hal seperti ini. Pagi ini, bisa jadi, adalah pagi terburuk sepanjang hidupnya. Entah pagi berikutnya seperti apa, dia tidak tahu dan tidak mau tahu.

Selesai berurusan dengan polisi, Hiruma menghampiri Mamori dan mengejek dengan senyum menyeringai, "Sudah ambil oksigen banyak-banyak, manajer sialan?"

"Diam." bentak Mamori. Mereka langsung berjalan berdua ke dalam sekolah, Mamori memalingkan muka, Hiruma hanya memandang dengan tatapan malas ke depan. Ketika sampai di loker sepatu, banyak murid berbisik-bisik melihat dua musuh bebuyutan ini jalan bersama. Pemandangan yang sangat ganjil. Mereka ingin bertanya, namun takut karena kehadiran si jenderal neraka itu.

Seorang murid yang pengagum Mamori mendadak dengan berani mendekati Mamori ,menjulurkan bunga dan berkata, "Er…Anezaki-san, maukah kau, ungh…" Dia mau mengajak Mamori ke pesta Valentine bersama, seperti murid lainnya, namun ketika melihat tatapan Hiruma, dia langsung terdiam.

Mamori tahu apa yang dimaui orang ini. Dia mengambil bunga itu, memasang senyum ramah dan berkata, "Aku hargai, tapi maaf, aku sudah ada pasangan." Semua yang ada di situ langsung memasang pandangan ingin tahu.

"Si-siapa?" tanya orang itu, kekecewaan dan cemburu bercampur dalam suaranya.

"Tentu saja," kata Mamori keras, seolah mau mengumumkan ke semua orang, lalu memeluk lengan Hiruma, "Aku dan Youichi Hiruma!"

BLAARR!!! Tiada hujan, tiada angin, tiada awan, petir menyambar kepala setiap orang di situ. Dunia sekarang seperti kacau; gempa bumi di mana-mana, gedung hancur, tsunami yang besar, awan gelap, hujan api, tanah retak, dan matahari berubah menjadi gelap. Ya, kiamat dunia telah datang, atau setidaknya yang ada di pikiran mereka.

Hiruma merasa terganggu ketika Mamori memeluk tangannya. Disentaknya lengannya, berusaha melepaskan diri, berbisik dengan suara kasar, "Manajer sialan, lepaskan tanganku!"

"Diam! Bukankah kau bilang, kita harus berakting? Dan ini salah satunya." balas Mamori, kenyataannya dia juga tidak suka hal ini. Hiruma hanya menggerutu kecil.

"Be-benarkah itu?" tanya seorang lagi dengan berani.

Kali ini Hiruma yang menjawab, "Ya." Lalu dia dan Mamori segera berjalan cepat ke kelas, hanya agar cepat selesai, meninggalkan yang lain dalam shock.

Sepanjang perjalanan ke kelas, Mamori tidak menemukan ada yang berani lagi mendekati dia. Dia merasa senang dengan hal ini. 'Sepertinya rencanaku berhasil. Dengan ini semuanya akan baik-baik saja…' namun ketika dia berpaling ke Hiruma di sampingnya, mendadak pikirannya berubah.

'…atau tidak.' gerutunya dalam hati.

ooooooooooo to be continued oooooooooo


Ha ha….!!! Satu lagi chapter gaje dan penuh OOC, seperti yang sudah kuduga.

Review ya!