Woohh…!! Aku tidak nyangka critaku yang gak bagus-bagus amat ini bisa terkenal juga! *sombong* Trims bwt semua pereview, yang anehnya semuanya anonymous review, gak tau kenapa, ah tapi nevermind ;).
Dan juga bwt informasi nama orangtua Mamori, trims banget ya Himawari dan Rica Yukarin males login. Aku bakal ngeganti namanya.
Tahukah kalian(koq kayak acara edukasi?), sebenarnya cerita ini udah selesai dari lama, hanya karna modem yang bermasalah, dan flashdiskku yang ilang, akhirnya nih cerita baru bisa diapdet sekarang, di warnet malah(kacian ya…). Maafkan aku.
Disclaimer : Semua hal mengenai Eyeshield 21 dan segala macam adalah milik duet Inagaki-Murata. Aku hanya orang aneh yang meminjam saja.
Warning : Jeez…kukira Hiruma saja yang dikit OOC, ternyata Mamori juga, lebih parah malah(my opinion), susah juga ternyata…please be nice 'kay?
oooooooooo Day 1 : Confusion and Quarrel ooooooooo
Apa yang paling kau tidak harapkan terjadi di pagi hari yang sibuk? Tentu saja kekacauan yang menghambatmu sampai tujuan.
Dan itu juga yang ada di pikiran penumpang kereta api pagi itu.
"Musashi, tolong aku!" teriak Kurita, badannya yang terjepit di pintu kereta sedang meronta-ronta keras berusaha lolos. Sekarang mulai muncul lekukan dan retakan di pinggir pintu. Musashi hanya menghela nafas dengan enggan, lalu menendang Kurita hingga dia bisa masuk ke dalam, meninggalkan pintu yang sekarang menganga lebar dan rusak, dan tentu saja beberapa penumpang yang mesti 'berkorban' keluar demi memberi ruang bagi Kurita.
Sepanjang perjalanan, Kurita hanya melanjutkan menyantap sisa sarapannya dan meminta maaf juga ke penumpang sekeliling yang merasa terganggu. Musashi yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya ini memandang dengan malas ke luar, sebelum tiba-tiba ada yang menubruknya.
Musashi berpaling, dan terkejut melihat siapa yang menubruknya. "Shin?"
Seijuro Shin, yang bergelantungan di pegangan kereta telanjang dada, membalas, "Oh, Musashi dan Kurita dari Deimon." Kurita yang mendengar namanya disebut berpaling dan menganga melihat Shin, makanannya di mulut besarnya jatuh semua.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Musashi, tertarik melihat kelakuan Shin. "Kenapa kau bergelantungan seperti itu?"
Shin menjawab dengan semangat, "Oh, ini program latihan pagiku. Biasanya aku melakukannya pagi hari. Dengan melakukan ini, minimal aku sudah membuang lemak kira-kira 20 kkal selama perjalanan ke sekolah Ojo. Ini bagus untuk menjaga persentase lemakku tetap seimbang di kisaran 5% yang sangat ideal untuk latihan nanti." Tampaknya Shin cocok kerja jadi dokter ahli gizi.
Selesai Shin berbicara, kereta berhenti dan pengumuman pun terdengar, "Stasiun Deimon, Stasiun Deimon, bagi para penumpang dengan tujuan Stasiun Deimon dipersilahkan turun dan harap cek kembali barang bawaan anda…"
"Musashi, ayo cepat turun…ahh." Kurita yang saking bersemangat langsung mencoba keluar, dan alhasil terjepit lagi di pintu sama. Tapi ini bukanlah hal mengejutkan. Bukankah ada peribahasa 'Hanya Kurita yang terjepit di pintu yang sama dua kali'?
"Bisakah kau berhenti cari masalah?" kata Musashi jengkel. Dia bersiap menendang Kurita lagi sebelum…
"Tunggu, biar aku saja." kata Shin tiba-tiba, turun dari pegangan kereta dan bersiap. "Ini kayaknya cocok buat latihanku."
"Apa maksudmu…" tanya Musashi dan Kurita bersamaan, namun melihat Shin mengambil ancang-ancang, tangan kanannya sudah direnggangkan, langsung mereka mengerti.
"Tu-tunggu, biar aku saja…" kata Musashi menginterupsi.
"To-tolong aku…" teriak Kurita ketakutan, tapi terlambat.
"TRIDENT TACKLE!"
Kurita berjalan pelan, meringis kesakitan sambil memegang bekas telapak tangan Shin di pantatnya. Musashi hanya memandang kosong ke depan sambil memainkan bola kaki. Lho kok? Jangan salah dulu. Ini program latihan kicker ala Deimon, atau tepatnya ala Musashi kalau tidak sedang latihan bersama. Hanya semata-mata untuk melatih kakinya.
Ketika mereka masuk gerbang SMA Deimon, Musashi melihat motor Ducati 484 diparkir di depan markas Deimon Devil Bats.
"Tampaknya Hiruma sudah datang," kata Musashi.
"Darimana kau tahu, Musashi?" tanya Kurita kebingungan.
"Itu, motornya Hiruma." kata Musashi menunjuk ke motor sport merah itu. Kurita masih kebingungan.
"Er…bukannya motor Hiruma bukan itu?" tanyanya.
"Dia ganti motor, karena yang lama sudah rusak, jadi kepala sekolah dimintanya membelikan yang baru, dan tiga bersaudara itu disuruh pilih yang bagus." kata Musashi menjelaskan. Kurita hanya mengiyakan saja.
Di pintu depan sekolah, mereka bertemu Yukimitsu.
"Ohayu, Yuki." sapa Kurita ramah.
"Oh, Kurita dan Musashi." jawab Yukimitsu. "Kalian tahu, ada keributan di sekolah."
"Kenapa?" tanya Kurita.
"Tidak tahu, tapi yang jelas katanya sangat gawat atau semacamnya. Coba kita tanya saja."
Mereka bertiga masuk ke sekolah, dan terkejut melihat anak-anak di loker sepatu yang membatu, bermuram durja, kehilangan semangat, lesu, loyo, tanpa kebahagiaan, selolah-olah mereka baru saja diserang Dementor. Tapi bukannya ini tidak di Hogwarts?
"Apa yang terjadi?" tanya Yukimitsu ke sekelompok gadis yang berkumpul dan asyik berbicara. Mereka berpaling dan menatap ketiganya dengan pandangan heran.
"Kalian tidak tahu?" timpal seorang gadis dengan nada lengking, membuat gendang telinga kayak keiris pisau tajam, "Gosip baru. Soal Anezaki-san dan setan itu."
Tahu bahwa 'setan' yang dimaksud adalah Hiruma, Kurita bertanya, "Ada apa? Apa Hiruma dan Mamori bertengkar."
"Bukan, tapi lebih heboh dari itu. Yaitu…"
"Yaitu?" tanya Kurita, Musashi, dan Yukimitsu berbarengan.
"Yaitu…"
"Lepaskan tanganku, manajer sialan." bentak Hiruma kasar begitu mereka sampai di depan kelas. Tidak perlu dibilang dua kali, Mamori langsung melepaskan tangannya. Toh, mereka tidak perlu berakting lagi di dalam kelas, mengingat mereka semua pasti sudah tahu kabar ini dengan cepat. Dan Mamori memang ingin segera lepas dari Hiruma.
Hiruma langsung duduk di tempat duduk biasanya, menggerutu kecil lagi begitu Mamori memilih duduk di bangku di sebelahnya.
"Pilih tempat duduk lain sana, manajer sialan!" perintahnya kasar, kali ini sudah kesal karena Mamori terus saja mengikutinya.
Sebelum Mamori sempat menjawab, tiba-tiba Kurita masuk ke kelas dengan buru-buru dan berteriak dengan pandangan shock, "Hiruma! Benarkah kau pacaran dengan Mamori?"
Semua mata sekelas langsung terpancing ke arah Hiruma dan Mamori. Sontak Hiruma yang jelas tambah jengkel langsung menarik Kurita keluar dari kelas. Musashi dan Yukimitsu mengikuti dari belakang. Mamori yang membatu di tempat hanya bisa menunduk saja. Memutuskan daripada berdiam diri tiada guna, dia pergi keluar, namun tiba-tiba ada tangan mendekap mulutnya dari belakang.
"Ummhh!" Mamori berusaha melepaskan diri dari orang yang mendekapnya. Begitu dia dilepas, dia segera melihat penyerangnya.
Kedua temannya, Sara dan Ako, berdiri dengan malu-malu, wajah mereka menunjukkan ketertarikan.
"Sara, Ako, kalian…" kata Mamori tidak percaya. Namun perkataannya dipotong Ako.
"Mamo, benarkah kau pacaran dengan setan itu?" tanya Ako dengan ketidakpercayaan. Mamori memandang dua sahabat baiknya ini dengan pandangan kaget. Dia tentu ingin merahasiakan hal ini, soal bahwa ini hanya pura-pura saja, namun karena tampaknya mereka berdua tetap akan mengekor jika dia bohong, dan mereka bisa dipercaya, maka diputuskan untuk jujur saja.
"Dengar baik-baik, ini rahasia. Oke?" bisik Mamori pelan kepada keduanya. Sara dan Ako mengangguk kecil, siap mendengar kelanjutannya yang pasti menarik, menghebohkan, spektakuler, mengejutkan, dan…ah, kok kayak acara gosip?
"Sebenarnya, kami tidak pacaran atau semacamnya. Ini hanya pura-pura. Kalian tahu kan banyak orang-orang yang coba mengajakku ke pesta Valentine itu, dan itu membuatku gila. Jadi aku minta Hiruma untuk berpura-pura, jadi mereka tidak akan mengangguku lagi sampai minggu depan. Ini cuma pura-pura saja, dan begitu semuanya selesai, kami akan kembali normal." Mamori menjelaskan tanpa henti, menekankan kata 'pura-pura' untuk menperjelas.
Tapi tampaknya Sara dan Ako tidak terlalu memperhatikan hal itu.
"Mamori, apa itu benar?" tanya Sara dengan nada teasing yang jelas, matanya menatap Mamori dengan seksama. Tentu Mamori sudah menduga hal ini.
"Tentu saja, kenapa?" balasnya, tahu apa yang akan dikatakan selanjutnya.
"Well, coba kita lihat. Dulu kau bilang kau mau bergabung ke Komite Disiplin karena Hiruma-san(ha ha, kurasa mereka tetap nunjukin respek ke Hiruma), lalu kau paling sering bertengkar dengannya, tiba-tiba kau bergabung ke klub American Football, jadi manajer, dan kata informasi terpercaya – begitulah – kalian cukup dekat, jadi," Sara makin mendekatkan mukanya, "apa iya ini hanya karena pesta itu? Atau ada alasan lainnya?"
Pipi Mamori, untuk alasan yang tidak diketahuinya, memerah begitu mendengar kalimat terakhir. Dia membalas segera, "Maksudmu…aku…ada alasan tersembunyi begitu?"
"Pakai kata yang kau mau, jawabannya ya." jawab Ako. "Mungkinkah alasan tersembunyi itu…suka?"
Sekarang Mamori tambah memerah, Sara dan Ako tambah senang melihat hal ini. "Te-tentu saja tidak. Bagimana kalian pikir aku suka dengan orang yang suka cari masalah seperti dia, terus saja mengganggu dan segala macam seperti itu?" kata Mamori sedikit gugup.
"Bilang yang jelek atau benci ke orang lain sama seperti menyembunyikan perasaan suka." tanggap Sara tanpa meninggalkan teasing dalam suaranya.
"Apa ada contohnya?" tantang Mamori.
"Cobalah baca fanfic. Banyak contohnya kok." kata Ako tersenyum sedikit. Mamori sweatdrop.
"Jadi, itu hanya pura-pura?" tanya Kurita lagi untuk kesekian kalinya.
"Tentu saja, gendut sialan." jawab Hiruma lagi dengan kesal karena terus mengulang jawaban yang sama. Di belakangnya, Musashi masih terkikik geli, dan Yukimitsu tetap diam tanpa suara.
Mendengar kikikan Musashi, Hiruma berbalik dan bertanya denga sedikit kasar, "Ada masalah, kakek tua?"
"Ah tidak, hanya, lucu saja membayangkan kau dan Mamori bakal dekat terus." jawab Musashi jujur. Hiruma menggerutu kesal.
"La-lalu, Hiruma, kau sendiri bagaimana?" tanya Kurita.
"Maksudmu?" Hiruma bertanya balik, alis terangkat.
"Yah, kalian kan sering tidak akur, jadi aku sebenarnya senang kalau kalian bisa dekat, tidak tahu kenapa, tapi kalian memang cocok begitu, dan…" Kurita tidak mampu menemukan kata-kata lagi. Semuanya terkejut mendengar pengakuan Kurita, terutama Hiruma. Namun dia sudah terbiasa dengan aksi Kurita seperti ini.
Bel masuk kelas berbunyi, dan tanpa bicara mereka kembali ke kelas.
Mungkin bukan hanya pagi ini, tapi hari ini adalah hari terburu buat Mamori.
Sepanjang pelajaran dia terganggu sekali. Pelajaran hari ini semuanya menyenangkan – semua pelajaran, kecuali seni, memang menyenangkan baginya – dan saat ini adalah pelajaran Bahasa Inggris yang salah satu favoritnya. Namun dia tidak merasa senang. Kenapa? Itu semua karena orang di sampingnya yang tidak terlalu memperhatikan pelajaran, malah asyik bermain komputer dengan tangan kanan, tangan kiri mencatat pola American Football dari internet, dan headset yang disambung ke telinga kanan, mata di layar, praktis hanya telinga kiri saja yang bekerja untuk pelajaran.
Dan karena Mamori terbiasa mengikuti aturan sekolah, jadi dia pasti bereaksi dengan hal ini.
"Hiruma, stop bermain dengan laptopmu dan perhatikan pelajaran." tegur Mamori, suaranya dipelankan sedikit agar tidak terlalu ribut.
Namun Hiruma tidak menjawab. Apakah dia memang tidak mendengarkan ataukah cuma pura-pura saja?
"Hiruma…" Mamori memperingatkan sekali lagi, namun tidak ada tanggapan juga. Kesal, Mamori melakukan sesuatu yang tidak terduga.
Dia menutup layar laptop dengan keras, membuat bunyi yang keras. Sontak semua orang di kelas melirik. Hiruma kaget dan kesal.
"MANAJER SIALAN! Apa yang kau lakukan?" teriaknya marah.
"Aku yang seharusnya bertanya begitu. Apa yang kau lakukan dalam pelajaran?" balas Mamori marah.
"Terserah apa yang mau kulakukan, kau tidak ada hak untuk melarang." Hiruma sekarang sudah kesal banget.
"Ada! Kau melanggar peraturan sekolah, dan aku bisa saja menghukummu." kata Mamori.
"Memangnya kau ini siapa?" tantang Hiruma.
"Aku ini anggota Komite Disiplin!"
"Kau lupa perjanjian kita kemarin?"
"Yang kutahu, kau cuma bilang aku menghapusmu dari daftar Komite Disiplin, bukannya melarangmu melakukan semaumu."
"Itu sama saja, anggota Disiplin sialan pecinta kue sus."
"Apa?" Mamori kehabisan kesabaran, dia ingin beragrumen lagi sebelum tiba-tiba dia sadar mereka salah tempat. Kini semua orang berkerumun memperhatikan mereka, menonton pertandingan menarik ini. Mamori langsung memerah malu, kembali duduk, dan begitu pula Hiruma. Beberapa saat kemudai, suasana kembali tenang. Hiruma tidak melanjutkan kegiatannya lagi, terlanjur bete. Mamori yang masih kesal juga melihat sekeliling, ketika melihat Ako yang memberikan 'thumbs up' dan Sara yang bergumam seperti, "Pertengkaran suami-istri", langsung memasang muka cemberut.
oooooooooo to be continued oooooooooo
Udah, segini aja dulu cerita kali ini. Chapter selanjutnya bakal menarik, saat semua anggota Devil Bats tahu soal ini. Gimana reaksi mereka, dan apa yang Monta lakukan buat memisahkan mereka, dan yang penting, bagaimana nasib Sena nantinya? Coming soon. Baca di komputer atau warnet kesayangan anda XD.
Ja ne………!!!!!!
