Wah, sudah lama sekali sejak aku terakhir kali mengupdate cerita ini. Apa boleh buat, aku kehilangan semangat melanjutkan cerita ini, mungkin karena aku saat itu kebanyakan menjelajahi fandom yang lain. Tapi karena membaca ulang komik Eyeshield 21 membuatku jadi memiliki hasrat untuk melanjutkan menulis cerita ini. Stop berbicara, sekarang kita lanjutkan saja cerita ini! Kuharap kalian semua para pembaca tetap bersemangat melanjutkan membaca cerita ini!
Disclaimer : Aku jauh-jauh ke Jepang buat meminta sedikit saja hak cipta ES21, terus ditanya oleh Inagaki-sama dan Murata-sama mengenai Amefuto. Tidak lolos, akhirnya aku didepak. Sejak saat itu aku malas meminta hak cipta ES21 lagi!
ooooooooooo Day 1 : Big News? oooooooooo
Bel sekolah berbunyi, menandakan jam pelajaran terakhir telah selesai. Tiga Bersaudara Ha-Ha berteriak kegirangan dalam hati mengetahui bahwa sekolah yang menyebalkan telah usai. Akana-sensei – guru pelajaran sejarah Jepang – mengepak buku miliknya ke dalam tas dan berkata, "Besok jangan lupa mengumpulkan esai mengenai silsilah keturunan kekaisaran Meiji," yang disambut dengan erangan dari seluruh siswa. Setelah Akana-sensei membubarkan kelas dan berjalan keluar, para siswa langsung berdiri dari kursi dan pergi menuju tempat tujuan mereka selanjutnya; entah ada yang mau berkumpul bersama kawannya untuk pergi jalan-jalan, ada yang menuju kegiatan klub, dan ada yang langsung menuju pintu gerbang sekolah. Bagi Tiga Bersaudara Ha-Ha, tujuan mereka adalah ruang klub American Football yang ada di pojok sekolah – Deimon Devil Bats.
"Ugh..." Jumonji merenggangkan tangannya ke atas. "Pelajaran tadi sangat membosankan, terutama sejarah. Mana si tua itu memberikan tugas lagi."
"Heh, itu karena kau terus saja memperhatikan pelajaran. Harusnya kau rileks sedikit dong," tanggap Kuroki.
"Haa???" Jumonji tidak mengerti apa yang dimaksud oleh kawannya itu.
"Ya, ya, kau kan tidur terus selama pelajaran, jadi wajar saja kalau kau tidak merasa bosan," kata Togano menyindir.
"Hei! Kau sendiri tadi membaca komik melulu di bawah mejamu, kan! Kalau kau berbuat salah kenapa mengejek orang lain?" balas Kuroki.
Keduanya kini terlibat argumen seru, yang membuat kuping Jumonji jadi panas mendengarnya. Dia lantas berteriak.
"Aaahhh! Bisakah kalian diam sedikit? Kalau mau bertengkar, nanti saja! Lagipula, kita sudah sampai di ruang klub!"
Jumonji benar. Kini mereka sudah berdiri di depan gedung kecil dengan bagian depan yang didekorasi mewah, terutama gambar kelelawar merah – Devil Bat – yang menjadi ikon dari Deimon Devil Bats, semuanya sama persis dengan bentuk saat ruangan ini didekorasi dulu. Hanya perbadaannya adalah saat ini juga ada gambar kelelawar kecil warna merah muda di sebelah Devil Bats, sambil memegang piala Christmas Bowl. Tentu saja itu juga cuma gambar, bukan piala aslinya.
Kuroki dan Togano saling melirik, kemudian serentak menjawab. "Baiiikkk, aniki........"
Jumonji mengangkat alis mendengar julukan baru yang dialamatkan kepadanya. Mereka segera saja masuk ke dalam, menuju ruang loker, mengganti baju mereka dan segera berlari menuju ke lapangan latihan. Betapa terkejutnya mereka, lapangan kosong melompong, tidak ada seorangpun yang latihan.
"Hah? Bukannya harusnya sekarang sudah jam latihan? Dimana mereka?" tanya Togano keheranan.
Kuroki langsung berteriak kegirangan. "Ha ha, ini berarti latihan diliburkan! Kita pulang saja!"
"Kurasa tidak," kata Jumonji. "Mereka ada di sana."
Kuroki dan Togano melirik ke arah yang ditunjuk oleh Jumonji. Benar saja, anggota Devil Bats lainnya berkumpul di pinggir lapangan, tampaknya sedang membicarakan sesuatu. Tiga Bersaudara Ha-Ha segera berlari ke arah mereka.
Jumonji memperhatikan gerombolan kawan mereka dengan curiga. Tidak ada Hiruma maupun Mamori di sana.
'Ini aneh,' pikir Jumonji. 'Biasanya Mamori selalu datang tepat waktu sebagai manajer, tidak mungkin dia terlambat. Apalagi buat Hiruma, dia pasti akan selalu datang latihan. Mungkin ada sesuatu...'
"Hei, kawan-kawan..." teriak Kuroki. Seluruh anggota Devil Bats segera berbalik.
"Oh, itu tiga bersaudara!" kata Sena.
"Hei, Jumonji, Kuroki, Togano!" teriak Kurita senang melihat rekan lineman-nya datang.
"Kenapa kalian tidak latihan?" tanya Togano penuh ingin tahu.
Semua anggota Devil Bats langsung terdiam, tidak ada yang menjawab sepatah katapun. Tiga Bersaudara tembah heran melihat pemandangan ini.
Tapi, tentu saja ada idiot bermulut besar yang menjawab. "Ha ha ha, biar aku saja yang mewakili untuk menjawab. Kami berbicara soal Mamori dan Hiruma–uppphhh..." Suzuna langsung menyumbat mulut kakaknya dengan rumbai-rumbai cheerleader[1]. Yang lain melempar pandangan marah ke Taki. Di hadapan mereka, tiga bersaudara memasang muka terkejut.
"Hiruma...dan Mamori?" Kuroki tidak percaya, kenapa mereka berbicara soal mereka berdua.
'Jadi memang ada apa-apa antara mereka berdua...' batin Jumonji. 'Mungkin aku bisa tahu apa itu.'
"Ada apa dengan mereka berdua? Dan hei, mereka di mana?" tanya Togano, menyadari keabsenan dari Hiruma dan Mamori.
"Umm...mereka..." Kurita ragu-ragu sejenak, lalu melanjutkan, "mereka..."
"Ke ke ke, ada apa, gendut sialan?" tanya suara yang datang tiba-tiba dari belakang. Semua orang berbalik ke asal suara, dan mulut mereka menganga lebar. 'Panjang umur buatmu[2]' batin mereka bersamaan.
Di hadapan mereka, Hiruma berdiri dengan santai, mata setannya menatap tajam seperti biasa, balon besar dari permen karet tanpa gula kesukaannya berada di mulutnya. Dia sudah berseragam Devil Bats sambil memegang M4 yang disandarkan di bahunya. Di samping kirinya berdiri Mamori dengan T-shirt merah muda, ekspresi mukanya tampak tidak senang dan ceria, tidak seperti biasanya. Papan note dipeluknya erat di dadanya. Mereka menatap sesaat, sebelum mereka menyadari sesuatu yang lebih "aneh" telah terjadi.
Tangan Hiruma ada di bahu Mamori, dan tangan Mamori melingkari pinggang Hiruma.
Tiga Bersaudara, yang lebih terkejut melihat pemandangan ini, mengucek-ucek mata mereka, seolah tidak percaya hal ini bisa terjadi. Sekian lama kemudian, mereka berhenti. Pemandangannya tetap sama, tidak berubah.
"Ini...mimpi, kan?" tanya Togano.
"Kalau ini mimpi, maka ini adalah mimpi terburuk yang pernah kualami..." tanggap Kuroki.
"Err...seseorang, bisa kau tampar kami, agar kami tahu ini mimpi atau bukan..." pinta Jumonji bego.
"Oke," jawab Kurita begitu saja. Dia langsung mengayunkan lengan raksasanya ke arah Tiga Bersaudara, yang secara ajaib tepat mengenai pipi ketiganya. Dan tentu saja sebagai efeknya, mereka bertiga terlempar jauh, meninggalkan bunyi debuman keras.
Kurita panik melihat Tiga Bersaudara terlempar jauh. "A-ahh....maaf, aku tidak sengaja..." Dia segera berlari ke arah mereka, dan kepanikannya bertambah melihat bekas tapak tangannya yang besar dan merah di pipi mereka.
Kuroki dan Togano berdiri, ada aura jahat di sekeliling mereka, membuat Kurita merinding, sehingga alih-alih mendekat, Kurita malah menjauh.
"Dasar gendut idiot..." kata keduanya serempak dengan nada yang sangat kejam. Kurita mulai berlari, yang diikuti oleh Kuroki dan Togano. Mereka tiba-tiba dihentikan dari teriakan histeris Suzuna yang sangat memekakkan telinga.
"Ya ampun...Mamo-nee! Kau...dan You-kun...kalian berdua! Wow! Akhirnya kalian berdua jadian juga! Selamat! Selamat! Eh, jadi, bagaimana ceritanya?" Suzuna mulai mengeluarkan berbagai macam pertanyaan mengenai mereka berdua. Yang lain hanya bisa sweatdropped. Mungkin hanya Suzuna saja yang senang dengan "pasangan" itu – acuhkan Taki yang juga sama senangnya saat itu, karena dia idiot. Mereka tidak menyadari tatapan membunuh dari seseorang yang kini dibakar api cemburu luar biasa dalam dirinya.
Sebelum Mamori menjawab, Hiruma langsung berbicara. "Tunggu apalagi, cebol-cebol sialan? Cepat kita latihan!" Dan dia mulai menembak M4-nya, membuat yang lain ketakutan dan segera mulai latihan. Di pinggir lapangan, Mamori sibuk menjawab pertanyaan Suzuna.
Sena mau bersiap mengukur waktu larinya lagi ketika dia melihat Monta hanya berdiri di tempatnya, tidak bergabung dengan Taki dan Yukimitsu. Sedikit cemas, Sena menghampirinya.
"Er, Monta," Sena memanggil, 'kau tidak apa-apa..." Sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba dia merasakan hawa jahat dan menyeramkan yang keluar dari tubuh Monta, sama seperti yang biasanya dikeluarkan Hiruma.
Sayup-sayup, Sena mendengar Monta berbisik, "Tidak akan kubiarkan...tidak akan kubiarkan....kak Mamo direbut kak Hiruma begitu saja...tidak kubiarkan..."
'Oh, jadi itu...' batin Sena, masih waspada dengan Monta "mode cemburu" ini.
Tiba-tiba Monta berteriak "EUREKA!" dan menarik perhatian orang-orang di sekitar. Tapi Monta tidak menghiraukannya. Dan Sena masih bisa mendengar Monta berbisik lagi.
"...aku dapat...cara untuk menghentikan mereka...ha ha...pasti berhasil...."
Uh oh, sepertinya masalah ini bakal tambah runyam....Sena mulai menjauh dari Monta, takut mendengar yang lebih buruk lagi.
Selesai latihan Hiruma langsung menuju motornya. Mamori mengikuti di sampingnya. Hal ini membuat Hiruma jijik.
"Hei, manajer sialan! Apa yang kau lakukan?"
"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa-apa," kata Mamori.
"Dengar, ya, sekarang sudah pulang sekolah, tidak ada yang melihat kita, jadi kenapa kau dekat-dekat terus?"
"Memangnya ada masalah dengan itu?" Mamori merasa kesal dikatai Hiruma seperti itu. Dia tidak tahu kenapa. Tiba-tiba dia menemukan jawabannya di dalam kepalanya. "Hmm, jangan bilang kalau tuan Hiruma yang terkenal ini takut dekat-dekat dengan perempuan?" kata Mamori mengejek, seringai kecil menghiasi bibirnya.
Hiruma tidak menjawab, hanya terus saja berjalan. Ketika dia sampai di motornya, Hiruma tiba-tiba melemparkan helm ke arah Mamori yang bermaksud ke arah lain. Untungnya Mamori masih bisa melihat helm yang terbang itu dan menangkapnya tepat waktu.
"Hei! Apa maksudmu?" Mamori menegur Hiruma dengan suara yang keras dan agak kasar, jengkel melihat kelakuan Hiruma.
"Diam dan cepat naik!" Hanya itu saja jawaban yang keluar dari mulut Hiruma, dia lalu naik ke atas motor. Mamori masih memegang helm pemberian Hiruma dengan kesal, sebelum memasangnya di kepalanya dan juga ikut naik ke atas motor.
"Ugh..." Mamori merasa mual, sehabis merasakan "balapan" dengan Hiruma di jalanan. Kali ini mereka dikejar oleh 3 personil mobil patroli, dan masuk sembarang saja ke pekarangan rumah orang lain. Mami Anezaki – ibu Mamori – menyambut anaknya yang sudah pulang dan berdiri di depan pintu.
"Mamori! Bagaimana, apa sekolahmu menyenangkan?" tanya Mami, tapi Mamori tidak menjawab. Mami cemberut sedikit. Tidak biasanya Mamori diam seperti ini, biasanya dia selalu menyapa ibunya kalau sehabis pulang. 'Mungkin ada masalah,' batin Mami.
Setelah melepas sepatunya, Mamori hanya menyapa ibunya dengan "hai, ibu" dan pergi ke kamarnya. Hati Mami Anezaki tambah gundah melihat dinginnya sikap Mamori.
Mamori langsung merebahkan tubuhnya di ranjangnya yang empuk segera setelah dia masuk kamar. Dia merasa jengkel karena sikap Hiruma. Sebenarnya ada maksud lain dia menawarkan Hiruma menjadi pacar palsunya selama seminggu, karena dia mau mengenal Hiruma lebih jauh. Selama ini Hiruma selalu diam dan menyembunyikan masalahnya sendiri saja, jarang terbuka kecuali kepada Kurita dan Musashi, itupun juga cuma sedikit saja. Mamori berpikir, mungin cara ini bisa mendekatkan dirinya dengan Hiruma, jadi dia bisa sedikit terbuka. Tapi melihat sikap Hiruma, tampaknya agak sulit buat Mamori untuk sukses.
"Ugh! Dia benar-benar susah dimengerti!" gerutunya. Tiba-tiba sesuatu menghantam kepalanya. Dia langsung sadar sikap dinginnya kepada ibunya tadi. Ini tidak seperti Mamori yang biasanya. 'Kok, aku bisa begitu, seperti Hiruma saja...tunggu! Seperti Hiruma?' Mamori terkejut dengan pikirannya sendiri. 'Masa sih aku sudah sama seperti Hiruma, padahal hanya sehari saja dekat dengannya? Bagaimana jadinya kalau tujuh hari?"
"Ugh! Hiruma baka!" teriak Mamori, membenamkan mukanya di bantal.
[1] Apa benar namanya seperti itu? Yang biasanya dipakai Suzuna dan para cheerleader lainnya di tangan, yang berumbai-rumbai? Semoga benar saja...
[2] Umm...kalimat "Panjang umur buatmu" maksudnya kalimat "Speak of devil" dalam bahasa Inggris, tapi aku tidak tahu apa terjemahan bagusnya ke dalam bahasa Indonesia. Ini kuambil dari . Maksud kalimat itu, ketika berbicara mengenai seseorang, dia tiba-tiba muncul.
Selesai juga chapter ini! Lama ya...tapi aku akan berusaha lebih mempersingkat. Dan mungkin agak OOC, terutama buat Monta dan Mamori. Dan juga maaf kalau adegan HiruMamo-nya kurang atau kurang memuaskan. Tapi ini kan masih hari pertama, jadi wajar saja mereka begitu. Tunggu saja di chapter selanjutnya, hari kedua! Apa rencana menyeramkan Monta? Bagaimana Mamori bisa tahan dengan sikap Hiruma?
Ja ne.....!
