Chapter 02
Segel Kutukan
.
.
.
Lucien kecil mengikuti langkah Kakek Chuck yang memasuki desa elf tersembunyi sembari menggandeng tangannya. Sepasang netra lavender itu menatap berkeliling, membulat penuh kekaguman demi memasuki sebuah dunia baru yang asing baginya.
Beberapa menit sebelumnya, ia bersama Kakek Chuck dan Mills masih berada di sebuah hutan. Sangat berbeda dengan hutan mana pun yang pernah dilihat Lucien—ia dan kedua orang tuanya sudah pergi ke berbagai tempat dan hampir selalu memilih bertempat tinggal dekat dengan hutan. Daripada hutan, tempat ini lebih pantas disebut rimba raya. Banyak pohon raksasa yang usianya mungkin sudah ratusan tahun. Tidak sedikit pula tetumbuhan maupun hewan yang tak pernah dilihat Lucien sebelumnya. Belum lagi suasana magis yang seolah melingkupi seluruh hutan.
Omong-omong soal suasana magis, apa yang dilihat dan dirasakan Lucien semenjak memasuki area hutan, tak sebanding dengan satu tempat itu. Sebuah tempat lapang—padang rumput—yang nyaris tak ada apa-apanya selain pohon raksasa tepat di tengah-tengahnya. Bahkan Lucien kecil pun bisa merasakan bahwa pohon itu bukanlah pohon biasa. Ditambah satu fakta mengejutkan, bahwa sepasang mata Lucien mampu melihat warna sang pohon, walau hanya samar-samar.
"Pohon ini bernama Yggdrasil. Mungkin kamu sudah sering mendengar cerita tentangnya. Manusia menyebutnya sebagai 'Pohon Dunia', yang dipercaya dapat menghubungkan dunia ini dengan dunia yang berbeda."
Demikian Kakek Chuck telah memberi tahu Lucien. Pohon itu sendiri telah membuat Lucien kecil merasa takjub. Terlebih ketika Kakek Chuck mengucapkan mantra dalam bahasa kuno para elf untuk memunculkan semacam 'pintu' berupa cahaya keemasan berbentuk segi empat setinggi orang dewasa. Lucien sedikit berdebar saat Kakek Chuck mengajaknya masuk menembus cahaya itu. Dan makin berdebar ketika melihat apa yang ada di baliknya.
Sebuah desa yang begitu luas sejauh mata memandang. Saking luasnya, Lucien kecil merasa tempat itu lebih mirip negara kecil seperti di dalam dongeng. Dengan rumah-rumah kayu yang hampir semuanya memiliki halaman dengan taman kecil nan elok. Ada pula toko-toko serta kios yang tampaknya terkumpul di satu area tersendiri. Lucien tak bisa mencegah dirinya yang terus mengedarkan pandang dengan antusias.
Namun, antusiasme itu segera tergantikan oleh sesuatu yang lain. Perasaan gamang karena berkali-kali ia harus bertemu pandang dengan berpasang-pasang mata beriris terang. Pemiliknya adalah para elf berbagai usia, yang kesemuanya tampak rupawan dengan rambut panjang mereka yang berkilauan di bawah cahaya hangat mentari pagi.
Lucien memperhatikan para elf itu memiliki ciri fisik seperti ibunya. Bertubuh ideal yang akan membuat para manusia iri, dengan daun telinga mereka yang runcing. Lucien sendiri juga memiliki ciri yang hampir sama. Akan tetapi, sebagai half-elf, setidaknya Lucien tahu bahwa bentuk telinganya tidak selancip elf, juga tidak seperti telinga manusia.
Perasaan terasing kembali menyelimuti bocah kecil itu. Di antara para elf maupun di tengah-tengah manusia, ternyata sama saja. Ia tetaplah keberadaan yang 'berbeda'.
Apakah para elf penghuni tempat ini tidak menerima kehadirannya?
Kakek Chuck merasakan kegelisahan Lucien yang tiba-tiba saja mengeratkan genggaman tangannya. Sang Elder para elf pun balas menggenggam tangan anak itu sedikit lebih erat, bermaksud menenangkannya. Lucien mengarahkan pandang kepada Kakek Chuck, dan melihatnya tersenyum hangat.
"Nak, sekarang kita akan ke rumah Kakek."
Lucien hanya mengangguk. Langkah-langkah kecilnya mengikuti Kakek Chuck yang berjalan perlahan. Di persimpangan pertama yang mereka temui, Paman Mills memisahkan diri, hendak kembali ke rumahnya sendiri. Sedangkan Kakek Chuck terus membawa Lucien melangkah lurus ke depan. Ke sebuah area desa yang tampak lebih sunyi.
Berbeda dengan bagian desa sebelumnya yang begitu hidup, tempat ini terasa sangat damai. Rumah penduduk pun jarang-jarang. Di ujung jalan, tampaklah rumah pohon yang terlihat megah di antara rumah-rumah lain. Berbeda dengan rumah kayu para penduduk pada umumnya, rumah yang ini benar-benar dibuat dari sebatang pohon besar. Lucien kecil menatapnya takjub, bertanya-tanya bagaimana caranya membuat ruangan-ruangan di dalam pohon itu hingga akhirnya bisa menjadi sebuah rumah.
Tepat ketika Kakek Chuck hendak meraih pegangannya, pintu rumah mendadak terbuka. Dari baliknya, seorang anak perempuan menyambut. Ia begitu mungil, usianya mungkin tak lebih dari tiga atau empat tahun. Wajahnya berubah ceria saat melihat siapa yang datang.
"Kakek!" gadis cilik itu berseru sambil menubruk dan memeluk Kakek Chuck erat-erat, memancing sang Elder untuk tertawa.
Sementara itu, Lucien menatap si gadis kecil nyaris tanpa berkedip. Sepasang matanya melebar, lantas berkaca-kaca sejenak. Di dalam penglihatannya, cucu Kakek Chuck tampak berbeda dengan segala hal yang dilihatnya di tempat ini. Dia penuh warna. Bahkan, warna yang bisa dilihat Lucien dari anak itu, lebih cemerlang daripada warna yang terlihat dari sang ibu. Lucien pun bisa melihat warna di sekeliling gadis cilik itu hingga radius beberapa jengkal.
Lucien tersentak samar ketika tiba-tiba bertemu pandang dengan si anak perempuan untuk pertama kalinya. Gadis kecil itu refleks menyembunyikan diri di belakang punggung sang kakek. Sesekali ia mengintip malu-malu ke arah Lucien. Sepasang mata bulatnya yang beriris cokelat madu itu dipenuhi sekelumit gelisah, sekaligus sorot penasaran.
"Ayo, Noa, jangan seperti itu." Kakek Chuck terkekeh lembut. "Sini, sini. Biar Kakek kenalkan."
Kakek Chuck mencoba menuntun cucunya untuk maju ke depan. Namun, anak itu menolak, tetap memilih bersembunyi di balik punggung kakeknya. Lucien yang melihat itu pun berinisiatif maju, lantas berlutut tak begitu jauh dari si gadis cilik, tetapi tetap menjaga jarak.
"Halo ... Namaku Lucien."
Lucien tersenyum tipis. Anak perempuan itu memiringkan kepalanya sejenak. Kemudian ditatapnya Kakek Chuck dengan sorot mata bertanya-tanya. Sang kakek pun menepuk puncak kepala cucunya perlahan.
"Noa, ayo beri salam pada Kak Lucien."
Anak itu mengerjap. "Kakak Lu ...?"
"Iya, betul." Lucien kembali tersenyum, kali ini hingga kedua matanya tertutup. "Nama kamu siapa?"
"Noa!" Anak itu mengulurkan empat jari tangan kanannya ke arah Lucien. "Empat tahun."
"Anak pintar." Sekali lagi, Kakek Chuck menepuk lembut kepala Noa. "Mulai sekarang, Kakak Lucien akan tinggal bersama kita."
Tatapan mata Noa yang sepenuhnya terfokus kepada Lucien setelah itu, dipenuhi oleh rasa ingin tahu. Gadis cilik itu akhirnya berani keluar dari persembunyiannya, lantas berdiri di dekat Lucien.
"Kakak Lu," katanya kemudian. "Nanti main sama Noa?"
Lucien menatap Noa lembut. "Hm. Nanti kita main sama-sama."
"Yay~"
Noa tertawa kecil. Lucien terpana, menyaksikan betapa warna-warni di sekitar Noa meluas hingga beberapa jengkal lagi. Ia pun merasakan kehangatan kecil di dalam hatinya, tiap kali menatap wajah ceria gadis cilik itu.
"Lucien."
Sepasang netra lavender itu membeliak sedetik, demi mendengar satu suara yang teramat familier. Yang selalu dirindukannya. Ia berbalik, dan melihat ibunya berdiri di sana. Tidak sendirian.
"Ibu! Ayah!"
Lucien berlari mengejar, seiring sekelilingnya yang tiba-tiba saja berubah menjadi hutan lebat. Akan tetapi, sosok ayah dan ibunya justru makin jauh, walaupun keduanya sama sekali tidak bergerak dari posisi semula. Lucien menghentikan langkah. Ia ingin memanggil, tetapi terhenti ketika melihat kedua orang tuanya tersenyum sendu.
"Tumbuhlah menjadi pria yang kuat, Nak," ucap sang ayah.
Ibunya pun menyambung, "Teruslah hidup dan temukan kebahagiaanmu, anakku."
Kedua sosok itu kemudian berbalik, lalu melangkah pergi. Lucien tersentak. Ia mulai berlari mengejar. Namun, seperti yang sudah-sudah, jarak di antara dirinya dan kedua orang tuanya makin lebar.
"Ayah! Ibu!"
Lucien berseru sembari terus berlari. Air mata keputusasaan mengalir, menyadari usahanya sia-sia. Sosok ayah dan ibunya terus menjauh dengan kecepatan yang mustahil disusulnya. Lantas lenyap di kejauhan. Langkah Lucien melambat, lantas terhenti, sementara ia masih menangis tanpa suara.
"Half-elf rendahan!"
Lucien kecil kembali tersentak oleh suara lain di belakang punggungnya. Ia cepat-cepat menghapus air mata, lantas berbalik. Seketika itu, dirinya sudah kembali berada di desa, di area pinggirannya yang sepi. Sosoknya pun telah menjadi sosok dirinya yang dewasa. Sementara tak jauh di hadapannya, tampak ketiga pemuda elf yang telah bertahun-tahun menjadi musuh bebuyutannya. Kyle, Kim, dan Fran.
"Kalau kau masih punya rasa malu, cepat tinggalkan desa ini!" kata Fran dengan mata menyorot tajam oleh amarah.
Kyle pun menatap Lucien begitu sinis. "Tidak tahu diri."
"Apa kau tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu?" Kim pun berkata dengan kedua lengan terlipat di depan dada. "Kau tidak diterima di sini."
Lucien tersentak samar, lantas matanya berkaca-kaca. Tanpa disadarinya, di sekeliling mereka berempat pun warga desa telah berkumpul.
"Kenapa kita harus menerima half-elf di sini?"
"Dia akan membawa malapetaka!"
"Usir half-elf itu sebelum terlambat!"
Suara-suara tumpang tindih di dalam pendengaran Lucien. Ia memejamkan mata, tetapi nada-nada kebencian itu makin dalam menusuknya. Ia merasa terpojok, tak ada tempat untuk lari.
"Kau punya darah dark elf yang terkutuk, bukan?!"
Sekali lagi, Lucien tersentak. Ia membuka mata kembali, lantas dengan cepat memandang berkeliling. Siapa? Siapa yang mengatakan itu? Bagaimana mungkin warga desa bisa tahu ...?
"Lucien ... Apa benar kamu keturunan dark elf?"
Suara lembut yang biasanya selalu menenangkan itu, kini terasa lebih tajam daripada pedang. Lucien berbalik perlahan, hanya untuk menemukan sosok Noa yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa ... Kenapa kamu nggak pernah bilang apa-apa?" gadis itu menuntut. "Kenapa ... kamu membohongiku ... selama bertahun-tahun?"
Lucien menarik napas dengan berat. "Noa ... aku ..."
"Lucien, aku benci padamu!"
Noa berbalik, lantas berlari pergi. Lucien merasakan sesuatu yang berat seolah menghantam dadanya. Tangannya setengah terulur, terhenti di udara, tak berdaya untuk menggapai Noa yang menghilang dengan cepat dari pandangan. Sebagaimana warna-warni yang lenyap, hanya meninggalkan satu dunia monokrom baginya. Sementara, kalimat demi kalimat para warga desa, terdengar bagai dengungan beracun yang siap menghancurkan Lucien kapan saja.
"Noa ..."
Di tengah udara yang kian menyesakkan, Lucien hanya bisa berucap lirih, memanggil satu nama. Milik seseorang yang mungkin takkan pernah mau memandangnya lagi.
"Maafkan aku ... Noa."
.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
"Mr. Love: Queen's Choice/Love & Producer" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Papergames/Elex©
Fan fiksi "Ethereal" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fan fiksi ini.
AU. Fantasy-Drama-Romance. Maybe OOC. MC menggunakan nama "Noa".
WARNING! Rate T/T+ for some violence, coarse language, and probably blood.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
.
Lucien tergeragap bangun dengan napas memburu. Peluh membasahi tubuhnya. Butuh waktu sekian detik, hingga ia menyadari dirinya sedang berada di kamarnya sendiri, duduk di atas ranjangnya sendiri.
"Mimpi ...?"
Hingga semenit lewat, Lucien tak juga mampu menenteramkan napasnya. Gambaran-gambaran dari mimpi itu bagaikan momok yang tak bisa lepas dari ingatan. Sudah lama sekali Lucien tidak memimpikan masa lalu. Pertemuan pertamanya dengan Noa sewaktu kecil memang benar-benar terjadi, tepat seperti yang selalu diingatnya, penuh dengan keindahan.
Namun, mengapa mimpi indah itu harus ternoda? Oleh ketakutannya sendiri. Oleh masa depan yang belum tentu akan terjadi. Meskipun begitu, Lucien tak bisa memungkiri perasaannya sendiri. Rasa terasing ini. Kenyataan bahwa ia memang menyembunyikan kenyataan penting tentang dirinya dari semua orang.
Termasuk dari Noa. Terutama dari Noa.
Seandainya satu fakta ini terungkap suatu hari nanti, apa yang akan terjadi? Lucien selalu berpikir, barangkali itulah saatnya ia harus meninggalkan desa ini. Kalau hanya itu, dia masih bisa menerimanya dengan lapang dada. Sejak awal, dirinya memang hanya pendatang, bukan? Akan tetapi, Lucien tak sanggup membayangkan jika Noa benar-benar menolak dirinya.
"Ukh—"
Di tengah gelombang emosi yang menerpa tiba-tiba, Lucien merasakan napasnya sesak. Seiring dengan nyeri menusuk jantungnya yang terasa seolah diremas. Pemuda itu mencengkeram dada kirinya, sembari berusaha menarik napas. Namun, sampai lama, rasa sakit itu tak juga hilang, justru makin menjadi.
Lucien merasakan tekanan yang familier itu lagi di dadanya. Rasanya seperti terimpit. Tak usah melihat pun, ia tahu, saat ini di balik pakaiannya, tanda itu tengah menyala dalam cahaya redup. Lambang magis yang terukir di dada kirinya, semenjak dirinya masih kanak-kanak.
Lambang segel kutukan.
Perlahan, Lucien beringsut menuju tepi ranjang, bermaksud mengambil sesuatu dari laci meja kecil di samping ranjang. Namun, niat itu terhenti oleh rasa sakit yang makin tak tertahankan. Pemuda itu terhempas kembali ke tempat tidurnya. Pada akhirnya, ia hanya bisa meringkuk kesakitan, sementara kesadarannya perlahan memudar.
Nyaris tanpa sadar, Lucien berusaha menggerakkan tangan kanannya yang gemetaran. Sekuat tenaga mencoba menjangkau laci meja. Ia sama sekali tak yakin dirinya masih punya cukup tenaga untuk membuka laci itu. Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh pegangannya, laci itu mendadak terbuka. Dari dalamnya, kalung platina berliontin ametis melayang keluar. Lantas mendekati tangan Lucien, hingga pemuda itu bisa meraihnya.
Lucien menggenggam liontin ametis itu erat-erat, kemudian mendekatkannya ke dada kiri. Cahaya ungu berpendar lembut dari liontin, perlahan membuat Lucien merasa lebih tenang. Rasa sakit dan sesak di dadanya pun pelan-pelan memudar. Di saat yang sama, tiba-tiba ia merasa begitu letih. Seperti yang biasa terjadi setiap kali dirinya mengalami hal yang sama.
Memang, ini bukan pertama kalinya terjadi. Sejak bertahun-tahun lalu, entah sudah berapa kali rasa sakit itu bisa saja datang sewaktu-waktu. Dan setiap kali, Lucien hanya bisa mengandalkan liontin pemberian sang ibu untuk meredakannya. Pemuda itu pun memejamkan mata. Ditariknya napas dalam-dalam secara berulang, mencoba mencari kelegaan.
" ... cien ... Lucien ...?"
Mata Lucien yang sudah memberat, perlahan membuka kembali. Sementara ia menajamkan pendengaran. Mencoba memastikan apakah suara familier yang sayup-sayup didengarnya tadi hanyalah ilusi.
"Lucien? Kamu ada di rumah?"
Meskipun samar, akhirnya Lucien yakin bahwa dirinya tidak berhalusinasi. Ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya, sembari memanggil-manggil dirinya.
"Noa ..."
Dengan susah payah, Lucien berusaha bangkit kembali. Dijadikannya tangan sebagai tumpuan untuk menolakkan tubuhnya perlahan, hingga akhirnya mampu untuk duduk di tepi ranjang. Rasa sakit seketika menyesakkan dada, membuatnya harus merintih tertahan sembari memejamkan mata rapat-rapat.
Sedikit gemetar, tangan kanan Lucien yang masih memegang liontin bergerak perlahan ke dada kiri. Liontin itu pun masih bersinar lembut. Masih terasa begitu hangat. Kali ini, sakit dan sesak yang dirasakan Lucien menghilang dengan cepat. Saat membuka mata kembali, Lucien sudah merasa lebih baik. Namun, satu perasaan gamang yang sama, tetap saja membayangi sorot mata sendunya.
"Noa ... tidak perlu tahu ..."
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
"Lucien mana, sih? Lama banget buka pintunya."
Noa berdiri cemberut di depan pintu rumah Lucien yang bergeming sepi. Gadis itu sudah mondar-mandir beberapa kali ke dekat jendela kaca. Mencoba melongok ke dalam dengan sia-sia. Bagian dalam rumah tampak temaram, tiada tanda-tanda kehidupan. Cahaya matahari pagi yang belum terlalu terang, hanya sedikit yang bisa masuk melalui jendela kaca bening itu.
"Nggak kelihatan apa-apa."
Gadis itu kembali menempatkan diri di depan pintu. Kali ini, ia terdiam lama. Menimbang-nimbang apakah lebih baik ia mencoba untuk masuk saja.
Rumah kayu milik Lucien ini mungil, dengan halaman asri yang melebihi luas rumahnya. Tanaman hias dan bunga tumbuh di mana-mana, menunjukkan sang pemilik rumah yang suka memelihara tanaman.
Di samping kanan rumah, tumbuh pula sebatang pohon besar yang arah tumbuhnya miring ke atas atap rumah. Seolah ingin menaungi rumah kecil itu dengan daun-daunnya yang rimbun. Walaupun jauh lebih kecil, tetapi Noa tahu, pohon itu berasal dari benih yang sama dengan rumah pohon kakeknya. Yaitu benih yang tersemai dari biji buah yang jatuh dari Pohon Kehidupan, Yggdrasil.
Karena itulah, Noa memiliki 'kunci' untuk bisa memasuki rumah ini kapan pun ia mau. Sama seperti ia bisa memasuki rumah kakeknya. Kedua rumah yang merupakan harta penting milik kaum elf.
Noa menarik napas dalam-dalam, lantas memejamkan mata. Tubuhnya pun perlahan diliputi cahaya samar keemasan. Gadis itu membuka matanya kembali, memantapkan hati untuk mengulurkan tangan meraih pegangan pintu. Namun, tepat sebelum ia menyentuhnya, pintu itu mendadak terbuka.
Noa tersentak, sementara detak jantungnya menguat tanpa ia kehendaki. Disertai desir hangat yang selalu timbul setiap kali menatap wajah yang baru saja muncul dari balik pintu.
"L-Lucien ..."
Ucapan gadis itu terputus. Ia pun mengalihkan pandang, sedikit salah tingkah. Sementara Lucien mengulas senyum samar. Tatapannya yang jatuh pada Noa begitu lembut, sama seperti biasanya.
"Rupanya ada yang begitu tidak sabar ingin menerobos masuk ke dalam rumahku."
Noa cemberut seketika. Saat menatap kembali ke depan, dilihatnya kilatan jahil di mata Lucien.
"Salah sendiri. Buka pintu aja lama banget."
Lucien tertawa kecil. "Baiklah, aku yang salah."
Pemuda itu bergeser ke samping. Dengan gerakan tangan, dipersilakannya Noa untuk masuk.
"Kupikir kamu masih marah padaku."
Noa mengangkat sebelah alis mendengar ucapan Lucien beberapa saat kemudian. Pemuda itu baru saja menutup pintu, lantas menghampiri Noa yang meletakkan wadah kotak yang dibungkus kain floral merah muda di atas meja ruang tamu.
"Tadinya aku hampir lupa kalau aku masih marah padamu." Noa berkacak pinggang dengan sorot mata tajam menuntut. Hanya sedetik, sorot itu melembut, seiring bibirnya yang membentuk selintas senyum tipis. "Kakek menyuruhku membawakan sarapan untukmu. Kamu pasti belum makan, 'kan?"
Lucien mengerling bungkusan di meja, tepat di belakang punggung Noa. "Terima kasih, nanti akan kumakan. Lalu?"
"Lalu apa?"
"Kamu kemari cuma karena disuruh kakekmu? Bukan karena kangen padaku?"
"Ge-er banget."
"Habisnya ... sudah beberapa hari ini kamu tidak mau bicara padaku. Sejak kita bertengkar waktu itu. Aku jadi kesepian."
Noa diam sedetik. "Memangnya kita bertengkar?"
"Oh? Memangnya tidak?"
Noa kembali salah tingkah. Gadis itu merasa butuh keberanian yang sangat besar untuk tidak mengalihkan pandang lagi dari kedua mata Lucien yang lembut, tetapi juga sedalam jurang yang tak pernah bisa ia lihat dasarnya.
"Aku minta maaf," kata Noa akhirnya. "Seharusnya aku nggak bicara seperti itu padamu."
"Aku mengerti. Kamu hanya mencemaskan aku, bukan? Terima kasih, Noa." Sepasang netra lavender itu goyah sejenak. "Tapi aku sudah memutuskan untuk mengikuti Ethereal Quest. Aku tidak akan berubah pikiran."
"Aku tahu." Noa tersenyum, kemudian membalikkan badan. "Karena itulah, aku juga tidak mau kalah."
Kening Lucien berkerut demi mendengar ucapan Noa. Sebelum pemuda itu sempat bertanya, Noa sudah menautkan kedua tangan di belakang punggungnya. Kemudian menoleh ke arah Lucien.
"Aku juga akan mengikuti Ethereal Quest tahun ini."
.
.
.
Bersambung ...
.
.
.
* Author's Note *
.
Hai, haiii~! \(^o^)
Fic ini akhirnya berlanjut lagi setelah libur dua bulan. Dari cerita yang (harusnya) pendek, nggak disangka akan jadi sepanjang dan sekompleks ini. Tapi aku sangat menikmati saat menulisnya.
Dan Lucien pun tersiksa lagi. Maaf, Lucien. Sabar sebentar, ya. Semua pasti akan indah pada waktunya. (T▽T)💜 *halah*
Buat para pembaca yang masih ngikutin cerita ini sampai di sini, makasih banyak, yaa~ 😆💕
Nantikan terus kelanjutan kisahnya. 😉
.
Regards,
kurohimeNoir
25.02.2023
