Pulang.

Di antara sinar lampu yang semakin terang ke dalam redupnya malam dan layar komputer yang menyala, Heiji mengeritkan gigi mengingat rasa sakit pada ulu hatinya dua hari lalu, sementara matanya melihat gambaran sang pelaku.

Jika ada yang bertanya siapa orang paling berharga dalam hidupnya, Heiji Hatori tanpa ragu akan menjawab bahwa Kazuha adalah yang nomer satu, dan nomer duanya adalah Shinichi. Ia dan Shinichi sangat mirip dulu, bagai saudara, meski harus diakuinya bahwa Shinichi memiliki kemampuan analisa lebih tinggi, dan di dalam hati kadang ia merasa iri. Namun tetap saja, Shinichi Kudo adalah teman baik sekaligus rivalnya, serta sosok yang menginspirasi bagi Heiji untuk terus maju.

Kecuali, sekarang... Karena selain sebagai seorang pecundang yang menyedihkan, Shinichi Kudo juga seorang pemabuk yang terus membuang-buang waktu dan uang.

Heiji tidak menyimpan dendam atas perkelahian mereka, sungguh. Kekesalannya justru karena Shinichi telah menyia-nyiakan kemampuan sebagai detektif hebat. Mungkin jika Heiji dalam posisi yang sama, ia juga akan sangat terpukul saat wanita yang dicintainya menghilang secara tiba-tiba. Namun ia tidak akan terus-terusan larut dalam kesedihan, atau dengan sengaja menyiksa diri sendiri sambil menunggu kematian, seperti apa yang Shinichi lakukan.

Gigi-gigi Heiji mengerit semakin erat, menimbulkan suara gemertak. Ia meninggalkan rekaman CCTV yang menunjukan keadaan di dalam mansion yang Shinichi tinggali, dan menggerakan kursor ke beberapa menu untuk melihat rekaman CCTV lain pada hari-hari sebelumnya, melaksanakan niat awalnya yang tertunda. Sejak awal ia hanya ingin mencari rekaman CCTV yang bisa menjadi bukti perlakuan kasar Shinichi terhadap Ran dan Ichigo. Ran baru saja menanyakannya, dan meski tahu hal ini akan memberatkan Shinichi dalam persidangan, Heiji tetap harus memberikannya pada Ran atas nama keadilan. Namun saat menyalakan komputer, yang ia dapati justru gambaran Shinichi yang terbaring di atas sofa ruang tamu, yang terekam dalam posisi sama sejak pagi hari hingga malam itu.

Seraya menelan ludahnya sendiri yang pahit, Heiji membanting kepala ke sandaran kursi kerja, lalu menutup mata. Dalam benaknya ia dapat dengan jelas melihat kembali tindakan-tindakan bodoh yang dilakukan oleh Shinichi sebulan terakhir ini. Ia sudah tidak ingin lagi membantu Shinichi karena itu akan melukai egonya sebagai seorang pria. Namun, ia juga tidak mampu menekan empatinya sebagai seorang manusia. Ego dan perasaannya seolah bertarung dan Heiji harus memilih salah satunya sekarang juga.

Dengan menggenggam erat egonya dalam takupan tangan, Heiji membuka kelopak dan menegakan badan. Matanya menatap tajam pada layar yang menampilkan kolom email dimana alamat Ran sebagai tujuan, lalu menyentak tombol power pada komputer sebelum berdiri dan berlari.

Inilah keputusannya: menyelamatkan Shinichi sekali lagi.

Namun kali ini atas nama kemanusiaan, bukan pertemanan.


Tut! Tut! Tut!—

Kazuha menarik ponsel menjauhi telinga, melihat daftar keterangan panggilan dari nomer yang baru saja dihubunginya. Wajahnya yang menggambarkan kecemasan terangkat perlahan ke arah tempat Heiji berada, yang sedang memakan bekal makan siang yang baru saja ia bawakan. Ia tidak ingin mengabarkan berita buruk sekarang dan membuat sang suami kehilangan selera makan setelah semalaman tidak tidur karena mengurus Shinichi yang masuk rumah sakit. Bahkan tadi pagi suaminya juga tidak sempat sarapan.

Kepala Kazuha kembali tertunduk, kali ini bersamaan dengan tangannya yang menggenggam ponsel terjatuh lemas di samping tubuh. Ia menyandar pada dinding di depan pintu masuk ruang kantor dan menarik napas dalam-dalam sebelum menegakan badan lalu berjalan ke dalam. Ruang kantor yang luas dengan isi sembilan set meja itu kosong kecuali meja Heiji yang berada di paling pojok ruangan, terpisah dari set meja lain, dan menghadap ke arah berlawanan. Para polisi yang lain memanfaatkan jam makan siang ini untuk meninggalkan kantor, berbeda dari Heiji yang lebih memilih makan di tempat karena harus mengejar pekerjaan yang sempat terbengkalai selama cuti pernikahan.

Kazuha berhenti berjalan di depan meja Heiji dan duduk di kursi seberang suaminya. Ia diam memperhatikan bagaimana gerakan pria itu yang lamban seperti tidak berselera makan. Saat itu, Kazuha tahu, meski tidak ingin, ia tetap harus memberitahukan berita ini pada sang suami sekarang karena berita ini juga salah satu hal yang sedang suaminya resahkan.

"Persidangannya sudah selesai tiga jam yang lalu." Pemberitahuan tidak menyenangkan itu akhirnya Kazuha sampaikan, seraya mengangkat pandangan dan menunggu Heiji balik memandang sebelum meneruskan. "Mereka resmi bercerai hari ini."

Dapat dilihatnya bagaimana kabar itu membuat tubuh Heiji menegang beberapa saat sebelum pria tersebut meletakan sumpit ke atas kotak bekal yang masih setengah isi, lalu menunduk. Kazuha meniru gestur itu, sebelum meremas-remas ponsel yang ia genggam dengan kedua tangan. Ia menghela napas secara pelan dan kembali bicara, "Hak asuh Ichigo jatuh ke tangan Ran sepenuhnya."

Kazuha mendengar setelah itu suara kursi kerja Heiji berderit, yang mana membuatnya mengangkat pandangan. Suaminya kini menyandarkan punggung dan kepala ke sandaran kursi sembari menutup mata. Salah satu tangan Heiji terangkat dan berakhir memijit kening. Kazuha tahu apa yang membuat suaminya begitu frustasi. Shinichi adalah teman baik Heiji, dan Heiji secara tidak langsung telah membantu Ran memenangkan persidangan dengan memberikan bukti rekaman CCTV mansion.

"Ini bukan salahmu, Heiji. Kau hanya melakukan apa yang benar." Ujar Kazuha dengan suara pelan. "Bahkan tanpa kau membarikan rekaman CCTV itu pun, dengan semua masalah yang dibuatnya akhir-akhir ini, Kudo tidak mungkin bisa menang di pengadilan."

"Aku tidak memberikan rekamannya." Suara Heiji menyambung dengan pelan, namun tetap saja mampu membuat Kazuha tersentak.

Dilihatnya Heiji masih dalam posisi sama sebelum sang suami menurunkan tangan dan membuka mata perlahan. Kepala Heiji menengadah ke arah langit-langit ruangan saat Kazuha mendengar lanjutan dari kalimat barusan.

"Semalam setelah membawa Kudo ke rumah sakit, aku menelpon Ran-neesan... Aku berbohong padanya." Lemahnya nada di suara itu dimengerti oleh Kazuha apa yang menyebabkan. "Aku bilang bahwa CCTV di mansion itu rusak dan tidak merekam apapun..."

Ketika akhirnya Heiji menegakan duduk dan meluruskan pandangan, Kazuha justru menundukan kepala menatap genggaman tangannya yang terpangku di atas paha. Ia tidak merasa bahwa tindakan Heiji salah. Namun ia tahu bahwa hal itu tidak benar. Meskipun, sebenarnya tidak akan ada banyak perbedaan jika Heiji memberikan rekaman CCTV mansion itu, karena bagaimana pun hasilnya pasti akan sama; Shinichi dan Ran tetap akan bercerai juga.

"Aku merasa bersalah justru karena aku telah berbohong." Lanjut Heiji setelah beberapa detik.

Kazuha menelan ludahnya, bersamaan itu pula menelan segala penghakiman pada Heiji. Ia dan suaminya sama-sama dalam posisi yang serba salah, dan ia mengerti. Mereka berdua tidak dapat memihak hanya pada Ran maupun Shinichi saat ini. Baik logika Kazuha maupun Heiji, saat ini bertentangan dengan perasaan masing-masing, dan karena hal itulah apapun yang mereka lakukan akan terasa salah.

"... Kudo sebenarnya ingin membatalkan perceraian mereka dan bahkan menyampaikan permintaan maaf melalui pengacaranya." Kata Kazuha setelah hening panjang. "Tapi kedua orang tua Ran mendesak agar Ran menceraikan Kudo secepatnya. Apalagi Ibu Ran yang menjadi pengacaranya hari ini... Ran tidak bisa begitu saja menerima permintaan maaf dari Kudo."

Kazuha mengangkat pandangan usai menyelesaikan semua kalimat itu, menatap Heiji dan menemukan pancaran mata sang suami yang telah berganti serius dan seperti berpikir keras. Ia tidak tahu apa yang suaminya pikirkan. Ia hanya berharap bisa menghapus kegundahan pria yang dicintainya itu.

"Apapun yang kau lakukan tidak salah, Heiji. Mungkin ini adalah takdir mereka."

Heiji tidak menanggapi apapun dan masih menatap Kazuha lurus-lurus dengan wajah berkerut halus. Ia hanya dapat diam dan menunggu suaminya membagi pemikiran. Sampai hampir dua menit kemudian, pria itu tiba-tiba berdiri dan mengemasi barang-barang, membuat Kazuha yang bingung melihatnya ikut berdiri secara spontan.

"Kau mau kemana?" Ia bertanya seraya meraih lengan sang suami yang hendak beranjak pergi.

"Ada hal yang harus aku selidiki." Heiji menjawab bahkan tanpa melihatnya saat pria itu meraih topi dari atas lemari.

Kemudian Heiji mengenakan topi dan berjalan, meninggalkan Kazuha dalam kebingungan. Ia menyadari suara suaminya terdengar dingin barusan. Dilihatnya pria itu kini berada di ambang pintu, tiba-tiba berhenti. Kepala Heiji menengok samar dan Kazuha mengendurkan otot-ototnya yang tanpa sadar telah menegang.

"Terima kasih atas makan siangnya, Kazuha..." Ucap Heiji sebelum berjalan lagi, melewati pintu ruangan itu.

Namun, perkataan terakhir Heiji yang sederhana mampu membuat Kazuha tersenyum meski belum mengerti apa yang hendak suaminya lakukan.

"Hati-hati di jalan, Heiji..."


Tuut... Tuut... Tuut...

Suara telpon tersambung mendengung dari dalam headset yang terhubung ke telinga Heiji, selagi menyalakan dan menjalankan mobil patroli yang sedang ia tumpangi. Setengah kesabarannya mulai menipis selama menunggu panggilannya dijawab, seraya menginjak gas semakin dalam yang membuat mobilnya melaju kencang di jalan raya Osaka yang lengang. Suara 'tut-tut-tut' lamban di dalam telinganya akhirnya berhenti juga setelah 45 detik berselang, dan Heiji yang tidak sabar langsung menyapa mendahului lawan bicara.

"Moshi-moshi, Sera?"

"Heiji? Tidak biasanya kau menelponku?"

Masumi Sera, nama itu tertera di layar ponsel Heiji yang menyala di atas dashboard mobil. Masumi Sera merupakan seorang Polisi Rahasia yang kini sedang bertugas di Tokyo. Heiji mengenalnya melalui Shinichi sewaktu mereka masih SMA. Dulu hubungan mereka sedikit buruk karena sifat Sera yang penuh akan rasa penasaran mempersulit penyamaran Shinichi sebagai Conan Edogawa. Namun setelah menangani sebuah kasus besar bersama tiga tahun lalu, Heiji menjadi sedikit akrab dengan wanita tomboy itu.

"Aku ingin minta bantuanmu," Nada suara Heiji sedikit menurun bersamaan dengan adrenalin dan keresahannya. "... untuk menyelidiki persidangan Kudo." Katanya, lalu mengambil jeda untuk memberi waktu jika mungkin sang lawan bicara ingin mengatakan sesuatu.

Namun setelah setengah menit menunggu dan tidak mendengar respon apapun, Heiji melanjutkan, "Kau pasti juga sudah dengar, kan? Kudo menghadapi banyak masalah hukum akhir-akhir ini. Tapi sepertinya ada yang janggal dengan persidangannya."

"Janggal bagaimana?" Sera mengajukan pertanyaan yang terdengar netral.

Heiji menahan diri untuk menghela napas selagi membanting stir saat membelokan mobil di perempatan jalan, lalu membalas, "Aku merasa ada seseorang di balik semua ini."

"H-Hei?!" Suara wanita itu memekik tertahan. "Maksudmu ada yang menjebaknya?"

"Justru sebaliknya." Jawabnya segera, sebelum berhenti sejenak untuk menutup mata dalam beberapa detik, melihat gambaran sosok yang dicurigainya. Ketika matanya kembali terbuka, ia berkata melalui nada sedikit sendu, "Sepertinya ada orang yang diam-diam membantu Kudo selama ini."

Helaan napas Sera adalah hal pertama yang membalas Heiji setelah itu.

"Jadi..." Ucap Sera, mengambang dan membuat Heiji sebagai pendengar memberi perhatian secara penuh. "... aku harus mencari tahu siapa orang itu?"

"Tidak." Ia tanpa sadar memberi penekanan pada nada bicaranya barusan. "Kau hanya perlu memeriksa keaslian surat izin dan surat kuasa yang Kudo berikan pada pengacaranya, dan latar belakang pengacara itu."

Perkataannya itu absen dari tanggapan dan Heiji sendiri diam membiarkan keheningan berlangsung lama pada sambungan telpon mereka, menggunakan beberapa detik dalam kediaman untuk memikirkan semua kejanggalan yang terjadi selama ini. Seraya menatap tajam jalanan, ia menanti detik-detik balasan dan mulai tidak sabar. Saat itu sudah bisa dilihatnya juga bangunan yang sedang ia tuju. Ia memelankan laju mobil sebelum berbelok masuk ke tempat parkir bangunan besar yang merupakan rumah sakit itu.

"Sera?" Panggilnya seraya menghentikan mobil di antara mobil-mobil lain yang sudah terparkir lebih dulu, lalu menatap layar ponsel untuk membuktikan bahwa sambungan telpon mereka belum terputus. "Kau masih mendengarku?"

"Sabar sedikit." Sera akhirnya menyahut, terdengar sedikit jauh dengan latar suara yang dapat Heiji bayangkan keadaannya.

Sera sepertinya sudah menyalakan komputer bahkan sejak pertama mendengar hal apa yang ingin Heiji selidiki. Ia mendengar suara-suara keyboard di ketuk dan bunyi 'Klik' beberapa kali. Selagi menunggu, Heiji meraih ponselnya dan melepaskan headset, ganti menempelkan ponsel ke telinga untuk mendengar secara langsung sambungan telpon mereka. Ia kemudian keluar dari dalam mobil dan bersandar di depan pintu depan mobil patroli itu.

Sampai akhirnya,

"Tidak ada masalah dengan surat izin dan surat kuasanya." Pemberitahuan yang terdengar dekat ini membuat Heiji kembali fokus pada suara Sera. "Keduanya asli, lengkap dengan cap stempel dan tanda tangan. Pengacaranya juga punya riwayat yang bagus. Terutama latar belakang keluarganya."

"Bisa kau kirimkan berkas-bekasnya padaku?" Heiji tidak ragu saat meminta kali ini, meski bisa ia dengar Sera menghembuskan napas berat seolah terganggu. "Aku akan menanganinya seorang diri setelah ini."

"Sejak awal kau hanya ingin aku mencuri berkas pengadilan untukmu, iya 'kan?"

Heiji terkekeh sejenak tanpa selera humor mendengar tebakan benar itu. "Aku akan menghubungimu lagi setelah ini. Aku masih akan membutuhkan bantuan darimu."

"Cih!" Sambutan basa-basi kecilnya justru decihan kesal dari Sera. "Aku juga tidak penasaran sama sekali!"

Kali ini Heiji benar-benar tertawa meski pelan. Tiba-tiba saja selera humornya naik. Mungkin ini disebabkan oleh kecemasannya yang berkurang seiring dengan kecurigaannya yang selangkah lebih dekat dengan kebenaran.

"Berkasnya sudah kukirim ke emailmu." Pemberitahuan dari Sera menghentikan tawanya.

"Hmm... Terima kasih atas bantuannya." Ucap Heiji ringan sebelum mematikan sambungan telpon mereka terlebih dahulu.

Ia membuka email melalui ponselnya dan langsung menemukan pesan dari Sera. Sejak awal, Heiji memang sudah curiga dengan kabar yang menyebut bahwa Shinichi mengirimkan surat keterangan sakit ke pengadilan pada sidang disiplin polisi. Karena, jangankan memikirkan persidangan, kesehatan diri sendiri saja tidak Shinichi hiraukan saat ini. Heiji juga heran bagaimana selama ini pengacara Shinichi masih terus aktif menangani segala permasalahan sahabatnya itu tanpa melakukan konsultasi atau sekedar berbagi informasi. Pengacara itu tidak pernah terlihat mengunjungi Shinichi di Osaka, dan berkomunikasi melalui telpon juga rasanya tidak mungkin mengingat ponsel Shinichi selalu mati. Bahkan... (Heiji sampai memikirkan ini) jika kemungkinan Shinichi menghubungi pengacaranya secara rahasia dan bertujuan memenangkan semua perkara di persidangan, tidak mungkin pria mantan detektif hebat itu masih bertindak ceroboh dengan berkeliaran di klab malam setiap hari, dan berkelahi. Anehnya lagi, surat keterangan sakit serta surat kuasa hukum itu asli, lengkap dengan cap stempel dan tanda tangan Shinichi.

Heiji berjalan menuju lift di sudut tempat parkir itu masih dengan memeriksa satu per satu berkas-berkas yang Sera kirimkan. Ia berdiri di dalam lift, lalu memencet sebuah tombol berlebel angka di lift itu dan menunggu. Perhatian Heiji yang sampai pada berkas sidang perceraian Shinichi dan Ran membuatnya teringat cerita Shinichi ketika ia berada di Tokyo untuk menghadiri pesta ulang tahun Ichigo. Waktu itu Shinichi bercerita mengenai alasannya pulang ke Beika dan tinggal di rumah Kudo bersama Haibara, lalu dengan nada marah Shinichi mengatakan perihal pengajuan perceraiannya yang diboikot seseorang, dengan memalsukan cap stempel dan tanda tangan. Entah mengapa waktu itu baik Heiji maupun Shinichi tidak mengarahkan kecurigaannya pada sosok yang berada tepat di depan mata mereka, padahal selain sosok itu sendiri tidak mungkin ada orang lain yang sampai mampu mencuri stempel Shinichi sekaligus meniru tanda tangannya.

Pandangan Heiji terangkat dari layar ponsel saat otaknya mengilustrasikan ulang kejadian waktu itu: ia melihat Haibara yang sedang merangkai bunga di depannya, melirik mereka.

Bayangan di benak Heiji kemudian berkeriap hilang bersamaan pintu lift yang terbuka. Ia menimbang kemungkinan apa yang didapatkan oleh pelaku dengan melakukan ini semua. Membantu Shinichi secara diam-diam, dan bahkan berusaha membatalkan sidang perceraian Shinichi dan Ran.

Langkah Heiji yang panjang sampai di depan sebuah pintu kamar inap yang menjadi tujuan utamanya. Bau obat-obatan dan khas rumah sakit begitu menyengat saat Heiji masuk ke dalam. Dilepaskan dan diletakannya topi seragam polisi yang ia kenakan sebelum mendekat. Suara alat-alat medis yang berjalan lancar menjadi satu-satunya sumber bunyi di dalam ruangan, sampai suara Heiji sendiri yang menggantikan.

"Minoru Kazegawa," Heiji melihat keterkejutan besar tergambar di wajah pemilik nama yang berbaring di atas ranjang di depannya selagi berkata. "... sebagai korban yang telah mencabut laporan terhadap Shinichi Kudo, ada hal yang ingin aku tanyakan padamu."

Pasien pria berusia 30 tahun yang kepalanya diperban itu bergerak menelan ludah dengan ketara. Masih dengan posisinya yang berdiri di dekat ranjang, Heiji mengambil kartu tanda pengenal Polisi dari dalam saku baju seragamnya, lalu memperlihatkannya pada sang lawan bicara, tanpa melepaskan pertemuan pandang mereka.

"Apa alasanmu tiba-tiba mencabut laporan itu?" Lanjut Heiji sambil menurunkan tangannya yang menggenggam kartu.

"A-apa?!" Suara pria korban kekerasan Shinichi itu tergagap. "Aku punya hak untuk mencabut laporanku, kenapa Polisi harus ikut campur?!"

"Karena aku mencurigaimu melakukan pemerasan." Perkataannya kali ini yang dingin dan pelan sukses membekukan sang lawan. "Aku dengar kau melunasi hutangmu belum lama ini. Dari mana kira-kira datangnya uang itu? Haruskah aku menyelidikinya?"

"Orang itu sendiri yang mengirimkan orang untuk mendatangiku!" Pasien itu setengah berseru, di antara takut dan ragu. Reaksinya ini jelas sekali di mata Heiji yang sudah terbiasa menghadapi kasus-kasus penipuan, bahwasannya pria itu tidak memberikan keterangan palsu. "Aku tahu! Dia pasti ingin menjebakku! Makanya dia memintaku untuk tidak mengatakannya pada siapapun!"

"Siapa yang mendatangimu?" Tanya Heiji tanpa terkejut sedikit pun.

"Seorang wanita, dia mengaku sebagai pengacara Shinichi Kudo." Jawaban pria itu terdengar meyakinkan meski masih dibungkus dengan suara gugup. Heiji menatapnya dengan pandangan menuntut selagi pemilik marga Kazegawa itu berpikir keras, sepertinya sedang mengingat-ingat sesuatu. "Rambutnya panjang dan usianya sekitar 25 tahun. Tingginya... rata-rata."

"Kau yakin?" Heiji merasa ragu untuk pertama kalinya karena gambaran itu tidak seperti apa yang ia duga.

"Aku yakin sekali!" Pria itu menjawab mantap. "Aku sudah curiga sejak awal dia akan menipuku karena dia memberikanku uang banyak sekali, jadi aku memperhatikan ciri-cirinya dengan baik. Aku bahkan bisa mendeskripsikan wajahnya jika kau mau membuat sketsanya."

Heiji menarik napas panjang selagi mendengar semua itu. Jika pelakunya melakukan penyamaran atau bahkan membayar orang lain untuk datang, sketsa wajah sama sekali tidak akan membantu. Lagi pula sejak awal bukan itu tujuannya.

"Tidak perlu." Tukasnya sesegera mungkin. "Aku hanya ingin memeriksa rekeningmu untuk mencari tahu alamat pengirimnya. Berikan dokumen pribadi dan rekeningmu."

Heiji menggunakan nada final seraya memperlihatkan air mukanya yang keras tanpa senyuman, lalu mengantongi kembali kartu tanda pengenal yang sedari tadi ia genggam. Ia juga mengenakan lagi topi polisi yang memiliki warna serupa dengan seragamnya itu, yang sebelumnya ia letakan di kursi tamu.

"Ta-tapi polisi tidak akan menarik uang itu, kan?"

Mendengar pertanyaan ini, Heiji mendongak sejenak dari bawah bayangan topinya hanya untuk menatap dengan tatapan galak, sukses membuat lawan bicaranya terkesiap takut.

"Ba-baiklah! Aku mengerti!" Ia menyanggah dirinya sendiri setelah itu. "Beri aku waktu sampai makan malam, aku akan menyuruh adikku membawakan apa yang kau minta."

"Sebaiknya kau tidak kabur atau beralasan lupa." Heiji menekankan. "Aku akan kembali nanti."

Pria lawan bicaranya itu mengangguk kaku, pertanda telah mengerti. Setelah melihat hal itu ia kemudian berjalan keluar dari ruang rawat inap korban, melangkah lurus menuju ruang rawat inap lain yang justru dihuni oleh sang pelaku. Heiji membuka sedikit pintu ruangan yang semula tertutup rapat itu, lalu melalui celahnya yang sempit melihat pasien di dalamnya yang tidak sadarkan diri lengkap dengan selang infus dan masker oksigen yang terpasang.

Heiji sudah tidak dapat merasakan sakit di ulu hatinya karena pukulan kuat Shinichi beberapa hari lalu, akan tetapi hatinya sakit karena hal lain. Dan hal lain itu yang menjadi alasannya tidak ingin mendekat lebih dari ini.

Seraya menggertak gigi kuat-kuat, Heiji memalingkan muka dari wajah menyedihkan di hadapannya. Ia melangkah mundur seraya menutup pintu, lalu berjalan pelan di koridor rumah sakit. Perlahan langkahnya berhenti ketika menatap langit dari balik kaca jendela, menatap intens birunya siang hari ini yang seolah memberikan pertanda.


Birunya langit siang hari ini mengingatkan Haibara pada satu hari dimana ia bersama Shinichi, membuatnya terkesiap pada pemikiran sendiri sebelum menunduk seraya meletakan cangkir teh di tangannya ke atas meja kaca berbentuk bundar di sebelahnya. Dihela napasnya lewat mulut sebelum ia berdiri, kemudian berjalan ke taman kecil yang ada di samping kolam renang pada halaman belakang rumah itu. Ujung jarinya menyentuh kelopak bunga mawar merah yang telah mekar sempurna di sana, yang mengingatkannya pada sebuket mawar merah yang Shinichi berikan sebagai hadiah di hari jadi mereka, yang... ke tujuh? Kata pria itu. Haibara masih saja dapat tersenyum geli saat mengingatnya.

Ting Tong! Ting Tong! Ting Tong!

Haibara tersentak, dan menarik tangannya mundur nyaris seketika saat mendengar suara bel pintu rumah. Ia menengok dan diam sejenak sambil memikirkan kemungkinan siapa orang yang datang. Ia tidak memiliki janji dengan pengacara Shinichi maupun memiliki pesanan yang harus diantar ke rumah. Seharusnya tidak ada yang datang menemuinya mengingat hanya Matsuya Yagami yang tahu ia tinggal di rumah ini.

Mata Haibara memincing samar merasakan keragu-raguan, sebelum akhirnya memutar langkah dan berjalan. Ia melewati dapur dan ruang tengah, lalu akhirnya sampai di ruang tamu sekaligus berada di depan pintu utama rumah itu, membukanya perlahan untuk menemukan sosok sang tamu yang tidak pernah ia perhitungkan sama sekali kedatangannya. Bahkan jika sosok itu adalah Shinichi, ia sempat beberapa kali melihatnya datang seperti ini di dalam mimpi. Namun, sosok itu adalah...

"Ohayou, Haibara-neesan..."

Sosok tinggi dan kekar itu melepaskan topi yang dikenakanya dan menunjukan dengan jelas susunan wajahnya yang membentuk satu nama di benak Haibara.

"Hatori-kun..." Ia mengucapkannya, bernada nyaris datar dan netral meski benar-benar heran akan kedatangan teman Shinichi yang satu ini. "Bagaimana kau tahu aku ada di sini?"

"Selain karena villa ini adalah satu-satunya villa di Okinawa yang disewa atas nama Matsuya Yagami," Dengan cepat Heiji menyahut pertanyaan Haibara seolah telah memprediksinya. "... alamat pengirim uang di rekening Minoru Kazegawa juga berada di daerah ini."

Senyum percaya diri Heiji yang cendekiawan persis seperti senyum Shinichi membungkam Haibara sepenuhnya. Ia rasa tidak perlu bertanya lebih jauh lagi tentang bagaimana Heiji bisa tahu bahwa ia dan Matsuya bekerja sama. Sehembus napas Haibara buang dari mulutnya setelah memikirkan itu semua. Ia kemudian membuka pintu lebih lebar dan menyingkir sedikit untuk memberikan jalan bagi sang tamu.

"Masuklah..." Katanya sebelum berbalik dan berjalan lebih dulu. "Kau jauh-jauh datang kemari. Akan aku buatkan minum untukmu."

Haibara menyelesaikan perkataannya sebelum menengok, menemukan Heiji yang mengangguk pelan dan melangkah masuk. Ditinggalkannya pria muda dari Osaka itu di ruang tamu sementara dirinya sendiri berjalan ke dapur. Tanpa sadar kedua pundaknya telah menegang, dan Haibara yang baru menyadari ini menurunkannya sambil menarik napas dalam-dalam. Kurang lebih ia tahu apa tujuan Heiji datang, maka ia harus menyiapkan diri dari sekarang.

Setelah menuang teh ke dalam sebuah gelas yang berisi es batu, ia membawa minuman itu kembali ke ruang tamu. Heiji sudah duduk di sofa saat ia datang. Diletakannya gelas itu di depan pria muda tersebut, kemudian ia mendudukan diri di seberang meja. Haibara dapat melihat Heiji hanya bersikap basa-basi dengan menengguk sedikit minuman yang disajikannya, sebelum pria yang sama meluruskan muka mempertemukan pandangan mereka.

"Bagaimana kabarmu, Neesan?" Tanya Heiji, nadanya terdengar tidak biasa. "Aku sempat berpikir kau benar-benar pergi ke Amerika. Siapa yang sangka kau bahkan tidak pernah meninggalkan Jepang selama ini."

Ia tidak tahu apakah Heiji mencari tahu informasi tentangnya seorang diri, atau bekerja sama dengan Shinichi sehingga menemukan trik kecilnya itu. Namun mendengar Heiji membongkarnya seperti ini, membuatnya merasa sedikit tersindir. Dengan tatapan intens Haibara mendongaknya, dan membalas setengah hati, "Aku baik-baik saja... Yagami-san banyak membantuku."

"Itu karena kau juga banyak membantunya dalam menangani kasus Kudo, bukan begitu?" Sindiran itu semakin jelas meski Heiji mengiringinya dengan senyum palsu. Namun untuk satu ini Haibara tidak menanggapi dan lebih memilih memalingkan muka dengan perlahan sehingga terlihat alami. "Kenapa kau meninggalkannya, kalau kau masih sangat perduli padanya?"

Pertanyaan itu menarik Haibara untuk memandang lawan bicaranya lagi. Akan tetapi ia lebih dulu menarik napas khusus yang kemudian dihembuskannya secara hati-hati. Ketika matanya kembali terarah pada Heiji, ia mendapati senyum pria muda itu telah hilang. Haibara sendiri tidak dapat berpura-pura dirinya sedang dalam keadaan yang baik, wajahnya yang semula tenang dibiarkan berubah tegang.

"Aku meninggalkannya untuk kebaikan semua orang—"

"Kebaikan siapa yang kau maksud?" Heiji menyela dengan nada kejam sampai-sampai Haibara terkejut mendengarnya. "Untuk Ran-neesan yang menjadi tempat pelampiasan kemarahan Kudo? Untuk anak mereka yang akhirnya juga menjadi korban pemabuk gila itu? Atau untuk orang-orang yang dia hajar setiap malam di klab?"

Mulut Haibara terbuka hanya untuk tertutup kembali tanpa bisa berkata apa-apa. Ia akui perhitungannya telah salah dan membuat semuanya semakin kacau. Tapi ia juga tidak tahu hal apalagi yang harus dilakukannya. Ia merasa amat bersalah dengan tetap bersama Shinichi, dan sekarang keputusannya untuk pergi juga merupakan kesalahan. Ia sudah tidak bisa kembali lagi setelah semua itu.

"Bukankah satu-satunya yang merasa baik hanya kau sendiri?" Perkataan Heiji ini bagai pisau yang menusuk hati pendengarnya secara langsung. "Karena kau satu-satunya yang berhasil melarikan diri."

Mata Haibara melebar secara spontan selama beberapa detik, sebelum akhirnya memincing tajam. Tanpa sadar Haibara telah kehilangan kendali dan meninggikan suaranya, membentak Heiji.

"Kau tidak tahu apa-apa tentangku!"

Hal itu juga yang akhirnya membuat Heiji bungkam dan mengalihkan pandangan. Perlahan Haibara merenggut jari-jari tangannya sendiri untuk digenggam sembari menarik mundur kepalanya, lalu memejamkan mata dan menundukan muka. Ruang tamu itu menjadi hening sekarang, dan keheningan itu terasa amat janggal setelah perdebatan kecil barusan.

"Maafkan aku... Tidak seharusnya aku ikut campur sejauh ini." Didengarnya saat itu suara Heiji kembali, kali ini lebih halus dan tenang. Haibara mendengarkan tanpa membuka mata maupun merubah gesturnya. "Sebenarnya, aku kemari hanya untuk memberitahumu satu hal..."

Nada bicara Heiji yang semakin lemah membuat Haibara mencoba menelan emosi dalam dirinya. Ia lebih dulu membuka kepalan tangan, lalu membuka mata dan mengangkat kepala. Ketika akhirnya ia mendongak, ditemukannya Heiji yang telah menatapnya lurus.

"Kudo masuk rumah sakit sejak dua hari yang lalu, dan dia belum sadarkan diri sampai sekarang."

Haibara merasakan darahnya mendesir tidak nyaman lengkap dengan telapak tangannya yang berkeringat saat mendengar rentetan pemberitahuan tidak menyenangkan itu.

"Tidak ada yang menjaganya. Ran-neesan sudah menceraikannya, dan orang tuanya pun tidak mau tahu lagi tentangnya. Singkatnya, dia sudah dibuang oleh semua orang." Suara Heiji berhenti sejenak seolah dengan sengaja memberi waktu bagi Haibara untuk bernapas. "Jadi... jika mungkin kau ada waktu, bisakah kau mengurusnya? Aku dan Kazuha punya urusan kami sendiri yang jauh lebih penting, dan kami tidak bisa menjadi pengasuhnya."

Bibir gadis ini terkulum dalam dengan tangannya yang semakin berkeringat bergerak perlahan mencari pengalihan. Tentu saja semua pemberitahuan itu menyakiti perasaannya. Sejak mendengar hasil persidangan kemarin, sebenarnya Haibara juga sudah berpikir untuk menemui Shinichi. Akan tetapi ia membatalkan niatnya itu karena tahu bahwa Shinichi tidak akan memaafkannya kali ini meski ia kembali. Ia ragu, bahkan dalam keadaan sakit sekalipun Shinichi mau menerimanya.

Dengan berat hati, seraya memikirkan itu semua Haibara membuka mulutnya untuk membalas, "Aku akan mengirim seseorang untuk mengawasinya."

Bisa dilihatnya apa yang ia katakan itu menyulut emosi di mata Heiji yang selama ini selalu memandangnya dengan tatapan simpati. Kini ganti bibir pria muda itu yang terkulum dalam, diikuti raut wajahnya yang mengeras. Haibara tahu Heiji tidak akan menyerang, namun tubuhnya secara spontan bersiaga karena merasakan amarah besar dari sang lawan bicara. Sampai akhirnya semua itu dihentikan sendiri oleh pelakunya; Heiji memejamkan mata sejenak dan terlihat menarik napas dalam yang kemudian dihembuskannya secara pelan seraya memalingkan muka.

"Kalau hanya itu yang bisa kau lakukan," Perkataan pelan dengan nada biasa itu diteruskan selagi sang pemilik membawa pandangan mereka bertemu kembali. "... aku tidak bisa memaksamu."

Heiji mengangguk samar mengakhiri perkataan itu sebelum sosoknya yang tinggi berdiri dan membungkuk ringan seolah memberi salam. Secara alami Haibara ikut berdiri untuk membalas salamnya, dan ia telah melihat punggung Heiji saat menegakan badan. Namun pria Osaka itu tidak pergi, langkahnya berhenti. Samar, kepalanya menengok Haibara, lalu terdengar pertanyaan pelan darinya yang nyaris tanpa suara.

"Apa kau tahu bagaimana aku menemukannya malam itu?"

Setelah mendengar keseluruhan kalimat itu dan dua detik berselang, Haibara baru menyadari suara Heiji seperti menahan tangis. Ia tidak membuktikan hal itu benar ketika pria muda tersebut berbalik untuk meluruskan pandangan mereka lagi, kecuali air mukanya yang semakin keras di bawah matanya yang dingin dan tajam.

"Dia pingsan di dalam mansion seharian. Sendirian." Heiji menekan setiap kata yang diucapkan dan membuat Haibara merasakan sakit hati yang pria itu tahan. "Kau bisa bayangkan apa yang akan terjadi padanya jika aku tidak secara kebetulan menemukannya?"

Pandangan mata Haibara nanar. Ia menunduk dan memejam sehingga terhindar dari tatapan mata Heiji yang penuh penghakiman. Ia tahu mengapa Heiji memandangnya seperti itu. Ini semua salahnya, ia tahu.

"Dia tidak sakit, Neesan. Dia berusaha bunuh diri."

Haibara menahan udara di dalam mulutnya dan merasakan napasnya sendiri yang panas saat itu. Namun ia masih berusaha keras untuk tidak membalas meski hal ini membuat dadanya sesak. Ia hanya terus meremas-remas genggaman tangannya sendiri seiring rasa sakit di dalam hatinya yang seolah ikut diremas.

Ketika akhirnya ia membuka mata setelah mendengar suara langkah dari depannya, ia menemukan pemandangan kaki Heiji yang sudah kembali membelakanginya dan berjalan pergi. Haibara mengangkat pandangannya dan mendudukan diri di atas sofa dengan lemas. Lalu menghela napas. Salah satu tangannya meraup wajahnya sendiri, dan berakhir memijit keningnya yang tiba-tiba berdenyut sakit.

Ia tidak mengerti...

Kenapa semua usahanya untuk membantu orang lain selalu berakhir salah?


Shinichi Kudo melihat Ai Haibara dalam tidurnya, dan bahkan setelah terjaga, seperti di hari-hari sebelum kisah cinta mereka menjadi petaka. Begitu matanya terbuka, ia mendapati wanita itu berdiri di samping ranjangnya. Shinichi masih berusaha menganalisa apa yang terjadi padanya, dan baru saja menyadari ia berada di salah satu ruangan di rumah sakit lengkap dengan infus dan masker oksigen (yang terasa seperti de javu), saat tiba-tiba sosok wanita berbaju serba putih itu membalas tatapannya dan menyadarkannya dari halusinasi.

"Oh, Anda sudah bangun?"

Basa-basi sopan itu juga bukan gaya Haibara, batin Shinichi yang menghembuskan napas berat seraya meluruskan kepala, menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih pucat.

"Izinkan saya memeriksa Anda sebentar."

Permintaan itu tidak dibalas oleh Shinichi. Ia hanya diam. Namun sepertinya wanita berseragam perawat itu juga tidak memerlukan izinnya, karena segera setelah mengatakannya wanita tersebut sudah mengambil termogun dari dalam saku, lalu mengecek suhu tubuh Shinichi melalui inframerah yang diarahkan ke keningnya.

Dari sudut pandang Shinichi, ia bisa melihat perawat itu mencatat sesuatu di kertas yang tertempel di clip board yang sedari tadi wanita itu bawa, sebelum sosoknya berbalik dan berjalan ke arah pintu. Setelah melihat sosok itu telah meninggalkan ruangan, Shinichi menarik masker oksigen dari atas wajahnya, dan bernapas manual. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya seraya bergerak mendudukan diri, namun gagal. Tubuhnya seolah tidak memiliki tenaga dan rasa sakit terasa dari dalam perut dan bagian kanan dadanya. Selain itu jantungnya juga berdebar-debar.

Oh—!

Setelah membaringkan diri kembali, ia baru ingat bahwa yang terakhir kali ia tidur di atas sofa ruang tamu mansion karena merasa sangat lelah. Saat itu ia pikir ia sudah akan mati. Jadi ia masih tetap hidup karena ada yang membawanya ke rumah sakit? Shinichi merasa sedikit kecewa saat menyadari hal ini.

Kreet...

"Selama sore... Bagaimana keadaan Anda?" Sapaan itu terdengar mengikuti pintu ruangan yang terbuka. Sosok seorang pria berjas putih masuk bersama sosok perawat yang tadi. "Perkenalkan, saya adalah Dokter Honda." Katanya, setelah mereka berhenti di dekat ranjang.

Shinichi menatap keduanya datar setelah menengok, menunggu apa yang diinginkan dokter dan perawat itu. Jika apa yang mereka inginkan adalah mengurus administrasi, maka maaf saja, Shinichi tidak tahu dimana dompetnya saat ini. Ia juga tidak yakin masih memiliki cukup uang untuk membayar rumah sakit.

"Anda sudah dua hari berada di rumah sakit ini, tapi nomer darurat penjamin Anda tidak bisa dihubungi, dan tidak ada yang datang sejak kemarin." Shinichi akan bergumam mendengar hal itu, jika saja sang dokter tidak lebih dulu melanjutkan. "Jadi saya akan menyampaikan langsung pada Anda hasil pemeriksaan kesehatan Anda, sehingga kami bisa mengkonfirmasi tindakan selanjutnya."

Mendengarnya, Shinichi memberi isyarat melalui anggukan samar tanpa mengangkat kepala dari atas bantal, sehingga pria yang sama kembali bicara.

"Lambung Anda mengalami peradangan parah, dan Anda juga mengalami malnutrisi. Selama tidur Anda juga banyak mengigau yang sepertinya disebabkan oleh stres berat. Lalu..." Nada suara yang dokter gunakan pada kata terakhir itu terdengar berbeda sehingga Shinichi menyadari akan ada hal lebih penting yang bakal ia dengar, sehingga tanpa sadar kelopak matanya melebar sedikit. "... kami khawatir ada yang salah dengan kondisi hati Anda, dan jika bersedia kami akan melakukan biopsi hati. Biobsi hati adalah mengambil sampel jaringan hati, lalu memeriksanya di luar tubuh."

Shinichi tidak tahu dari mana asalnya, tapi tiba-tiba ia memiliki mood main-main sehingga menyeringai. Hatinya memang bermasalah, namun sayangnya dokter sekali pun tidak dapat mengobatinya kali ini. Ia mendengus kecil, lalu meluruskan pandangan dan bergumam, "Tidak perlu, aku akan pulang begitu punya tenaga untuk berjalan."

"Anda tidak bisa melakukannya, kondisi Anda sangat buruk saat ini." Dokter itu cepat-cepat menegurnya.

Shinichi mendengar bunyi kemersak kertas sehingga kembali memberi perhatian pada kedua sosok di sebelahnya meski hanya melalui lirikan. Dokter itu menyodorkan sebuah kertas padanya, dan dengan lemah Shinichi mengangkat tangan menerima kertas itu. Ketika membawanya ke depan pandangan, ia baru menyadari bahwa kertas itu merupakan foto hasil MRI.

"Hati Anda terlihat lebih besar dari normal, kami perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apa penyebabnya. Kami menemukan bekas jahitan di dada Anda, jadi kami takut terjadi infeksi di bagian dalam tubuh Anda pasca operasi, atau justru pelemakan hati akibat mengkonsumsi alkohol berlebihan."

"Seperti yang aku bilang, aku tidak memerlukannya." Shinichi menurunkan tangannya masih sambil menggenggam kertas foto MRI, dan berkata tak acuh. "Aku akan pergi sebentar lagi."

Terdengar hembusan napas pelan dari sang dokter yang kemudian disusul perkataan lain darinya, "Kalau itu yang Anda inginkan."

Sekali lagi Shinichi menengok, dan mendapati sang dokter menunduk ke map yang sedari tadi pria itu bawa. Ia menarik sebuah kertas lain dan memberikannya pada Shinichi sambil berkata, "Tolong tanda tangan di sini."

Shinichi melepaskan kertas foto yang ia pegang, meninggalkannya begitu saja di atas ranjang, lalu mengangkat tangan untuk menerima kertas itu. Ia membubuhkan tanda tangan di atasnya tanpa terlalu memperhatikan.

"Jika Anda berubah pikiran, Anda bisa menyampaikannya pada perawat atau menemui saya secara langsung." Dokter itu mengambil kertas dari tangan Shinichi serta kertas foto MRI di ranjang, dan memberinya kertas lain lagi. "Silahkan kembali istirahat. Kami akan memberi tahu nanti jika Anda sudah boleh pulang." Katanya, lalu bersama perawat disana lelaki itu undur diri tanpa menunggunya memberikan respon atas salam mereka.

Shinichi akhirnya menatap juga kertas terakhir yang dokter itu tinggalkan, yang merupakan laporan kesehatannya hari ini lengkap dengan informasi tindakan selanjutnya yang tanpa isi. Akan tetapi matanya justru tertarik ke bagian lain tulisan itu: Empat, Mei. Itulah tanggal yang tertera di bagian atas kertas yang ia pegang. Bibir Shinichi mengkerut, melengkung nyaris ke bawah membaca tanggal itu. Ironisnya, ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-25, dan ia melaluinya di dalam rumah sakit dengan mendengar kabar mengenai kondisi tubuhnya yang sudah hancur-hancuran, tanpa seorang pun. Sendirian.

Ia benar-benar telah mengorbankan segalanya untuk Haibara, termasuk putra semata wayangnya, hanya untuk menemui akhir hidupnya dalam keadaan mengenaskan seperti ini.

Bibir Shinichi menyeringai, ia benar-benar merasa lucu. Dijatuhkannya kertas itu bersamaan tangannya yang turun dari atas wajahnya, dan ia menerawang langit-langit ruangan. Ranjang yang Shinichi tempati rasanya seperti bergoyang dan tubuhnya melayang-layang. Ia memejam sejenak, sebelum mengerahkan seluruh tenaganya untuk bangun.

Ditarik dan dilepaskannya selang infus yang menancap di lengannya, lalu turun untuk membuka satu-satunya lemari di ruangan itu. Dan, ada... batinnya. Ada bajunya di sana. Ia segera mengganti baju pasiennya menggunakan baju itu, lalu berjalan keluar dengan langkah lemah.

Shinichi berpegangan pada dinding selama menyusuri koridor rumah sakit dan akhirnya ia sampai juga di luar setelah bersusah payah. Ia berhenti sebentar untuk menyandar di dinding depan rumah sakit itu, sebelum kembali berjalan. Beberapa langkah menjauh, ia berhenti lagi, kali ini di depan sebuah vending machine minuman. Ia pasti sudah gila karena lebih memilih bir kaleng untuk meredakan dahaga di tenggorokannya, dari pada air mineral atau Pocari. Tapi begitulah kenyataannya, ia memilih dua kaleng bir, yang salah satunya langsung ia habiskan, dan satunya lagi ia bawa berjalan.

Cuaca hari ini terasa panas meski matahari sudah hampir terbenam dan hal itu membuatnya semakin tersiksa. Kaki Shinichi lagi-lagi berhenti, terasa lemah dan gemetar. Ia akhirnya mendudukan diri di halte bus dan membuka kaleng bir di tangannya, mengangkat dan menegak isinya beberapa kali. Disadarinya pandangan beberapa orang yang kini sedang meliriknya bagai sampah, namun ia tidak perduli sama sekali.

Setelah menurunkan kaleng dari depan wajahnya, Shinichi memandang hampa aspal jalan di depannya yang dilewati kendaraan silih berganti. Ia tidak tahu akan kemana setelah ini. Ia hanya ingin terus berjalan sampai ia tidak sadarkan diri lagi.

Shinichi meneguk habis sisa bir di dalam kaleng yang ia pegang sebelum berdiri. Ia berjalan dengan langkah yang lebih tegap menyusuri trotoar. Rasanya sudah jauh sekali ia berjalan, sampai kakinya melemah kembali, dan matanya mulai berkunang-kunang. Ia berusaha bertahan setiap kali nyaris jatuh. Dari mulai langit yang masih terang, dan kini perlahan hari telah berganti malam, ia masih terus berjalan.

Insting Shinichi yang menuntunnya membawanya ke depan gedung mansion tanpa ia sendiri sadari. Kepalanya mendongak begitu kakinya berhenti. Ia berdiri dan melihat ke bagian atas gedung.

Kenapa ia kemari?

Oh, ya... Haibara menunggunya pulang.

Ia menurunkan pandangan, lalu kembali berjalan, melangkah lurus masuk ke dalam gedung dan langsung menuju lift. Ditekannya angka lima pada lift itu dan ia diam menunggu sampai pintu lift terbuka lagi di lantai tujuannya. Tenaganya sudah mencapai batas sekarang, dan ia berjalan keluar seraya berpegangan pada pintu lift dengan napas tersenggal-senggal.

Shinichi mencari-cari kunci mansionnya di dalam saku jas cukup lama, namun tidak menemukannya juga. Seraya mengatur napas, ia diam menatap duan pintu mansion seolah menerawang. Dapat dirasakannya kehadiran Haibara di dalam. Entah mengapa, ia begitu yakin Haibara sedang menunggunya.

Dengan setengah sadar, Shinichi menarik handle pintu di depannya, menyentak dan mendorongnya terbuka. Ai Haibara adalah pemandangan pertamanya, berdiri di depan jendela sambil membawa kue ulang tahun dan sedang tersenyum ke padanya.

"Okaeri..."

Sambutan itu begitu ia rindukan, dan mendengarnya membuatnya merasakan ujung kerinduan itu sampai-sampai dadanya sesak. Seraya tersenyum dan berjalan mendekat, Shinichi membalas dengan separuh suara dan separuhnya udara, "Tadaima..."

26.


A/N: Saya berusaha menyelesaikan chapter ini dari pertengahan Januari, sampai hari ini, dan berakhir menulis ulang part 2-4 sebanyak lima kali. Dan akhirnya saya memutuskan untuk menyerah di sini, meski pun saya masih merasa tidak puas dengan diksi dan alurnya yang terlalu cepat. Saya harap nanti bisa merapikan chap ini dan menemukan kepuasan itu.

Btw, saya juga sudah mengedit chapter 1-25, membersihkan typo dan memperbaiki beberapa diksinya. Jika ada yg menemukan kesalahan, silahkan memberikan koreksi. Karena meski sudah saya publish lama, saya tidak keberatan untuk mengedit ulang semuanya. Bahkan saya sudah membaca ulang fict ini lebih dari 5 kali demi memperbaikinya :')

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan review, dan tetaplah meninggalkan review untuk saya. see you!