-Me And Him-
Story © TaySky1998
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 17
"That News"
.
.
.
-Enjoy This Story-
-Happy Reading-
Uchiha Headquarter, Tokyo, Jepang.
Uchiha Sasuke's Room
Sakura masih memandang Sasuke yang mematung menatap kertas itu. Perasaan takut pada dirinya mulai muncul, sebab sejak ia mengabarkan kehamilan nya pada Sasuke, bahkan memperlihatkan hasil keterangan dokter, Sasuke tetap tak bergeming.
"Sa- Sasuke-kun?" Cicit nya sambil menatap Sasuke takut, raut wajah Sasuke tidak dapat memberikan Sakura jawaban.
Sasuke tidak menjawab apa-apa, namun tatapan nya berubah sendu dengan tetes demi tetes air mata yang keluar. Sakura terkejut tentu saja, dengan segera ia memeluk Sasuke erat.
"Aku... aku tidak tahu harus berkata apa, rasa bahagia ini begitu besar, sangat besar. Terima kasih, Sakura."
Sasuke semakin mengeratkan pelukan mereka. Mengecup bahu Sakura berkali-kali, menenggelamkan dirinya di leher Sakura. Bahkan, Sakura merasakan air mata Sasuke yang menetes.
Sakura mengusap punggung Sasuke sambil tersenyum lembut. Awalnya, ia mengira Sasuke akan berteriak senang seperti para suami pada umum nya, namun tidak, suaminya itu, dia menangis.
Tapi, lebih kepada berteriak, Sakura bahkan dapat merasakan betapa besar cinta Sasuke kepada dirinya dan anak mereka dengan menangis seperti itu.
Pelukan mereka mulai melemah, seiring dengan Sakura yang segera menggerakkan tangan nya mengusap wajah Sasuke.
"Terima kasih kembali, Sasuke-kun." Sakura mengecup bibir Sasuke pelan.
Sasuke tersenyum, sumber kebahagiaan Sasuke semakin bertambah, istrinya lalu anaknya.
"Sejak kapan kau mengetahui hal ini?" Sasuke menatap perut Sakura lembut, sembari mengusap pelan.
"Hmm... tadi siang, setelah menemui dokter Hanami, aku langsung menuju kemari. Rasanya, aku tidak bisa merahasiakan berita bahagia ini dari suami ku."
"Itu bagus sayang, jangan pernah merahasiakan apapun dariku."
Mereka kembali berpelukan, bahkan Sasuke mengecup semua yang ada pada Sakura. Mulai dari kening, kedua pipi, hidung, dan bibir. Lalu, mulai menurunkan wajah searah dengan perut Sakura yang masih datar.
Mengusap sambil mengecup pelan perut istrinya, "Selamat datang, anak papa."
Setelah mendapati Sakura yang datang ke kantor nya dengan berita bahagia. Sasuke segera mengajak istrinya pergi menikmati hari bahagia mereka. Bahkan, Sasuke tak segan-segan membatalkan beberapa meeting termasuk meeting penting sekalipun. Tentu saja itu membuat Sakura mendelik tak suka padanya.
Saat ini mereka berada di sebuah restoran western pinggir kota yang mempunyai pemandangan indah. Mendengar Sakura yang belum memasukan makanan kedalam perut nya. Membuat Sasuke mendesak sang istri untuk segera pergi keluar mencari makanan. Ia bahkan terus menerus menanyakan apa yang Sakura inginkan. Dan pilihan Sakura jatuh pada restoran ini.
"Apa yang Sasuke-kun inginkan?" Tanya Sakura saat mereka telah duduk di bangku yang direservasi Sasuke.
"Apapun yang kau pilihkan."
Sasuke hanya melirik Sakura sambil tersenyum sebentar, setelah itu ia sibuk membuka ponsel nya. Sakura yang melihat itu hanya mengangguk kecil dan segera memesan makanan mereka. Entah kenapa, saat telah disini, rasa lapar seakan bisa menghancurkan dirinya.
Sasuke membuka ponsel itu, mencari aplikasi pesan singkat, membuka salah satu grup disana. Grup dimana yang berisi ia bersama ketiga teman nya. Jika ia bahagia, teman-teman nya harus merasakan bahagia juga. Maka dari itu Sasuke ingin memberitahukan perihal kehamilan sang istri pada mereka.
Sasuke: Aku mempunyai kabar baik.
Naruto: Wahh hebat, suatu keajaiban teme menampakkan diri di grup ini, sekalinya muncul malah membawa kabar baik. Aku penasaran.
Sai: Benar, kabar apa Sasuke?
Neji: Aku juga penasaran.
Tiba-tiba saja seringaian kemenangan Sasuke muncul saat Neji membalas pesan nya.
Sasuke: Aku akan mempunyai anak.
Sai: Wah benarkah? Selamat Sasuke!
Naruto: Artinya, Sakura-chan sedang mengandung? Selamat teme! Aku tidak menyangka kau akan menjadi seorang ayah juga.
Sasuke: Hn, terima kasih.
Seringaian Sasuke semakin mengembang ketika ia tidak melihat satu pun balasan dari Neji lagi. Lihatlah, Hyuuga Neji itu sudah kalah telak.
Sasuke tidak dapat merasakan bahagia lebih dari ini. Kebahagiaan ini begitu bertubi-tubi menimpa dirinya. Ia menyimpan ponsel nya dan kembali menatap Sakura yang duduk didepan.
Ahh... wanita ini.
Wanita yang membuat nya begitu merasa bahagia, rasa cemburu yang dalam, ketergantungan yang kentara, rasa cinta yang begitu besar. Ia adalah segalanya bagi Sasuke.
"Aku mencintai mu."
DEG!
Lagi-lagi, Sasuke membuat Sakura mati kutu. Ditempat umum seperti sekarang, Sasuke mengucapkan kata itu begitu gamblang.
"Sasuke-kun!" Rona merah mengalir di kedua pipi Sakura.
"Apa kau tidak mencintai ku?"
Pipi Sakura semakin memerah, "Bu-bukan, hanya saja ini tempat umum."
Aa, kenapa Sakura begitu menggemaskan dengan rona pipi di wajah nya itu. Membuat Sasuke menggeleng-geleng sambil tersenyum.
"Lalu?"
"Aku malu, Sasuke-kun!"
Sungguh, Sasuke sangat tidak tahan untuk tidak tertawa. Sakura terlalu manis dan menggemaskan dimatanya. Membuat tawa kecil yang mempesona Sasuke muncul.
Sakura hanya mampu menatap Sasuke sebal, bukan karena pria itu menertawakan dirinya. Tapi lebih kepada tawa Sasuke yang membuat ia berlipat ganda lebih tampan. Dan ia tidak mau, ketampanan suaminya itu menjadi santapan para wanita yang ada disini. Cukup ia saja yang menikmati itu, jangan yang lain.
Langkah gontai Neji memasuki ruang keluarga itu tak luput dari penglihatan Hinata. Dibalik sikap diam dirinya, ia masih mengkhawatirkan Neji. Belakangan ini, Neji sering sekali pulang terlambat, tidur tidak teratur, begitu juga makannya.
Hinata sendiri berkesimpulan jika rencana kakak nya itu di San Fransisco tidak terlaksana dengan baik. Diam-diam ia bersyukur, setidaknya Neji tidak akan menjadi perebut istri orang.
Ia mengambil segelas air putih, lalu mendekati Neji yang menyandar pada sofa ruang tengah.
"Terima kasih Hinata."
Hinata hanya menangguk tampa berniat membalas ucapan Neji.
"Kau masih marah padaku?" Tanya Neji tepat setelah Hinata duduk beberapa jarak darinya.
"Sedikit."
Hinata mencoba bersikap acuh, mengambil salah satu majalah dengan acak dan membaca nya.
"Sakura hamil."
Ucapan Neji membuat Hinata mematung, dengan segera ia melipat majalah itu dan menatap Neji dengan mata berbinar-binar.
"Benarkah?"
Neji segera melihatkan pesan singkat mereka di grup pada Hinata. "Wahh, senangnya, aku akan segera menemui Sakura-chan."
Hinata langsung bangkit, berjalan menuju kamar karena ingin menghubungi Sakura.
"Kau senang?"
Langkah nya terhenti, berbalik menatap Neji. Pertanyaan Neji membuat dirinya kesal. Jadi benar, kakak nya itu belum melupakan Sakura.
"Apa maksud mu Neji-nii? Tentu saja aku senang, sebentar lagi teman ku akan mempunyai bayi. Lalu, kau? Apa kau tidak senang?"
"Aku tidak tahu apakah harus senang atau bersedih."
Karena Neji memang benar-benar tidak tahu. Perasan nya berkecamuk sejak tadi, tepat setelah Sasuke mengumumkan bahwa pria itu akan mempunyai anak. Rasanya begitu sesak.
"Apa kau bilang?" Nada Hinata tiba-tiba sedikit meninggi. Membuat Neji menatap sorotan adik nya itu, tatapan Hinata itu, terasa seperti Neji adalah orang yang menjijikkan.
Hinata menarik napas pelan, kakaknya ini benar-benar.
"Aku benar akan membenci mu jika kau sedih dengan berita ini Nii-san. Sudahlah, tolong lupakan perasaan mu itu. Kau orang baik, jadi jangan menjadi jahat hanya karena keegoisan mu. Apalagi dengan keadaan sekarang, apa Nii-san tega memisahkan ibu dan ayah dari anak mereka? Ah tidak, jika itu tidak terjadi pun, cinta mereka begitu kuat. Aku takut Nii-san yang merasakan sakit nya nanti, jadi tolong, tolong lepaskan perasaan mu."
Hinata sudah terlalu lelah dengan perasan gila yang Neji rasakan. Entah dengan cara apa agar ia dapat menyadarkan kakak nya itu bahwa ia salah. Perasan Neji tidak benar.
Melihat Neji yang hanya mematung mendengar ucapannya. Membuat Hinata menarik napas kasar dan segera meninggalkan ruang tengah. Ia bahkan merasakan frustrasi, frustrasi karena ia tidak tahu cara apalagi untuk menyadarkan Hyuuga Neji dari perasaan gila nya.
Dari kejauhan, Neji memandang Hinata. Semua perkataan Hinata tadi memukul dirinya telak hingga ulu hati. Semua yang Hinata katakan benar, ia juga ingin menyerah namun, disudut kecil hatinya, ada teriakan yang mengharuskan ia bertahan.
Entahlah, Neji benar-benar bingung dengan dirinya sendiri. Ini semua benar-benar memutar otak, hati, dan pikiran nya.
Camelot Night Club, Tokyo, Jepang.
Tenten menatap datar teman-teman satu divisi nya. Mereka benar-benar tahu cara menghabiskan uang yang dia punya. Tenten memang menjanjikan akan membayari acara senang-senang mereka karena ia menjadi perwakilan mereka untuk ke San Fransisco. Tapi tidak di club mewah ini juga. Ia kesal, apalagi setelah melihat teman-teman nya telah duduk sumringah di salah satu kursi bundar.
"Uang mu tidak berkurang sepeserpun Tenten-senpai, jadi ayo nikmati." Tenten hanya mendelik mendengar ucapan Misaki, perawat di divisi nya sangat tahu cara menikmati hari mengingat divisi mereka sibuk belakangan ini.
"Kalian benar-benar menyebal-"
"Kuso!"
Tunggu!
Tenten mengenal suara ini, dia menyedarkan padangan, memicing sudut-sudut club, dirinya akan sangat sial jika memang pria itu ada disini.
'Crap! Hari ku benar-benar menyebalkan!'
Dimeja melingkar, persis didepan bartender. Hyuuga Neji meracau dengan hebat. Tampak seperti pria itu mengalami hari yang berat. Tenten mengangkat tas tangan nya, menutupi wajah agar tidak terlihat. Ia yakin, walaupun jarak mereka tidak dekat, Neji cukup dapat melihat Tenten dari bartender itu.
"Aa... nona Tsuzuyu-san?"
Tenten terhenti, tidak seperti harapan, Neji melihat jelas dirinya. Ia menurunkan tas itu, menatap Neji dengan datar tampa bergerak sedikit pun. "Apa mau mu?"
Neji menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya. "Aku butuh teman bercerita."
Really? Teman bercerita? Atas dasar apa Neji ini mengajak dirinya? Dan atas dasar apa pula dia harus mendengarkan pria bodoh itu bercerita?
Melihat Tenten yang hanya menatap padanya, Neji mengangkat kedua tangan ke atas. Terlihat menyerah. "Gencatan senjata, aku serius ingin berbicara dengan mu."
Tenten menimbang, apakah ia harus mendengarkan pria aneh ini atau tidak, namun melihat Neji sekali lagi menepuk-nepuk kursi itu. Rasanya, Tenten tidak memiliki pilihan.
"Pesan saja, aku menemui dia dulu." Ucap nya sambil menunjuk Neji pada Misaki. Anggukan Misaki membuat Tenten segera menuju tempat dimana Hyuuga Neji berada.
"Apa yang ingin kau ceritakan?" Desak Tenten.
Neji sekilas tersenyum, lalu meminta bartender menyiapkan Martini untuk mereka. "Kau tahu? Hari ini adalah hari dimana aku sangat-sangat ingin mabuk berat. Tapi anehnya, itu tidak bisa. Bahkan sudah minum bergelas-gelas pun tetap sama saja."
"Ya lalu?" Jawab Tenten seadanya, ia juga mengetahui kalau Hyuuga Neji itu salah satu orang yang tidak bisa mabuk. Perawat di divisi mereka sering membicarakan nya. Tapi, itu jelas bukan alasan kenapa Hyuuga Neji seperti sekarang.
"Sakura sedang mengandung, kau sudah mendengarnya?"
Wait, what?! Jangan bilang jika Hyuuga Neji begini hanya karena kabar kehamilan Sakura.
"Kami mengetahui nya, pihak rumah sakit, semuanya, sangat bahagia mendengar kabar itu." Tenten masih berupaya untuk tenang.
"Ya, semua sangat bahagia. Tapi aku? Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih."
Hening.
"Aku mencintai Sakura."
"Aku tahu."
Neji menatap Tenten segera setelah kata itu terucap. Mencoba melihat apa yang ada dipikiran Tenten saat ini. Sayangnya, itu tidak terbaca sama sekali.
"Begini, cinta tidak hanya sekedar saling memiliki dan bersama, namun ada pengorbanan dan kerelaan. Jika kau tidak bisa disisi ini, maka cobalah berada disisi yang lain nya."
Neji tersenyum kecil, ternyata semuanya sama saja. Bahkan, Tenten pun berkata bahwa ia memang harus merelakan rasa cinta nya.
"Melepaskan bukan berarti kau pengecut Neji, namun tetap memaksakan kehendak mu? Itu namanya kehancuran, bukan hanya dirimu, tapi orang yang kau cintai, dan orang-orang yang berada di sekitar kalian."
Tenten menghela napas sebentar.
"Profesi ku mengajarkan ku untuk menyembuhkan, bukan memberikan rasa sakit. Kau tentu paham betul dengan itu."
Semua kata-kata Tenten, berputar sempurna dikepala Neji. Entah kenapa, semua yang dikatakan Tenten terasa benar. Selama ini, ia berusaha mati-matian untuk menyembuhkan seseorang. Tapi memikirkan dirinya mempunyai niatan untuk menyakiti Sakura. Neji merasa dirinya sudah diluar batas.
Jika memisahkan Sakura dari Sasuke akan menimbulkan rasa sakit, Neji tidak bisa melakukannya. Menyakiti Sakura adalah hal yang tidak bisa ia lakukan seumur hidup. Sakura terlalu berharga untuk disakiti.
"Jadi, aku harus merelakan?"
"Benar."
Baiklah, berbicara dengan Tenten tidak buruk. Bahkan, ia dapat menentukan pilihannya segera. Neji mengangkat jelas nya, menyamping menghadap Tenten. "Karena kau memberikan nasehat yang baik, jadi, mari bersulang."
Tenten hanya memandang aneh Neji, lalu meneguk Martini itu dengan cepat. "Tidak, terima kasih. Bye."
Ia meninggalkan Neji begitu saja untuk menuju teman-temannya. Perubahan suasan hati Neji mengerikan bagi Tenten. Sangat kalut diawal, namun tersenyum di akhir.
"Aku akan menghubungi mu jika ingin bercerita lagi!" Teriak Neji pada Tenten, namun tampaknya Tenten tidak menggubris sama sekali.
Neji kembali menghadap ke depan. Sedikit tersenyum karena wanita bar-bar itu, tidak seburuk pemikiran nya. Dia baik.
Uchiha International Hospital, Tokyo, Jepang.
dr. Uchiha Sakura's Room
"Setelah makan siang bagaimana? Oke, ceritakan semuanya padaku mengerti? Baik Ino, baik. Oke, sampai jumpa."
Klik!
Sakura segera menutup ponsel nya setelah berbicara sebentar dengan Ino. Ia begitu merindukan Ino, hingga menghubungi Ino untuk waktu bertemu mereka. Sejak memiliki kesibukan masing-masing, ia dan Ino jarang berkumpul. Apalagi, mereka sama-sama mempunyai kabar bahagia.
Semenjak berita kehamilan dirinya kemaren. Semua terlihat senang, pihak rumah sakit, keluarga, teman. Yang paling heboh dari semua adalah kedua para kakek itu. Sangat terlihat ceria sekali. Mengingat itu membuat Sakura tersenyum.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, hampir mendekati jam istirahat. Tentu saja Sakura segera bersiap-siap, membereskan berkas pasien yang berserakan dimeja, mengambil tas tangan dan kunci mobil.
Membawa mobil memang masih ia lakukan, mengingat dirinya tidak mengalami mual-mual, demam, dan sebagainya. Bahkan, pusing yang ia rasa kemaren juga menghilang. Sangat hebat mengingat ibu hamil muda sering mengalami itu. Sakura bahkan merasa sangat vit dan sehat. Untuk itu dia tetap bersikeras membawa mobil yang sangat di tentang oleh Sasuke.
Sakura kembali tersenyum.
Mereka cukup berdebat, namun ketika Sakura mengatakan bahwa ini adalah keinginan anaknya, Sasuke diam seribu bahasa. Rela tidak rela, sang suami tetap membiarkan dirinya membawa mobil, tapi dalam batas-batas tertentu.
Tepat saat Sakura akan melangkah keluar dari ruangan, ponsel nya kembali berbunyi.
Ting!
Membuka ponsel, sepersekian detik, membuat dahi Sakura mengernyit.
Aku meminta waktu mu sebentar, ada yang ingin aku bicarakan. Ini penting.
-Neji
Tunggu!
Rasanya ada yang tidak benar, kenapa Hyuuga Neji menghubungi nya? Penting? Apa yang yang penting?
Sakura benar-benar tidak mengerti dengan pikiran Hyuuga Neji. Sejak kepulangan mereka, Neji tidak pernah menghubungi nya. Namun, sekarang membicarakan hal yang penting.
Sakura menggeleng, dasar pria yang aneh.
.
.
.
.
*To Be Continued*
A/N:
Hallo, senang bertemu lagi^^ cerita ini udah tamat diwattpad saya, dan akan saya update disini juga sekali seminggu sampai last chapter ;)
So, read and review guys^^
See you,
Sign, TaySky1998
