Disclaimer: Naruto itu hanya dimiliki oleh Masashi Kishimoto
Warning: Out of Character (OOC, maybe yes maybe no^^), Alternate Universe (AU)
Other: HOYYYA!!! Akhirnya nulis juga chapter kedua!! Woohoo! Makasih yo atas review nya dan selamat membaca!
PAPER PROJECT!
CHAPTER 2: PEIN IN HIS PAIN…
"SHOOT…," Hidan berdesis, kaget melihat kenyataan yang ada. Sedangkan Pein hanya diam membisu…
"…..Baru kali ini aku melihat hal yang seperti ini!" seru Zetsu dalam hati.
"Eh?!!" seru Kakuzu sedikit pelan di balik persembunyiannya.
Dua orang siswi yang berseragam hitam a la Perguruan Poku Ame Ame Kamen Rider Chou berdiri menengahi Pein dan Hidan. Yang satu menghadap Hidan dan yang satu lagi menghadap Pein.
"Kau tidak seharusnya melakukan ini, Kak Hidan," ujar siswi berambut biru sambil masih menahan tongkat besi Hidan dengan…….PEDANG-PEDANGAN DARI KARDUS!!?
"Waah, kayaknya rencana ini gagal deh," Zetsu bergumam sendiri.
"Ah, seperti biasa, karya agungmu menakjubkan sekali. Tapi, kok bisa sih kau melipat kardus, Konan..??!" Hidan menurunkan tongkatnya.
"Hidan….." satu suara yang berasal dari siswi di belakang Konan memanggil dengan lembut.
Yang dipanggil langsung deg-deg an.
"Sayangku… Kau ternyata di sini..!" Hidan hendak memeluk siswi itu.
BUAAK!!!
"GRRR…H! JANGAN ASAL PELUK GITU DONG! COWOK KEGATELAN!"
Spontan suara lembut tadi yang merdu berubah jadi suara alto yang mencekam jiwa, menghujam hati seorang lelaki..
"Aaa…ampun, say..," ujar Hidan memelas sambil bersungut-sungut, memegang wajah tampannya (Hidan yang bilang, lho) karena dipukul suling pacarnya. "Ewwh, weeeh, jangan ngatain aku kegatelan dong, kesannya gimanaaa gitu. Kata-katamu menikam hatiku deh, ughh..!"
"Dan lagi, harusnya Kakak tidak bersikap seperti ini. Saya tidak suka. Apalagi pakai rencana segala, membawa nama organisasi dengan rencana keji seperti ini," ujar Konan dengan tenang, namun sedikit intonasi yang memuncak: Agak marah.
"Mampus gw! Laknat tuh mereka berdua! Bocah topeng monyet sama si pirang! Pasti mereka ngasih tau ke Konan pas ke ruang klub!" amuk Zetsu dalam hati sampai-sampai meremas blackberry-nya yang bersarung hijau neon.
"Oh, ya, Tayuya, tolong ajak bicara dengan Kak Hidan soal ini. Aku masih punya urusan, nih," kata Konan beranjak pergi.
"Haha, no problem. Kalo perlu, gw ceramahin dia berjam-jam! Hmmm!!!" siswi tadi (yang ternyata pacarnya Hidan) alias Tayuya sudah siap sedia satu bogem penuh plus ayunan ekstra dari sulingnya…! Nyahahah!
Pein hanya bisa diam melihat mereka bertiga. Antara realita, cinta, dan sarkastisme..
Konan yang berjalan, melewati Pein, hanya memandang wajah laki-laki bertindik itu sebentar, lalu memasuki gerbang sekolah.
"Ah, sial, aku juga ada urusan. Jadi aku nggak bisa lama-lama di sini. Apalagi kalian lagi pacaran…," kata Pein hendak pergi dengan cuek, mengikuti gaya Konan tadi. Biar bisa kabur dengan mulus, pikirnya.
Tapi, ogh, malang banget! Pein ditodong lagi sama Kakuzu. Akhirnya, dia keluar juga dari tempat persembunyiannya.
"Tak ada Hidan, Kakuzu pun jadi!" teriak Kakuzu dengan mata berbinar-binar. "Aa..! Akhirnya aku bisa juga! Bosen tau nunggu di semak belukar nggak jelas itu!" seru Kakuzu dalam hati saking kegirangannya.
Hidan dan Tayuya asyik berpacaran. Merangkul, memeluk, lalu…..
OH, OKE OKE!!! KITA STOP BAGIAN SINI!
Mungkin Pein langsung bergidik dan gemetaran takut. Tapi, kalau kalian berpikir begitu, kalian salah BESAR! SEBESAR HURUF-HURUF YANG DI-CAPS LOCK INI!
Tunggu, tapi mungkin aja kalian benar. Sebenar-benarnya opini, tapi kalo faktanya salah, kalian akan salah dan tetap salah. Oke? Oke? Deal!
Nah…!
JADI….
Kakuzu tetap memelototi mata Pein yang datar, tenang, setenang jiwanya yang kalem dan cool abis itu. Sampai akhirnya satu dua (bahkan lima…) siswi perguruan itu yang baru datang ke sekolah langsung terpana dengan pesona anggunnya, eh, tampannya wajah Pein, meskipun telah ditusuk berbagai macam tindikan, jarum, eh, entahlah apa itu namanya. Yang jelas, siswi-siswi tadi sampai satu menit (ya, satu menit!) memandang anugrah Ilahi yang indaaaaaaaaaaaaaaah banget bagi mereka… Sehabis itu, mereka melenggang masuk ke dalam gerbang sekolah sambil bergosip ria tentang gantengnya Pein dan jeleknya pelototan Kakuzu yang nggak banget itu.
Haaaaaaah…!
Pein mulai membuka rahangnya, bukan untuk menerkam Kakuzu kok, tenang, tenang! Dia cuma mau ngomong,"Kalian maunya apa? Nodong-nodong orang yang kalian sendiri sebenarnya ga tau. Jangan macem-macem deh!"
Wah wah, hati-hati, Bung Kakuzu.
Spontan, Hidan dan Tayuya yang lagi asyik banget melakukan rutinitasnya sebagai pasangan aneh ini menengok ke arah Pein.
"Gw ada urusan. Permisi."
Pein masuk ke gerbang sekolah dengan meninggalkan empat kata tadi. Ironis…
Pein? Tu..tungguuu!! Mungkin itulah yang bakal diteriakkan para anggota OK Club yang hendak merekrut (dengan pembantaian dan pemaksaan) dirinya yang siapa tahu bisa memajukan dunia perorigamian dan perkirigamian lewat organisasi kecil-kecilan ini.
Tapi….
Cukup sudah.
Rencana mereka untuk merekrut anggota baru bagi OK Club habis sudah..! Pupus! Hancur! Tercabik lagi!
Pein, siswa berusia 16 tahun, kelas XI IPA 1 di Perguruan Poku Poku Ame Kamen Rider Chou, bertampang berandalan namun membuat para cewek bergelimpangan di sebagian besar jalan-jalan raya perfektur Amegakure karena pingsan melihat ketampanannya, GAGAL DITAKLUKKAN oleh beberapa anggota OK Club, yakni Hidan sebagai "Eksekutor", Kakuzu merangkap sebagai "Eksekutor(1)" dan "Pengamat" (mungkin lebih tepatnya "Penonton" dan "Suporter"), dan Zetsu sebagai "Boss" dan "Pengatur Strategi Jarak Jauh".
Tapi, setelah Konan dan Tayuya datang sebagai "Wasit", Zetsu dapat dipastikan akan masuk ke BSH(2) gara-gara "bocah topeng monyet" a.k.a. Tobi dan "si pirang" a.k.a. Deidara. Cukup sudah! Mungkin itu yang bakal dikatakan Zetsu untuk Tobi dan Deidara, wabil khusus untuk Si Tobi. Ckckck… Kasihan kau.
Tapi, yang pasti, mereka bakal melakukan rencana lagi, lagi, dan lagi.. Nggak cukup satu rupanya!
Dan…
Setelah kepergian (dan gagalnya rencana tadi) Pein, Zetsu yang daritadi jongkok dekat tiang koridor tiba-tiba merasakan sakit pada perutnya.
Zetsu sebenarnya punya masalah pada bagian pencernaannya alias perut. Dia bakal merasa sakit perut bila melihat kejadian yang tidak diinginkannya. Dan gagalnya rencana merekrut anggota baru itu telah menjadi sumber utama masalah sakit perutnya saat ini.
"Uggh..," Zetsu mengerang sakit sambil memegangi perutnya.
"Oom? Udah penuh tuh."
Zetsu spontan kaget, dong. Dan saat dia melihat wajah orang yang menyeletuk dirinya….
"Sialan, lu!"
Pein akhirnya bisa masuk ke sekolah, yaaah, walaupun mesti mengalami halangan nggak jelas tadi..
"Haah! Udah jam segini lagi! Sial..! Bisa dihajar abis nih gw!" seru Pein dalam hati. Jam tangannya telah menunjukkan pukul 07.25, lima menit sebelum bel masuk berbunyi.
Pein terus berlari, dan akhirnya dia sampai di suatu tempat di dekat ruang guru, ruang yang berada di paling ujung koridor lantai dasar. Banyak siswa siswi perguruan itu yang berlalu-lalang di koridor itu. Dia melirik-lirik tanpa gaya yang mencurigakan, lalu menyusuri lorong sempit dan gelap di belakang ruang guru setelah melihat tidak ada orang yang memperhatikannya. Banyak meja serta kursi yang sudah rusakmenghiasi lorong itu, membuat sesak dan menjadi sarang debu maupun tongkrongan Mister Laba-laba dan kawan-kawannya. "Ehem," Pein berdeham kecil karena debu-debu yang masuk ke dalam mulutnya.
"Beberapa langkah lagi, ah! Itu mereka!"
Pein menghampiri sekelompok siswa. Jumlahnya ada tiga orang. Yang satu berdiri, satunya jongkok, dan yang satu lagi duduk di atas meja.
"Hei, tumben baru dateng. Udah 10 menitan nih kita-kita di sini," kata salah seorang siswa yang berambut abu-abu dan diikat ekor kuda sambil membetulkan letak kacamata bulatnya.
"Haah, biasa lah, kesiangan nih gw," jawab Pein dengan santai sambil merebahkan tubuhnya ke tembok.
"Nih, rokok," siswa yang sedang berjongkok di sebelah Pein langsung menawarkan rokok putih yang berstrip hijau. Kelihatannya rokok itu jenis "light". Bentuknya panjang dan slim.
"Nggak usah, tadi udah," Pein menolak dengan suara diparaukan supaya tidak ketahuan kalau dia berbohong.
"Ah, belom aja lu, ngaku-ngaku segala," celetuk siswa tadi. "Mulut lu wangi permen."
"Gw pake spray."
"Oh? Ada ya lu? Bagi dong!" tukas siswa yang berdiri. Dia langsung berjongkok memandangi Pein. "Punya gw habis."
"Oh, iya. Ada sesuatu yang harus gw kasih tau ke lu," potong siswa yang berkacamata tadi, turun dari meja yang terus didudukinya daritadi. "Tapi cuma gw sama lu," katanya sambil mengisyaratkan dua temannya untuk pergi. Dua temannya mengangguk tanda mengerti dan pergi.
Akhirnya, mereka hanya tinggal berdua di lorong sempit itu.
Pein mulai angkat bicara.
"Kalo masih ngungkit-ngungkit masalah itu, jangan sekarang deh, gw lagi puyeng banget."
Siswa berkacamata itu mendekatkan wajahnya ke wajah Pein. Kedua mata yang tersamar oleh kacamatanya menatap tajam Pein, namun lima detik kemudian dia menatap lembut.
"Gw tau apa mau lu," katanya. Dia melangkah mundur untuk mengambil nafas.
"Apa?" tanya Pein dengan tegas. "Gw nggak mau ngalamin hal itu lagi. Sakit gw. Nggak sanggup."
"Gw nggak bermaksud membuat lu sakit dan kecewa. Gw cuma pengen ngebantuin lu."
"Nggak, Kabuto, gw nggak mau ngerepotin lu."
"Nggak, gw nggak keberatan," Kabuto tersenyum kecil dan terpaksa. "Gw juga udah pernah ngalamin rasanya dihempaskan cinta. Jadi gw tau apa yang musti lu lakuin."
"Gw udah tau, kok," Pein masih menolak.
Kabuto menyeka keringatnya. Maklum lah, di lorong itu sempit.
"Masalahnya, gw lagi pengen sendiri aja. Gw nggak kepengen kecewa lagi," Pein menunduk sambil menghela nafas. "Haaah, andai aja gw ga pernah ketemu dia dan mencintai dia.."
"Pein…" Kabuto hanya bisa memandangi temannya dengan sedih.
KRRRRIINNGGG!!!!
Kabuto langsung berbalik meninggalkan lorong sempit itu, membiarkan temannya berpikir untuk kesekian kalinya soal masalah yang menimpa dirinya. Berjalan, dan terus berjalan.
"Ah," Kabuto menengok ke belakang, ke arah Pein,"Kalo butuh bantuan gw, sms aja."
Pein hanya diam, sedangkan Kabuto tetap tersenyum, berusaha menyemangati temannya yang kesusahan itu.
"Udah bel tuh. Mau dikeluarin Miss Shizune?"
Pein hanya tersenyum kecil, berjalan gontai, mengikuti Kabuto dari belakang. "Mau aja, gw nggak tahan suaranya yang melengking gitu. Kayak apaan aja."
"Heheheh! Kurang ajar juga lu!" Kabuto menepuk bahunya Pein. "Duh!"
Di ruang OK Club…
Terlihat seorang siswa berambut pirang memohon-mohon pada seorang siswi berambut biru tua yang sedang asyik membuat origami.
"Emm, jadi gimana kalau Kak Konan ngebantuin kami, nge-cover lah istilahnya…" kata siswa pirang tadi.
"Hah?" Konan memandang heran siswa pirang itu. "Kamu kan nggak salah, Dei-chan. Yang salah itu mereka bertiga."
"Ta..tttaa..ppi…tapi, mereka bertiga, un, kayaknya mau nabokkin kita deh, Kak," ujar Tobi sambil memandangi topeng spiralnya. Dipakai, dilepas, dipakai, dan seterusnya.
"JANGAN NGIKUTIN GAYA GW, UN!" semprot Deidara.
Yang diteriakkin malah cengar-cengir. "Hehehe, peace, man!"
Konan langsung berpikir. Otak cerdiknya ditambah sifatnya yang suka menolong membuat dia menjadi tempat berlabuhnya dua bocah kelas satu SMA ini bila mau curhat. Ehem, ralat, kalo mereka mau ditabok senior di klub mereka.
Baru saja Konan hendak membuka mulutnya, tiba-tiba pintu mereka dibanting seseorang, diiringi dentuman tongkat besi dan teriakan anarkis a la demo depan gedung DPR/MPR. Tau lah siapa dia..
"WOIII, BOCAH TOPENG MONYET! BOCAH PIRANG! MANA RASA HORMAT LU?!!!"
Spontan, Konan langsung terbelalak matanya.
"Aduh! Kayaknya omelan Tayuya nggak ngaruh ke Kak Hidan deh…" ujar Konan dalam hati.
"HIII…HII….." Tobi dan Deidara berpelukan, ketakutan mereka berbuah kenyataan. Dan mimpi untuk diselamatkan Konan agaknya masih belum berbunga…
(1) Eksekutor= Pelaksana hukuman atau apapun itulah! Yang jelas, bukan dalang dibalik sandiwara, nyahahah!
(2) BSH= Barisan Sakit Hati, ini bukan istilah karangan saya. Cari aja di Google..!
waaah, akhirnya nulis juga chapter 2, hihihi:D
alhamdulillah~~(^ u ^)
thanks bwt luna yang udah ngasih ide bwt penodongan tayuya ke hidan, hohoho:D
dan thanks juga bwt si 'ehem' atas curhatnya yg menginspirasi 'luka' pein.
keep reading and stay tuned bersama saya, 194, wokeee??
