Desclaimer : I swear to GOD, Persona 4 is not MINE.

A/N : Sepertinya saya belum pernah bilang soal setting waktu fic ini ya?? Waktunya adalah setelah penyelamatan Rise dan Teddie sudah terlihat wujud manusianya. Kenapa Teddie dan Rise tidak diceritakan sebelumnya? Karena mereka sedang kencan!! XD *ditendang* Saya dapat ide fic ini dari kisah Zashiki Warashi… hmm... chapter akhir ini pendek. Endingnya... saya rasa kalian akan kaget... mungkin...

.

From Dusk Till Dawn

.

Chapter 3

.

Souji diam membeku melihat pemandangan di depannya. Rambut-rambut hitam itu dengan cepat bertambah panjang, mengikat kakinya di lantai. Pemuda itu menggenggam erat jemarinya, keringat dingin perlahan mengalir dari pelipis kepala dan sela-sela jemarinya itu. Ia menatap heran lantai-lantai kayu yang mendingin dan berkali-kali telinganya mengejang, mendengar suara dan seringai seorang perempuan di balik tubuhnya yang tertelengkup.

"Kau pasti bisa menggantikanku kan..."

Souji tidak bisa bergerak sedikit pun dari tempatnya sekarang.

----------

"Dimana? Dimana? DIMANA??!!!" Yosuke berlari kesana kemari mencari celah untuk masuk, "Rise! Kamu yakin Souji masih disini??!!" ia memalingkan pandangannya ke arah anak perempuan berkuncir dua. "I-Iya! Tidak salah lagi!!" Rise kembali memfokuskan pencariannya dengan menggunakan Himiko, persona-nya yang memiliki antena di kepalanya dan berbaju serba putih.

"Aku tidak menyangka kita bisa menggunakan persona kita disini..." sahut Chie berkacak pinggang. "Ya. Itu berarti memang ada yang aneh dengan tempat ini." jawab Yukiko, "Kalau benar apa yang diceritakan Kanji-kun, mungkin arwah gadis itulah yang menahan Souji." ia melihat kesekitarnya, ikut mencari celah untuk masuk. Dan kemudian ia melihat ke arah Teddie yang sedang mengendus, "Bagaimana, Ted? Menemukan sesuatu?".

Teddie berhenti. Ia terdiam sesaat, hingga kemudian melihat ke arah Yukiko dari balik punggungnya, "Maaf, Yuki-chan..." wajahnya terlihat begitu sedih dan lelah, sejak tadi ia terus mengendus dan mengendus mencari keberadaan sensei-nya itu. "Akan kucoba lagi! Tenanglah!!" Teddie pun berlari ke arah yang berbeda.

RAAARRRWWRR!!!! Maskot istimewa Junes itu sekali lagi mengerahkan seluruh kekuatannya. Yukiko meremas roknya hingga kusut disatu bagian. Sejak tadi jantungnya terus berdegup dengan kencang, merasakan suatu hal yang buruk. Ia sebenarnya ingin menjerit-jerit mencari Souji, namun ia tidak sampai hati ketika menyadari bukan hanya dirinya yang mengkhawatirkan pemuda berambut abu-abu itu.

Ia terus berdoa dan berdoa, semoga Souji baik-baik saja sampai mereka menemukannya kembali.

Sekarang sudah hampir pukul 5 pagi. Sebentar lagi matahari akan menampakkan dirinya. Anak-anak yang menyebut diri mereka Investigation Team itu sudah mencari selama kurang lebih 10 jam. Mereka sudah sangat kelelahan, berkali-kali mereka menyerah dan berpikir untuk menyerahkan kasus ini pada Dojima. Tapi, sekali lagi mereka menggelengkan kepala dan melanjutkan pencarian terhadap leader mereka itu. Souji tengah menunggu, itulah yang terus-menerus mereka rasakan. Hingga....

ZZZZUUUUUUUNNNGGGG

Sesaat kemudian, suasana disekitar mereka berubah. Langit menjadi lebih gelap, udara terasa begitu berat menekan mereka seolah meronta-ronta akan sesuatu. "Nggghh!! A-Ada apa ini??" Kanji berusaha berdiri tegak di tengah-tengah udara yang menekannya. "Kyaaaa!!" Himiko menghilang setelah melemparkan Rise dengan kasar menjauh darinya, "A-Apa?? Himiko??"

----------

Ditarik, Souji menacapkan kukunya dalam-dalam ke lantai kayu dibawahnya. Ia mengerang, berusaha mengeluarkan seluruh tenaga dalam tubuhnya. Tapi semakin besar perlawanan yang ia lakukan, rambut hitam itu menariknya lebih keras lagi, membuat ia tersentak kesakitan.

"Ggh!!" tidak peduli kukunya terkelupas disana-sini, ia terus tertarik mundur semakin mendekati sosok di belakangnya itu. Ia berharap bisa menggunakan persona-nya saat itu. Sayang sekali Souji tidak tahu kalau ia memang bisa.

"Jangan nakal... jangan nakal... Kau harus menurut kalau ingin jadi anak yang baik..." sekali lagi gadis itu menyeringai, matanya kini berkilat diterpa bayangan bulan yang terpantul dari kolam di hadapannya. Tangannya yang putih pucat terjulur dan menggapai mata kaki Souji.

Kembali Souji tersentak merasakan benda dingin di kakinya. Wajahnya memucat, ia menganga namun tidak sanggup berkata-kata, keringat dingin semakin deras turun dari pelipisnya hingga menetes di dagu. Ia tahu akan terjadi hal yang tidak ia inginkan bila ia tidak lebih melawan lagi. Tapi ia juga tahu, ia takkan pernah bisa mengalahkan sesuatu yang bukan manusia. Ia menyerukan nama teman-temannya, hanya untuk menyadari kemudian suaranya tenggelam ditelan matahari pagi yang mulai menampakkan sosoknya.

Tanpa mempedulikan lolongan diluar sana, gadis berkimono merah itu tertawa kecil dan menutup matanya. Ia menghela nafas dan berdiri perlahan, meninggalkan Souji yang terduduk diam tak bergeming.

.

.

END

.

.

…................. ada komentar? …..................... *ngumpet dibalik selimut* Jangan bakar saya please...