Yak, akhirnya diupdate juga ni fanfic. Buat para pereview, makasih ya reviewnya dan maaf nih fanfic lama soalnya author dibombardir sama yang namanya pr, tugas dan ulangan. Sesuai saran, saya renggangin nih cerita, dah cukup blum? Buat saran yang satu lagi… kayak gini maksudnya? maaf saya ga biasa sih. Thanks ya, selamat membaca~ Btw, nih gambar Shihonya http://tenshiuta127. deviantart. com/art/Shiho-Fujiki-132773648 (jangan pake spasi). Sori kalo ga sesuai bayangan and jelek, soalnya saya ga bisa gambar. Saya buat aja langsung Shiho versi kacamatanya, susah sih bikin dua -bilang aja males!-Well, silahkan baca~

Disclaimer: Persona 4 bukan punya saya. Kalau punya saya bakal ancur tuh game. Oh iya, saya lupa disclaimer di chapter 1, berarti tuh game disitu punya saya dong! –ditabok-

Chapter 2: Surprise!

"Ok, sekarang ayo kita atur pestanya. Dojima-san sudah bilang ok." Para anggota I.S itu sedang berbisik-bisik di meja favorit mereka.

"Ya. Ayo kita kumpulkan bahannya." Yukiko berbisik. Mereka semua mengangguk.

"Baiklah, ayo berpencar. Yosuke-senpai siapkan sushinya. Kanji, siapkan hadiahnya. Yukiko-senpai es krimnya, Rise bagian puding custard, Chie-senpai beli sayur dan buah buat salad dan aku beli bahan nasi kare." Naoto membagi tugas dan mereka langsung berpencar untuk mempersiapkan semuanya. Tapi…

"TEDDIE NGAPAIN??"

-x-x-x-x-x-x-

"Yap, bahannya dah ada semuanya… Kay…" Chie berjalan menuju food court. Setelah menaiki elevator, dia pun sampai. 'ciprak'…. Cewek tomboy itu berhenti. "Ciprak?" Chie kebingungan. Reflek dia melihat ke bawah. Matanya terbelak. Air menggenangi lantai food court.

"Apaan nih?!" Chie berbalik dan mendapati Yosuke dkk ada dibelakangnya.

"Oi Yos, kok bisa banjir sih? Ada yang bocor ya?" Chie bertanya dengan wajah blo'on.

"Ya enggak lah! Eh, itu Teddie kan?" Yosuke menunjuk ke arah bangku favorit mereka.

"Iya deh. Kita deketin yuk." Mereka mendekat dan ternyata oh ternyata, Teddie lagi nangis dan dialah penyebab kebanjiran yang membuat 1 orang tenggelam, 2 orang pingsan dan yang lainnya sweat drop –Lebay mode on!-.

"Teddie! Lo bego ya? Jangan bikin banjir toko orang dong!" Yosuke memukul kepala Teddie.

"Hiks… Habis… GA ADA YANG INGET AMA TEDDIE!!!" Teddie berbalik dan terlihat dengan jelas wajah Teddie yang super duper jelek –digebuk Teddie- yaitu mata bengkak, ingusan dan rambut berantakan yang dijamin bakal bikin ilfil para penggemarnya dan sekali lagi para I.S sweatdrop.

"Teddie… Kita bukannya ngelupain kamu kok cuma…" Rise berhenti ngomong buat nyari alasan yang bagus.

"Cuma apa? Hiks…" Teddie masih sesenggukan. Para I.S panik.

"Ka-kamu tuh tugasnya ngejagain nih tempat biar ga ada yang nempatin!" Kanji ngasih alasan yang sumpah ga banget dan memancing Rise dan Chie untuk menginjak kakinya dan hasilnya sudah dapat dipastikan, Kanji teriak kayak orang gila.

"Kenapa tugas Teddie cuma ngejagain nih tempat??!!" Teddie bersiap untuk nangis lagi tapi Yukiko dengan cepat menangkalnya.

"Gi-gini loh Ted. Kan kalo tempat ini didudukin orang ntar kita ga ada tempat buat ngumpul apalagi kalo penuh. Kalo ga gini bisa ketahuan acaranya. Tugas kamu tuh besar loh!" Yang lain sweat drop dengan alasan Yukiko yang ketahuan banget bohongnya. Mereka melihat ke arah Teddie dan mendapati hal yang sangat tak terduga, Teddie sumringah dan matanya berbinar-binar.

"Ternyata tugas Teddie sangat penting ya! Terima kasih Yuki-chan, kau sangat baik! Scoring sama Teddie yuk!" Teddie berniat memeluk Yukiko tetapi dengan sigap dihindari cewek berbando merah itu. Teddie jatuh dan ditutup dengan tendangan Chie.

"Bisa ga sih kamu ga ngomongin scoring lagi Ted! Oh iya, makasih Chie." Yukiko marah-marah dan berterima kasih pada sahabatnya yang dengan sukarela menendang Teddie ampe ke langit.

"Ga masalah! Oh iya, kalo ga cepet ntar ga keburu loh!" Chie mengingatkan dan mereka pun bergegas menuju rumah keluarga Dojima.

-x-x-x-x-x-x-

Tampak seorang anak laki-laki berambut abu-abu sedang duduk didalam kereta. Dia melihat foto yang terus dipegangnya sambil tersenyum. 'Sebentar lagi…' Dia berpikir.

"Perhatian kepada para penumpang, kereta ini telah sampai ditujuan. Mohon periksa barang-barang anda agar tidak tertinggal. Terima kasih karena telah memakai jasa kami." Mendengar pengumuman itu, remaja itu berdiri dan mengambil tasnya. Dia berjalan keluar kereta dan melihat-lihat.

"Disini, Souji nii-san!" Cowok yang bernama Souji itu pun menghampiri orang yang memanggilnya.

"Hai Shiho, hai Nanako, hai Dojima-san." Souji menyalami penjemputnya satu persatu.

"Onii-san, Nanako kangen sama nii-san!" Nanako memeluk Souji.

"Hahaha, aku juga kangen semuanya… Shiho, yang lain belum tahu kan? Souji menatap Shiho. Shiho mengangguk.

"Tentu saja dan lagipula mereka gak akan nyangka aku kenal sama nii-san." Shiho tersenyum.

"Maaf mengganggu kalian tapi ayo kita pulang." Dojima menunjuk ke arah mobil.

"Tentu saja. Ayo, nii-san!" Kata Nanako dan Shiho kompak. Souji hanya tertawa kecil melihatnya. Setelah semua masuk, Dojima menyetir dan sebenarnya dia terus tertawa dalam hati.

'Kejutan dibalas kejutan, hahaha!'

-x-x-x-x-x-x-

"Yosh, persiapan selesai!" Para I.S terlihat senang.

"Ya dan sekarang tidak ada mysterious food X!" Yosuke berteriak lega.

"SORI deh Yosuke-senpai!" Rise menatap Yosuke dengan tajam.

"Nah, persiapan sudah selesai sekarang tinggal nunggu Fujiki-san." Naoto berbicara.

"Tentu sa-" Sebelum Yukiko selesai ngomong, terdengar suara orang didepan pintu.

"Gawat! Mereka datang!" Kanji mematikan lampu dan mereka semua bersembunyi.

"Permisi!" Lampu menyala dan…

"Selamat datang Shiho!" Chie bersuara paling keras. Shiho kaget dan kemudian terbahak-bahak.

"Loh, kenapa Shi-chan?" Yukiko heran ngeliat Shiho ketawa.

"So-soalnya… Hahahaha! Masuklah!" Shiho menyuruh dan Souji masuk kedalam sambil tertawa kecil. Para I.S langsung mematung.

"Hai teman-teman." Sapa Souji yang udah berhenti tertawa.

"L-lo beneran Souji?" Yosuke masih ga percaya.

"Ya iyalah, masa hantu kan aku blum mati." Souji menyeringai.

"Bego lo Souji!!!" Para I.S pun berlari ke arah Souji dan memeluk Souji.

"Senpai, kok dateng ga bilang-bilang?! Kan bisa dijemput!" Rise teriak-teriak.

"Se-sesaak!!!" Kontan semuanya melepaskan Souji. "Fuh… Aku bilang kok, ke Nanako, Dojima-san dan Shiho." Mendengar nama Shiho, Yukiko langsung bertanya.

"Kau kenal Souji-kun, Shi-chan?" Yukiko merasa heran.

"Tentu saja, nii-san kan tetanggaku! Nii-san juga temanku sejak kecil!" Shiho tersenyum senang kayak anak tk.

"Wah, ga nyangka ternyata kau kenal dengan Shiho-chan! Kamu tau ga dia tuh sepupu Yukiko-san?" Yosuke bertanya karena penasaran.

"Tentu saja. Udah ah kok jadi ngomongin itu! Ngomong-ngomong, kalian ngapain sih?" Souji melihat sekeliling dan menyadari rumah pamannya itu terlihat berbeda.

"Oh ini? Tadinya ini buat pesta penyambutan Shiho tapi…"

"Jadiin pesta penyambutan aku dan onii-san saja!" Shiho mengusulkan.

"Benar juga. Kau memang pintar Shiho!" Dalam sekejap suasana sudah berubah menjadi suasana pesta. Mereka semua berbincang-bincang, makan dan bersenang-senang tak terkecuali Nanako dan Dojima-san. Mereka bersenang-senang seharian dan saat malam tiba, mereka semua pulang ke rumah masing-masing kecuali Nanako, Dojima dan Soujiyang memang tinggal disana.

"Teman-temanmu memang baik ya." Dojima dan Souji ngobrol sambil minum kopi.

"Yah, memang…" Souji meminum kopinya.

"Kau ada janji dengan mereka kan? Tidurlah." Dojima menyuruh dan Souji menurut. Dia naik kekamarnya dan bersiap untuk tidur.

-x-x-x-x-x-x-

"Nii-san! Ohayo!" Souji terbangun karena suara Nanako.

"Loh, Nanako? Bagaimana kau bisa masuk?" Souji terlihat kebingungan.

"Pintunya tidak dikunci." Nanako menunjuk kearah pintu. Souji terhenyak dan menepuk jidatnya.

"Oh iya… Jam berapa sekarang?" Souji melihat kearah jam. "Jam 8... Aku siap-siap dulu deh. Nanako, kau mau ikut?" Souji berdiri.

"Ya. Kalau gitu aku siap-siap juga deh." Nanako membuka pintu dan turun kebawah.

"Kalau gitu…" Souji berjalan ke kamar mandi. Sekitar 10 menit kemudian dia kembali kekamarnya dan bersiap-siap.

"Onii-san, kau sudah siap?" Nanako , memanggil Souji dari bawah. "Ya, tunggu sebentar!" Souji meraih jam tangannya dan turun kebawah. Nanako terlihat senang saat Souji turun.

"Ayo, nii-san!" Mereka pun pergi keluar.

-x-x-x-x-x-x-

"Souji! Nanako!" Souji dan Nanako menghampiri para I.S + Shiho yang sedang duduk.

"Udah lama?" Tanya Souji sambil menarik satu kursi dan diikuti oleh Nanako.

"Kita juga baru dateng kok. Nah, ayo kita jalan." Rise berdiri.

"Kemana?" Yang lain kompak nanya.

"Ke Okina aja, jarang-jarang kita kesana." Ternyata Rise punya ide bagus juga, tumben…

"Boleh. Kebetulan aku mau beli benang dan peralatan jahit baru." Kanji berkata dan yang lain langsung sweatdrop.

"Snrk… Kanji… belanja… hehe… Ga cocok! Bwahahahaha!" Penyakit Yukiko kumat lagi.

"Udah tinggalin aja. Yuk kita pergi." Shiho bangkit dari tempatnya dan ngeluyur pergi. Para I.S (minus Yukiko yang masih ketawa dan Nanako) sweatdrop, ga nyangka Shiho itu rada kejam.

"Semua, ayo pergi…" Souji memerintah dan yang lain pun bergegas menyusulnya, ninggalin Yukiko sendirian. Beberapa menit kemudian, Yukiko berhenti ketawa trus celingak-celinguk.

"Yang lain mana ya? Tungguin dong!" Yukiko panik trus lari ala Kazuma di Yakitate Japan buat nyusul yang lain. Dan para pengunjung Junes pun banjir sweat drop.

'Cantik-cantik kok larinya kayak gitu…' Itulah pikiran para pengunjung.

-x-x-x-x-x-x-

Sementara itu, di depan stasiun…

"Shiho, gak apa-apa nih ninggalin Yukiko?" Souji sweatdrop.

"Biarin aja nii-san. Ah, dia bentar lagi datang…" Dan lima menit kemudian, Yukiko datang dan keadaannya mengenaskan, berdarah-darah.

"Yu-Yukiko-san, kamu baik-baik saja?" Yosuke terbengong-bengong dengan penampilan Yukiko.

"Oh ini? Tadi pas nyusul kalian aku ketabrak truk. Aku ke toilet dulu ya." Yukiko ngebut ke toilet.

"Ketabrak truk?! Trus kok masih baik-baik aja? Ajaib…" Rise terbengong bego.

"Apa kubilang…" Shiho tetap berwajah kalem.

"Maaf lama! Ayo pergi!" Yukiko balik.

Yang lain pada mikir cepet amat bersihnya. Mengabaikan kebingungan, mereka membeli tiket dan menunggu kereta. Setelah kereta datang mereka menaiki kereta itu. Tak lama kemudian mereka sampai di Okina.

"Akhirnya sampai juga! Wah ada film baru! Nonton yuk!" Kali ini Rise kumat hebohnya.

"Err… Rise, kita kan baru nyampe…" Naoto sweat drop.

"Nonton apa ya? Kayaknya ini bagus, Little detectives…" Bales Rise, cuek.

"Boleh saja. Ayo nonton dulu, daripada bengong. Nanako-chan mau nonton?" Shiho melihat Nanako yang menggandeng tangannya.

"Ya! Ayo kita beli tiketnya!" Kata Nanako semangat.

"Tunggu dulu! Aku belum bilang setuju!" Teriak Yosuke tapi terlambat, Shiho udah keburu ngantri.

"Sigh… Apa boleh buat…" Yukiko memasang wajah muram.

"Kenapa Yukiko nee-san? Ini tiketnya." Shiho tiba-tiba muncul(cepet amat beli tiketnya) di belakang Yukiko.

"HUA! Shi-chan… Makasih…" Yukiko mengambil tiketnya.

"Filmnya bentar lagi mulai. Aku dan Nanako-chan beli popcorn dulu ya!" Shiho berlari ke counter makanan. Rise dan Teddie pun mengikuti mereka. Yang lain yang masih tersisa Cuma bisa menghela nafas. Habis beli popcorn + minum + dll, mereka pun masuk ke dalam studio. Urutan tempat duduknya adalah sebagai berikut:

Souji-Shiho-Nanako-Chie-Yukiko-Yosuke-Rise-Naoto-Kanji-Teddie

Selama film berlangsung, Souji nonton sambil ngobrol dengan Shiho dan Nanako. Chie sweatdrop abis-abisan ngeliat Yukiko ketawa kenceng pas ada yang lucu. Yosuke bengong karena ga ngerti jalan ceritanya. Rise malah tidur padahal dia yang mau nonton. Naoto memperhatikan film dengan serius. Kanji bikin boneka(kurang kerjaan banget) dan Teddie ngerecokin Kanji. Walhasil, tidak ada yang inget jalan cerita film aneh itu kecuali Naoto yang amat memperhatikan.

"Fuah! Filmnya bagus ya." Rise menguap saat mereka sudah keluar studio.

"Memangnya kamu tadi nonton ya? Perasaan tidur mulu deh…" Naoto sweatdrop. Rise nyengir.

"Kayaknya kita memang ga cocok nonton deh… Lapar nih…" Yosuke mengelus perutnya.

"Laper? Iya juga… Terserahlah mau makan dimana…" Souji bersikap acuh tak acuh.

"Mencar aja yuk. Ntar ngumpul didepan stasiun jam 4." Semuanya mengangguk dan mulai berpencar. Hanya Shiho sendiri yang diam ditempat.

"Enaknya ngapain ya…" Shiho bergumam sendiri. Dia pun berjalan tanpa arah dan dia melihat toko yang unik. Penasaran, Shiho memasuki toko itu dan melihat tv besar didalamnya.

'Wah, besar sekali…' Shiho terkesima. TV yang berukuran 87 inch (emang ada ya? Kalo ada segede apa ya?) itu dilihatnya dengan pandangan kagum. Tanpa Shiho sadari, sesosok manusia terlihat di belakangnya. Sosok itu mendorong Shiho ke arah TV.

"Eh?" Shiho hanya bisa bengong sebelum akhirnya masuk kedalam TV dan handphonenya terjatuh. Orang yang mendorongnya menyeringai dan mengambil hp yang terjatuh itu. Dia mengetik sms, mengirimnya sebelum akhirnya membuang hp itu. Sementara di luar, toko unik itu menghilang dan berubah lagi menjadi lapangan kosong dan tak seorang pun menyadarinya…

-x-x-x-x-x-x-

"Kenyang kenyang! Yo Souji!" Yosuke melambaikan tangannya saat dia melihat Souji dan Nanako.

"Hai Yos. Yang lain mana?" Souji menanyakan.

"Chie palingan ama Yukiko-san. Trus 4 lainnya pasti bareng. Ah, itu mereka!" Yosuke menunjuk segerombolan orang.

" Yo! Ayo kita pulang, aku cape nih." Chie meregangkan tubuhnya.

"Trus ninggalin Shiho-chan? Kau gila ya?" Yosuke mengerutkan dahi.

"Ya enggak lah! Shiho kan udah pulang duluan." Chie mencibir.

"Tadi Shiho sms kalo dia duluan soalnya dia ga enak badan." Yukiko menjelaskan ke Yosuke yang sempet melongo.

"Ok kalo gitu. Ayo pulang." Souji mengambil alih dan mereka membeli tiket kereta. Mereka semua ketiduran dikereta. Mereka bangun saat kereta sampai di Inaba.

"Dah Souji, Nanako-chan!" Semuanya pulang kerumah masing-masing. Yukiko pun berjalan menuju Amagi Inn. Sesampainya disana, dia bertanya pada salah satu pelayan.

"Maaf, apa Shi-chan udah dateng?" Yukiko nanya.

"Fujiki-sama? Saya belum lihat." Si pelayan menggeleng. Yukiko menghela napas.

"Begitu ya… Terima kasih…" Yukiko berjalan ke kamarnya dan melihat keluar. "Ah, hujan…" Yukiko teringat Midnight Channel. "Ga mungkin sih…" Yukiko pun berjalan keluar kamar kembali. Dia menepis pikiran buruknya.

-x-x-x-x-x-x-

Tengah malamya di kediaman Dojima, Souji terlihat mengamati sekitarnya dari jendela. Hujan masih terus membasahi bumi.

'Walau ga ada lagi siapa tahu…' Pikirnya. Dia menutup tirai dan mematikan TV. Diperhatikannya TV itu beberapa saat.

'Tuh kan… Syukurlah…" Ketika Souji berbalik, TV itu menyala. Souji berbalik kearah TV dan melihat Midnight channel telah kembali. Dia memperhatikan sosok yang ada di layar itu. Matanya terbelak. Sosok itu adalah sosok yang sangat dikenalnya.

-x-x-x-x-x-x-

Sementara itu, di suatu tempat yang misterius, sesosok manusia tengah berdiri disamping gadis yang tak sadarkan diri. Sosok itu menyeringai.

"Kau sudah melihatnya… Cobalah tolong dia kalau kau bisa, Souji Seta…" Perlahan-lahan sosok itu menghilang, meninggalkan gadis yang tergeletak tak berdaya yang tak lain adalah…Shiho…

~To be continued~

Yak, sekarang sampai sini dulu ya. Perasaan cerita ini makin ga jelas deh hehehe -ketawa geje-. Dan kok para karakternya pada OOC ya? Yah, bagaimana gambar Shihonya? Aneh ato bagus? Terserah deh. Sudahkah saya mengedit cerita ini dengan baik dan benar? Trus kalo ada kemiripan dengan cerita lain harap maklum karena ni cerita dapet ide dari fanfict(s) disini. Review please? Maaf kalo ada kesalahan ya, saya kan juga manusia. Omong-omong, aku ada ide buat gabungin nih cerita ama P3, gabungin ga ya?