Yay, chapter 4! Akhirnya… Orang yang di akhir chapter tiga tuh Ryoji loh, bagi yang ga tau. Nah, karena author linglung ini ga tau mau nulis apa lagi, baca aja ya. Maafkan author sableng ini atas ke OOC-an para chara(s)!

Disclaimer: Persona bukan punya saya, resmi punya Atlus. Saya hanya punya cerita ini dan para OC(s)

Chapter 4: The Way to the TV World

"Apa katamu tadi?!" Teriak Yosuke yang mengagetkan para pengunjung Aiya yang lain. Chie yang kesal menginjak kakinya dan membuat Yosuke teriak lebih kenceng.

"Berisik Yosuke! Rise, tepatnya dimana pintu masuk itu?" Tanya Chie setelah menginjak kaki Yosuke. Rise menghela nafas.

"Justru itu… Saat aku dan Ted nyari pintu masuknya, kami keburu diserang shadow. Untungnya kami bisa kembali." Jelas Rise.

"Kami masuk lewat TV di rumahku. Tapi sepertinya tempat itu terlalu jauh dari tempat biasanya." Naoto menjelaskan sebelum Yosuke nanya.

"Susah dong… Yang pasti ga bisa dirumahku soalnya TV-nya kecil."

"Rumahku juga ga bisa."

"Susah juga ya…" Mereka semua menghela nafas. Tiba-tiba pintu restoran terbuka. Mereka berbalik ke arah pintu dan melihat Yukiko datang.

"Paman aku pesan kayak biasa." Pesan Yukiko.

"Hei Yukiko, urusanmu sudah selesai?" Tanya Chie pada Yukiko yang duduk di sebelahnya.

"Orang di penginapan akan mengurus sisanya. Nah, tadi apa yang kalian diskusikan?" Yang lain pun memberi tahu Yukiko apa yang telah didiskusikan. Setelah selesai, Yukiko berpikir sebentar lagi menepuk tangannya. Semua penasaran apa Yukiko sudah dapat ide atau belum.

"Umm… Sepertinya kita bisa masuk lewat TV di penginapanku deh."

"Benar juga! Bukankah Adachi memakai TV di penginapan Amagi pas pembunuhan pertama? Toh tempat munculnya tidak terlalu jauh."

"Aku setuju saja tapi kalau disana akan sulit soalnya terlalu banyak orang yang bisa ngeliat ga kayak Junes yang rada sepi." Naoto kelihatannya agak keberatan. Yosuke merasa tersinggung dengan ucapan Naoto (yang diunderline) tapi Naoto sepertinya tidak sadar.

"Kalau tengah malam? Ga mungkin…" Mereka semua menghela napas.

"Aku punya TV besar dirumah!" Seorang cewek berambut biru muda muncul.

"Sirasu-san? Sedang apa kau disini?" Tanya Naoto keheranan.

"Kenalanmu Naoto-chan?" Teddie terlihat senang. Dia suka cewek cantik sih.

"Dia Kirune Sirasu-san teman sekelasku dulu. Kalau ga salah kamu sudah pindah kan?"

"Aku balik lagi ke Inaba. Kalian tadi ngomong soal TV besar kan? Mau ke rumahku ga? Di rumahku ada TV besar loh!" Kirune menawarkan.

"Um… Sebentar ya…" Para I.S berdiskusi.

"Gimana? Sirasu-san itu terpercaya loh." Bisik Naoto (oh tidak! Naoto-chan, jangan!! Bodoh!!) –ditembakin Naoto sama dipukulin readers karena berisik-

"Boleh. Kita minta dia meninggalkan kita saat kita mau masuk TV-nya." Usul Souji. lancang sekali kau Souji! Para I.S memang bodoh!! –dibunuh-

"Kalau begitu kita tanya Kirune-chan dulu. Naoto tolong." Chie menyuruh. Naoto mengangguk dan berbicara dengan Kirune.

"Sirasu-san, kamin ingin main kerumahmu besok untuk meminjam TV-mu, boleh tidak? Terus boleh kau meninggalkan kami saat sedang menonton? Soalnya ini rahasia kami." Tanya Naoto agak kaku. Sejujurnya, dia tidak suka berbohong. Di luar dugaan Kirune mengangguk.

"Boleh. Kebetulan aku mau pergi besok jadi titip rumah ya. Mungkin aku akan pulang agak malam. Kalau kalian sudah selesai sebelum aku pulang, kuncinya bawa saja sama Naoto-chan. Aku akan mengambilnya begitu pulang." Para I.S terlihat lega dan mereka mengucapkan terima kasih pada Kirune. Kirune pun pamit untuk pulang.

"Fuh! Syukurlah dia mau… Tapi yang jelas apa kita bakal dekat dengan tempat biasa dengan TV-nya?"

"Semoga. Aku lapar nih… Paman, Rise mau pesan!"

"Loh? Kalian belum makan?" Tanya Yukiko.

"Belum. Pusing mikir sih. Aku juga pesan." Yukiko cuma geleng-geleng kepala. Saat yang lain memesan, pesanan Yukiko sudah dateng duluan.

"Aku makan duluan ya…"

"Iya!" Mereka pun kembali ceria lagi.

-x-x-x-x-x-x-

Sementara itu di tempat para antagonist…

"Nii-sama, kok Kirune-san ga datang-datang ya?" Tanya Suuki khawatir.

"Ga tahu. Shouguta, kau mengerti kan?"

"Ya ya… Kalian nunggu Kirune dulu ya?" Tanya Kugiru yang lagi tiduran.

"Tentu saja."

"Aku datang." Kirune memberi salam.

"Sirasu, bagaimana?" Yuuki bertanya. Kirune hanya mengangguk lemah dan pergi lagi.

"Kirune-san kenapa? Kok seperti ga sehat…" Sikap Kirune membuat Suuki bertambah khawatir.

"Dia ga kenapa-napa. Nah, ayo kita pergi, Suuki." Yuuki menggandeng tangan Suuki dan mereka berdua menghilang.

"Dah Kugiru. Hati-hati ya!" Prilia juga pergi.

Cih… Kenapa aku tidak boleh ikut sih? Padahal Kirune saja boleh… Gumam Kugiru dalam hati.

"Yah, kau kan mata-mata jadi tidak boleh ketahuan mereka dulu. Kirune-chan juga ga ngapa-ngapain kok." Kata pria bersyal kuning yang tiba-tiba datang.

"Jangan baca pikiran orang dong… Ryoji…" Ryoji lagi-lagi hanya tersenyum sebelum akhirnya menghilang lagi.

-x-x-x-x-x-x-

"Nah, kita sudah selesai makan. Bagaimana kalau kita beli peralatan?" Tanya Souji sembari meminum tehnya.

"Kalau Naoto, Kanji, Teddie ama aku udah senpai. Boleh kami ke kuil untuk menemui fox?"

"Terserah saja. Nah, ayo Yosuke, Chie, Yukiko. Kita beli senjata dan lainnya." Souji berdiri dan ketiga temannya mengikuti, pergi ke arah selatan sedangkan Rise dkk ke arah kuil.

-x-x-x-x-x-x-

Daidara Metal Works….

"Hmm… Beli apa ya?"

"Paman, ada yang bagus ga?" Tanya Chie.

"Yang paling baru sih disitu." Tunjuk Daidara.

"Ini bagus… Tapi mahal juga ya…" Yukiko memegang kipas berwarna merah seharga ¥30.000

"Kau benar padahal bagus dan sepertinya kuat…" Chie sendiri memegang sepatu berwarna kuning lemon seharga ¥32.000

"Uangku ga cukup… Gimana Teddie beli yang semahal ini ya?" Yosuke terlihat sedih sekaligus penasaran. Dia memperhatikan pisau seharga ¥35.000 yang sedang dipegangnya. Sementara teman-temannya kebingungan, Souji dengan santai mengambil pedang paling mahal dan palin bagus lalu melihat-lihat armor.

"Souji, kau serius mau beli itu?" Yosuke sweatdrop begitu pula dengan Chie dan Yukiko. Souji ngangguk.

"Ya, ada yang salah ya?" Tanya Souji blo'on.

Ada yang salah? Yang masalah itu kamu!! Teriak Yosuke dalam hati.

"Yah, kebetulan orang tuaku ngasih aku sedikit uang jajan sebelum aku balik ke Inaba."

"Uang jajan? Berapa memangnya?" Yukiko penasaran. Souji berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab.

"Sedikit sih. Kalau ga salah sekitar ¥10.000.000 deh…" Ketiga orang sahabat Souji itu langsung bengong.

¥10.000.000 dibilang sedikit?! Orang kaya macam apa kau ini Souji!!

Ap-apa?! ¥10.000.000 kan bisa buat apa aja! Kalau ada segitu penginapanku bisa makmur tuh!

Wah! Kalau ada ¥10.000.000 aku bisa beli steak berapa ya? Segunung nih!

Mereka ini kenapa sih? Kok pada melongo gitu… Apa mereka kaget saking dikitnya uang jajanku?

Oiy oiy! Kalau mau bengong jangan disini! Ganggu pembeli yang lain aja!

(Itulah pikiran mereka. Silahkan tebak sendiri yang mana yang pikiran siapa)

"Kalau gitu Souji, beliin yang kami juga dong!" Paksa Chie.

"Tapi jangan yang mahal-mahal amat ya." Souji berbaik hati mentraktir teman-temannya.

"TERIMA KASIH YANG MULIA SOUJI!" Teriak mereka bertiga berbarengan. Setelah selesai belanja, mereka semua keluar toko dengan sumringah (Minus Souji)

"Sekarang kita ke shiroku ya. Tapi kalian beli pake uang sendiri! Ga terlalu mahal ini." Souji bete karena ternyata ketiga temannya memilih senjata yang lumayan mahal.

"Yoi Souji!"

-x-x-x-x-x-x-

Shiroku Store….

"Permisi bibi. Aku mau beli goho-m 5. Vanish ball 3. Ointment, emergency kit dan heal jelly masing-masing 10. Value medicine dan medicine masing-masing 5!" Teriak Yosuke.

"Kalau aku Ointment, emergency kit, heal jelly, revival bead dan balm of life masing-masing 15. Value medicine dan medicine masing-masing 5. Goho-m 3 dan hiranya 2!" Kali ini Chie.

"Aku… Revival bead, balm of life, heal jelly dan emergency kit masing-masing 10. Amrita soda dan hiranya masing-masing 8 deh. Dan juga goho-m 5." Yukiko memesan.

"Semuanya masing-masing 99 untukku." Pesan Souji berlebihan. Yang lain lagi-lagi sweatdrop. Si bibi kesenengan barangnya laku.

"Hohoho! Baiklah, tunggu ya!" Si bibi mulai menghitung.

"Karena anak muda ini sudah memborong barangku, kalian bertiga cukup membayar ¥17.500! Dan kau anak muda, cukup bayar ¥357.000 saja!" Kata si bibi ngasih diskon.

"Yang bener?! Asyik!" Teriak ketiganya (Yosuke, Yukiko, Chie) bersamaan. Mereka berempat segera membayar dan keluar toko.

"Ada Sou-chan jadi asyik deh. Thanks buddy!" Yosuke sok inggris. Souji merinding ga jelas.

"Tolong deh jangan panggil aku Sou-chan!" Souji gemeteran.

"Senpai!" Mereka berempat menoleh. Keempat teman mereka yang lain menghampiri mereka.

"Sudah selesai? Loh kok banyak amat?" Kanji keheranan.

"Si Souji ngeborong Shiroku… Tapi lumayan sih kita jadi dapet diskon."

"Sensei keren!" Entah apa yang keren, Teddie memang aneh.

"Oiy Ted… Kamu beli senjata kan? Uangnya dari mana? Dan harganya berapa?" Yosuke udah mulai curiga.

"Totalnya ¥100.000 dan Teddie ambil uangnya dari tempat bentuk kodok di kamar Yosuke~" Cerita Teddie. Yosuke langsung jadi pasir.

"BEGOO! ITU UANG TABUNGANKU!!" Yosuke yang udah balik jadi orang teriak dengan volume maksimum.

"Teddie yang keren dan tampan ini kan ga tau~" Teddie memasang wajah tanpa dosa. Yang lain pada muntah.

"Udah deh ga usah berantem. Kita kan harus siap-siap buat besok. Masa kalian lupa? Jangan-jangan kalian juga lupa sama Shiho…" Selidik Souji.

"Ga kok! Ayo siap-siap!" Chie tergagap-gagap. Dia memang lupa soal TV dan Shiho, pikun pikun~ -ditendang sama Chie-

"Loh? Bukankah kalian yang tadi?" Para I.S berbalik dan melihat para S.E.E.S yang lagi jalan-jalan.

"Kirijo-san? Kebetulan sekali kita bertemu." Sapa Yukiko ramah.

"Hei, bukankah kau detective prince Naoto?" Tanya Akihiko yang tiba-tiba nongol.

"Sanada-san? Um… detective prince… " Naoto rada-rada ga enak dipanggil dengan sebutan satu itu.

"Kenapa Naoto?" Rise bertanya.

"Bukannya kau Rise Kujikawa?" Junpei senyam-senyum.

"Yup! Aku Rise Kujikawa!"

"Tak kusangka akan bertemu denganmu disini! Boleh a-" Junpei dipukul sama Yukari.

"Udah deh Stupei jangan berisik!"

"Sakit! Aku bukan Stupei! Yuka-tan!" Junpei memegangi kepalanya.

"Dan aku bukan Yuka-tan! Stupei!" Dan kedua orang itu pun bertengkar.

"Udah biarin aja. Kita pergi saja yuk." Usul Ken. Para S.E.E.S dan I.S pun pergi bersama, meninggalkan Junpei dan Yukari serta Teddie dan Kanji yang lagi nonton Yukari lawan Junpei.

-x-x-x-x-x-x-

"Nii-sama, kasihan dia… Boleh kurawat?" Suuki menunjuk Shiho.

"Kalau cuma Dia sih boleh." Yuuki membolehkan.

"Makasih. Otohime!" Munculah persona di atas Suuki.

"Cuma Dia aja!" Yuuki memperingatkan.

"Iya iya! Onii-sama berisik deh… Otohime, Dia!" Suuki memerintah. Cahaya menyelimuti Shiho dan dia terlihat lebih sehat.

"Bagus sekali. Suuki, nanti kau sembunyi ya. Jangan sampai mereka tahu." Prilia muncul membawa minum.

"Ya. Milk tea punyaku mana?" Suuki nyamperin Prilia. Prilia memberikan milk tea untuk Suuki dan ia memberikan kopi pada Yuuki sedangkan dia sendiri minum milkshake.

"Coke itu untuk siapa?" Tanya Yuuki sembari meminum kopinya."

"Buat Kirune. Dia kan nanti kesini."

"Hei, udah beres nih!" Kirune yang tiba-tiba datang berteriak.

"Kerja bagus Kirune. Nih, coke." Prilia memberikan coke kepada Kirune yang diterima dengan senang hati.

"Kirune-san, sebenarnya kau mendirikan 'rumah' itu dimana sih?" Suuki terlihat agak bingung.

"Ya di tempat yang rada jauh dari tempat mereka lah. Kalau ga, bisa ketahuan. Oh, yang pasti di 'tempat yang dulu'." Jawab Kirune.

"Jam berapa mereka akan datang?"

"Sekitar jam satu siang deh… Benar juga, aku punya berita bagus!" Kirune tersenyum.

"Apaan?"

"Para anak Iwatodai itu, para S.E.E.S maksudku, datang kesini! Tadi aku melihat mereka jalan bareng dengan para I.S!" Cerita Kirune. Yuuki yang semula jongkok langsung berdiri.

"Ini bagus! Selain menghemat waktu, kebetulan aku punya ide yang asik…" Yuuki menyeringai. Ketiga cewek di depannya kebingungan.

"Maksudmu?"

-x-x-x-x-x-x-

Amagi Inn…

"Kalian semua berasal dari Iwatodai?!" Teriak Yosuke terkaget-kaget.

"Benar. Kalian pernah kesana?" Fuuka meminum minumannya.

"Saat wisata sekolah tahun lalu. Kami sempat ke sekolah Gekkoukan dan belajar disana. Gurunya Pak Edogawa, di kelas kami. Dan ketua osisnya… Chihiro Fushimi rasanya." Beber Souji.

"Pak Edogawa, guru nyentrik itu? Setiap inget Pak Edogawa aku selalu inget tampang kucelnya. Senpai, Chihiro itu anggota osis kan?"

"Tepat sekali. Dulu dia bendahara sekarang dia menjadi ketua osis, menggantikan aku… Jadi dia minta tolong untuk itu ya?" Mitsuru bicara sendiri.

"Kalian menginap dimana?" Pertanyaan itu membuat para I.S (minus Teddie) membatu.

"Di Shi-Shirakawa Bou-Boulevard…" Jawab Rise tergagap-gagap.

"Ka-Kalian tahu tidak kalau Shi-Shirakawa boulevard itu lo-lo-love h-hotel?" Muka Fuuka bersemu merah.

"Guru kami yang mengurus soal hotel. Kashiwagi memang ga bener…"

TENG…TENG… Jam berdentang 4 kali. Saatnya untuk? (halah ngelantur)

"Sudah jam 4? Gawat nih. Semuanya, Rise pulang dulu ya!"

"Oiy Rise! Aku ikut! Dah senpai!"

"Aku juga harus pulang. Senpai, semuanya, aku pamit dulu ya." Dan ketiga kohai itu pun pulang bareng karena mereka searah (emang rumah Naoto searah ya? Ga tau deh…)

"Yup, aku juga harus pulang. Teddie, ayo pergi!" Teriak Yosuke pada Teddie yang lagi maen ama Koromaru. Teddie cemberut.

"Teddie masih mau main ne~" Rengek Teddie yang berkostum boneka.

"Arf! Guk guk!" Koromaru menggonggong.

"Koromaru bilang dia juga ga mau Teddie pergi tapi Koro anak baik jadi ga akan ngalangin Teddie… Sejak kapan Koromaru jadi narsis begini?" Aigis sweatdrop begitu pula dengan S.E.E.S.

"Tuh Ted, pergi yuk."

"Udah deh pulang aja. Aku juga pulang dulu ya!" Chie berjalan sambil menyeret Teddie. S.E.E.S: double sweatdrops

"Berat ga Chie? Aku bantu deh. Ah, aku juga pamit ya, Nanako nunggu nih." Souji membantu Chie menyeret Teddie. S.E.E.S: beribu sweatdrop. Tinggal lah Yukiko sendiri + S.E.E.S.

"Jam 4… Baiklah, saya harus menyiapkan sesuatu. Silahkan mencoba pemandian air panas kami jika kalian semua tertarik. Sekarang jamnya cewek, 1 jam lagi cowok. Permisi." Promosi Yukiko.

"Kita coba yuk! Katanya disini bagus. Sekarang jamnya cewek ini." Yukari terlihat bersemangat. Para cewek tertarik dan teringat sesuatu. Mitsuru memberikan death glare pada para cowok.

"Kalian jangan coba-coba mengintip atau… Eksekusi!" Peringatan yang diberikan Mitsuru tidak main-main. Para cowok hanya mengangguk kaku. Yang cewek pergi kekamarnya.

"Jangan ngintip Junpei. Aku ga mau dieksekusi sama Mitsuru." Larang Akihiko. Junpei mengangguk, tumben nurut. –ditebas Junpei-

"Ga akan. Aku ga sebodoh itu." Junpei merinding.

"Andai di saat seperti ini 'dia' ada bersama kita…" Mereka memang masih mengingat 'dia' yang sudah tiada.

-x-x-x-x-x-x-

Souji's Room…

Shiho, tunggulah! Kami akan segera kesana!

Sementara itu, di kamar 208…

"Mandi air panas memang menyenangkan." Di depan kamarnya, Aigis tiba-tiba berhenti. Dia melihat sebuah buku didepan kamarnya.

"Buku apa ini?" Dipungutnya buku itu dan dibaca sedikit.

"Ini?!"

Di tempat lain, seseorang terjatuh dari langit sebelum akhirnya ditangkap oleh seseorang bersyal kuning.

"Selamat datang, Minato…"

~To be continued~

Saya tahu kalau cerita chapter ini aneh. Mini quiz pas di daidara gampang kan? Minato dah muncul, hore! Mau ngomong apa lagi ya? Saya bingung… Yah, sekarang bio-nya Kirune ya. Bagi yang ga ngeh, mata kanan Kirune itu buta loh. Saya minta reviewnya ya! Oh iya, ini ada gambar Shiho yang lain, http://tenshiuta127. deviantart. com/art/Shiho-Fujiki-Again-136508185 (ga berwarna), http://tenshiuta127. deviantart. com/art/Shiho-Fujiki-Again-Coloured-136508454 (berwarna)

Biodata OC (Kirune):

Nama: Kirune Sirasu

Umur: 16

Kelas: 2 SMU

Hobi: Ga tentu. Belakangan suka window shopping

Makanan favorit: Kare, hamburger, pai apel

Minuman favorit: Coke, susu coklat

Rambut: Panjang diiket dua warna biru muda

Mata: Hijau

Karakter: Ceria, cengeng, mudah marah

Persona: Ceres of the Justice Arcana

Senjata: Dagger

Gambar: http://tenshiuta127 .deviantart. com/art/Kirune-Sirasu-136506808 (jangan pake spasi) atau cari: Kirune Sirasu Persona buatan tenshiuta127 (di deviant art)

Berwarna= http://tenshiuta127. deviantart. com/art/Kirune-Sirasu-Coloured-136507246 atau lihat aja di gallery-ku (tenshiuta127)

Anggota tim antagonist. Teman masa kecilnya Kugiru. Cewek manis berambut biru ini orangnya cepat naik darah dan sering berantem sama Kugiru (Yang sebenarnya ga pernah dianggap sama Kugiru) karena hal sepele. Poninya menutupi mata kanannya yang buta(kenapa dia bisa buta itu rahasia ^^) karena itu dia lemah kalau diserang dari kanan. Di tim antagonist, Kirune adalah salah satu yang kurang setuju dengan rencana timnya. Kelemahannya adalah buta arah (udah buta sebelah, buta arah lagi, komplit deh…)

Behind the scene:

Author: Hualow semuanya! Terima kasih sudah membaca nih fic geje!

Souji: Enak aja geje! Kita udah capek-capek akting!

Yosuke: Ya benar!

Chie: Setuju!

Kanji: Grao!

Rise & Yukiko: Hua! Sejak kapan Kanji jadi gozilla?!

Author (Mulai sekarang Nana): Sejak adam datang ke bumi. –asal banget-

Naoto: Sebenernya kamu mau apa sih, author?

Nana: Dibilangin panggil Nana aja! Eh, saya ngapain ya?

Shiho: Kenapa akunya jadi ga ada?! Nana, kok jadi gini sih??? Aku kan tokoh utamanya!

Nana: Ouh, tokoh utama kan ga harus selalu muncul jadi wajar aja lah. –sotoy mood on-

Junpei: Kenapa ga di sini ga di fic lain aku berantem terus sama Yuka-tan dan dipanggil Stupei mulu!

Yukari: Itu sudah takdirmu dan jangan panggil aku Yuka-tan, Stupei!

Junpei: Namaku juga bukan Stupei, Yuka-tan!

Koromaru: Udah biarin aja deh. Ga akan ada habisnya mereka berdua, Koro bosen.

Ken: Ko-Koronya bisa ngomong?!

Nana: Kan kalau aku yang bikin apa aja bisa terjadi, ho ho ho ho!

Kirune: Virus ketawanya Yukiko-senpai sudah menyebar…

Nana: Ho ho ho ho ho ho!

Suuki: Kok aku merinding ya?

Yuuki: Iya nih… Ga tau kenapa…

Prilia: Authornya sarap… Biodata kita juga aneh-aneh… Masa senjataku gada sih? Kesannya jadi aneh…

Aigis: Bentar dulu Nana, sebenernya buku apa sih yang kupungut?

Kugiru: Kenapa aku munculnya cuma sedikit?

Ryoji: Aku juga.

Minato: Yang terakhir itu apa-apan sih? Kok lebay amat….

Nana: Wah, sampe sini aja deh, ribut sih. Review ya!

Akihiko & Fuuka: Jawab pertanyaannya dong!

Shinjiro: Aku ga muncul ya?

Mitsuru: EKSEKUSI!! –author mau dieksekusi sama Mitsuru, ga nyambung-

Nana: UGYAA!! Metis, tolong!

Metis: Er… Ngapain?

Nana: BEGOO! TOLONG SELAMATKAN AKU!! –nyaris ke-eksekusi- GYAAOOO! MITSURU KEJAAAM!!!

All kecuali Koromaru, Metis dan Shinjiro: Author sarap… Mitsuru-senpai/Mitsuru-san/Mitsuru/Kirijo-san juga ikut-ikutan sarap…

Mitsuru: EKSEKUSI AKBAR! –semua (kecuali Koromaru, Shinjiro dan Metis yang udah berlindung) terkena eksekusi dan anehnya, Mitsuru juga ikut tereksekusi-

Koromaru: Kok yang mengeksekusi ikut kena eksekusi? Untung Koro udah ada firasat jadi bisa selamat. Nah, karena Nana si author ga becus lagi dieksekusi, Koro gantiin deh. Para pemirsa ah bukan, para pembaca, Koro mohon reviewnya ya kalau enggak ntar Koro yang bisa ngomong ga muncul lagi loh, diancam ama author nih. Dasar kepiting rebus(?). Yak, segitu aja dari Koro yang ganteng ini. Mau ngobrol ah sama manusia karena jarang Koro bisa ngomong bahasa manusia kayak gini. Dah semua penggemar Koro!

Metis: Hei, apa kau merasa ada yang aneh? –sweatdrop-

Shinjiro: -sweatdrop- Ya… Kenapa Koro jadi kayak gitu ya? Sumpah ini fic kayak makanan kebanyakan bumbu atau makanan yang hambar ya? Hm…

Metis: Kamu juga sama anehnya…