Akhirnya di-update juga! Maaf ya lama! –dipukul karena kelamaan- Maaf juga kalau chapter ini jelek. Mulai sekarang kalo mau liat gambar liat aja disini http:// tenshiuta127. deviantart. com ya. cape saya ngasih tau linknya, emang pemales! Enjoy!
Disclaimer: Persona resmi punya Atlus. Bakal jadi punya saya 10 tahun lagi –dijitak-
Chapter 5: S.E.E.S and I.S
Sedikit dari chapter lalu: Aigis yang kembali kekamarnya menemukan buku asing yang terlihat misterius
"I-Ini?!" Aigis menggenggam buku asing itu dengan erat.
"Ada apa Aigis?" Aigis berbalik dan melihat Fuuka, Mitsuru dan Yukari dibelakangnya.
"Kau seperti habis melihat setan saja." Canda Yukari tapi melihat Aigis yang tidak bergerak membuatnya khawatir.
"Ada apa Aigis? Ngomong-ngomong, buku yang kau pegang itu apa?" Mitsuru menunjuk buku yang dipegang Aigis.
"Mitsuru-san, tolong kumpulkan semuanya dikamarmu. Ada hal yang mengejutkan."
"Hah?"
-x-x-x-x-x-x-
"Ne Ryoji-kun… Apa yang akan kita lakukan padanya?" Tanya Suuki sambil mengamati Minato yang sedang tertidur.
"Dibunuh. Ya enggak lah! Kita pertemukan saja dengan para S.E.E.S toh tidak ada keuntungannya juga kalau dia ada disini. Hei Yuuki, ini rencanamu kan?"
"Aku merasa dia serius deh soal ngebunuh…" Bisik Kirune yang lagi sweatdrop ke Prilia dan Suuki yang juga sweatdrop.
"Aku juga merasa begitu. Bagaimana pun dia orang yang berbahaya…"
"Kalian bertiga mendengarkan ga sih?!" Yuuki tiba-tiba menghampiri mereka sambil marah.
"Enggak! Ulangin lagi dong." Jawab Suuki santai, sama sekali tidak takut pada Yuuki.
"Suuki-chan memang beda…" Komentar Ryoji. Jujur saja, dia sendiri rada takut sama Yuuki angry mood.
"Betul…" Prilia, Kirune dan Kugiru setuju. Ketiganya juga sama takutnya.
"Baiklah. Ryoji, antarkan si emo ini ke teman-temannya. Amione dan Suuki, kalian bersiap-siaplah ditempat itu. Sirasu, kau harusnya stanby di 'rumahmu' kan? Shouguta… Jagain Sirasu deh."
"Siap komandan!" Sahut mereka semua serentak. Lebay mode on! –dikeroyok-
Ga usah lebay deh…
-x-x-x-x-x-x-
"EH?! Apa kau serius Aigis?" Para S.E.E.S yang sedang berkumpul dikamar Mitsuru terkejut.
"Ya, tentu saja. Bacalah ini, Mitsuru-san." Aigis menyerahkan buku yang dia pegang dari tadi kepada Mitsuru.
"13 April 2011, midnight channel dicoba. 14 April 2011, Souji, Chie dan Yosuke masuk ke dunia TV,bertemu Teddie, Yosuke mendapat personanya. Persona?!" Mitsuru terbelak.
"Awalnya kukira ini diari biasa tapi saat melihat isinya aku rasa itu tidak benar." Tutur Aigis.
"Hum? Ini list persona mereka! Yosuke Hanamura, Jiraiya lalu berevolusi menjadi Susano-o. Chie Satonaka, Tomoe Gozen lalu Suzuka Gongen. Yukiko Amagi, Konohana-sakuya dan Amaterasu. Kanji Tatsumi, Take-mikazuchi dan Rokuten-mao. Rise Kujikawa, Himiko dan Kanzeon. Teddie, Kintoki-Douji dan Kamui. Terakhir Naoto Shirogane, Sukuna-Hikona lalu Yamato-Takeru. Seta-san mana?"
"Ini! Utamanya Izanagi dan Izanagi no Okami tapi bisa bergant-ganti. Dia sama seperti… Minato-san?" Keheningan melanda para S.E.E.S dan membuat mereka bingung.
"Bagaimana kalau kita memata-matai mereka? Kemarin mereka bilang ada perlu kan? Aku curiga jangan-jangan mereka masuk ke dunia yang dimaksud buku ini."
"Jam 1. Aku dengar mereka akan berkumpul sekitar jam 1 siang. Bagaimana kalau kita buntuti Yukiko-san biar gampang." Usul Yukari.
"Itu ide yang brilian Yuka-tan!" Junpei terlihat bersemangat.
"Aku bukan Yuka-tan… Cape ngomong sama Stupei…" Yukari mengeluh.
"Jadi, bagaimana kalau kita bersiap-siap? Sekarang sudah jam 12 loh." Kata Ken sambil melihat jam tangannya.
"Ayo kita bersiap-siap. Dua puluh menit lagi kita kumpul di lobby." Perintah Mitsuru dan yang lain pun mengangguk.
"Pastinya. Kau bawa evoker?" Tanya Akihiko dengan nada bercanda. Tak disangka Mitsuru mengangguk. Akihiko kaget.
"Kubawa sebagai jimat. Tak kusangka kita akan memakai ini lagi."
-x-x-x-x-x-x-
"Semua sudah berkumpul?" Tanya Suji sang ketua kelompok.
"Tinggal nunggu Chie dan Yukiko-san. Kenapa sih mereka berdua selalu terlambat." Tanya Yosuke, sedikit kesal.
"Kayak kamu ga pernah aja." Jawab Souji dengan wajah datarnya.
"Ih! Sou-chan kejam deh!" Souji langsung muntah dan yang lain sweatdrop.
"Virus gay-nya Kanji dah menyebar."
"Mendingan juga virus ketawanya Yukiko-senpai…"
"Gue bukan gay! Ah, kelepasan…" Kanji segera menutup mulutnya.
"Kenapa sih? Kalau kamu pake gue elo kan cocok-cocok aja, preman gitu loh." Si Rise cari masalah.
"Woi! Sori telat!" Akhirnya Yukiko dan Chie datang.
"Lelet! Cepet sedikit kenapa?!" Yosuke yang mulai keki marah-marah.
"Memangnya kenapa sih?! Ada yang salah?!" Chie jadi ikutan panas.
"Berantem lagi… Ngomong-ngomong, aneh juga ya kita pake seragam padahal kan ga ke Junes." Yukiko memperhatikan semuanya. Mereka memang memakai baju sekolah mereka.
"Habisnya paling enak kan pake seragam. Lagian sekaligus buat nyembunyiin senjata." Rise berputar-putar bak model gadungan. –ditusuk-
"Udah hampir jam 1 nih. Ayo pergi. Naoto, tolong antar kami ke rumah Sirasu." Pinta Souji.
"Ba-baiklah senpai. Ikuti aku." Mereka pun pergi ke rumah Kirune. Mereka tidak sadar di belakang mereka ada para S.E.E.S.
-x-x-x-x-x-x-
"Mereka pake seragam? Aneh sekali…" Mitsuru menyerngitkan dahinya.
"Jadi inget dulu deh. Kita juga pake seragam ke Tartarus." Kenang Fuuka.
"Aku jadi kangen masa-masa itu. Aku ingat semuanya apalagi masakan Fuuka-san yang masih ga enak." Fuuka memerah.
"K-Ken! Jangan ingatkan aku soal itu! Tapi sekarang kan aku jago masak dan aku sudah memasak untuk semuanya." Balas Fuuka, masih memerah.
"Sudah sudah. Tidak ada gunanya kita bertengkar disini. Kita itu harus… loh?" Junpei baru sadar teman-temannya sudah pergi.
"Tungguin! Sial, masa mereka melupakan pahlawan yang satu ini sih?" Kata Junpei narsis, mual saya. –ditebas-
-x-x-x-x-x-x-
"Sirasu-san! Ini kami!" Panggil Naoto.
"Naoto-chan! Masuklah, biar kubuatkan teh. Kenapa kalian pake seragam?" Tanya Kirune pura-pura bingung.
"Ga kenapa-napa kok. Cuma pingin aja. Oh iya, TV yang kau maksud?" Naoto langsung to the point, ga bisa basa-basi sedikit bu? –ditembak Naoto-
"Ikuti aku." Mereka semua masuk kedalam rumah Kirune yang besar. Dia mengantar mereka ke lantai 2.
"Ruang TV yang itu. Apa perlu kusiapkan teh dan kue?" Tanya Kirune.
"Tidak usah. Terima kasih ya Kirune. Bukankah kau mau pergi?" Chie bertanya. Kirune mengangguk.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya. Bye!" Kirune pergi keluar. Di depan pintu, dia melihat para S.E.E.S yang dia tahu sedang membuntuti para I.S.
"Kalian teman Naoto-chan kan? Masuklah, mereka ada di lantai dua di ruangan pertama disebelah kanan tangga." Kirune mendorong para S.E.E.S masuk. Setelah itu dia pergi lagi tetapi dia sekarang bersembunyi di balik tiang listrik.
"Maaf Naoto-chan… Aku ga bisa nolak sih…"
-x-x-x-x-x-x-
"A-Anak yang tadi itu aneh ya?" Ujar Junpei sambil berdiri.
"Seaneh-anehnya anak itu, kau jauh lebih aneh, Stupei.." Ejek Yukari yang sedang melihat-lihat sekeliling.
"Kata anak itu mereka ada di lantai 2. Ayo pergi." Kata Mitsuru cuek (Yukari dan Junpei bertengkar lagi). Mereka semua menaiki tangga.
"Ruangan pertama disebelah kanan tangga… Itu ya?" Aigis menunjuk pintu yang tertutup. Terdengar suara dari balik pintu.
"Apa kau mendengar sesuatu?" Tanya Kanji.
"Selama itu tidak mengganggu kita, ga masalah kan? Cepatlah masuk Kanji! Yang lain menunggu di dalam TV!" Teddie menarik Kanji masuk ke dalam TV. Di luar, para S.E.E.S terdiam.
"Tadi itu serius? Mereka masuk ke dalam TV?!" Ken sama sekali tidak percaya.
"HOI!" Junpei menendang dan mendobrak pintu yang malang itu.
"Aku menghargai usahamu tapi pintu ini tidak terkunci, Stupei…" Yukari sweatdrop sambil menunjuk pintu. Junpei cengengesan. Sweatdrop lagi.
"Itu TV-nya? Besar juga ya… Kira-kira berapa inch ya? Kalau segini harus nonton dari jarak…" Mitsuru mulai ngaco. Dia ngukur pake penggaris yang datang entah dari mana.
"Udah deh Mitsuru… Lebih baik kita ikuti mereka." Akihiko melompat masuk ke TV.
"Se-senpai?! Dia benar-benar masuk… Aku juga!" Ujar Fuuka sebelum mengikuti Akihiko. Fuuka sudah tambah berani nih.
"Mereka berdua terlalu ceroboh." Komentar Aigis padahal dia sendiri mengikuti. Koromaru menggonggong senang dan ikut masuk.
"Ayo Ken!" Junpei jadi gila dan menarik Ken untuk ikut dengannya.
"Yukari-san!" Ken menarik tangan Yukari. Yukari pun ikut terseret.
"Mitsuru-senpai!" Yukari ikut-ikutan. Ditariknya tangan Mitsuru dan hasilnya mereka berempat masuk bareng -provokator: Junpei Iori-
-x-x-x-x-x-x-
"He? Kenapa kita bisa masuk kesini? Padahal ini bukan TV di Junes!" Yosuke terkaget-kaget. Mereka muncul ditempat biasa, pintu masuk.
"Bukankah bagus kalau begini? Jadinya gampang-gampang aja kan?" Jawab Yukiko dan Chie yang santai-santai aja.
"Bagaimana kalau kalian semua diam dulu. Aku mendengar suara nih!" Souji memerintah dan yang lain pun langsung terdiam. Rise men-summon Kanzeonnya.
"Aku merasakan 8 aura. Mereka mengarah kesini!" Tepat ketika Rise selesai bicara, Akihiko dan Fuuka datang. Akihiko mendarat dengan mulus dan menangkap Fuuka yang masuk setelahnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Akihiko pada Fuuka yang digendongnya. Yang ditanya sudah semerah kepiting rebus. Tak lama kemudian, Aigis dan Koromaru datang.
"Kalian berdua baik-baik saja?" Aigis menghampiri dua temannya. Koromaru lari kemana-mana. Kemudian, 4 orang terakhir pun datang.
"GYAAA!" Kondisi: Junpei ditimpa Yukari, Yukari ditimpa Mitsuru, Ken selamat, tepuk tangan! –dibunuh karena ga nyambung-
"BERAAAT YUKAA-TAAANN! BERATMU BERAPA TON SIH?!" Junpei teriak-teriak. Wajahnya jadi putih. Mitsuru dan Yukari berdiri. Yukari langsung memukul Junpei.
"Aku ga seberat itu! Kamunya aja yang lemah!" Yukari sewot. Para anak I.S yang sempat terkejut akhirnya sadar.
"Ka-kalian kan yang dari Iwatodai! Kenapa kalian bisa ada disini?!" Rise sangat-sangat terkejut.
"Kalian ga sadar ya? Mereka ngikutin kita dari tadi loh. Walau aku ga tau mereka ternyata bisa masuk juga."
"Ketahuan ya? Kau memang hebat." Puji Akihiko.
"Terima kasih. Tapi sampai kapan kau akan menggendongnya, Sanada-san?" Naoto menunjuk Fuuka yang hampir pingsan. Akihiko memerah dan segera melepaskan Fuuka.
"Ma-Maaf!" Baik Fuuka maupun Akihiko mukanya merah. Mitsuru mengeluarkan hawa dinginnya (Kenapa dingin? Karena dia elemen es. Kenapa elemen es? Tanya ke Atlus aja sana!)
"Akihiko-senpai dalam masalah." Semua S.E.E.S mengangguk. (Minus Mitsuru, Akihiko dan Fuuka.)
"Er… Bagaimana kalau kita bicara dulu?" Souji berusaha mencerna apa yang telah terjadi.
"Eh ah, boleh saja."
-x-x-x-x-x-x-
"Jadi begitu ya. Tak kusangka dunia persona begitu luas." Kanji mengangguk-angguk.
"Tapi Teddie tidak pernah bertemu persona user selain sensei dan yang lainnya. Selama ini kalian betarung dimana?" Tanya Teddie.
"Kalian pernah dengar apathy syndrome?" Mitsuru bertanya. Naoto, Souji dan Rise mengangguk.
"Nah, menurut kami yang menyebabkan semua itu adalah para shadow. Jadi, setiap dark hour kami membasmi mereka di Tartarus." Fuuka yang sudah tenang melanjutkan.
"Kami akan menjelaskan soal dark hour dan Tartarus nanti. Nah, apa yang kalian lakukan disini sebenarnya?" Junpei banyak gaya. –muntah-
"Shi-chan! Kami kesini untuk menyelamatkan Shi-chan! Rise!" Tiba-tiba Yukiko menyuruh, entah kesambet apa –di-fan assault-. Rise yang kaget hanya bisa patuh.
"Ba-baik!" Rise pun kembali men-summon Kanzeon dan mencari Shiho.
"Kenapa tiba-tiba? Oh, kau tipe support ya? Kalau begitu…" Saat Fuuka bersiap meminjam evoker Mitsuru, dia sadar akan sesuatu.
"Sejak kapan kita semua memakai seragam? Lengkap dengan senjata dan evoker segala lagi…" Yang lain serentak memperhatikan diri masing-masing.
"Aigis-san, kau robot?!" Naoto menunjuk Aigis. Aigis mengangguk.
"Tempat ini aneh sekali…" Ken berkomentar.
"Jadi praktis ya. Aku coba summon Juno dulu." Fuuka mengarahkan evokernya ke kepalanya. Para I.S bisa dibilang langsung beku dengan aksi Fuuka.
"Juno!" Fuuka menarik pelatuk evokernya dan Juno pun muncul. Fuuka yang berada didalam Juno berbicara.
"Aku merasakannya! Dia ada disana!" Fuuka menunjuk ke arah barat daya. Rise terkesima melihatnya.
"Cepat sekali! Boleh aku memanggilmu sensei?" Rise ikut-ikutan Teddie.
"Y-Ya, boleh saja sih… Nah, ayo kita pergi." Mereka semua pergi ke arah barat daya.
-x-x-x-x-x-x-
"Mereka datang!" Suuki langsung bersiaga.
"Well well… Bersembunyi lah Suuki." Suuki menurut dan dia segera bersembunyi.
"Ung…" Shiho bergerak sedikit.
"Tuan putri kita sudah bangun ya? Amione, tidurkan dia lagi!" Perintah Yuuki. Prilia menebarkan sedikit bubuk dan Shiho tertidur kembali.
"Shiho!" Terdengar teriakan Souji yang memanggil Shiho.
"Ho, pangerannya muncul nih. Amione!" Yuuki dan Prilia mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Prilia gada dan Yuuki sabit.
"Hati-hati! Aku merasakan adanya orang lain selain Shiho-san! Tepatnya 2 orang!" Teriak Fuuka memperingatkan. Souji menyuruh semuanya berhenti. Kabut tebal menghalangi pandangan mereka. Sesaat kemudian, 2 orang muncul dari balik kabut.
"Akhirnya kau datang, Souji Seta." Yuuki menyeringai.
"Siapa kau?! Mana Shiho!"
"Kau benar-benar menyayangi tuan putri itu ya? Dia ada di belakang tuh." Kabut menghilang dan merka semua dapat melihat Shiho dengan jelas.
"Shi-chan!" Yukiko berlari menuju sepupunya. Prilia segera menghalanginya.
"Tidak semudah itu." Dimulai lah pertarungan diantara keduanya.
"Yukiko!" Chie membantu Yukiko. Souji dan Yosuke yang hendak membantu pun dihalangi oleh Yuuki.
"Tidak adil bila Amione menghadapi 4 orang. Biar aku yang menghadapi kalian." Dan ketika Teddie, Naoto dan Kanji bersiap membantu, para shadow datang dalam jumlah yang banyak.
"Ck!" Kanji berdecak dan menyerang shadow-shadow itu. Naoto men-summon Yamato Takeru dan Teddie pun men-summon Kamui.
"Ayo kita bantu mereka!"
"Lama tidak berjumpa ya." Ryoji muncul membawa Minato.
"Ryoji?! Dan… Mi…na…to?" Aigis menatap sosok yang tertidur didepannya. Yang udah pada di depan langsung balik lagi.
"Minato?! Bagaimana bisa?" Junpei bengong. Ryoji menyerahkan Minato pada Aigis yang masih diem.
"Itu bisa dijelasin nanti. Ayo kita bermain!" Ryoji men-summon nyx.
"Gila kamu Ryoji!! Emang kita bisa ngalahin kamu kalau kau pake nyx?!" Semua panik ngeliat nyx. Ryoji nyengir.
"Tenang aja. Yang ini bukan asli kok A.K.A palsu. Kalau manggil yang asli ga bisa. Lagian aku pengen summonnya kayak summon persona." Semua sweatdrop soalnya ga jelas.
"Ga ngerti? Yah, lebih baik kita langsung prakteknya saja ya." Ryoji menyerang membabi-buta. Para S.E.E.S sibuk menghindari serangannya (1 lawan 6. Aigis lagi nge-hang dan Fuuka ga bisa bertarung). Pertarungan seru itu terus berlanjut sampai Suuki merasakan sesuatu yang besar.
"Onii-sama, shadownya muncul tuh." Suuki terdengar kalem (cuma kedengeran ama Yuuki n Prilia). Shadow Shiho muncul...
"Shi-chan? Bukankah dia disana? Ka-kalau gitu…"
"Benci…"
"Hah?"
"Aku benci semuanya!" Teriak si shadow Shiho itu.
"Ada apa ini?"
"Aku benci semuanya! Teman-teman, ayah, ibu, Yukiko nee-chan, semuanya dan juga onii-san! Mereka semua pergi, pergi meninggalkanku! Aku…aku… Seharusnya mereka lebih peduli padaku, seharusnya… seharusnya mereka menghilang saja dari dunia ini!" Shadow Shiho membeberkan semua rahasianya.
"Ini… Perasaan Shiho?"
"HENTIKAN!!" Mereka semua menoleh ke arah Shiho yang sudah terbangun.
"Shiho-chan… Nanti biarkan saja dia ya, semuanya…" Teddie memelas. Yang lain (minus S.E.E.S yang belum terlalu ngerti) setuju.
"Biarkan saja? Kau dengar? Dia bilang biarkan saja! Hahahahaha! Dia pantas untuk hilang!" Si shadow memanas-manasi Shiho.
"Tidak! Itu tidak benar!"
"Ya! Bukankah kau berpikir begitu? Apa kau ingin melupakan aku, dirimu yang lain?"
"Ka-Kau…" Yang lain tegang, mengira Shiho akan mengatakan hal yang akan membuat shadownya mengamuk.
"Adalah aku… Memang… Selama ini aku selalu memikirkan hal itu. Aku selalu kesepian dan tidak ada yang menemaniku. Ya, aku juga ingin mereka hilang dari dunia ini. Semua itu benar. Walaupun sekarang aku hampir tidak pernah memikirkannya lagi karena aku sudah mendapat kebahagianku, aku tetap terkadang berpikir hal itu. Kau dan aku sama kan? Aku adalah kau dan kau adalah aku." Shiho dengan tulus menerima shadownya. Shadownya sendiri tidak percaya dia akan dipercaya secepat ini tetapi akhirnya dia tersenyum dan mengangguk. Shadow itu pun menghilang, berganti dengan sebuah kartu dan evoker. Persona, Uzume
"Shiho!" Semua menghampiri cewek yang baru mendapat personanya itu.
"Tak kusangka ini akan berakhir tanpa melawan shadowmu. Biasanya orang kan suka menolak dirinya yan lain." Kanji berkomentar.
"Kau memang tegar ya, Shi-chan." Puji Yukiko. Shiho yang sudah ga kuat langsung pingsan. Souji pun menggendongnya.
"Hum… Diluar dugaan ya… Hari ini kami mundur dulu, sampai jumpa lagi ya." Dan dalam sekejap Yuuki dan Prilia menghilang.
"Tunggu! Siapa sebenarnya mereka?" Naoto bertanya-tanya.
"Ryoji-kun juga hilang! Padahal banyak yang ingin kutanyakan…" Fuuka kecewa.
"Bagaimana kalau kita keluar dulu dari sini, Shiho sekarat nih!" Kata Chie lebay. –ditimpuk batu-
"Ayo kita berdiskusi di dunia nyata." Dan mereka pun pergi ke pintu masuk dan keluar dari TV world.
~To be continued~
Saya tahu ini chapter kesannya maksa banget. Habisnya pusing kalau disuruh bikin adegan tarung.. Hohoho, akhirnya S.E.E.S ama I.S gabung juga deh. Yak, personanya Shiho adalah Uzume, the Aeon arcana (dah pada tahu kali!) Nah, sekarang ngapain ya? (author parah, ga tau mau ngapain) Oh iya, kayaknya chapter 6 bakalan lama (Mudah-mudahan sih cepet. Pertanyaan ga nyambung, apa itu hiatus?) soalnya author lagi bingung sendiri sama mau belajar buat ujian nih. Well, ini biodatanya Suuki, kalau gambarnya ga muncul bilang aja! Review please?
Biodata OC (Suuki):
Nama: Suuki Kanbara
Umur: 14
Kelas: 3 SMP
Hobi: Membaca, berkebun, musik
Makanan favorit: Homemade food
Minuman favorit: Yang homemade juga, air putih
Rambut: Sebahu (lebih tepatnya beberapa senti di atas bahu) lurus warna coklat tua
Mata: Coklat tua
Karakter: Baik hati, penyayang, lembut
Persona: Otohime of the Star Arcana
Senjata: Pita yang biasa dipakai untuk senam ritmik.
Anggota tim antagonist. Adik dari Yuuki tetapi tidak ada hubungan darah. Walau anggota support dia tetap membawa senjata untuk berjaga-jaga dan lagi personanya punya skil bertarung. Dia selalu memakai kalung berbentuk jam pasir dari Yuuki. Digambarnya ga ada soalnya saya lupa, V! (Author pelupa dan aneh). Senjatanya itu sungguhan pita! Pitanya bukan sembarang pita kok. Pita yang satu ini bisa jadi tajam jika diperlukan. Ga banget ya saya milih senjatanya… Well, P4 juga senjatanya aneh-aneh ya udah saya tambah lagi yang aneh.
