Update! Update! Dengan ini saya persembahkan, fanfic paling gaje sedunia!!! –dikuliti- Maaf atas kegajeannya ya!
Disclaimer: Huh… Saya relakan saja deh… Persona punya Atlus…
Chapter 8: The Spies and 1, 2, 3, 4…
Souji dan Shiho yang sudah sampai rumah langsung disambut oleh Marie. Maid yang selalu terlihat muda ini langsung mengantar sang tuan muda ke kamarnya yang terpisah 3 kamar dari Shiho. (3 kamar juga jauh sih… sekitar 12 kamar hotel lah.. 3 kamar ini kamar yang kecil. Kamar Shiho & Souji masih berkali-kali lebih besar)
"Kalau anda butuh apa-apa panggil saja saya kapanpun, Souji-sama…" Maid ini langsung ngacir.
"Dah onii-san, tidur dulu ya! Sampai ketemu saat makan malam!"
"Souji aja Shiho…"
"Aku tidur dulu ya, kak Souji!" Shiho langsung ngacir ke kamarnya dan waktunya 10 detik.
"Sama aja kali… Rada ga enak juga dipanggil kakak sama anak yang bukan adikku sendiri. Nanako sih ga apa-apa, dia masih SD ini eh tapi bentar lagi juga SMP ya? Ah, dia sih ga apa-apa tapi… Kok aku ngomong sendiri ya? Mana ga jelas lagi…" Souji ngomong sendiri kayak orang gila –digiles- sambil menggaruk-garuk kepalanya yang enggak gatal. (kutuan ya? –dimutilasi-) Karena bingung mau ngapain, dia masuk ke kamarnya untuk beres-beres. Dia sengaja meminta Marie agar tidak membereskan kamarnya karena Souji lebih nyaman beresin sendiri biar tahu letak barang-barangnya. Masuklah dia ke kamarnya dan langsung sweatdrop begitu mendapati ada pintu velvet room dikamarnya.
"Igor, kamu kurang kerjaan banget… Kenapa mesti dikamar sih?" Sementara itu Shiho juga kaget karena ada pintu velvet room dikamarnya dan begitu pula di asrama S.E.E.S, dikamar Minato, juga ada pintu velvet room.
"Igor!!" Teriak Shiho.
"….." Minato diam saja. Dasar emo…
-x-x-x-x-x-x-
Suasana di Gekkoukan junior high masih ramai. Itu karena murid-muridnya belum pada pulang (Perhatian, harinya masih sama, sama yang diatas. Masih jam 10.00 dan Shiho serta Souji memang pulangnya cepat) Ken sendiri masih mengobrol dengan temannya sampai jam istirahat habis. Ken langsung menuju kelasnya dan bertabrakan dengan seorang perempuan karena dia tidak hati-hati.
"Ma-Maaf! Kau tidak apa-apa?" Remaja cowok itu mengulurkan tangannya untuk membantu sang perempuan berdiri.
"Iya, terima kasih ya." Cewek berambut coklat itu menyambut tangan Ken dan bangkit.
"Kau murid baru? Suuki Kanbara?" Ken langsung mengetahui kalau siswi itu Suuki karena deskripsi dari Mitsuru.
"Iya, kok tahu? Anu… Aku mau minta tolong. Ruang guru dimana ya?" Tanya Suuki (pura2) bingung.
"Ayo ikut. Searah sama kelasku kok." Dan Ken pun mengantarnya ke ruang guru. Mereka berpisah disana karena Ken harus menuju kelasnya.
"Terima kasih ya Amada-kun!" Suuki langsung masuk ke ruang guru, meninggalkan Ken yang kebingungan.
"Darimana dia tahu namaku?"
-x-x-x-x-x-x-
Di waktu yang sama, di Inaba. Kirune baru datang ke Yasogami high bersama Kugiru yang ogah-ogahan. Mereka sudah tahu kelas dan wali kelas masing-masing tetapi pura-pura ga tau, terutama Kugiru. Saat mereka tiba di ruang guru, seorang guru perempuan yang menyebalkan yang siapa lagi kalau bukan, KASHIWAG-WAG! –ditinju Kashiwagi- Uhm, Kashiwagi dan seorang guru perempuan satunya sudah menunggu mereka. Si Kashiwagi langsung mendelik ke arah Kirune yang tetap tenang. Kayaknya nih guru iri deh…
"Hei kau! Kau Kirune Sirasu kan?! Cepat ikuti aku karena kau akan ada di kelasku! Sini!" Sang guru jelek –ditampar- itu pun langsung menyeret Kirune ke kelasnya, kelas 2-3. Kugiru sweatdrop dan guru wali kelasnya menepuk bahunya.
"Dia pasti baik-baik saja. Kau Kugiru Shouguta kan? Ikutlah denganku." Demi kelancaran tugasnya, Kugiru bersikap baik. Males dia nyari masalah sekarang. Apalagi kalau masalah itu sampai membuat Yuuki marah. Udah deh, kiamat baginya datang.
-x-x-x-x-x-x-
(Pulang sekolah, Inaba)
"Nao Nao! Pulang bareng yuk!!" Ajak Kirune dengan semangat 45-nya. Naoto tersenyum kecil melihat tingkah laku temannya yang kekanak-kanakan itu.
"Ya, ayo. Rise! Kanji! Ayo pergi! Eh Kirune, bisa kita jemput kakak kelas kita dulu?"
"Bo-….. Tadi kau ngomong apa?"
"Apa? Jemput kakak kelas dulu?
"Bukan! Sebelumnya!"
"Oh, Kirune? Memangnya-" Naoto terdiam ketika menyadari hal itu dan… Kirune sudah memandangnya dengan mata yang berbinar-binar.
"Nao Nao~"
"Ayo pergi Sirasu-san." Naoto balik lagi jadi manggil Kirune 'Sirasu-san'. Kirune mengeluarkan puppy eyes andalannya.
"Nao Nao…" Kanji dan Rise serta teman sekelas mereka yang melihatnya menahan tawa melihat kedua anak itu. Sudah dapat ditebak kalau Naoto akan kalah dan benar saja, Naoto memanggilnya dengan nama kecilnya.
"Ayo kita pergi, Kirune. Kanji dan Rise juga ayo!" Ajak detektif wanita yang sudah keluar duluan dengan muka merah padam. Kirune langsung nyusul dibelakangnya. Kanji dan Rise saling pandang dan mereka sama-sama kaget karena Naoto memanggil mereka hanya dengan nama kecil mereka. Kanji dan Rise tersenyum dan menyusul Naoto.
-x-x-x-x-x-x-
Keempat anak kelas 2 itu menaiki tangga dan menuju kelas 3-4 dimana para seniornya menunggu. Mereka mendapati 4 orang dikelas itu sedang mengobrol dan mereka tahu itu senior mereka.
"Yo! Kalian datang juga. Perkenalkan ini-" Yosuke bermaksud memperkenalkan teman barunya tapi langung dipotong Kirune.
"Kugiru Shouguta kan? Ya ampun senpai, dia itu kakakku! Marga kami beda karena orang tua kami cerai." Pernyataan ini membuat keenam orang anggota I.S syok.
"Kau bilang teman sejak kecilmu…" Sela Naoto sang detektif. Seingatnya, Kirune memberitahunya kalau Kugiru itu teman sejak kecilnya.
"Eh, me-memangnya aku bilang begitu? Nao Nao salah denger kali! Ahahaha…" Kirune melirik ke arah Kugiru dan langsung berbalik kembali dengan muka pucat. Kugiru tidak melakukan apapun dan tidak bereaksi tapi sorotan matanya seolah-olah dapat membunuhnya kapan saja.
"Ayo kita pulang. Bosan juga nih." Rise mencoba berbicara.
" Ay-Ayo! Nii-chan, kita main bareng mereka dulu yuk!" Gadis berambut biru ini berusaha keras agar tidak berdua saja dengan Kugiru. Saat dia berusaha kabur, Kugiru menahannya.
"Kita pulang saja ya? Aku capek." Meski Kugiru mengatakannya sambil tersenyum, hal itu tidak membuat temannya yang bermata hijau itu tenang. Justru semakin manis senyumnya, semakin jelek suasana hati Kugiru saat itu.
"Ba-Baik… Nao Nao, Rise, Kanji, aku pulang dulu ya…" Pamitnya dengan wajah pucat. Dia dan Kugiru mendekati jendela dan terlihat bersiap lompat. Semuanya langsung menjerit.
"Kalian! Ini lantai ti-" Mereka tidak sempat menghalangi. Keduanya sudah loncat. Yukiko pingsan dan Chie berusaha membangunkannya. Yosuke nganga. Tiga juniornya terlihat tenang karena mereka sudah biasa ngeliat Kirune begitu.
"Nah senpai, pulang yuk." Ajak Naoto. Tidak satu pun senpainya menjawab.
"Mereka masih syok." Terang Kanji karena sepertinya Naoto tidak mengerti.
"Pulang yuk Naoto. Biarkan saja mereka." Ujar Rise sang provokator dan ketiganya meninggalkan sekolah.
-x-x-x-x-x-x-
.
Baiklah, ayo kita pergi ke port island pada saat Ken berpisah dengan Suuki. Anak muda itu masih bingung karena gadis yang sama sekali tidak diketahuinya itu mengetahui namanya. Dia tersadar dan berbalik untuk melanjutkan perjalanannya saat guru wali kelasnya, sang pengajar pelajaran selanjutnya, melihat dirinya. Guru itu keluar bersama Suuki dari ruang guru dan memanggil Ken sang ketua kelas.
"Amada, ini murid baru di kelas kita. Kebetulan sekali kita bertemu disini ya. Tolong bawa dia ke kelas. Saya ada urusan dan oh iya, kau ketua kelas kan? Bagikan buku ini dan ambil kertas ini lalu suruh para murid mencatatnya dan setelah selesai, suruh mereka membaca selama 30 menit dan bagikan kertas tes ini. Tolong kenalkan dia pada teman-temanmu!" Guru ga becus yang mirip king moron itu pergi begitu saja. Ken yang udah terbiasa dengan sang guru segera mengantar Suuki ke kelasnya dengan tangan penuh buku. Suuki mengambil sebagian tanpa bicara.
"Kanbara-san, kau tidak usah susah-susah." Dengan halus Ken menolak. Tapi karena pada dasarnya Suuki itu keras kepala, dia terus membawakan buku-buku itu sampai ke kelas.
"Masuklah. Teman-teman, duduk ditempat!" Ken, sebagai ketua kelas, menyuruh teman barunya masuk dan menyuruh yang lain diam karena mereka menghasilkan keributan yang amat sangat. Suuki menaruh buku-buku yang dibawanya diatas meja guru dan berdiri di depan kelas. Semua nurut sama Ken dan duduk rapih.
"Begitu dong. Baiklah, karena sensei ada keperluan seperti biasa, mari kuperkenalkan, dia Suuki Kanbara, murid pindahan itu. Kanbara-san, tolong ceritakan dirimu."
"Terima kasih Amada-kun. Namaku Suuki Kanbara dan panggil saja aku Suuki. Aku pindahan dari Hokkaido. Salam kenal." Perempuan itu memberikan salam dan membungkuk lalu berdiri tegap lagi.
"Ada pertanyaan?" Semua menggeleng.
"Kanbara-san, duduklah. Kursimu ada disana... Nozu, kenapa kau ada disitu?" Ken menanyai teman sebangkunya, Nozuki, karena dia pindah ke tempat yang disediakan untuk Suuki.
"Maaf Ken tapi kau tahu kan mataku tidak baik. Biarkan saja Suuki duduk disebelahmu!" Tidak ada yang menolak dan akhirnya Suuki duduk disebelah Ken seperti yang sudah diperkirakan oleh gadis itu. Nozuki sendiri adalah anak buah Yuuki yang kebetulan sekolah disana dan ditugaskan membantu Suuki.
"Nah, ini buku kalian. Nozu, bagikan! Kau wakilku kan? Aku akan menulis ini dan yang sudah mendapat buku langsung catat!" Ujar Ken dengan gaya kepemimpinannya. Meski Suuki sudah mendapatkan bukunya, dia tidak langsung mencatat karena dia merasa tidak perlu. Pikirannya melayang kemana-mana dan dia terus memperhatikan Ken.
Ken Amada… Aku tidak mengerti mengapa aku yang ditugaskan onii-san untuk mengawasinya. Dia terlihat lemah… Batinnya sambil terus memperhatikan.
-x-x-x-x-x-x-
Waktu sudah berjalan menuju jam pulang para murid. Ken yang masih harus membuat laporan kelas belum pulang. Biasanya dia sendirian tapi kali ini tidak. Suuki ada disampingnya, mengamati apa yang dia tulis. Ken merasa agak risih. Suuki masih ada disana karena Ken akan menemaninya berkeliling sekolah.
"Jangan pedulikan aku. Lanjutkan saja."
"Ba-Baiklah…" Kesunyian menyusup masuk. Di satu sisi, Ken jarang berbicara dengan perempuan selain ke cewek-cewek persona user dan di sisi lain, Suuki berhati-hati agar Ken tidak curiga dan membongkar identitas aslinya.
"Selesai! Tunggu sebentar ya Kanbara-san. Aku beri ini ke guru dulu." Suuki mengangguk. Secepat kilat Ken melaksanakan tugasnya dan Suki sweatdrop melihat kecepatannya.
"Nah ayo! Nanti kesorean. Aku akan menunjukan beberapa ruangan penting saja dan sisanya besok, bagaimana?" Tawar Ken. Suuki cuma iya-iya saja. Ken mulai menunjukan ruangan satu demi satu. Suuki masih lelah karena semalam dia kurang tidur karena memikirkan rencananya dan saat menaiki tangga, dia melewatkan satu anak tangga dan terjatuh. Ken yang ada di atasnya berniat membantu tapi malah ikut terjatuh. Posisi jatuh mereka lumayan um… memalukan? Ken diatas sementara Suuki dibawah, tertimpa Ken.
"Ugh! Kau tidak apa-apa, Kanbara-san?" Tanya Ken, masih belum menyadari posisinya. Suuki yang sudah sadar dari tadi menjadi semerah kepiting rebus dan memalingkan wajahnya, berusaha untuk tidak melihat Ken. Walau agak lama, sekitar 10 detik kemudian, akhirnya Ken sadar dan segera bangun. Mukanya juga merah dan bahkan lebih merah dari Suuki. Tidak ada yang bicara tapi mereka tahu. Ini saatnya pulang. Keheningan yang sama mencekam mereka selama perjalanan pulang. Keduanya masih memikirkan kejadian tadi.
Baru hari pertama sudah seperti ini. Kenapa harus aku sih?! Suuki berteriak dalam hati.
-x-x-x-x-x-x-
Yuuki, Prilia, dan Ryoji memperhatikan mata-mata mereka dengan cermin dan TV. Mereka dapat melihat keadaan Suuki dari cermin dan keadaan Kugiru-Kirune dari TV.
"TIDAK DAPAT KUAMPUNII!" Teriak Yuuki tiba-tiba. Matanya berapi-api. Ryoji dan Prilia sweatdrop tetapi setelah melihat ke cermin yang memperlihatkan keadaan Suuki mereka langsung ber-ah ria. Mereka melihat adegan jatuh-dari-tangga itu.
"Sister complex-nya muncul lagi?" Tanya Ryoji sambil memperhatikan Yuuki yang sudah berubah menjadi Yuukisaurus.
"Sister complex-nya Yuuki sih nyala terus… Aku ga habis pikir kenapa dia menyuruh Suuki mengawasi S.E.E.S. Apalagi Suuki harus mengawasi mereka lewat si Ken Amada itu." Jawab Prilia. Yuuki masih saja menjadi Yuukisaurus dengan api keluar dari mulutnya.
"Benar. Suuki-chan cewek dan Ken cowok. Siapa tahu ada yang akan tumbuh diantara mereka. Mereka saling suka, pacaran, lalu melakukan-" Ryoji si mesum langsung dihajar sama Yuuki.
"Ah, sudah sadar? Tumben cepet…" Komentar Prilia singkat, padat, berisi.
"Dasar otak mesum! Tapi kau benar juga… Bagaimana kalau itu terjadi? Aku melakukan kesalahan besar!! TIDAAAAK!!" Yuuki teriak-teriak sendiri. Pikirannya udah ga beres.
"Oiy…" Prilia memanggil. Ryoji menoleh.
"Ya, nona?" Jawab Ryoji dengan penuh gaya yang membuat saya muntah. –dibunuh Ryoji-
"Kumohon jangan memberikan komentar ga penting… Aku ga tanggung jawab kalau monster itu ngamuk…
"….. Aku juga ga mau dia ngamuk…"
-x-x-x-x-x-x-
Waktu pun berputar dengan cepat dan malam hari pun tiba. Ren tengah tertidur di kamarnya ketika 2 anak kecil muncul mendadak.
"Ren! Hey Ren!" Ren yang sedang tertidur terbangun. Dua gadis kecil yang duduk disampingnya tersenyum.
"Selamat malam, Ren…" Sapa salah satunya yang mengenakan kimono pink. Ren, yang sepertinya telah terbiasa melihat keduanya, hanya menatap mereka.
"Apa? Aku ngantuk nih… Pr-ku banyak. Aku baru selesai dan baru juga tidur 10 menit udah diganggu."
"Ma-Maaf… eto… eto… Sebenarnya kami… eto…eto…" Anak berkimono kuning ber-obi pink berbicara dengan tergagap-gagap.
"Kalau nunggu dia selesai lama… Kami kesini untuk memberitahumu kalau kau dalam bahaya." Sela anak yang berkimono biru ber-obi merah.
"Hah? Bahaya? Apa maksudnya?" Tanya Ren dengan mata terpejam karena ngantuk.
"Hati-hati dengan TV yang menyala." Anak kecil yang berkimono pink menghilang.
"Ma-Maaf…eto…sudah… eto… mengganggu…" Temannya meminta maaf lalu menghilang. Ren kembali tidur. TV dikamarnya tiba-tiba menyala sejam kemudian. Dia terbangun.
"Kok? Aku kan tidak menyalakannya… Apa saking capeknya aku lupa matiin ya?" Ren merasa dirinya jadi pikun dan berjalan mendekati TV. Dengan mata terpejam karena ngantuk dia berusaha menekan tombol off. Kamarnya gelap dan membuatnya tidak sadar beberapa pasang tangan menariknya masuk kedalam TV.
Ja-Jadi ini bahaya yang dimaksud mereka?! Pikirnya telat. "UWAAAA!"
"Tehehe, one~"
-x-x-x-x-x-x-
Hari ini hari kedua Shiho bersekolah di SMA Amezune dan pelajaran sudah mulai berjalan. SMA Amezune termasuk SMA unggulan makanya pelajarannya pun lebih tinggi satu tingkat yang berarti dia belajar pelajaran anak kelas 2 SMA. Untungnya dia pintar dan cepat menyerap pelajarannya.
"Hoe… Aku bisa ngikutin tapi kalau sekaligus begini sih tetep pusing!" Shiho ngomel-ngomel. Pasalnya, guru-gurunya keterlaluan. Masa hari pertama udah ngabisin masing-masing satu bab. Mana ada 5 pelajaran lagi. Puyeng….
"Kerja bagus Shii! Kau capek ya?" Teman baru Shiho bertanya. Perempuan itu sebenarnya dua tahun lebih tua dari Shiho tapi dia masih kelas satu karena katanya dia sakit-sakitan. Tidak ada yang kenal dengannya.
"Ah, senpai! Yah, pusing juga sih. Senpai gimana?"
"Aku kan sudah belajar. Memang kalau semester satu pas kelas satu itu selalu padat tapi begitu semester dua dan kelas dua rada longgar kok. Yah, kelas tiga padat lagi sih… Shii, pulang yuk. Mau pulang bareng?" Tanyanya. Shiho mengangguk-ngangguk ceria.
"Boleh! Souji-senpai ada eskul dulu jadi aku disuruh pulang sendiri. Ayo ayo! Ah, aku telepon Yuu dulu ya!" Shiho berlari keluar kelas.
"Hihihi, dasar Shii. Ah, dia lupa tasnya, bawain aja deh…" Cewek teman Shiho itu membawakan tas Shiho dan menghampiri gadis itu.
"Ya… Iya… Tenang aja… Makasih ya Yuu! Jangan bilang-bilang Marie ya!" Shiho memutuskan pembicaraan dan menutup hp-nya.
"Sudah?"
"Iya sudah! Ayo pergi senpai!
"Um... Shii, aku kan bukan kakak kelasmu jadi panggil namaku saja ya. Kumohon! Lagian kan kesannya lebih akrab…"
"Ayo pergi, Tennaika!"
"Ayo! Hehehe…" Tennaika terlihat sangat senang.
-x-x-x-x-x-x-
"Ah, kita berpisah disini ya, Shii. Rumahku belok kiri dan kamu belok kanan kan?"
"Kok tahu aku belok kanan?"
"Tuh, supirmu sudah menunggu." Tennaika menunjuk ke mobil yang dikendarai Yuu. Shiho mengangguk.
"Kalau gitu aku duluan ya Tennaika!"
"Iya, sampai ketemu besok!" Tennaika segera belok ke kiri setelah Shiho pergi. Dia tiba-tiba tersandung. Entah tersandung apa.
"A-Aduh…" Dia bersandar pada tembok untuk membantunya berdiri. Di tembok itu muncul lubang besar dan dia terjatuh kedalamnya.
"KYAAAAA!!"
"Dua~"
-x-x-x-x-x-x-
"Hari ini juga membosankan…" Yosuke berjalan menuju gerbang dengan yang lain.
"Iya nih, kalau ga ada Souji-senpai emang ngebosenin.,," Rise mengeluh.
"Sudah sudah… Kalau kalian begitu nanti Nanako ikut ikutan loh." Kata Yukiko. Mereka memang mau ke rumah anak kecil itu untuk menghiburnya karena Nanako masih sedih Souji ga jadi pindah ke Inaba.
"Aku tahu Yukiko-san… Omong-omong si bocah beruang (Teddie) itu mana?" Yosuke celingukan. Teddie memang sekarang sekolah di Yasogami High sebagai murid kelas satu. Entah bagaimana dia bisa diterima dan akan tetap menjadi misteri.
"Tuh, lagi nampang! Tinggalin aja deh! Udah punya Nanako masih ngelaba, dasar kuma..." Memang sih Teddie dan Nanako ga pacaran tapi begitu Nanako masuk SMP, Teddie pasti langung ngelamar- eh bukan, nyatain perasaannya. Tinggal nunggu 1 tahun lagi dan Nanako jadi anak SMP deh! (Di fanfic ini, Nanako anak kelas 6 SD) Nanako juga keliatannya suka sama Teddie.
"Yuk!" Mereka pun pergi ke rumah yang dituju mereka. Sesampainya disana, mereka melihat Nanako sudah ceria lagi.
"Loh Nana-chan, kami kira kamu masih…"
"Tidak, aku tidak sedih lagi! Hehehe, tau tidak? Otou-san bilang dia akan membawaku jalan-jalan keluar Inaba! Otou-san juga bilang untuk mengajak kalian! Hehe, kita akan menemui Onii-san!" Nanako sangat semangat dan tersenyum lebar. Yang lain juga tersenyum lebar mendengarnya.
"Serius tuh Nana-chan?! Asyik!!" Chie melompat kegirangan dan tidak sengaja menyenggol Yukiko. Yukiko kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh kalau saja tidak ditolong Yosuke.
"Kau tidak apa-apa Yukiko-san?" Tanyanya.
"I-Iya… Terima kasih…" Yukiko blushing.
"Oiy Chie, hati-hati dong. Untung Yukiko-san tidak apa-apa! Dasar bodoh!" Yosuke ngomel-ngomel.
"APA?! Rasakan ini! *Duagh* Eh Yukiko maaf ya…" Chie meminta maaf pada Yukiko tapi tidak minta maaf pada Yosuke yang dia tendang 'hartanya'
"….." Yukiko masih melihat ke arah Yosuke dengan pandangan menerawang.
"Yukiko? Ngapain liatin Yosuke?"
"Eh iya, kita harus pulang kan? Nanako-chan, kami pulang dulu ya!" Yukiko buru-buru pergi karena malu kepergok sama Chie lagi merhatiin Yosuke.
"Tuh anak jadi aneh… Pulang yuk! Dag Nana-chan!" Chie mengikuti Yukiko dan yang lain mengikuti keduanya. Nanako sweatdrop dan menutup pintu.
"Ngapain kesini ya mereka? Apa cuma mampir ya?" Dia bertanya-tanya terus sampai melihat kalung jam pasir yang ada. Dia mengira itu milik salah satu dari persona user. Pintu rumahnya tiba-tiba diketuk. Nanako segera membukakan pintu.
"Ngambil barang ketinggalan kan? Yang i-" Suaranya tak terdengar lagi dan hanya pita pink yang tertinggal di teras rumah.
"San~"
-x-x-x-x-x-x-
"Aigis, coba yang ini dong!" Pinta Yukari yang lagi ada di sebuah outlet bersama Fuuka dan Aigis. Mereka bertiga sedang shopping.
"Ah, Yukari-san pintar! Omong-omong, ini cocok untukku ga?" Tanya cewek berambut hijau bernama Fuuka. Yukari mengangguk dan Aigis meraih baju yang diberikan Yukari.
"Jelas dong! Aigis langsing dan manis sih jadi baju apa aja cocok. Aku bingung mau milih yang mana… Semuanya cocok sih… Gothic lolita? Lolita? Casual? Feminime? Sporty? Hijau? Merah? Pink? Kyaa! Semuanya cocok!!" Yukari teriak-teriak sendiri dan mencoba memilih baju untuk Aigis. Berulang kali Aigis bolak-balik masuk kamar pas dan memang semuanya cocok. Fuuka sweatdrop ngeliat Yukari yang milih-milih baju.
Kayak main Barbie aja… Versi manusia, eh robotnya… Pikir Fuuka dalam hati.
"Yukari-san, aku capek nih. Jadi mau beli yang mana?" Yukari tersenyum lebar mendengar pertanyaan Aigis dan menunjukan gunungan baju dibelakangnya.
Gunung? Kenapa bisa ada gunung disini?
Bukan! Itu tumpukan baju…
"Terima kasih Yukari-san. Em… Bayarnya gimana?" Tanya Aigis polos. Yukari menunjukan kartu kredit Mitsuru.
"Pakai ini dong. Hei, jangan memandangku seolah aku mencurinya dong… Senpai sendiri yang memberiku. Dia bilang pakailah untuk membeli baju Aigis." Jelas Yukari karena Aigis dan Fuuka memberinya pandangan menuduh.
"Kalau gitu kita lanjutin lagi ya belanjanya!"
"Ow!" Ketiganya akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam, mengelilingi banyak toko dan baru balik jam 7 malem. Mitsuru yang lagi menikmati tehnya di lobi terkaget-kaget karena tiga orang cucunya –dieksekusi- eh salah (lagi?), juniornya pulang dengan belanjaan yang seabrek.
"Ka-Kalian… Su-Sudah selesai belanjanya? Kok banyak amat ya? Mitsuru sok tenang padahal kaget setengah mati.
"Aigis kan butuh banyak senpai…" Jawab Yukari.
"Oh…" Mitsuru ber-oh ria.
"Kalau begitu kita tinggal mendekor ulang kamar Aigis ya… Kita lakukan besok ya."
"Ya iyalah senpai!" Yukari ga sengaja membuat Mitsuru marah.
"Yukari-san, kami kekamar dulu ya." Fuuka dan Aigis langsung kabur. Yukari mati tereksekusi dan jasadnya dikuburkan di kamarnya (lebay!). Aigis yang udah ada dikamarnya mencoba baju yang baru dibelinya. Dia tersenyum senang saat melihat pantulan dirinya di cermin dan berniat memperlihatkannya pada Minato. Sayang niatnya tidak tercapai karena dia keburu ditarik masuk ke dalam cermin.
"1, 2, 3, 4 and go~"
-x-x-x-x-x-x-
Ren mana ya? Kok aku ga ngeliat dia ya… Pikir Souji yang sedang mengerjakan pr miliknya. Waktu sudah menunjukan pukul 11.55 dan dia masih belum tidur. Hari juga hujan. Souji berhenti mengerjakan pr dan melihat TV karena dia pikir Mayonaka channel bakal muncul dan benar saja, tepat jam 12 malam TV-nya menyala dan ada orang yang terlihat.
"Ren?!"
-x-x-x-x-x-x-
Ditempat lain, Shiho juga belum tidur dan dia melihat TV-nya menyala sendiri. Dia kaget karena ada orang yang muncul disana.
"Tennaika?!"
-x-x-x-x-x-x-
Para S.E.E.S sedang berada di kamar masing-masing ketika TV di kamar mereka masing-masing menyala. Sang robot terlihat di layar televisi.
"Aigis?!"
-x-x-x-x-x-x-
Hal yang sama juga terjadi di Inaba. Para I.S sedang mengecek mayonaka channel dan melihat siluet anak kecil di TV masing-masing.
"Nanako?!"
~To be continued~
Yak, another gaje chapter!!! –ditendang- Pembaca sekalian, maaf ya jadi ribet begini. Untuk waktu dan tempat setiap bagian ceritanya, ribet memang tapi sudah dicantumkan bukan waktu kira-kira dan tempatnya. Kalau tidak ada keterangannya berarti kemungkinan masih menyambung ke cerita atasnya. Susah memang tapi liat aja charasnya biar gampang. Oh iya, yang ngomong 1, 2, 3, 4 siapa ya?? Pasti pada nanya-nanya (ke ge-eran lo, na!) kan? Dia itu… Rahasia~ Ini dia biodata Ren! Males gambarnya nih, mwehehehe… Review please? Pendek boleh, panjang menyenangkan. Pokoknya review!
Biodata OC (Ren):
Nama: Ren Akiru
Umur: 17
Kelas: 3 SMU
Hobi: Main, belajar, mainin kucing
Makanan favorit: Crepe, permen, udon, ramen
Minuman favorit: Yang seger-seger!
Rambut: Pirang
Mata: Ungu
Karakter: Supel, ramah, pintar
Persona: ???
Senjata: ???
Teman dekat Souji di SMU Amezune. Kelas tiga juga dan bersama dengan Souji, merupakan idola sekolah. Cowok ini tidak diketahui mempunyai persona atau tidak dan otomatis senjatanya juga ga jelas keberadaannya. Punya tunangan sekaligus temannya yang bernama Tennaika.
