"Matt.. Apa mungkin kamu..." Mello menengok ke arah si dokter yang menyuruhnya menghampirinya.

"Dia menderita amnesia."

"T-tidak mungkin..." Mello berjalan kembali kedalam tanpa menghiraukan ucapan sang dokter selanjutnya. "Sial, sial! Kenapa kau bisa amnesia, bodoh?!"

"Aku... amnesia?" Ia bertanya. "Oh. Kamu itu siapanya aku ya?"

"Kita ini detektif. Aku adalah partnermu."

"Detektif?"

"Yeah. Kita berdebat besar dan kau pergi dari markas lalu kau tertabrak." Mello merogoh sakunya, "Ini untukmu." ia melempar Psp berwarna biru muda itu.

"Psp?" Matt mengutak-atik benda itu. "Sepertinya aku hebat main game ya?" Katanya sambil menelusuri high scores di setiap game yang ada.

"Nih." Mello menambahkan rokok.

"Rokok? Aku... merokok?" Ia melihat benda itu dengan tatapan jijik.

"Kenapa Matt? Sudah sadar kalau benda itu adalah sampah? Aku capek memperingatkanmu tentang hal tersebut."

"A-aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku yang sebelumnya. Psp? Rokok?"

"Sudah kau diam saja dan lekas sembuh." Mello berkata seraya berjalan keluar pintu. Terdengar suara bisikan di depan,

"Maaf, dilarang bawa pistol..."

X-x-x-x-x-x-X

Satu minggu berlalu dan Matt sudah boleh pulang. Mello langsung melemparnya ke sofa dan menyalakan laptop di meja kecil.

"Hack perusahaan Apple, now."

"A-apa??? Bagaimana caranya?"

"Jangan bilang kamu lupa!"

"Err..." Matt memutar matanya.

"DAMN! Kamu benar-benar tidak berguna sekarang! Otak bagian Cerebrum mu benar-benar RUSAK!!! Untung kamu masih bica bicara!" Mello membentak Matt yang langsung mundur beberapa langkah. "Sudahlah." Ia mengambil laptop itu dan mengerjakan semuanya sendiri. "Kamu masuk kamar saja."

Matt berjalan perlahan meninggalkan Mello. Perasaan bersalah memasuki hatinya. Ia membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. "Err, Mello, kamarku..."

"Kita sekamar."

"Oh." Ia berkata pelan sebelum menutup pintunya.

Matt membuka laci yang berlabel 'Matt'. Dia menemukan sebuah buku kecil yang sudah lusuh di dalam. Perlahan, ia meniup debu itu hingga menjauhi buku coklat yang ia pegang lalu, dibukanya ke halaman yang random.

26 Oktober 2004

Ada anak baru di Wammy's House hari ini. Namanya Mello. Ia jadi teman sekamarku. Tampangnya manis, rambutnya blonde berkilauan. Tapi siapa yang tahu kalau dia itu monster... Dia membentaku terus habis-habisan.

30 Oktober 2004

Beyond datang ke kamarku hari ini. Seperti biasa, dia sangat ramah kepadaku dibanding kepada orang-orang lain. Bahkan ia berhasil menyuruh Mello agar menutup mulutnya yang rusak itu. Dia memang hebat. Aku menyukai BB... Aku suka padanya... Namun aku tak mau mengatakannya...

5 November 2004

Mello tidak pernah bicara denganku lagi, bahkan tidak pernah membentaku. Ia terlalu sibuk belajar untuk mengalahkan NEAR, si jenius. Tapi Mello berhasil merebut ranking 2 dariku, dia itu pintar.

12 November 2004

AKU TAK TAHAN DENGAN SIKAP MELLO!!! Dia terus saja menggangguku sekarang!! Apa aku begitu enaknya dijadikan target?! Pokoknya lihat saja kau Mello, aku akan membalasmu!!!

13 Desember 2004

Ulang tahun Mello. Cih, aku tak peduli. Lebih baik aku bermain bersama BB.

5 Januari 2005

MAMPUS KAU, MELLO! AKU BERHASIL MENGAMBIL RANKING DUA KU KEMBALI!!!

1 Febuari 2005

Ulang tahunku~ Sudah pasti Beyond orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun. Tapi... BEYOND AKAN PERGI DARI WAMMY'S HOUSE BESOK. BAGAIMANA AKU BISA HIDUP?! Mello... Dia... Mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku...

2 Febuari 2005

Beyond... pergi... Aku tak tahu harus berbuat apa... Dia satu-satunya orang yang paling mengerti aku...

5 Febuari 2005

Hari ini aku turun menjadi ranking 10 di Wammy's House. Aku sudah tidak mau tahu lagi. Persetan dengan ranking dan semua itu. Aku cuma mau Beyond...

Itulah halaman terakhir yang ada tulisan di diari yang dipegang oleh Matt. "Sebenarnya aku ini siapa... Wammy's House itu apa... Beyond itu siapa?" Sebuah foto terjatuh dari belakang diari itu. Ada gambar seseorang dengan rambut hitam acak-acakan, mata berwana merah dan kaus hitam dan disebelahnya adalah dirinya.

Tiba-tiba Mello masuk ke kamar dan menatap Matt.

"Kau sedang lihat apa?" Ia bertanya.

Aku hanya menggelengkan kepalaku dan memeluk diari coklat itu.

"Boleh kulihat?"

"Kalau aku sih tidak apa-apa tapi, diriku yang dulu..."

"Sudahlah." Ia merebut diari itu dari tangannku dan membolak-balik isinya. "Kamu benci padaku, sudah kuduga. Kamu menyukai Beyond, yup. Nilaimu turun karena menangisi Beyond, pasti." Mello melihat Matt yang masih duduk di sana. Perlahan, ia berjongkok dan membelai rambut merah dihadapannya. Matt menutup matanya, menikmati sensasi itu. Tiba-tiba air mata mengalir dari pelupuk mata Matt.

"Ke-kenapa aku menangis...?"

"Kau tidak punya siapa-siapa, Matt. Wammy's House adalah sekolah untuk anak yatim piatu. Beyond tak akan melakukan ini kepadamu, terlebih..." Ia berhenti sebentar. "Aku."

"Jadi kenapa kau melakukan ini kepadaku?"

"Karena aku peduli kepadamu." Bisiknya, pelan, sangat pelan hingga tak ada yang bisa mendengar.

"Maaf?"

"Lupakan." Ia berdiri. "Kamu istirahat saja. Sudah malam." Katanya sebelum mematikan lampu dan berjalan keluar sambil menutup pintu. Di luar, Mello terdiam, kepalanya tertunduk ke bawah. "Matt menyukai Beyond... Mello, sadarlah. Ia tak akan menyukaimu. Tak akan pernah." Mello berbicara dengan dirinya sendiri.


To be continued

Review ya..