Aaa, ampuni saya... Kenapa smuanya protes Matt nulis diari??? D: Tidak akan saya ulangi lageeee!!
Matt duduk di lapangan rumput, memandangi awan yang beterbangan. Ia menutup matanya, merasakan hembusan angin di kulitnya. Tiba-tiba seseorang mencubit pipi Matt keras sekali.
"AHH!!! SAKIT!!!!" Ia berteriak dan membuka matanya dan melihat Mello sedang membungkuk. "Mello..."
"Kamu sedang apa disini?" Mello ikut duduk disebelahnya.
"Menikmati angin. Kamu sendiri?"
"Killing the time." Katanya. "Matt, besok kau ikut denganku."
"Kemana?"
"Mencari informasi tentang pembuhunan itu. Kamu pasti sudah lihat kan di koran?"
"Oh, iya."
"Yang benar? Ceritakan kepadaku." Katanya dengan nada tak percaya.
"Hmm... Karyawan di satu perusahaan terbunuh dan satu-satunya jejak adalah selai stroberi ditinggal di tempat itu."
"Mengejutkan, Matt tidak pernah baca koran sebelumnya."
"Aku bukan Matt yang dulu." Si rambut merah itu tersenyum.
"Che, senyum yang dulu." Mello memukul pipi Matt pelan.
OoOoOoO
Mello mengendarai motornya menuju ke tempat kasus, saking cepatnya, Matt memeluk Mello erat.
"Mello!! Lebih pelan sedikit dong!!"
Pura-pura tidak mendengar, Mello diam saja.
"MELLO!!!!!"
"DIAM, JELEK!!! NANTI KULEMPAR DARI MOTOR LOH!!!"
"KAMU DAPET DUIT DARI MANA BELI MOTOR BAGUS BEGINI??"
"NANEM DUIT! YA ENGGALAH! KAMU KIRA NYELESAIN SEBUAH KASUS NGGA DIBAYAR APA?!" Mereka terus berteriakan layaknya di hutan.
"MELLO!!!"
"UDAH KAMU DIEM AJA!!!!!!!!!!!!!"
"KAN SEHARUSNYA KITA MASUK GANG ITU!!!!" Matt menunjuk ke gang kecil dibelakangnya.
"BILANG KEK DARI TADI!!!!"
"BLAAH!!"
Setelah tiba di tempat kejadian, Mello memarkir motornya dan berjalan mendekat.
"Maaf, orang asing selain polisi dilarang masuk." Seorang polisi menyetop mereka.
"M." Mello membuka dompetnya dan menunjukan kartu dengan tulisan M besar.
"S-silakan masuk! Maaf atas kelancangan saya!" Polisi itu membungkukan badannya. Mello memegang tangan Matt yang masih bengong dan membawanya masuk.
"Apa kamu begitu terkenal?"
"Well, ada 3 detektif yang paling terkenal di dunia. L, N dan yang terakhir itu kita, M." Mello membungkukan badannya untuk melihat sebuah cipratan selai berwarna pink kemerah-merahan. Ia terus mengikuti jejak itu hingga ia tiba di dapur dan menemukan setoples selai stroberi. Tidak ada tanda-tanda benda tajam di dalam dapur itu. Perlahan, Mello meneliti toples itu dan menyinarinya untuk mendapatkan sebuah sidik jari namun tidak ada satupun. "Dia tidak ceroboh."
"Tidak juga." Matt menunjuk jendela yang pecah di sudut ruangan. "Kemungkinannya adalah ia memecahkan jendela ini untuk masuk ke gedung dan mengambil pecahannya untuk membunuh."
"Dan... Bagaimana kau yakin atas hal itu?"
"Ini." Matt menunjuk beberapa pecahan kaca kecil di meja dekat jendela. "Kaca ini agak cembung kedalam. Kalau kau menghancurkannya dari luar, semua bagian retakan akan masuk ke dalam sedangkan, kalau kau memecahkan dari dalam, semuanya akan jatuh keluar. Kemungkinannya adalah sang pelaku memecahkan kaca dari luar lalu, memindahkan seluruh bagiannya keluar dari dalam. Namun, tetap saja. Kaca pecah menjadi ribuan bagian maka, pemindahan secara keseluruhan tidak mungkin kecuali kau menggunakan sesuatu."
"Che, kau masih selihai dulu. Potret itu." Mello berkata seraya meneliti seluruh ruangan itu. Tidak ada yang mencurigakan. "Ayo kita keatas."
Tangganya banyak sayatan, membuatnya menjadi rapuh. Suara berdecit terus mengikuti setiap langkah Matt dan Mello. Tiba-tiba, anak tangga yang di langkahi Mello patah dan Mello mengangkat kakinya dengan cepat, kehilangan keseimbangan dan jatuh kebelakang. Matt meraih tangan Mello namun, ia ikut jatuh.
BRAK!!!
"Aw...." Mello mengelus kepalanya yang benjol.
"Ouch..." Matt mengerang karena ia mendarat di tangannya yang menumpu semua bebannya.
Mello membuka matanya, melihat Matt ada diatasnya dengan kedua tangan di sampin wajahnya dan lutut disebelah bagian bawah badannya. "Matt..."
"A-ah maaf!" Ketika mau berdiri, Mello meraih tangan Matt dan mengunci bibirnya dengan sesuatu yang hangat, bibir Mello. "Mnnh!!"
"Nn.. Kau sangat menggoda." Ia berkata.
Matt hanya bisa diam. Ia pernah merasakan kehangatan ini sebelumnya...
"Be-Beyond!"
"Matt, sampai jumpa." BB merentangkan tangannya dan memeluk figur tubuh Matt yang kecil. "Aku harap kita bisa bertemu lagi."
"Jangan harapkan itu, B... Kau harus yakin..."
"Ya. Aku yakin kita bisa bertemu lagi." Ia tersenyum.
"Ah!" Matt menjauhkan dirinya dari wajah Mello. "Ma-maaf. Air mataku mengucur lagi..."
"Apa yang sedang kau pikirkan, Matt?"
"Be-Beyond."
"Beyond?" Mello menundukan wajahnya dan berdiri. "Ayo kita lanjutkan penelitian kita." Ia berjalan keatas.
"..." Matt mengikutinya dari belakang.
To be continued
Kacaw
