In case readers mau tahu kenapa saya suka banget bikin Mello menderita karena saya capek baca fanfic dimana Matt yang ditinggal Mello = =;
"Kau berhasil menemukanku..." Ia tersenyum. "Mihael Keehl."
Mello tersentak kaget, tidak ada yang tahu nama aslinya. Beyond mendekati Mello, yang didekati mundur kebelakang hingga ia menabrak tembok.
"Mata yang menarik..." Beyond menyentuh wajah Mello yang menggambarkan ketakutan.
"Me-menjauh dariku..." Ia melihat bola mata BB yang merah sepekat darah.
"Sekarang apa yang mau kau lakukan, detektif?"
Dengan marah, Mello meraih pistol di kantung celana kulitnya dan mengarahkannya ke jidat BB. "I'll shoot you."
"Pull the trigger if you can." Katanya sambil tersenyum.
"Apa maumu, Beyond?"
"Kau tahu jawabannya Mello. Aku mau kau mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikku." Beyond mengangkat pecahan kaca di tangannya dan menempelkannya ke leher Mello.
"Matt? Kau mau dia?" Tanya Mello yang dijawab dengan tawa.
"Ya. Aku mau Matt-kun kembali ke tangan ini."
"Kau kurang beruntung. Dia baru saja pergi." Suara Mello terdengar pelan.
"Dan... Kau tidak menghalanginya? Itukah sifat seorang partner?"
"Kau tidak mengerti apa-apa, Beyond."
"Yang benar... Tapi bagaimana aku bisa mengerti hal yang vital ini?" Beyond mendekat ke telinga Mello, "You love Matt, Mihael." Bisiknya pelan.
Reflek, cowo blonde itupun menampar wajah B keras hingga darah mengucur dari hidungnya.
"Dengar, Mello. Tadinya, aku mau membunuhmu... Tapi, membuatmu sengsara sebelum waktu itu sepertinya menyenangkan juga."
"Apa maumu?
"Merebut orang yang paling kau sayangi."
"Kenapa kau mau melakukan itu?"
"Untuk menghilangkan rasa bosan." Beyond berdiri di dekat wastafel. "So, Mello, tell me that you're not going to stand there for eternity. Wont you go after Matt?"
"What for? He's not coming back anyway."
"Kau pasrah? Kau membiarkan Matt jatuh ke tanganku? What a helpless creature."
"DENGAR, B! MATT MEMBENCIKU! DIA TIDAK AKAN KEMBALI LAGI!! BERHENTI BICARA SEAKAN KAU MENGERTI KEADAANKU!"
"Kamu tidak mengerti perasaan Matt. Dia melakukan itu bukan karena dia membencimu tapi, dia tidak mau disakiti. Matt itu lemah."
Sekali lagi, sebuah pukulan keras mendarat ke wajah Beyond Birthday yang lalu terjatuh ke lantai.
"You're weak, Mello."
Mello mencengkeram leher baju Beyond dan berbisik, "B, tolong, urusi urusanmu sendiri."
"Urusan Matt adalah urusanku." Ia berkata sambil menepis tangan Mello dan menonjoknya balik.
Darah mengucur dari hidungnya, ketika hendak memukul balik, B meraih tangan Mello dengan kecepatan kilat, menariknya dan mendorong tubuhnya berputar. Dengan instan, B sudah menggenggam tangan Mello keras di belakang pundak sang cowo blonde yang menggeram. Beyond memutar tangan Mello sedikit ke dalam, membuatnya berteriak kesakitan.
"Berteriaklah..." Dengan suara 'krak' kecil, Mello menutup matanya. "Haha..." B melepaskan tangan Mello yang nyaris patah itu. Dia memecahkan jendela dan melompat keluar. "Aku mau mencari Matt. Tidak ada waktu untuk bersenang-senang denganmu."
Mello berdiri dan ikut berlari keluar.
OoOoOoOoO
Matt duduk di atap sebuah mall yang sangat sibuk. Dia menatap gemerlap suasana malam di kota itu. Ia tersenyum dan menutup matanya.
That white wind blows through my chest with a tearful face
Mello berlari untuk mencari Matt. Ia melihat ke tempat dimana Matt biasanya ada tanpa mendapat sebuah hasil. Entah kenapa, perasaannya menjadi sangat tidak enak. Ada yang mengganjal, ia takut Matt sedang di dalam bahaya. Dia meninggalkan markas tanpa sebuah pistol atau senjata, ia juga tak jago bela diri.
I meet and part from you, my dear, laugh at the dirty me
Mata Beyond terus menatap wajah orang untuk mendapat sebuah nama 'Mail Jeevas' yang belum kunjung nampak. Dia memang tak mencintai Matt namun, ia tak mau kehilangan sahabat satu-satunya itu. Lagipula, Beyond sudah berjanji mereka akan bertemu lagi.
When I was a child, I frantically searched for the dream known as 'love'
Matt masih duduk diam, merasakan angin di kulitnya. Ia harap ada seseorang di dunia ini yang bisa mencintainya, yang bisa menghiburnya, memeluknya... Namun semuanya itu hanya mimpi kan? Tidak ada yang mengkhawatirkan seorang gamer yang tidak pernah bersosialisasi.
Hurting each other and getting hurt ourselves. Rain fell in my heart
"Matt... Matt.. Kumohon kau jangan bertingkah ceroboh.." Mello memegang rosary yang melingkar di lehernya itu sambil berdoa. "Tuhan, biarkan aku menemuinya. Perasaanku tidak enak sekali... Tolong jaga dia..." Ketika menengadah ke atas, Mello melihat sosok seseorang yang mengenakan baju stripe merah hitam di atas atap mall, sedang berdiri. Secepat kilat, ia memasuki mall itu.
We're walking on that road where the sakura blooms
"Matt..." Pandangan Beyond terpaku pada seseorang dengan tulisan 'Mail Jeevas' diatasnya. Bukan karena Matt ada di atap mall, tapi karena di lifespan yang bisa dilihatnya, tertuliskan tanggal hari itu yang berarti Matt... "Jangan bertingkah bodoh..." Beyond berlari untuk mencegah Matt melakukan hal yang ceroboh itu.
The dream in which sakura blooms and flutters is lovely
"Aku sudah tidak mau tahu lagi... Sudah cukup... Aku tidak mau disakiti lagi..." Matt menutup matanya yang sudah mulai berair. "Tidak orang yang peduli kepadaku. Di Wammy's House juga. Tidak ada yang mengenalku... Hanya karena hal ini, tidak akan ada yang sedih..."
softly and waveringly, I wander
"MATT!!!!!" Seseorang berteriak dari belakang. Otomatis Matt menoleh, melihat Mello. "Jangan melakukan hal bodoh..."
Seseorang berjalan masuk, ia menatap wajah Matt.
"Beyond... Itu kamu...?"
"Matt, kumohon. Jangan." Dengan hati yang berdebar-debar, ia berharap agar tulisan yang dilihatnya itu salah meskipun hal itu mustahil. Andaikan ada 0.1% kemungkinan salah saja....
Until my soul withers and dies...
Matt menyesal ia ada di pojok, benar-benar dipojok, tidak menyisakan satu senti jarak antara kakinya dengan ujung lantai itu. Karena angin yang sangat keras, Matt kehilangan keseimbangan.
I won't end...
"MAAAATT!!!" Mello meraih tangan Matt yang dibalut dengan gloves. "Don't you dare..."
"Percuma, Mello." Beyond berkata. "Tidak ada yang bisa menghentikan maut."
"Matt.. Bertahanlah." Mello berkata seakan ia tidak mendengar B namun, gloves yang dikenakan Matt semakin turun. "Don't go... I love you..."
"I thought I always love Beyond but... I realised that the one I truly love is you..." Matt berbisik dengan senyum puas sebelum sarung tangannya terlepas dan ia terjun jatuh.
A vivid flower.
"MAATTTT!!!!!!!!" Air mata Mello berjatuhan ketika ia melihat badan Matt terhempas di trotoar yang cukup besar itu, membuat semua orang berteriak kaget. Beyond hanya bisa menutup mata dan menundukan wajahnya.
Menurut saksi mata, Matt terlihat tersenyum di detik terakhirnya sebelum senyum itu pudar.
~: O W A R I :~
YA YA!!!! SILAKAN FLAME!!! SAYA GA MAU TAU!!! CERITA YANG KALI INI FAIL BGT!!!!!!!!!!
FLAME AJA, SAYA TERIMA KOK, SERIUS!!!!!
