Title : Ore mo Aitsu mo Omae mo

Pairing : Triangle Love, NejiSasuNaru (Not Threesome! Its NejiSasu/SasuNeji, SasuNaru/NaruSasu & NejiNaru/NaruNeji)

Rating : Lagi-lagi T hehehe…

Genre : Romance/Angst … T__T

Language : Indonesian

WARNING : YAOI, BOY X BOY, SHOUNEN AI

DO NOT READ IF YOU'RE YAOI HATER OR ANTI FUJOSHI !!!

Disclaimer : Yuuya Do Not Own Naruto… Huh! *Pouts*

A/N : OOC buangetttt dan keanehan-keanehan yang lainnya dech, Heheh… XP. Niat Twoshot, tapi setelah di Edit sana sini kok halamannya membengkak ya?! O.o Akhirnya di Cut jadi Tiga Chappie neh… Duh! Maap bagi yang kelamaan nunggu -emangnya, ada yang nunggu? =.="- terbentur ama Ide Fic yang lainnya seh. Heheh XP

Ya Oukelah kalau begitu…

Enjoy ^^


Yuuya's Present

Ore mo Aitsu mo Omae mo

( He and I and You )


-

-

-

Saat itu…

Tiba-tiba terpikir olehku…

Suatu saat nanti akan tiba hari dimana aku berpisah dengannya

Suatu saat, Dia mungkin akan pergi menyongsong ufuk yang jauh (*)

Tak ada seorang pun yang bisa menahannya

Tidak juga aku.

(Sasuke's POV)

-

-

-



Sejak meninggalkan Water Country, Sasuke melihat perubahan pada diri Naruto. Bahkan perubahan itu dia rasakan sejak hari kedua ketika mereka bermalam di tempat Katagiri-san. Entah itu hanya perasaan Sasuke saja atau tidak. Tapi Sasuke merasa Naruto lebih… Emmm… Pendiam?!

Ya Ampun, Naruto… si Blonde Hiperactive dan Ninja No.1 yang penuh kejutan itu sekarang mendadak menjadi pendiam?!

'Rasanya ada yang salah di sini.' ujar Sasuke dalam hati.

Dia masih memperhatikan Naruto dari sudut matanya.

Wajah tan itu tampak muram. Mata birunya yang biasanya berbinar ceria kini tampak sedikit memerah dan redup.

Entah itu karena kurang tidur atau karena alasan yang lainnya.

Dia bahkan tak berbicara sama sekali dalam perjalanan pulang ke Konoha ini.

Hhhhh…

-

-

-


SASUKE POV

"Ne~ Sasuke, lebih baik kau bawa dulu Neji ke Rumah Sakit Konoha, biar Sakura memeriksanya sekali lagi. Urusan Misi, nanti aku saja yang melapor ke Baachan." ucap Naruto begitu kami tiba di Konoha Gate sore itu.

Ini adalah kata-kata pertama yang diucapkannya sejak perjalanan tadi.

"Ck, aku sudah tahu, Dobe!" gerutuku.

"Heheh, Ja Mata Ne~ Sasuke, Neji!"

Pamit Naruto cepat, dia langsung berlari pergi. Membuat aku dan Neji dibuatnya terdiam terpaku. Bagaimana tidak, selain sikapnya yang dari tadi tampak aneh, dia bahkan tak membalas ejekan 'Dobe' ku padanya. Padahal seharusnya dia meneriakiku 'Teme' kan?

Itu 'Tradisi' kami.

"Cuma perasaanku, atau memang Naruto sedikit berbeda ya?" tanya Neji sembari menatapku.

Aku hanya menggeleng pelan menanggapi pertanyaannya.

END SASUKE POV

-

-

-


Naruto bertemu dengan Shizune di koridor Hokage Office.

"Tsunade-sama sedang ada pertemuan dengan para Tetua, kau tunggu saja sebentar lagi." Kata Shizune, kemudian berlalu meninggalkan Naruto untuk membereskan tumpukan berkas yang sedang di bawanya.

Tak berapa lama Naruto mendengar suara ribut-ribut dari dalam. Bahkan berkali-kali Tsunade-sama seperti mengebrakan meja Hokage dengan tinjunya yang mengerikan itu.

'Ada urusan apa lagi sih, Baachan dengan para Tertua itu? Memangnya ada masalah yang serius lagi?' tanya Naruto dalam hati.

Naruto menekan cakranya sekecil mungkin, berusaha disembunyikan agar tidak ada yang menyadari kehadirannya.

Diam-diam dia menempelkan telinganya di depan Pintu Hokage Office.

Samar-samar dia mendengar percakapan dari dalam.

Tak berapa lama, matanya membulat lebar ketika menangkap pembicaraan itu.

-

-

-


Tanpa banyak berpikir, Naruto berlari menuju keluar Hokage Office. Tak peduli lagi kalau dia harus segera memberikan laporan misi pada Tsunade-sama.

Tangannya mengepal, tubuhnya bergetar hebat.

Digigitnya bibir bagian bawahnya, berusaha mengendalikan isak tangisnya yang akan hampir meledak.

Naruto berlari menuju ke arah Akademi, dan tanpa membuang waktu dia langsung mencari sosok Sensei tercintanya.

Iruka-sensei sedang duduk sendirian di kantor guru saat itu. Tampak asyik menekuni buku-buku anak didiknya. Mengoreksi hasil ujian murid-murid memaksanya untuk lebih berkonsentrasi, hingga Iruka tak menyadari Naruto telah ada di dekatnya.

Pemuda pirang itu langsung menghambur ke arah Iruka. Memeluknya begitu erat.

"Na-Naruto?!"

Iruka sedikit terlonjak kaget. Untung saja dia adalah mantan anak didiknya, bukan musuh yang hendak menyerang dan membunuhnya.

Hhhh…

"Ke-Kenapa? Kenapa Sensei? Kenapa semua membenciku? Kenapa hanya aku? Bahkan Dia juga tak menyukaiku… Dia tak menyayangiku? Kenapa? Kenapa Sen… Ugh!Uhuu…uuu…"

Mata Iruka terbelalak, dia sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan oleh 'Putranya' ini. Isak tangis Naruto tambah keras saja, bahkan dia semakin menenggelamkan dirinya ke dalam kehangatan pelukan Iruka.

Insting seorang ayah pada diri Iruka tergerak. Dia memberikan usapan lembut di rambut pirang Naruto. Mengusap punggung pemuda itu perlahan. Mencoba menenangkannya. Walaupun hanya sebuah gerakan sederhana, namun Naruto memang membutuhkannya saat ini.

"Doushita no, Naruto? Siapa yang membuatmu menangis seperti ini?" tanya Iruka lembut.

Naruto hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sesaat kemudian, dilepaskan pelukannya dari Iruka, memandang sosok ayah yang disayanginya itu dengan masih berurai air mata.

"Ne~ Iruka-sensei… Ka-kau tak membenciku kan?"

Mata Iruka kembali melebar, ditatapnya bocah pirang dalam-dalam. Mencoba menerka apa yang dipikirkannya saat ini.

'Bagaimana bisa dia berpikir aku membencinya?' tanya Iruka tak percaya.

Dia kemudian menarik kembali tubuh Naruto ke dalam pelukannya.

"Baka! Tentu saja aku menyayangimu Naruto, aku tak mungkin membencimu. Kau adalah putraku. Aku tak membencimu." ujar Iruka mencoba meyakinkan Naruto.

Naruto tertawa kecil disela-sela isak tangisnya. Dia kembali melepaskan diri dari hangatnya pelukan itu.

"Aku juga menyayangimu, Iruka-sensei." ucap Naruto sambil tersenyum lembut.

Iruka membalas senyumannya.

"Sebenarnya kau ini kenapa? Datang-datang langsung menangis seperti itu?" selidik Iruka penasaran.

"Heheh… tidak apa-apa, Aku hanya ingin dipeluk oleh Iruka-sensei saja." jawab Naruto.

"Naruto?"

"Daijobu yo, Sensei…"

Walaupun tak percaya pada alasan itu, namun Iruka juga tak mau memaksa Naruto untuk berbicara. Dia mengacak pelan rambut pirang milik bocah itu. Naruto tertawa pelan.

"Nanti traktir aku ramen ya, Sensei. Aku pulang dulu." pamit Naruto.

"Haik, Kyotsukete ne!"

Naruto hanya menyengir lebar.

Dia lalu berjalan keluar dari ruangan itu. Sebelum membuka pintu, Naruto kembali menoleh kearah Iruka-sensei. Menatapnya lama, membuat Iruka mengerutkan kedua alisnya. Tak paham.

"Arigato, Iruka-sensei." ucap Naruto kemudian.

Iruka sedikit terkejut. Ada getar halus di hati Iruka saat mendengar Naruto mengucapkan kata 'Terimakasih' itu. Entah kenapa, saat itu Iruka merasa Naruto akan pergi jauh darinya. Namun buru-buru disingkirkan pikiran jelek itu dari benaknya.

Sebelum Iruka sempat membalas, Naruto sudah terlebih dahulu meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Iruka yang kembali terlarut dalam pikirannya sendiri.

"Sayonara… Iruka-sensei… " bisik Naruto pelan dari balik pintu.

Dia kemudian berjalan tertunduk meninggalkan gedung Akademi itu.

-

-

-


"Naruto?!"

Suara itu membuyarkan lamunannya. Dengan cepat dia membersihkan sisa air mata di wajahnya dengan lengan bajunya yang lusuh. Naruto menoleh ke arah sumber suara itu. Menyengir lebar ketika mengetahui sosok yang memanggilnya tadi.

"Sakura-chan!" sapanya sambil melambaikan sebelah tangannya.

Tak disangka setelah menemui Iruka-sensei, Naruto berjalan sampai ke Konoha Hospital tempat sakura biasa bekerja.

"Kau melamun ya?" selidik Sakura.

"Heheh… tidak kok! Oh ya, apa Sasuke dan Neji sudah menemuimu? " tanya Naruto berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Ah iya, mereka masih di sini. Tadi aku sudah melihat keadaan mereka, tapi karena ada sesuatu hal yang harus ku kerjakan, aku tinggalkan mereka sebentar. Ini aku akan memeriksa mereka lagi, apa kau mau ikut denganku menemui mereka?"

"Aaahhh~ tidak-tidak, aku harus ke Hokage Office melaporkan misi. Kau saja yang kesana, Heheh…"

Naruto kembali mencoba mencari alasan. Sakura hanya menaikan sebelah alisnya melihat tingkah Naruto.

"Aku pergi dulu, Sakura-chan. Ja!" pamit Naruto.

"Tunggu, Naruto!" cegah Sakura sambil memegang erat lengan Naruto.

"Apa kau juga terluka?" tanya Sakura khawatir.

"Tidak kok, Sakura-chan. Aku tak apa-apa." jawab Naruto sembari tersenyum.

"Benarkah? Biarkan aku memeriksamu juga ya?" pinta Sakura sedikit memaksa. Ada kecemasan di mata gadis berambut pink itu.

Naruto tersenyum lembut. Dia lalu menarik tubuh Sakura mendekat padanya. Memeluknya begitu erat, sama seperti yang Naruto lakukan pada Iruka-sensei.

"Na-Naruto?!"

Muka Sakura sedikit memerah ketika menyadari posisi mereka sekarang. Biasanya dengan cepat, Sakura akan memberikan tinju terbaiknya ketika Naruto mencoba menempel-nempel di dekatnya.

Namun entah kenapa, saat ini…

"Arigato, Sakura-chan. Aku baik-baik saja." ucap Naruto sambil menepuk pelan punggung rekan se-teamnya itu.

Sakura tak dapat berkata apa-apa. Dia hanya diam dan menganguk saja menanggapi tingkah pemuda yang dulu sempat menyukainya ini.

Naruto kemudian melepaskan pelukannya itu.

"Sudah, cepat sana kau lakukan tugasmu. Jangan sampai kau membuat pasienmu menunggu. Dokter Sakura…" kata Naruto sedikit menggodanya.

"Mou~ Naruto no Baka!" ujar Sakura sambil memayunkan bibirnya beberapa centi.

Sakura kemudian berpamitan pada Naruto. Ditatapnya punggung Sakura hingga menghilang dari pandangnnya.

"Sayonara… Sakura-chan…" bisik Naruto lagi.

-

-

-


"Hhhhh…"

Sakura menghela nafas berat. Dia terduduk lesu setelah memeriksa kondisi Sasuke dan Neji.

Sasuke mengerutkan alisnya melihat tingkah gadis pink ini.

"Doushita no, Sakura? Apa ada masalah?" tanya Sasuke.

Sakura menatap mata hitam milik mantan Missing Nin itu.

Memang, dulu dia begitu menyukai Sasuke. Namun sekarang, hanya tinggal rasa persahabatan yang ada. Sakura menyayangi Sasuke seperti saudaranya sendiri. Sama seperti perasaannya pada Naruto belakangan ini.

"Tidak ada apa-apa, luka-luka Sasuke-kun dan Neji-san sudah membaik. Tak ada yang serius." Jawab Sakura sambil tersenyum.

"Bukan itu maksudku. Sepertinya kau ada masalah yang lain?" selidik Sasuke mencoba peduli.

Mata hijau milik Sakura sedikit melebar. Kalau saja dia masih menjadi FansGirl Sasuke Nomor 1, mungkin saja saat ini dia akan melonjak kegirangan. Bagaimana tidak, sangat jarang sekali melihat 'Ice Prince'yang satu ini begitu perhatian seperti sekarang.

"Hehehe… tidak apa-apa kok! cuma…"

"Hn?!"

Sakura terdiam sejenak. Matanya menerawang entah kemana.

"Naruto itu aneh sekali ya?!" ujar Sakura kemudian.

Sasuke sedikit terkejut ketika Sakura menyebut nama Naruto. Perhatian Neji juga ikut terfokus pada Sakura.

"Aneh bagaimana?" tanya Sasuke Penasaran.

"Tadi… dia tiba-tiba memelukku.' ucap Sakura polos tanpa disadari perkataannya menimbulkan efek yang luar biasa.

Sekilas Saringan terbentuk di mata Onyx milik Sasuke. Namun dengan cepat mata hitam itu kembali normal.

Entah kenapa dia tak suka ucapan Sakura barusan. Tak suka kalau melihat Naruto dekat-dekat dengan orang lain. Meskipun Sasuke tahu, Sakura bukanlah 'orang lain' bagi mereka berdua.

Tapi tetap saja…

'Kenapa Naruto harus memeluk si Pink ini?' batin Sasuke.

"Naruto benar-benar aneh, dia bahkan menolak saat aku ingin memeriksa keadaannya. Ada apa dengannya ya?! Kuharap dia baik-baik saja. Perasaanku sedikit tak enak, apa nanti aku mampir sebentar ke rumahnya ya? " celoteh Sakura lagi lebih pada dirinya sendiri daripada berbicara dengan Sasuke.

"Hn, dari dulu si Dobe itu memang sudah aneh." ujar Sasuke dingin dan pura-pura tak peduli.

Neji hanya terdiam mendengarkan pembicaraan mereka berdua.

"Mou~ Sasuke-kun!" Sakura merengut kesal.

"Ya, sudahlah! Aku mau melanjutkan tugasku lagi, sebaiknya kalian segera pulang dan beristirahat." Saran Sakura kemudian.

"Hn,"

Sakura tak perlu kamus untuk mengartikan bahasa 'Terimakasih' versi Sasuke itu.

"Arigato, Sakura-san." ucap Neji sembari membungkuk memberikan salam perpisahan.

"Do Iteshimashita, Neji-san. Ja!" balas Sakura sambil melambaikan tangannya.

Sasuke dan Neji pun bergegas meninggalkan Konoha Hospital. Tak terasa matahari sudah hampir tenggelam di arah barat sana.

-

-

-


"Apa kau bisa pulang sendiri?" tanya Sasuke pada Neji di tengah perjalanan pulang.

"Kau mau kemana? Lebih baik aku mengikutimu, bukankah aku masih menjadi ANBU yang ditugaskan untuk mengawasimu?!"

Neji menghentikan langkahnya. Menatap pemuda berambut hitam itu tajam.

"Aku tak akan pergi dari desa ini lagi, Neji."

"Aku tahu."

"Lukamu masih belum sembuh benar."

"Aku baik-baik saja."

Neji sedikit memaksa, namun Sasuke juga tak mau kalah.

"Aku hanya ingin menemui Naruto sebentar," kata Sasuke pelan.

Membuat mata Lavender itu sedikit melebar.

"Me-memangnya kau mau ke rumahnya?" tanya Neji sedikit terbata.

"Tidak." jawab Sasuke singkat.

Neji menaikkan sebelah alisnya. Tak mengerti.

"Hhhh… si Dobe itu sepertinya suka sekali pada ketinggian. Aku bisa merasakan cakranya di bukit sana," ujar Sasuke sembari menghela nafas pelan.

"K-Kau mencemaskannya?" tanya Neji lagi.

"Ya." jawab Sasuke cepat, tanpa banyak berpikir lagi.

"Kau pulang dan beristirahatlah dulu, aku hanya sebentar." pamit Sasuke seraya pergi meninggalkan Neji yang tak juga bergeming dari tempatnya.

Dia ingin sekali mengikuti Sasuke, namun diurungkannya juga niatnya itu.

Mata Lavender yang tampak sendu itu terus mengikuti arah Sasuke sampai dia menghilang di balik pepohonan.

Neji menghela nafas pelan, entah kenapa dadanya terasa begitu sesak. Apalagi saat melihat kekhawatiran Sasuke pada Naruto.

Neji kembali berjalan menuju ke Uchiha Mansion. Kali ini, hanya sendiri.

-

-

-


Benar saja perkiraan Sasuke, dia menemukan Naruto berdiri di atas pahatan kepala Yondaime. Angin di bukit yang tinggi ini cukup kencang, membuat rambut pirang pemuda itu berantakan. Konoha Headband yang selalu Naruto pakai dan dibanggakannya itu, kali ini absen dari keningnya. Membuat poni pirangnya tergerai bebas menyentuh wajahnya.

Mata biru itu memandang lurus kehamparan bangunan desa di bawah sana. Sinar matahari yang hampir sepenuhnya tenggelam, membias di kulit coklatnya. Membuat Sasuke sedikit terpana melihat 'pemandangan indah' di depannya itu.

"Yo, Dobe!" Sapa Sasuke sedikit keras tak mau kalah dengan suara deru angin yang sedikit kencang.

Naruto terkejut, merutuki kebodohan dirinya sendiri. Dia sama sekali tak menyadari kehadiran cakra yang sangat familiar itu.

Dia menoleh ke sumber suara yang memanggil nama barusan.

Onyx bertemu Saphire.

Sasuke terhenyak, sekilas dia melihat mata biru itu tampak begitu sendu. Dan Naruto menatapnya hampa, seperti tak ada emosi sama sekali di sana.

Entah kenapa saat itu Sasuke merasa Naruto begitu jauh dari jangkauan

Saat itu…

Tiba-tiba terpikir oleh Sasuke

Suatu saat nanti akan tiba hari dimana dia berpisah dengannya

Suatu saat, Naruto mungkin akan pergi menyongsong ufuk yang jauh

Tak ada seorang pun yang bisa menahannya

Tidak juga Sasuke.

"Yo, Sasuke!" balas Naruto.

Wajahnya yang sendu barusan tergantikan oleh cengiran rubah khas miliknya.

Sasuke mengerutkan keningnya.

'Tak ada ejekan Teme lagi, kali ini?' batinnya.

"Sedang apa kau di sini?! Jangan-jangan karena terlalu asyik, kau malah lupa melaporkan misi kita ke Hokage-sama?" tanya Sasuke, sedikit memberikan cengiran sinisnya.

Cengiran rubah Naruto bertambah lebar, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

"Heheh, Gomen ne~ Sasuke… setelah ini aku akan ke tempat Baachan," ujar Naruto.

"Ck, Dobe!"

"Ne~ Ne~ Sasuke sendiri sedang apa di sini? Mana Neji? Bukankah tadi kalian bersama?" tanya Naruto mencoba mencari sosok Neji, kalau-kalau dia sedang bersembunyi.

"Hn, Neji di rumahku dan mungkin sedang beristirahat. Kami berpisah di tengah jalan karena aku mau pergi ketempat ini sebentar," jelas Sasuke.

"Eh, kenapa?"

"Karena aku mencarimu, Dobe!"

"O-Oh~"

Wajah Naruto sedikit menghangat ketika mendengar pengakuan Sasuke yang mencarinya ke bukit ini. Meskipun Naruto menunduk, tapi jelas sekali terlihat guratan merah yang terlukis manis di pipi miliknya.

Sasuke memandang heran ke arah Sahabatnya itu. Dia mendekati Naruto perlahan.

Tiba-tiba tanpa Naruto sadari, Sasuke menggenggam kedua tangannya. Mata biru itu membelalak lebar.

"Sa-"

"Tanganmu dingin sekali, Dobe! Kau bisa sakit kalau terus di sini," ujar Sasuke sambil terus menggenggam erat kedua tangan Naruto diantara kedua telapak tangannya. Menggosoknya perlahan. Mencoba menyalurkan hangat tubuhnya ke Naruto.

Muka Naruto semakin memerah dan memanas. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat Sasuke lebih jelas.

Wajah orang yang sangat dia cintai.

"Ck, Dobe! Pulang dan beristirahatlah, jangan membuat Sakura khawatir," kata Sasuke.

'Jangan membuatku khawatir, Naruto…' bisik Sasuke di dalam hati.

"Eh?" Naruto menelengkan kepalanya tak mengerti.

"Kata Sakura kau bertingkah aneh hari ini, kau bahkan tak mau Sakura memeriksa keadaanmu," jelas Sasuke.

Naruto mengerjapkan matanya sebentar. Lalu tersenyum menatap Sasuke.

"Ore… Daijobu desu yo," katanya berusaha meyakinkan Sasuke.

"Hn, ya sudahlah… Ayo pulang!" ajak Sasuke saraya menarik tangan Naruto untuk mengikutinya.

Namun sepertinya Naruto masih enggan beranjak dari situ.

"Ne~ Sasuke saja yang pulang dulu, sebentar lagi aku menyusul," ujar Naruto sembari melepaskan kedua tangannya dari genggaman Sasuke.

"Mau apa lagi? Di sini dingin sekali."

"Sebentar saja, Sasuke pulanglah dulu," kata Naruto bersikeras.

Sasuke menatap 'Sahabat' sekaligus 'Rival'nya itu. Sesaat mereka hanya terlibat adu pandang saja.

Sasuke sebenarnya ingin Naruto turun dari bukit ini dan pulang bersamanya. Kalau perlu dia bisa saja menyeret Naruto.

Tapi, Sasuke tak ingin memaksanya.

"Hn, lebih baik kau cepat."

Pada akhirnya Sasuke membiarkan Naruto melakukan keinginannya.

Naruto menyengir lebar.

"Arigato, Sasuke…" ucapnya terdengar begitu senang.

"Ck, Dobe!"

"Teme~"

Kali ini Sasuke menyengir lega. Setidaknya si 'Dobe' sudah memanggilnya 'Teme' lagi.

Sasuke kemudian melangkah pergi meninggalkan bukit itu. meninggalkan Naruto yang masih saja memandangi Sasuke ketika sosoknya semakin menjauh.

"Sayonara… Sasuke…" bisik Naruto pelan.

-

-

-

TBC

-

-

-


Yuuya : Naru… kamu ga niat bunuh diri kan?! O.o

Naru : Saa~ Naa~ (Ga tau ya… =.=)

Yuuya : He?! O.o

Yosh!

Mind to REVIEW ?!

-

-

-

NOTES :

Baachan : Nenek

Doushita no : Ada Apa?

Daijobu yo : Baik-Baik Saja / Tak Apa-Apa

Kyotsukete ne : Hati-Hati Di jalan ya

Arigatou : Terimakasih

Sayonara : Selamat Tinggal

Baka : Bodoh

Do Iteshimashita : Sama-Sama / You're Welcome

(*) Kalimat ini Yuuya dapet dari Manga bergenre Sho-ai, J-Boy Vol.7. It's a Sweet Manga ^^