Title : Ore mo Aitsu mo Omae mo

Pairing : Triangle Love, NejiSasuNaru (Not Threesome! Its NejiSasu/SasuNeji, SasuNaru/NaruSasu & NejiNaru/NaruNeji)

Rating : Lagi-lagi T hehehe…

Genre : Romance/Angst … T__T

Language : Indonesian

WARNING : YAOI, BOY X BOY, SHOUNEN AI

DO NOT READ IF YOU'RE YAOI HATER OR ANTI FUJOSHI !!!

Disclaimer : Yuuya Do Not Own Naruto… Huh! *Pouts*

A/N : Gomen kelamaan Update-nya…

Dozo…


Jangan Menangis, Sasuke…

Sampai Kapan pun Kita Tetap Berteman

Walau Secara Fisik Kita Terpisah

Hatiku Tetap Bersamamu

Selalu…

Berada Disisimu (*)

(NARUTO'S POV)



Yuuya's Present

Ore mo Aitsu mo Omae mo

( He and I and You )



-

-

-

"Aku pergi, Baachan."

Tsunade hanya mengerutkan keningnya. Memandang sebentar ke arah pemuda berambut Blonde yang kini berdiri dihadapannya dengan tatapan heran, namun tak lama kemudian kembali menekuni pekerjaannya. Mengabaikan kata-kata Naruto barusan.

"Aku akan pergi dari sini," tegas Naruto lagi.

"Apa maksudmu, Gaki?" tanya Tsunade-sama tanpa mengalihkan perhatiannya dari lembaran laporan yang masih tampak menumpuk di mejanya.

"Aku akan pergi dari desa ini."

"Bercandamu itu tidak lucu. Laporanmu sudah kuterima, sekarang keluarlah dari kantorku! Aku sibuk!" usir Tsunade-sama.

"Malam ini juga aku akan meninggalkan Konoha." ujar Naruto. Kali ini berhasil membuat Tsunade-sama menghentikan pekerjaannya.

"…"

Godaime menatap lekat-lekat bola mata biru milik cucu kesayangannya ini. Terkadang dia merasa takut sendiri, ketika pijar keyakinan serta keinginan teguh telah muncul di mata indah itu. Sebab tak satupun yang bisa mengubahnya. Dia akan terus melangkah di jalan yang telah dia pilih. Tak ada seorang pun yang dapat menghentikannya. Tak seorangpun.

"Aku mohon ijinkan aku pergi Baachan, Sasuke sudah kembali, Akatsuki sudah tak ada lagi, karena itu biarkan aku pergi." ucap Naruto berusaha menyakinkan Tsunade-sama.

"Ka-Kau serius?"

Kali ini mata Tsunade-sama melebar. Dia berharap ini cuma salah satu lelucon Naruto, yang tak lama kemudian akan berkata 'Kena Kau, Baachan!' atau 'Hehehe! Kau tertipu', lalu memberikan cengiran rubah khasnya dan Tsunade akan mendepaknya dari Hokage Office agar tak lagi mengganggu pekerjaannya.

Namun kali ini, Naruto hanya mengangguk pelan. Wajahnya menunduk, namun Tsunade-sama tahu, ada sendu di mata biru itu.

"Ta-tapi kenapa? Apa alasanmu, Naruto? Ke-Kenapa? Kenapa?!"

Hampir saja meja Hokage tinggal puing ketika Tsunade-sama tiba-tiba berdiri dan menggebraknya keras. Namun itu tak sedikitpun membuat Naruto gentar.

"Aku tahu semuanya Baachan." kata Naruto sembari tersenyum pahit.

"A-Apa?"

"Aku tak sengaja mendengarnya"

Tsunade-sama kembali mengerutkan keningnya, belum memahami kemana arah pembicaraan Naruto.

"Karena itu biarkan aku pergi, Baachan…"

-

-

-

FLASHBACK

"Apa maksudnya Naruto tidak bisa menjadi Hokage?!!"

Gebrakan di meja itu cukup untuk membuat para Tetua yang tengah menemui Godaime, melonjak kaget.

"Tsunade!" bentak salah satu Tetua sambil mendelikkan matanya ke arah Tsunade-sama.

"Tidak! Tunggu aku sampai selesai bicara, aku tak bisa menerima alasan konyol itu."

"Kau tahu sendiri Tsunade, Naruto hanya seorang Bijuu, kami tak yakin bocah seperti dia bisa memimpin desa ini."

"Apa maksudnya dia hanya seorang Bijuu? Apa kalian tak tahu Bijuu itulah yang telah menyelamatkan nyawa kalian, membawa pulang pengkhianat itu dan menghadapi Pein sendiri, kau tahu apa akibatnya kalau dia sampai jatuh ketangan para Akatsuki keparat itu, dia bisa mati dan kita juga pasti mati, tapi Naruto… Naruto yang menyelamatkan kita, tiga bulan dia koma karena pertempuran itu, tiga bulan aku bersusah payah membuat dia membuka matanya, semua yang dia lakukan apa belum cukup? Perlu pengorbanan apalagi agar dia bisa menjadi Hokage, Hah?!" kali ini Tsunade-sama benar-benar sudah naik pitam, tak peduli kalau sekarang yang dihadapinya adalah para Tetua yang wajib dihormatinya.

"Kau sudah selesai Tsunade?" ujar salah seorang Tetua dengan nada sinis.

"Cih!"

"Hokage memang harus orang yang kuat, tapi tak hanya itu saja. Hokage juga harus bisa di terima oleh warga, apa kau tak ingat kalau warga tak menyukainya? Tak mungkin mereka setuju kalau Naruto menjadi Hokage dan hal itu bisa menjadi bumerang bagi kita. Bagaimana kalau rakyat melakukan pemberontakan? Apa arti pemerintahan tanpa rakyat yang mendukung kita?!"

"Cih, warga bodoh! Entah apa yang membutakan mata mereka."

"Tsunade, kami sangat menghargai apa yang telah Naruto lakukan, dia bisa menjadi kapten ANBU tertinggi, tapi untuk menjadi Hokage…"

"Aku yang akan bicara pada warga."

"Percuma Tsunade, walaupun kau seorang Hokage sekalipun, warga telah menentukan sikap mereka."

"Lalu siapa yang akan menduduki posisi sebagai hokage, tak ada yang pantas selain Naruto kan?"

"Ada, Uchiha Sasuke atau Haruno Sakura, mereka berdua pantas untuk menduduki posisi itu…"

"A-apa, kau…"

"Dengar Tsunade, walaupun Uchiha Sasuke pernah berkhianat pada kita, namun dia telah berhasil membunuh Orochimaru, Itachi, Madara, bahkan musuh dalam selimut seperti Danzou. Karena Jasa nya pada Konoha itu, dia bisa kita anggap sebagai pahlawan."

"Jasa? Jasa katamu? Lalu yang Naruto lakukan selama ini kau anggap apa sebagai apa? Bocah Uchiha itu tak ada apa-apanya di bandingkan dengan Naruto…"

"Lalu Haruno sakura, selama ini dia selalu berlatih di bawah bimbinganmu, dan kurasa dia sudah banyak belajar darimu kan? Karena itu dia juga bisa di anggap calon Hokage."

"Cih, aku tetap tak bisa menerimanya, aku telah berjanji untuk menjadikan Naruto sebagai penerusku."

"Tsunade, bagaimana bisa kau mendahulukan kepentingan pribadi daripada desa ini…"

"Bukan aku yang egois, tapi kalianlah yang egois."

"Tsunade! Kami telah memutuskan, seluruh desa ini telah memutuskan, kami tak akan penah menerima Naruto sebagai Hokage. Begitulah keputusannya atau kami akan terus memberontak. Titik."

"Sial!"

END FLASHBACK

-

-

-

Mata Tsunade-sama semakin melebar ketika mendengar penjelasan Naruto. Dia tak menyangka pembicaraannya dengan para Tetua egois itu sampai ketelinga Naruto.

Dia tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati pemuda itu ketika keinginannya tak mungkin terwujud. Setelah apa yang telah Naruto lakukan selama ini, setelah cucuran keringat dan darah membasahinya untuk Konoha. Sekarang, cita-cita tertingginya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain itu tak akan pernah dia dapatkan.

"Mereka itu bodoh, kau bisa tetap di sini dan… "

"Aku mohon Tsunade-sama."

"Na-Naruto?"

Tsunade-sama tampak terkejut, dia mendekati pemuda kebanggaannya itu dan memegang kedua lengannya, mengguncangnya pelan.

"Kau… Kau tak pernah memanggilku Tsunade-sama sebelumnya, kenapa sekarang…"

"Untuk terakhir kali nya, aku mohon kepadamu Tsunade-sama, ijinkan aku meninggalkan desa ini. Aku tak akan melupakanmu, desa ini dan orang-orang yang ku sayangi. Walaupun nanti aku mati di luar sana, aku tak akan pernah melupakan kalian."

"Naruto…"

Tsunade-sama melepaskan genggamannya di kedua lengan Naruto.

"Aku tak bisa tetap di sini, Baachan!"

Hening sebentar. Mereka hanya saling bertatapan. Pada akhirnya Tsunade-sama hanya bisa menghela nafas panjang.

"Wakatta… Pergilah! Tapi berjanjilah kau akan kembali lagi. Tak peduli seberapa lama waktu berlalu, kau harus kembali ke desa ini." ujar Tsunade-sama.

Walaupun dengan berat hati pada akhirnya dia tak bisa menghentikan keinginan Naruto.

"Arigato, Baachan… "

Naruto memberikan cengiran rubahnya. Tsunade-sama hanya tersenyum simpul.

"Ne~ Baachan,"

"Hmmm?"

"Tolong jangan biarkan siapapun mencariku… apalagi Sasuke." pinta Naruto.

Tsunade-sama menatap mata biru itu dalam-dalam. Dia tahu ada sebersit kesedihan disana saat nama Sasuke meluncur dari lidahnya.

"Wakatta." Kata Tsunade-sama singkat membuat pemuda pirang itu menarik nafas lega. Naruto memeluk Tsunade-sama erat.

"Aku akan merindukanmu, Baachan!"

"Ck, Gaki! Ki o tsukete ne~"

"Un, mochiron dattebayo!"

Tsunade-sama tersenyum lembut sembari mengusap rambut pirang Naruto. Dia juga akan merindukan bocah pirang satu ini, suaranya yang nyaring bahkan kejahilan-kejahilan yang selalu dilakukannya.

Naruto melepaskan pelukannya. Dia tersenyum lembut sebelum melangkah keluar.

"Sayonara, Baachan!" ucap Naruto pelan sembari menutup pintu Hokage Office.

Tsunade-sama hanya memandang sendu punggung pemuda itu, kemudian tersungkur lemas di kursinya saat melihant Naruto menghilang di balik pintu. Mata tuanya berair. Saat ini dia benar-benar berharap kakeknya Sandaime dan sahabatnya Jiraiya masih hidup. Berada disampingnya dan membantunya melewati semua ini.

-

-

-


"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu, Naruto?"

"Ka-Kakashi-sensei?!"

Naruto tak dapat menyembunyikan raut keterkejutannya saat melihat mantan senseinya berdiri tepat di sampingnya.

Pria setengah baya itu menyandarkan tubuhnya di sebuah tembok, kedua tangannya di seilangkan. Sebelah matanya yang tak tertutup masker memandang Naruto tajam.

Naruto terpaksa menelan ludahnya. Dia sebenarnya tak mau berurusan dengan mantan senseinya ini pada saat keputusannya sudah bulat untuk pergi dari Konoha.

"Do-doushita no Kakashi-sensei?!" malam-malam begini kau masih ada di sini?"

"Hmmm… aku baru pulang dari misi dan hendak melapor ke Hokage-sama. Tak kusangka kau akan mendengarkan pembicaraan kalian. Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu itu, Naruto?" tanya Kakashi sekali lagi.

"Duh! Selain mengintip, ternyata kau juga tukang nguping ya, Sensei?" ujar Naruto terkikih pelan sembari menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal sama sekali.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Naruto!" seru Kakashi sedikit keras

Naruto berhenti tertawa namun tak bergeming sedikitpun ketika Kakashi memandangnya tajam dengan sebelah matanya yang tak tertutup masker.

"Apa kau tahu yang kau lakukan ? Apa kau sadar siapa yang kau tinggalkan?" desak Kakashi.

"Jaga mereka untukku Sensei. Jangan biarkan mereka mencariku. Ikat mereka kalau perlu agar mereka tak berusaha kabur menyusulku." ucap Naruto Serius.

Mata Kakashi sedikit melebar ketika mendengar nada suara Naruto yang tak seperti biasanya.

"Dulu, aku tak mengikatmu saat kau nekad mencari Sasuke." kata Kakashi.

"Kali ini kau harus mengikat mereka, Sensei! Aku tak pergi untuk mencari kekuatan ataupun berusaha menghancurkan Konoha, Sensei! Aku harus pergi dari desa ini , aku tak ingin ditemukan dan dipaksa kembali. Ini keputusanku. Mengertikan, Sensei?!" jelas Naruto panjang lebar.

Ada getar kesedihan yang ditangkap Kakashi dari nada suara Naruto. Mata biru itupun nampak begitu sendu, menatap Kakashi dalam-dalam. Seakan meminta untuk dipahami, untuk dimengerti.

Kakashi-sensei masih terus memandang tajam mantan muridnya itu. Dulu dia tak berhasil membujuk Sasuke untuk tak pergi meninggalkan desa. Dan sepertinya sekarang dia pun akan gagal membujuk Naruto untuk tak pergi dari Konoha.

Ya ampun, bahkan Kakashi juga tak bisa membujuk Naruto yang mati-matian berusaha mendapatkan Sasuke meskipun nyawa taruhannya.

Keinginan kuat pemuda pirang itu seperti 'Ayahnya'. Sulit untuk dipatahkan, tak mudah untuk dihapuskan. Pada akhirnya Kakashi hanya bisa merelakannya.

"Pergilah kalau memang itu yang terbaik bagimu, berjanjilah untuk kembali. Tapi, aku tak yakin bisa kuat untuk mengikat Sasuke ataupun Iruka untuk tidak kabur mencarimu." ucap Kakashi pasrah.

Seringai nakal menghiasi wajah Tan milik Naruto.

"Heheheh… aku yakin kau akan menikmati saat-saat untuk bisa mengikat Iruka-sensei, Iya kan Kakashi?!"

"Wha-?! Waaaaaa??!!!"

Mata sebelah Ninja pengcopy itu terbelalak seketika. Walaupun tertutup masker , Naruto tahu wajah Senseinya itu kini memerah sempurna.

Naruto tertawa pelan. Dia lalu mendekati Kakashi-sensei, menarik tubuh pria dewasa itu kepelukannya.

"Jaga Sasuke, Sensei. Dia masih membutuhkanmu, dia masih membutuhkan teman untuk mengobati lukanya. Aku ingin dia bisa merasakan kembali hangatnya teman dan keluarga. Aku ingin Sasuke bahagia." pinta Naruto.

Kali ini Kakashi benar-benar dibuatnya terkejut. Bukannya dia tak tahu kalau Naruto selalu menganggap Sasuke sebagai sahabat ataupun saudaranya. Namun anggaplah selama ini dia tak peka, dia sungguh tak menyangka perasaan Naruto terhadap Sasuke lebih dalam dari apa yang selama ini dia bayangkan.

Kakashi hanya mengangguk, menepuk pelan punggung pemuda bermata biru itu.

"Arigato, Kakashi-sensei… Sayonara."

Seketika itu juga tubuh Naruto menghilang. Tergantikan oleh gumpalan asap putih yang menghalangi pandangan. Kakashi hanya bisa menghela nafas. Menatap nanar ke arah udara kosong di tempat dimana Naruto terakhir terlihat.

-

-

-


NARUTO POV

Sepi

Hanya suara alam dan nyanyian binatang saja yang terdengar di malam ini. Mungkin orang-orang sudah terlelap tidur. Berselimutkan kehangatan bersama keluarga mereka.

Tak banyak yang aku bawa dari apartemen bobrokku karena pada dasarnya aku tak memiliki apa-apa. Pada akhirnya langkah kakiku malah membawaku ke tepian danau ini.

Aku tersenyum pahit, teringat kembali memoar masa kecil dulu.

Hari itu, dimana untuk pertama kalinya aku bertemu denganmu. Melihat dengan jelas kesedihan di mata hitam milikmu.

Andai saat itu aku menyapamu. Andai saat itu aku tersenyum dan mengulurkan tanganku. Mungkin saja sekarang ini aku akan menjadi sahabat baikmu.

Namun aku hanya berpaling saat kedua mata kita bertemu. Cemberut kesal karena aku ketangkap basah tengah memperhatikan dirimu.

Kemudian aku berjalan meninggalkanmu sendiri. Meski di dalam hati aku sempat tersenyum geli.

Gemericik air danau yang terdengar lembut membawaku kembali kedalam realita. Kututup mataku, mencoba merasakan hembusan angin yang terus menerpa wajahku.

Angin yang akan kutinggalkan.

Seketika itu, aku kembali mengutuki kebodohanku. Bagaimana bisa aku tak merasakan kehadiran cakra di dekatku. Terlebih lagi saat sepasang lengan menarikku dari belakang, membuatku bersandar pada sebuah dada yang bidang. Tenggelam dalam sebuah kehangatan yang enggan kulepaskan.

"Jangan pergi, Dobe!"

Mata biruku melebar. Rasanya tanpa menolehpun aku hapal benar pemilik suara dan ejekan itu.

"Sasuke?!"

END NARUTO POV

-

-

-

Sasuke terus memeluk Naruto. Menyandarkan kepalanya di punggung 'Rivalnya' yang sedikit lebih tinggi darinya, mencoba menyamankan posisi mereka sekarang.

"Kau memang benar-benar Dobe, Dobe!"

Naruto tak menyahut

"Jadi belakangan ini kau bersikap aneh karena ini? Karena kau ingin pergi meninggalkan kami hanya karena para Tetua brengsek itu, hah?!" tanya Sasuke sedikit membentak.

Hembusan nafasnya yang cepat sedikit mengelitik leher Naruto.

"Apa yang kau lakukan disini, Teme? Dimana Neji?"

Sasuke tak menanggapi pertanyaan Naruto.

"Seharusnya dia mengawasimu kan? Pulang dan istirahatlah, Neji pasti mengkhawatirkanmu. Lukamu belum sembuh benar kan?"

Kali ini Sasuke benar-benar kesal. Dia melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Naruto hingga kini mereka saling berhadapan.

"Jangan mengalihkan pembicaraan! Katakan padaku kenapa kau pergi?! Kau bisa tetap disini, bodoh! Kenapa kau tak memperjuangkan keinginanmu menjadi Hokage? Mana Naruto yang tak kenal menyerah itu? mana Naruto yang selalu bersemangat itu?!" bentak Sasuke, kali ini lebih keras.

'Mana Naruto ku?' tambahnya dalam hati.

Mata hitam itu terus menatap tajam mata biru milik Naruto.

"Aku harus pergi."

Sasuke sedikit terperanjat ketika menemukan bola mata biru itu balas menatapnya dingin.

"Terimalah posisi Hokage itu, Sasuke…" ujar Naruto lagi.

Membuat wajah Sasuke semakin terkejut.

"A-apa?"

Sasuke benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dikatakan Naruto barusan. Membuatnya hampir kehilangan kata seperti si gadis Hyuuga.

"Aku akan bangga saat kau berdiri dan memimpin Konoha,"

"Itu mimpimu… bukan mimpiku, Dobe!"

"Aku tak mungkin menjadi Hokage, Teme~"

"Omong kosong!" seru Sasuke yang semakin geram ketika kesabarannya seperti diuji.

"Aku belum pernah memohon sebelumnya, karena itu untuk kali ini saja… jadikan mimpiku menjadi mimpimu,"

Naruto hanya tersenyum kecil melihat keadaan mereka sekarang. Dia tahu benar, bahwa baik dirinya maupun Sasuke sama-sama keras kepala.

"Naru…"

"Ck, Daijobu yo~ Aku pasti kembali ke Konoha… tapi jika aku tak pulang…"
"Kenapa kau bilang pulang? Kau sudah ada di rumah,"

"Jika aku tak kembali, jika aku tak ada… Yakinlah Aku akan selalu bersamamu, menemanimu seperti angin yang selalu berhembus itu." ucap Naruto meyakinkannya.

"Kau tak akan pergi! Takkan kubiarkan kau pergi!" seru Sasuke tak mau kalah.

"Heheheh…"

Tiba-tiba tubuh Naruto menghilang dari hadapannya. Seketika itu juga Sasuke merasakan kehadiran Cakra tepat dibelakang tubuhnya.

Seperti Déjà vu. Sasuke ingat benar kejadian ini. Posisi yang sama ketika dia meninggalkan Sakura saat hendak pergi dari Konoha.

"Jangan menangis, Sasuke…"

"Sampai kapan pun kita tetap berteman, walau secara fisik kita terpisah. Hatiku tetap bersamamu, selalu…berada disisimu."

Belum sempat Sasuke menoleh dan banyak berkata, sebuah pukulan keras mendarat ditengkuknya. Membuat pandangannya sedikit kabur dan tubuhnya terasa begitu berat.

Rasanya disaat seperti ini, semua ilmu Shinobi miliknya terasa sia-sia.

Sebelum tersungkur, dengan cepat tubuh Sasuke ditangkap oleh Naruto. Dipeluk erat kedalam dekapannya. Sebuah kecupan lembut mendarat di dahi Sasuke yang sedikit tertutup poni rambutnya. Dan sebelum kegelapan menyelimuti Sasuke sepenuhnya, samar bisikan lembut Naruto masih sempat didengarnya.

"Aishiteru… Sasuke…"

-

-

-


"…ke… suke… Sasuke!"

Guncangan itu semakin keras dirasakannya. Bahkan panggilan itupun semakin menggelitik pendengarannya saja.

Ketika kelopak matanya perlahan terbuka, bukan warna langit yang biasanya selalu menatapnya dengan khawatir. Namun kali ini bola mata lavender milik salah satu keturunan Hyuuga lah yang nampak begitu cemas memandangnya.

"Kemana saja kau semalaman? Apa yang terjadi? Kenapa kau tertidur di tempat seperti ini?" tanya Neji yang masih terlihat panik.

Sasuke bangkit dan duduk di samping Neji. Perlahan mengamati sekelilingnya. Dia hanya mendapati rerimbunan pohon dan riak air yang luas di depannya.

Mata hitam pemuda Raven itu membulat seketika ketika otaknya mulai memproses runtutan peristiwa yang terjadi semalam.

Percakapan Naruto dan Kakashi yang sebagian didengarnya. Naruto yang tersenyum dan meminta permintaan yang konyol dari dirinya. Naruto yang memeluknya, bahkan bisikan lembut Naruto ditelinganya saat mengatakan kata-kata itu.

"Aishiteru… Sasuke…"

Hanya itu yang terakhir didengar Sasuke sebelum kegelapan membuatnya tak sadarkan diri. Naruto telah menjauh darinya. Pergi… meninggalkan sebuah kalung yang kini dikepal erat digenggamannya. Kalung milik Hokage pertama yang Tsunade-sama berikan pada Naruto.

Sasuke hanya memandang sendu kalung itu, kalung yang menjadi simbol penerus Hokage selanjutnya. Kini ada ditangannya.

"Terimalah posisi Hokage itu, Sasuke… Aku akan bangga saat kau berdiri dan memimpin Konoha,"

Ucapan Naruto masih terngiang dengan jelas di benaknya.

Mata hitam itu tampak berkaca-kaca.

"Baka… Baka… Baka… " bisik Sasuke lirih.

Neji hanya terdiam memandang pemuda yang belakangan begitu dekat dengannya itu. Entah kenapa saat ini dia merasa tak dapat berbuat apa-apa untuk Sasuke. Dia sedikit terkejut ketika melihat Kalung Hokage yang selalu melingkar manis di leher Naruto kini berada ditangan Sasuke. Walaupun tak memperoleh jawaban yang jelas namun Neji tahu ada sesuatu yang terjadi antara Sasuke dan Naruto. Terlebih lagi ketika getar sesenggukan mulai terdengar pelan dari keturunan terakhir Uchiha itu. Hal yang sangat jarang dia lihat dari Sasuke semenjak Neji mengenalnya lebih dekat.

-

-

-

Hari itu kabar kepergian Naruto dari Konoha mengejutkan semua orang. Para Tetua hendak mengumumkan status Naruto sebagai Missing Nin, namun Tsunade-sama tak dapat lagi membendung keinginannya untuk tidak mengentak mereka, kali ini dia tak ragu untuk menumpahkan emosinya pada para Tetua yang menyebalkan itu. Dengan bercakak pinggang ditatapnya wajah para Tetua dengan pandangan sinis dan tajam. Tsunade-sama menyatakan bahwa saat ini Naruto sedang menjalankan Misi Jangka Panjang dan statusnya masih menjadi Konoha Shinobi. Keputusannya sudah menjadi harga mati dan tak dapat diganggu gugat. Para Tetua pun tak dapat berkutik lagi.

Sakura tampak lemas. Hanya isak kecil yang mulai terdengar darinya. Sesekali Sakura tampak sibuk mengusap air matanya itu. Ini kali kedua dia kehilangan rekan se teamnya. Dan dia sama sekali tak memiliki petunjuk kemana Naruto pergi.

Sai berusaha menenangkannya. Kali ini pemuda pucat itu tak memperlihatkan senyum palsunya. Dia hanya bisa terdiam.

Rokie nine yang lain juga tampak terkejut mendengar berita ini. Hinata menangis, Kiba tampak muram bahkan Lee yang biasanya Hiperaktif pun tampak lesu. 'Bola Energi' itu telah hilang dari Konoha. Mungkin kepergian Naruto tak berpengaruh apa-apa pada kehidupan mereka sehari-hari. Mereka akan tetap menjalankan kehidupan mereka seperti biasa. Bangun pagi, berlatih, menjalankan misi… tak ada yang berubah. Namun mereka tahu, semua tak akan sama lagi.

Shikamaru hanya menggumam 'Mendokusei' ketika dia dan Neji dibebani tugas untuk menjaga Sasuke yang mencoba kabur mencari Naruto.

Tsunade-sama berteriak kesal dan memerintahkan Kakashi untuk mengikatnya. Tak ingin masalah bertambah kacau ketika keturunan terakhir Uchiha itu berniat kabur dari Konoha untuk membawa Naruto pulang.

Kakashi benar-benar mengikat Sasuke seperti janjinya pada Naruto. Sedikitnya dia sudah yakin kalau bakal begini kejadiannya. Namun dia tak menyangka kalau Iruka-sensei, mantan guru Naruto itu malah tampak tenang dan tak menunjukan tanda-tanda untuk lari dan menyusul Naruto. Semula Iruka-sensei memang terkejut ketika mendengar berita kepergian Naruto dari Konoha, namun dia hanya mengangguk pelan dan kemudian terdiam. Roman kesedihan tampak tergambar jelas di wajahnya yang dihiasi luka. Namun dia tak berkata apa-apa. Hanya terpaku memandang langit biru dari jendela besar itu.

Disebelah Iruka-sensei, Sasuke tampak terikat disebuah kursi tua.

Kakashi sendiri tak tahu harus memberi penjelasan seperti apa pada mantan muridnya itu.

"Naruto ingin kau bahagia, Sasuke…" ucap Kakashi-sensei tiba-tiba.

Mengejutkan Neji, Shikamaru dan Iruka. Saat ini hanya mereka saja yang tertinggal di ruangan itu.

"Kabulkan keinginannya dan tunggulah dia kembali…" ujarnya lagi.

Sasuke tak menyahut, dia mengalihkan pandangannya, perhatiannya kini tertuju pada langit biru yang tampak dari jendela besar itu.

Kakashi menghela nafas pelan, dia menarik tangan Iruka serta memberi tanda pada Neji dan Shikamaru untuk mengikutinya keluar ruangan itu. Kakashi yakin Sasuke tak bisa melepaskan ikatan itu dan berbuat bodoh lagi.

Mereka meninggalkan Sasuke sendiri di ruangan besar itu. namun Neji tak bergeming juga. Dia masih terdiam terpaku memandangi punggung pemuda Raven itu.

Tangan Neji terulur hendak menyentuh bahu Sasuke, ingin mencoba memberi sedikit rasa simpati pada pemuda yang diam-diam dicintainya, namun pada akhirnya di urungkannya juga.

Lama. Masih tak ada suara…

Sasuke belum berubah dari duduknya. Tak bergerak sedikit pun semenjak tadi. Hanya memandangi langit biru diluar sana. Namun Neji tahu… sesekali, Sasuke memejamkan matanya dan memaksa bulir bening turun dari sudut matanya.

Tak perlu Byakugan untuk mengetahui bagaimana perasaan Sasuke sekarang.

"Aku menyayanginya, Neji…"

Dan Neji pun mengerti. Dia hanya mengangguk dalam diamnya. Dia paham, dia mengerti. Dan perlahan, tanpa kata-kata, Neji pergi meninggalkan Sasuke berdua dengan langit yang dicintainya.

-

-

-

SASUKE POV

Aku hanya terdiam memandangi langit biru itu. Langit yang selalu mengingatkanku pada warna bola matanya.

Entah kapan aku bisa melihatnya lagi.

"Naruto ingin kau bahagia, Sasuke… Kabulkan keinginannya dan tunggulah dia kembali…" kata Kakashi sebelum dia pergi dan membiarkan aku terikat di kursi sial ini.

Ingin rasanya aku pergi dan menyusul Naruto. Mematahkan kakinya dan menariknya dengan paksa kembali ke Konoha seperti yang dulu pernah dia ucapkan padaku.

Namun Kakashi jelek itu malah mengikatku dengan Cakranya. Bahkan dia meminta Shikamaru dan Neji untuk kembali mengawasiku.

Neji…

Ya, aku tahu pemuda itu belum beranjak juga dari ruangan ini. Dan kini hanya keheningan yang menyelimuti kami.

Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku katakan padanya, banyak hal yang ingin aku ungkapkan padanya.

"Aku menyayanginya, Neji…"

Pada akhirnya hanya itu saja yang bisa aku jelaskan padanya.

Neji tak menjawab dan aku pun tak menoleh untuk melihat seperti apa ekspresi wajahnya.

Aku memang bodoh. Telah menyakitinya juga menyakiti Naruto. Mungkin memang lebih baik kalau aku hidup sendiri dan tak menjadi beban untuk siapapun.

Perlahan kudengar langkahnya yang menjauhiku dan derit pintu yang tertutup.

Kali ini aku benar-benar sendirian di ruangan ini.

Aku tahu, aku harus meminta maaf pada Neji nanti.

Tiupan angin lembut menerpa wajahku. Memberikan kesejukan disetiap hembusannya.

"Jika aku tak kembali, Jika aku tak ada… Yakinlah Aku akan selalu bersamamu, menemanimu seperti angin yang selalu berhembus itu,"

Aku tersenyum kecil mengingat kata-katanya itu. Ku pejamkan mataku, menikmati keberadaannya di sisiku.

Aku akan menunggumu

Seberapa lama waktu berlalu

Aku tak akan melupakanmu.

-

-

-

OWARI

-

-

-



Memories Always Appear Beautiful To Everyone
But We Know The Truth, That's Not All
Please Don't Forget…

*He and I and you


Puuuaaaaaaahhh… akhirnya tamat juga *Ngelap keringat*

Gomen kalo endingnya sedikit mengecewakan, hehehehe XDD

Tapi memang seperti itulah adanya *ditendang*

Sasu sepertinya sedang konflik batin ya?

Apakah bener Sasu bakal menungguin Naru balik?

Mungkin jawabannya ada di Fic yang lain kali ya… Ahahahaha *Geplaked*

Yang jelas Ore mo Aitsu mo Omae mo sudah TAMAT

Sankyuu buat yang sudah Review, kalaupun Saya tak membalas review nya, Saya tetap memperhatikan Saran kalian.

Domo Arigato Minna-san ^^

At Last… READ & REVIEW !!! PLEASE !!!


NOTES :

Gaki : Brat, Bocah ??? O.o

Wakatta : Aku mengerti

Ki o tsukete ne~ : Hati-hati ya

Mochiron : Tentu saja

Baachan : Nenek

(*) Kalimat ini Yuuya dapet dari Manga bergenre Sho-ai, J-Boy Vol.8. It's a Sweet Manga ^^