Disclaimer: [Put your favourite disclaimer here]
A/N: Terima kasih banyak buat yang udah memberikan review di chapter sebelumnya. maaf kalo saya belum sempet bales satu-satu, tapi saya usahakan untuk yang kedepannya akan saya balas. Minna-san, hontou ni arigatou. :))
+ Fall For You +
Chapter I: Daughter of the Deceased
Sakura terlonjak bangun dari tidurnya, bagaikan orang yang disiram oleh seember air es. Napasnya tersengal-sengal dan keringat dingin mengalir menuruni dahi dan pelipisnya. Tangan gadis itu terjulur, meraba-raba dalam kegelapan. Mencoba mencari telepon seluler yang ia biasa letakkan di meja kecil samping tempat tidur.
Ketika jemarinya menyentuh benda mungil yang familier itu, sang gadis muda menekan tombol, menyalakan alat telekomunikasi tersebut. Empat angka merah berpijar pada sudut layar, memandang balik ke arah Sakura di tengah gelapnya malam. Sang gadis menghela napas dengan lelah. Ini sudah kesekian kalinya ia terbangun tepat pada pukul 02.00 dinihari. Terbangun akibat mimpi buruk dari masa kecil yang tidak pernah sanggup ia lupakan.
Sakura turun dari tempat tidur dan berjalan gontai ke dapur untuk segelas air dingin. Setelah menegak habis airnya, ia mengisi kembali gelas itu hingga penuh dan melangkah menuju ruang tamu dengan dinding-dinding kaca. Tirai putih—yang senada dengan karpet bulu di lantai ruangan itu—penyelubung dinding itu disibak, menampakkan pemandangan kota tengah malam di lihat dari ketinggian gedung tempat tinggal Sakura.
Gadis itu bersandar pada dinding kaca tersebut. Ia kembali menyesap seteguk air dingin dari gelasnya sembari memandangi lampu-lampu yang berpendar di jalan raya. Cahaya dari mobil-mobil dan gedung-gedung yang tampak begitu sibuk.
Pikirannya melayang jauh ke waktu saat ia masih kecil. Bahagia dan gembira di pangkuan ayah dan ibu tersayang. Tanpa ia sadari, sudut bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman samar. Senyuman yang sarat akan kesedihan.
Sakura Haruno, gadis kecil yang polos dan lugu itu, kini telah bertumbuh dewasa. Menjelma menjadi seorang wanita muda yang cantik, namun tampak memendam duka. Ketika usianya mencapai 21 tahun, ia telah lulus secara cum laude dari jurusan bisnis universitas ternama di Negara Mizu. Dari sana ia segera pulang ke Negara Hi, tepatnya Kota Konoha, untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan Haruno & Co. dari ibunya. Selama 2 tahun terakhir ini, ia beserta para petinggi perusahaan yang tetap setia bekerja di Haruno & Co. membanting tulang membesarkan kembali nama perusahaan yang dulu dibangun dari nol oleh sang ayah. Perusahaan yang sempat tenggelam sejak berpulangnya Tuan Kiyoshi Haruno ke alam baka.
Dua tahun penuh, Sakura bekerja tanpa lelah mengukuhkan kembali tembok-tembok perusahaan tersebut. Menguras otak hingga larut malam, bahkan bukan hanya terkadang ia tetap terjaga sepanjang malam hingga pagi menjelang. Bukannya gila kerja atau hendak meraup kekayaan semaksimal mungkin, namun memang keadaan perusahaan telah banyak menurun setelah lebih dari 15 tahun kehilangan sosok pemimpin yang andal.
Nyonya Ayumi Haruno, meskipun cukup andal untuk mencegah kebangkrutan Haruno & Co., tidak cukup terampil untuk membut perusahaan tersebut bertahan sebagai 10 perusahaan terbesar di Konoha. Untunglah seiring dengan tiap tetes peluh yang mengucur dari dahi Sakura, perlahan namun pasti, Haruno & Co. kembali merayap naik ke atas, ke tempatnya dulu berada. Salah satu perusahaan yang cukup bergengsi di Kota Konoha ini.
Tangan Sakura menggapai ke meja kopi bundar berwarna cokelat tua, dekat tempat ia berdiri bersandar. Diraihnya sebuah bingkai kayu berisi foto keluarganya. Dalam foto itu, ia melihat dirinya sendiri ketika berusia 5 tahun, duduk di bahu sang ayah yang lebar, sedangkan ibunya berdiri rapat di samping mereka dengan sebelah lengan melingkar merangkul putri kecilnya yang tampak sangat bahagia itu. Kembali seulas senyum tipis merekah di bibirnya.
"Aku kangen sekali lho, Ayah."
Perlahan, tubuh sakura yang bersandar pada dinding kaca itu merosot turun ke lantai. Bahu rapuh Sakura yang kurus bergetar dalam kepedihan. Bingkai foto dari kayu rapat terbungkus oleh dekapan sepasang lengan yang basah terkena curahan air mata. Isak tangis tertahan bergaung di tengah keheningan yang pekat dalam tempat tinggal sang gadis muda.
Dengan marah dan gusar, Sakura menyeka air matanya. Kedua alisnya bertaut dan sudut bibirnya berdarah karena ia gigit untuk menahan tangis.
"Sudah bukan umurku buat cengeng-cengengan begini." tawa pahit menyelinap keluar dari sepasang bibir tipis kemerahan. "Sudah lewat masa untuk nangis-nangis seperti anak manja."
Tangan beserta jemari yang basah oleh air mata kembali mendekap bingkai foto kuat-kuat. Seakan-akan dengan mendekatkan gambar tangkapan kamera tersebut ke jantungnya akan membuatnya merasakan kembali kehadiran dan kehangatan sang ayah tersayang.
"Ayah," bisik Sakura tertahan. Dikatupkannya kedua tangan erat, seakan tengah berdoa, untuk menghentikan gemetarannya. "Berikan hatiku kekuatan…"
Isakan gadis itu terhenti. Tubuhnya yang tenang tak lagi berguncang, meski masih dalam posisi duduk meringkuk di lantai. Kepala bermahkotakan rambut merah muda sepunggung itu ditegakkan, wajah yang tertunduk telah diangkat. Bibir mungil terkatup rapat, dan sepasang mata hijau bening mengeras bagai es. Penuh dengan determinasi dan kekerasan hati yang mantap.
"Sebentar lagi… "
"Aku akan membalaskan dendammu."
Namanya Gaara Sabaku, dan ia adalah personifikasi dari kesempurnaan itu sendiri. Dengan rambut merah bata yang ia biarkan tumbuh berantakan, tubuh tinggi dan tegap serta mata sehijau buih lautan—bahkan lingkaran-lingkaran hitam tipis akibat insomnia yang mengelilingi sepasang mata hijau itu menambahkan suatu pesona tersendiri—setiap wanita—dan bahkan beberapa pria—rela menjalani operasi plastik dan bersolek habis-habisan hanya demi dilirik selayang pandang olehnya.
Sebagai putra terakhir dari penguasa Sabaku Multinational Group, ia hidup mewah bergelimang harta benda yang bahkan tidak akan berani untuk sekedar diimpikan oleh mayoritas penduduk Konoha, kota yang tergolong metropol dan glamor.
Lima tahun yang lalu, pada usianya yang ke-20, ia telah lulus dari universitas terbaik di Negara Hi ini. Dan selama lima tahun itu pulalah Gaara duduk di samping singgasana ayahnya. Memerintah kerajaan bisnis mereka dan meraup uang sejumlah tiap helai daun yang jatuh menyentuh tanah pada musim-musim gugur di Konoha.
Secara kasar dapat dikatakan, puluhan juta kaum hawa menyembah untuk diperistri, dan puluhan juta pria berdasi menghamba untuk dijadikan rekan bisnis. Bukan berlebihan apabila dikatakan bahwa Gaara Sabaku menggenggam dunia ini di telapak tangannya.
'Hidup yang sempurna' itu yang selalu diucapkan oleh orang-orang disekitarnya. Dan mendengar frasa itu, hanya membuat seorang Gaara mendengus merendahkan. Betapa orang-orang di sekelilingnya itu adalah orang-orang yang dangkal, yang hanya mampu menilai seseorang dari apa yang terlihat di luar, dan terutama, dari harta yang dimilikinya.
'Mau mati, bangkit, mati lagi, bangkit lagi, dan mati lagi sampai 100 kalipun mereka tidak akan pernah bisa memahami seorang Gaara Sabaku.' Adalah hal yang selalu terbersit di pikiran sang Eksekutif Muda yang termasuk dalam peringkat 5 besar dari 50 Most Eligible Bachelors of the Year versi The Konoha Times 2010 tersebut.
Pria berambut merah dalam balutan Armani serba hitam itu berjalan mondar-mandir bak seekor macan kumbang yang gelisah di dalam ruang kantornya, ditemani kehadiran seorang pria dan wanita yang duduk diam di sofa kulit hitam, tepat di tengah ruangan, dengan wajah-wajah yang tampak ditekuk. Ketiganya sedang larut dalam pikiran mereka masing-masing, walau inti permasalahannya sama saja: ayah mereka baru saja meninggal.
Tuan Kouga Sabaku, Sang Raja dari perusahaan multinasional mereka, semalam telah menghembuskan napas terakhirnya setelah kumat serangan jantungnya yang memang sudah ia derita selama empat tahun terakhir. Tentu saja berita ini tidak langsung mereka publikasi. Hanya keluarga—yang memang hanya terdiri dari mereka bertiga dan Yashamaru. Paman dari pihak almarhum ibu, merangkap orang kepercayaan dan penasihat pribadi bagi Tuan Kouga—dan beberapa orang penting terpercaya di perusahaan. Mereka berniat mempublikasikan secara umum setelah diputuskannya siapa orang berikut yang akan duduk di takhta kepemimpinan Sabaku Group. Hal ini dilakukan demi mencegah terjadinya usaha-usaha licik orang yang berniat menggulingkan Sabaku Group, maupun pihak intern yang mungkin akan berkhianat karena hendak menguasai perusahaan. Merebutnya dari tangan para ahli waris sah Tuan Kouga.
Bukan, ketiga anak-anak Sabaku ini bukan pusing memikirkan cara untuk menjatuhkan satu sama lain demi memperebutkan kursi kepemimpinan. Justru sebaliknya, mereka gundah akan siapa dari mereka bertiga yang rela mengambil posisi tersebut.
Temari Sabaku, sang putri pertama, dengan rambutnya yang pirang sejak lahir, kulit yang tan alami dan wajah eksotis khas Negara asal mereka—Negara Kaze—sedang dalam puncak kariernya sebagai seorang model kalangan atas yang terkemuka. Wajah cantiknya menghiasi halaman demi halaman dari berbagai majalah mode dan fashion terkini, baik yang diperuntukkan bagi gadis remaja tanggung hingga wanita dewasa. Ia tidak tertarik pada bisnis. Baginya, dunia permodelan adalah hidupnya. Bukan uang yang ia kejar—semua orang sangat tahu bahwa kekayaan yang dimiliki Keluarga Sabaku sanggup menghidupi puluhan bahkan ratusan ribu keluarga yang tinggal dan menetap di Konoha—bukan pula status sebagai selebriti—terlahir di Keluarga Sabaku otomatis menjadikanmu terkenal, bahkan semenjak bayi. Temari bermodel untuk menunjukkan bahwa ia bisa mandiri. Ia mampu hidup tanpa menjadi benalu bagi ayahnya, seperti yang seringkali dikatakan oleh masyarakat umum mengenai seorang anak—terutama anak perempuan—dari para pengusaha kaya di dunia.
Kankurou Sabaku, adalah putra pertama yang terpaut empat tahun usianya dari Gaara. Tadinya, ialah yang diharapkan oleh sang ayah untuk menjadi tangan kanan serta penerus perusahaan. Namun, pada kenyataannya, pria berambut coklat ini lebih suka main-main daripada mengikuti aturan ayahnya. Pendidikan Kankurou di universitas tidak tuntas akibat absensi clubbing dan pesta kalangan socialite-nya lebih penuh daripada absensi kuliah. Hari-hari—serta malam-malam—ia lalui dengan berpesta pora. Pengejar sejati kenikmatan hidup, penyembah setia ajaran hedonisme, dengan slogan—atau doa?— andalannya, "Live once, live it." Kankurou bisa dibilang hidup secara nomaden dari satu pesta ke pesta yang lain. Tidur seringkali di hotel mewah tempat berlangsungnya pesta, atau di apartment kepunyaan wanita yang kebetulan saja sedang menjadi teman kencannya saat itu.
Hingga di suatu saat pada usianya yang ke-20, matanya terbuka dan pola pikirnya berbalik 180 derajat. Kankurou menemukan minatnya pada dunia literatur dan sastra. Sedikit jomplang memang, mengingat kebiasaan-kebiasaan serta pola hidupnya di masa remaja yang terbilang kurang intelek. Ia bahkan sempat menjadi bahan guyonan bagi saudara-saudaranya. Tapi toh akhirnya ia berhasil juga. Penghargaan demi penghargaan, mulai dari yang kecil-kecilan pada awalnya, hingga akhirnya termasuk dalam daftar buku best seller didapatkan oleh buku-buku tulisan Kankurou.
Ia juga dengan sukses menghancurkan stereotipe umum bahwa penulis—terutama yang mendapat penghargaan—biasanya kutu buku dan nerd. Orang snob yang hanya mau berbicara kepada sesamanya dalam bahasa Shakespearean. Kankurou tidak mengubah pribadinya. Ia tetap Kankurou Sabaku. Playboy yang suka wanita cantik, suka pesta, cengengesan dan menjalani hidup dengan santai apa adanya. Dengan ritmenya sendiri, tanpa peduli dunia sekitar. Tapi sekarang ia sudah mendapatkan satu lagi ajektif yang tepat untuk menggambarkan kepribadiannya, sophisticated. Ia membuktikan pada dunia, bahwa dibalik eksterior yang tampak cuek dan selalu santai pun, orang bisa memiliki kecerdasan dan pemikiran yang dalam.
Tuan Kouga Sabaku sudah lama menyerah soal putra pertamanya itu. Sejak Kankurou mulai tidak bisa diatur di bangku kelas 2 SMA, sang ayah yang taktis segera membanting kemudi untuk mulai mengendalikan Gaara yang baru masuk SMP. Gaara yang pasif, dengan kepribadian tertutup, yang tadinya tidak pernah diperhatikan oleh sang ayah, mendadak disiapkan utnuk menjadi mata tombak Sabaku Group yang baru menggantikan kakaknya.
Gaara sebenarnya bosan dengan didikan ayahnya, serta melalui hari-hari yang monoton di universitas jurusan bisnis terbaik—pilhan ayahnya juga, tentu saja—dengan perasaan kosong. Namun apa daya, karena sesungguhnya ia tidak benar-benar punya tujuan lain, ia terima saja dikendalikan bagai boneka oleh sang ayah. Kekosongan itupun berlanjut hingga tahun-tahun kedepannya ketika Gaara berada di sisi Kouga, memimpin dan mengawasi Sabaku Group dengan keawasan yang menakjubakan, mengingat usianya yang tidak lagi muda, ditambah penyakit jantungnya yang semakin parah. Hingga akhirnya tibalah saat sekarang ini.
Gaara sadar kakak-kakaknya telah memilih hidup di jalan masing-masing. Itu adalah panggilan hidup mereka, dan Gaara tidak mungkin bisa merebut kesenangan hati kedua kakaknya. Maka ia merelakan diri menggantikan posisi ayahnya. Namun Temari dan Kankurou merasa berdosa pada adik kecil mereka. Yang harus terpenjara—sejak mulai menginjak masa remaja—dan kinipun harus kembali terkurung tiap saat di lantai paling atas gedung utama Sabaku Group, mengurusi perusahaan peninggalan sang ayah, ketika mereka berdua terbang bebas menjalani hidup dan pekerjaan yang mereka sukai.
"Yashamaru mana?" Temari yang sudah tidak tahan dengan keheningan dalam ruangan itu bertanya. Tersadar akan ketidakhadiran sang paman.
"Di ruang meeting utama. Mengurus kerja sama dengan perusahaan apa gitu namanya." Macan Kumbang yang lelah berjalan hilir-mudik akhirnya menghempaskan tubuhnya di kursi kulit besar di belakang meja kerjanya.
"Oh iya… ngomong-ngomong, aku lupa. Tadi apa ya alasan Yashamaru menolak jabatan itu?" Kankurou berujar. Kepalanya menengadah menghadap langit-langit, kedua matanya terpejam.
"Dia mau bekerja di sini kan hanya supaya bisa menjaga Gaara saja. Mengikuti amanat terakhir Ibu," Temari menggelengkan kepalanya, lelah. "Lagipula, ia bilang sesungguhnya ia kerepotan kalau harus mengurus perusahaan sebesar ini."
"Ayah tidak pernah kerepotan tuh?" balas sang adik pertama.
"Ayah kan workaholic!!" Panas, gadis berambut pirang itu menyambar cepat. Memelototi sang adik yang duduk di sofa, tepat di sampingnya.
Sang pria berambut coklat hanya membuka sebelah matanya dan melirik dengan tatapan yang seolah berkata 'Ya maaf deh, kan cuma pendapat…'
"Sudahlah Kankurou, Temari… Aku tidak masalah menggantikan Ayah,"
Mendadak dua pandangan mata yang tampak iba dan bersalah mendarat pada wajah Gaara.
"Kamu mau buang kebebasanmu?" tanya Temari hati-hati. Jemarinya dengan gelisah melipat-lipat ujung dress satin hitam di atas lutut yang ia kenakan untuk acara pemakaman pribadi ayahnya tadi siang.
Gaara hanya tertawa datar dan pelan. "Memang sejak kapan aku punya kebebasan?" Ia menggeleng kecil, "Aku tidak pernah punya pilihan."
Ucapan barusan memperdalam kerutan pada kening kedua kakaknya.
"Jangan bilang begitu…" Temari bekata pelan. "Kita bisa pilih orang lain, Gaara. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengadakan sebuah seleksi."
"Bukan Temari, bukan itu masalahnya." Gaara menatap sepasang mata kehijauan yang begitu mirip dengan miliknya sendiri. "Aku tidak punya pilihan, bukan karena paksaan. Tapi karena memang aku tidak punya…" ia terdiam dan berpikir sejenak. "Tidak punya passion seperti kalian berdua." tandasnya sambil lalu.
"Ah, aku pernah menulis buku berjudul 'Karier Masa Depan', kau tahu? Mungkin bisa membantumu. Isinya tentang memilih pekerjaan yang sesuai dengan minatmu. Aku banyak menggunakan pengalaman pribadiku semasa SMA sebagai referensi…" kalimat Kankurou terputus di tengah jalan ketika dirasakannya tatapan skeptis dari dua pasang mata dalam ruangan itu. "Hey! Itu best seller!!" serunya membela diri.
"Yang benar saja, hancurlah sudah masa depan Konoha kalau 70% kaum mudanya mengikuti petunjuk di buku itu." Temari berbisik, walau cukup keras untuk didengar Gaara yang berjarak beberapa meter darinya.
"HEY!!!"
Gaara tersenyum tipis menghadapi tingkah dan polah kedua kakaknya. Butuh seluruh energi ia kerahkan untuk tidak memutar bola matanya melihat sikap mereka yang begitu kekanakan.
"Tidak apa-apa, Temari dan Kankurou. Daripada aku hanya kebosanan di rumah," Gaara mengangkat bahu santai dan kembali menatap dengan tenang kedua kakaknya. "Jangan khawatir."
Kedua anak-anak tertua Keluarga Sabaku saling bertatapan selama beberapa saat sebelum menghela napas panjang.
"Baiklah, kalau kau memang tidak keberatan. Tapi begitu kau berubah pikiran, segera beri tahu kami ya."
"Tentu saja," Gaara mengangguk. Ia senang atas perhatian yang dicurahkan oleh kedua saudaranya, tapi ia tidak ingin merepotkan mereka. "Sekarang, kalian punya acara masing-masing kan? Pergilah, jangan buang waktu kalian di sini lebih lama lagi."
Temari hendak memrotes, namun Kankurou buru-buru menggamit lengannya dan berbisik cepat. "Sudahlah! Gaara justru akan kecewa kalau kau tidak mempercayainya!"
Kembali menaikkan volume suaranya, ia melambai ke arah Gaara sembari menarik Temari yang cemberut menuju pintu. "Baiklah kalau begitu. Kami pergi dulu ya. Lalu, sekarang kau mau ke mana?"
"Turun ke ruangan meeting, menyusul Yashamaru."
"Ah, oke. Ya sudah deh, dadah Adik Kecil!" Kankurou menyeringai sambil tetap melambai hingga akhirnya ia menghilang bersama Temari di balik pintu besar. Meningglakan Gaara sendirian di ruangan luas berdinding serba kaca itu. Menggeleng dan tersenyum kecil pada panggilan menyebalkan yang sering dipakai Kankurou untuknya sejak kecil dulu.
Bangkit berdiri dari kursi kulit, satu tangannya merapikan dasinya yang miring. Gaara Sabaku berjalan keluar ruangannya pada lantai paling atas gedung Sabaku Group dan melangkah masuk ke dalam lift. Menekan tombol lantai dimana Ruang Rapat Utama berada.
Masih dengan senyuman bisnis yang meyakinkan, Sakura menjelaskan dengan penuh semangat mengenai nilai-nilai plus yang bisa didapatkan Sabaku Group dengan bekerja sama dengan Haruno & Co. Tangannya bergerak-gerak dengan semangat, menunjukkan poin-poin utama pada slide presentasi yang telah ia sempurnakan sejak berhari-hari jauh sebelum hari-H acara meeting tersebut.
'Ini adalah satu-satunya kesempatanmu, Sakura,' ujarnya dalam hati. 'Jangan coba-coba kau berbuat kesalahan, sekecil apapun.'
"Dengan system pembagian barang secara cuma-cuma—untuk promosi—di acara launching kita, para customer pasti bisa langsung mengetahui bahwa produk kita jauh lebih istimewa dari yang lain." Gadis berambut merah muda itu menekankan. "Kalau image baik sudah terbentuk, mereka semua akan datang dengan sendirinya. Maka menutup kembali pengeluaran besar pada masa produksi, bahkan meraup laba, akan tinggal semudah membalik telapak tangan."
Bertepatan dengan selesainya presentasi Sakura—yang ditandai dengan dilipatnya kedua tangan dan seulas senyum kemenangan yang tersungging di sudut bibir sang gadis—orang-orang yag duduk di meja panjang itu mengangguk-angguk. Beberapa tertegun, beberapa tampak berpikir keras.
Dengan dada berdegup kencang, Sakura memperhatikan dengan seksama wajah dari representatif utama Sabaku Group yang duduk di kursi paling ujung. Sepasang alisnya tampak bertaut membentuk V yang halus. Kedua belah tangannya ditangkupkan di depan mulut. Rambutnya yang dibiarkan panjang sebahu menjatuhkan bayangan gelap pada wajahnya. Membuat ekspresinya sulit dibaca.
Namun segala kegalauan segera keluar dari hati Sakura ketika dilihatnya sang representatif tersenyum dan mengangguk kecil, sebelum berdiri di tempatnya—menyita perhatian dan menghentikan setiap gumaman yang dibuat oleh para peserta meeting yang lain.
"Terima kasih, Nona Haruno, untuk presentasi anda yang begitu luar biasa."
Sakura mengangguk kecil sambil tersenyum penuh perasaan harap-harap cemas.
"Saya harap, perusahaan anda bisa segera bersiap untuk melaksanakan hal-hal yang barusan anda sebutkan?"
Gadis yang berdiri di samping layar putih tempat slide presentasinya masih berkedip kehijauan itu membutuhkan waktu beberapa detik untuk benar-benar mencerna maksud kalimat yang baru saja dilontarkan oleh sang representatif. Mulutnya terbuka dan tertutup beberapa kali sebelum akhirnya ia dapat berkata dengan suara serak.
"Maksud… maksud Yashamaru-san?"
Senyum Yashamaru semakin mengembang. Sambil mengangguk, ia berkata, "Sabaku Group setuju dengan tawaran kerja sama Haruno & Co.. Kami suka ide-ide anda yang fresh dan orisinil. Selamat, Nona Sakura Haruno." Pria berusia kepala tiga itu maju mendekati Sakura dan menjabat tangan si gadis erat. Sakura berkedip sekali, dua kali, sebelum menjabat balik Yashamaru dengan kedua tangannya.
"Terima kasih! Sungguh, anda tidak akan menyesali keputusan ini!"
Sakura masih tersenyum sumringah tak percaya sembari menyalami para orang dewasa di sekitarnya yang mengucapkan 'Mohon kerja samanya,' dan 'Selamat, Nona Haruno.' Ia tidak benar-benar mendengarkan mereka. Pikirannya masih melayang-layang tidak jelas di mana. Yang ia tahu hanyalah bahwa ia telah berhasil melalui langkah pertama untuk mewujudkan ambisi selama belasan tahunnya. Tidak sadar dengan kalimat 'Terima kasih, saya juga mohon kerjasamanya!' yang berulang kali meluncur dari bibirnya seperti sebuah program otomatis.
Ia bahkan tidak memperhatikan ketika seseorang membuka pitu ruangan itu dan melangkah masuk. Pemuda itu berjalan mendekati Yashamaru dan bertukar satu-dua patah kata serius dengannya. Yashamaru tersenyum dan menepuk-nepuk bahu pria itu seperti seorang ayah yang bangga dengan putranya, kemudian membisikkan beberapa kalimat dan mengangguk ke arah Sakura berada.
"Nona Haruno," panggilnya mengatasi kericuhan ruangan tersebut. "Nona Haruno, saya ingin anda menemui pimpinan utama kami."
Seketika itu pula kesadaran Sakura kembali ke tubuhnya. 'Ini dia,' bisiknya dalam hati. Gadis itu menelan ludah dan dengan berhati-hati mengatur ekspresi wajah untuk menyembunyikan kernyitan tidak suka serta kobaran api penuh dendam pada bola matanya.
Dengan senyum buatan yang sudah terlalu sering dilatih, ia menengokkan wajahnya untuk berhadapan dengan manusia yang semenjak 16 tahun lalu telah menjadi tujuan utamanya, hanya untuk dikagetkan oleh apa yang ia temui di sana.
Bukan Kouga Sabaku yang saat ini berdiri di samping Yashamaru. Melainkan seorang pria muda, yang usianya tak tampak jauh berbeda dari usia Sakura sendiri. Satu alis mata merah muda terangkat penuh tanya, dan kata-kata itu terucap begitu saja dari bibirnya tanpa sempat ia tahan.
"Saya kira, pimpinan utama Sabaku Group itu adalah Tuan Kouga Sabaku?" Ingin rasanya Sakura menampar dirinya sendiri, saat itu juga. Rencananya bisa hancur seketika, hanya karena rasa bingung dan penasaran yang telah membuatnya terdengar sangat lancang.
Tapi pemuda yang berdiri di hadapannya saat ini sama sekali bukan Kouga Sabaku. Dengan rambut merah yang tumbuh mencuat ke segala arah, garis wajah yang tegas dan hidung tinggi khas aristokrat, serta matanya—Sakura menelan ludah. Mata hijau dengan kedalaman yang mampu menenggelamkan dirinya pada saat itu juga.
Terkejut, Sakura mengerjap dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
'Demi Tuhan, pikiran klise dan kacangan macam apa yang barusan aku pikirkan!!?'
Yashamaru tersenyum kecil dan meletakkan tangannya di bahu sang pria berambut merah. "Karena satu dan lain hal, Nona Sakura, untuk sekarang ini beliaulah pemegang posisi yang tadinya dimiliki Tuan Kouga."
Pria misterius—yang tampak menderita insomnia kelas berat—itu maju dua langkah mendekati Sakura dan menyodorkan tangannya untuk dijabat.
"Presiden Direktur Sabaku Multinational Group saat ini," ujar Yashamaru memperkenalkan sang pria muda pengganti Tuan Kouga.
"Tuan Gaara Sabaku."
+ to be continued +
Oke, kemunculan perdana Gaara! Dan Sedikit SandSiblings!Fluff buat pembaca tersayang yang rela membaca chapter panjang bertele-tele ini. hehehe, saya harap kalian nggak keberatan membaca chapter-chapter yang agak panjang dan padat begini ya, haha :))
Oiya, berhubung ini AU, tolong jangan bayangin Kankurou dengan topi kucing dan cat muka ngga jelas itu ya. hahaha, karena kita semua tau dia lumayan tampan tanpa aksesoris aneh-aneh itu. nyehehe :) dan saya juga memberikan nama buat orang tua Sakura dan Gaara. Untuk lebih memudahkan cerita.
Ah, iya, yang lebih penting lagi, kalau ada pertanyaan, pernyataan, keberatan, ketidaksukaan atau apapun dalam fic ini, tolong jangan ragu-ragu buat menyampaikan ke saya. Biar saya bisa perbaiki lagi kekurangan-kekurangan saya dalam menulis yang memang masih banyak =_=;
ah, tidak lupa, chapter depan juga saya punya surprise buat pembaca sekalian dengan mulai memunculkan salah satu dari tokoh-tokoh kesayangan kita semua, nantikan ya ;) hehehe.
Now, THANK YOU so much for reading, and please leave some REVIEW! ('cause we all love this thing, rite?) xD
(31/03/2010)
.haru.
