Disclaimer: I don't own Naruto. Just the fic's plot.
+ Fall For You +
Chapter II: The Game They Play
Sakura menelan ludah. Perlahan ia mengulurkan tangannya untuk menjabat sang direktur utama. Ribuan pertanyaan berkecamuk dalam kepalanya.
'Apa pria ini seorang Sabaku?'
'Lalu di mana Kouga?'
'Kenapa orang ini menggantikannya?'
Dan yang terpenting, 'Kalau begini, bagaimana aku bisa melanjutkan rencanaku?'
Sang gadis tersentak dari lamunan ketika didengarnya suara dehaman kecil dan dirasakannya tatapan tajam pria yang bernama Gaara itu.
"Ah, iya, saya Sakura Haruno," Sakura sedikit tergagap. "Mohon bantuannya." Terburu-buru, gadis itu menambahkan.
Sakura bergerak-gerak tidak nyaman ketika tatapan tajam itu masih terarah kepada dirinya. Tangan yang besar dan kuat itu juga tak kunjung melepaskan genggamannya pada tangan Sakura yang mulai terasa kebas.
Baru saja sang gadis berambut merah muda membuka mulut, hendak bicara, ketika tiba-tiba tangannya dilepaskan, dan pria bermata zamrud di hadapannya itu melirik Yashamaru.
"Kau yakin kita akan bekerja sama dengan dia?" ucapnya santai. "Orang yang kesulitan dalam memperkenalkan diri sendiri, seperti apa kinerjanya nanti?"
Detik itu juga Sakura merasa seperti ditampar wajahnya. Kali pertama ia mendengar suara pria ini, dan kalimat macam itu yang ia lontarkan?
'Cha! Kau tak mengenalku rupanya!'
"Maaf!" serunya lantang. Membuat seluruh orang di ruangan itu memandangnya, beberapa bahkan tampak terkejut. "Tapi anda tidak perlu mengkhawatirkan saya. Saya yakin dengan kemampuan saya, dan saya akan sangat berterima kasih apabila anda tidak meragukan hal tersebut."
Para petinggi Sabaku Group yang ada di sekitarnya memandang Sakura takjub. Heran akan keberanian—atau kenekadan?—wanita muda tersebut. Yashamaru memperhatikan dengan bersemangat, seakan sedang menyaksikan sebuah pertandingan olah raga yang menarik.
"Hee," sudut bibir Gaara terangkat membentuk seulas senyuman dingin yang terkesan merendahkan. "Anda yakin sekali ya."
Sakura yang—malang bagi dirinya—memang mudah terpancing emosi mengerjap tak percaya.
'CHA! Beraninya kau!'
"Tentu! Satu hal saja meleset dari run-down yang sudah terperinci di data saya ini, maka anda boleh mengajukan sebuah perintah. Apapun boleh, dan saya pasti akan segera menuruti. Tapi hal ini berlaku sebaliknya jika saya berhasil membuktikan perkataan saya." Serunya sambil menggebrak sedikit permukaan meja.
Senyum—lebih tepatnya, seringai—Gaara melebar. Panah telah telak mengenai sasaran. Dari gerak-gerik serta pembawaannya, Gaara dengan mudah tahu bahwa wanita yang ada di hadapannya ini penuh dengan harga diri, serta emosinya mudah tersulut. Tapi ia tidak menyangka bisa sampai sejauh ini.
'Jackpot.' Gumam pria itu dalam hati.
"Tantangan anda saya terima." Dagu pria muda itu terangkat angkuh. "Tuan-tuan sekalian bersedia menjadi saksi kejadian ini?"
Para direktur cabang dan pemegang saham itu mengangguk cepat. Mereka, tidak seperti Sakura, sudah cukup lama mengenal Gaara untuk mengetahui betul temperamen pria berambut merah itu jauh lebih pendek dari orang kebanyakan.
"Setuju." Balas Sakura geram.
Dan kedua orang itu saling melempar tatapan yang tajam, menantang satu sama lain.
Hijau bertemu hijau.
Mercedes matic mungil itu melaju cepat diatas 80 km/jam, menembus kepadatan jalan Kota Konoha dengan membabi buta. Seuntai sumpah-serapah dengan warna-warni variatif terus mengalir deras dari sepasang bibir mungil sang pengendara. Ingin rasanya ia mencakari wajahnya sendiri hingga tidak lagi berbentuk.
'Bagaimana mungkin aku bisa begitu bodoh!' makinya dalam hati. Menantang sang direktur utama Sabaku Group, apa yang sebenarnya ada di pikirannya pada saat-saat terkutuk itu?
'Aah, bilang saja kamu tidak ingin dipandang rendah sama Si Tampan itu kaan?'
'Heh! Bukan cuma dia! Aku tidak suka kemampuanku direndahkan oleh siapapun, apalagi hanya karena aku ini perempuan!'
'Iyaaa, tapi tetap ada unsur gengsi sama cowok itu kaaan?'
'Yang benar saja? Dalam 5 menit pertama aku mengenalnya, ia dengan sukses membuatku muak oleh kelakuannya itu. Arogan brengsek!'
'Mm-hm, jangan lupa, arogan brengsek yang sexy,'
'AAAH! Sudah! Diam! Diaaam!'
Sakura membentak suara-suara di dalam kepalanya dan berhenti di depan lobby suatu gedung. Ia membiarkan petugas valet datang dan memarkir A 140 berwarna putih susu miliknya di basement, sementara dirinya sendiri memasuki gedung Haruno & Co. dengan hak stiletto yang ia kenakan berdetak tajam di atas lantai marmer. Secepat kilat ia berjalan memasuki lift dan menekan tombol 9 yang segera menyala.
Bunyi 'ding' pelan dari lift menunjukkan bahwa ia telah mencapai lantai tujuan. Tanpa banyak membuang waktu, Sakura melangkah cepat menuju satu-satunya ruangan di lantai itu.
"Selamat siang, Nona Sakura." Rin sang sekretaris pribadi dari pemilik ruangan menyapa gadis bermata hijau itu ramah.
"Ah, selamat siang Rin-san. Apa dia ada di dalam?"
"Tentu saja. Silahkan langsung masuk, Nona."
"Terima kasih," Sakura tersenyum kepad wanita ramah yang lebih tua darinya itu dan segera menerobos masuk melalui pintu raksasa berpelitur hitam di depannya.
Bunyi derit pelan dari pintu kayu yang berat itu berkumandang ketika daun-daunnya terbuka. Menampakkan seorang pria berusia 30-an yang tengah bersantai di ruangannya. Lengkap dengan kedua kaki yang di letakkan di atas meja kerja dan kedua siku terlipat di belakang kepala.
"Sakura, sudah kembali dari Sabaku rupanya," ujarnya sedikit terkejut. Cepat-cepat ia turunkan kedua kaki dari atas mejanya yang berantakan dengan kertas-kertas dokumen dan ballpoint tinta. "Jadi, bagaimana meeting tadi?"
"Siapa itu Gaara Sabaku?" Tanya sang wanita muda dengan nada rendah yang menyerupai sebuah geraman.
"Eh?"
"Cepat beri tahu aku, semua hal yang kau tahu soal GAARA SABAKU!"
"Ini dia, di samping ayahnya, saat pembukaan hotel terbaru mereka." Kakashi menunjuk dengan kursor mouse-nya wajah pemuda berambut merah di sebuah foto yang didapat dari internet.
"Ini foto keluarga besar Sabaku. Minus sang ibu, tentu saja."
Pria berambut perak itu meng-klik foto lainnya. Foto seorang pria yang terlihat berusia awal 60-an, serta seorang wanita pirang dan dua orang pria yang masih muda.
"Hn…" Sakura memperhatikan lekat-lekat foto-foto yang bermunculan di layar laptop Kakashi sembari duduk tegak tidak bergeming pada bagian lengan kursi kulit yang tengah ditempati oleh pria yang lebih tua 10 tahun darinya itu.
"Yah, wajar saja kalau kamu tidak kenal padanya. Ia memulai sepak terjangnya di dunia perbisnisan Konoha saat kamu masih kuliah di Mizu."
"Tapi… kenapa mendadak menggantikan ayahnya?"
"Aku juga tidak yakin pasti. Tapi yang kutahu, sudah tiga empat tahun ini Kouga Sabaku terkena penyakit jantung. Dan terakhir aku melihat dia di acara perayaan berdirinya Sabaku Hospital selama 7 tahun sekitar 4 bulan yang lalu."
Wanita muda itu hanya mengangguk-angguk mendengarkan seluruh penjelasan Kakashi. Sejenak ia terdiam, larut dalam pikirannya yang semerawut. Sebelum dihelanya napas panjang dan ia sandarkan dahinya dengan lelah pada bahu Kakashi.
"Hei, ada apa?" Pria bermata abu-abu yang menyadari adanya keanehan pada Sakura yang biasanya bersemangat itu bertanya pelan. Diusapnya lembut punggung tangan sang gadis yang melingkar di sekeliling lehernya.
"Aku baru saja membuat sebuah kesalahan fatal, Kashi." Erang gadis itu pelan ke kemeja kelabu yang Kakashi kenakan.
"Presentasinya gagal? Tidak apa—"
"Bukan itu," Sakura menggeleng kecil. "Presentasi berjalann sempurna. Sabaku Group bersedia bekerja sama dengan kita."
"Wah, bukannya itu berita bagus?"
"Masalahnya, aku baru saja menantang seorang Gaara Sabaku. Kalau semua proses pekerjaan kita tidak berjalan tepat waktu persis seperti yang tercatat di run-down kasar perkiraan kita, aku harus menuruti apapun maunya orang itu."
"…"
Sakura yang tidak nyaman dengan kebisuan Kakashi mengangkat kepala, mengintip wajah pria itu melalui sela-sela helaian rambut merah mudanya.
Pada wajah tampan itu ada keterkejutan, rasa tidak percaya, dan… kemarahan?
Sakura kembali mengerang.
"Jangan marah Kashi," ia separuh merengek seraya mempererat pelukan kedua lengannya di sekeliling bahu dan leher Kakashi. "Aku tahu aku bodoh, aku minta maaf, aku menyesal…"
Sebuah jari telunjuk mendarat di bibir Sakura menghentikan rengekan wanita muda itu. Sepasang mata hijau tua terangkat menatap balik abu-abu keperakan yang tengah memandangnya tajam.
"Aku marah bukan karena kita jadi harus buru-buru," ujar pria itu tegas. "Tapi kamu harus berpikir masak-masak sebelum bertindak. Kamu tahu janji barusan bisa ia gunakan untuk melakukan hal-hal yang tidak kita harapkan kepadamu?"
"Aku tahu, maafkan aku," gadis itu mengubur wajahnya dalam-dalam pada leher Kakashi. Bersembunyi dari tatapan mata setajam elang yang diarahkan kepadanya.
"Ahh, Sakura…" Kakashi menggelengkan kepalanya sedikit. "Memang apa yang terjadi sampai kamu jadi nekad seperti itu?"
Dengan cepat dan penuh pembelaan terhadap diri sendiri, gadis itu menceritakan seluruh kejadian yang terjadi di ruang meeting gedung Sabaku Group beberapa saat yang lalu.
Kakashi menggaruk belakang kepalanya, heran. Entah dia harus mengucapkan apa mengenai kejadian yang cenderung konyol itu.
"Yah, sudahlah. Nasi juga sudah menjadi bubur. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah bekerja sekeras mungkin untuk mencapai target kan?" Pria itu tersenyum lembut dan menepuk-nepuk puncak kepala Sakura. "Ayo-ayo, kita banyak pekerjaan lho," ujarnya seraya bangkit berdiri dan meregangkan kaki dan tangannya yang pegal.
Sakura tersenyum tulus. Hilang sudah segala beban di hatinya, berkat seorang Kakashi Hatake. Pria berambut keperakan ini adalah putra tunggal dari Sakumo Hatake, salah satu orang merangkap sahabat terdekat Kiyoshi Haruno serta mitra dalam membesarkan nama Haruno & Co.. Sejak kepergian Kiyoshi, yang menyebabkan perubahan drastis dalam kepribadian Sakura, Kakashi banyak menghabiskan waktunya membuat Sakura kembali ceria. Pemuda itu cukup mengerti perasaan Sakura di kala itu, sebab ia sendiri telah kehilangan ibunya sejak berusia 5 tahun. Hal ini juga semakin mendekatkan keluarga Haruno dan Hatake.
Pada usianya yang ke-22, Kakashi memutuskan untuk ikut bergabung dengan Haruno & Co. menggantikan ayahnya yang mulai sakit-sakitan, dan akhirnya meninggal tepat 1minggu setelah ulang tahun Kakashi yang ke-24.
Sakura selalu bisa bersandar pada Kakashi, terutama setelah gadis itu kehilangan sosok seorang ayah. Kakashi memang terlalu muda—serta tidak cukup dewasa dan berwibawa—untuk menjadi figur ayah bagi Sakura, tapi ia lebih dari cukup untuk menjadi seorang kakak laki-laki yang selalu diinginkan oleh sang gadis keras kepala.
Itulah sebabnya, di balik eksterior yang tegas dan keras hati, Sakura tetap selalu bisa merengek kekanakan dan bermanja di hadapan Kakashi.
"Halo, halo, Bapak Direktur Utama!" Kankurou menjeblakkan pintu ruangan Gaara dan melangkah masuk penuh semangat. "Aku bawa makan siang untukmu, nih!"
Gaara mengalihkan pandangannya dari setumpuk dokumen yang harus ia tandatangani dan melihat kantong plastik berisi box makanan take out menggantung di tangan Kankurou.
"Ini sandwich daging domba panggang dari restoran khas Kaze kesukaanmu," ucap sang kakak sembari meletakkan bungkusan yang masih hangat mengepul itu di meja adiknya.
"Tumben?" Gaara menyingkirkan dokumen-dokumen itu ke sudut mejanya dan membuka box makanan tersebut. Dengan segera aroma sedap domba panggang dengn rempah-rempah khas Negara tempat Keluarga Sabaku berasal menguar ke seluruh ruangan. Membuatnya sadar bahwa ia belum makan apapun dari pagi, dan ia kelaparan.
"Temari tidak mau berhenti menelponku dan mengoceh berisik tentang pola makanmu yang jelek." Kankurou mengangkat bahu. "Jadi karena aku sedang senggang, aku datang untuk menyelamatkan perutmu, dan telingaku."
"Hn," Sang direktur muda menggigit sandwich-nya dan mengunyah pelan. Sedap.
"Hey, mana terima kasih untukku? Dan kau belum mencuci tanganmu!"
"Terima kasih, Kankurou—Aku menghargai perhatianmu. Tapi tolong berhentilah meniru-niru Temari."
"Hahaha! Kita cowok-cowok tidak peduli soal cuci tangan! Ya kan?" Putra pertama Sabaku terkekeh dan duduk di salah satu dari 2 kursi yang berada di hadapan meja Gaara.
"Oh iya, tadi aku bertemu Yashamaru di lift."
Yang diajak bicara hanya memandangi sang kakak sambil sibuk menghabiskan makan siangnya.
"Lalu, tahu tidak apa yang dia katakan padaku?" Lanjut pria yang lebih tua itu seraya menyeringai lebar. "Dia bilang, tadi siang di ruang rapat kau menggoda seorang cewek!"
Segera Kankurou meledak dalam tawa membahana yang bergaung ke seluruh sudut ruangan.
Gaara hampir tersedak dibuatnya.
"Siapa yang—!"
"Ooooh! Jangan coba mengelak, adik kecil! Katanya nama gadis itu Sakura Haruno? Jangan bilang gadis ini ada hubungannya dengan Haruno & Co. itu?"
"Aku tidak—"
"Dan rambutnya pink! HAHAHA! Demi Tuhan! PINK! Selera yang bagus Gaara!"
"Kankurou." Sepatah kata yang keluar dalam bentuk geraman bernada rendah dari bibir Gaara ini segera menghentikan tawa maniak sang pemilik nama yang segera membisu serta berwajah seperti anak kecil yang terpergok tengah mencuri kue. "Aku tidak menggoda siapapun."
"Tapi, tapi, kata Yashamaru kau menggodanya!" Kankurou merengek keras kepala. Kekanakkan.
"Aku hanya menantangnya. Memberinya sedikit pelajaran."
Sang kakak hanya melemparkan pandangan skeptis sembari bersungut-sungut, yang dibalas Gaara dengan tatapan menghujam yang mampu membekukan neraka tingkat ketujuh sekalipun.
"Ayolah Gaara! Bersenang-senanglah sedikiit!" Pria berambut coklat itu melempar kedua tangannya ke udara, putus asa.
"Oh, tapi aku cukup bersenang-senang, Kankurou." Gaara menandaskan dengan tenang sambil membereskan bungkus makanan yang telah ia lahap habis. Tanpa ia sadari, seulas senyuman yang terlihat antagonis tersungging di sudut bibirnya ketika ia mengingat gadis berambut merah muda yang berani menantangnya tadi siang.
Sudah cukup lama tidak ada orang yang berani melawan Gaara Sabaku. Ketika ditemukannya seorang wanita muda yang—entah karena bodoh, atau memang nekad—berani melawan Gaara, rasanya seperti mendapat angin segar yang baru berhembus. Hitung-hitung bisa dipakai mengusir kebosanan.
"Percayalah," Gaara menyeringai dan menjilat sedikit saus yang tertinggal di ibu-jarinya. "Aku cukup bersenang-senang."
+ to be continued +
Kemunculan perdana Kakashi :) saingan Gaara nih? hahaha.
Entah kenapa saya begitu menikmati menulis bagian SandSibs. Mungkin karena saya suka hubungan mereka yang selalu menarik untuk diselipkan humor di sana-sini. Juga hubungan keluarga mereka yang agak disfungsional (Temari yang seperti doting hen, Kankurou yang kelewat cengengesan, dan Gaara yang cenderung... tsundere? 8D (ha!)) itu selalu bikin saya pengen bilang 'aaaaaww..'. hhehe.
Nah, segini dulu dari saya, karena sebenarnya ini sedang musim Ulangan Umum. Dan lusa saya ulum Fisika (nekad memang =_=). wuhuuw, wish me luck! :)
Thank you for reading, and please leave some review.
(21/05/2010)
.haru.
