Bleach © Tite Kubo

Warning : AU, OOC, Gaje, Don't Like Don't Like

Waiting For You

(Chapter 2)

xxxx

Mungkin disetiap waktu yang aku lalui, yang ada hanyalah kau…

Hari ini Ichigo sama sekali tidak mendengar penjelasan dosennya dengan baik. Kepalanya terasa sakit, mungkin karena beberapa hari ini ia kurang tidur karena tugas-tugas kuliah yang semakin menumpuk. Lingkaran hitam juga tampak jelas di bawah matanya. Sekarang satu-satu hal yang ada di pikirannya adalah bagaimana ia bisa segera sampai di rumah dan tidur.

Akhirnya jam kuliah yang amat sangat membosankan bagi Ichigo itu selesai juga, setelah Ichimaru Gin, dosen muda yang sedikit aneh di mata mahasiswanya tersebut keluar kelas, Ichigo segera mengemasi buku-bukunya dan bersiap untuk pulang dan memutuskan untuk tidak mengikuti mata kuliah berikutnya.

"Kurosaki-kun!" Tiba-tiba suara Inoue membuat Ichigo menghentikan langkahnya yang sudah hampir keluar dari kelas.

"Ada apa Inoue?"

Inoue tampak sedikit salah tingkah dan dengan suara pelan ia bertanya, "Kurosaki-kun mau kemana? Kita 'kan masih ada kuliah?"

"Pulang," Ichigo menjawab singkat dan sebelum gadis di depannya ini bertanya lagi, ia segera melanjutkan ucapannya, "kepalaku agak pusing. Lagipula aku sedang malas berurusan dengan Aizen-sensei. Sudah ya Inoue, sampai besok."

Ichigo melambaikan tangannya sekilas pada Inoue yang masih berdiri di dekat pintu kelas. Menyisakan bisikan lirih dari gadis berambut panjang itu, "sampai kapan kau mau menunggunya, Kurosaki-kun?"

xxxx

Sementara itu, di halaman belakang Karakura High tampak seseorang sedang duduk bersandar pada sebuah pohon Sakura yang mungkin umurnya sudah lebih dari ratusan tahun. Sosok itu dengan nyaman memejamkan matanya, berusaha menikmati udara sore yang ia rasakan sangat menenangkan dan mengingatkannya kembali pada banyak masa lalu. Masa lalu yang bukan sekedar 'masa lalu' dan setelah sekian lama akhirnya ia kembali lagi untuk menemui 'masa lalu' itu. Juga sedikit berharap kalau dirinya masih bagian dari banyak kenangan yang ia tinggalkan.

Sosok itu membuka matanya dengan perlahan dan sedikit terkejut ketika menyadari bahwa langit disekitarnya telah berubah gelap. Rupanya sudah banyak waktu yang ia habiskan di tempat ini, sendirian.

"Semoga saja pintu gerbangnya belum dikunci," ujarnya sambil berjalan dengan sedikit tergesa.

xxxx

"Ayo bangun, Ichi-nii! Kau ini mau tidur sampai kapan, sih?"

Saat ini Karin sedang berusaha membangunkan kakaknya yang tidur seperti orang mati. Sejak pulang kuliah tadi siang Ichigo langsung tidur dan sampai sekarang belum bangun juga padahal sebentar lagi waktunya makan malam dan Karin ditunjuk untuk membangunkan Ichigo. Benar-benar menyebalkan!

Segala cara sudah dilakukan Karin tapi Ichigo belum juga menunjukkan tanda-tanda akan segera bangun, "baiklah, Ini cara terakhir!" Karin berkata dalam hati dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Karin menarik napas sebelum berkata dengan volume diatas rata-rata, "ah, ada Rukia-nee! Rukia-nee!"

Tanpa diduga, Ichigo segera membuka mata dan terduduk sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah tapi yang ia temukan hanyalah Karin yang sedang melihatnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Mana Rukia?"

Karin berdecak kesal mendengar pertanyaan bodoh Ichigo itu. Yah, orang yang baru bangun tidur memang kadang-kadang suka menjengkelkan.

"Yang ada dipikiran Ichi-nii ternyata hanya Rukia-nee saja! Tidak ada 'Rukia' disini! Sebaiknya Ichi-nii cepat turun, Makan malamnya sudah siap dari tadi. Kita hanya menunggu Ichi-nii saja, tahu! Padahal perutku ini sudah tidak bisa lagi diajak kompromi!" omel Karin sambil melangkah keluar dari kamar Ichigo.

Sedangkan Ichigo?

Tampaknya ia baru sadar kalau ia sudah dibohongi mentah-mentah oleh adiknya sendiri.

"Ck, sial! Lama-lama aku bisa gila kalau begini terus!"

xxxx

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin dilakukan Ichigo hari ini. Salah satunya adalah menikmati hari libur bersama teman-temannya seperti, Chad, Inoue, Hishida, Keigo dan Renji. Mereka semua adalah teman-teman Ichigo di Karakura High dan kebetulan diterima di universitas yang sama, Karakura University, meski berbeda fakultas. Rencananya hari ini mereka akan pergi nonton lalu makan di restoran langganan. Tapi semua rencana itu gagal total mereka satu persatu membatalkan janji dengan berbagai alasan. Ichigo malas untuk mengingat alasan-alasan itu.

Akhirnya ia memutuskan untuk jalan-jalan sendiri saja.

Ichigo berjalan menyusuri deretan toko yang berjejer rapi di pinggir jalan, tangan kanannya menggenggam kantong plastik berisi boneka beruang untuk Yuzu dan untuk Karin, Ichigo membelikan adiknya yang tomboy itu sebuah bola basket. Semoga saja Karin menyukainya.

Ichigo kemudian berbelok ke arah kedai kopi yang tidak jauh dari tempatnya sekarang. Tanpa sadar, Ichigo telah menjadi pelanggan tetap kedai kopi kecil itu.

Setelah memesan segelas Cappucino, Ichigo memilih untuk mengamati orang-orang yang berjalan di luar sana dari jendela di sampingnya. Entah kenapa ia sedikit berharap, kalau diantara orang-orang itu, ia bisa menemukan 'dia' disana. Tiba-tiba getar dari ponsel hitam miliknya yang ia letakkan di dekat gelas Cappucino-nya membuat Ichigo merasa sedikit terganggu. Ichigo hanya membaca pesan itu sekilas tanpa ada niat untuk membalas.

Ichigo sedang menghadapi gelas Cappucino-nya yang kedua ketika subuah suara yang sangat ia kenal memanggil namanya dan dengan nada yang sama seperti dulu.

"Ichi…"

Ichigo seakan lupa cara berkedip ketika mata coklatnya melihat dengan jelas sosok yang sekarang berdiri di seberang mejanya.

"Kau?"

Sedangkan sosok itu hanya tersenyum samar dan berkata, "aku boleh ikut duduk disini 'kan?"

Hanya anggukan dari Ichigo yang ia dapatkan sebagai pengganti kata 'ya'. Mungkin Ichigo masih berusaha mengatasi rasa terkejutnya karena kedatangan orang ini yang begitu tiba-tiba.

"Kenapa kau melihatku begitu? Aku ini bukan hantu, tahu!" orang itu berkata dengan kesal, bibir tipisnya membentuk sebuah senyuman ketika ia berujar pelan, "apa kabar,Ichigo?"

xxxx

Ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan hanya lewat kata-kata. Salah satunya adalah tentang kita…

"Kenapa tidak bilang kalau kau mau datang, Rukia?"

Saat ini mereka sedang berada di halaman belakang Karakura High, tempat yang tidak tahu kenapa terasa begitu spesial untuk mereka berdua.

Ichigo sedang menyandarkan tubuhnya pada batang Sakura yang ada disana ketika ia melontarkan pertanyaan itu pada orang yang sekarang berada tepat disampingnya.

"Memangnya harus?"

Ichigo mendengus kesal, "kau ini masih menyebalkan ternyata."

"Kau seratus kali lipat lebih menyebalkan daripada aku!"

"Terserah," Ichigo menjawab singkat sambil berusaha menyamankan posisi duduknya.

Jujur saja, ada sedikit keraguan di hati Rukia ketika ia memutuskan untuk menghampiri Ichigo ketika secara tidak sengaja ia melihat pemuda dengan rambut oranye itu di kedai kopi. Memang, salah satu tujuannya datang ke kota ini adalah untuk menemui Ichigo. Tapi ini terlalu tiba-tiba untuk Rukia. Ia belum siap sebenarnya, tapi entah kenapa ia tidak bisa menolak ketika secara tidak sadar kakinya melangkah kearah Ichigo. Dan ia juga tidak bisa membantah sewaktu Ichigo mengajaknya ke tempat ini.

Hening.

Rukia menoleh ke sampingnya dan ia melihat kedua mata pemuda itu masih terpejam. Sepertinya ia tertidur. Rukia mulai emosi, setelah dengan seenaknya si kepala orange itu mengajaknya ke sini, sekarang ia malah tidur?

"Ichigo!" panggil Rukia sedikit keras.

Tidak ada respon sama sekali.

"Jangan tidur di sini, bodoh!"

Kali ini Rukia 'menghadiahi' Ichigo jitakan di kepala orange-nya dan gadis itu pun segera berdiri, berniat meninggalkan Ichigo.

"Aku 'kan hanya tidur sebentar. Kau ini cerewet sekali," dengan mata yang setengah terbuka karena mengantuk, Ichigo menarik tangan Rukia dan membuat gadis itu terpaksa duduk di tempatnya semula.

Lagi-lagi mereka seolah enggan bicara.

"Kemana saja kau dua tahun ini?"

"Kau lupa, Ichi? Aku sudah bilang waktu itu kalau aku harus pindah."

"Aku tidak pernah lupa. Sama sekali tidak. Aku hanya mau tahu, seberapa sibuknya seorang Kuchiki Rukia sampai ia tidak pernah bisa menghubungi aku, Kurosaki Ichigo."

"Yang penting sekarang aku ada disini."

Hanya jawaban singkat itu yang Ichigo dapat.

"Lalu sekarang bagaimana? Apa ayahmu tahu kalau kau kesini?"

"Ya, Tou-san tahu kalau aku datang ke kota ini lagi. Tou-san juga sudah mengijinkanku untuk tinggal di sini."

"Eh…?"

Rukia sedikit menarik ujung bibirnya, "kau belum tuli 'kan Kurosaki Ichigo? Baik, aku ulangi. Aku, Kuchiki Rukia, akan tinggal di kota ini lagi. Puas?"

"Belum," Ichigo segera memindah posisi duduknya hingga sekarang ia tepat berada di depan Rukia dan bisa memandang dengan jelas ke dalam mata violet gadis itu. "satu pertanyaan lagi, kali ini kau tidak akan pergi lalu menyuruhku untuk menunggumu 'kan?"

Tanpa sadar, Rukia menggenggam tangan Ichigo, erat dan berujar singkat, "tidak."

Itu sudah cukup untuk membuat Ichigo menarik Rukia dalam pelukannya.

"Jangan pernah pergi lagi."

"Ya…"

End

AN:

Akhirnya fanfic ini saya bikin jadi dua chapter.

Semoga endingnya bisa memuaskan readers dan ga terkesan ngegantung hehehe ^^"

Saya ini masih amatiran. Jadi mohon bimbingannya….*bungkuk*

Balesan Riview :

Ojou-chan : Ichi ga nyusulin Rukia, tapi Rukia yang balik ke Ichi hehehe. Ini lanjutannya, silahkan dinikmati :)

Aizawa Ayumu : Makasih Aizawa-san. Ini saya sudah buat chapter 2, silahkan dibaca.

Greengroophy : Hehehe Ichi emang setia.. Mudah-mudahan yang ini tamatnya ga ngegantung ya, ^^"

Dean B'-Kurosaki : Salam kenal juga. Chapter duanya sudah jadi nih, silahkan dibaca ^^

Yurisa-Shirany Kurosaki : Salam kenal Yurisa-san, makasih sudah RnR fic ini. Saya memang tidak berbakat membuat fic (apalagi fic yang panjang) *pundung*. Ini chapter duanya :)

Midori to Violet : Iya nih, endingnya ngegantung *pundung* Tapi sekarang saya udah bikin nih chapter duanya hehehe

Wint3r : Makasih Wint3r-san… Yosh! Semangat! *ditabok gara-gara berisik*, chapter dua udah jadi nih :)

Ruki Yagami : Iya, Ichi disuruh nunggu buat ngetes, Ichi setia ga ma Ruki hahaha *digampar Ichigo*. Saya bikin chapter duanya hehehe, silahkan dibaca.

Sekali lagi….

Tengkyu buat semuanya *kabur sebelum dilempar sandal gara2 berisik*