Makasaih ya buat yang udah pada baca dan review chapter yang sebelumnya.

SUMMARY: Anggota akatsuki di pecat? Bagaimanakah kehidupan mereka setelah keluar dari akatsuki?

Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei

Author : Sun Setsuna

Warning :Gaje,OOC,Typo Ancur

Don't like dont flame

Chapter 2 : Sasori the Cute boy

"Sasori... lagi apa ya dia? dia gak mungkinkan jadi polisi kayak itachi,.badannya kecil, dia juga bukan mantan Anbu" Pein terus memikirkan keaadan Sasori dalam perjalanannya.

.

.

.

"Ng..Apaan tuh rame-rame, ada pembagian makanan gratis kali ya?" Tanya Pein saat melewati taman yang di penuhi oleh kerumunan orang. Pein lalu menghapiri kerumunan orang-orang tersebut.

"Misi dong, gue mau lewat" Pein berusaha menerobos kerumunan orang yang di dominasi oleh perempuan tersebut.

"Ahh~~, enak juga ya desek-desekan diantara cewek-cewek kaya begini, hihihi" pikiran mesum Pein mulai lagi.

"Keren-keren"

"Ganteng banget sih tuh cowok"

"Manis nya..cute banget sih.."

"Seandainya aja gue bisa jadi cewek nya"

Ucap cewek-cewek tersebut. Yang pasti bukan untuk Pein. Mukanya dia kan ancur *author di rinnegan*

"Neng, mang lagi ada apaan sih, kok rame banget?" Tanya Pein ke cewek di sebelehnya. Saat ini dia masih berada di kerumunan bagian belakang, jadi dia gak bisa ngeliat keaadaan di depannya karena saking banyaknya orang.

"Masa gak tau sih. Itu lho, pemain Film yang saat ini lagi naik daun syuting untuk Film terbarunya. Judulnya klo gak salah, ng… 'NAGA BONENG JADI DUA'"

"Mang siapa namanya?" Tanya Pein penasaran.

"Namanya Akasuna no Sasori"

"WHAT!" teriak Pein kaget dengan mulut menganga.

"Biasa aja dong Mister, jangan pake kuah" cewek itu marah karena Pein teriak sampe berkuah. Coba sekalian sama isinya, pasti gak marah.

"Maaf maaf". Pein pun mengelap mulutnya. "Gila tuh Sasori, dah jadi artis ngetop ternyata. Gue mesti samperin nih, sapa tau aja gue bisa ikutan maen film". Pein lalu berusaha menerobos sampe kedepan dengan sekuat tenaga.

"Eh, apaan sih nih dorong-dorong" ucap cewek-cewek tersebut.

"Aw, siapa nih yang pegang pantat gue!" jerit salah seorang cewek sambil mencari-cari si pelaku

'Lumayan, hehehe' pikir Pein. Mang pinter banget tuh orang cari kesempatan. Sedikit lagi Pein sampai kedepan.

"Sasori lihat kesini!" teriak para fans di bagian depan sambil bersiap siap dengan kameranya masih-masing. Sasori yang saat ini sedang mengenakan kemeja berwarna putih dan sweeter berwarna merah pun menoleh dan menyapa mereka dengan hangat.

"Hai semua!" ucap Sasori ramah sambil mengangkat tangannya. Angin yang sedang berhembus menyibakkan rambutnya, membuatnya jadi tambah cute.

"AAA~~~" jerit para fans girl saat Sasori menyapanya.

Satu orang, tiga orang, lima orang langsung pingsan ditempat begitu mendengar kata singkat tersebut. Buat readers yang ngefans sama Sasori jangan ikutan pingsan ya. Sementara itu fans girl yang lain langsung mengambil foto Sasori.

Jepret..jepret..jepret..

Fans girl yang ada di belakang pun gak mau kalah dan berusaha maju kedepan biar bisa ikutan mengambil foto Sasori dari dekat.

"Wah.. klo begini terus, gmana gue bisa ngobrol sama dia nih? Padahal tinggal sedikit lagi" piker Pein yang terdesak oleh 'serangan' dari belakangnya itu. Pein mulai memikirkan sesuatu buat menyingkirkan fans-fans di depannya supaya Sasori bisa melihatnya dengan jelas. Setelah mendapatkan ide, Pein mulai melancarkan aksinya.

"ADA KECOA! ADA KECOA!" teriak Pein heboh dan membuat fans-fans yang di depannya pada menyingkir."Nah sekarang saatnya" pikir Pein.

"OI SASORI! INI GUE PAIN!" teriak Pein pake toa yang di colongnya dari petugas penjaga fans(?). Sasori pun menoleh karena mendengar suara (sumbang) yang sudah tidak asing baginya

'Leader?' batin Sasori.

"Mana kecoanya, mana?" Tanya salah seorang fans.

"Anu?ng?" pain gak bisa jawab.

"Kita diboongin nih, hajar" para fans pun mulai menghajar wajah Pein yang menurutnya tampan itu (hoek).

BAG..BUG..BAG..BUK..

"Pak sutradara, saya minta break sebentar ada teman saya datang" Sasori meminta izin pada sutradaranya.

"Oh, iya silahkan. Sebentar saja ya, setelah ini kita akan syuting scene selanjutnya"

"Terima kasih pak" Sasori lalu meminta bodyguard nya untuk mengeluarkan Pein dari kerumunan fans. Gak mungkin kan klo dia sendiri yang mengeluarkan Pein dari sana. Bisa-bisa wajah nya yang cute itu penuh denga bekas cubitan.

Pein pun berhasil dikeluarkan dengan wajah yang semakin tidak bisa dibayangkan.

Sekarang mereka tengah duduk berdua di tempat istirahat sasori.

"Fans lo gila Sas, hamper aja gue mati" ucap Pein sambil memegangi pipinya.

"Ya begitulah, mereka kadang-kadang suka nekat. Dulu aja pernah ada yang manjat ke kamar gue di lantai dua. Cuma pengen bilang met bobo doang katanya" ucap Sasori sambil menikmati minumannya. "Silahkan diminum leader" sasori mempersilahkan Pein minum. "Tapi enak juga sih, sekarang aku jadi terkenal di kalangan cewek" senyum sasori

"Trus, Deidara lo kemanain?" ejek Pein.

"Siaul, kapan gue jadian sama dia!" dengus Sasori.

"Hahaha bcanda. Critain dong Sas sampe lo bisa jadi artis kayak gini?"

"Ceritanya bgini...Jadi waktu leader mecat kami, gue dan anggota akatsuki yang lain pergi bersama sebagai pengembara. kami keluar masuk desa setiap hari. Karena-"

"Jangan dari situ ceritainnya, kejauhan. Gue dah denger yang bagian situ dari itachi. Ceritain aja pas bagian lo sendiri aja" Pein memotong cerita Sasori.

"Leader dah denger dari itachi ya. Ya udah gue ceritain pas bagian gue aja"

Flashback

"Boneka-boneka, siapa yang mau beli!" teriak pemuda imut, lucu, manis dan menggemaskan bernama Sasori yang lagi menjajakan Barbie nya di pinggir jalanan pasar. Dengan mengenakan kaos oblong berwarna merah dan celana pendek berwarna coklat. Dapet dari mana tuh (?). Sasori mulai menjajakan Barbienya.

"Barbie-barbie, siapa yang mau beli?"

"Berapaan de boneka nya?" Tanya seorang ibu-ibu.

"Tujuh puluh ribu" jawab Sasori

"Gak bisa kurang nih?" ibu-ibu itu nawar.

"Gak bisa bu, ini keluaran terbatas, ngedapetin nya susah loh"

" Begitu ya. Ya udah saya beli deh" ibu-ibu itu lalu mengambil uang seratus ribuaan dari dompetnya. Punya duit banyak kok masih nawar(?)

"Maaf bu, gak ada kembaliannya"

"Gak papa, buat ade aja" ucap sang ibu sambl tersenyum.

"Makasih banyak nih bu" ucap Sasori girang. 'lumayan 100.000 tapi kok gue gak tega ya ngejual Barbie-barbie ini' batin Sasori. Awalnya Sasori berniat menjual kugutsu-kugutsunya, tapi karena gak laku-laku akhirnya dia terpaksa ngejual Barbie-barbie kesayangannya.

"Boneka-boneka, siapa yang mau beli" Sasori kembali menjajakan bonekanya. Kali ini sebuah mobil sedan berwarna merah berhenti di sampingnya. Pengemudinya lalu membuka kaca mobil. Seorang wanita kira-kira 40 tahunan, dengan cat rambut berwana merah dan dandanan yang menggoda terlihat dari balik jendela.

"Bonekanya bu?" tawar Sasori sambil mengarahkan kepalanya ke jendela mobil.

"Jangan panggil ibu dong, panggil aja tante"

"I-iya tante"

"Nama kamu siapa?" tante itu mengedipkan matanya ke Sasori. (Readers: Kurang ajar nih tante-tante, berani-beraninya godain sasori gue)

"Sasori tante" jawab Sasori merinding

"Sasori, nama yang manis. Berapaan bonekanya Sasori?" Tanya nya.

"Tuju puluh ribu tante".

"Murah yah" jawab tante itu sambil mencari-cari uang dari dompetnya yang tebal. "Nih" ucapnya sambil menyerahkan uang seratus ribuaan. Sasori lalu menyerahkan boneka Barbienya dan mengambil uang tersebut. Saat ingin mengambil uangnya tangannya tertahan karena si tante memegang tangannnya.

"Ng?" Sasori bingung.

"Klo kamu di jual gak sayang?" ucapnya dengan genit.

Glek. Sasori meneplan ludah.

"Itu…."

"Tenang, klo urusan uang kamu gak usah khawatir. Nanti tante bakal kasih kamu satu juta. Gmna, mau gak ikut sama tante?" bujuknya.

"Ikut – Enggak – Ikut - Enggak" pikiran Sasori membuatnya bingung hingga ada suara "JANGAN IKUT!" yang membuatnya tersadar. Hei, siapa tuh yang ngomong?

."Ma-maaf tante aku tidak bisa"

"Gak bisa ya, sayang sekali…" ucapnya dengan nada kecewa.

Tiba-tiba tante itu menarik tangan Sasori dan mencium tangannya.

Cup.

"Dah sayang" ucapnya sambil melambaikan tangan kemudian kembali memacu mobilnya.

"Fuh..Hampir aja gue diperkosa tante-tante" ucap Sasori dengan wajah yang masih memerah.

.

.

.

"Boneka boneka, boneka Barbie, siapa yang mau beli? Sayang anak sayang anak" Sasori kembali menjajakan bonekanya. Gak lama kemudian sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti disampingnya dan membuka kaca jendelanya.

"Sayang anak om?" Sasori menyodorkan beberapa Barbie miliknya.

"Kamu mau yang mana sayang?" Tanya pria berbadan gemuk kepada anak nya di samping.

"Aku mau yang itu pa" ucap anaknya yang kira-kira berusia 8 tahun itu. Tapi bukan nya menunjuk ke boneka Barbie, dia malah menunjuk ke Sasori.

"Jangan dong sayang, masa kamu mau beli kakak penjualnya sih" bujuk sang ayah. Anak kecil aja doyan cowok ganteng. Sasori Cuma bisa tersenyum mendengarnya.

"Gak mau, aku maunya dia, aku maunya dia" anak kecil itu malah merengek.

"Iya sayang, tapi dia kan gak di jual" om itu berusaha menenangkan anaknya.

"Gak mau, gau mau…aku mau main sama dia, SEKARANG! Teriaknya.

"Baiklah, ayah akan bicara padanya. Anak muda, siapa namamu?" Tanya nya ke Sasori

"Saya Sasori"

"Ikutlah dengan ku Sasori"

"Bagaiamana ya?" ucap Sasori bingung.

"Kumohon Sasori, anak ini tak akan berhenti merengek padaku klo permintaannya belum dipenuhi"

"Tapi aku harus menjual boneka-boneka ini" Sasori memperhatikan bonekanya yang masih ada tiga buah.

"Akan aku beli semuanya"

"Baiklah klo begitu" Sasori pun setuju dan masuk kedalam mobil. Di dalam mobil anak kecil itu langsung meluk-meluk Sasori. Readers jangan ngiri ya, hohoho *author di lempar sandal*.

.

.

.

Tidak beberapa lama kemudian Sasori tiba di rumah pria tersebut.

"Kakak kakak, kita main dokter-dokkteran yuk" ajak anak itu sambil menarik-narik baju Sasori.

"Dokter-dokteran?"

"Iya, nanti aku pura-pura sakit dan kakak yang jadi dokternya dan meriksa aku".

'Ntar gue dikira Phedopil lagi' batin sasori

Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri mereka.

"Maaf tuan saya mengganggu anda, tapi ada masalah serius" ucap salah seorang yang sepertinya adalah anak buah om tersebut.

"Ada masalah apa?"

"Cover model majalah kita tidak bisa hadir tuan, katanya dia kecelakaan. Sedangkan majalah kita sudah harus siap terbit besok" Ternyata om tersebut adalah direktur sebuah majalah remaja yang berjudul 'He'

"Bagamana ini?" om. tersebut mulai terlihat panic

"Ayah ayah, bagaimana klo modelnya Sasori aja" ucap anaknya. Semua mulai melihat ke Sasori.

"Aku?" Sasori menunjuk dirinya.

"Kau sepertinya cukup tampan" om tersebut mengamati Sasori dari atas ke bawah.

"Segera dandani dia, dan katakan pada yang lain klo kita sudah mendapatkan model yang baru" seru om tersebut ke anak buahnya.

"Baik tuan, saya mengerti"

Flashback end

"Setelah jadi model, gue mulai mendapat tawaran untuk syuting film. Saat ini aku sudah membintangi lima judul film leader".

"Hebat bener lo Sas" Pein kagum mendengarnya.

"Tau gak leader.." Sasori ingin membisikkan sesuatu ke Pein.

"Apa?"tanyanya penasaran.

"Gue pernah dapet tawaran buat maen film panas"

"UAPAA" Pein kaget mendengar hal yang selama ini dia impi-impikan. Dasar leader mesum

"Trus lo terima?" tanyanya penasaran sambil terus membayangkan adegan Sasori dengan cewek-cewek seksi itu.

"Engak" jawab ssori enteng.

"Bego lo! kenapa gak diterima!"

"Klo leader mau nanti aku kasih tau ke sutradaranya"

"Beneran lo Sas?" Tanya Pein menggebu-gebu.

"Beneran lah, masa gue bohong" jawab Sasori tegas.

"Jadi ceritanya bgini….." Sasori mulai menjelaskan.

"Heem" ucap Pein nafsu.

"Ceritanya nanti leader ke hutan…"

"Wah, syutingnya di hutan, kayak tarzan nih, keren" Pein makin semangat.

"Leader kehutan..trus nyelametin anak monyet yang terperengkap saat kebakaran hutan, gimana mau gak?hahahahaha" Sasori tertawa cekikikan melihat wajah Pein yang dari tadi nepsong ternyata cuma buat nyelametin anak monyet doang.

"Sialan lo! katanya film panas" Pein kesal.

"Kebakaran kan juga panas leader,hahaha" ejek Sasori.

"Huh.." dengus Pein kesal. Mangkanya otak jangan ngeres. "Sas, lo tau kabar akatsuki yang lain gak?"

"Gue taunya itachi sama deidara doang"

"Klo itachi gue dah ketemu kemaren, Deidara aja dah"

"Nih" Sasori memberikan alamat Deidara.

"Sasori! Kita mau syuting lagi nih" teriak sang sutradara.

"Udah dulu ya leader, gue dah di panggil nih"

"Iya deh, kapan-kapan maen ya ke markas"

"Klo gak sibuk ya!" teriak Sasori yang mulai menjauh.

"Selanjutnya ke tempat deidara. Tempat apaan ini ya?" Pein mengamati alamat yang di berikan Sasori." Jangan-jangan tempat…"

TBC

A/N

Makasih ya buat yang udah pada review chapter sebelumnya yamg kebanyakan bilang "gak pake titik",hahaha. Maklum anak bau kencur. Jamu kali kencur(?)

Jangan lupa review lagi ya*plak*.hehehe…sekalian aku juga mau promosiin fic kedua ku yang judulnya kumpul bareng