Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto.

Author: Hakuya Debora.

.

.

Maafkan aku, Gaara...

..

..

Hn.

..

..

Kau hanya jadi...

... pelampiasan sakitku...

..

..

Hn.

..

..

Aku masih mencintai dirinya...

..

..

Bohong!

.

.

PILIHAN

.

.

Rintik-rintik hujan membasahi desa Suna, udara dingin beserta semilir angin mulai menusuk di kulit. Waktu sudah memasuki musim gugur, saat-saat di mana biasanya bunga-bunga gugur.

Di sanalah kedua insan itu berdiri. Berpadu kasih sayang, berpadu kehangatan. Tidak peduli dengan hujan deras maupun semilir angin yang menusuk kulit, mereka berdiri, merentangkan kedua tangan, saling memeluk dengan penuh kasih sayang.

Mereka berbagi pelukan, senyum, bahkan tangis. Seperti yang keduanya lakukan saat ini. Mereka... menangis. Kedua insan yang berlawanan jenis.

Sang gadis terpaku dengan pelukan hangat sang pria. Tidak membalas, tetapi tidak menolak. Begitu juga akan rasa cintanya, tak dibalas namun tak ditolak.

Sang gadis tampak terhanyut dalam suasana. Air mata masih terus mengalir dari kedua emerald indahnya. Cairan bening pertanda kesedihan itu mulai merembes di pakaian sang pria. Sakura –nama gadis itu- terisak dalam diam di pelukan pria tersebut.

"Maafkan aku, Gaara-kun..." matanya menutup, berusaha untuk tidak lagi mengeluarkan bulir-bulir air mata itu.

"Hn. Aku mengerti, Sakura," sang pria –Sabaku no Gaara, sang Kazekage- kini memeluk dengan erat gadis di depannya. Dia berusaha menyampaikan betapa besarnya cintanya, berusaha menyampaikan betapa dirinya sangat tidak ingin melepasnya. Namun, sepertinya hal itu sia-sia.

Pelukan itu begitu hambar di mata sang pria. Walaupun dia sudah berusaha untuk menyampaikan bahwa dirinya mencintai gadis itu, tetap saja. Gadis itu tak merespon. Gadis itu hanya menangis dalam diam di dadanya.

Pria itu berdehem. Lelah akan kepura-puraannya untuk selalu tegar, pria itu juga meneteskan cairan bening dari kedua bola mata jade-nya. Walaupun tidak mendengar isakannya, Sakura tahu kalau pria itu juga menangis. Tetesan air matanya membasahi pucuk kepala Sakura. Sakura mendongak.

"Jika, dia lebih dariku, aku bisa terima. Tapi, bila kau tak temukan bahagia, kau harus bisa terima. Jangan kembali..."

Sakura menelan ludahnya pahit-pahit. Pria di depannya ini, secara tidak langsung telah memberikan Sakura ancaman. Gaara, pria yang telah memberikannya cinta selama dua tahun belakangan ini, kini sedang menangis di depan matanya sendiri. Bedanya, hanya setetes air mata yang bisa dikeluarkan Gaara. Setetes.

Pria itu memejamkan kedua matanya. Tangannya mulai merenggang dari pinggang sang gadis. Nafasnya yang tadinya memburu, lama-kelamaan mulai normal.

Sakura merasa pelukan mulai mengendur. Gadis itu perlahan menjauh dari sang pria. "Sekali lagi, maafkan aku, Gaara-kun."

"Hn," tangan Gaara dengan cepat menarik tubuh Sakura untuk kembali di dekatnya. Sang gadis spontan membelalakkan kedua bola matanya karena terkejut. Namun, sepertinya keterkejutan tersebut tidak lagi menghantuinya, kehangatanlah yang dirasakannya sekarang. Perasaan hangat di pucuk kepalanya, ketika bibir tipis itu bersentuhan dengan pucuk kepalanya. Sang pria mengecupnya pelan, menyisakan kenangan yang tak ternilai.

"Maaf untuk itu," sambung Gaara cepat. Pria itu tersenyum tipis –atau lebih tepatnya kaku. Dan inilah kalimat yang sudah dia pelajari selama berhari-hari.

"Kau... boleh pergi, Sakura."

Hanya sebuah kalimat singkat yang terdengar kaku. Walaupun singkat, namun itu pertanda bahwa Gaara memutuskan untuk melepas gadis di depannya ini. Membiarkan gadis itu mencintai pria lain, membiarkan gadis itu tetap berada di jalannya. Sekali lagi, dan membiarkan gadis itu kembali ke peraduannya.

Di garis yang –mungkin- telah ditetapkan Tuhan untuknya, bersama Uchiha Sasuke.

.

.

"Jika, dia lebih dariku, aku bisa terima. Tapi, bila, kau tak temukan bahagia, kau harus bisa terima. Jangan kembali..."

.

.

Rintik-rintik hujan berangsur-angsur berhenti. Petang mulai menjemput, matahari pun menyembunyikan dirinya. Langit mulai kecoklatan, efek keindahan alam terlihat. Matahari yang tenggelam membuat suasana hening itu menjadi hangat.

Di sanalah, dua insan berlainan jenis berjalan dengan agak terburu. Keduanya berpegangan tangan, seakan tidak mau terpisah.

Gadis berambut merah muda dengan mata emerald yang indah itu tampaknya sudah mulai lelah, terbukti dari nafasnya yang sudah terengah-engah. Bagaimana tidak? Dia sudah berjalan dengan langkah terseret-seret dari Desa Suna –yang notabene memiliki gurun pasir yang luas sebagai penghubung dengan desa lain.

Pria di sampingnya –Uchiha Sasuke- tampaknya sudah mulai menyadari gerak-gerik sang gadis –Haruno Sakura. "Kau bodoh, Sakura," gumamnya pelan.

Sang gadis di sebelahnya mendelik, "Apa maksudmu?"

"Kau menolak tawaran Gaara tadi."

Mendengar nama itu, Sakura menunduk sedih. Entah kenapa masih ada rasa bersalah yang tersisa –walau hanya setitik. Ia takut bila dirinya akan dibenci sang Kazekage terhormat itu.

"Entahlah... Aku sudah terlalu banyak merepotkannya..."

Termasuk merepotkan dalam soal cinta, lanjutnya dalam hati.

Memang, Uchiha Sasuke masih belum mengetahui bahwa Sakura dan Gaara pernah menjalin hubungan yang cukup lama. Dua tahun menyakitkan yang harus dia lewati dengan mengejar Itachi yang diakhiri dengan kesia-siaan.

"Sakura, jika aku sampai saat ini belum kembali, akankah kau terus menungguku?"

"Aku akan selalu menunggumu dalam hati, Sasuke-kun..." Walaupun dalam fisik tidak, tambahnya dengan miris –dalam hati tentunya.

"Terima kasih, Sakura..." pria itu menarik kepala Sakura agar lebih dekat dengannya, mengecup sekilas pucuk kepala Sakura. Sensasi lembut yang dingin langsung menyentuh kulit Sakura, walaupun secara tidak langsung dia masih menyukai sensasi ketika Gaara mengecupnya.

Sasuke baru pertama kali mengecupnya. Dan kecupan hangat itu benar-benar menyadarkan Sakura dari kenyataan telak bahwa dirinya telah menjadi milik Sasuke –bukan Gaara.

Mungkin aku harus menyesuaikan diri…

Mampukah?

Kuharap...

.

.

To Be Continued

Just wait for a new chapter.

Debo's note : Aaah, akhirnya chap ini selesai juga. Pendek kan? Yep. Sengaja dibikin pendek-pendek, malas ngetik sih, :3 Eerr fict ini hasil beta-ed oleh AnnaYuki. Bisa bayangkan, PM-nya saja lebih panjang daripada chapternya #plak Tapi, thanks ya kak buat perhatiannya. ;))

Errr, kemungkinan besar endingnya bakal jadi GaaSaku, kenapa? Karena saya sudah jatuh cinta pada pairing ini! Peeewww~ tapi ga tau juga sih, belum jelas. :p

Dan mau saya tegaskan lagi, fict ini dipublish di sini karena di akun saya tidak bisa mempublish chapter. Ga tau deh, kenapa -_-"