F L O W E R B O Y S
By ShiroSiAnjingPutih
Full Summary:::
Apa jadinya jika, BBF tanpa Jang Di, Meteor Garden tanpa San Chai, Hana Yori Dango tanpa Makino Tsukushi?
Saat keempat lelaki paling Hot satu sekolah, membentuk grup berandal bernama F4 dan mengacau, karena merasa punya kekuasaan.
Tetapi dibalik semua gemerlap dan kesan 'bad boys' yang mereka tunjukkan, sebenarnya, apa motivasi mereka melakukan semua ini?
Lalu, kenapa pula empat pribadi yang sangat berbeda itu bisa bergabung menjadi satu grup?
Dan, apa yang akan terjadi jika, cinta terlarang bersemi di antara mereka?
AU, NARUTO VERSE, YAOI, Rated-M! Highschool, Angst, Humor, Drama, Romance, Crime!
Disclaimer::::
Masashi Kishimoto-sensei and Co.
Chapter-1 Morning all!
Salju pertama, yang ia bisa rasakan hanyalah dingin dan membekukan, terlalu putih serta berhamburan di mana-mana. Ia tidak bisa menyukai kristal es ini, meski orang-orang banyak mengagumi. Ia bahkan tidak mengerti kenapa, Tuhan menciptakan musim dingin.
"Ffuhh..."
Mata birunya pelan-pelan meredup, membiarkan kelopak turun, dan mengikuti rasa kantuk yang dari tadi menghinggapi. Namun, saat suara jam beker berseru di sepinya pagi, mau tidak mau, ia memaksa diri untuk bangun.
"Sial..."
Uzumaki Naruto, yang ia benci selain salju, adalah bangun.
F L O W E R B O Y S
Bagi Uchiha Sasuke, pagi hari, adalah waktunya untuk jogging dan membesar otot. Membiarkan dadanya bertelanjang, ia akan memutari lapangan luas di belakang rumah dari jam lima sampai jam tujuh pagi. Lalu akan dilanjutkan dengan mengangkat barbel, setelah latihan bertahun-tahun, ia mampu mengangkat beban sampai 115 kg (dua kali berat badannya).
Baik di cuaca bersalju ataupun hujan gerimis. Ia sama sekali tidak mempedulikan musim, tujuannya hanya satu, yakni melampaui kekuatan sang kakak, Itachi.
"Oi, Sasuke."
"Kiba?"
"Pagi."
"Apa yang kau lakukan sepagi ini, di rumahku?"
"Sarapan?"
"Fuck..."
Sasuke mengelap peluh di sekitar leher, dengan menggunakan kaos yang sempat ia kenakan semalam. Melempar pandangan ke arah Kiba, yang tengah menikmati sarapan di atas ranjangnya, ia tidak mengerti kenapa si pencinta anjing itu, masih saja suka menginap di rumah orang ketimbang rumah sendiri.
"Bagaimana kalo, kita jemput Shikamaru terus ke rumah si Blondie, aku bertaruh dia pasti masih tidur sekarang." Seru Kiba berapi-api, menyelesaikan gigitan terakhir sandwichnya, ia berdiri dan segera mengenakan baju ganti dari lemari Sasuke.
"Hei! Dog-breath! Jangan sembarangan buka lemari orang! Aku mau-mau saja, pergi ke tempat si dobe, tapi kau yang nyetir!" Sasuke melempar kunci mobilnya ke arah Kiba, dan ditangkap dengan mulus, "Panasi dulu!"
"Oke!" pemilik nama lengkap, Inuzuka Kiba itu, menghilang di balik pintu, hanya langkah kakinya yang terdengar menjauh.
Menggelengkan kepala, Sasuke memutuskan untuk mandi.
F L O W E R B O Y S
Mengecek seberapa dalam kantung mata di wajahnya, Nara Shikamaru, menatap bayangan diri di cermin sambil menghela nafas. Ini malam ketiga, ia harus begadang karena masalah wanita, dan ia tidak bisa mengerti kenapa ia masih saja menyukai makhluk mengerikan itu.
"Ahh... Sial."
Lagipula, bukan ia yang membuat wanita-wanita itu jatuh cinta padanya. Wanita bersuami pula! Ahh... dunia ini memang kejam.
Setelah mandi dan berpakaian, ia menyusun beberapa kartu uno hingga mencapai tingkat lima membentuk rumah besar. Menghitung detik-detik sesuai waktu di jam dinding, ia tahu sudah saatnya, dua pencinta keonaran itu akan menjemput sebentar lagi.
"Shikamaru-sama! Inuzuka-sama dan Uchiha-sama, datang menjemput anda." Seorang pelayan memberitahukannya lewat telepon.
Tersenyum kecil, ia berjalan ke arah meja kecil di samping ranjang, mengerluarkan sebungkus dunhill, dan pematik api. "Oi, siapkan roti bakar, pakai selai jeruk dan teh hijau, masukan dalam kotak makanku. Cepat! Aku ingin semua selesai, saat aku tiba di bawah!" Shikamaru berkata dingin melalui telepon, yang tersambung ke bagian dapur.
"B-baik!"
Membakar sebatang rokok yang terapit di kedua bibir, ia berjalan ke arah lift pribadi di sisi kamarnya. Kenapa harus repot, naik-turun tangga, saat kau punya cukup uang untuk membuat lift?
Dunia ini memang tidak adil.
F L O W E R B O Y S
"Bangun! Oi dobe! Bangun!"
Tentu saja, Sasuke punya kunci cadangan rumah Naruto. Ia tidak mau lagi mendobrak pintu, saat menyadari bahwa tempat ini kebakaran dan si dobe masih tertidur pulas.
Dan untuk Naruto, tadinya ia sudah mandi dan berusaha membuka mata dan Sarapan, namun tiba-tiba saja ia melihat sofa di samping meja makan menggoda mata. Dalam sekejab, dengan rambut basah dan hanya mengenakan boxer, ia tertidur nyenyak.
"Hah? Apa? Jangan... ugh, ramen..." ia meracau dalam tidur.
Kiba tertawa sembari berjongkok, tangannya menjulur dan menekan-nekan pipi si blondie. Sementara Shikamaru, dengan kotak makanan menghampiri meja makan, mengeluarkan isinya dan ia letakkan di atas meja, ia tahu benar, Naruto pasti hanya makan sereal pagi ini.
Mereka bertiga tahu, jika, mereka tidak datang tiap pagi, dan membangunkannya dari tidur, Naruto tidak akan pernah bangun.
Sambil mengumpat pelan, Sasuke menarik tubuh Naruto dan membuatnya duduk meski masih setengah tidur. "Hah... Dobe..." namun tangannya bergerak ke arah handuk di atas sofa, dan menggosok-gosokkan handuk ke kepala Naruto.
"Aku merasa seperti babysitter... mending kalo digaji!" umpatnya.
"Halah... Kau cebok saja, pake duit." Olok Kiba, yang membawa beberapa pakaian di tangan.
"Hah... Mendokusei..." lirih Shikamaru, membakar rokok ketiganya di pagi ini.
Pagi hari, bagi mereka, mungkin penuh ritual berbeda, namun kebersamaan ini, tidak lagi terpisahkan.
Mungkin mereka kesepian, dalam gelimang harta.
Atau mungkin, mereka hanya, saling membutuhkan.
F L O W E R B O Y S
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
Yaoinya belum keliatan... Lemon? Apalagi... Gue kurang pede bikin begituan, dan gue ngerasa bukan hal yang tepat untuk lemon sekarang.
So~ 31 review... YAY! Gue bahagiaaa bgt! Lol.
Apa gara-gara summary-nya? Ato karena fic gue emang bagus? Lebaaiiii... XP
Yang buat kalian pengen baca?
Hmm... I wonder...
