Hai minna.. yuuki dateng lagi nih dengan fic baru.. ok sekarang lebih baik saia ga usah banyak omong kita langsung aja yah... Ok Happy reading and RnR please...
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: OOC,AU, dll..
LIGHT IN THE DARKNESS
Previous
NARUTO POV
'Aku harus ke tempat itu, tempat dimana sejak tiga hari yang lalu aku melihat gadis berambut indigo itu duduk dengan membenamkan wajahnya. Dan selalu membuatku memimpikannya.. '
Chapter 2
FLASHBACK
Aku melihatnya tanpa sengaja tiga hari yang lalu. Saat dimana matahari sedang berada diatas kepala, menyinari bumi dengan sinarnya membuat suhu udara menjadi naik. Aku bergegas pulang kerumah dengan berjalan kaki namun, aku rasa lebih cepat melewati jalan pintas dibandingkan dengan melewati jalan yang biasa kulalui . Lalu kuputuskan untuk melewati jalan pintas yang berbatasan langsung dengan sungai. Aku melewati jalan disamping sungai itu, terus melangkah dengan cepat karena hari sudah semakin terik dan rasanya aku ingin sekali ingin cepat sampai di rumah, mungkin karena sudah lelah sehabis latihan basket di sekolah. Namun kakiku mendadak berhenti setelah mendengar suara seseorang sedang menangis terisak di balik semak-semak di dekat sungai. Kucoba memberanikan diri mendekat ke arah sungai, mencoba melihat apa yang terjadi dari balik pohon yang cukup besar. Terlihatlah seorang gadis berambut panjang berwarna indigo yang juga sedang duduk di bawah pohon lain yang tak kalah rindang. 'Apa yang ia lakukan disana' pikirku. Besoknya saat pulang sekolah aku berencana untuk pergi ke tempat itu lagi, tempat dimana kemarin kulihat seorang gadis yang sedang menangis terisak di bawah pohon. Dan ternyata benar kali ini ia sedang berada di bawah pohon itu lagi sama persis seperti kemarin kulihat, dia masih tetap membenamkan wajahnya. Tapi kali ini aku melihat sebuah buku berwarna ungu muda tergeletak tepat disampingnya, yang sepertinya itu adalah buku harian miliknya.
End FLASHBACK
'Aduh apa yang harus aku lakukan sekarang aku makin penasaran dengan gadis itu siapa dia sebenarnya? Apa lebih baik aku mendekatinya saja ya,' pikirku. Dan tanpa aku sadari kakiku bergerak maju mendekati gadis itu, gadis yang kulihat sejak tiga hari yang lalu itu, gadis yang selalu membuatku terus saja memikirkannya. Aku berjalan mendekatinya perlahan berusaha agar tidak menimbulkan suara sedikitpun. Takut-takut jika gadis itu ketakutan akan kehadiranku dan pergi begitu saja sementara aku belum mengenalnya. Setelah aku berada tepat dsampingnya, aku pun duduk memandanginya lekat-lekat memandang rambut indigonya yang panjang terurai. Namun sepertinya ia tak mengetahui akan keberadaanku sekarang yang berada disampingnya, itu mungkin karena ia kini sudah tenggelam dan larut akan kesedihannya saat ini. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan sekarang namun sepertinya ia sangat terlihat sedih. Mungkin lebih baik aku memberanikan diri untuk memulai percakapan ini.
"Hai.." ucapku sedikit takut. Tiba-tiba gadis itu berhenti menangis setelah mendengar suaraku. Mata sapphire ku bertemu dengan mata amethtstnya yang indah. Saling bertatap muka satu sama lain. 'Manis,' pikirku. Ya, manis itulah kesan pertamaku saat melihat kedua bola matanya yang indah itu juga saat melihat wajahnya yang lembut bagaikan perman kapas yang biasa kumakan. Walaupun ia terlihat sehabis menangis tapi tetap tak bisa dipungkiri jika saat pertama ku melihat wajahnya begitu membuatku terpesona karena wajahnya yang menawan. Ia masih sesegukan, mungkin karena ia sudah lama menangis. Matanya pun sedikit membengkak dan masih terlihat olehku jejak-jejak air mata yang masih membekas di pipi pucatnya. Tak begitu lama ia menatapku, ia langsung memalingkan wajahnya dan mengusap air mata di pipinya.
NORMAL POV
"H.. Hai, apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Naruto yang masih agak canggung.
"..." Belum ada jawaban dari orang yang ia tanyai.
"Baiklah.. perkenalkan namaku Naruto. Naruto Uzumaki," ucapnya dengan cengiran khasnya, memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil mengulurkan tangannya.
"Na-na-mku.. Hiks.. Hi-Hinata. Hyuuga Hinata hiks," Hinata yang masih dengan sesegukannya mencoba mengulurkan tangannya.
Setelah percakapan yang sangat singkat itu, mereka terdiam. Suasana menjadi hening, tidak ada satupun dari mereka yang memulai percakapan lagi. Sekarang yang terdengar hanyalah suara air sungai yang mengalir dengan tenangnya. Gadis itu pun sepertinya sudah mulai tenang, juga sesegukannya sudah mulai menghilang, ia menengadahkan kepalanya memandang hamparan langit biru yang terbentang luas, mengamati awn-awan yang bergerak dengan perlahan. Sampai sebuah suara mengalihkan perhatiannya.
"Hinata-chan.. boleh kutanya sesuatu padamu?" pemuda berambut pirang yang berada disampingnya itu memecah keheningan yang sudah sejak tadi tercipta di antara keduanya.
"Hm.. i-iya Naruto-san,"
"Jangan memanggilku seperti itu dong,"
"maksudmu?" tanya Hinata tak mengerti maksud dari ucapan Naruto karena menurutnya ia tidak salah dalam pengucapannya.
"Maksudku jangan memanggilku dengan suffix san, bagaimana jika kau memanggilku dengan Naruto-kun saja. Yah.. agar terdengar lebih akrab begitu,"
"I-iya Naruto.. kun.." jawab Hinata mengikuti perintah Narutodan membuatnya menampilkan semburat merah di wajah manisnya. "Oh ya tadi kau mau bertanya apa Naruto-kun?"lanjutnya.
"Sebenarnya... sebenarnya sejak tiga hari yang lalu aku selalu melihatmu berada disini dan sepertinya setiap kali aku melihatmu, kau sepertinya sedang menangis. Sebenarnya ada masalah apa? Boleh kutahu masalahmu? Ceritakanlah padaku, mugkin bisa membuatmu lebih lega," jelas Naruto.
"Oh itu.. tidak kok... tidak ada masalah apa-apa," jawab Hinata yang kemudian kembali menatap awan-awan yang bergerumul di langit. Namun, hati kecil Naruto berkata lain seolah-olah ia tahu apa yang Hinata pikirkan, karena ia menangkp sinyal-sinyalkebohongan dari Hinata yang ia lihat dari sorot mata yang Hinata pancarkan.
'Seperti ada yang ia sembunyikan,' pikirnya. "Ayolah Hinata... jangan membohongiku. Sekarang kan kita berteman.."
'DEG' Hinata kaget mendengar kata-kata yang barusan Naruto lontarkan, seakan tidak percaya bahwa kini ada yang menganggapnya sebagai seorang teman. Kini matanya sudah mulai berkaca-kaca, terlihat air mata menggenang di pelupuk matanya. Kemudian dengan perlahan air itupun jatuh dengan sendirinya, membasahi pipinya untuk kesekian kalinya. Tapi, air matanya yang jatuh kali ini bukanlah air mata kesedihan yang selalu ia keluarkan, namun sebaliknya air matanya kali ini adalah air mata bahagia. Bahagia karena kini ia sudah mempunyai seseorang yang mampu mengisi hari-harinya dengan tawa, mempunyai seseorang yang mau menganggapnya sebagai seorang teman, karena kini ia sudah menemukan seseorang yang ia tunggu-tunggu yaitu seorang teman yang mau mengerti akan perasaannya.
"H..hei Hinata ada apa? Jangan menangis.. kumohon... Apa ada yang salah dengan perkataanku barusan? ucap Naruto panik, melihat reaksi Hinata.
"Ti-tidak Naruto-kun, tidak apa-apa,"
"Lantas mengapa kau menangis lagi?"
"A.. Aku hanya merasa bahagia karena ada seseorang yang mnganggapku sebagai teman." Naruto hanya bisa terperanah ditempat sambil memandang Hinata, tidak mempercayai apa yang barusan Hinata katakan.
"Kau tahu Naruto-kun, mengapa aku menangis? Yah.. mungkin kini kau juga sudah dapat menduganya kan.. Ya, itu karena aku kesepian." Naruto semakin tidak percaya akan apa yang Hinata katakan barusan karena menurutnya Hinata adalah seorang gadis yang baik, ramah, juga manis. Tidak mungkin jika ia tidak mempunyai teman.
"Hah.. maksudmu?"
"Ya aku kesepian Naruto-kun.. tidak ada yang mau bermain bersamaku, tidak ada yang ingin berteman denganku, tidak ada yang menganggapku, tidak ada yang menyayangiku. Kau tahu Naruto-kun, jika aku dilahirkan kembali ke dunia ini aku ingin sekali menjadi sebuah pohon,"
"Pohon?"
"Ya pohon, karena pohon selalu memberikan kesejukan pada semua orang dengan cara memberikan oksigen yang ia miliki, dengan begitu ia akan selalu dibutuhkan.. Seperti aku yang selalu merasa ingin dibutuhkan.. Pohon juga selalu kuat terhadap angin, walaupun angin terus enerus menerpanya... namun ia masih tetap bisa bertahan," ucap Hinata sendu yang masih menatap lukisan biru yang berada diatasnya.
'Seperti itukah kesulitan yang ia hadapi selama ini,' batin Naruto. "Sudahlah Hinata-chan jangan sedih lagi ya.." Naruto berusaha membalikkan tubuh Hinata agar ia bisa berhadapan dengan Hinata, kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Hinata, mengusapnya pelan dengan ibu jarinya untuk menghapus air mta yang membasahi pipinya. "Aku yakin banyak orang yang menyayangimu Hinata-chan... termasuk aku, jadi jangan menangis lagi ya... Hehehe,"lanjutnya yang masih menatap lurus wajah Hinata sambil memperlihatkan cengiran khasnya.
Hinata yang menyadari bahwa Naruto kini masih memegang kedua pipinya, seketika itu pula wajah Hinata berubah merah yang membuatnya mirip seperti kepiting rebus dan dengan cepat ia membalikkan tubuhnya seperti posisi semula.
"Gomenne Hinata-chan," ucap Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu.
"Ti-tidak apa-apa Naruto-kun," ucap Hinata yang terbata-bata dengan wajah yang memerah.
"Kalau begitu sekarang tersenyumlah, kau pasti terlihat manis jika kau tersenyum." Hinata pun menuruti kata-kata Naruto barusan, ia berusaha untuk tersenyum walaupun terlihat sedikit dipaksakan.
"Nah begitu dong, ternyata benar dugaanku kau terlihat lebih manis jika tersenyum seperti itu." Naruto menatap wajah Hinata yang tertunduk, ia memperhatikan seragam yang dikenakan oleh Hinata. 'Sepertinya... seragam yang ia pakai itu tak asing lagi bagiku.. warnanya... ya aku tahu,' "Hmm.. Hinata-chan apa kau juga bersekolah di KHS juga?" tanya Naruto menyelidik.
"E.. eh i-iya Naruto-kun,"
"Wah berarti kita satu sekolah ya Hinata-chan.. Kau kelas berapa kok aku tidak pernah melihatmu ya,"
Hinata mamperhatikan seragam yang naruto kenakan. Sepertinya ia juga mengenal seragam itu, dan ia baru menyadari bahwa dirinya dan Naruto ternyata satu sekolah.
"I..Iya ya Naruto-kun aku baru menyadarinya kalau kita satu sekolah, ya kau tidak pernah melihatku karena aku jarang sekali keluar kelas'" jelas Hinata. Aku kelas XI B kalau Naruto-kun kelas berapa?"
"Aku kelas XI D, kalau begitu besok aku mau main ke kalasmu boleh,"
"Bo-boleh saja Naruto-kun.. Eh, sudah siang sebaiknya kita pulang Naruto-kun... aku takut jika otou-san mencariku, jaa Naruto..." Hinata berdfiri mengibas-ngibaskan rok sekolahnya lalu pergi meninggalkan Naruto sambil melambikan tangannya.
"huh dasar... ok kalau begitu aku juga pulang ah.." Naruto pun berdiri melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu. Namun ia berhenti memandang sebuah benda di samping tempatnya duduk tadi. Ternyata ia melihat buku berwarna ungu muda yang tidak lain adalah milik Hinata. "Ckckck.. ternyata Hinata lupa membawa bukunya, ya sudahlah biar aku kembalikan bukunya besok di sekolah," ucap Naruto seraya pergi dari tempat itu.
TBC
Gimana...? Gimana...? Chapter ini apakah ada peningkatan dari chapter yang kemarin?
oke lah.. yuuki hanya minta kritik dan saran kalian tentang fi ini apakah jelek? deskripnya kurang ya... atau ga nyambung...?
ya yuuki akui itu bahwa yuuki memang lemah dalam hal deskrip =.=" dan gomen kalau masih ada misstypo ya..
Ok! kritik dan saran akan sangat membantu, maka dari itu review pleaseee...
Arigatou n_n
