Hai semuanyaaa *tereak pake toa sekolah* lama gak ketemu yakh.. hehe pasti kalian pada kangen ma yuuki kan?#dirajam

Sebelumnya saya minta maaf kerena telah menelantarkan fict-fict saya hampir satu tahun, tapi berhubung saya kangen ma kalian semua dan juga saya ingin kembali berkiprah di dunia per fanfiction-an ini jadi saya kembali lagi kesini yeyy! Ok lah sepertinya saya sudah kebanyakan bacot yakh *readers: Iya!* Ok ok kita mulai sekarang..

Naruto© Masashi Kishimoto

Light In The Darkness© Kimochi no Hyuuki-chan

Warning: OOC, Gaje, AU, Typo(s), dan yang pasti abal, aneh dan masih banyak lagi kekurangan di dalam fict ini

Genre: Friendship, Romance, and Hurt/comfort (maybe)

DON'T LIKE, DON'T READ!

Happy reading all...

Previous

Naruto pun berdiri melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu. Namun, ia berhenti memandang sebuah benda di samping tempatnya duduk tadi. Ternyata ia melihat buku berwarna ungu muda yang tidak lain adalah milik Hinata. "Ckckck.. ternyata Hinata lupa membawa bukunya, yasudahlah biar aku kembalikan bukunya besok di sekolah," ucap Naruto seraya pergi dari tempat itu.

Chapter 3

"Aduh bagaimana ini? Otou-san pasti akan marah besar jika tahu kalau aku baru pulang," runtuk Hinata.

Langit yang semula berwarna biru cerah makin lama makin memudar digantikan oleh cahaya keemasan. Sebagian lampu-lampu penerang pun sudah dinyalakan. Gadis berambut indigo itu terus menerus mempercepat langkah-langkah kaki kecilnya. Menapaki jalanan yang sudah semakin sepi. Di pikirannya saat ini hanyalah bagaimana caranya agar ia dapat sampai ke rumah dengan cepat dan berharap agar tidak diketahui oleh sang ayah.

Setelah beberapa menit kemudian ia telah sampai di depan sebuah rumah yang bisa dibilang cukup mewah dengan arsitektur ala jepang kuno yang dipadukan dengan arsitektur modern. Mematung, itulah yang gadis itu lakukan saat ia sampai di depan gerbang rumah mewah itu. Bukan karena ia takut dan bukan pula ia ingin memata-matai rumah tersebut. Karena tentu saja itu adalah rumah keluarganya berada, hanya saja ia takut kalau-kalau ia bertemu dengan pemilik mata yang sama dengannya hanya saja ia lebih tua darinya yang tak lain dan tak bukan adalah Hyuuga Hiashi, ayahnya. Ayah yang sangat ia sayangi, seorang yang sangat ia hormati, dan juga seorang ayah yang tidak menginginkan keberadaannya.

Dengan langkah yang sangat perlahan namun pasti, ia melangkahkan kakinya satu demi satu. Memasuki rumah dengan interior yang terlihat elegant. Belum sampai ia menaiki satu anak tangga yang akan membawanya ke kamar dimana ia akan mengistirahatkan tubuhnya karena aktifitas hari ini, gadis lavender itu dikejutkan oleh sebuah suara berat yang ditanggap oleh indera pendengarannya.

"Dari mana saja kau?"

DEG. Ucapan yang berwibawa namun terlihat seperi ingin menginterogasi. Seketika itu juga tubuhnya seperti membatu ditempat. Degup jantungnya memacu dengan sangat cepat sehingga ia pun dapat mendengar detak jantungnya sendiri. Dengan gerakan slow motion ia gerakan kepalanya ke sumber suara yang telah mengejutkannya.

"O-otou-san.." Jawabnya dengan kepala tertunduk. Kini gadis bermata amethyst itu tidak dapat berkata apa-apa lagi, hanya jawaban itu yang dapat terlontar dari bibir mungilnya. Karena ketakutannya, sampai-sampai ia harus menelan ludahnya sendiri bekali-kali.

"Dari mana kau!" tegas pria paruh baya yang memiliki mata persis dengan Hinata. Memandang gadis itu dengan tatapan yang sangat tajam. Dan dengan penuh wibawa, ia berjalan mendekati gadis kecil itu. Betapa tidak, mulut Hinata kini terasa kelu meski untuk mengucapkan satu patah kata sekalipun. Entah apa yang ingin dilakukan kepala Hyuuga itu kepadanya. Mungkin, kali ini Hinata hanya bisa pasrah menanti apa yang akan dilakukan oleh kepala keluarga Hyuuga itu.

PLAK. Sebuah ucapan 'selamat datang' yang amat manis mendarat di pipi mulus gadis Hyuuga itu. Memang, itu sudah biasa Hinata terima namun rasanya sungguh sangat manyakitkan. Selang berapa menit kemudian ia pun bergegas pergi dengan menaiki anak tangga menuju kamarnya dan dengan segera menjatuhkan dirinya di atas ranjang king sizenya. Meluapkan segala sesuatu yang ia rasakan. Ya, ia menangis. Karena hanya dengan cara menangislah ia dapat meluapkan segala beban yang ia rasakan yang dapat menjadikannya seorang yang kuat. Bahkan mungkin, kini ia lupa akan buku kecil berwarna ungu muda yang selalu ia bawa di dalam tas ranselnya.

Namikaze mansion

Sebuah ruangan yang didominasi dengan warna jingga dengan ranjang berukuran sedang dan rak-rak bersusun rapih serta hiasan-hiasan dinding yang memperindah tatanan ruangan kamar tersebut membuat kamar itu tampak rapih dan terawat bagi seorang anak laki-laki. Suara shower terus menerus terdengar dari balik kamar mandi yang berada tepat di pojok kamar bocah berkepala duren itu. Air yang keluar dari sebuah shower tersebut jatuh membasahi tubuh tannya. Dengan sedikit mengalunkan sebuah lagu dari mulutnya, ia memulai untuk membersihkan dirinya.

.

Dengan lilitan handuk kecil putih yang melingkari tubuh bagian bawahnya bocah itu keluar, yang pertanda bahwa ia telah menyelesaikan ritual penyucian dirinya. Dengan segera ia memakai pakaiannya kemudian mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian ini ia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler basket di sekolah. Menerawang ke langit-langit kamarnya, entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. "Ah!" Dengan segera ia turun dari tampat ridurnya bergegas menuju ranselnya yang terletak di atas meja belajar. Membukanya, mencari sesuatu yang membuat bocah kuning jabrik itu penasaran dibuatnya.

"Nah.. Ini dia," ucapnya senang karena menemukan apa yang ia cari. Sebuah buku kecil berwarna ungu muda, mengingatkannya pada seorang gadis yang baru saja ia temui di pinggir sungai sepulang latihan basket. Entah mengapa ada sesuatu yang ia rasakan saat pertama kali bertemu dengan sosok gadis berambut indigo yang sempat mencuri perhatiannya. Ia tak tahu, apa sebenarnya yang ia rasakan saat itu yang ia tahu hanyalah ia menyukai gadis indigo itu. Ia menyukai senyumnya. Ia menyukai gaya bicaranya yang malu-malu, dan ia sangat menyukai saat-saat dimana ia berdekatan dengan gadis itu.

"Hyuuga.. Hinata.." Ia tersenyum simpul saat membaca tulisan terluar dari buku yang ia pegang. Naruto ingin sekali membuka buku itu, ia penasaran dengan isi dari buku tersebut. Dengan sekali gerakan ia telah membuka sampul dari buku lavender itu. Sejenak ia memandang buku itu lekat-lekat. Memandang sampul buku lavender itu, membuatnya teringat akan pemiliknya. Seorang gadis manis bermata amethyst yang baru saja ia temui, seorang gadis yang dapat membuatnya hatinya tanang dan selalu membayangi mimpinya. Ia menyadari bahwa ia tidak berhak untuk membuka bahkan membaca buku itu tanpa adanya izin dari sang pemilik. Akhirnya dengan sangat terpaksa ia mengurungkan niatnya itu, "Ah, sudahlah.."

_.::Light in the darkness::._

Kicauan burung-burung yang bertengger di ranting-ranting pohon sakura menyambut hangat sang mentari agar terbangun dari tidurnya. Dan seperti biasa gadis lavender itu memulai rutinitasnya yaitu pergi ke sekolah. Namun ada sedikit yang berbeda dengannya hari ini, ia terlihat menaiki sebuah sepeda dengan ranselnya yang ia taruh di keranjang sepeda depannya. Rambut indigonya yang panjang tertiup angin pagi terlihat terbang bebas dengan gemulainya.

Sapuan sang angin di wajahnya juga terasa membelai pipi mulusnya dengan lembut. Ia menyenangi hal ini, seharusnya sejak lama ia menikmati suasana pagi seperti ini setidaknya ada sesuatu yang dapat membuatnya tersenyum tanpa beban seperti saat ini.

Pemandangan indah yang disediakan oleh alam dan orang-orang yang ia sayangi membuatnya tak ingin meninggalkan dunia ini. Tapi, jika ia mengingat akan dirinya sendiri gadis itu ingin sekali pergi jauh ke tempat dimana tidak ada seorangpun yang dapat menemukannya atau bahkan ia lebih memilih meninggalkan dunia ini.

Tak butuh waktu lama untuknya, untuk sampai di Konoha High School(KHS) dan tak buang waktu lama ia memarkirkan sepedanya. Dengan segera Hinata pun bergegas menuju kelasnya. Tatapan serta makian yang terlontar dari anak-anak disana tak ia hiraukan, ia berjalan dengan menundukkan kepalanya membiarkan matanya yang indah itu hanya melihat lantai tempat ia berjalan. Bahkan sampai tiba di kelasnya pun ia tak berani untuk memandang sekelilingnya.

.

.

"Hei Hinata-chan!" seru seorang anak laki-laki yang memiliki tiga garis di pipinya. Bocah itu menghampiri Hinata yang sedang asik melamun memandangi anak-anak yang sedang bermain bola dari balik jendela. Sang empunya hanya bisa terperanjat kaget menyadari ada seseorang yang mendekatinya.

"E-eh Na-naruto-kun.." ucapnya senang. "A-ada perlu apa datang kemari?"

"Ini," Naruto hanya memperlihatkan cengirannya sembari mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya. Sementara Hinata hanya terpaku melihat sesuatu yang Naruto keluarkan.

"..."

Mengerti akan maksud Hinata, akhirnya naruto pun berbicara sejujurnya,"O-oh.. tenang saja kok, aku tidak membuka ataupun membacanya. Yah.. meskipun aku penasaran juga sih hehe.. kemarin kau lupa membawa buku ini, karena terlalu terburu-buru"

"Tidak apa-apa kok.. Arigatou Naruto-kun," balasnya dengan memperlihatkan senyumnya. 'Ah, kenapa aku bisa seceroboh ini? Semoga Naruto-kun benar-benar tidak membuka isinya,' umpat Hinata dalam hati.

"Hei Hinata-chan, daijoubu ka?" Naruto tak mengerti mengapa Hinata terlihat murung, yang jelas ia merasa sedih melihat gadis itu bersedih. "Ayo Hinata!" Tanpa persetujuan dari gadis itu, Naruto menarik dengan paksa tangan Hinata. Membawanya keluar, tak peduli dengan tatapan semua orang yang menatap Hinata iri dan sinis karena bisa berdekatan dengan kapten tim basket sekolah. Hinata pun hanya merintih pelan oleh ulah Naruto yang membuatnya tersentak.

_.::Light in the darkness::._

Mereka berdua berlari mengikuti jalan setapak yang terletak di belakang sekolah. Melewati rerumpunan hijau yang menjulang tinggi. Si gadis hanya dapat mengerutkan dahi saat tangannya ditarik oleh bocah kuning itu. Berlari di bawah langit biru bertabur kapas-kapas lembut. Berlari sembari menautkan jemari mereka satu sama lain. Ia sendiri tak tahu apa yang sedang direncanakan oleh bocah bermata saphire yang tanpa ia sadari telah membuat hatinya tenang. Gadis lavender itu hanya dapat memandang heran pada bocah yang berlari kecil di depannya sembari menyamakan langkah kecilnya dengan langkah lebar Naruto. 'Sebenarnya apa yang ia inginkan,' pikir Hinata.

"Nah, kita sudah sampai."

"Eh.." Kini ia seperti berada di sebuah negeri dongeng dimana ada seorang pangeran disampingnya sambil melihat pemandangan yang indah di sana. Berdiri di atas tebing dengan hamparan rumput hijau dibawahnya yang dihiasi dengan berbagai macam bunga dan dengan latar belakang lautan biru di atasnya.

"Rentangkan tanganmu Hinata, seperti ini.." Naruto merentangkan tangannya lebar, memperagakan dan meminta gadis itu agar mengikuti apa yang ia lakukan. Gadis itu hanya dapat melihat aksi yang Naruto lakukan, mengamati setiap inchi wajah bocah di sampingnya yang terlihat memejamkan matanya dan sangat menikmati apa yang ia lakukan. Perlahan rona merah pun menjalar di pipi lembutnya.

"Rasakanlah angin yang berhembus lembut, biarkan sang angin membawa setiap helai rambutmu membelai kulitmu dengan penuh kasih sayang bagaikan belaian seorang ibu. Lihatlah dan nikmatilah lukisan alam yang membentang dengan luasnya dan cobalah kau rasakan hangatnya sang mentari yang menyinarimu. Kau pun akan dapat merasakan betapa besar rasa sayang mereka terhadapmu."

"..."

"Tersenyumlah. Tersenyumlah meski hatimu terluka, karena tanpa kau sadari ada seseorang yang bahagia melihatmu tersenyum Hinata. Bagilah semua kesedihanmu kepadaku." Lanjutnya tersenyum simpul yang masih tetap memejamkan mata saphirenya dan merentangkan kedua tangannya.

Tanpa Hinata sadari, sebuah cairan hangat telah meleleh sempurna dari mata indahnya. Terpesona, ya ia memang terpesona akan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Naruto. Bahkan ia pun tersenyum kecil mendengarnya. Kini hatinya terasa menghangat. Ucapan Naruto seperti sebuah lentera penerang di hatinya setelah menghadapi begitu banyak masalah dalam hidupnya. Baru ia sadari bahwa ia harus bangkit dari semua ini, karena kini ia memiliki Naruto. Memiliki sebuah harapan baru dalam hidupnya.

Sejenak Naruto melihat kearah Hinata, ia tahu bahwa sekarang Hinata sedang menangis. Menangis dalam diam, ya itulah yang Hinata lakukan sekarang. "Berikanlah apapun yang terbaik bagi hidupmu. Menangislah jika itu dapat menenangkan hatimu. Karena mulai saat ini dan sampai kapanpun pundakku terbuka untuk menjadi sandaranmu, Hinata dan aku akan menjadi pegangan untukmu," katanya lembut sambil membawa pundak kecil Hinata dalam dekapannya.

.

.

Hinata pov.

Arigatou Naruto-kun.. Karena kau, kini aku mempunyai semangat untuk hidup. Berkat kau aku mempunyai tekad untuk merubah hidupku dan berkat kau, hidupku tidak akan mersa kesepian lagi. Kumohon mulai sekarang jangan pernah kau tinggalkan aku lagi. Tetaplah seperti ini, jangan biarkan aku hidup tanpa peganganmu, jangan penah kau melepaskan genggamanmu karena hanya kau satu-satunya teman sekaligus sebagai sahabat yang kumiliki di dunia ini. Dan juga, karena kau adalah... Mentari yang menyinari hatiku..

Normal pov.

"Baiklah... Sekarang aku ingin melihatmu tersenyum untukku Hinata-chan.." dengan memperlihatkan gigi putihnya, Naruto tersenyum lebar seperti yang biasa ia perlihatkan. Mencoba untuk memberikan semangat kepada sang gadis lavender yang rapuh. Dalam benaknya, ia ingin sekali melihat gadis itu tersenyum dengan indah untuknya. Dan kini ia juga bertekad akan selalu membuat Hinata tersenyum juga akan melindunginya sampai kapanpun.

Hinata pun seperti terhipnotis atas apa yang Naruto katakan, lalu ia melakukan separti apa yang Naruto perintahkan. Dengan perlahan ia tarik kedua sudut bibir mungilnya, membuat sebuah senyum simpul yang teramat manis untuk Naruto. Dan itu pertama kali baginya tersenyum tulus kepada seseorang.

"Oh ya Hinata-chan, sepertinya bel masuk sudah dibunyikan. Lebih baik kita kembali ke kelas masing-masing sebelum tertangkap basah oleh penjaga sekolah bahwa kita bolos pelajaran."

"Ba-baik Naruto-kun.."

Perjalanan ke kelas mereka lalui dengan keheningan. Keheningan yang tercipta tanpa ada satupun dari mereka yang ingin memulai pembicaraan. Tak tahu apa yang ada dalam otak mereka saat ini, sepertinya mereka terlalu canggung terlebih lagi bagi gadis itu yang baru saja mendapatkan seorang.. sahabat.

.::Light in the darkness::.

Waktu seperti berputar dengan cepat hari ini. Tanpa terasa, langit kini sudah mulai menampakkan warna jingganya. Burung-burung sudah tampak kembali ke sarang mereka masing-masing bersama kawanan mereka tentunya. Semua orang pun kembali kerumahnya masing-masing beristirahat untuk melemaskan tubuh mereka, bahkan diantaranya ada pula yang pergi ke onsen-onsen guna merefreshkan pikiran mereka.

Tapi tidak bagi Hinata, gadis indigo itu terus menerus memandagi langit jingga yang terbentang dengan indahnya melalui jendela kamarnya. Tak jarang ia tersenyum kecil mengingat kejadian tadi siang bersama Naruto. Ah, dia juga sangat mengingat sesuatu yang diucapkan Naruto saat ia sampai di depan kelasnya 'Hinata-chan, apakah minggu ini kau ada acar? Jika tidak kau mau kan menemaniku untuk pergi ke suatu tempat?' Dan mungkin ia tidak boleh melupakan kata yang menurutnya penting itu.

To be continued

Balesan review bagi yang gak log in:

-YUYA NARA: Makasih dah review ya..^^

-Rizuka Myuki-chan: Makasih buat ripyunya ya.. n_n

-Nagisa Imanda: Salam kenal juga.. Gomen telat banget update'annya..Mind to RnR again?

-Mugiwara Piratez: hehe yang kemarin itu saya salah publish, jd fict ne ke publish ulang deh.. Thanks for the review. Mind to RnR again?

-Pik-pik: Salam kenal juga yakh.. makasih dah review Mind to RnR again?

-(tanpa nama): hoho sepertinya kamu kelupaan menuliskan nama, Chap3 update.. mind to RnR again?

Gimana ma chap ne minna? Semoga nggak mengecewakan yakh.. Maklum, saya baru saja bangkit dari kehiatusan dan juga WB jadi gomen ne kalau saya masih banyak melakukan kesalahan dan saya kembali masih dengan keabalan saya dalam membuat fict.. ^.^v

tp, saya akan mencoba tuk terus memperbaiki kesalahan-kesalahan saya.. Maka dari itu saya minta kritik dan sarannya dengan mereview fict ini karena pada dasarnya saya memang tidak berbakat dalam membuat fict,.. (u.u)

Saya menerima semua kritikan maupun saran dari kalian baik yang asem maupun yang pedas sekalipun(?), tapi saya tidak menerima flame yang tidak bersifat membangun Ok

Oh ya sedikit bocoran, mungkin di chap-chap depan akan ada konflik.. Jd untuk sekarang kita bersenang-senang ria(?) saja dulu yah.. *evil smirk*. Ok Mind to review?

Keep or delete?

Arigatou.. n_n

Hyuuki