Chekidot~

Title: My Destiny

Rating: PG15- ?

Genre: Angst, action, drama

Cast: YunJae

Author: Park Hyerin

Chapter 2

-Yunho POV-

Aku melihat ke arah jam di tanganku. Pukul 01:35 Sepertinya aku sudah bisa kembali sekarang. Kuteguk habis isi gelasku, dan segera kuhampiri sosok sahabatku yang tengah sibuk merayu gadis-gadis. Tipikal seorang playboy.

"Chun, aku kembali dulu" ujarku. Ia segera menghentikan seluruh aktifitas gombalnya, dan memusatkan perhatiannya padaku.

"Kau yakin?" tanyanya. Aku mengangguk. "Ya, dia pasti sudah tidur sekarang."

"Yunho, sampai kapan kau mau begini terus?" tanya Yoochun padaku.

Ya, Yoochun memang mengetahui seluruh rahasiaku. Aku menceritakan hal itu padanya karena aku tidak sanggup lagi memendamnya dia juga memiliki profesi yang sama sepertiku, jadi dia dapat memahami perasaanku dengan baik.

"Sampai dia membenciku, dan lari meninggalkanku."

Yoochun menghela nafas berat. "Oke, itu terserahmu. Hanya, jangan terlalu kasar padanya, aku tidak tega." aku tidak menjawab, aku hanya menganggukkan kepalaku sekali lagi, dan bergegas pergi dari tempat itu.

Kunaiki mobilku, dan segera berlalu dari tempat itu. Kuharap Jaejoong tidak menungguku lagi. Betapa aku berharap aku akan mengalami banyak halangan di perjalanan. Mungkin terjebak lampu merah, terjebak macet, atau mungkin terjebak dalam suatu kecelakaan, entahlah apa saja asalkan aku dapat tiba lebih lama.

Namun tampaknya lagi-lagi dewi keberuntungan tidak berpihak padaku. Perjalananku aman, lancar, tanpa ada sedikitpun halangan. Perjalanan 30 menit ini benar-benar terasa amat singkat bagiku. Dengan berat hati akhirnya aku keluar dari dalam mobil dan kulangkahkan kakiku memasuki rumah sederhana milikku, bukan, milik kami, aku dan Jaejoong.

Walaupun sederhana, tapi kami berdua bahagia tinggal di dalamnya, sebab kami saling memiliki satu sama lain. Aku tidak bisa membayangkan jika nantinya aku akan tinggal di sini sendirian. Segera kuhapus pikiran itu dari otakku, aku belum mau membayangkannya.

Begitu memasuki ruang tamu, mataku menangkap sosok Jaejoong yang tertidur pulas di atas sofa. Wajah malaikatnya masih ternodai dengan air mata. Kudekati dia, dan dengan pelan kuangkat badannya menuju kamar kami. Kurebahkan tubuhnya di atas kasur dan kuselimuti. Tapi tiba-tiba ia membuka matanya. Di kedipkannya matanya berulang kali, mencoba untuk memfokuskan pandangannya.

"Yun, kau sudah pulang?" ia tersenyum padaku. Tapi aku terpaksa harus menghancurkan senyum itu.

"Kau bodoh! Untuk apa kau tidur di sofa tadi? Kau pikir bila kau sakit siapa yang akan repot hah? Aku!" bentakku. Aku melihat tubuhnya bergetar ketakutan.

"A..aku menunggumu Yun." jawabnya lemah.

"Apa aku pernah menyuruhmu untuk menungguku? Tidak kan! Bilang saja kau sengaja ingin membuatku repot!" teriakku. Matanya yang sudah membengkak itu kini mulai kembali dipenuhi air mata.

"Jangan menangis! Air matamu membuatku muak!"

Bukannya berhenti tangisannya malah semakin deras. Aku tidak tahan melihatnya menangis, jadi aku segera keluar dari kamar itu, dengan satu bantingan keras di pintu. Aku tidak pergi kemana-mana, aku hanya berdiri di depan pintu kamar itu hingga suara tangisannya tak lagi terdengar.

"Maafkan aku Jae.." lirihku pelan.

Perlahan kubuka kembali pintu kamar itu, saat aku benar-benar sudah tidak mendengar suara isakan lagi dari dalamnya. Aku berjalan mendekati tubuhnya. Dia sudah kembali tertidur. Wajahnya terlihat sangat tubuhku di sampingnya, dan kudekap dirinya erat. Kuelus dan kuciumi aroma tubuhnya sebanyak mungkin, mencoba mematrinya di dalam ingatanku.

Kudekatkan wajahku ke telinganya dan berbisik pelan. "Maaf Jae, saranghae.." Aku terus menerus membisikkan kata-kata itu di tidak habis pikir mengapa takdir yang kami alami seperti ini.

Kehidupan kami selalu dipermainkan oleh takdir. Bahkan pertemuan kami pun tidak kalah tragis dari ini. Aku bertemu dengan jaejoong di rumahnya. Saat aku sedang melaksanakan tugas untuk memusnahkan seluruh anggota keluarga Kim, ya keluarganya.

_Flashback_

BLAM

Tubuh tak bernyawa milik pria tua itu jatuh tak berdaya begitu aku dengan suksesnya berhasil menyarangkan peluruku pada pelipisnya, menembus dan merobeknya, menyisakan lubang kecil di tengah-tengah kepalanya. Aku hanya menatap kosong pada tubuh itu. Cairan merah segar mulai mengalir keluar dari dalam lubang yang tadi kuciptakan.

Sejujurnya, aku bahkan tidak mengenal siapa mereka ini. Yang aku tahu hanyalah, seseorang merasa tersaingi bisnisnya oleh perusahaan milik mereka, sehingga ia menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh seluruh keluarga ini. Dan secara kebetulan, organisasi tempat aku mengabdi, DARK, memilihku untuk melaksanakan tugas ini. Dan kini tugasku hampir selesai. Yang tersisa sekarang hanyalah putra bungsu keluarga ini, Kim Jaejoong. Umurnya hanya 2 tahun lebih muda dariku yang berumur 17 tahun.

Kudekati tubuhnya yan meringkuk di sudut ruangan. Matanya sarat dengan ketakutan saat aku berjalan mendekatinya. Tubuhnya bergetar hebat dan bulir-bulir keringat mengalir deras di tubuhnya, senada dengan air mata di wajahnya.

"Ja..jangan bunuh aku." bisiknya terbata seraya menyeret tubuhnya semakin menempel ke sudut, seolah berusaha bersembunyi dari dunia luar.

Aku memperhatikan wajahnya untuk sesaat. Parasnya benar-benar sarat dengan kepolosan dan kemurnian. Aku merasakan gejolak di tubuhku untuk tidak membunuhnya. Perlahan ku ulurkan tanganku untuk menyentuh wajahnya. Tubuhnya semakin menggigil ketakutan. Dan tepat begitu jariku menyentuh kulit dinginnya, ia jatuh pingsan.

Saat itu juga aku mengurungkan niatku membunuhnya, melainkan aku membawanya ke yakin saat ia sadar nanti, dia pasti akan mulai histeris ketika melihat wajahku lagi. Dan mungkin saat itu juga aku akan menghabisinya.

Tapi ternyata dugaanku salah.

Keesokan harinya, begitu ia bangun, ia sama sekali tidak bisa mengingat wajah pembunuh keluarganya, dia tidak mengingat wajahku. Mungkin ia mengalami semacam shock atau trauma yang membuat pikirannya kehilangan sedikit memori dari kejadian berdarah itu.

Yang membuatku semakin bingung, dirinya malah berpikiran bahwa aku adalah orang yang telah menyelamatkannya, dan menganggapku sebagai pahlawannya. Aku tidak mengatakan apapun mengenai hal itu. Tidak membantah, tidak pula mengiyakan.

Aku hanya membiarkannya menyimpulkan apa yang ada di di dalam hatiku, aku lega dia tidak mengingatku, sebab entah mengapa aku merasa sama sekali tidak ingin membunuhnya.

-End of FB-

Sejak hari itu, Jaejoong selalu tinggal bersamaku. Tak bisa kupungkiri semakin hari aku pun semakin jatuh ke dalam pesona mantan calon targetku ini. Ya, aku jath hati kepada Kim Jaejoong. Oleh karena itu, aku berusaha menutupi keberadaannya selama kurang lebih 5 tahun ini. Aku bahkan berbohong pada organisasiku, sebab bila mereka mengetahui Jaejoong masih hidup, mereka pasti akan berusaha membunuhnya.

Tapi seluruh usahaku hancur sia-sia saat satu bulan lalu tiba-tiba aku diberi perintah untuk membunuh Kim Jaejoong.

Orang yang dulunya ingin membunuh keluarga Kim mengetahui kalau Jaejoong masih hidup, dan ia takut aset dan perusahaan keluarga Kim yang selama ini ditahan negara akan diberikan kembali pada Jaejoong, sebagai pewaris tunggal, dan bila itu terjadi, bisa dipastikan saat itu juga perusahaannya pasti akan bangkrut.

Oleh karena itu ia kembali memerintahkan kami membunuhnya. Ia mengancam menarik kembali seluruh bayarannya dulu dan menyebarkan berita ke orang-orang mengenai ketidak becusan kami dalam melaksanakan tugas. Tentu saja organisasi tidak ingin hal ini terjadi. Maka dari itu mereka kembali memilihku untuk menyelesaikan tugas ini.

Dan tentu saja hal itu mustahil bagiku!Untungnya tak satupun dari mereka mengetahui wajah dan keberadaan Jaejoong. Mereka hanya tahu kalau ia masih hidup, dan memberiku waktu 2 bulan untuk menemukan dan membunuhnya.

Artinya hanya ada dua bulan waktu bagiku untuk membuat Jaejoong menjauh dari tempat ini dan juga dariku, bila perlu mengganti identitas. Artinya juga, hanya dua bulan waktu yang tersisa untuk bersamanya, yang harus kuhabiskan untuk membuatnya membenciku. Dan kini, waktuku yang tersisa hanya tinggal satu bulan lagi.

Aku meringis saat benakku mengingat kembali seluruh rentetan peristiwa itu.

Aku tidak menyesal telah melepaskan Jaejoong, sedikit pun tidak.

Aku hanya menyesali mengapa takdir memilih jalan yang seperti ini untuk mempertemukan kami.

Inilah takdirku. Ironis memang. Takdirku memutuskan untuk mempermainkan hidup dan hatiku sedemikian aku bisa melawannya.

Because this is my destiny..

-TBC-

Done!

hehe, ini chapter minim dialog banget ya-_- Maaf kalau ini agak pendek dan mungkin ga sesuai sama yang kalian harapkan..

Tapi walaupun begitu, review harus tetap jalan ya hehe :)

Buat yang review ga login, alias anon,

gamekyuminniesungmin, Yunjaetic, Yunholycious, and uknOwherO thanks buat reviewnya ^^