Assalamualaikum semua, akhirnya saya bias update chapter 2 juga, terimakasih untuk yang telah mereview sebelumnya.
Disini Untukmu Chapter 2
Disclaimer : EYESHIELD 21 by Riichiro Inagaki & Yusuke Murata
Warning : Gaje, typo, abal, OOc, polontong, gbgb, blah-blah
xXx-xXx
-(SUZUNA POV)-
Aku tak percaya Sena setega itu kepadaku. aku benc... Aaaaaaaaarrrrrggggghhhh... Aku tak bisa membenci Sena, aku...aku suka Sena.
Airmata pun tak kuasa aku bendung lagi. Kenapa aku harus menangisi Sena yang jelas-jelas dia lebih memilih karirnya daripada aku? Tapi kenapa aku tidak membenci Sena Tuhan?
Hmmmmmmhhhh, sudahlah, daripada memikirkan Sena lebih baik aku menonton acara TV kesukaanku, J-Melo. Diputarnya lagu Back-On Sands of Time membuatku merasa lebih tenang, walaupun lagu ini mengingatkanku pada Sena, karena Sena sangat menyukai lagu ini. Tapi...
"BREAKING NEWS"
"Ace dengan kecepatan cahaya, Sena Kobayakawa secara tiba-tiba meninggalkan kongres Amefuto yang diselenggarakan di hotel Sakura Tokyo. Dia meninggalkan lokasi kongres dengan berlari menggunakan kecepatan cahayanya.
Saat dikonfirmasi mengenai hal ini, rekan satu timnya Riku Kaitani mengaku kalau Sena kemungkinan akan membatalkan kontraknya ke Amerika karena ada suatu urusan yang harus segera diselesaikannya di Jepang, tapi sayangnya Riku tidak menceritakan urusan itu dan memilih tutup mulut.
Sekian breaking news hari ini, saya Asari Hamano undur pamit, selamat siang dan terimakasih."
Astaga, betapa kagetnya aku melihat berita itu. Kenapa Sena meninggalkan kongres itu? Aku harus menyusulnya.
Aku pun bangkit dari tempat tidurku, suster yang kebetulan sedang mengantar makan siangku pun menghampiriku. "Nona Taki, Nona akan kemana? Apa perlu saya bantu?"
"Maaf suster, saya ada urusan. Mohon jangan halangi saya," jawabku. Aku menepis uluran tangan suster itu dan mengambil tongkat yang bersandar pada dinding. Suster itu mencegahku, namun akumenepisnya dengan tongkatku hingga suster itu tersungkur. Peduli amat dengan suster itu, Senalah yang terpenting saat ini.
Suster itu tidak bergeming lagi dan malah diam. Aku terus berjalan memakai tongkat ini, agak susah memang, aku tidak terbiasa dan kakiku terasa sakit setiap kali dipijakkan. Dan aku tidak mempedulikannya. Karena kakiku benar-benar sakit tak tertahankan, aku kehilangan keseimbanganku sehingga aku akan terjatuh.
"Kyaaaaaaaa..."
'Grep!'
Tiba-tiba saja ada yang mendekapku dari belakang sehingga aku tidak terjatuh.
"Kau nakal ya Suzuna?" tanya seseorang yang suaranya tak asing lagi bagiku.
"Sena?" gumamku pelan, dengan kekuatanku aku membalikkan badanku, dan ternyata itu memang Sena.
Dia masih mendekapku dan tersenyum kepadaku. "Mengapa kau ada di sini Sena?" tanyaku.
"Aku di sini untukmu," jawabnya. Kami pun bertatap-tatapan, aku tak percaya Sena ada di sini. Suster yang tadi kujatuhkan pun keluar. "Suster, tolong bantu saya membawa Suzuna ke dalam," pinta Sena. Sena dan suster itu membawaku kembali ke kamarku dan membaringkanku.
"Terimakasih suster," kata Sena. "Sama-sama, saya permisi," ujar suster itu dan meninggalkan kami berdua. Setelah suster itu pergi, Sena menggenggam tanganku.
"Eh?" ucapku kaget.
"Maafkan aku Suzuna," ucap Sena. Dia menatap mataku lekat. Jantungku berdetak kencang dan aku yakin pipiku memerah.
"Untuk apa? Bukannya kau harus menghadiri kongres Amefuto? Lalu, kenapa kau di sini? Seharusnya kan kau pergi ke Amerika sekarang?" tanyaku bertubi-tubi.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu Suzuna. Apalagi dalam kondisimu yang seperti ini," jawabnya. Sena masih menatap mataku dan menggenggam tanganku erat seolah tak ingin melepaskannya.
"Eh?"
"Suzuna, apa kau lupa? Aku kan sudah berjanji akan menemani dan menjagamu sampai kau sembuh," katanya lagi. Kaget dan senang bercampur di fikiranku.
"Tapi, bagaimana dengan karirmu? Apa kau rela meninggalkan karirmu demi aku?"
"Apa mataku ini mengatakan kebohongan?" tanya Sena, tangan kirinya menunjuk matanya. Aku menggeleng. "Aku sungguh-sungguh Suzuna."
"Lalu, mengapa kau rela membatalkan kontrakmu? Bukankah itu memang impianmu bisa ke Amerika kembali?"
"Karena, aku tak mungkin meninggalkan orang yang aku sukai terbaring di rumah sakit dan kesepian. Suzuna, sebenarnya aku suk...eh, aku... Aku mencintaimu."
Untuk seperseratus detik, aku merasa aku melayang ke surga mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Sena. Ternyata kami...
"Aku memeluk Sena, dia pun membalas pelukanku. Airmataku tak dapat ku tahan lagi.
"Aku juga mencintai Sena," ucapku sendu. Sena melepas pelukannya, pipinya sangat merah. Tak disangka, Sena mengecup keningku dan dia memelukku lagi.
"Terimakasih Suzuna," ujarnya. Aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Jujur menurutku, kadang kebahagiaan itu datang saat keadaan kita sedang tidak baik. Aku benar-benar bahagia.
=OWARI=
xXx-xXx
xxxx-OMAKE-xxxx
-SUZUNA POV-
(A/N: hari setelah 2 hari tragedy)
Hari ini sangat cerah, hmmmmhhh…. Apa Sena akan menjengukku ya?
'Kreeet'
Ada yang membuka pintu, jangan-jangan Sena.
"Sena…"
Tapi begitu kecewanya aku, ternyata yang datang bukan Sena, tapi….
"Eh, Rikkun? Maaf," ucapku.
"Tidak apa-apa Suzuna, bagaimana keadaanmu?" tanyanya. Rikkun terduduk di samping ranjangku.
"Lebih baik," jawabku singkat.
"Suzuna…"
"Ya, ada apa Ri?" tanyakku. Aku sangat kaget, dia menyodorkan aku bunga tulip berwarna biru kesukaanku. "Eh?"
"Aku mencintaimu Suzuna,"kata Riku yang membuatku semakin kaget.
Hening sejenak, aku menjadi dilema.
"Maafkan aku Ri, tapi aku menganggpamu sahabat, aku… Aku…" aku bingung harus berkat apa, oh Tuhan, tolong aku.
Rikkun memegang bahuku. Dia menatap mata dark blue ku lekat. "Suzuna, aku menyayangimu lebih dari sekedar sahabat. Dan, aku ingin hubungan kita lebih dari sekedar sahabat."
Aku menundukkan kepalaku, aku tak berani menatap mata hijau turquoise-nya. "Tapi, aku suka Sena," ujarku lirih. Aku mengangkat kepalaku dan kulihat raut wajah Riku berubah kaget.
"Sena? Tch, dia yang membuatmu seperti ini Suzuna! Apa masih mungkin kamu menyukai orang yang merenggut kebahagiaanmu?" Tanya Rikkun. Aku begitu tersentak mendengarnya, aku tak terima Sena dibilang seperti itu. Aku pun tak kuasa menahan air mataku mendengar omongan Rikkun tadi.
"Suzuna, kau menangis?"
"Ri… Mengapa kau berkata seperti itu? Bukan Sena yang membuatku seperti ini, hiks…hiks…hiks…" ujarku sendu. Kulihat Rikkun begitu shock mendengarnya. Dia memelukku.
"Tapi, mengapa Suzuna?"
"Karena… Karena… Aku mencintainya. Dan hanya Sena yang ada di hatiku. Maafkan aku Ri, aku tidak bisa … Maaf."
"Kau akan menyesal Suzuna, camkan itu!" seru Rikkun dengan suara yang keras setengah berteriak. Dia beranjak dari duduknya. Dia membanting bunga yang akan diberikan kepadaku. Dia keluar dan membanting pintu. Aku mewajarkannya, maafkan aku Ri, aku telah menentukan pilihanku pada Sena, maaf.
*=*omake*=*
Fiuh, akhirnya complete juga, haha. Mohon reviewnya semua. Silakan flame atau kritik kalau ada yang tidak berkenan.
C U
