Kadang benak Malaysia bertanya-tanya kala beberapa pihak memujinya dan Indonesia; betapa mereka iri karena Malaysia memiliki kakak seperti itu. Indonesia memang bukan negara maju ataupun istimewa, tapi hal itu tidak melepas figur telaten dan gigih dari sosoknya.
Bah, cobalah sehari saja menjadi tetangga Indonesia dan carilah bagian mana yang telaten dari sosoknya yang kerjanya twitteran sambil makan rujak dengan mengesampingkan tugas kenegaraan yang terus ia tunda hingga lupa; dan biasanya berujung pada ratapan Indonesia yang dihukum membersihkan kotoran rusa di Istana Negara.
Malaysia memang tidak pernah merasa menyukai Indonesia sebagai kakaknya, tapi sungguh; ia tak pernah merasa menyesal 'terlahir' pada letak geografis yang memposisikannya sebagai saudara Indonesia. Tidak sebelum kejadian itu terjadi…
33 Sides of Indonesia
Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya
-Melayucest belongs to their fans, for now at least-
Saat itu, Malaysia yang baru saja kembali setelah menghadiri rapat kenegaraan disambut dengan kehadiran Singapore, Laos, dan Cambodia…tunggu, ada seorang lagi. Sosok pemuda berkulit sawo matang dengan rambut hitam jabrik yang kita kenal sebagai personifikasi Republik Indonesia tertidur dan dibopong oleh ketiga saudara Aseannya yang tadi disebutkan.
Oke, tidak butuh indra keenam bagi Malaysia untuk menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Dan seperti yang bisa kita duga, Malaysia tidak akan repot-repot menawarkan teh atau Cadburry kebanggaannya pada para 'tamu tak diundang'nya, melainkan tanpa berbasa-basi melontarkan pertanyaan, "Ada apa?" yang terutama mengacu pada Indonesia.
Ketiga sosok yang bersangkutan saling melempar pandang, dalam diam saling meminta satu sama lain untuk menjawab pertanyaan Malaysia.
"Begini," akhirnya Singapore angkat bicara, "Kau tahu 'kan, Nesia semakin banyak masalah akhir-akhir ini? Ehm, dia memang selalu punya banyak masalah, tapi belakangan ini dia terlihat semakin uring-uringan…"
Malaysia mengangguk paham, mengingat-ingat saat Indonesia jauh-jauh datang hanya karena sakit hati akibat Orangutan dalam permainan Animal Kaizer tercatat berasal dari Malaysia. Bahkan sampai mengancam akan membotak rambut Malaysia jika kejadian itu tidak juga diralat.
Dan tak lama setelahnya, ia kembali datang sambil menuding Malaysia telah mengoperasi kelamin Mariabelle chan menjadi laki-laki; kenyataannya Indonesia saja yang baru sadar kalau komodo peliharaannya itu sebenarnya jantan.
Atau ketika Indonesia kembali menuduhnya mengambil gantungan kunci berbentuk chibi Garuda kesayangannya, yang belakangan diketahui entah bagaimana tertelan oleh Armando, komodo yang tadinya dijodohkan dengan Mariabelle chan namun batal karena masalah ke'jantan'an yang disinggung tadi.
Dan juga saat... tunggu, fic ini bisa jadi sangat panjang jika semua masalah itu disebutkan satu-persatu, jadi kita singgung lain waktu saja.
Indonesia memang tsundere, tapi tak biasanya dia segalau itu hingga memfitnah Malaysia dengan tuduhan-tuduhan nonsense.
"Jadi," Singapore melanjutkan, "kami mencoba menyokong Indonesia secara mental dengan… ehm, cara-cara tertentu." Malaysia langsung memiliki firasat buruk pada kalimat 'cara-cara tertentu' yang seakan diberi emphasis di telinganya.
"Lebih tepatnya, meminta England untuk menyihirnya," jelas Laos.
Mata Malaysia terbelalak seketika. Oh-My-Fudge, meminta bantuan dengan sihir England sama saja dengan perumpamaan 'mencukur alis hanya untuk membiarkannya tumbuh lebih lebat di kemudian hari'!
Melihat gelagat Malaysia yang seakan hendak menghujamnya dengan kritikan dan pertanyaan-pertanyaan mengenai itu, Singapore buru-buru menambahkan, "… dan England menyihirnya untuk 'bisa lebih mengekspesikan perasaan dalam hati' agar stressnya tidak bertumpuk."
Cambodia mengangguk. "Menurutku pun itu bukan ide yang buruk, makanya…"
Oke, Malaysia mengerti garis besarnya. Tapi ketidak yakinan Singapore dan menggantungnya kalimat Cambodia membuatnya sadar ada penggunaan kata 'tapi' yang belum disebutkan mereka.
"Lalu? Apa Indon sampai pingsan karena sihir si alis tebal itu? Kalau begitu kenapa kalian malah membawanya ke rumahku?"
Singapore, Cambodia, dan Laos kembali membisu dan saling bertukar pandang.
Kali ini sepertinya Laos yang hendak berbicara. "Ng… Begini, Indonesia…"
Cambodia memotong, "…kondisinya menjadi agak… umm... 'labil', dan kami memutuskan untuk membawanya ke tempatmu, karena kami rasa kaulah yang paling cocok untuk... ng... 'menjagainya'. Kau yang dekat dengan Nesia kan?"
Kening Malaysia berkerut, menyebabkan kedua alis tebal warisan Englandnya saling bertautan. "Dan yang kau maksud dengan labil adalah…?". Hei, Malaysia bahkan tidak menyangkal pernyataan Singapore bahwa ialah yang paling 'dekat' dengan Indonesia!
Singapore terlihat sedikit ragu untuk menjawabnya sampai akhirnya...
"AH! Sudah jam segini! Kami masih punya banyak urusan, jadi… yah, pokoknya sementara ini Indonesia kami serahkan padamu, ya!"
Dan tanpa ba-bi-bu lagi Singapore langsung menarik Laos dan Cambodia pergi meninggalkan kediaman Malaysia.
Malaysia; yang kini perasaannya benar-benar tidak enak menatap wajah kakak kembarnya yang masih belum tersadar.
'Labil'…
Suatu keadaan yang menggambarkan ketidak pastian dari sifat/keadaan suatu tempat/badan/individu.
Tapi untuk seorang seperti Indonesia, 'labil' bisa berarti lebih buruk lagi…
Tunggu, tadi disinggung bahwa England menyihirnya agar bisa 'bebas mengekspresikan perasaannya' mungkinkan… Indonesia akan kembali ceria den bersemangat, sama seperti sebelum para bangsa Eropa datang dan mengusik mereka berdua?
Atau… Indonesia akan menantangnya berperang setelah cekcok diantara mereka yang terus berlarut-larut tanpa ada tindakan tegas dari mereka berdua?
Malaysia menelan ludah. Senjata tempurnya memang jauh lebih memadai daripada Indonesia, tapi dunia internasional pun tidak perlu diberi tahu ulang mengenai tentara-tentara Indonesia yang tidak bisa dipandang sebelah mata…
Dan pikiran Malaysia segera buyar begitu menyadari gerakan-gerakan kecil yang dilakukan Indonesia.
Perlahan, pemuda itu membuka matanya dan menatap orang yang dilihatnya pertama kali; Malaysia lekat-lekat. Kontan Malaysia langsung was-was.
Dalam keadaan normal, Indonesia bisa saja menjahit jas-jas kesayangannya dengan kain aplikasi bertuliskan 'INDONESIA AWESOME' (oh, rasaya Malaysia tidak perlu menebak lagi siapa yang mengilhami Indonesia untuk menuliskan quote macam itu) atau bahkan menyuruh Mariabelle chan untuk mengginggit vital regionnya jika pemuda itu benar-benar sedang kurang waras. Masalahnya,dalam keadaan normal pun otak Indonesia memang jarang sekali bisa dibilang sepenuhnya 'waras'.
Dan sekarang? Labil.
Malaysia tidak bisa menebak apa yang bisa dilakukan kakak kembarnya itu.
Diluar dugaan, lamat-lamat bibir Indonesia membentuk sebuah senyuman. "Good morning, Sunshine."
…What the duck?
Malaysia terdiam seribu bahasa. Atau lebih tepat jika diumpamakan dalam istilah Indonesia; cengo.
"Lho… kenapa aku bisa ada di rumahmu? Jangan-jangan kau memasukkan obat tidur ke dalam minumanku agar bisa membawaku ke rumahmu dan memonopoliku, ya? Dasar nakal…" Indonesia yang senyumnya berubah menjadi lebih menyerupai seringai beranjak dari sofa, membuat kaki Malaysia melangkah mundur secara reflek.
"Jika kau memang berpikir begitu, kau terlalu banyak berharap," bisik Indonesia tepat di telinga 'adik'nya yang merasa bulu kuduknya mulai berdiri. Jangan salah, Malaysia tidak pernah gentar pada Indonesia, terbukti dari perkelahian secara verbal (saling melempar ejekan yang melibatkan penghuni taman marga satwa) hingga fisik (saling melempar benda-benda yang ada di sekeliling mereka; bambu runcing ataupun kotoran ayam juga tidak luput) yang berkali-kali mereka lakukan. Tapi jika seperti ini? Entahlah Malaysia merasa sedikit…
"Kau tidak akan bisa mendominasiku. Kau milikku dan hanya akulah yang bisa mendominasiku, honey..."
Oke, keringat dingin benar-benar bercucuran dari sekujur tubuh Malaysia sekarang.
Seandainya bisa, kata-kata makian dan perlawanan fisik pada Indonesia pasti sudah dikeluarkannya sejak tadi. Tapi sekali lagi; itu jika 'seandainya bisa'. Sayang, tubuh Malaysia lebih terfokus untuk merinding daripada menuruti perintah otaknya.
"Hei, kenapa kau diam saja?" tanya Indonesia seraya membelai rambut Malaysia.
Malaysia tentunya hanya bisa menjawab dengan kagok, "A… aku…"
Indonesia tertawa kecil. "Kau terlihat manis sekali jika bingung begitu. Ah, bagiku kau memang selalu tampak manis sih… tapi berbeda dari biasanya… kau terlihat begitu… 'lezat'…" Indonesia menjilat bibirnya, sebelum akhirnya menunjukkan senyum. Senyum mencurigakan.
Dan saat itu, yang ada dalam pikiran Malaysia hanya lafal-lafal doa yang dipanjatkannya dengan harapan bisa membangunkannya dari mimpi buruk ini.
to be Continued
fic Melayucest multichaps pertama saya~! XD
Mari kita mengheningkan cipta untuk menyambut seme!Indonesia~ *PLAK*
sebenernya rada nggak pede ama fic ini sih, tapi sayang juga kalo nggak dipublish. Maap kalo ada typo~
Review onegai~? *Indonesia's komodo eyes* (?)
