Selama puluhan tahun, sang personifikasi negara Malaysia memiliki sebuah keyakinan teguh bahwa ia terlahir dengan jiwa seme. Keyakinan yang terlalu ajaib memang, personifikasi negara yang baik seharusnya memiliki keyakinan akan pembangunan negara ke arah yang lebih baik atau semacamnya.

Tapi jika kita usut lagi, sebenarnya memang tak seorang pun dari negara Asia Tenggara yang bisa dikatakan sebagai 'personifikasi negara yang baik'.

Kembali ke masalah Malaysia, kadang ada pula saat-saat dimana jiwa semenya dipertaruhkan. Misalnya ketika entah kenapa Indonesia berubah menjadi garang dan menyerangnya pada tempat dimana hanya ada mereka berdua; dan sayangnya situasi itulah yang saat ini terjadi.

Indonesia yang berhasil mengunci seluruh pergerakan Malaysia (hey, kenapa ilmu silatnya baru menunjukan fungsinya pada saat-saat seperti ini?) mendekatkan wajahnya ke telinga Malaysia, membisikkan sesuatu pada (calon) ukenya itu,

"Aku akan segera memilikimu, sepenuhnya…"

Atau setidaknya itulah yang ia lakukan kalau saja novel tebal bertuliskan 'Harry Potter' pada sampulnya mendarat dengan tidak elitnya di kepala sang negara Merah Putih, membuat kesadarannya terenggut kembali.


33 Sides of Indonesia

Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya

Melayucest belongs to their fans, for now at least


"Kau tidak diapa-apakan 'kan, Malaysia?" sebuah seruan sarat rasa cemas dari sepasang alis dengan ketebalan diatas normal. Tunggu, alis tidak bisa bertutur kata. Kita ubah sudut pandangnya sedikit kebawah, tampaklah sosok personifikasi United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland atau biasa disebut England, karena author malas jika harus mengetik seluruh nama lengkapnya tiap kali sosoknya disebut.

"Uh… yeah, aku belum diapa-apakan," balas Malaysia yang menyingkirkan tubuh Indonesia yang menimpa badannya dengan hati-hati. 'Belum' eh, Malaysia?

"Syukurlah," England menghembuskan nafas lega, "tadi Singapore menghubungiku dan menceritakan perihal Indonesia. Kelihatannya efek sihir yang mempengaruhinya lebih kuat daripada yang kumaksudkan. Jika Indonesia sampai bermasalah karena sihirku dan beritanya sampai ke dunia internasional (hei, apa England membayangkan surat kabar dari negaranya dengan rubrik berjudul 'keganasan Indonesia Merajalela' di sudut korannya?), image-ku bisa jatuh."

Sepasa alis berwarna hitam bertautan. Jadi karena masalah image toh? Bodohnya ia, berpikir mantan motherland-nya itu datang karena mengkhawatirkannya…

"Terserah deh, yang penting hapus manteramu dari Indon bodoh itu sekarang!"

"Err… itulah masalahnya. Halaman dari buku sihir yang seharusnya memuat mantera penangkal sihir ini robek dan hilang entah kemana…"

Kedua mata dengan iris berwarna cokelat tua itu membelalak.

Maksudnya… maksudnya kakaknya yang labil itu akan terjebak dalam keadaan super labil selamanya… dengan menjadikan dirinya sebagai korban penjatuhan harga diri sebagai seme…?

Melihat Malaysia yang membatu dan perlahan menjadi debu-debu tipis yang bertebaran layaknya sebuah adegan komikal di dalam manga, England buru-buru menambahkan, "… tapi sihir ini tetap ada penangkal alaminya, kok."

Debu-debu yang tadi berterbangan berkumpul dan mengeras, menampilkan kembali sosok pemuda personifikasi Malaysia. Hei, Malay, sejak kapan tubuhmu jadi seperti hasil percobaan kimia begitu?

Tidak mempedulikan cemoohan narator, Malaysia cepat-cepat bertanya, "Bagaimana caranya?"

"Seperti yang kubilang, secara alami," England menyeruput the dalam cangkir porselen di tangannya. Tunggu, kapan Malaysia menyiapkan teh? Jangan bilang England memang selalu membawa-bawa cangkir dan bubuk teh…?

"Jadi," England melanjutkan, "kurasa kau sudah dengar dari Singapore bahwa mantera yang kugunakan untuknya adalah agar ia bisa 'lebih mengekspresikan perasaan yang bertumpuk dalam hatinya'. Dengan kata lain, jika ia melakukan apa yang dia inginkan sihirnya akan lenyap dengan sendirinya."

Lebih mengekspresikan diri… Sebegitu inginnya-kah engkau menjadi seme, Ndon?

… Tunggu, 'melakukan apa yang dia inginkan?'

"Berarti… berarti dia tidak akan bisa kembali kecuali…" Malaysia menelan ludah, "aku disemei olehnya?"

Dan ketika England mengangguk pelan dengan ekspresi simpatik, rasa shock Malaysia melebihi ketekejutannya jika Mariabelle chan melamar Orang Utan Indonesia.

Sekali lagi, tentu saja itu tidak pernah terjadi. Hanya saja tak ada perumpamaan tepat untuk menggambarkan perasaan Malaysia saat itu.

"Begitulah, jika keinginan Indonesia seperti itu berarti memang hanya kau yang bisa mewujudkannya."

Hening.

Keadaan Malaysia saat ini tak ubahnya dengan bocah yang setelah merengek meminta lollipop pada Ibunya, permennya malah direbut anak yang lebih tua; mau mengejar apa daya kaki tak sanggup, mau menangis juga malu.

"Kalau begitu, aku permisi dulu," England bangkit dari sofa dengan kikuk dan berjalan menuju ke arah pintu depan. "Semoga berhasil."

...

…Apa…?

Semoga berhasil…

Semoga berhasil… katanya…?

Malaysia tidak tahu dosa apa yang sudah ia perbuat pada England hingga mantan penjajahnya itu mendoakan (atau jika kita tanya pada Malaysia, menyumpahi) dirinya seperti itu.

Dan ketika sosok England kembali muncul dan mengatakan, "Oh iya, kalau kau masih ragu, aku punya aphrodisiac, jadi…" sontak amarah Malaysia membuncah.

"AKU TIDAK BUTUH! KELUAR!"


Saat ini hanya ada satu ide yang terlintas di kepala Malaysia.

Mengikat Indonesia yang pingsan (lagi); kali ini dengan tali tambang, memasukannya ke mobil dan melemparnya ke rumah Kalimantan.

Persetan mau Indonesia pulih atau tidak, yang penting ia tidak terlibat masalah 'seme-menyemei' ini.

Setelah bersusah payah membopong Indonesia sambil mengutuk Indomie sebagai makanan pokok informal Indonesia yang berkalori tinggi dan membuatnya berlemak dan berat seperti itu, Malaysia segera duduk di kursi pengemudi tanpa memakai sabuk pengaman.

Like big brother like little brother, eh?

Sayangnya Malaysia tidak rela disamakan dengan Indonesia dalam bidang apapun, terlepas dari wajah mereka yang sedemikian mirip dan sifat mereka yang taraf kesablengannya sama.

Sesekali mata Malaysia melirik ke arah sang pemuda berlambang Garuda lewat kaca spion, memastikan kalau-kalau kesadarannya masih belum pulih.

Di tengah jalanan yang macet, pikiran Malaysia mulai melayang kemana-mana.

Jika Indonesia memang ingin menyemei seseorang, kenapa harus Malaysia? Oke, Malaysia tahu Indonesia bukan lolicon yang mau menyemei Laos, Cambodia apalagi Timor. Tapi kalau begitu, kenapa bukan Singapore yang lebih sering kontak dengannya, atau Thailand, atau Mariabelle chan sekalian?

...

Menyemei seekor komodo… jantan pula… Cepat-cepat Malaysia menghilangkan pemikiran yang membuat bulu kuduknya sendiri merinding itu dari otaknya.

Kembali ke inti permasalahan, bukankah Indon bodoh itu sudah memiliki seseorang…?

"Kenapa dia tidak menyemei Netherland saja, sih…"

"Kau benar-benar ingin tahu?"

Untung saja jalanan sudah lengang, kalau tidak bukan mustahil Malaysia menjadi penyebab tabrakan beruntun karena tangannya oleng(?) akibat suara Indonesia.

"A… aku sedang menyetir! Kau jangan berbuat macam-macam padaku jika tidak ingin ada kecelakaan!" ancamnya.

Indonesia tertawa kecil. "Bagaimana mau macam-macam kalau terikat tali tambang begini? Kau pikir aku memiliki kesaktian Gatot Kaca atau Garudaboi?"

'Yah, siapa tahu?' batin Malaysia.

"Daripada itu, mengenai pertanyaan tadi," Indonesia kembali bersuara, "… kalau aku sampai menyemei Netherland bagaimana?"

"I… Itu kan urusanmu, memangnya aku peduli? Jangan kira hanya karena kau berpacaran dengan kepala tulip itu…"

"…Malaysia…"

"… Walau aku tidak suka pada lolicon maniak kelinci brengsek sepertinya, toh aku tidak akan rugi juga walau kau tukar-tukaran diary, lime-an, lemonan, atau Jeruk-an sama dia. Kalau dipikir lagi orang bodoh macam kau juga pantas jika…"

"Kau… cemburu?"

Keadaan dalam mobil mendadak senyap.

Dari pantulan spion, Malaysia bisa melihat Indonesia tersenyum. Bukan senyuman licik seperti yang sering ia tunjukkan belakangan, hanya seulas senyum yang sama seperti saat manakala daratan Melayu hanya milik mereka, dimana sosok Indonesia sebagai remaja tanggung belum tersentuh oleh makhluk dengan ras kaukasia brengsek itu.

"Kau malah terlihat lebih jujur jika membisu seperti itu daripada mengeluarkan sumpah serapah padaku seperti biasanya," sebaris kalimat tu meluncur dari mulut Indonesia yang masih mengulum senyum.

"I… itu kan karena kau yang mengataiku duluan!"

Indonesia tertawa kecil. "Tentu saja, soalnya selain lewat pertengkaran aku tidak tahu lagi harus bagaimana untuk dekat denganmu."

Bersamaan dengan semburat merah yang menjalari parasnya, jantung Malaysia serasa meloncat keluar mendengar kalimat terakhir yang ia dengar barusan.

"Dan, kau tahu…" tanpa menunggu reaksi Malaysia yang ia tahu akan membalas kata-katanya dengan sumpah serapah sesuai dengan reaksi ke-tsundereannya, Indonesia melanjutkan, "… mungkin terdengar egois bagimu jika mendengar hal ini. Tapi jika kau memang cemburu, itu membuatku sedikit… senang. Berarti harapan kosong yang kupendam selama ini tidak sia-sia."

Apa…?

Apa maksudnya?

"Indon, kau bercan…"

Kalimat Malaysia terputus begitu melihat sosok lawan bicaranya tertidur di bangku belakang.

… Tunggu.

Yang tadi itu tidak mungkin igauan… kan?

Setidaknya begitulah pemikiran Malaysia. Namun setelah membuat jantungnya nyaris berhenti memompa darah dengan kalimat-kalimat yang tak ia duga bisa keluar dari mulut seorang personifikasi negara Indonesia, nyatanya orang yang bersangkutan malah tertidur pulas.

… Dengan saliva menetes ke bangku mobil kesayangan Malaysia yang ia tiduri.

"… INDON BRENGSEEEEEEEEEK…!"


Mendengar suara ketukan pintu, Kalimantan menunda kegiatan memakan Cadburry Black forest-nya yang tinggal separuh dan bangkit dari sofa murahan bermotif hati kesayangannya. Entah terlalu lama bergaul dengan kakaknya atau apa yang membuat seleranya menjadi seperti itu.

"Hei."

Sebuah sapaan datar dari rival abadi kakaknya tercinta yang kini sedang membopong sosok yang tadi disinggung dalam keadaan terikat tali tambang.

Dan saat itu, Kalimantan langsung mundur satu langkah dari ambang pintu. Dipikirnya noda coklat samar di sekitar mulutnya bisa luput dari penglihatan Malaysia kalau saja posisi mereka lebih berjauhan.

"Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan. Selanjutnya kau urus dia," Malaysia menyerahkan tubuh personifikasi Indonesia pada Kalimantan.

"Tu… tunggu Malay!"

Ucapan Kalimantan membuat langkah Malaysia yang sudah berbalik dan hendak berjalan menuju mobilnya secepatnya terhenti.

"Soal kejadian di rumahmu… tenang saja, aku takkan membocorkannya dengan siapapun."

Hanya perasaan Kalimantan saja, atau memang kulit sawo matang lawan bicaranya perlahan berubah menjadi kebiruan?

"Itu cuma salah paham! Jangan berasumsi yang aneh-aneh!" seru Malaysia sebelum akhirnya membanting pintu mahogani rumah Kalimantan dengan kasar, meninggalkan Kalimantan terbengong-bengong di tempat. Jika yang tadi ia saksikan itu memang hanya salah paham, sebenarnya duo personifikasi Melayu itu sedang melakukan apa?


Malaysia menyalakan mesin mobilnya. Dengan lihai tangannya memegang setir kemudi untuk keluar dari pekarangan Kalimantan yang lebih cocok disebut rimba.

Ada sedikit keinginan untuk membangunkan Indonesia dan menuntut penjelasan atas kalimat-kalimat rancu yang ia ucapkan sebelumnya terbersit di otak Malaysia.

Tapi ia tidak tahu lagi, reaksi seperti apa akan ia keluarkan setelah personifikasi Indonesia mengucap kata-kata yang masih berada diambang kejujuran dan kejahilan itu.

'Harapan kosong' katanya…?

Setelah kalimat-kalimat itu keluar dari bibirnya, bukankah dia yang memberikan harapan kosong pada Malaysia?

"Hei, tunggu!"

Sebuah suara kelewat familiar yang paling tidak ingin didengar Malaysia saat ini.

Indonesia sang pemilik suara berdiri di ambang pintu rumah Kalimantan. Malaysia membuka kaca mobilnya. Perasaan antara galau dan penasaran akan apa yang diucapkan Indonesia menghantui pikirannya.

... Hei, Malay, apa kau tidak dihantui perasaan bersalah melihat keadaan tubuh Indonesia yang dipenuh jejak jeratan tali tambang begitu?

Indonesia kembali membuka mulutnya, "Anu… aku…"

Ya? Kau apa?

"Aku minta maaf karena sudah ngiler di mobilmu, Malaysia."

"…"

"…"

Selang sepersekian menit setelah kalimat itu terucap dari mulut Indonesia, mulut Malaysia tetap membungkam.

"Sudahlah, tidak masalah," aku akan segera men-dry clean dan menyemprotkannya dengan desinfektan setelah ini; kalau perlu kusuntik rabies malah, tambah Malaysia dalam hati terlepas dari kenyataan bangku mobil tidak mungkin bisa terserang rabies.

Sambil melengos, Malaysia menyetir mobilnya makin menjauh dari kediaman Kalimantan. Masih bingung entah dia harus kecewa atau apa.

Ternyata Indon bodoh itu hanya mau minta maaf akibat produksi salivanya yang berlebihan. Benar-benar deh orang itu… makanya…

...

… Tunggu.

Seorang Indon?

Minta maaf padanya?

Minta maaf dengan mengucapkan nama aslinya, bukan panggilan sayang macam 'Malay' atau 'Malingsia' seperti sebelum-sebelumnya?

… Kalaupun sihir England entah bagaimana sudah lepas, ia yakin Indonesia sedang kesurupan.


to be Continued


maap kalo kali ini humornya berkurang (emang yg dulu2 ada humornya?) ato bahasanya dangkal kali ini lebih dangkal lagi, habisnya ide mengalir di saat otak saya cenat cenut sih *alesan*

oh iya, dan saya ternyata memang nggak mungkin bisa menyajikan lemon, gomen untuk para fujoshi di luar sana yang mengharapkannya... *PLAK*

Jika ada typos atau kritikan silakan lapor ama author, seperti biasa~

REVIEW onegaaaaai~? *nebar foto adegan Mariabelle chan ngelamar orang utan*