Draquill's note : BANZZAAAIIIII! Maaf update lama m(_ _)m Soalnya buan Mei sempet hiatus sekitar lebih dari seminggu, rencananya juga maw apdet besok tapi lantaran sakit pusing, apdetnya jadi sekarang deh (mumpung lagi sedikit insomnia) :P Jadi, chapter kali ini sedikit kupanjangin ;) Big hugs to all silent readers and all my beloved reviewers! Semoga masih lanjut membaca fic gaje nan abal ini xD

Balasan para anonymous reviewers : (yang login sudah lewat PM)

Risa-chan-amarfi : OK, lagi diusahain koq… Nyantai aja~

Namikaze kebakarannn mls login : Makasih~ *wide grin (kaya orang bego senyum2 sendiri)* Thanks for reviewing :D

Enjoy~


Hazel Dream

Chapter 2 : Meeting Kushina


Suara itu!

"Nawaki… Aku tahu itu kamu, lepaskan aku sekarang!" ujar Minato. Anak berambut coklat jabrik itu dengan segera membuka mata Minato agar bisa melihat lagi. Minato segera berbalik untuk melihat wajah anak itu.

"Cih… ternyata ketahuan! Padahal aku sudah menghilangkan hawa keberadaanku," jawab Nawaki dengan tangan terlipat.

Senju Nawaki, teman Minato yang terjahil, adik dari Tsunade-sama dan cucu dari Shodaime. Minato dan Nawaki memiliki ambisi yang sama, karena itu mereka sering kali bersaing dalam hal ninjutsu maupun di akademi dulu sebelum menjadi genin. Berbeda dengan Minato, Nawaki lebih periang dan tipe orang yang eksentrik.

"Hei,hei! Jurus apa lagi?" Mata Nawaki menerawang ke arah gulungan–gulungan ninjutsu yang tertera berantakan di atas rumput dan membacanya dengan lantang,"Cara membuat Kage Bunshin no Jutsu. Hmm.. aku yakin kau pasti sedang latihan Kage Bunshin no Jutsu tanpa sepengetahuanku ya?" Kemudian ia kembali membacanya.

"Hah? Level Jounin? Kau serius?"

"Memangnya tidak boleh?" tanya Minato dengan santainya.

"Kenapa tidak bilang padaku? Kau curang tidak memberitahuku…" ujar Nawaki dengan nada setengah berteriak dan segera mengerucutkan bibirnya. Minato terdiam dan melihat ke arah lain dimana ia tidak bisa melihat pandangan mata coklatnya.

Sebenarnya bukan Minato tidak mau memberitahunya atau tidak, tetapi karena dia tahu bahwa Kage Bunshin no Jutsu menggunakan chakra yang banyak. Dikatakan dapat digunakan pada level Jounin karena chakranya lebih besar dibandingkan tingkat genin seperti Minato (sebenarnya akan segera dipromosikan Sandaime untuk menjadi chunnin karena kecerdasannya, tetapi itu masih beberapa bulan lagi) dan Nawaki.

Dalam bayangan Minato, yang bisa memakai jurus ini dalam usia dini dengan mudahnya pasti orang itu memiliki chakra yang lebih banyak dibandingkan orang-orang yang memiliki chakra normal. Dan sepertinya mengajak Nawaki bukan ide yang bagus karena dapat menyebabkan kehabisan chakra apabila berlebihan, jadi ia memutuskan untuk melakukannya sendiri.

Nawaki mendengus, "Ya sudahlah… Untuk kali ini saja, aku tidak akan bertarung denganmu." Jawaban ini membuat Minato kaget. "Hmm… kenapa tidak? Kenapa tiba-tiba tingkahmu menjadi aneh seperti itu?" Nawaki menjawab dengan tersenyum puas.

"Tidak apa-apa, lagipula kau tahu Nee-chan akan mengajariku melempar kunai agar tepat sasaran, kau tahu sendiri bahwa aku lemah dalam hal melempar kunai kan?" ujar Nawaki. Minato hanya memutar bola matanya, "Yah… selamat berjuang latihan, Nawaki. Jangan sampai Tsunade-san mengobatimu lagi di tengah-tengah kerumunan," canda Minato.

"Hei! Itu bukan salahkul! Dan jangan ungkit-ungkit lagi soal yang tadi!" jawab Nawaki dengan sedikit rona merah di wajahnya menunjukan bahwa ia merasa malu.

Beberapa hari yang lalu saat mereka baru saja selesai latihan, mereka bertemu dengan Tsunade-san yang sedang berbincang-bincang dengan Jiraiya-sensei. Tsunade-san melihat jari telunjuk Nawaki yang terluka karena salah satu kunainya sehingga ia segera mengobatinya di depan umum.

Tentu saja, Nawaki tidak senang dilihat seperti itu karena ia malu, apalagi dengan adanya Minato, teman sekaligus rivalnya ada disebelahnya. Sejak kejadian itu, Nawaki lebih sering mengobati luka-lukanya sendiri (meskipun kakaknya ada, tapi kelihatannya Tsunade-san tidak peduli selama adiknya bisa menjaga dirinya sendiri).

Minato beranjak untuk membereskan gulungan-gulungannya untuk bersiap-siap pulang. "Nawaki, aku pulang dulu,ya? Sebentar lagi malam…" Minato langsung membalikkan badannya dan beberapa saat kemudian Nawaki mengikutinya.


Keesokan harinya, musim semi di Konoha pun diresmikan dengan mulai bermekarannya pohon-pohon sakura di beberapa tempat. Kelopak-kelopak bunga sakura yang terbawa angin bertebaran dimana-mana sampai memenuhi tempat latihan terdekat dari rumah Mito-sama. Kushina segera memutuskan untuk bersandar di bawah salah satu pohon sakura sambil memperhatikan kelopak-kelopak bunga sakura yang terus berjatuhan. Tidak lupa ia mengenakan topi kesayangannya yang dibawa dari rumahnya. Awalnya topi itu milik kakaknya, tapi berhubungan Kushina akan pergi jauh dia memberikannya sekedar untuk mengenang dirinya.

Pemandangan di Konoha lumayan juga… Setidaknya mengingatkanku akan rumah di Uzushio.

Kushina teringat akan pemandangan musim semi di daerah asalnya. Tenang dan damai. Biasanya dia akan mengajak teman-temannya untuk memanjat pohon sakura dan memperhatikan kelopak-kelopak sakura yang berjatuhan ke sungai. Sekarang teman-temannya tidak ada di sini bersamanya, jadi ia harus bisa membiasakan dirinya untuk bersantai-santai dengan tetap memperhatikan bunga sakura.

Mito-sama seharusnya melihat ini…

Sekarang, Mito-sama lah yang akan menjaganya selama ia di Konoha. Untuk pertama kalinya ia melihat seorang wanita yang berusia lebih tua dibandingkan para petinggi yang ada di desanya. Meskipun begitu, Mito-sama masih terlihat seperti layaknya wanita berusia enam-puluhan. Terlebih lagi tatapan mata hazelnya yang menyiratkan ketegasan dan kebaikan. Bisa disimpulkan bahwa ia bukan sembarang orang tua biasa.

Kushina sendiri tidak terlalu mengerti mengapa ia harus tinggal di Konoha untuk sementara waktu. Mungkinkah apabila ia diperlukan dalam sesuatu yang dirahasiakan darinya? Sepenting itukah dia? Ia butuh jawaban. Dan ia yakin bahwa suatu hari pasti ia akan mendapat jawaban itu.

Terkadang, Kushina merasa bahwa selama hidupnya ia selalu diperhatikan oleh para petinggi desa (termasuk Konoha) seolah-olah dia merupakan berlian yang bernilai tinggi. Menurut Kushina, hal ini benar-benar menyebalkan.

Pemikiran-pemikiran kompleks ini membuat kepalanya berputar. Hembusan angin yang menenangkan kembali membawa kelopak-kelopak sakura beterbangan. Mungkin terlalu tenang. Akhirnya Kushina pun menutup kedua matanya.


Dimana kau Minato? Kau bisa membuatku semakin tua!

Di tengah-tengah kerumunan warga, Jiraiya mencari-cari keberadaan muridnya yang berambut kuning. Ia sudah mencari di tempat biasa Minato berlatih, tetapi ia tetap tidak menemukannya. Rencananya, ia akan mengajak Minato untuk bertemu dengan 'seseorang' karena menurutnya, Minato terlalu serius jadi Jiraiya memutuskan untuk menjadi matchmaker demi murid tersayangnya. Apalagi, bocah kemarin itu juga lumayan enak dipandang meskipun tingkahnya seperti laki-laki.

Dan, rencana itu hancur karena Minato tidak ada.

Hebat, benar-benar hebat. Sekarang ia harus berkeliling-keliling mencarinya.

Aneh…

Kemarin, dia sendiri sudah disuruh mengajak bocah berambut merah itu berkeliling Konoha dan sekarang ia harus mencari muridnya sampai berkeliling Konoha lagi? Seandainya ada Shikaku disini, ia pasti akan mengatakan kata favoritnya : Menyebalkan!

Jiraiya memutar langkahnya ke arah pertokoan yang sedikit demi sedikit mulai ramai oleh pengunjung. Tidak lebih dari lima langkah, ia menghentikan langkahnya karena sepintas ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.

Sebuah papan bertuliskan Onsen.

Jiraiya mulai berpikir apa sebaiknya dia bersenang-senang mengintip atau Minato yang lebih penting. Jiraiya mengintip sedikit ke arah onsen itu lagi sambil membayangkan berbagai macam wanita-wanita seksi yang sedang berendam. Karena terlena oleh pikirannya sendiri, keputusannya pun bulat untuk memilih onsen daripada Minato.

Tenang saja… Minato bisa menunggu… Gadis-gadis manis, here I come!


Sensei… dimana kau? tanya Minato dalam batinnya.

Mencari Jiraiya-sensei bukanlah suatu kebiasaan bocah berambut kuning jabrik ini. Biasanya Jiraiya-sensei lah yang selalu menghampirinya atau bertemu tanpa disengaja. Apabila ia ingin mencari senseinya, biasanya ia ada di onsen mengintip wanita-wanita mandi. Minato sudah mencoba mendatangi tempat itu tetapi Jiraiya-sensei tidak ada.

Aneh… Apa sensei sedang pergi menjalani misi?

Jiraiya-sensei pasti selalu memberitahu Minato ketika hendak menjalankan misi. Jadi sepertinya tidak mungkin apabila ia menjalankan misi tanpa sepengetahuannya.

Kelelahan, Minato memutuskan untuk mencari tempat berteduh di sekitarnya. Untungnya, ia menemukan sebuah tempat latihan dengan pohon-pohon sakura yang bermekaran.

Angin yang bertiup kencang di ke arah Minato, membuat kelopak-kelopak sakura yang berjatuhan. Minato mengulurkan tangannya untuk menangkap kelopak sakura yang jatuh ke arahnya dan berjalan mendekati salah satu pohon sakura itu.

Musim semi, ya…?

Minato menarik nafas dalam-dalam, menghirup aroma musim semi yang serasa mengelilinginya. Dia mencari pohon sakura dengan posisi yang kira-kira paling enak untuk beristirahat.

Terlalu sedikit, terlalu kecil… Ah, ini dia!

Minato langsung mendekati pohon sakura yang paling lebat dengan bunganya. Dengan cepat ia menyenderkan kepalanya di bawah batang pohon itu, merenggangkan otot-ototnya dan membiarkan matanya menutup secara otomatis. Anehnya, ia merasa bahwa tanahnya terasa hangat. Minato mengerinyitkan keningnya sambil bergumam mengapa tanah di sini rasanya hangat dan teksturnya yang aneh serasa seperti... tangan orang lain?

Minato mengintip sedikit ke sebelahnya dan melihat sesuatu yang berwarna merah.

Merah? Rasanya aku belum pernah melihat orang yang memiliki rambut berwarna merah sebelumnya?

Minato kaget ketika tangan orang itu mencengkram tangannya lebih kuat sehingga terlihat seperti berpegangan tangan. Ia mencoba untuk lepas tetapi rasanya sulit sekali sehingga dia sendiri harus melihat apa yang dilakukan orang itu. Ia berdiri di ataas lututnya pelan-pelan dan mengintip siapa yang ada disebelahnya.

Dan semua menjadi jelas.

Disebelahnya, ada seorang gadis berambut merah yang wajahnya tertutup oleh topi laki-laki dengan tangan kirinya yang berpangku di perutnya. Dilihat dari badannya yang naik turun itu, Minato langsung bisa menyimpulkan bahwa gadis itu sedang tertidur dengan pulasnya. Awalnya, Minato tidak ingin membuka topinya karena dia mengira bahwa akan menggangu tidurnya.

Jangan Minato... Ini jebakan!

Agar tidak termakan oleh jebakan, ia mencoba melepaskan tangan gadis itu yang genggamannya semakin lama semakin hangat. Untuk melepaskan genggaman ini tentunya ia harus membangunkan gadis itu daripada harus dipaksakan seperti ini. Akhirnya, Minato pun mencoba membuka topi yang terletak di depan wajahnya.

Ternyata ia benar. Gadis itu tertidur pulas seperti orang mati sampai tidak menyadari keberadaannya. Mukanya memang terlihat biasa-biasa saja, tetapi entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang misterius yang bergejolak di hatinya. Sungguh-sungguh aneh.

Tanpa berpikir panjang (bahkan tidak sadar) ia sudah menyentuh wajah gadis itu dari tangan yang disodorinya untuk membangunkan gadis itu.

... Halus.

Untuk pertama kalinya, Minato menyentuh wajah seorang gadis yang sama sekali tidak dikenalnya. Ia mengusap pipi gadis itu dengan jempolnya, merasakan halusnya wajah gadis itu. Rasanya sama seperti menyentuh kain sutra. Jantungnya berdegup semakin tidak terkendali. Kenapa ia bisa bertingkah seperti ini?

Suasana ini semakin parah dengan adanya angin yang bertiup kencang dengan kelopak-kelopak sakura yang terus menerus berjatuhan, salah satu kelopaknya tersangkut di antara rambutnya yang merah. Minato yang sadar akan itu langsung memindahkan tangan yang dipakainya untuk menyentuh wajah gadis itu untuk mengambil kelopak itu dan menyeretnya perlahan-lahan dari rambutnya sampai ke bawah.

... Rambutnya memang agak berantakan, coba kalau dia sisiran...

Kabar buruknya, gadis itu malah membuka membuka kedua kelopak matanya perlahan-lahan akibat hembusan angin sejuk tadi. Gadis itu melihat sosok sesuatu yang berwarna kuning. Dan tangan kanannya terasa hangat, padahal ia tidak ingat menyentuh apa-apa.

Minato yang baru saja mendongkakkan wajahnya untuk melihat kembai gadis itu langsung shock karena gadis itu ternyata sudah bangun. Jantungnya serasa seperti akan meledak beberapa detik lagi apabila gadis itu sadar akan keadaan ini.

Gadis itu juga kaget karena melihat ada seorang laki-laki berambut kuning jabrik didepannya. Kemudian ia melirik ke arah tangannya yang menggenggam erat tangan milik Minato. Alhasil, wajahnya semakin merah.

"Ano, i-itu bis-bisa kujelaskan... to-to-tolong jangan salah paham dulu," ujar Minato dengan nada gagap.

Tanpa berpikir panjang, gadis itu langsung melepaskan genggamannya dan mengirim sebuah pukulan yang keras tepat di kepala Minato.

"Aduuuhhh!"

Gadis berambut merah itu mengambil topi yang terletak disebelahnya. Dia memandang sinis terhadap Minato. Seenaknya saja memegang tanganku disaat aku lengah!

"Hei, kau! Apa maumu seenaknya memegang tanganku? Hah? Jawab!"

"Aku baru saja ingin menjelaskannya, sebenarnya kaulah yang memegang tanganku sampai merah seperti ini," jawab Minato sambil menunjukan tangannya yang merah akibat digenggam terlalu erat. Minato melanjutkan, "aku... aku sebenarnya ingin membangunkanmu untuk melepaskan tanganmu, tapi..." Minato tidak berani mengatakan satu patah katapun lagi. Ia baru saja menyadari bahwa dia sudah membangunkannya dengan cara yang tidak wajar.

Gadis itu masih menunggu jawaban Minato, "Tapi apa?"

"K-k-kau... tidak bangun." Mengakhiri jawabannya, Minato bisa merona merah karena malu.

Gadis itu terdiam untuk sementara. "Begitukah?"

"Iya."

Gadis itu hanya memutar tubuhnya dan memakai topinya.

Suasana pun menjadi hening. Minato sendiri tidak tahu apa yang dilakukan gadis itu menatap batang pohon sakura begitu lama, jadi ia memutuskan untuk mulai berbicara, "... Kau sepertinya bukan dari sini, boleh aku tahu siapa namamu?"

Gadis yang awalnya menghadap berlawanan arah dari Minato akhirnya menatap Minato kembali, tetapi matanya tidak begitu terlihat karena bayangan dari topi itu.

"Bukankah sebaiknya kau dulu yang memperkenalkan namamu sebelum mengetahui nama orang lain?" tanya gadis berambut merah itu.

"Maaf, aku lupa. Namaku Minato. Namikaze Minato. Senang berkenalan denganmu," jawab Minato kikuk dengan tangannya menggaruk kepalanya.

"Namaku Kushina. Uzumaki Kushina."


Draquill's note : Gimana? Meskipun apdetnya lama tapi chapter kali ini lebih panjang dari biasanya, kan? Jadi ga sia-sia banget nunggu. Tapi ngetiknya agak capek euy :P Yang ini belom di proof read (baca ulang) *kepalaku lagi ga bisa mikir *, jadi kalo ada salah tolong dikasih taw lewat review.. Cara yg terbaik biar fic ini bisa lanjut itu karena review2 dan hits para silent readers, jadi silahkan review/kritik yang banyak ya! *puppy eyes no jutsu!* ;)

Lantaran ide2 plotku agak berantakan *gara2 ditulis ulang* plus soak *gara2 sakit T.T Ada yg maw bagi P*nadol?* kalian juga boleh kasih saran, gimana seharusnya MinaKushi di fic abal ini. Kalo ada adegan yg menurutku bagus siapa taw bisa kumasukin di fic ini :) OK?

Kushina udah ketemu ma Minato dgn cara yang agak mengenaskan (mungkin bagi Minato memalukan :P) hehee... Poor Minato!