-GOODNIGHT, MR. REDRUM!-
For Infantrum Black and White Challenge
Story © charlottecauchemar
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: AU. Bit OOC. Yaoi. Character Death. Alur maju mundur yang bisa bikin sakit kepala.
Chapter 2: Marriage of Death
Summary: Pernikahan mereka hanya akan membawa malapetaka, bahkan kematian untuk salah satunya. Atau bahkan.. keduanya?
Gadis berambut merah muda itu membolak-balik buku di tangannya tanpa ada niat untuk membacanya. Berkali-kali ditariknya nafas panjang sambil melirik jam dinding di ruang keluarga itu. Pukul 1 malam dan suaminya belum pulang, bahkan sekedar memberi kabar.
Samar-samar didengarnya suara mesin mobil. Gadis itu bangkit dan mengintip melalui celah gorden jendela. Begitu melihat sedan hitam yang amat dikenalnya, bibirnya membentuk seulas senyum lega.
Dengan segera, Sakura berjalan menuju pintu depan dan menunggu suaminya masuk.
"Tadaima..." suara berat seorang pria mengiringi derit pintu yang dibuka perlahan.
"Okaeri..." jawabnya.
Sakura tersenyum kemudian menghampiri suaminya yang membalasnya dengan sebuah kecupan di keningnya. Diambilnya tas kerja hitam yang ditenteng pemuda itu dan membawanya ke ruang tamu. Pemuda itu langsung menghempaskan dirinya di sofa kulit berwarna putih.
"Sepertinya kau lelah sekali... Sai..." Sakura muncul lagi sambil membawa secangkir teh yang terlihat mengepul.
"Terimakasih..." jawabnya ketika menerima cangkir itu dan menyesapnya sedikit.
Sakura memperhatikan pemuda yang sudah menjadi suaminya selama kurang lebih dua tahun itu. Dia tak pernah menyangka, orang menyebalkan yang terkadang suka bicara kelewat jujur itu bisa menjadi belahan jiwanya.
Awalnya dia hanya ingin mencari pelampiasan untuk melupakan patah hatinya karena ternyata orang yang disukainya sejak dulu sudah menjadi kekasih dari sahabatnya sendiri. Tapi sekarang… dia tahu, kebahagiaannya adalah bersama pemuda ini.
"Sepertinya... besok aku tidak bisa pulang lagi..." Suara pemuda itu menginterupsi lamunannya.
"Eh? Kenapa?" Sakura sedikit terlonjak. Sudah beberapa minggu terakhir ini, Sai pulang lewat tengah malam. Bahkan terkadang, tidak pulang sama sekali.
Sai meletakkan cangkirnya di meja kaca. "Kasus kali ini benar-benar bikin kami kelabakan..."
"Pembunuhan berantai itu lagi?" tanyanya dengan nada cemas.
Jawaban Sai adalah sebuah desahan panjang. Pemuda itu menyandarkan tubuhnya sambil memijit keningnya. "Dibilang pembunuhan berantai juga bukan sih…"
Sakura mengangkat sebelah alisnya, bertanya-tanya.
"Cara pembunuhan, motif, maupun target sama sekali tidak ada yang berhubungan. Hanya satu hal yang membuat kami memutuskan bahwa pelakunya adalah orang yang sama. Kartu hitam bergambar tengkorak yang selalu ditinggalkan di TKP," jelasnya. "Lagipula, pembunuh macam apa yang bisa menembak dari jarak 200 m tanpa meleset, membuat bahan peledak dengan kekuatan yang mampu menghancurkan sebuah gedung perlemen, atau pun menyelinap masuk ke rumah seorang gubernur seperti seekor tikus?" ujarnya frustasi.
Sakura melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang pemuda itu dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang Sai. "Kau... harus berhati-hati, ya?"
Sai tersenyum kecil dan mengelus rambut merah muda Sakura. "Sakura... aku ini seorang polisi. Pekerjaan menantang maut seperti ini, sudah biasa kan? Orang seperti Redrum ini tidak bisa kita biarkan berkeliaran lebih lama di muka bumi."
"Redrum?" tanya Sakura, mendongakkan kepalanya.
"Code name-nya. Selain itu, kami berasumsi dia adalah bagian dari Hebi, organisasi kejahatan terbesar saat ini. Hanya itu yang berhasil kami kumpulkan."
"Orang bernama Redrum itu… berbahaya, ya?"
Sai tertawa kecil. "Kami lebih memilih menyebutnya sebagai iblis daripada manusia."
Sakura ber-oh panjang.
Pemuda berambut hitam itu menyambut keheranan istrinya dengan senyuman yang biasa menghiasi wajahnya. Bersyukur, karena akhirnya wanita yang berprofesi sebagai dokter itu bisa mencintainya seperti dia mencintai wanita itu sepenuh hati.
Tiba-tiba, telepon genggam Sai yang berada di saku jasnya bergetar. Dengan setengah hati, diambilnya telepon genggam itu.
Shit, rutuknya, tidak bisakah aku istirahat sebentar saja?
"Ya, Shikamaru. Ada apa?" tanyanya dengan sedikit kesal. Pemuda itu tahu, bahwa jika rekan sesama polisinya yang menelepon, berarti tidak ada waktu untuk bersantai-santai baginya.
"Jangan bersuara seperti itu, Sai. Ino yang ngambek sudah cukup menyusahkan untukku," jawabnya dengan malas-malasan.
Sai menarik napas panjang, mata onyxnya bertumbukan dengan mata sea green Sakura yang menatapnya dengan khawatir.
"Jadi.. ada apa?" ulangnya.
"Korban baru Redrum ditemukan. Sannin Orochimaru dan para asistennya di laboratoriumnya." Nada bicara Shikamaru berubah serius. Walaupun Shikamaru adalah seorang pemalas, namun jika sudah menyangkut urusan pekerjaan, dia bisa berubah 180 derajat. "Ah… sedikit saran, sebaiknya kau pakai sepatu boot. Redrum sepertinya berniat membuat tempat ini menjadi lautan darah."
Sai mengernyitkan dahinya.
"Dan ada kabar gembira untukmu, kali ini ada Redrum sedikit teledor. Ada seorang saksi yang melihatnya keluar dari laboratorium tadi malam. Kau mau tahu apa yang dikatakannya?" Sai bisa mendengar suara Shikamaru berubah geli. "Pemuda berambut hitam dengan kulit putih pucat. Mengingatkanmu pada seseorang, eh?"
"Sialan kau…" ujarnya sebelum mematikan telepon genggamnya. Apa maunya Shikamaru mengaitkan dirinya dengan Redrum?
"Tadi Shikamaru, ya? Panggilan tugas lagi?" Suara Sakura terdengar sedikit jengkel.
"Korban baru, Sannin Orochimaru. Mantan dosenmu, kan?" Sai bangkit dari sofa dan mencari sepatu bootnya di rak sepatu.
"Orochimaru-Sensei?" Sakura berusaha terdengar tidak terlalu kaget. "Aku tidak heran, orang itu memang banyak musuhnya. Dia menganggap tubuh manusia hanya sebagai bahan percobaan untuknya."
"Tidak sedih sama sekali?"
Sakura hanya mengangkat bahu kemudian mengikuti suaminya yang sedang memakai sepatu.
"Shikamaru memberitahu satu hal menarik padaku. Kau tahu bagaimana ciri-ciri Redrum? Pemuda berambut hitam dengan kulit putih pucat. Kau harus hati-hati berdekatan denganku, Sakura," katanya sambil terkekeh.
Dengan itu, Sai memberikan kecupan kecil di kening Sakura dan berjalan keluar rumah.
Tapi ada satu hal yang terlewatkan oleh Sai. Mata Sakura yang mendadak melebar dan raut wajahnya berubah ngeri.
"Sasuke...?" bisiknya.
~oOo~
Sasuke memandang pemuda berambut pirang yang tertidur dengan pulas di sampingnya. Jemari pucatnya memainkan helai rambut pirangnya dan sesekali menciumi kening pemuda di dalam pelukannya itu. Pipinya yang kecokelatan masih terlihat memerah akibat 'aktifitas malam' yang baru saja mereka lakukan.
Seulas senyum tipis mewarnai wajahnya. Sudah lima tahun sejak dia mengenal Naruto. Dan akhirnya, dua tahun yang lalu, mereka tinggal di bawah satu atap. Sejak lulus kuliah, dia mulai bekerja di Rumah Sakit Universitas Oto, sampai saat ini. Sedangkan Naruto, kini dia bekerja sebagai dokter di Oto High School.
Awalnya, Sasuke mengira ketika Naruto tahu kehidupannya yang lain di luar kampus, pemuda ceria itu akan meninggalkannya. Karena itu dia selalu diam tentang penyebab lukanya yang menyebabkannya sekarat. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Naruto selalu menemaninya di saat seperti apa pun.
Keluarga Uchiha. Semua orang yang mengenal nama itu pasti akan menghubungkannya dengan Akatsuki, kelompok besar yang terdiri dari orang-orang yang mengendalikan hampir sebagian besar perekonomian di Oto. Tapi, yang tidak mereka tahu adalah, Akatsuki memiliki satu wajah lagi.
Di dunia hitam, Akatsuki adalah pusat dari perdagangan barang-barang ilegal, bahkan terkadang pekerjaan kotor lainnya. Bukan hanya sebatas Oto, wilayah mereka hampir mencakup seluruh Negara Hi. Dan yang menjadi pemimpin dari organisasi itu tak lain dan tak bukan adalah Uchiha Itachi, kakak semata wayang dari Uchiha Sasuke.
Waktu Naruto menemukannya sekarat lima tahun yang lalu, dia baru saja ditugaskan mengawal kiriman mariyuana dari Kiri. Sayangnya, rencana itu bocor ke pihak ANBU, satuan polisi khusus yang dibentuk untuk menangani kejahatan tingkat tinggi seperti ini. Begitu sampai di pelabuhan, mereka disambut oleh hujan timah panas dari ANBU. Baku tembak pun tak bisa dihindari. Selanjutnya... sepertinya sudah tidak perlu diceritakan lagi.
Sasuke mengeratkan pelukannya pada tubuh Naruto. Dipandanginya wajah pemuda itu. Sungguh, Sasuke sangat bahagia dengan kehadirannya. Dia akan memberikan segalanya untuk membuat senyum Naruto terkembang selamanya. 5 tahun bersama Naruto rasanya lebih berharga dari seluruh waktu yang pernah dilewatkannya.
Dan dia tahu satu hal yang bisa membuat Naruto menjadi orang paling bahagia di muka bumi.
Pernikahan.
Uchiha Naruto tidak terdengar buruk… pikirnya.
Untuk terakhir kalinya malam itu, Sasuke mengecup kening Naruto.
"Goodnight, Angel.."Dan kemudian menyusul Naruto ke dunia mimpi.
~oOo~
Sasuke mengawasi vila di atas gunung itu tanpa mengedipkan matanya. Sebuah pistol kaliber 9 mm tersimpan dengan rapi di balik mantel hitam anti peluru yang dipakainya. Keningnya sedikit berkerut, sepertinya sedang berpikir keras.
Vila itu terlalu sepi. Jika memang di dalam sana ada Kakek Tua Sarutobi, pemilik saham terbesar dari Hokage Corp., yang jelas-jelas merupakan targetnya kali ini, seharusnya paling tidak ada selusin penjaga di pintu depan. Tapi yang ditangkap mata onyx Sasuke sedari tadi dia mengamati tempat itu, hanya ada beberapa orang pelayan termasuk dua pemuda berambut hitam yang sepertinya adalah polisi.
Pemuda itu menggelengkan kepalanya pelan. Bukan urusannya, siapa yang ada di vila itu. Lebih baik menjalankan tugas 'kecil'-nya dan segera kembali ke 'Mirai'.
Dengan gesit, Sasuke berhasil melompati pagar yang memisahkannya dengan vila itu. Begitu masuk, dia langsung bersembunyi di balik semak-semak. Perfect, seperti dugaannya, tidak ada penjagaan sama sekali. Walaupun begitu, dia tidak menurunkan kewaspadaannya.
Sasuke berjalan dengan cepat menuju bagian belakang vila sambil berjalan di antara bayang-bayang. Dia tidak perlu susah-susah mencari di mana Kakek Tua itu berada. Blue print vila itu sudah tercetak dengan baik di otaknya.
Begitu sampai di jendela yang ditujunya, pemuda itu mengeluarkan pisau khusus dari sakunya. Dengan mudahnya, Sasuke memotong sedikit kaca jendela sehingga memungkinkan jarinya meraih kunci untuk membuka jendela.
Tanpa menimbulkan suara gaduh, Sasuke berhasil masuk ke dalam vila yang terhitung mewah itu. Dan sekali lagi untuk keberuntungannya, dia tidak berpasasan dengan siapa pun.
Sebuah pintu kayu jati bergagang kuningan langsung menyita perhatiannya. Dengan sekali lihat, dia tahu bahwa targetnya ada di balik pintu itu.
Sasuke membuka pintu itu. Sebuah ruangan kerja yang penuh dengan rak-rak tinggilah yang menyambutnya. Dan di ujung ruangan, tepat di belakang meja besar dengan tumpukan dokumen di atasnya, duduk dengan santai seorang pria tua yang sudah termakan usia. Tangannya bersidekap di atas meja, matanya tak lepas dari sosok Sasuke. Dia tersenyum, seakan sudah menunggu kedatangan pemuda itu.
"Selamat datang, Uchiha-san.."
Melihat ketenangan pria itu, bahkan sampai mengetahui nama aslinya, bukan code name yang digunakannya selama ini, otaknya mengambil satu kesimpulan.
"Anda yang mengirim perintah kepada saya untuk membunuh Anda, Sarutobi-san?"
Pria itu mengangguk, masih tetap tersenyum. "Tidak salah aku memilihmu."
Sasuke berjalan mendekati pria itu dan berhenti tepat di depan meja. "Kau bermain-main dengan kematian, Orang Tua. Apa sebenarnya maumu?"
Sarutobi menghela napas panjang. "Hidupku membosankan. Hanya itu."
Kemarahan tiba-tiba saja menguasai pemuda berambut hitam di hadapannya. Kedua tangannya mencengkeram kerah kemeja putih Sarutobi. "Jaga bicaramu! Memangnya semudah itu membuang hidupmu? Kau tahu berapa banyak orang yang rela menukar kehidupannya denganmu? Jawab, brengsek!" Mata Sasuke berubah merah. Sudah lama dia tidak merasakan kemarahan seperti itu. Orang tua di hadapannya itu sudah gila.
Pria itu tidak merubah raut wajahnya. "Begitu?" katanya tenang. "Kalau mereka mau, silahkan. Aku tidak perlu kehidupan yang seperti ini."
Sasuke menyentakkan tangannya, membuat Sarutobi kembali jatuh terduduk. Dia kemudian berbalik, berjalan kembali menuju pintu tempatnya masuk tadi.
Kali ini, kepanikan mulai muncul di wajah pria tua itu. "Mau ke mana kau, Uchiha?" Dia bangkit dari kursinya, dan berjalan memutari meja.
"Aku tidak punya minat untuk membunuh seseorang yang berniat mati. Sebaiknya kau lakukan saja sendiri."
"Kalau aku tidak mati olehmu, maka aku tinggal menunggu cucuku sendiri yang menghabisiku." Suaranya terdengar lirih. "Konohamaru begitu ingin mengambil alih perusahaanku. Selama aku masih hidup, dia tidak akan mendapatkannya. Karena itu, lebih baik aku mati kalau memang itu yang diharapkannya. Jangan sampai dia mengotori tangannya dengan darahku. Aku… hanya ingin dia bahagia."
Sasuke mendengar kesungguhan dalam suaranya. Tapi dia mengindahkannya.
"Uchiha Sasuke! I beg you!"
Sasuke mendesah panjang, berbalik untuk mendapati Sarutobi berlutut, kepalanya sampai menyentuh lantai.
Dia memejamkan matanya, kepalan tangannya terlihat memutih. Kemudian, Sasuke mengambil pistol yang tersembunyi di balik mantelnya dan menodongkannya tepat ke kepala orang tua itu.
"Satu pertanyaan terakhir, Orang Tua." Dia menarik pemicunya. "Dari mana kau tahu tentang aku?"
Pria itu perlahan bangkit, berjalan kembali menuju kursinya. Pistol Sasuke mengikuti setiap gerakannya. "Aku punya orang-orang terbaik untuk mengumpulkan informasi tentangmu. Semuanya."
Pada kata 'semuanya', Sasuke yakin benar pria itu tidak berbohong.
"Ah.. sebagai tanda terima kasih, ada hadiah kecil untukmu beberapa hari lagi," ucapnya, senyumnya kembali merekah. "Tuhan memberkatimu."
Dengan satu gerakan, Sasuke menarik pelatuk pistolnya. Dalam sepersekian detik, peluru itu menembus kepala Sarutobi tepat di keningnya. Warna merah darah membasahi kemeja putihnya. Kepalanya tersungkur di atas meja tanpa kehilangan senyumnya.
"Tuhan itu tidak ada.." Dia mengeluarkan secarik kertas berwarna hitam dengan gambar tengkorak di satu sisi dan tulisan 'Old Man was Dead' berwarna merah di sisi lain.
"Angkat tangan!" Sebuah suara mengganggu ritual yang biasa dilakukannya itu. Melirik kepada pistol di tangan kanannya, Sasuke menyadari bahwa dia tidak memasang peredam suara.
Tanpa berbalik, Sasuke mengangkat kedua tangannya di atas kepala. Bukan untuk menyerah begitu saja, hanya ingin menguji sejauh mana kemampuan orang yang berani mengganggunya ini.
"Letakkan pistolmu di lantai dan berbaliklah!"
Perlahan, Sasuke merendahkan tubuhnya untuk menaruh pistolnya di lantai. Tanpa diketahui orang itu –siapa pun dia-, Sasuke mengambil sebilah pisau kecil yang tadi digunakannya untuk memotong kaca.
Ketika berbalik –dengan tangan masih di atas kepala-, Sasuke akhirnya melihat pemilik suara itu. Seorang pemuda seusianya dengan mata dan rambut yang sehitam langit malam. Sasuke memberikan seriangaian khasnya yang membuat orang itu bergidik.
"Masih terlalu cepat 100 tahun untuk menantangku, tahu."
Tanpa disangka, Sasuke melemparkan pisau itu, persis mengenai tangan si pemuda yang memegang pistol, membuat pistolnya terlempar ke sudut ruangan. Sasuke kemudian menendang pistolnya sendiri, hingga terlempar ke udara dan dengan sigap menangkapnya.
Dan demi keterkejutan polisi tadi, Sasuke mengacungkan pistol ke arahnya.
"Salahkan keberuntunganmu yang jelek hari ini, Raven Boy."
Sekali lagi, terdengar suara tembakan yang memenuhi vila itu disertai dengan seonggok tubuh yang jatuh menghantam bumi.
~oOo~
Naruto memandang pemuda di sampingnya dengan sedikit khawatir. Sikap Sasuke hari itu tidak seperti biasanya. Sedikit gelisah, bahkan dia selalu manghindari tatapan mata Naruto.
Sasuke menyetir mobil dengan pandangan lurus ke depan, sama sekali tidak melirik Naruto yang masih tetap memperhatikannya.
Oke.. tarik napas Sasuke.. hal seperti ini harusnya bisa kamu lakukan dengan mudah..
Dan akhirnya, setelah perjalanan dalam diam selama hampir 45 menit, Sasuke memarkirkan mobil dan mematikan mesinnya.
"Turun, Dobe."
Naruto melempar tatapan bertanya untuk terakhir kalinya, sebelum menuruti perintah kekasihnya. Tak berapa lama terdengar suara pintu yang ditutup yang menandakan Sasuke juga turut keluar dari mobil sedannya itu.
Pemuda pirang itu mengedarkan pandangannya. Dan di hadapannya, terlihat sebuah gereja yang terbilang kecil berwarna putih. Dua jendela cokelat kayu menghiasi masing-masing sisi, dengan pintu yang juga terbuat dari kayu membatasi keduanya. Apalagi dengan halaman yang juga 'minimalis' dan ditumbuhi bunga-bunga liar namun tertata rapi, membuatnya cukup terlihat... manis.
Otak Naruto bekerja dengan cepat. Sejauh yang dia ingat, dia maupun Sasuke bukanlah orang yang religius. Pergi ke gereja hanya sebatas pada hari natal saja. Lalu… ada angin apa yang membuat pemuda itu mengajaknya ke tempat seperti ini?
"Naruto..." panggil Sasuke.
Naruto bisa mendengar nada suara kekasihnya yang tidak seperti biasa. Terlalu gugup untuk ukuran seorang Uchiha.
"Ya, Sasuke?" tanyanya dengan senyuman tersungging.
Dia menarik napas panjang. "We need to talk."
Sasuke berjalan mendekati pemuda pirang yang sepertinya masih menebak-nebak sebab dari perubahan sikapnya. Kedua tangannya yang putih pucat dimasukkannya ke dalam kantung jasnya. Wajahnya serius.
"Aku... capek dengan hubungan seperti ini, Naruto. Kita tidak bisa seperti ini terus." Sasuke berhenti sebentar untuk melihat reaksi pemuda di hadapannya. Mata biru pemuda itu kini mulai digenangi air.
"Mulai hari ini..." Sasuke menarik napas panjang, "aku tidak bisa lagi menjadi kekasih dari Namikaze Naruto..."
Mendengar hal itu, tanpa disadari olehnya, air mata mulai mengalir di pipi kecokelatan Naruto. Sasuke… memutuskan hubungan dengannya?
"Karena…" Sasuke mengindahkan tangisan Naruto, "aku hanya ingin menjadi suami dari Uchiha Naruto."
"Eh?" Tangisnya mereda, berusaha mempercayai pendengarannya.
Sasuke kemudian berlutut di depan Naruto, tangan kanannya memegang sebuah kotak beludru berisikan cincin dengan batu berwarna biru.
"Namikaze Naruto, maukah kau menikah denganku?"
~o~
"Teme~ ayo cepat! Jangan sampai aku ketinggalan pesawat…"
Naruto berjalan dengan cepat, menyeret kopernya yang tidak seberapa besar. Sasuke tetap saja berjalan dengan tenang, membiarkan suaminya itu berjalan di depannya.
Ya, suaminya. Naruto kini sudah resmi menyandang nama Uchiha. Setelah lamarannya dijawab dengan anggukan penuh semangat dari Naruto, pemuda itu langsung menariknya ke dalam gereja yang ternyata telah diisi oleh beberapa orang sahabat dekat Naruto, juga seorang pendeta yang akhirnya menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan.
"Sasuke... kau harus cepat menyusul, ya?" Naruto menghentikan langkahnya sebelum pintu pemeriksaan dan menatap pemuda itu dengan tatapan memohon.
"Hn," jawabnya singkat.
Air muka Naruto terlihat sedikit sedih. "Padahal aku ingin agar kau segera bertemu dengan ayahku…"
"Kau tahu anikiku, kan? Aku tidak pernah bisa membantahnya."
"Ya ya.." Dia segera tersenyum. "Sasuke.. I love you.."
Naruto kemudian sedikit berjinjit dan mencium bibir pemuda itu. Kemudian dia berlari dan melambai ke arah Sasuke. Dia bisa mendengar beberapa orang berbisik-bisik tentangnya. Toh dia tidak menggubris mereka dan terus berjalan keluar dari bandara.
Beberapa hari lagi, setelah 'tugas' terakhir dari Itachi, dia akan menyusul Naruto ke Konoha, kampung halaman pemuda pirang itu. Memulai kehidupan baru di sana dan melupakan kehidupan kelam yang dimilikinya sekarang ini.
Naruto sudah mengundurkan diri dari tempatnya bekerja, begitu pula Sasuke. Dan 'pekerjaan sambilan'-nya.. well, bisa dibilang berjalan dengan mulus. Itachi dengan senang hati melepasnya, namun dengan dua syarat. Pertama, membuatkannya bom C4, yang memiliki daya ledak paling besar dari semua bom yang pernah dibuatnya. Tahan goncangan dan yang terpenting susah dilacak oleh alat deteksi mana pun. Itachi tidak memberitahunya untuk apa bom itu, hanya mengatakan bahwa dirinya akan tahu ketika waktunya tiba. Yang kedua, mengawal pengiriman senjata ke Iwa seminggu lagi. Dan setelah itu. Sasuke bebas menjalankan hidup yang diimpikannya.
Jadilah, karena Naruto yang tidak sabar memberitakan kabar pernikahannya, Sasuke membiarkan pemuda pirang itu pergi lebih dahulu. Tidak masalah buatnya, toh kurang dari dua minggu mereka bisa menjalani apa itu yang dinamakan 'happily ever after.'
Atau begitulah yang ada di pikirannya..
Sasuke berjalan menuju apartmentnya dan Naruto dengan bersenandung kecil. Dia melirik jam tangannya. Malaikat kecilnya baru pergi dua jam yang lalu, dan dia sudah merindukan cengiran lebar pemuda itu.
Dia menghempaskan dirinya ke sofa dan mengambil remote TV. Tanpa minat dia mengubah-ubah channel TV sampai sebuah berita menarik perhatiannya.
"Berita ini baru tiba beberapa menit yang lalu. Pesawat dengan nomor penerbangan TA1712 dengan tujuan Konoha tiba-tiba meledak di atas perairan Laut Hitam pada pukul 11.45. Beberapa nelayan yang menyaksikan kejadian itu memberikan keterangan bahwa pesawat meledak begitu saja tanpa ada tanda-tanda kerusakan mesin. Tidak ada yang tersisa dari pesawat tersebut, diyakini seluruh penumpang dan awak pesawat meninggal dunia. Polisi menduga..."
Pembawa berita itu masih terus berceloteh, namun Sasuke sudah berdiri dengan tak percaya menatap layar TV, mata onyxnya terbelalak.
TA1712? Tujuan Konoha? Semua penumpang... meninggal?
"NARUTOO!" Sasuke berteriak dengan sekuat tenaga, menghabiskan seluruh energi yang tersisa sebelum akhirnya jatuh terduduk di atas karpet. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang semakin memucat. Matanya memerah.
Dan sebuah pikiran pahit menghantamnya. Bom C4 buatannya.
Aku.. yang membunuh Naruto?
-TO BE CONTINUED-
Edited. Semarang, 110619.
.charlottecauchemar.
