-GOODNIGHT, MR. REDRUM!-
For Infantrum Black and White Challenge
Story © charlottecauchemar
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: AU. Bit OOC. Yaoi. Character Death. Alur maju mundur yang bisa bikin sakit kepala.
Chapter 3: No Future
Summary: Tidak ada lagi masa depan baginya. Dia hidup untuk kenangan, untuk semua kesalahannya di masa lalu.
Pemuda itu berjalan dengan langkah tegap. Mantel hitamnya berkibar ditiup angin musim dingin yang tidak kenal ampun. Beberapa kelopak mawar merah yang dibawanya pun turut berterbangan.
Jalan setapak itu masih becek karena hujan lebat semalam. Awan mendung masih menggantung di langit, sama seperti susana hati orang-orang yang datang ke tempat itu. Pemakaman umum, tempat istirahat terakhir semua manusia.
Di satu sudut pemakaman, pemuda itu berhenti. Sebuah monumen kecil berdiri di hadapannya. Monumen yang dibangun untuk memperingati kematian korban meledaknya pesawat TA1712 tujuan Konoha tiga tahun yang lalu.
Mata onyxnya menyapu tulisan-tulisan kecil yang terukir di sepanjang monumen, sampai berhenti di satu nama.
Uchiha Naruto
Dia menggigit bibir bawahnya, kemudian berjongkok dan menyentuh sebaris nama itu dengan tangan yang sedingin es.
"Naruto..." bisiknya, "maafkan aku."
Dia meletakkan buket bunga mawarnya di samping monumen bersama dengan puluhan buket bunga lainnya. Hari itu tepat tiga tahun kecelakaan itu terjadi. Semua... karena kesalahannya.
Di bawah monumen itu, tidak ada tubuh siapa pun. Karena dari kecelakaan tersebut, tidak ada yang tersisa sama sekali. Badan pesawat sudah berubah menjadi ribuan keping-keping kecil. Apalagi manusia yang berada di dalamnya. Benar-benar... habis.
"Kalau saja aku tidak selemah ini, sekarang pasti kau masih ada di sampingku," ujarnya. Walaupun tidak ada yang berubah dari raut wajahnya, namun ada bias kesedihan yang terpancar dari bola mata onyx yang sudah lama mati itu. Dia kemudian berdiri dan mundur beberapa langkah.
"Sudah kubilang, Sasuke. Kematian Naruto bukan kesalahanmu. Tuhan yang menakdirkannya." Suara lembut seorang wanita membuatnya membalikkan badan.
Di sana, Sakura berdiri dengan balutan pakaian hitam yang kontras dengan warna rambutnya. Wajahnya terlihat sendu, namun bibir gadis itu masih tetap menyunggingkan senyum, sama seperti yang diingat oleh Sasuke bertahun-tahun lalu.
Sakura berjalan dengan mengindahkan tatapan dingin dari Sasuke yang masih belum beranjak dari tempatnya. Dia berhenti tepat di tempat Sasuke beberapa saat yang lalu, kemudian meletakkan salah satu buket bunga yang dibawanya.
Gadis itu kemudian berbalik dan menghadap Sasuke.
"Suamiku meninggal seminggu yang lalu," katanya. Tangan kirinya sedikit menggoyangkan sebuah buket yang masih ada dalam gendongannya.
"Oh… lalu urusannya denganku?" tanyanya tanpa minat. Apa maksud gadis itu mengabarkan kematian suaminya? Like I care…
Sakura berusaha tidak terpancing oleh nada suara Sasuke yang terkesan sinis. "Dia gugur dalam tugas. Penjahat yang dikejarnya menembak mati suamiku yang bodoh itu."
"Hn."
Lalu, senyum Sakura berubah getir. "Tapi, kurasa dia bahagia. Sebelum mati, dia sempat melihat Redrum yang selama ini dikejarnya. Yah… walaupun akhirnya, tetap saja, orang itu berhasil lolos."
Sasuke masih tetap bergeming dari posisinya semula. Tapi, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya.
Gadis berambut merah muda itu kemudian berjalan melewati Sasuke yang masih tetap membatu. Dia berhenti ketika mereka berdua sudah sejajar.
"Tuhan itu memang adil, ya? Dia mengambil milikku yang paling berharga, tapi… Dia juga memberi gantinya..." ujarnya. Tangannya yang bebas mengelus perutnya yang masih terlihat rata. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya.
"Jadi, Sasuke... Tuhan pasti menyediakan kebahagiaan untukmu. Kau tinggal mancarinya saja." Gadis itu melemparkan senyum terakhir sebelum pergi menuju bagian lain dari pemakaman itu.
"Untuk pendosa sepertiku... apa Tuhan juga masih ada?"
~oOo~
"ITACHI! KELUAR KAU!" Pemuda berambut hitam itu membuka satu persatu pintu yang berada di koridor rumah utama keluarga Uchiha dengan kalap. Para pengawal yang berusaha menghalangi langkahnya tidak berarti banyak bagi Uchiha termuda itu. Hanya dengan sabetan katana kesayangannya, mereka berjatuhan.
"ITACHI!" teriaknya bersamaan dengan terbukanya pintu di ujung koridor dengan debaman keras.
"Otouto… kurasa kau terlalu berisik malam ini.." Pemuda berambut hitam lainnya duduk dengan santai di tengah ruangan. Itachi bersandar di sofa kulit dengan kaki yang menyilang. Di hadapannya terdapat meja kaca dengan dua buah sloki kosong dan sebotol anggur merah yang terkesan mahal.
Sasuke masuk ke ruangan itu dengan menyeret katananya, meninggalkan bekas goresan panjang di sepanjang koridor dan lantai ruangan.
"Duduklah, Otouto… pesta ini tidak akan dimulai jika kau masih berdiri di situ."
"Satu-satunya pesta yang akan terjadi hari ini hanya pesta kematianmu," desis Sasuke. "Kau membunuh Naruto!"
"Ckckck.. bukan aku, tapi kau, Sasuke. Bom itu buatanmu. Aku hanya menaruhnya di tempat yang benar," ujarnya sambil menyunggingkan senyuman yang bisa membuat bulu kuduk merinding. Tapi hal itu tidak berlaku untuk pemuda di hadapannya.
"Kau yang membuatku melakukannya! Kenapa kau selalu membuat hidupku berantakan? Aku hanya ingin hidup seperti orang biasa, Itachi!"
Senyuman Itachi berubah menjadi seringaian. "Darah Uchiha selamanya terkutuk, kau harusnya tahu itu, Otouto. Kau yang tidak punya hati, seharusnya tidak pernah mencintai orang lain. Aku hanya berusaha untuk membuatmu sadar, mencintai orang lain hanya akan membuatmu lemah. Dan aku benar, bukan? Hanya karena bocah itu mati, kau jadi cengeng seperti ini. Kau lemah, Sasuke."
Dengan itu, Sasuke berteriak sekencang-kencangnya dan berlari ke arah Itachi yang langsung mengeluarkan sebilah katana dari balik sofa. Adu katana antara dua orang pewaris terakhir keluarga Uchiha tidak terelakkan lagi.
Sasuke menyerang dengan membabi buta, sedangkan Itachi hanya menghindar serangan adiknya itu, tanpa ada niat untuk membalasnya. Toh dia tahu, kemampuan adiknya jika sudah terbakar amarah bukan lagi sesuatu yang bisa dihadapinya.
Pertarungan yang awalnya seimbang itu, mulai berat sebelah ketika Itachi mulai kehabisan tenaga karena luka di sekujur tubuhnya. Sasuke seperti iblis, dia bagai tidak merasakan sakit, padahal lukanya tidak kalah banyak dari Itachi. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah membunuh pria di hadapannya, apa pun harga yang harus dibayarnya.
Sampai akhirnya, satu sabetan terakhir dari Sasuke menyebabkan katana Itachi terlempar jauh sampai ke bawah meja. Itachi terjebak di antara dinding dan Sasuke yang siap mengambil nyawanya.
"Kau tamat, Itachi."
Tidak tampak ketakutan dalam mata onyx pria itu, padahal katana Sasuke sudah siap mengoyak jantungnya. "Aku menang, Sasuke. Aku membuatmu kembali menjadi iblis yang tidak takut pada kematian. Aku berhasil..."
"Diam, Itachi."
"Kasihan bocah itu. Andai dia tidak pernah bertemu denganmu, dia pasti bahagia. Dan yang terpenting, dia pasti masih hidup dan menghirup udara bebas. Kau yang membuatnya mati, Otouto. Semuanya karena kesalahanmu."
"Kau salah!"
Sasuke tidak lagi mendengar kelanjutan ucapan Itachi. Dia mengangkat tubuh Itachi dan menghunuskan katananya tepat di jantung pria itu.
"A... ku... mena... ng..." Bibir pucat pria itu masih sempat meyuarakan kemenangannya.
"Agghh!"
Tidak puas dengan satu tusukan di tubuh sekarat kakaknya, Sasuke menarik katananya hanya untuk menusukkannya kembali. Berkali-kali.
"Brengsek! Brengsek! BRENGSEK!"
Sasuke akhirnya membiarkan tubuh Itachi jatuh menghantam lantai.
Pemuda itu terduduk di samping mayat kakaknya. Kata-kata terakhir pria itu masih terngiang dengan jelas di telinganya. Berulang-ulang bagai kaset rusak.
Dia berusaha menyangkalnya. Tapi otak jeniusnya tidak bisa menerima semua itu. Dia tahu, semua yang dikatakan Itachi adalah benar.
Kematian Naruto... karena dirinya.
~o~
"Kenapa menyelamatkanku?"
"Karena kau belum boleh mati. Kami membutuhkan kemampuanmu."
Sasuke memandang pemuda berambut merah di hadapannya dengan tatapan menyelidik.
"Kau tahu, aku baru saja menghabisi kakakku. Polisi pasti akan segera mencariku."
Pemuda itu menyeringai saat mendengarnya. "Tidak akan ada yang tahu. Rumah utama keluarga Uchiha semalam terbakar sampai habis, tidak ada yang tersisa. Bahkan mayat Uchiha Itachi."
"Kau... yang melakukannya?"
Pamuda itu menggeleng. "Itu pekerjaan Zabuza. Aku hanya memberinya perintah."
Sasuke berusaha mengingat kejadian semalam. Setelah yakin Itachi sudah tidak bernyawa, dia tidak tahu lagi ke mana kakinya melangkah. Dia sudah siap mati, mengingat luka-luka yang cukup dalam di tubuhnya. Baginya, mati bukan lagi hal yang menakutkan, kalau itu berarti bersama satu-satunya orang yang dicintainya.
Namun rupanya Tuhan belum mengizinkan pemuda itu untuk beristirahat dengan tenang.
Sasuke bertemu Gaara, nama pemuda di hadapannya. Dan dia membawanya ke tempat ini, ruang bawah tanah di sebuah kafe. Kemudian seorang pemuda cantik dengan rambut panjang mengobati luka-lukanya sambil terus mengomel.
"Maafkan Haku, dia memang seperti itu. Tapi kemampuan medisnya tak bisa diragukan lagi."
Sasuke menarik napas panjang, berusaha menghafalkan nama-nama yang barusan disebutkan Gaara. Zabuza. Haku. Memang ada berapa orang di tempat ini?
"Kami Hebi, kalau kau pernah dengar. Orang-orang membayar kami untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor. Intinya, kami pembunuh bayaran." Gaara mengatakannya dengan tenang, seakan sedang menceritakan dongeng pada anak kecil. "Aku, Zabuza, dan Haku hanya sebagian kecil, di luar sana masih banyak lagi. Kami jarang bertemu. Asal kau tahu, ternyata orang-orang yang membutuhkan pekerja kotor seperti kami lebih banyak dari yang bisa kau bayangkan."
"Pembunuh bayaran, eh?"
"Profesional," tambahnya. "Sebagian besar pelaku pembunuhan orang-orang penting di Oto adalah kerjaan kami," ujarnya sambil tertawa kecil.
Sasuke sedikit bergidik. Dia bisa merasakan bahwa Gaara tidak sedang bercanda. Membunuh baginya hanya seperti menepuk seekor nyamuk.
"Jadi... kau menerima tawaran kami?"
Mata onyxnya bertumbukan dengan mata sea green Gaara.
Tidak ada lagi yang perlu dilindunginya. Semua yang dicintainya sudah pergi. Sudah tidak ada lagi yang menunggunya. Dia... sudah tidak takut kehilangan lagi.
Hatinya… sudah mati.
Uchiha Sasuke sudah mati bersama dengan Naruto.
"Tentu."
Sekarang atau pun nanti, tidak ada masa depan yang bahagia untuknya.
Yang tersisa hanya Redrum. Iblis yang haus akan darah.
~oOo~
Trak
Sasuke mengangkat kepala dari kertas-kertas di hadapannya. Haku baru saja meletakkan secangkir kopi yang masih mengepul di depannya. Mata onyxnya menatap heran pada pemuda itu.
"Tidak ada campuran obat pencuci perut lagi?" tanyanya curiga.
Haku menggembungkan pipinya. "Tidak." Dia menghentakkan kakinya dengan kesal ketika berjalan kembali menuju Zabuza yang berada di balik counter. "Kalau bukan karena Zabuza yang menyuruhku untuk bersikap baik, sudah kucampur racun sekalian di minumanmu itu."
Sasuke menyeringai kecil. "Terima kasih, gadis kecil."
"Sudah kubilang aku ini laki-laki!"
Haku sepertinya sudah bersiap-siap menyerang Sasuke kalau tangan Zabuza tidak menahannya.
Sasuke kambali tenggelam dalam kertas-kertasnya, mengamati hasil pekerjaannya selama beberapa minggu terakhir. Tidak ada yang tahu mengapa, tapi sepertinya banyak yang mengganggu pikiran Uchiha terakhir itu.
Dia sedikit teledor, sampai-sampai polisi akhirnya bisa mendapatkan sebagian dari ciri-cirinya. Membunuh seorang dari mereka pada pekerjaan terakhirnya seminggu yang lalu pun tidak pernah ada dalam daftar rencananya. Padahal biasanya, hasil pekerjaan pemuda itu sangat rapi, mirip sebuah karya seni yang mengerikan.
Orang-orang dari masa lalunya pun muncul satu persatu. Mantan dosennya. Mantan sahabatnya. Bahkan polisi yang ditembaknya ternyata adalah suami dari sahabatnya itu. Ironis.
Kemudian yang terakhir, orang tua aneh yang bahkan meminta Sasuke untuk menghabisi hidupnya sendiri. Dan orang tua itu.. tahu masa lalu yang ditutupinya mati-matian. Sekarang, dia hanya tinggal menunggu 'hadiah kecil' yang dimaksudkan oleh orang itu.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan, Sasuke. Polisi tidak akan bisa menyentuhmu." Gaara yang sedari tadi hanya diam memperhatikan pemuda berambut hitam itu akhirnya buka suara.
"Hn, kau tahu benar bukan hal itu yang aku pikirkan, Gaara."
Gaara bangkit dari tempat duduknya semula dan pindah ke kursi kosong di hadapan Sasuke.
"Bersiap-siaplah, sebentar lagi akan ada 'tamu spesial' untukmu."
Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya sebelum membiarkan Gaara sibuk dengan cangkir kopinya sendiri.
Tak berapa lama kemudian, lonceng yang berada di atas pintu masuk kafe berbunyi, menandakan kedatangan seseorang selain empat penghuni tetap kafe itu.
Seorang pemuda dengan pakaian a la eksekutif muda tampak di depan pintu. Rambut panjangnya terikat dengan rapi, seperti tidak ada sehelai rambut pun yang berani mencuat dari ikatan itu. Mata tanpa pupilnya memandang seisi kafe itu dengan tatapan jengah, seolah-olah tidak seharusnya orang seperti dia berada di tempat itu.
Gaara langsung berdiri dan menyambut pemuda itu, menuntunnya ke meja tempat Sasuke masih berkutat dengan keasyikannya sendiri. Zabuza kembali menyiapkan secangkir kopi, sedangkan Haku memandang semua itu dengan bosan, sesekali menguap.
"Hyuuga Neji, 28 tahun, orang kedua dalam Hyuuga Group. Apa yang membawamu ke tempat ini?" Gaara membuka suaranya lebih dulu setelah dia mengambil tempat di samping Sasuke. Neji yang duduk di depannya mengangkat sebelah alisnya.
"Kau tahu benar alasanku datang kemari, Sabaku," ujarnya dengan nada tidak suka. Gaara hanya memamerkan seringainya.
"Masih ingat namaku, rupanya." Gaara mengangguk-angguk kecil. "Sasuke, dia klien barumu. 'Tamu istimewa' yang kumaksud tadi."
Sasuke melirik pada pemuda berambut panjang itu, seakan-akan menilai kelayakannya.
"Bicaralah," ujarnya akhirnya. Sebenarnya sedikit merasa heran juga, karena biasanya Gaaralah yang berurusan dengan para pelanggan, dan Sasuke tinggal menerima tugasnya.
Neji mengeluarkan sebuah amplop coklat besar dari tas kerjanya kemudian menyodorkannya pada Sasuke.
"Sarutobi-san memintaku untuk menyerahkan itu padamu, Uchiha," lanjutnya.
Sasuke mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam amplop itu. Benar yang dikatakan kakek tua itu sebelum ajalnya. Dia mengetahui semua tentangnya, tentang masa lalunya, bahkan... tentang Naruto-nya. Ternyata, jaringan informasi Sarutobi tidak bisa dianggap enteng. Untung kakek tua itu sudah mati.
"Lalu, tidak mungkin hanya ini tujuanmu kemari, kan?" tanyanya setelah membereskan semua kertas itu.
Neji menyeringai, kemudian mengeluarkan selembar amplop coklat lagi dari tasnya. "Itu, adalah tujuan utamaku datang kemari."
Sasuke membuka amplop itu, dan selembar foto meluncur dari dalamnya. Seorang gadis, dengan mata serupa milik Neji dan rambut berwarna indigo, tersenyum dari foto itu.
"Habisi dia."
Tawa yang menyeramkan terdengar dari pemuda berambut merah. "Kotor juga caramu untuk mendapatkan kedudukan utama di perusahaan, eh, Neji? Tidak pernah berubah."
Sasuke menarik selembar kertas yang tersisa di dalam amplop dan membacanya sekilas.
"Tunangannya, dengan inisial NN, sekarang memegang kendali di perusahaan. Kenapa bukan dia targetnya?" tanya Sasuke sambil mengacungkan kertas yang baru selesai dibacanya.
Neji mendengus. "Bocah itu tidak ada apa-apanya, dia bodoh. Lagipula, jika dia yang mati, sepupuku tersayang itu akan mencari pria lain dan menikahinya. Sama saja harus kerja dua kali. Lebih baik, cabut sampai ke akar-akarnya, bukan?"
Sasuke mengamati foto itu sejenak. Gadis yang terlihat pemalu, bukan tipikal yang bisa dibenci banyak orang sebenarnya. Hanya takdirnya sebagai penerus Hyuuga Group membuat banyak orang mengincar posisinya itu.
"Aku terima." Sasuke memasukkan foto itu ke saku mantel hitamnya. "Kapan?"
"Seminggu dari sekarang. Akan ada pesta di kantor utama Hyuuga Group, dan Hinata tidak suka menghadiri pesta. Dia sendirian di rumah saat itu," jelas Neji. "Dan kata Sarutobi-san, kau harus mengumpulkan informasi lebih lanjut terlebih dahulu tentang sepupuku itu. Sendiri. Jadi aku hanya membantumu sampai sini."
Sasuke menatap lurus ke dalam mata lavender Neji. Dia sama sekali tidak menemukan tanda-tanda kebohongan darinya.
"Baiklah."
Dan seringaian Neji terkembang lebih lebar.
~o~
Sasuke mengencangkan mantel hitamnya. Angin sepertinya tidak berpihak pada pemuda berambut hitam itu. Langit pun mulai menampakkan tanda-tanda akan menumpahkan muatannya.
Pemuda itu bersandar pada tiang listrik di samping jalan, tepat di seberang gedung kantor utama Hyuuga Group. Jam sudah menunjukkan waktu yang tepat untuk makan siang. Dia menunggu kemunculan seorang gadis dengan mata lavender berambut indigo.
Akhirnya gadis itu menampakkan dirinya, keluar tergesa-gesa dari pintu depan sambil terus mengecek jam tangannya, sepertinya terlambat untuk sesuatu. Hyuuga Hinata berdiri di sana tanpa menyadari sepasang mata onyx yang memperhatikannya tanpa berkedip, sampai sebuah sedan silver berhenti di depan gadis itu dan membawanya pergi. Sasuke segera menuju mobilnya sendiri yang diparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri, mengikuti sedan silver yang sudah lebih dulu beranjak itu.
Sedan itu akhirnya menepi di depan sebuah restoran. Hinata segera keluar dan memasuki tempat itu dengan langkah cepat, sepertinya sudah benar-benar terlambat.
Sasuke tidak pernah melepaskan pandangannya dari Hinata. Dia mengambil tempat duduk yang berada di luar restoran itu. Beruntung, sedikit orang yang memilih tempat di luar karena cuaca yang tidak mendukung. Seorang pelayan menghampiri Sasuke, namun dia mengindahkannya, sehingga membuat pelayan itu menjauh sambil mengomel panjang lebar.
Hinata menjulurkan kepalanya, berusaha mencari orang yang benar. Dari informasi yang didapat Sasuke, Hinata selalu menghabiskan waktu makan siang bersama tunangannya. Dan Sasuke kini berusaha mencari tahu siapa pria malang yang akan segera kehilangan calon istrinya itu.
Tiba-tiba, wajah Hinata berubah sumringah, sepertinya sudah menemukan objek yang dimaksudnya. Sasuke memicingkan matanya, mengikuti langkah gadis itu.
Dan tiba-tiba mata onyxnya terbelalak lebar.
Di sana, sosok yang tengah mencium kening Hinata, memeluknya, dan menuntun gadis itu ke kursi, adalah seseorang yang tidak akan pernah disangkanya.
Pemuda berambut pirang dengan kulit kecoklatan. Dan walaupun dari jauh, Sasuke yakin pemuda itu memiliki mata sebiru langit dan senyuman sehangat mentari.
Pemuda dengan inisial NN.
Dan saat itu juga, Sasuke merasa sekujur tubuhnya lemas.
Namikaze Naruto adalah tunangan dari Hyuuga Hinata.
-TO BE CONTINUED-
Edited. Semarang, 110619.
.charlottecauchemar.
