-GOODNIGHT, MR. REDRUM!-

For Infantrum Black and White Challenge

Story © charlottecauchemar

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: AU. Bit OOC. Yaoi. Character Death. Masih dengan alur maju mundur yang bikin pusing.

Chapter 4: Lost Memories

Summary: Ingatannya terkubur begitu dalam. Membuatnya melupakan orang terpenting dalam hidupnya. Bisakah semua kebahagiaan itu kembali?


Pemuda berambut pirang itu duduk dengan tenang di samping jendela yang menghadirkan pemandangan halaman samping rumah utama keluarga Hyuuga yang saat itu bermandikan cahaya bulan. Sebuah kolam ikan dengan riak-riak kecil di permukaannya, lengkap dengan sebuah gazebo untuk beristirahat sejenak untuk melepas penat, juga rimbunan bunga mawar yang saat itu tengah mekar padahal bukan musimnya, membentuk kumpulan lautan berwarna merah. Merah… seperti darah.

Dia bergidik.

Angin yang sedikit kurang bersahabat malam itu berhasil membuat pemuda pirang itu menyerah dan menutup daun jendela kemudian bangkit dari tempatnya semula. Setelah mengganti kemeja birunya dengan piyama, dia langsung merebahkan diri di ranjang, bermaksud mengistirahatkan pikiran yang terasa disesaki oleh berbagai macam hal.

Beberapa hari terakhir, entah itu hanya khayalannya atau memang sungguh-sungguh terjadi, sepertinya ada orang yang terus memperhatikannya dari kejauhan. Bukan, dia sama sekali tidak takut pada stalker-nya kali ini, justru sebaliknya. Dia merasa... ada yang melindunginya.

Pikiran bodoh.

Belum sempat pemuda itu menikmati istirahatnya, sebuah ketukan lembut di pintu kamar menginterupsi perjalanannya menuju alam mimpi.

"Masuk."

Perlahan, pintu pun terkuak dan menampilkan seorang gadis bermata lavender yang masih dalam balutan jas kerjanya.

"Aku tidak mengganggumu, 'kan, Naruto-kun?" Gadis itu melangkah dan mengambil tempat di sisi ranjang king size itu.

Naruto menjawab dengan gelengan dan sebuah cengiran lebar.

Gadis itu menarik napas lega.

"Lalu, ada perlu apa, Hinata-chan? Ini sudah malam dan kau terlihat sangat lelah..."

Hinata tersenyum lemah.

"Hanya ingin mengucapkan selamat bersenang-senang untuk pesta besok malam. Aku akan sibuk sejak pagi, jadi mungkin kita akan sedikit sulit bertemu."

Dia mengamati wajah tunangannya itu, berharap bisa menemukan gurat kekecewaan di sana. Tapi tidak, ekspresi wajah Naruto tidak berubah sama sekali, membuatnya kembali menelan ludah.

"Jangan cemas, Hinata-chan. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku."

Hinata menggigit bibir bawahnya. Bukan, bukan jawaban seperti itu yang diharapkannya. Dia ingin agar pemuda itu memperhatikannya, seperti layaknya seorang tunangan. Tapi, dia hanya bisa berharap.

"Baiklah," ujarnya sambil bangkit dari duduk. "Kalau begitu, mimpi indah, Naruto-kun."

Dia mencium bibir pemuda itu sekilas. Dan seperti yang sudah-sudah, tidak ada reaksi yang diharapkannya muncul dari Naruto.

"Selamat malam, Naruto-kun," ujarnya sebelum menutup pintu. "Aku mencintaimu..."

"Aku tahu, Hinata. Aku tahu…" ujarnya. Mata birunya menerawang jauh.

Di balik pintu, Hinata mendesah panjang. Sekali pun, Naruto belum pernah menjawab perasaannya yang satu itu. Mungkin... karena karma?

~oOo~

Gadis itu sama sekali tidak melepaskan pandangannya. Seorang pemuda berambut pirang yang duduk dengan gelisah di kursi di hadapannya menarik perhatiannya. Mirip, sungguh mirip dengan pemuda yang pernah mencuri hatinya ketika remaja. Hanya saja, waktu itu dia tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaannya.

Namikaze Naruto, itu nama yang bisa diingatnya sejak bertahun-tahun yang lalu. Cinta rahasianya sejak sekolah menengah. Sayang, ayahnya mengirim dia untuk menuntut ilmu di Suna. Tapi hari ini, di ruang tunggu bandara, dia bertemu lagi dengan pujaan hatinya.

Dan kali ini, dia bukan gadis pemalu yang akan diam saja melihat pemuda itu pergi. Hyuuga Hinata akan mendapatkan apa yang diinginkannya.

"Kau Naruto, kan?"

Pemuda itu mendongak, mata birunya menatap bingung.

"Mm.. kau siapa, ya?"

Gadis itu tersenyum. Tentu saja, pemuda itu tidak pernah tahu tentang dirinya, karena dulu dia selalu tersembunyi dalam bayang-bayang. Jarang ada orang yang menyadari keberadaannya.

"Bukan siapa-siapa. Aku hanya memperhatikanmu dari tadi. Kau kelihatannya gelisah." Gadis itu menjatuhkan diri di sampingnya.

Sebuah senyum lemah menghampiri bibir pemuda itu. "Harusnya aku senang karena hari ini akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan orang tuaku setelah delapan tahun lamanya. Tapi… aku tidak bisa..."

"Kenapa?" Jujur, dia ingin tahu apa yang bisa membuat pemuda ceria itu terlihat begitu muram.

"Karena ini..."

Pemuda itu mengangkat tangan kirinya. Sebuah cincin emas bertengger manis di jarinya. Suatu pemandangan yang membuat mata Hinata terbelalak lebar.

"Aku... tidak bisa meninggalkan dia sendiri, walaupun hanya untuk dua minggu." Mata biru pemuda itu memandang jauh ke depan, seakan berusaha menangkap bayangan orang yang dimaksudnya. "Aku sudah bersama dengannya selama lima tahun. Dan dua minggu tanpa dia… belum pernah terbayangkan olehku…"

Mendengarnya, gadis itu menarik napas panjang. Haruskah… dia melepaskan pemuda itu untuk kedua kalinya?

"Kalau kau mencintainya... jangan tinggalkan dia sendiri."

Dia tersenyum lemah. Dia tak menduga bahwa kata-kata itu meluncur dari bibirnya. Apakah dia baru saja membiarkan pemuda itu pergi dari kehidupannya sekali lagi?

Naruto bangkit dari duduknya, tersenyum lebar. "Terima kasih, Nona. Harusnya... keputusan ini yang aku ambil sejak kemarin. Aku... tidak boleh ragu lagi."

Dia mulai berjalan menjauh, menuju pintu keluar. Sebentar kemudian berbalik dan melambai pada Hinata yang masih terdiam di tempatnya.

"Sampai jumpa lagi, Nona!"

Hinata tersenyum getir. Bodoh, dia sungguh bodoh.

Tak mau bertingkah bodoh lebih lama lagi, gadis itu bangkit dari duduknya. Sepertinya… penerbangannya hari ini juga harus dibatalkan.

~o~

"Bagaimana keadaannya, Tsunade-sensei?"

Wanita setengah abad itu memandang gadis tanpa pupil di sampingnya. Tatapannya sarat kekhawatiran.

"Dia sudah tidak apa-apa, Hinata-san. Masa kritisnya sudah lewat. Hanya saja..." Tsunade mengalihkan pandangannya, "mungkin akan agak sedikit susah untuk menggerakkan tubuhnya. Pemuda ini masih beruntung nyawanya terselamatkan."

Hinata menarik napas lega. Perasaan kalutnya hilang sudah.

Memorinya berputar cepat pada kejadian beberapa hari lalu. Pertemuannya lagi dengan Naruto, penerbangannya ke Iwa yang dibatalkan, sampai kecelakaan beruntun di jalan tol yang menyebabkan Naruto terluka parah. Taksi yang ditumpangi pemuda itu menabrak pembatas jalan hingga terbalik. Entah apa yang membuatnya langsung membawa pemuda itu ke rumah sakit nomor satu di Oto milik kenalannya.

"Enghh..."

Sebuah erangan kecil membuat gadis itu dan Tsunade yang masih berada di ruangan mengalihkan perhatiannya pada seorang permuda yang terbaring lemah di ranjang.

"Naruto-kun!"

Hinata langsung menghampiri pemuda yang sedang mencoba untuk bangkit dari posisi tidurnya, mencegahnya untuk melukai diri sendiri lebih jauh lagi.

"Aku... di mana?" tanyanya lemah.

"Di rumah sakit. Kau kecelakaan ketika perjalanan pulang dari bandara. Ingat?"

Pemuda itu berpikir sejenak, sebelum akhirnya menggeleng.

"Kau... apa aku mengenalmu?"

"Eh?" Gadis itu mengangkat alisnya. Memang benar Naruto tidak mengenal dirinya. Tapi, Demi Tuhan, mereka baru saja bertemu beberapa hari lalu di ruang tunggu bandara. Masa Naruto sudah melupakannya?

Jangan-jangan…

"Naruto... kau ingat siapa dirimu?"

Wajah berhias tiga buah garis memanjang di pipi itu berubah pucat seketika.

"Aku... siapa?"

Terdengar dua buah suara menahan napas.

"Hinata-san... pemuda in.i.."

Hinata mengangguk pelan, tahu apa yang dimaksud dokter wanita itu.

Naruto... kehilangan ingatannya..

~o~

"Hinata-san, Anda tidak bisa berbuat seperti itu!"

Wanita berjas putih, yang menandakan bahwa dia termasuk salah satu dokter rumah sakit ternama itu, mempercepat langkahnya. Mengejar seorang gadis yang sudah hampir mencapai pintu keluar rumah sakit menuju tempat parkir.

Ketika mencapai mobil hitam miliknya, Hinata berbalik dan menghadapi wanita itu.

"Tidak ada yang tidak bisa kulakukan, Tsunade-sensei. Aku hanya melakukan apa yang kuanggap benar."

"Tapi yang Anda lakukan itu sungguh tidak benar, Hinata-san. Anda membohongi pemuda itu. Mengatakan padanya bahwa Anda adalah tunangannya saat dia hilang ingatan!"

Hinata menghentikan kegiatannya membuka pintu mobil dan melempar tatapan sinis pada wanita yang lebih tua itu.

"Itu tidak ada hubungannya dengan Anda, Tsunade-sensei. Tugas Anda hanya memastikan kesembuhan Naruto." Dia membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalamnya. "Lagipula.. Anda belum mau kehilangan pekerjaan Anda, bukan?"

Tanpa menunggu reaksi dari Tsunade, Hinata langsung memacu mobilnya meninggalkan wanita itu yang masih membeku di tempatnya.

Yang dilakukannya itu... benar, 'kan?

Naruto pasti akan lebih bahagia jika bersamanya. Kehidupannya terjamin. Dan lagi, dia yang menyelamatkan hidup pemuda itu, bukan orang yang memasangkan cincin pernikahan di jari Naruto. Karena itu, bukankah pantas jika dia mendapatkan imbalannya?

Sementara tangan kanannya terus menggenggam setir, tangan kiri gadis itu memainkan sesuatu. Sebuah cincin, lebih tepatnya. Dengan batu berwarna biru.

Milik Naruto. Tadinya. Sebelum Hinata mengambilnya dari jari manis pemuda itu ketika tertidur tadi. Dan tentu saja… gadis itu tidak akan pernah mengembalikannya. Selamanya.

Hinata membuka kaca mobilnya ketika berada di atas jembatan.

"Selamat tinggal..."

Dan cincin itu pun meluncur ditemani pantulan cahaya bulan menuju dasar sungai yang gelap.

~oOo~

Hinata kembali menatap laptopnya yang masih menyala, menunggu rangkaian kata yang akan dituliskannya. Gadis itu bersandar di punggung kursi sambil menghela napas panjang.

Malam ini, dia hanya sendirian di rumah utama keluarga Hyuuga. Para pelayan tidak ada yang berani mengganggunya jika dia sudah mengurung dirinya di kamar. Bahkan Naruto sekali pun.

Naruto…

Kalau bukan karena paksaan dari gadis itu, Naruto pasti akan ngotot untuk menemaninya daripada harus menghadiri pesta di kantor pusat Hyuuga Group. Tapi, dia tidak mau itu. Hinata membutuhkan waktu untuk bisa berpikir tenang.

Mungkin... sudah saatnya dia memberitahu pemuda itu kebenarannya? Karena kalau dilanjutkan lebih lama lagi, hanya akan membuat mereka berdua sengsara.

Saat itu, tiga tahun yang lalu, Hinata dengan suksesnya membuat semua pihak untuk menutup mulut atas peristiwa yang terjadi pada Naruto. Nama pemuda itu tidak pernah tercantum dalam daftar korban kecelakaan beruntun di jalan tol, tapi ada pada korban meninggal dalam kecelakaan pesawat TA1712. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, tidak ada yang tidak mungkin.

Yah... hanya satu hal yang tidak mungkin sebenarnya. Hati milik seorang pemuda bernama Namikaze Naruto.

Lalu... bagaimana nasib gadis yang kehilangan suaminya itu? Ada sedikit perasaan bersalah yang menghantuinya.

Hei, tapi itu bukan murni kesalahannya, 'kan? Kalau Tuhan tidak memberinya kesempatan seperti itu, dia pasti sudah melepaskan pemuda itu.

…begitukah?

Gadis itu berdiri kemudian meregangkan tubuhnya yang terlanjur kaku karena duduk di tempat yang sama selama berjam-jam. Tanpa mematikan laptopnya, dia berjalan menuju jendela yang terbuka lebar dan duduk di bingkainya.

Selama beberapa saat, gadis itu tidak menyadari keganjilan yang terjadi. Sampai akhirnya, kesunyian yang lebih pekat dari seharusnya membuatnya tersadar. Ke mana para panjaga?

Ada yang aneh.

Sebuah ketukan di pintu ruang kerjanya menginterupsi pemikiran Hinata. Bukankah dia sudah bilang pada para pelayan untuk tidak mengganggunya malam ini?

"Masuk," ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dari halaman samping, masih berusaha mencari penjaga yang seharusnya berjaga malam itu.

Didengarnya suara pintu yang dibuka dan ditutup lagi dengan perlahan.

"Selamat malam, Nona."

Suara laki-laki, berat, tanpa ekspresi dengan nada yang datar membuat gadis itu berbalik. Di sana, di balik bayang-bayang, berdiri sesosok tubuh dengan perawakan tinggi dibalut mantel hitam yang menatapnya dengan mata onyx yang berkilat-kilat penuh kemarahan.

"Kau… siapa kau?"

Pemuda itu menyeringai, sepertinya puas dengan reaksi yang didapatkannya.

"Sebut saja... malaikat pencabut nyawamu…"

~o~

Naruto menutup pintu mobilnya dengan tergesa-gesa. Begitu mendapatkan kesempatan untuk kabur dari pesta, pemuda itu langsung bergegas menuju rumah keluarga Hyuuga. Perasaannya mengatakan hal yang buruk sedang –atau akan- terjadi. Dan sayangnya, perasaannya itu jarang sekali salah.

Begitu memasuki gerbang depan mansion besar itu, bau anyir yang sangat kuat menyambutnya. Bau yang dulu amat lekat padanya. Tapi... dulu itu kapan? Otaknya tidak mau bekerja sama. Kepalanya mulai terasa berputar.

Tanpa menoleh kiri-kanan lagi, takut menemukan hal-hal yang tidak ingin dilihatnya, pemuda itu langsung menuju ke lantai dua. Ke ruangan kerja milik Hinata.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Tiga ketukan dan gadis itu sama sekali tidak menjawab. Aneh. Hinata selalu berada di ruang kerjanya hingga lewat tengah malam.

"Hinata-chan, kau masih ada di dalam?"

Hening. Pikiran-pikiran buruk mulai menari-nari di kepalanya.

Dengan menarik napas panjang, pemuda itu mengumpulkan segenap keberaniannya dan memutar kenop pintu tembaga itu.

"Hinata-ch.. HINATA!" Teriakannya memecah keheningan yang tercipta sedari tadi.

Di depan matanya, Hinata duduk bersandar pada dinding di samping jendela. Pemandangan yang biasa sebenarnya, andai saja kepala gadis itu tidak terletak di atas pangkuannya sendiri. Mata tanpa pupilnya masih terbuka lebar, terbelalak ngeri. Darah masih mengucur dari tempat di mana seharusnya kepala Hinata berada.

Dan sepertinya Naruto tahu apa penyebab semua itu.

Di hadapan tubuh Hinata yang sudah tidak bernyawa, berdiri sesosok pemuda yang memunggunginya. Mantel hitamnya menutupi hampir seluruh tubuh pemuda itu, dan hanya memperlihatkan sedikit kulit putih pucat yang tersembunyi di dalamnya.

Lalu.. katana dengan baluran darah yang masih menguarkan bau anyir darah yang sangat kentara di tangan kanannya.

Orang ini…

"Br… brengsek! Apa yang kau lakukan pada Hinata?" Naruto mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya. Matanya berusaha mengalihkan pandangan ke mana pun selain tubuh Hinata.

"Pendosa... harus mati."

Mata biru pemuda itu terus mengamati belakang kepala pemuda di hadapannya. Suara itu... rasanya ia pernah dengar. Di mana?

Pemuda itu tertawa kecil.

"Lupa padaku?"

Pemuda itu menoleh sedikit, membiarkan Naruto melihat wajahnya dari samping.

Naruto memperhatikan pemuda itu dengan seksama. Percuma, terlalu gelap di ruangan itu. Lampu yang menyala hanya lampu di meja kerja Hinata. Naruto hanya berhasil melihat mata pemuda itu. Berwarna merah dengan tanda koma di sekelilingnya. Tapi... penuh dengan kerinduan?

Naruto mundur selangkah. Entah kenapa, tiba-tiba dia tidak ingin mengetahui siapa pemuda itu. Tidak ingin mengetahui kenyataan terburuk yang mungkin akan didapatkannya. Ada ketakutan yang tidak bisa dijelaskan dari dalam dirinya.

"U... uwah!"

Dan dengan itu, Naruto berlari keluar ruangan dengan membabi buta. Ketakutannya membuat pemuda itu tidak berpikir apa-apa lagi. Yang ada dalam otaknya, yang langsung dituruti oleh saraf motoriknya, adalah menjauh dari tempat itu. Tepatnya, dari pemuda itu.

Dia terus berlari. Dalam sekelebatan, dia bisa melihat apa yang dari tadi menyebabkan bau anyir di seluruh ruangan. Dan itu membuat perutnya bertambah mual. Bahkan hingga sampai di luar gerbang rumah keluarga Hyuuga pun, dia belum merasa cukup.

Dia tidak berhenti, justru langkahnya bertambah kencang mengayun. Sampai suara klakson sebuah mobil yang sedang melaju pun tak digubrisnya. Mobil itu terus melaju kencang, tak bisa menguasai kecepatan. Membuat Naruto hanya bisa berdiri pasrah ketika mobil itu menerjangnya tanpa ampun.

o—oOo—o

Time skip. A week later.

"Redrum…"

Sasuke menatap ke dalam mata sea green pemilik suara itu. Kewaspadaannya meningkat, mendengar pemuda itu memanggil dengan code name-nya, hal yang sangat jarang untuk seorang Gaara.

Tangan pemuda berambut merah itu mengisyaratkan agar Sasuke mengambil tempat di hadapannya.

"Apa?" tanyanya singkat. Dia bukan tipe orang yang suka membuang-buang waktu dengan bicara hal basa-basi.

"Akhir-akhir ini kau sungguh teledor. Aku biasanya tidak pernah bicara seperti ini, tapi... kau harus lebih berhati-hati lagi… Polisi mulai mencium jejak kita…"

"Aku bukan seorang idiot, Gaara. Dan kau tahu..." Sasuke menyeringai, "… aku tidak peduli."

"Sudah kuduga.." Gaara menghela napas panjang. "Kau tidak akan pernah dipusingkan dengan hal-hal seperti itu."

Jawaban pemuda itu hanya membuat seringaian Sasuke bertambah lebar.

"Jadi... kau akhirnya membiarkan dia hidup?"

Sasuke mendengus dan menghempaskan tubuhnya di punggung kursi. "Itu bukan urusanmu, 'kan?"

"Urusanku kalau itu menyangkut pekerjaan kita. Di mana dia sekarang?"

"Apartemen di dekat rumah keluarga Hyuuga."

"Apa kata dokter tentang ingatannya?"

"Mereka tidak mau memberitahuku."

"Kau masih akan mengejarnya dan membuatnya ingat padamu?"

"Dia milikku. Dulu, sekarang, dan nanti."

"Jadi itu alasannya kau membawa dia ke rumah sakit ketika..."

"Kau sudah selesai menginterogasiku?"

Gaara bersidekap, tidak suka Sasuke memotong ucapannya.

"Kalau begitu, aku ada urusan…"

Sasuke hampir bangkit dari tempat duduknya ketika suara Gaara kembali menginterupsinya.

"Aku baru saja mendapatkan tugas baru untukmu."

"Berikan saja pada orang lain."

Sasuke tetap melanjutkan langkahnya keluar dari kafe.

"Tugas ini masih ada hubungannya dengan keluarga Hyuuga."

Perkataan itu sukses membuat Sasuke menghentikan langkahnya dan menatap Gaara dengan menyipitkan matanya. Kali ini, seringaian Gaara yang terkembang.

-TO BE CONTINUED-


Edited. Semarang, 110619.

.charlottecauchemar.