-GOODNIGHT, MR. REDRUM!-

For Infantrum Black and White Challenge

Story © charlottecauchemar

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: AU. Bit OOC. Yaoi. Character Death. Alur maju mundur yang bisa bikin sakit kepala.

Chapter 5: Black Day

Summary: Definisi 'happy ending' berbeda bagi setiap orang. Dan bagi mereka berdua, akhir seperti inilah yang bisa diharapkan.


Wanita pirang setengah abad itu tersenyum kecil menyaksikan pemuda di hadapannya yang tengah mengaduk teh di dalam teko dengan kelewat bersemangat. Bibirnya menyenandungkan sebuah lagu yang asing di telinga wanita itu. Tetapi dia tidak ambil pusing. Kali ini, dia hanya ingin membiarkan pemuda itu bahagia.

"Jangan senyum-senyum sendiri, Baa-chan. Kau membuatku takut, tahu." Pemuda itu menyuarakan protes ketika merasakan pandangan yang tak kunjung lepas dari dirinya.

Tidak seperti biasanya, Tsunade tidak mengoreksi 'panggilan sayang' yang dilontarkan pemuda pirang itu.

"Kau kelihatan senang sekali, Naruto," ujarnya pada pemuda itu, "... 'dia' mau datang, ya?"

Perkataannya itu sukses membuat wajah kecokelatan Naruto bersemu merah. Gerakan tangannya sedikit kacau sehingga beberapa tetes air teh terjatuh di atas taplak putih yang menjadi alasnya.

"Si… siapa?"

Tsunade menyeringai, tahu persis bahwa Naruto hanya berpura-pura tidak mengerti siapa yang dimaksudnya.

"Pemuda berambut hitam itu. Siapa namanya?" Tsunade berpikir sebentar. "Ah, Uchiha Sasuke!"

Kali ini, hampir saja Naruto menumpahkan air yang sedang dituangkannya ke dalam cangkir berwarna senada dengan teko tehnya.

"Jadi... tebakanku benar, ya?"

Naruto hanya menunduk, berusaha menyembunyikan warna merah matang yang sudah menyebar dengan luas ke seluruh permukaan wajahnya. Tapi mata Tsunade tak luput menangkap sebuah senyuman kecil di bibir pemuda itu.

Memutuskan untuk menghentikan kegiatannya menggoda pemuda itu sebentar, Tsunade meraih cangkir yang disodorkan padanya. Dia menggoyang-goyangkan cangkir itu sejenak sebelum akhirnya menyeruput cairan di dalamnya.

Setelah diwarnai kesunyian selama beberapa saat, Tsunade kembali buka suara.

"Lalu... kau akan beritahu dia hari ini?"

Naruto terlihat ragu sejenak. Diletakkannya cangkir teh yang sudah berkurang setengah isinya.

"Aku… tidak yakin, Baa-chan.."

Tsunade menarik napas panjang sebelum menyandarkan tubuhnya di punggung kursi meja makan yang terbuat dari kayu itu.

"Naruto… kau mau membuatnya menunggu sampai kapan? Kurasa tiga tahun dengan pikiran bahwa dia tidak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi sudah cukup membuatnya tersiksa."

"Tapi…" Naruto memainkan jemari tangannya, "... apa dia masih mau menerimaku?"

"Naruto…" Tsunade berdiri kemudian memeluk pemuda itu, "aku yang melihatnya sendiri begitu panik ketika membawamu ke rumah sakit. Aku tidak akan seyakin ini jika aku tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri."

Naruto memejamkan mata birunya, berusaha berpikir dengan jernih.

'Dia' memang akan datang hari ini. 'Dia' yang menyelamatkan nyawanya dengan membawa dirinya ke rumah sakit ketika sebuah mobil tidak sengaja 'menyenggol'-nya di malam itu. Malam yang akan selalu jadi mimpi buruknya.

Dari yang dikatakan para polisi kepadanya, jelas sekali pelaku pembantaian terhadap Hinata adalah orang yang sedang mereka cari selama ini. Redrum. Sebuah kartu berwarna hitam bertuliskan 'Blue Rose was dead' ditemukan di samping mayat gadis itu.

Redrum. Pemuda bermata merah dengan tanda aneh seperti koma di sekelilingnya. Sayang, Naruto tidak sempat melihat jelas bagaimana rupa pemuda itu.

Tapi, kali ini dia harus bersyukur pada pembunuh berdarah dingin itu. Tanpanya, Naruto tidak mungkin bisa mendapatkan kembali ingatannya. Kecelakaan itu membuat kepalanya terbentur sangat keras. Dan saat terbangun tiga hari kemudian di rumah sakit, seperti ada seseorang yang memainkan film yang terus diputar ulang di kepalanya.

Dan tentu saja, sebuah nama bersama dengan siluet seseorang yang langsung membuat kerja jantungnya bertambah cepat dua kali lipat.

Uchiha Sasuke.

Senpainya, rivalnya, sahabatnya, kekasihnya dan… suaminya. Wajahnya kembali memerah ketika mengingat hal itu.

Apalagi dengan kehadiran Tsunade yang merasa bersalah sudah membantu Hinata 'memanipulasi' ingatannya tiga tahun yang lalu. Wanita itu dengan senang hati mengatakan semua hal yang diketahuinya tentang Naruto, menurut informasi yang pernah didengarnya dari Hinata. Dan Naruto sangat bersyukur atas hal itu.

Bukan, bukannya dia tidak bersedih akan kematian 'tunangan'-nya. Hanya saja... karma berlaku untuk setiap orang, bukan?

Maka dari itu, segera setelah Tsunade memperbolehkannya keluar dari rumah sakit, pemuda pirang itu segera mundur dari jabatannya di Hyuuga Group sekaligus angkat kaki dari rumah keluarga Hyuuga. Sebuah apartemen mungil yang cukup nyaman tidak jauh dari rumah sebelumnya kini menjadi tempat pemuda itu tinggal.

Dan, oh… tentu saja. 'Dia' belum tahu kabar gembira ini. Uchiha Sasuke belum tahu bahwa Namikaze... er, Uchiha Naruto mendapatkan kembali ingatannya.

"Baiklah…" Akhirnya setelah lama terdiam, pemuda itu berbicara. Bibirnya kembali membentuk sebuah senyuman. "Akan kukatakan padanya."

Tsunade mengekor kelakuan Naruto, sudut-sudut bibirnya ikut tertarik membentuk senyuman seraya menghembuskan napas lega.

"Well, brat.." Wanita pirang itu berjalan kembali ke kursinya dan mengambil jas putih yang terletak di atas kursi. "Aku tunggu kabar baik darimu."

"Eh... kau mau ke mana?" tanyanya sambil berusaha bangkit dari kursi meja makan, namun tangan Tsunade menahannya agar tetap di tempat.

"Sudah kubilang kau jangan banyak bergerak, Naruto. Secepat apapun kemampuan penyembuhanmu, tapi tetap saja kakimu itu perlu diistirahatkan atau kau harus memakai kruk itu lebih lama lagi."

Naruto mencuri pandang ke arah kruk yang tersandar dengan rapi di samping meja makan. Kaki kanannya memang belum sembuh benar sehabis kecelakaan itu.

"Lagipula... kau tidak mau kencanmu dengan bocah Uchiha itu digangggu olehku, 'kan?"

"BAA-CHANNN!"

Tsunade tertawa melihat tingkah kekanakan pemuda itu. Sebelum pergi, dia masih sempat mengacak rambut pirang Naruto dan memberikan 'ciuman keberuntungan' di keningnya.

Tanpa berbalik lagi, wanita itu lalu keluar dari dapur menuju pintu depan. Sebelum menutup pintu, dia masih sempat melirik ke dalam ruangan untuk melihat Naruto yang tengah membereskan sisa minumannya tadi.

Wanita itu menarik napas panjang, kemudian berjalan di koridor penghubung sambil membenahi jas putih khas dokter di tangannya. Setengah perjalanan menuju pintu keluar, akhirnya dia melihat sosok pemuda yang sedari tadi menjadi bahan pembicaraannya dengan Naruto.

Uchiha Sasuke sedang berjalan menuju arah yang berlawanan dengannya sambil menenteng sebuah tas… gitar? Tsunade mengangkat sebelah alisnya. Dia tidak pernah tahu kalau pemuda itu adalah seorang musisi.

"Uchiha-san." Dia mengangguk kecil ketika sampai di hadapan pemuda itu.

"Hn." Jawaban yang sudah bisa diduga dari seorang Uchiha.

Dan ketika melewati pemuda itu, Tsunade merasakan hidungnya berjengit. Bau pemuda itu… dia kenal bau itu. Bau yang sangat familiar baginya yang seorang dokter.

Bau darah.

Tsunade menggelengkan kepala kuat-kuat, membuang semua pikiran-pikiran negatif yang mulai bermain di kepalanya. Sasuke pasti bisa membuat Naruto bahagia. Mereka berdua pantas mendapatkannya.

Begitu sampai di luar gedung, dokter wanita itu menyadari bahwa angin mulai berhembus kencang, meniupkan hawa dingin yang tidak bersahabat. Langit mulai menggelap, bahkan titik-titik air mulai menerpa tubuhnya.

Dia berlari kecil menuju sedan putihnya di sudut parkiran. Setelah menyamankan diri di jok kulitnya, dia segera menyalakan mesin mobil dan menjauh dari tempat itu.

Satu hal yang terlewatkan olehnya. Segerombolan burung gagak hitam yang berkumpul di atap gedung. Pertanda yang dibawa kawanan itu tidak pernah baik. Hanya ada satu hal.

Kematian.

~o~

"Ya, sebentar."

Dengan langkah tertatih karena belum terlalu terbiasa menggunakan kruk, Naruto terburu-buru menuju pintu depan ketika mendengar adanya ketukan dari sana. Dia tahu siapa yang ada di balik pintu. Orang yang sangat ingin ditemuinya sejak lama.

"Uchiha-san, silakan masuk," ujarnya ketika melihat pemuda berambut hitam itu. Bibirnya menyunggingkan senyum. Sasuke kemudian melangkahkan kakinya mengikuti Naruto tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Mata onyx pemuda itu mengamati Naruto yang berada di depannya, menunjukkan jalan menuju dapur apartemennya. Naruto mengenakan kaos orange cerah dengan jeans hitam, benar-benar khas pemuda itu. Sekilas terlihat bias rindu di mata onyxnya. Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar keinginan dia memeluk pemuda itu sekarang juga.

Dia tak menyangka, Naruto akan melihatnya melakukan 'pembalasan dendam' terhadap calon kepala keluarga Hyuuga dua minggu yang lalu. Untungnya, cahaya yang tidak mencukupi kebutuhan retina untuk merefleksikan benda membuatnya tidak terlihat jelas. Terbukti dengan masih bebasnya Sasuke berkeliaran ke manapun dia mau. Dan kemudian, kecelakaan itu terjadi.

Padahal dia bisa saja meninggalkan pemuda itu mati di jalan, sebagai hukuman karena meninggalkannya selama tiga tahun. Toh akhirnya dia tetap membawa Naruto ke rumah sakit, dengan resiko akan banyak orang yang melihat sosoknya.

Dan sekarang dia bersyukur telah mengambil keputusan yang benar. Kalau tidak, dia tidak akan bisa lagi melihat wajah ceria Naruto.

Dia ingin melihat pemuda itu tersenyum lagi, walaupun untuk terakhir kalinya.

Ya, terakhir. Karena hari ini, dia akan mengakhiri semuanya.

"Jadi, kau mau bicara apa..." tanya Sasuke, "... Namikaze-san?" Pemuda berambut hitam itu dengan susah payah mengucapkan kata terakhir. Panggilan seperti itu tidak pernah digunakan olehnya kepada pemuda di hadapannya.

Mata onyx hitamnya tak luput menangkap semburat kemerahan di pipi kecokelatan pemuda itu. Wajahnya tertunduk. Kalau tidak mengingat situasinya sekarang, Sasuke pasti sudah menarik pemuda itu ke pelukannya dan menciuminya terus menerus.

"Ada..." Pemuda berambut pirang itu susah payah menelan ludah. "... yang ingin kubicarakan."

"Hn."

Kemudian tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Sasuke sibuk menyesap black coffee-nya sedangkan Naruto berkutat dengan pikirannya sendiri.

Hampir lewat lima belas menit sejak jam di ruang makan itu berbunyi tujuh kali, menandakan malam sudah mulai tiba. Namun masih tetap tidak ada suara yang keluar dari dua anak manusia di dalam ruangan itu.

Hujan mulai bertambah lebat, kali ini menumpahkan muatannya tanpa ampun. Suasana di luar lebih gelap dari yang seharusnya. Sesekali gemuruh halilintar pun terdengar.

"Kalau memang tidak ada hal yang penting, lebih baik aku…"

"Jangan!" Naruto segera menahan tangan Sasuke yang hendak beranjak dari kursi di sampingnya. Sasuke hanya memandang tangan pemuda itu di pergelangannya, kemudian menatap ke dalam bola mata biru Naruto.

Menyadari tindakannya, Naruto segera kambali ke posisinya semula. "Maaf..."

Oh… betapa Sasuke ingin tersenyum melihatnya.

"Hn." Dan pemuda itu duduk kembali.

"Ano... Uchiha-san…" Naruto memandang pemuda itu dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya.

"Mengenai yang waktu itu..."

"Hn?"

"… terima kasih, ya…"

"Hn."

"Uchiha-san..." Suara pemuda itu mulai terdengar kesal, namun Sasuke mengindahkannya dengan terus memutar-mutar cangkir kopi di tangannya.

"Hn?"

"Damn it, Teme! Bisakah kau menjawab selain dengan 'hn'-mu itu?"

Rasanya Naruto ingin memukulkan kepalanya ke meja saat itu juga ketika menyadari kesalahannya. Ini kesempatannya untuk memberitahukan kabar gambira kepada Sasuke, dan yang keluar dari mulutnya malah cacian terlebih dulu? Yeah.. langkah awal yang bagus untuk meminta maaf, Naruto.

"Tadi kau memanggilku..."

"Ma... maaf, aku nggak bermaksud mengatakan hal itu," potongnya. "Aku..."

Nafas naruto sepertinya langsung berhenti ketika Sasuke memutar kursinya dan duduk menghadap ke arahnya.

Bola mata biru itu menyusuri wajah putih pucat di hadapannya. Masih tetap seperti yang diingatnya, tak ada yang berubah. Rambutnya, matanya, hidungnya, bibirnya... oh, Naruto sungguh ingin menyentuh semua itu lagi.

Ketika mengamati wajah Sasuke, Naruto menangkap hal tak biasa di sana. Di bawah telinga kiri Sasuke terdapat sebuah noda berwarna merah yang mulai menghitam. Tanpa pikir panjang lagi, Naruto menjulurkan kemudian menyapukan tangannya ke noda itu.

Kental, seperti... darah?

Sasuke hanya memandang Naruto tanpa berkedip, menunggu reaksi yang akan dikeluarkan pemuda berambut pirang itu.

Naruto menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Kau terluka… Sasu-... Uchiha-san?" ujarnya dengan suara lemah.

Jawaban yang didapatkannya hanya berupa sebuah kekeh kecil.

"Itu bukan darahku." Tangan Sasuke menggenggam pergelangan Naruto yang masih tercenung di hadapannya.

"Huh?" Otak Naruto berputar cepat. Kalau bukan darah Sasuke, lalu milik siapa?

Mata birunya kembali menyusuri tempat di mana noda tadi itu berada. Memang tidak ada bekas luka sama sekali. Kulit porselen pemuda berambut hitam itu masih sempurna tanpa cela.

Mulai merasa tidak nyaman dengan posisinya yang sekarang, Naruto segera menarik tangannya dari cengkeraman Sasuke dan beranjak menggapai kruknya. Dia kemudian menuju ke tempat cuci piring untuk membersihkan sisa-sisa makan siangnya tadi.

"Kudengar... kau sempat melihat orang yang membunuh tunanganmu. Kau ingat bagaimana rupanya?" Tiba-tiba saja Sasuke memecah kesunyian yang tercipta selama beberapa menit.

Naruto hampir saja menjatuhkan mangkuk dalam genggamannya. Sungguh, dia tidak ingin lagi mengingat segala hal yang terjadi pada malam itu. Mata tanpa pupil Hinata yang menatapnya dengan kekosongan, bibirnya yang meneriakkan ketakutan, darah yang menggenang, bau amis yang...

Naruto bergidik.

Bau amis yang sama dengan yang barusan diciumnya menguar dari tubuh Sasuke.

Pemuda berambut pirang itu mencuri pandang ke arah Sasuke dari balik pundaknya. Sasuke masih sibuk menyesap sisa kopi dalam cangkirnya, sepertinya tidak mengharapkan jawaban dari pertanyaannya tadi.

Naruto memejamkan matanya sejenak dan menarik napas panjang. Dia ingin sekali segera memberitahu Sasuke bahwa dia ingat segalanya. Pertemuan mereka, ciuman mereka, malam-malam yang mereka lewati bersama, masa depan yang selalu mereka impikan, pernikahan yang seperti mimpi, pekerjaan Sasuke sebagai dokter dan…

Mata biru Naruto membulat sempurna.

… assasin.

Astaga... kenapa hal sepenting itu baru diingatnya sekarang? Mungkin karena itu adalah kenangan yang ingin dilupakannya?

Lagipula, tak ada bedanya dia ingat sekarang ataupun nanti. Dia sudah bertekad dalam hati sejak dulu. Siapapun Sasuke, dia tetap orang brengsek yang akan selalu dicintainya.

"Aku tidak sempat melihat wajahnya, saat itu sangat gelap. Tapi... ada satu hal yang aku yakin tidak akan salah. Orang itu.. matanya berwarna merah seperti..." Naruto menelan ludah, "… darah." Tapi dia terlihat sangat kesepian dan rindu akan sesuatu, lanjutnya dalam hati.

Naruto masih melanjutkan kegiatannya tanpa menyadari Sasuke yang menatap punggungnya dengan tatapan persis seperti apa yang ada dalam pikirannya. Bagaimanapun, Sasuke dan Redrum adalah orang yang sama.

"Kalau misalnya…" Sasuke memberikan jeda, "... orang itu muncul di hadapanmu saat ini, apa yang akan kau lakukan. Yah… bagaimanapun juga, dia yang membuatmu tidak bisa mendapatkan keinginanmu menjadi kepala dari keluarga Hyuuga."

"Aku hanya akan melakukan apa yang seharusnya dilakukan kepada seorang kriminal. Menyerahkannya kepada pihak yang berwajib dan membiarkan mereka menentukan hukuman yang pantas bagi orang itu," jawabnya tenang, masih belum membalikkan badannya.

Sasuke mendengus.

"Tidak ada hal-hal semacam 'aku akan membalaskan dendam tunanganku' atau 'aku akan membunuhnya', huh?"

"Konyol." Naruto menghentikan kegiatannya dan mengeringkan tangan dengan lap yang tergantung di sana.

Mereka kembali terdiam, masing-masing dengan perdebatan dalam dunianya sendiri. Naruto dengan kebimbangannya, Sasuke dengan rencananya.

Oke, Naruto. Sekarang atau tidak sama sekali.

"Sasuke, aku…"

"Naruto, berbaliklah." Suara yang rendah dan terkesan dingin. Bukan perintah, nadanya sedikit memohon.

Refleks, Naruto mengikuti permintaan itu. Mata birunya menangkap sosok Sasuke yang tertunduk. Rambut hitamnya menutupi wajah pucat Sasuke.

"Mungkin kau tidak ingat, tapi aku pernah memberitahumu rahasia besar tentang keluargaku. Kenapa mereka begitu disegani dan ditakuti." Sasuke masih tetap mempertahankan posisinya semula. "Karena ini. Karena mata yang mereka sebut 'keajaiban' ini..."

Sasuke mengangkat wajahnya. Wajah tampannya tidak berubah, hanya saja di tempat seharusnya terdapat sepasang bola mata onyx yang seakan menyedot semua perhatian kepadanya telah menghilang tergantikan dengan warna merah dengan tiga bentuk koma yang melingkarinya. Penuh dengan kesepian dan kerinduan. Sama seperti…

"Re... redrum?"

Tanpa disadarinya, Naruto mempererat genggaman pada kruk yang sedang digunakannya hingga kepalannya terlihat memutih. "Sasuke… kau..."

"Sasuke... Redrum… yang manapun sama, Naruto. Keduanya tetap aku."

"Bo... bohong..."

Ya, ini semua pasti cuma sebuah kebohongan. Sebentar lagi Sasuke pasti akan memunculkan seringai khasnya dan meneriakkan 'April Mop!'. Dia ingin percaya hal itu, tapi logikanya tidak mengijinkannya untuk membumbungkan harapan kosongnya lebih jauh lagi.

"Tapi... kenapa...? Lalu Hinata..."

Sasuke terkekeh. Tidak ada tawa renyah yang dulu biasanya meluncur dari bibir pemuda itu.

"Gadis malang. Aku sebenarnya tidak punya dendam apapun padanya. Kalau mau… kau salahkan saja kakak sepupunya yang licik itu. Menyuruh orang lain untuk membersihkan penganggu, sedangkan dia sendiri berakting dengan cerdasnya menangisi kematian orang yang secara tidak langsung dibunuhnya."

Naruto tak mempu berkata apa-apa lagi. Bukan hanya Sasuke, bahkan Neji yang dianggapnya selama ini sangat menyayangi Hinata ternyata malah menjadi dalang di balik drama mengerikan ini.

"Tapi karma memang selalu berlaku, Naruto, seperti kataku dulu." Sasuke menggantung kalimatnya dan mengambil tas gitar yang terlupakan di kaki meja. Direbahkannya dengan hati-hati di atas meja makan. Naruto hanya mampu memandangi aktifitas itu tanpa bersuara. Sampai akhirnya Sasuke mengeluarkan katana yang masih berlumuran darah. Bau amis yang diciumnya tadi semakin kuat, membuat Naruto berbalik badan dan mengeluarkan isi perutnya di wastafel.

Sasuke mengangkat katana di tangannya hati-hati, memastikan Naruto melihat benda itu. Ketika menyaksikan Naruto menguras isi perutnya, Sasuke tersenyum miris.

Lihat Sasuke, apa lagi yang telah kau lakukan sampai membuat malaikat itu menderita?

"Adik perempuan gadis itu datang ke tempatku seminggu yang lalu. Kau tahu apa permintaannya? Menghabisi Hyuuga Neji." Lanjutnya seakan-akan tidak terganggu dengan Naruto yang masih terus memuntahkan makan siangnya. "Dan itulah yang kulakukan sebelum kunjunganku ke tempatmu ini."

Sasuke memejamkan matanya sejenak. Bayangan Neji yang meregang nyawa di hadapannya masih bisa tergambar dengan jelas. Ketika dia sudah melaksanakan tugasnya, maka berakhir pula kontraknya dengan sang penyewa jasa. Dan begitu ada penyewa jasa yang lain, tidak menutup kemungkinan penyewa jasa sebelumnya malah akan menjadi target berikutnya. Begitulah yang terjadi dengan Neji. Hyuuga Hanabi memintanya menghabisi nyawa pemuda itu demi membalaskan dendam kakak perempuannya.

"Kau.. bukan Sasuke..." Tiba-tiba suara Naruto terdengar. Punggungnya masih menghadap pemuda itu. "Aku sudah ingat semuanya. Dan Sasuke yang kukenal tidakakan melakukan hal seperti itu dengan mudahnya!"

Naruto masih belum berbalik. Mata birunya berkaca-kaca. Dia tak percaya. Tak ingin percaya.

Sasuke tersenyum sinis, walaupun dia tahu hatinya menangis. Tapi tidak… ia tidak ingin menyakiti pemuda dengan senyuman matahari itu lagi. Diletakannya kembali katana itu di tempatnya semula.

"Uchiha Sasuke yang kau kenal sudah mati tiga tahun yang lalu. Bersama dengan kematian kekasihnya, Uchiha Naruto…"

"Tapi aku Naruto! Uchiha Naruto!" potong Naruto. Dia berbalik hanya untuk mendapati sebuah pistol mengarah tepat ke jantungnya.

"… dan sekarang, tugasku selanjutnya adalah menghabisi Namikaze Naruto," lanjut pemuda itu seakan tidak mendengar bantahan Naruto.

Naruto bergetar, mempererat pegangannya pada meja wastafel di belakangnya. Kruknya sudah lama terjatuh karena keterkejutannya.

Ini... hanya mimpi... kumohon...

Sasuke melihatnya dengan menahan seluruh gemuruh dalam hatinya. Akal sehatnya menyuruhnya untuk menyimpan pistol itu di tempatnya semula. Tapi dia tidak bisa.

Pemuda itu lalu merogoh sesuatu dari kantung mantel hitam yang digunakannya.

Sebuah kartu hitam. Dengan gambar tengkorak putih di depannya.

"Ini tidak akan sakit, Naruto. Aku hanya akan menekan pelatuk ini dan… selesai.." ujarnya tenang. Pemuda itu bangkit dari kursinya dan melangkah perlahan mendekati Naruto.

Ini akhirnya, Naruto...

Butiran kristal bening meluncur dengan mulus di pipi kecokelatan Naruto. Pemuda itu menggigit bibir bawahnya hingga dia merasakan rasa asin di lidahnya. Darah dan air matanya bercampur.

Mimpi buruk ini... harus segera berhenti!

Naruto mengangkat wajahnya yang tertunduk. Tanpa disadarinya, Sasuke sudah berada beberapa langkah di depannya. Dia... tidak akan membiarkan Sasuke tersesat dalam dunianya sendiri lebih jauh lagi.

Tangan kanannya menggapai-gapai di balik punggungnya, menyusuri meja di balik tubuhnya, menggenggam sebuah benda yang dia tahu selalu berada di sana.

"Selamat tinggal… Naruto..."

Sasuke mengangkat pistolnya, kali ini terarah tepat ke pelipis Naruto. Jari telunjuknya bersiap menekan pelatuk.

Tanpa disangkanya, Naruto maju menerjangnya tanpa ampun.

Dan beberapa detik kemudian, rasa sakit yang amat sangat menerpa tubuhnya. Cairan hangat membasahi mantel hitamnya, tepat di bagian jantung seharusnya berada. Dia melihat ke bawah.

Sebuah pisau menancap di dadanya.

Naruto mundur selangkah, matanya terbelalak lebar. Ngeri akan tindakan gila yang baru saja dilakukannya.

Menusuk jantung Sasuke.

"Naru… to..." Dan perlahan, tubuh Sasuke terjatuh ke tanah. Segaris senyum terukir di bibirnya. "Terima... kasih..."

Seakan baru menyadari apa yang dilakukannya, Naruto langsung berlutut di samping tubuh Sasuke.

"Tidak! Sasuke… maaf! Maafkan aku… bukan seperti ini yang..."

Kartu hitam terjatuh di dekat kakinya. Kali ini bukan gambar tengkorak putih di sisi depan yang menyambut penglihatannya. Tapi sebuah tulisan yang membuat perasaannya makin tidak karuan.

Redrum was Dead.

Tak percaya dengan mata yang mungkin mengkhianatinya, pemuda itu meraih pistol yang terjatuh dari genggaman Sasuke dan langsung menjatuhkannya ketika firasatnya menjadi sebuah kenyataan.

Di tempat seharusnya ada enam selongsong peluru… dia tidak menemukan apapun di sana. Hanya udara kosong.

"Apa maksudnya ini, Sasuke..." tanyanya dengan suara lemah. Telinganya bisa menangkap suara napas pemuda yang kini tengah berjuang antara hidup dan mati itu semakin melemah.

"Sudah jelas, Dobe… aku… akan mati..." Sasuke menutup matanya, tidak mau melihat air mata yang terus berjatuhan dari mata indah itu.

"Tapi…"

"… dan yang boleh mencabut nyawaku… hanya kamu..."

Tangan pucatnya berusaha mati-matian meraih pipi Naruto, mengusapnya dengan lembut.

"... karena kamu juga yang pernah memberikanku kehidupan..."

"Jangan bicara bodoh, Teme!" Kali ini, Naruto tidak berusaha menahan air matanya lagi, dibiarkannya mengalir dengan deras. Suaranya berubah serak. "Kau harus hidup! Kita… kita bisa mulai semuanya dari awal lagi, mengulang semuanya lagi... Kumohon... bertahanlah..."

Lengan tan itu meraih tubuh Sasuke yang mulai terbujur kaku. Disandarkannya kepala berambut hitam itu di dadanya.

Sasuke tidak melakukan banyak. Dia menikmati saat itu. Kali terakhirnya dalam pelukan pemuda pirang yang amat dicintainya.

"... kita bisa membuat masa depan yang baru… kita... kita..." suara pemuda itu makin tersendat.

Sasuke menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak ada lagi... kita, Naruto... hanya ada kamu…"

Naruto tak bisa membantah lagi. Dengan suara napas Sasuke yang tinggal satu-satu dan darah yang semakin banyak merembes di lubang yang kini berada di dadanya, dia tahu, dia tak bisa berharap lebih dari ini.

"Maaf... maaf, Sasuke... maaf..."

"Dobe, berhenti menangis... kau membuat kepalaku pusing…" Sasuke masih sempat menambahkan seringai di bibirnya. Dia tahu, waktunya tidak banyak lagi.

"Ini… gara-gara aku…"

"Berhenti... kumohon... jangan menangis..."

Naruto menatap wajah tampan yang berusaha keras menyembunyikan rasa sakitnya itu. Seorang Uchiha tidak pernah memohon. Tapi saat ini...

Maka dia pun tersenyum. Dan sang Uchiha membalas senyumannya.

"Aku mencintaimu, Naruto… dulu... sekarang... juga nanti..." Sasuke menutup matanya perlahan, berusaha menyimpan senyuman terakhir sang malaikat dalam ingatannya. "Aku ngantuk... biarkan aku tidur..."

Tangisan Naruto hampir pecah lagi ketika mendengar kalimat itu.

"… dan saat aku bangun nanti, aku ingin wajah tersenyummu yang menyambutku..."

Mereka terdiam selama beberapa saat. Dan perlahan, suara napas Sasuke menghilang sama sekali. Tidak ada gerakan dari tubuh pemuda itu.

Naruto memeluk jasad Sasuke erat sambil menangis tanpa suara.

"Goodnight, Sasuke... sleep tight..."

Dan sebuah ciuman selamat malam mendarat di bibir yang mulai membiru itu.

.

.

Tuhan itu adil, bukan?
.

Selalu ada karma bagi para pendosa

.

Aku, kamu, dia, kita.. sama

.

Selamat malam, selamat malam

.

.

-OWARI(?)-


Edited. Semarang, 110619.

.charlottecauchemar.