Halo semuanya! Ketemu lagi akhirnya di chapter 3! Maaf benar humornya agak aneh, mungkin. Baik, tak perlu berlama-lama, baca aja ya~
Tahun demi tahun berlalu, bulan juga, minggu, hari dan jam, begitu juga menit dan detik (ya iyalah!). Putri Rosalie alias Mawar tumbuh menjadi seorang gadis yang… seperti disebutkan di harapan para 'peri'. Tapi, ada keanehan. Ke-moe-an Mawar hanya muncul saat ia sedang tidur. Maklum, Peri Moe hanya bilang sedikit. Dan, efek samping dari harapan-harapan ketiga 'peri' juga malah muncul. Mawar menjadi orang yang sangat perfeksionis dan coretsangatcoret agak menyebalkan. Oh, dan karena Peri Fujo hampir mengatakan hadiah fujoshinya, Mawar pun jadi setengah-fujoshi. Lumayanlah, kata Peri Fujo, setidaknya ia mimisan tiga tetes begitu ngeliat adegan Perdana Menteri Ivan x Pelayan Toris.
Hari ini adalah ulang tahun Mawar yang ke- 18. Entah kenapa, Peri Senapan panik setengah idup dan berlarian gaje keliling ruang bawah tanah. Peri Fujo merasa sangat senang dan berbunga-bunga hari ini, jadi dia loncat-loncat kesana kemari seperti kelinci sekarat #digetokwajan. sementara Peri Moe bingung melihat mereka berdua melakukan aktivitas gaje begitu.
Mari kita ketahui alasan mengapa mereka melakukan hal segaje itu. Peri Senapan merasa khawatir karena deadline yang diberikan Peri Alis Tebal tinggal setahun lagi. Peri Fujo merasa berbunga-bunga karena dengan Mawar sudah menginjak usia 18 tahun, ia (Mawar) tentunya akan diizinkan untuk membaca doujin R-18, dengan begitu ia akan tambah mengerti adegannya dan diharapkan bisa membantu dalam perekaman adegan bagus, terutama Peri Alis Tebal dengan asistennya, Alpret eh, Alfred.
Karena keributan di luar kamarnya, Mawar yang lagi sibuk main biola meninggikan nada biolanya sampai ketiga peri hampir tuli. Mawar pun keluar dari kamarnya. "Kalian bisa diem gak sih?" Bentaknya, lalu ia masuk lagi ke kamar.
"Jujur, kalian perhatikan sesuatu gak sih?" Tanya Peri Senapan tiba-tiba. "Apa?" Tanya kedua peri lainnya. "Umurnya sudah 18 tahun." Jawab Peri Senapan. "Ohh… baguslah kalau begitu, ia bisa membantuku untuk merekam adegan yaoi, terutama Peri Alis x asistennya~" Komentar Peri Fujo. Otomatis, Peri Senapan menembakinya dengan pistol cadangan secara membabi buta.
Sudahlah, kita skip time. Sekarang, hari ulang tahun Mawar ke-19. "Hei, kita buat pesta kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahun Mawar yuk!" Ajak Peri Moe. "Ide bagus!" Kata kakaknya, yang rupanya sudah lupa tentang kutukan itu. "Sebaiknya, kita jauhkan Mawar dulu, supaya dia tidak tahu." Kata Peri Fujo.
Mawar, yang merasa namanya disebut-sebut keluar dari kamarnya. "Perasaan tadi ada yang nyebut namaku deh…" "Emmm… ya, kami mau... membereskan rumah dulu, jadi… bisakah kau keluar sebentar?" Kata Peri Fujo. "Kalau dilihat dari keadaan rumah ini, memang perlu dibersihkan." Kata Mawar. Dengan kekuatan gaib, kamera di-zoom, dan terlihatlah keadaan rumah yang sebenarnya. Darah berceceran dimana-mana, tembok penuh bekas tembakan, dan lain-lain. Lalu ia kembali ke kamar, mengambil biolanya, dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Di pinggir coretempangcoret kolam kecil di tengah hutan…
"Perasaan, kenapa mereka baru nyadar sekarang, ya? Bukannya mereka bertiga itu orang-orang yang menyukai kebersihan dan selalu rapi…" kata Mawar bingung. Tiba-tiba, seekor elang mendarat di atas biolanya.
Hening. Sebentar.
"Dasar burung!" umpat Mawar ke burung itu. Si burung pun cabut dari tempat. "Burung. Selalu saja mengganggu hidupku yang kuharapkan tenang dan damai…" Kata Mawar setelah si burung pergi.
Beberapa saat kemudian, ada seekor tikus di sebelahnya. Bukannya lari dan berteriak gaje, dia malah… memukul tikus itu dengan biolanya. Sang tikus mati seketika.
Di balik semak-semak dekat kolam tadi…
Seorang pangeran gaje sedang mengamati Mawar dengan serius. Wajahnya menunjukkan ekspresi shock melihatnya. "Tikus ke-18! Dia udah mati…" kata orang itu. "Padahal lumayan, bisa buat makan Gilhawk…"
Ya, orang itu adalah Pangeran Gilbert, dengan burungnya, Gilbird yang telah tumbuh jadi elang dan ujung-ujungnya dirubah namanya jadi Gilhawk. Gilhawk selalu ingin makan tikus hidup. Dan kali ini, Gilbert telah menyia-nyiakan tikus untuk ke-18 kalinya.
"Ni author udah sarap kali ya, nyuruh gue yang berlipat-lipat kali lebih awesome daripada orang ini dipasangin ama ni orang?" Bisik Gilbert. Pelan-pelan, dia melangkah keluar dari semak-semak dan mendekati Mawar yang lagi ngelemparin batu kerikil ke kolam.
"Emm… permisi?" tanya Gilbert saat dia berada tepat di belakang Mawar. "Siape lo?" Tanya Mawar ketus. Gilbert yang merasa tersinggung, langsung nyolot. "Heh, gue ini beribu kali lebih awesome daripada elu ya, hormatan dikit dong!" "Emang elu pemilik hutan ini apa?" Jawab Mawar sengit. "Emang gue enggak, tapi gue tetep yang paling awesome disini!" balas Gilbert. "Mau elu awesome kek, asem kek, manis kek, pahit, asin, pedas, bahkan umami sekalipun, gue gak bisa nerima elu bilang lu yang paling awesome di sini!" Balas Mawar lagi. "Heh, terserah gue juga kali!" Balas Gilbert, dan adu mulut pun berlanjut dengan… BOOM! Perang Austro-Prusia jilid 2!
Perang itu berakhir, dengan keadaan mereka yang ekstra babak belur. Ahoge Mawar patah, dan di sekujur tubuhnya banyak luka. Keadaan Gilbert ya… kurang lebih sama, cuman bagian ahogenya dihapus. Mereka berdebat sebentar, lalu saling berbalik untuk pergi.
Mawar kembali ke rumah ketiga peri. Tok-tok! Terdengar suara Peri Moe membukakan pintu. "Mawar, kamu kenapa sampai bisa babak belur begitu?" Tanya Peri Moe melihat keadaan Mawar yang berantakan. Peri Senapan langsung berlari ke pintu. "Mawar! Apa yang terjadi sampai kamu begitu? Kalau ketemu pelakunya… ku-DOR dia!" Kata Peri Senapan berapi-api. "Sudah, Kak. Ayo masuk dulu, nanti kami panggil Kak Eliza untuk mengobati luka-lukanya." Kata Peri Moe mengajak Mawar masuk.
Setelah diobati, dengan penuh teriakan, Mawar memanggil Peri Moe. "Lily, boleh aku bicara denganmu sebentar?" "Boleh…" jawab Peri Moe. "Sebenarnya, aku mau curhat juga… sudah 19 tahun aku nggak curhat." Kata Mawar. Vash yang lewat berpikir, 'Ya jelas 19 tahun tidak curhat, wong dia juga gak pernah curhat!'
Di kamar… "Sebenarnya, siapa yang bikin kakak babak belur begini?" tanya Peri Moe. "Entahlah. Aku tidak tahu. Kalau tidak salah, dia sempat bilang namanya Gilbert si Awesome. Tapi, tentu saja aku tidak mau mengakui keasemannya itu, kecuali kalau sudah diuji dengan kertas lakmus!" kata Mawar. "Haha…" tawa Peri Moe. "Tapi, ada satu rahasia, dan jangan bilang siapapun, ya. sebenarnya aku itu…" kata-kata Mawar terhenti. Dia mendekatkan mulutnya untuk berbisik ke Peri Moe. "Suka sama dia. Tapi kurasa dia malah benci aku."
"Ohh… dulu aku juga merasakan hal yang sama, tapi ke orang lain. Lebih berbahaya malah. Ke Peri Alis Tebal. Nama aslinya Arthur." Kata Peri Moe. "Kak Vash pasti tidak mengizinkan aku berpacaran dengannya. Dia benci sekali dengan Arthur. tapi, sekarang perasaan sukaku itu sudah berkurang sedikit."
"Ya sudah, sepertinya aku sudah merasa sedikit lebih baik, aku keluar dulu. Terimakasih ya, Lily." Kata Mawar, dan dia membuka pintunya.
Ternyata, di depan pintu sudah ada Peri Fujo dan Peri Senapan. "M-Mawar, kamu…" Kata Peri Senapan kaget. "B-Bagaimana kalian bisa-" Tanya Mawar, yang langsung dipotong oleh Peri Fujo. "Tadi, pendengaran tingkat tinggiku teraktifkan, dan aku mendengar bisikanmu ke Lily." Peri Fujo nampak merasa bersalah.
"J-Jadi, aku sebenarnya putri dari kerajaan itu? dan… nama asliku Rosalie?" Tanya Mawar, masih tak percaya. "Ya. Raja Heracles dan Ratu Mona menitipkanmu pada kami karena ada kejadian dahsyat yang terjadi saat acara pertunanganmu, yang berlangsung saat kau masih bayi." Kata Peri Senapan. "Apa?" Tanya Mawar. "Ada kesalahan pengantaran undangan. Undangan milik Peri Alis Tebal jatuh dan hanyut di sungai saat pengantar surat Yao mengantarnya ke kediaman Peri Alis di Gunung Kilimanjaro. Peri Alis mengira dia tidak diundang, jadi dia sangat marah dan langsung pergi ke istana. Dia datang, dan sepertinya dia terlalu marah, sampai dia mengutukmu. Katanya, jika kau menyentuh sebuah piano, kau akan mati." Jelas Peri Senapan. "UAPA! Dimana peri jelek sialan itu! Kalau aku ketemu dia… Tak getokin dia pakai biola!" kata Mawar, lengkap dengan aura hitam di belakangnya. "Tunggu, dengarkan dulu. Ini belum selesai. Peri Fujo, yang hadiah awalnya adalah kau menjadi fujoshi, memutuskan untuk mengganti hadiahnya supaya kau tetap hidup, yaitu meringankan kutukannya menjadi tidur, bukan mati." Peri Senapan mengakhiri penjelasannya. "Hei Vash, itupun juga kamu yang suruh kan? Aku sebenarnya lebih suka dia jadi fujoshi daripada meringankan kutukannya." Komentar Peri Fujo. "JADI KAU BERHARAP DIA MATI!" Bentak Peri Senapan marah, dan menembaki Peri Fujo dengan membabi buta.
"Kak Vash, mungkin sebaiknya kita bawa kembali Mawar ke istana, untuk mengingatkannya kembali akan 19 tahun lalu." Kata Peri Moe. "Ide bagus. Mungkin kau akan ingat sesuatu." Kata Peri Senapan. "Ayo cepat! Pegang tanganku!" Kata Peri Fujo. "sudah!" Jawab yang lainnya. "wasweswoswasweswos-SuFin-wasweswos-DenNor-wasweswos-PruAusGerAusGemancest-wasweswos-R30 extra hard X!" Kata Peri Fujo membaca mantranya, yang otomatis membuat yang lain sweatdrop. 'Ni anak adiktif amat ama yaoi kali ya?' Pikir Peri Senapan.
Seekor flying mint bunny yang bertengger di atas atap gubuk mereka mendengar semua itu, dan dia pun ber-apparate untuk mengabari Peri Alis.
Selese! Sekarang gue punya permainan. Coba bilang tikus liar (dalam bahasa Inggris) dan angka 18, tapi angka 18-nya cukup dalam bahasa Indonesia. Later in the next chapter!
