Telah sampai di ujung cerita! Aku hari ini apdetnya cepet karena emang udah selese dari beberapa hari lalu. Silahkan, silahkan! baca chapter terakhir!
"Ayo kita berangkat! Cepat pegang tanganku!" Kata Peri Fujo senang. "Idih! Gue yang awesome ini gak mau megang tangan lu!" kata Gilbert. "Udah ah! Ntar gue tinggal nih! Dari sini ke istana perlu tiga hari jalan!" Kata Peri Fujo frustasi. "Oke, oke…" Kata Gilbert menyerah, daripada ditinggal dan harus jalan tiga hari ke istana.
"Wasweswoswasweswos-RoChu-wasweswos-RussLiet-wasweswos-LietPol-wasweswos doujin yaoi R-70 extra hard X!" Kata Peri Fujo mengucapkan mantranya. 'Ealah, makin tinggi ratingnya!' Pikir Peri Senapan.
Sementara itu, di sebuah gua dekat pantai di Norwegia…
Seorang penyihir sedang sibuk menciptakan mantra baru, ditemani oleh… seekor kambing. Kambing itu mengembik terus, sampai si penyihir frustasi dan membentaknya, "Heh, kalo lu ga diem, gue panggang lu buat makan malem!" Si kambing langsung takut dan berhenti mengembik.
Peri Alis memasuki gua tersebut. "Halo, permisi~ Runa? Kau ada di rumah eh, gua?" "Aku seperti biasa disini. Masuk saja." Kata sebuah suara dari dalam. Peri Alis mengikuti suara tersebut, masuk ke dalam gua.
Disana, terlihat Runa sedang sibuk mencoba mantra ciptaannya, ditemani seekor kambing. "Oh, kau rupanya." Runa membaca mantra, dan kambing tersebut berubah jadi orang, Mathias tepatnya. "Runa, kenapa kau tidak merubah aku dari tadi saja?" Tanya Mathias pada Runa yang sedang sibuk. "Ternyata merubahmu jadi kambing bukan putusan yang tepat," kata Runa. "Jadi kau tak akan merubahku jadi kambing lagi~?" tanya Mathias berbinar-binar. "Tidak. Menjadi kambing adalah bagian penting dan sudah tercatat dalam jadwalmu tiap pagi sampai sore, kecuali jika ada orang datang berkunjung." Jelas Runa. "Yaaaaaah~"
"Runa, aku perlu bantuanmu. Bisa tidak kau pinjamkan troll-mu? Nanti kalau aku sudah selesai, aku kabari kamu deh…" pinta Peri Alis. "Terserah. Ambillah disana. Satu lagi males-malesan tuh." Kata Runa menunjuk sebuah tempat lebih dalam di gua. "Satu syarat. Nanti bantu aku masak ikan bakar, atau… kambing panggang juga boleh." Mathias bergidik ngeri.
Peri Alis kembali dengan seekor troll. "Makasih ya!" ia pun langsung menghilang bersama troll itu.
Kembali ke Gilbert dkk. *Gilbert: Heh! Mereka bukan dkk gue!*…
POOF! Mereka sampai di… masih kandang kuda. "Hei El, gak awesome banget sih, masak di kandang kuda gini?" Protes Gilbert. "Udah gak ada waktu! Mari kita per-" kata-kata Peri Fujo terputus. Gilbert sudah tak ada di tempat. "Gilbert! Lu dimana?" teriak Peri Fujo nyariin Gilbert.
Para peri berlari (kocar-kacir) menuju penjara bawah tanah, sesuai insting Peri Moe. Di salah satu ruangan penjara… "Hei! Gak awesome banget sih, bisanya cuman ngurung orang doang!" "Hei kalian, gilbert disini!" kata Peri Fujo. "Ya, gue yang awesome emang disini. Napa?" Kata Gilbert dari dalam. 'Katanya awesome, kok bisa ketangkep gini sih?' pikir ketiga peri.
Vash langsung mengeluarkan pistol ajaib dan mencocokkan ujung pistol dengan lubang kunci. Dia tembakkan pistol itu, dan pintu tersebut terbuka dengan ajaibnya. Dalam ruangan itu, ada Gilbert, yang dengan frustasinya sedang mengambil ancang-ancang untuk menendang pintu.
"Gilbert! Siapa yang membuatmu masuk ke sini?" Tanya Peri Senapan. "Mana kutahu! Yang kuingat hanya ada orang aneh beralis tebal tiba-tiba menarik tanganku dan membawaku ke sini!" kata Gilbert. "Dasar sialan!" Umpatnya.
"Arthur sudah tiba. Dia pasti menyiapkan sesuatu, kak!" Kata Peri Moe. "Ya. Kita harus berikan bantuan." Kata Peri Senapan. "Ke siapa?" Tanya Gilbert bingung. "PADAMULAH! Setelah kubaca dokumen Khusus Kutukan Peri Alis, calon pematah kutukan harus bergerak sendiri melawannya." Jelas Peri Senapan. "Gak bisa kalian aja napa?" tanya Gilbert. "Ga bisa! Ntar kutukannya malah tambah parah dan bukan tidur lagi, tapi mungkin mati!" kata Peri Senapan.
"Gilbert, kupikir kau akan memerlukan ini." Kata Peri Moe memberikan seutas tali. "Kalau kau kerepotan, tinggal lempar tali itu. dia pasti akan terikat." "Terimakasih." Kata Gilbert menerima tali itu. "Ini pistol untuk membantumu." Kata Peri Senapan memberikan pistol pada Gilbert. Peri Fujo diam saja. "Hei El, kau tak memberikan bantuanmu? Bukannya kau yang paling semangat jadi makcomblangnya Rosalie?" tanya Peri Senapan. "Oh, sebentar, kucari dulu. Aku sudah menyiapkannya dari awal." Peri Fujo membongkar tasnya, dan mengeluarkan sebuah doujin. "Ini untukmu. Ambil saja, aku masih punya banyak." Gilbert membuka-buka doujin itu, dan melihat sebuah gambar SpaMano. "Terimakasih semuanya! Aku yang awesome ini pasti bisa mengalahkan Si Alis Tebal sialan itu! doakan aku ya!" kata Gilbert berlari keluar untuk mencari Peri Alis.
Gilbert sedikit kesulitan, karena banyak tanaman yang mengganggu jalan. Di dekat halaman istana, ia melihat troll Peri Alis yang merupakan pinjaman dari Runa berpose siaga. Gilbert memotongi tanaman-tanaman tersebut dan menghampiri troll.
"Hei, elu bukannya troll milik Bu Penyihir itu ya?" Tanya Gilbert. Si troll diem aja, dan malah mengayunkan pemukulnya ke Gilbert. Gilbert otomatis merunduk. "Hei! Kalo ditanya jawab dong! Jangan malah mukul gitu! Gak awesome amat dah!" Gilbert marah-marah sendiri pada troll itu.
Gilbert bertarung dengan troll itu, dan setelah beberapa lama, dia mulai kewalahan. "Sudah waktunya memakai bantuan, sepertinya." Kata Gilbert. Ia menembakkan peluru dari pistol itu, dan setidaknya berhasil membuat troll itu kesulitan menghindar.
Gilbert melempar tali pemberian Peri Moe, dan tali tersebut dengan ajaib langsung mengikat trollnya. Troll itu meronta-ronta, tapi tali itu terlalu kuat. 'Gak nyangka tali kecil gitu kuat ya?' P bingung.
"Troll, rasakan kekuatan SPAMANO!" Gilbert membuka doujin itu tepat di bagian gambar SpaMano-nya dan melempar doujin itu. Si troll yang kaget melihat gambar nyaris-R-18 SpaMano itu, langsung jantungan dan mati.
"Yaaaahh… ternyata cuman segitu doang troll-nya… nyebelin amat sih. Udah ah, gue yang awesome ini harus segera ke menara." Kata Gilbert yang segera masuk ke istana. Sayangnya, Gilbert tidak menemukan tangga manapun. Ia keluar lagi.
"Aaaaah… gak awesome! Masa' gak ada tangga! Kalo gak ada tangga… dinding pun jadi! Gue harus MANJAT!" Sayangnya, dia tidak tahu menara itu adalah menara yang cukup tinggi, dan jelas perlu banyak usaha untuk mencapai jendelanya.
Gilbert memulai langkah pertama untuk memanjat gedung itu. pelan-pelan, dia mulai naik. Tapi, baru sepersepuluh jalan, dia sudah lelah. "Hh… Huff… Gak awesome! Napa sih tangganya jauh!" Gilbert terus melanjutkan perjuangan memanjat dinding menara itu. Kadang dia hampir jatuh, entah karena pegangannya tidak kuat atau diganggu Peri Alis, dan gangguan Peri Alis berhasil dihilangkan setelah Gilbert meninjunya tepat di muka. Peri Alis pun jatuh. Gilbert melanjutkan pemanjatan.
Setelah mencapai jendela menara… "AAAAAHH~ GUE PERLU ISTIRAHAAAAT~" Gilbert kelelahan sekali setelah memanjat menara itu. "Eh~ Tumben nih~ Ada kasur…" Gilbert langsung lari ke kasur itu dan tidur dengan tenangnya, tanpa mempedulikan orang yang sedang tidur di kasur itu dari tadi.
Rosalie, yang tidur sejak tadi, merasa ada sesuatu yang menyesakkan napasnya. Dia pun bangun, dan… menyadari Gilbert ada diatasnya. Dia dorong Gilbert dari atasnya, dan menarik napas untuk… "DASAR NYEBELIN! SEENAKNYA AJA TIDUR DIATAS ORANG! KALO MAU TIDUR LIAT-LIAT DULU DONG!" Umpat Rosalie keras. Gilbert yang baru tidur beberapa menit terbangun dan menyadari dua hal: Satu, dia ada di lantai, berarti ada yang menggesernya. Dua, suara umpatan keras itu, mirip sekali dengan suara Rosalie. Dari hal tersebut, dia mengambil satu kesimpulan, yaitu Rosalie sudah bangun dan menggesernya dari tempat tidur, lalu memarahinya karena tidur sembarangan tepat diatasnya.
Ketiga peri ber-apparate ke kamar Rosalie, dan mendapatinya sedang memarahi (Baca: Berdebat dengan) Gilbert habis-habisan. "KAMU ITU JADI PANGERAN GA SOPAN BANGET YA!" Bentak Rosalie. "GUE WAKTU ITU LAGI LELAH, MANJAT DINDING CUMA GARA-GARA TIGA PERI GAJE NYURUH GUE BUAT NYELAMETIN ELU!" Balas Gilbert. "Emang gue kenapa ampe perlu diselametin? Lebai amat dah…" kata Rosalie acuh.
Gilbert menggertakkan giginya, marah sekali dengan perempuan di depannya ini. Saat Gilbert sudah berancang-ancang memukulnya, seseorang memegangnya dari belakang. Peri Senapan rupanya. "Tenangkan dirimu, Gil. Biar aku yang urus ini."
Gilbert mundur, dan Peri Senapan memulai. "Begini, Rosalie. Emm… Apa yang kau ingat sejak sebelum ini?" "Waktu itu…"
-FLASHBACK-
Rosalie duduk di bangku piano. "Sudah, sentuh saja…" Kata suara itu menghasut Rosalie untuk menyentuh salah satu tuts piano. Tapi yah, asal tahu orang penasaran, Rosalie pun menyentuh piano itu. anehnya, dia tidak mati. "Hah? Bagaimana ini bisa terjadi?" Rosalie kebingungan. "Ttuh kan, sudah kubilang padamu, git. Kau saja yang terlalu khawatiran."
Rosalie bertanya pada suara itu. "Oh ya, ngomong-ngomong, kamu siapa ya?" Arthur pun pundung di pojok ruang musik karena dia mengira dirinya dianggap Matthew si asisten peri –piiiip- aka Francis.
Peri Alis memutuskan untuk menunjukkan dirinya. Rosalie yang sibuk main piano tidak menyadari kehadirannya. Peri Alis pun mencolek Rosalie dari belakang. "Permisi," Rosalie menoleh, dan terlihat Peri Alis bergaya ala gentleman padahal lebih tepat disebut gentlegit. Rosalie ternganga. Bukan, bukan karena Peri Alis tampan, tapi karena alisnya tebal sekali, seperti wafer. Tanpa sadar, Rosalie menjilat bibirnya. Peri Alis bertanya, "Kamu mau makan?" "Oh, nggak. Hanya takjub aja ngeliat alis yang tebel banget kayak wafer." Jawab Rosalie, yang malah membuat Peri Alis pundung lebih dekat ke tembok.
"Jadi, kamu Peri Alis yang kata tiga peri itu mengutukku soal piano dan sebagainya?" Tanya Rosalie. "Jawabnya ya dan tidak. Ya, karena aku memang Peri Alis. Tidak, karena aku tidak mengutukmu. Waktu itu, sebenarnya aku hanya berpura-pura. Saat itu, Temanku Runa si Penyihir meramalkan kau akan sulit mendapatkan pasangan. Jadi, aku memutuskan untuk membantumu dengan cara berpura-pura mengutukmu. Seharusnya Peri Fujo tahu, dia peri terbaik diantara mereka. dengan begitu, mereka bakal kelabakan dan mencoba mencari pasangan untukmu." Jelas Peri Alis.
"Tapi itu belum terjadi." Kata Rosalie. "Aku belum membutuhkan cinta sejati. Tunggu, jika kau sebenarnya tidak mengutukku 19 tahun lalu, berarti apa yang kau berikan waktu itu?" "Oh, aku berikan harapan agar kau bisa cepat dapat pasangan, tentunya. Aku sih, sudah cukup bahagia dengan pacarku sekaligus asistenku Alfred." Kata Peri Alis. Rosalie terkaget selama 3 pikosekon, dan mimisan. "Eh, m-maaf!" dia mengambil tisu dan mengelap mimisannya.
"Wah, ternyata harapan kau-menjadi-fujoshi dari Peri Fujo bekerja padamu. Berarti dia tahu aku berpura-pura." Kata Peri Alis. "Jadi, ada kemungkinan Eliza tahu hal ini?" Tanya Rosalie. "Ya. Dan sekarang, mau nggak kau bekerjasama denganku?" Tanya Peri Alis. "Hmmm… Boleh juga. Apa yang harus kulakukan?" Tanya Rosalie.
"Kau harus berpura-pura tertidur, seakan-akan kutukannya terjadi. Tenang saja, aku akan mengunjungimu tiap hari untuk memberi kabar terbaru ketiga peri."
Saat ketiga peri tiba di ruang musik, mereka mendapati Rosalie tertidur, lebih tepatnya pura-pura tidur, dan Peri Alis tertawa terbahak-bahak.
Beberapa hari kemudian…
Peri Alis sibuk menaiki tangga ke menara tempat Rosalie berada. Dia nampak terburu-buru. Begitu dia sapai, dia membuka pintu keras-keras, sehingga Rosalie yang sedang tidur siang terbangun.
"Aada berita buruk!" kata Peri Alis. "Apa?" Tanya Rosalie yang baru bangun tidur. "Ketiga peri sudah menemukan calon cinta sejatimu! Dan orang itu…" Peri Alis berhenti. "Siapa?" Tanya Rosalie penasaran. "Pangeran Gilbert yang Awesome dari Prusia!"
"…APA?" Tanya Rosalie tak percaya. "Benar, dia sekarang ada di rumah ketiga peri dan sepertinya mereka hendak datang kemari untuk menyelamatkanmu!" Jelas Peri Alis.
Rosalie langsung nangis-nangis tak keruan. "Aku tak percaya! Kenapa harus dia? Huaaa…" Peri Alis menenangkannya. "Sudah, sudah… akan kucoba hentikan mereka supaya Gilbert tidak sampai ke menara dan 'menyelamatkanmu' seperti yang ketiga peri harapkan! Kalau perlu, sebaiknya kubunuh juga ntu anak albino."
"Jangan sampai dia mati! Kasihan!" Kata Rosalie khawatir. Keadaan jadi hening sebentar sampai tiba-tiba Peri Alis bertanya, "Kau… membencinya, kan?" "Ya, tentu saja! Dia orang paling menyebalkan yang pernah ada!" Jawab Rosalie berapi-api.
"Lalu, bagaimana kau bisa khawatir dengan keselamatannya? Seseorang biasa berharap musuhnya mati, kalau perlu dengan rasa tersiksa." Kata Peri Alis. "I-Itu…" Rosalie tak bisa menjelaskan, wajahnya mulai memerah. Peri Alis menghela napas. "sudahlah, aku mengerti, git. Kau sebenarnya menyukainya, kan?"
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Rosalie. "Dua hal. Satu, raut wajahmu dan responmu saat aku berencana membunuh Gilbert. Lalu, sebenarnya aku minta maaf sekali untuk hal ini… Aku sudah berjanji mengunjungimu tiap hari, kadang aku baru tiba malam hari, saat kau sedang tidur. Jujur, kau sangat imut kalau sedang tidur, git. Nah, saat kau sedang tidur itu, aku sering mendengarmu mengigau kata-kata yang tentunya berhubungan dengan Gilbert." Jelas Peri Alis.
"DASAR!" Rosalie pun menggebuki Peri Alis dengan semua alat musik yang ia temukan. "ADOOHH~" Peri Alis mengaduh kesakitan. "Aku punya firasat mereka sudah sampai. Cepat! Kembalilah ke tempat tidurmu! Aku akan coba menghalau sekelompok git itu!" Peri Alis segera menghilang.
Rosalie kembali ke tempat tidurnya, dan karena dia mengantuk, dia kembali tidur lagi.
-FLASHBACK ENDS-
"Begitu, jadi sebenarnya Arthur tidak mengutukku dan semua ini seharusnya tak perlu terjadi." Kata Rosalie. "Sebenarnya aku juga tahu rencana ini, karena harapan itu hanya bisa dibuat dengan hati. Meski Arthur mengucapkan kutukannya dengan keras, jika hatinya menolak, maka itu tak akan terjadi. Saat itu kuputuskan untuk diam saja karena aku khawatir tak akan ada yang percaya." Kata Peri Fujo tiba-tiba.
"J-Jadi, kesimpulannya adalah, Arthur tidak mengutuk Rosalie, sebenarnya Arthur sendiri mengharapkan agar Rosalie cepat mendapat pasangan, lalu si British Git dan Rosalie bersekongkol, lalu kutukan itu tidaklah nyata, dan… tunggu. Ada satu hal yang belum diketahui Rosalie." Kata Peri Senapan. "Gilbert itu sebenarnya adalah…" "Orang yang dipertunangkan denganmu 19 tahun lalu." Kata Peri Fujo melanjutkan kata-kata Peri Senapan.
"Apa?" Rosalie dan Gilbert kebingungan. "Yah, begini. waktu kami menghadiri acara itu, kami ingat persis ratu mengatakan kau dipertunangkan dengan Pangeran Gilbert." Kata Peri Moe. Tiba-tiba, Ratu Mona dan Raja Heracles datang ke menara itu. "Rosalie! Kau sudah kembali, Nak!" sang ratu memeluk Rosalie erat-erat sampai Rosalie sulit bernapas. "Uhhh… Bu, kurasa ibu bisa melepaskanku sekarang…" "Oh, baiklah." Ratu pun melepaskan Rosalie. Sang raja masih tertidur pulas, meski mantra tidurnya sudah hilang.
"Wah~ Pangeran Gilbert juga ada disini rupanya!" kata sang ratu melihat Gilbert. "Karena kau sudah kembali, ibu mau memasak dulu, kelihatannya semua pelayan masih tidur. Nanti kita makan malam bersama, dan Pangeran Gilbert diajak tentunya!" Ratu Mona pun pergi meninggalkan para peri, Rosalie, dan Gilbert.
"Jadi, sebenarnya kalian menipu kami semua, ya….?" kata Peri Senapan. "E-Eh, bukan begitu…" Arthur kehabisan kata-kata. "DASAR KALIAN INI~!" Peri Senapan mengejar-ngejar Peri Fujo, Peri Alis, Gilbert, dan Rosalie sementara Peri Moe berusaha menahan kakaknya itu.
Peri Alis cabut duluan, sementara Peri Fujo mengikuti. Gilbert mengambil tindakan cepat dengan cara menggendong Rosalie (yang marah-marah tentunya) dan berlari dengan kecepatan turbo. Duo Author menonton kejadian tersebut dari kejauhan, dan saat mereka melihat Gilbert dan Rosalie, Author berkata "Eh lihat, kawin lari tuh."
Akhirnya, Gilbert dan Rosalie menikah, Runa belum juga memanggang kambingnya sampai sekarang karena dia kasihan pada wujud asli kambingnya aka Mathias, Peri Alis membuka toko scone paling gosong di pinggir jalan, Peri Senapan tetap marah pada yang lainnya, Peri Moe melengkapi koleksi pitanya jadi seribu buah, dan Peri Fujo sibuk menggambar doujin yaoi PruAus terbaru yang dia buat extra extra extra hard X, lengkap dengan crossdressing, raep scene, dan syarat-syarat utama sebuah doujin yaoi hard X.
Dan mereka hidup (tidak terlalu) bahagia selamanya.
-(Sufem!)FIN-
Selesai, sodara-sodara! *tebarsconegosong* Mmakasih banyak untuk yang sudah baca, sudah nge-ripiu *liatkotakreview* *keliatancumansatu* orz...
Nngomong-ngomong soal sufem!fin *?* Rasanya kita mulai kekurangan suplai ya? Pengen bikin~ Tapi ga bisa. orz...
Pssst... kalo gak tau siapa Runa, tolong baca songfic yang sebelumnya ya... yang judulnya Slow Down bBaby itu tuh~ *dilemparwajankarenapromosi*
