Chapter 2.

Donghae's POV.

Aku menatap keluar jendela. Diluar terlihat mendung, sebentar lagi pasti hujan. Huft..., hujan adalah saat yang disukai yeoja itu. Setiap ada hujan dia pasti akan ke sebuah taman di dekat pelabuhan hanya untuk menari. Ya, menari, entah kenapa dia senang sekali pada dance, apalagi kalau sedang hujan. Tidak perduli bajunya yang basah kuyup, bahkan meskipun aku sudah memarahinya, dia akan tetap menari sampai hujan reda –atau paling tidak sampai dia lelah—. Besoknya, dia pasti tidak masuk sekolah. Tentu saja karena dia sakit setelah hujan-hujanan. Aku masih ingat wajahnya yang lucu saat sedang menari. Dia bisa tertawa lebar –bahkan sampai gusinya terlihat—hanya karena menari, bahkan saat sakit pun dia masih bisa tertawa. Yeoja yang begitu energik, bukan, tapi hyperaktif.

Bugk.

Tiba-tiba sebuah penghapus papan tulis mendarat dengan mulus di kepalaku. Aku pun menoleh ke asal penghapus tadi sambis mengusap-usap kepalaku.

"Lee Donghae! Jangan melamun saja. Perhatikan pelajaran!" kata Park songsaenim.

"Ne songsaenim." Jawabku.

Kriiing...

Bel sekolah mulai bernyanyi. Tanda semua murid di Sangtae High School sudah bebas dari belenggu pelajaran.

"Hae, kau tadi kenapa?" tanya Siwon, teman sekelasku.

"Kenapa apanya?" tanyaku tidak mengerti.

"Kau kenapa tadi? Tumben sekali kau gak konsen saat pelajaran Park songsaenim. Bukankah kimia itu pelajaran favoritmu?"

Tunggu dulu, benar juga kata Siwon. Pelajaran favoritku kan kimia, dan seingatku ini pertama kalinya aku tidak memperhatikan pelajaran kimia. Aku kenapa ya?

"Kau sakit Hae?" tanya Siwon lagi.

"Aniya. Aku gak sakit kok."

"Yakin?"

"Molla."

"Aish... kau ini. Untung saja sekarang hari Sabtu, dan besok libur. Kau jadi bisa istirahat, aku takutnya kau benar-benar sakit." Kata Siwon sambil menepuk pundakku.

"Aku duluan ya." Kata Siwon sebelum meninggalkanku.

Hm... hari Sabtu. Entah kenapa aku jadi malas pulang, enaknya kemana ya?. Ah, aku ajak saja Sungmin jalan-jalan. Aku pun segera meraih ponsel di saku celanaku. Aku segera mencari nomor Sungmin dan menelponnya.

"Yeoboseo..." jawab Sungmin di seberang sana.

"Yeoboseo. Minnie kau mau tidak jalan-jalan denganku?" tanyaku langsung.

"Kapan?"

"Sekarang."

"Mianhae. Tapi aku gak bisa. Mianhae Hae."

"Ne, gak apa-apa kok. Yasudah sampai jumpa." Aku lalu menutup telpon. Hm... siapa ya yang bisa kuajak selain Sungmin. Tiba-tiba aku teringat yeoja tadi. Dia pasti mau aku ajak. Tapi sayang, sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya. Dia juga tidak masuk sekolah. Aku juga sudah pernah kerumahnya, tapi rumahnya malah terlihat kosong. Apa dia begitu sedih sejak pertengkaran kami itu ya?. Akupun memutuskan mendatangi rumahnya sekali lagi. untuk memastikan dia baik-baik saja atau tidak. Eh, tunggu, kenapa aku jadi perhatian padanya?. Molla, mungkin karena dia sahabatku dari kecil. Rasanya aku selalu khawatir sejak kejadian itu. Aku khawatir terjadi sesuatu, apalagi kalau aku tidak bisa bertemu dia lagi. Andwe...! aku bahkan belum minta maaf.

Akhirnya aku pergi ke rumahnya. Ku ketuk pintu rumahnya yang terbuat dari kayu jati itu.

1 detik

5 detik

30 detik

1 menit

Tetap tidak ada jawaban. Tidak ada yang membuka pintu. Huft… apa dia tidak di rumah ya?. Tapi sudah seminggu lebih sejak kejadian itu, mana mungkin selama itu dia tidak pulang. Ah, ada orang, aku tanya saja.

"Permisi Agassi. Apa anda tahu yeoja yang tinggal disini?" tanyaku pada orang tadi.

"Oh, maksudmu Hyukjae-ssi?"

"Ne, Hyukjae. Apa kau tahu dimana dia?" tanyaku lagi.

"Dia sepertinya sudah pindah 3 hari lalu." Jawaban nona tadi membuatku terkejut. Kenapa Hyukie tidak bilang padaku?. Semarah itukah dia?.

"Pindah? Kemana?" tanyaku lagi.

"Molla. Tapi yang mengambil barangnya bukan dia sendiri." Ha? Kalau bukan Hyukie, siapa? Setahuku Hyukie tidak punya kerabat.

"Nuguya?"

"Sepasang yeoja dan namja paruh baya. Mereka mengaku sebagai orangtua angkat Hyukjae-ssi." Jelas nona tadi. Orangtua angkat? Kapan dia diadopsi? Kenapa aku tidak tahu? Padahal dulu Hyukie selalu bercerita padaku tentang apapun. Kenapa hal sepenting ini aku tidak tahu?. Hyukie mianhae, sepertinya aku terlalu keras padamu.

Zrash…..

Aku berjalan dengan langkah gontai menuju rumahku. Kubiarkan tubuhku basah terkena hujan yang deras. Seperti dugaanku tadi, pasti akan hujan, ternyata benar. Rasa bersalahku pada Hyukie makin besar, bahkan terasa seperti hujan yang sedang mengguyurku, bukan, tapi lebih deras. Aku tak sengaja menoleh saat melewati sebuah cafe. Betapa terkejutnya aku, didalam cafe tersebut ada Sungmin dan seorang namja. Mereka begitu akrab, terlalu akrab untuk teman, bahkan saudara sekalipun. Aku memutuskan untuk masuk ke cafe itu, tapi belum sempat aku masuk aku dikejutkan oleh sesuatu yang kulihat didepan mataku, mereka berciuman. 'Shit!' umpatku kecil. Ternyata selama ini yang dikatakan Hyukie benar, tapi aku malah memarahinya, bahkan sekarang dia sudah pindah sebelum aku minta maaf. Argh... Donghae pabboya.

Kriiing...

Bel sekolah tanda pulang berbunyi. Rencananya aku akan memastikan apa yang aku lihat kemarin benar atau tidak. Aku menoleh kearah jendela, ternyata namja yang kemarin bersama Sungmin sudah di depan gerbang, kebetulan sekali. Eh, tunggu, kenapa dia memakai seragam sekolahku? Jadi dia murid di Sangtae High School juga? Omona, kuper sekali aku ini, sampai gak kenal murid lain di satu sekolah. Aku segera menuruni anak tangga dari kelasku di lantai 3 ke lantai 1. Saat aku melewati depan kelas Sungmin aku sempat melirik kedalam, tapi sepertinya orang yang aku cari sudah keluar. Saat sampai di depan gerbang aku melihat Sungmin dan namja kemarin sedang berbincang. Segera aku melangkah mendekati kedua orang itu.

"Aw..." ringis Sungmin saat aku –pura-pura—menabraknya. Sepertinya aku agak keras menabraknya, sampai-sampai Sungmin jatuh terduduk karena kutabrak.

"Eh, mianhae, aku tidak sengaja."kataku sambil membungkuk. Tentu saja masih berpura-pura tak sengaja menabrak.

"Ha-Hae..." Sungmin terlihat kaget karena aku menabraknya. Matanya membulat, bahkan dia sampai terbata-bata. Ternyata aktingku bagus juga. Kekeke

"Ya! Namja pabbo! Kalo jalan hati-hati dong." Kata namja yang kulihat kemarin sambil membantu Sungmin bangun.

"Kau ini siapa? Enak saja kau mengataiku pabbo. Aku kan tidak sengaja." Elakku. Enak saja aku dibilang pabbo.

"Cho KyuHyun, namjachingu-nya Sungmin noona." Jawabnya bangga.

"Kau kelas berapa? Kenapa aku tidak tahu ada kau di sekolah ini ya?" tanyaku.

"10-2. Kuper sekali kau, aku masuk dengan nilai sempurna, jadi semua murid tahu aku." Jawabnya bangga. Nih anak narsis amat.

"Noona, kau kenal namja ini?" tanya Kyuhyun pada Sungmin yang sekarang sudah dapat berdiri.

"Dia a..." belum sempat Sungmin selesai bicara aku langsung memotongnya.

"Donghae imnida. Teman kecil Sungmin. Baiklah aku harus pergi dulu." Kataku dan langsung meninggalkan mereka berdua. Sempat kulihat wajah Sungmin yang melongo mendengar kata-kataku. Sebenarnya aku juga kaget mendengar kata-kataku, kenapa aku tadi bilang teman, padahal aku ini kan pacarnya Sungmin?

23.48 waktu setempat.

Sudah hampir tengah malam, tapi aku belum juga bisa tidur. Entah apa yang membuatku resah. Sudah berkali-kali kucoba menutup mata, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur.

Drt... Drt... Drt...

Handphone-ku yang kutaruh di meja bergetar, sepertinya ada yang menelponku. Kuraih handphone-ku. Dilayarnya kini tertulis 'Minnie Sungmin calling'. 'Ada apa dia meleponku malam-malam?' Pikirku dalam hati. Segera ku pencet tombol angkat.

"Yeoboseo." Kataku.

"Yeoboseo... Hae, kau belum tidur?" tanya Sungmin di seberang sana.

"Kalo aku tidur aku tidak mungkin mengangkat telpon." Jawabku. Ternyata aku humoris ya. Hehe.

"Ada apa?" tanyaku lagi.

"Hae, sebenarnya aku ingin bilang tentang yang tadi siang." Jawab Sungmin.

"Oh tentang aku menabrakmu? Ne, mianhae, aku tidak sengaja."

"Bukan, aku sebenarnya ingin bilang tentang Kyu..." lagi-lagi ucapan Sungmin kupotong.

"Oh, namjachingu-mu itu?" jawabku datar.

"Hae, mianhae..." jawab Sungmin, suaranya terdengar sendu.

"Minnie, kita putus ya." Kataku

"Kenapa?" suara Sungmin kini terdengar agak bergetar.

"Bukankah kau sudah punya Kyuhyun. Aku tidak mau merusak hubungan kalian, jadi kita putus saja." Kataku dengan nada datar. Aneh.

"Ha-Hae..." suara Sungmin kini terdengar bergetar.

"Sudah ya Minnie, sudah malam, besok masih sekolah kan." Kataku sebelum menutup telpon. Etah kenapa rasanya aneh, aku yang mengetahui Sungmin yang pacaran dengan namja lain tidak merasa sedih. Tidak seperti rasa bersalahku pada Hyukie yang sampai sekarang terus menghantuiku.

Tiba-tiba sesuatu melintas dipikiranku. Sekarang aku sudah kelas 3 SMA, tapi aku belum menentukan ingin masuk mana. Hae, kau ini pabbo atau bagaimana? Hal sepenting ini kenapa belum kau pikirkan. Rasanya aku ingin keluar dari Mokpo, tapi kemana? Seoul. Benar juga, sejak kecil sebenarnya aku ingin bersekolah di Seoul, tapi aku mengurungkan niatku sejak bertemu Sungmin saat SMP. sekarang aku jadi semakin ingin sekolah di Seoul. Semakin lama mataku semakin berat. Tak terasa sekarang aku sudah memejamkan mataku.

2 tahun kemudian.

Aku sedang berjalan dengan langkah gontai. Aku baru saja pulang dari kampus, dan sekarang aku sedang menyusuri jalan menuju apartemenku.

Kruyuk...

Sudah dapat dipastikan darimana suara surgawi tersebut berasal. Tadi aku belum sempat sarapan karena terlambat bangun, dan tadi aku juga tidak makan siang di kampus karena ternyata dompetku ketinggalan, padahal sekarang sudah jam 5 sore. Tapi meskipun dengan tampang acak-acakan, aku masih terlihat tampan, buktinya beberapa yeoja yang berpapasan denganku senyum-senyum sendiri, bahkan tadi ada segerombol anak SMA yang sampai berteriak melihatku. You'r handsome, Hae *narsis bener, bang* *dibantai elfishy*

Tanpa sengaja aku menoleh kearah sebuah rumah yang cukup besar. Diberanda lantai dua rumah tersebut duduk seorang gadis yang... waw... cantik. Rambutnya yang hitam sepunggung dibiakan terurai, wajahnya menatap ke suatu tempat, tatapannya kosong namun seperti menyimpan kesedihan. Entah mengapa saat melihatnya aku merasa hangat. Aku merasa pernah bertemu dengannya, tapi aku tidak tahu kapan.

Tiba-tiba seorang namja jakung muncul dari balik pintu dan memeluk lehernya. Yeoja tadi terlihat terkejut, namun setelah mengetahui siapa yang berada dibelakangnya dia justu tersenyum. Entah kenapa ada perasaan tidak suka melihat mereka berdua seperti itu. Aku membelalakkan mataku melihat namja jakung tadi menggendong yeoja itu dengan bridal style. Perasaan tidak suka itu semakin muncul. Tapi siapa aku, kenal mereka saja tidak. Kuputuskan untuk melanjutkan pejalanan pulangku.

Sesampainya dirumah aku segera mandi dan makan malam. Setelah selesai makan aku masuk ke kamarku. Entah mengapa rasanya aku lelah sekali, tepi wajah gadis tadi masih ada di benakku. Aku merebahkan tubuhku di kasur sambil terus mengingat-ingat siapa gadis tadi. Begitu kerasnya aku berfikir sampai mataku terpejam. Baru saja mataku terpejam, tapi aku tiba-tiba ingat siapa gadis yang aku lihat. Aku membuka mataku karena terkejut. Hyukie, atau lebih tepatnya Hyukjae. Ya, sekarang aku ingat, dia mirip Hyukie, bukan, tapi dia adalah Hyukie. Aku yakin itu dia, wajahnya tak berubah sejak terakhir aku bertemu dengannya.

"Hyukie... jeongmal bogoshipoyo..." kataku lirih. tapi siapa ya namja yang tadi menggendongnya?

TBC

akhirnya chap 2 selesai. author minta maaf kalo lama updatenya. maaf juga kalo disini Sungmin kurang tersiksa, author bingung mau nyiksa Sungmin kayak gimana. hehe

buat yang sudah review author ucapkan terimakasih, chap 2 ini review lagi ya *maksa mode on*. sekali lagi, review please ^^