Chapter 3

Seorang namja jakun berwajah cina berjalan menuju balkon rumahnya. Sebut saja namanya Zhoumi. Disana terduduk seorang yeoja bernama Hyukjae dengan rambut sepunggungnya yang ia biarkan terurai.

"Aku sudah mengikhlaskanmu pergi..." kata Zhoumi tadi pada Hyukjae dengan suara yang dibuat seseram mungkin. Dia berbicara tepat ditelinga Hyukjae sambil mengalungkan tangannya ke leher Hyukjae.

"Aku juga ikhlas kalau kau ikut denganku..." kata Hyukjae dengan nada yang yang lebih seram. Mendengar kata-kata Hyukjae tadi Zhoumi menjadi agak merinding. Melihat ekspresi wajah Zhoumi membuat Hyukjae tidak bisa menahan tawanya.

"Hahaha... gege seharusnya melihat wajah gege... hahaha..." Hyukjae terus tertawa melihat wajah Zhoumi. Tunggu.. bukankah Hyukjae itu orang Korea? Kenapa dia tadi bilang 'gege'? yup, ini adalah dampak karena sudah 2 tahun hidup di dalam keluarga Cina.

"Mimi-ge ngapain disini?" tanya Hyukjae.

"Kau tidak lihat jam? Sekarang sudah mau malam, ga baik untuk yeoja diluar malam-malam. Lagipula Umma sudah buat makan malam tuh" jawab Zhoumi masih dengan memeluk leher Hyukjae. Sang pemilik leher hanya tenang-tenang saja, maklum, dia sudah terbiasa mendapat 'gurauan' Zhoumi, apalagi sebenarnya Hyukjae tahu kalau disebrang jalan ada Donghae yang terlihat, ehem... cemburu, jadi sekalian aja bikin Hae cemburu. Xixixi *dijadikan kambing qurban elfishy*

"Yei... ayo makan Gege" kata Hyukjae girang. Zhoumi segera menggendong Hyukjae ke ruang makan.

"Aigooo... kau berat sekali... keberatan dosa kayaknya..." kata Zhoumi melebih-lebihkan saat menggendong Hyukjae masuk.

"Dosa siapa yang lebih berat, aku atau Mimi-ge? Yang naruh kursi rodaku sembarangan sampai jatuh dari tangga siapa?" jawab Hyukjae ketus, mengingatkan Zhoumi pada dosa terbesarnya pada dongsaengnya.

Flashback.

Zhoumi menaruh kursi roda Hyukjae di dekat tangga, sementara sang pemilik kursi roda sedang duduk di sofa sambil menonton TV di lantai 2. Jam menunjukkan pukul 5 sore, itu artinya jam kerja Henry sebagai perawat Hyukjae untuk hari ini berakhir.

"Nona, sudah jam 5, saya pamit dulu." Kata Henry sopan.

"Ne eonni, hati-hati ya..." balas Hyukjae sambil tersenyum.

"Biar kuantar, Mochi" kata Zhoumi pada yeojachingu-nya. Henry hanya mengangguk pelan dengan wajah tersipu. Henry segera turun dan pamit pada Heechul dan Hangeng. Biasanya Henry membawa mobil sendiri, tapi berhubung mobilnya sedang ada masalah, jadi hari ini dia diantar jemput oleh Zhoumi, selaku pacar Henry.

"Cie... gege..." kata Hyukjae pada Zhoumi.

"Sudah diam, kau masih kecil, jangan ikut campur." Kata Zhoumi pada Hyukjae. Ia lalu mengambil jaket dan kunci mobilnya dan segera turun.

Saat melewati kursi roda Hyukjae, tanpa sengaja Zhoumi mendorong kursi roda Hyukjae. Kursi roda tersebut jatuh dari lantai 2 ke lantai 1 lewat tangga & berhenti dengan menabrak tembok.

"TAN ZHOUMI..." teriak Heechul melihat seonggok kursi roda menghantam tembok.

Benar sekali, kursi roda tersebut sudah tak berbentuk, dan sebagai gantinya Zhoumi harus menggendong Hyukjae jika Hyukjae ingin pergi sampai Zhoumi membeli kursi roda yang baru.

Flashback end.

.

Esok harinya.

Tok... Tok...

Terdengar suara ketukan pintu kamar Hyukjae. Sang pelaku pemukulan pintu tersebut berteriak membangunkan makhluk hidup di dalam sana.

"Hei tukang tidur, bangun!" seru Zhoumi dari luar. Hyukjae menggeliat pelan mendengar suara yang mengganggunya.

"Aku boleh masuk?" tanya Zhoumi lagi dari luar.

"Kau boleh masuk Mimi-ge" jawab Hyukjae. Zhoumi segera masuk dan menggendong Hyukjae ke meja makan untuk sarapa. Zhoumi mendudukkan Hyukjae di kursi disamping Heechul, sementara Zhoumi duduk disamping Hangeng. Mereka menikmati makanan mereka dengan khusuk, bahkan tidak ada suara di daput tersebut selain suara alat makan.

"Zhoumi, kau sudah belikan kursi roda untuk Hyukie?" tanya Heechul memecah keheningan.

"Hudah Umma, hehenhal hahi hashi hahang (sudah Umma, sebentar lagi pasti datang)" jawab Zhoumi sambil makan.

Plak... Sebuah pulukan manis dari Heechul telah berhasil mendarat dengan mulus dikepala Zhoumi.

"Kalau bicara telan dulu, baru bicara!" kata Heechul ketus.

"Yei... sekarang aku punya kursi roda lagi..." teriak Hyukjae senang. Heechul tersenyum sambil mengusap kepala Hyukjae melihat putrinya senang.

"Yei... jadi sekarang aku tidak harus menggendongmu..." Zhoumi ikut-ikutan teriak kegirangan.

"Kau kira siapa yang bertanggung jawab atas insiden 2 hari lalu, ha?" tanya Heechul sambil men-death glear Zhoumi. Zhoumi langsung terdiam dan menunduk dihadapan sang Umma.

Ting... Tong...

Terdengar bel rumah tesebut dipencet seseorang. Heechul segera berdiri dan membukakan pintu. Terdengar suara Heechul seperti sangat senang menerima tamu tersebut. Hyukjae mencoba meluhat siapa yang datang tapi tiba-tiba suara Zhoumi menghentikannya.

"Sudah, nanti kau akan tahu sendiri." Kata Zhoumi sambil melanjutkan makannya.

"Annyeong Ahjusshi, Hyukie..." kata seorang yeoja begitu masuk ke ruang makan keluarga tersebut.

"Mochi... Aku ga disapa juga?" kata Zhoumi sok melas.

"Aish... Mimi-ge, ga usah disapa juga ga masalah, toh tiap hari kan kita ketemu" kata Henry sambil menjulurkan lidah.

"Eonni, tumben sudah datang jam segini?" tanya Hyukjae.

"Aku mengantarkan paket untukmu" kata Henry sambil duduk disebelah Zhoumi.

"Paket apa? Dari?" tanya Hyukjae lagi. Henry tidak menjawab, tapi dia menunjuk kearah Zhoumi, Hyukjae lalu ber-o-ria.

.

Hyukjae's POV.

Sekarang aku sedang di koridor sebuah Rumah Sakit. Saat ini aku sedang menunggu Henry eonni. Seperti biasa, hari ini aku menjalani terapi untuk sakit yang aku alami. Tiba-tiba pintu ruang dokter tempat aku terapi terbuka, dan keluarlah Henry eonni dan dokter.

"Terima kasih, Uisanim" kata Henry eonni sambil membungkuk. Aku sebisa mungkin membungkukkan badanku meski sedang duduk di kursi roda. Henry eonni segera mendorong kursi rodaku pergi. Henry eonni membawaku ke sebuah taman di dekat Rumah Sakit tadi.

"Nona, apa nona yakin tidak mau menjalani chemoterapy?" tanya Henry eonni. Aku hanya mengeleng pelan.

"Aniya. Memang ada apa?" tanyaku balik.

"Penyakit nona... semakin parah, aku takut kalau nona..."

"Aku menjalani chemoterapy atau tidak hasilnya tetap sama, aku akan mati" kataku memotong ucapan Henry eonni dengan nada datar.

"Tapi nona, setidaknya nona bisa..."

"Hidup hanya menunda kematian, karena sekuat apapun kita, kematian pasti mendatangi kita. Iya kan eonni..." aku lalu menoleh kearah Henry eonni sambil menunjukkan gummy smile-ku. Henry eonni hanya membalas senyumanku dengan tatapan agak sendu.

Aku menoleh ke sebuah bangku taman. Disana terduduk seseorang yang sepertinya kukenal. Mimi-ge. Benar itu Mimi-ge.

"Nona, bukankah dia Mimi-ge?" tanya Henry eonni padaku. Ternyata dia juga melihat Mimi-ge?. Aku hanya mengangguk, karena aku sendiri kurang yakin. Henry eonni lalu mendorong kursi rodaku mendekati bangku tersebut.

"Mimi-ge?" tanya Henry eonni pada Mimi-ge.

"Mochi? Kenapa kau dan Hyukie disini?" tanya Mimi-ge, sepertinya dia kaget melihatku dan Henry eonni.

"Seharusnya aku yang tanya itu Mimi-ge. Kau sedang apa disini? Jangan mentang-mentang kau kerja di kantor Appa kau bisa seenaknya keluar" kataku ketus.

"Siapa yang keluar, ha? Aku disini karena..." kata-kata Mimi-ge terpotong, sepertinya dia tidak berani bilang.

"Karena apa?" tanyaku.

"Tolong jangan bilang pada Umma ya..." kata Mimi-ge agak takut. Aku dan Henry eonni mengangguk.

"Aku tadi..." Mimi-ge masih menggantungkan kata-katanya, aku dan Henry eonni makin penasaran dengan Mimi-ge.

"Aku..."

"Ya, Mimi-ge! Kala bicara jangan lama-lama!" kataku semakin penasaran.

"Oke oke... sebenarnya aku tadi... menyerempet orang..." kata Mimi-ge melengkapi kalimatnya tadi. Wajahnya kini menjadi sangat cemas. Lalu reaksiku dan Henry eonni adalah...

1...

2...

3...

"TAN ZHOUMI..." teriakku dan Henry eonni bersamaan. Maklum, kami sering mendengar Umma marah, jadinya ikutan kayak Umma deh kalau marah.

"Sstt... jangan teriak keras-keras..."

"Mimi-ge ga bosen apa nabrak orang mulu?" tanyaku dengan nada ketus.

"Ini bukan nabrak, tapi nyerempet" kata Mimi-ge ngeles.

"Sama aja!" Mimi-ge menundung mendengar ocehanku yang semakin lama semakin mirip Umma.

"Aigo Mimi-ge... kau tidak takut SIM-mu dicabut gara-gara sering nabrak?" tanya Henry eonni.

"SIM-nya sudah pernah dicabut kok" jawabku pada Henry eonni.

"Tapi aku ikut ujian lagi, jadi aku dapat SIM lagi deh" tambah Mimi-ge dengan entengnya.

"Sekarang siapa lagi yang..." belum selesai aku bertanya tiba-tiba seseorang datang dengan perban di tangannya. Aku sepertinya kenal dengannya. Aku mencoba mengingat-ingat siapa dia.

"Kau tidak apa-apa? Apa lkamu parah?" tanya Mimi-ge sambil berdiri pada namja yang baru datang.

"Tidak terlalu parah, jeosonghamnida, tadi saya menyebrang sembarangan" katanya sambil membungkukkan suaranya membuatku semakin merasa mengenalnya. Dia lalu menoleh padaku, dan sepertinya dia ingat padaku.

"Hyukie?" tanyanya dengan wajah berbinar.

"Nuguya?"

TBC

annyeong readers... ^^

mian updatenya lama *bungkuk 90'*

buat reviewnya, Jae makasih baget

jeongmal gamshahamnida...

mian kalo masih ada salah, mungkin Jae emang agak kurang teliti

mian juga karena tiba-tiba ganti nama

hehe

sekali lagi, Jae tunggu reviewnya ya readers... ^^