The Great Detective L Lawliet
HAY hari ini tetep nyolong buat fanfic padahal April mau UN wah tapi tak usah dipikirkan lets go to read Semoga kalian menikmati heheheheehhe thanks buat yang mau review... dalam fanfic ini akan aku buat ada bahasa prancisnya jadi bila gak ngerti tanya aja... saya cari di G**gle loh...
Disclainer: DN punyanya duo TO
TGD Kiyoshiro Yumemizu punyanya Kei Enue & Kaoru Hayamine
Kuroshitsuji punyanya Yana Toboso
Warning: OOCness, OOSness, dan typo kalau ada tolong direview biar bisa diperbaiki...
bonne lecture
(bahasa prancis lagi)
Tempat Syuting...
Kalian tentu mengenal banyak detektif terkenal, apakah kalian mengenal detektif yang satu ini? Detektif ini adalah L Lawliet, detektif yang dapat diandalkan dalam kasus yang kurang masuk akal oleh para polisi bahkan oleh jajaran FBI.
Aku Mello adalah anak pertama dari 3 saudara kembar, Matt adalah anak kedua yang sangat hobi main olahraga bahkan gamenya pun ia mainkan walaupun memang banyakan main game. Near adalah anak termuda dari kami 3 saudara kembar, ia hobi memainkan boneka dari gundam sampai barbie pun ia mainkan kadang ia terlihat memeluk teddy bear, kadang pula memainkan hulknya yang berpelukan dengan barbie. Sedangkan aku pecinta coklat yang nggak takut kena diabetes akut.
Setelah terkejut dengan ledakan seharga kami pun memasuki rumah tersebut.
"Rumah ini berharga berapa?" kata si Mello.
"Hanya 500 juta yen," kata Light tenang gak peduli keadaan.
"Hei ingat itu dalam yen loh," kata Near sebelum Profesor bertanya kembali.
"Waw, rumah yang bagus," kata Mello.
"Tak sesuai dengan harganya, interiornya jelek," kata Matt padahal yang mereka lihat itu rumah besar yang bagus. Matanya buta kali ya.
"WHAT? Lu mau gue tembak apa? Mansionnya bagus gini dibilang jelek," kata Mello yang sempet-sempetnya bawa pistol.
"Ehem, gunakan kata-kata yang sopan Mellon," kata Near ngambek karena motonya "mulutmu=kelakuanmu".
"Ya sudah mari kita masuk ke dalam," kata Light tenang tapi ia langsung ke arah Watari."Jaga Michele jangan sampai ia keluar mengerti," kata Light bisik-bisik.
"Siapa yang memesan manekin," kata Watari.
"Siapa? Kami merasa tidak," kata mereka bersamaan." Jumlahnya kok lebih 1 ya," kata Light bingung.
Mansion tersebut berdinding putih kebiruan yang memancarkan sejuknya udara laut, langit-langit yang terasa sulit digapai, furniturnya yang mewah, dan barang antik yang sulit sekali didapat terpajang disudut-sudut ruangan. Walaupun rumah itu kecil dijamin banyak yang tetap menyukai suasana dalam mansion tersebut. Yap mereka menikmati keindahan tersebut sampai diganggu oleh...
"Light-niichan," kata seseorang yang menggunakan gaun pendek dan rambutnya dikucir dua.
"Michele jangan ke sini, lagi banyak tamu nih," kata Light cerewet pada adik perempuannya.
"Aku bosan di kamar, bolehkan aku ikut dalam pembuatan film nii-chan? Please...," kata Michele dengan puppy eyes.
"Sudahlah Tuan Muda, kabulkan keinginan Nona Muda. Ia jauh-jauh datang dari Inggris untuk menemui anda," kata Watari sambil menunduk.
"Ya baiklah bila itu adalah keinginanmu Watari aku akan mengabulkannya. Ingat Michele kau tidak boleh berbuat nakal," kata Light tegasnya cuma saat pada bicara pada adiknya sendiri.
Semua orang yang dari tadi tidak diperhatikan mulai merasa bosan melihat adu mulut sang adik dan kakak yang sedang asik bercengkarama (coret) bertengkar demi sebuah peran. Sedangkan si Mello sedang asik memandangi sang gadis yang menurut pandangannya itu imut. Si Matt lagi asik main gamenya tanpa tahu kalau sudah banyak waktu yang terbuang. Si Near asik memeluk boneka teddynya karena mereka bakal berpisah selama beberapa waktu karena mereka akan syuting. Profesor lain lagi ia sudah menjadi kering karena sudah kelaparan stadium akhir.
"La...par...," kata Profesor (sangat) tidak bertenaga.
"Iyaya biasanya jam segini Profesor sedang makan siang ya," kata Near melihat jam yang sudah menunjukkan angka 12.00.
Ternyata yang lapar bukan hanya si Profesor yang doyan makan ternyata semua orang sudah pada kelaparan tentu kecuali Michele yang barusan baru makan (ya iyala baru makan masa laper lagi emang dia Profesor).
Ternyata suasana di ruang makan berbeda, dindinya yang berwarna merah darah yang membawa kehangatan. Langit yang gelap semakin membuat mereka merasa bahwa mereka sedang melihat sunset di tepi pantai. Furnitur yang semuanya terbuat dari ukiran kayu berkualitas tinggi serta makanan dengan bahan kelas atas menambahkan hasrat untuk cepat makan(?). Kita lihat, Profesor sedang asik makan hidangan manis, Mello cuma makanin puding coklatnya, Matt makan layaknya orang normal walaupun sambil bermain dengan consolenya tercinta, si Near malah asik mainin makanannya layaknya pesawat terbang. Orang yang pakaiannya aneh makan di pojokan, Light ternyata makannya super cepat yang lain belum selesai, ternyata katanya ia sudah terbiasa makan cepat karena banyak tugas kantor.
"Mari kita mulai syutingnya," kata Light bersemangat dengan amukan ombak sebagai latarnya.
"Silahkan pakai kostumnya," kata si Penata Rias. Bajunya kimono cewek ingat CEWEK.
"Woi gue bukan cewek jangan paksakan kasihnya ke Matt ama Near aja," kata Mello sedangkan orang yang disebut mukanya menjadi horor.
"Maaf apa nggak salah kostum ya ," kata Near sesopan mungkin agar si Penata Rias tidak merasa tersinggung.
"Wua, betul gak ada kimono cowoknya pake aja dulu," kata si Penata Rias kaget bukan main,"kukira aku sudah bawa yang benar," katanya sambil memukul-mukul kepalanya.
"Ajarin pakeinnya berarti," kata Matt dengan nada kesal.
"Mari saya bantu," kata sang butler mes- multi talenta kita Sebastian dengan senyum yang menggoda.
"Terimakasih," kata 3 Melarat sekaligus.
Di tempat lain seseorang sedang melaksanakan rencana yang indah dan tersembunyi dibalik siang yang terik. Seseorang akan terculik dibalik indahnya bulan merah yang menghipnotis. Bisa wanita dan pria bahkan bisa juga remaja dan dewasa. Di tempat lain pula Light asik dengan doujinsinya dengan memasang wajah mesum. Michele sedang menggunakan gaunnya yang ternyata gaun mini yang sangat pas dipadukan topi merahnya.
"Ceritanya tak terlalu sulit, tetapi kalian harus mempelajarinya dengan baik, mengerti," kata Light sudah seperti layaknya studara profesinal."Siap action," katanya lagi.
"Wah ternyata hanya tinggal kita berdua saja," kata sang gadis dengan pistol di tangan kanannya.
"Yap kita tinggal menunggu 3 bocah kerdil tersebut setelah menghabiskan bocah lainnya," kata si pria dengan 2 pistol yang digenggam kedua tangannya.
Walaupun keadaan itu biasa aja buat yang sering bekerja dalam bidang perfilman, si 3 Melarat hanya bengong gak tau mau ngapain dan malu abis karena pake baju beginian. Nyatanya si Michele tenang-tenang aja walau pake baju cewek (Mello: Ya iyalah dia kan cewek. Near: Perhatikan bahasamu).
"Permisi kapan giliran kami lagi?" kata Matt asik melihat skenario,"kok cuma dikit banget. Nggak ngomong lagi cuma duduk diem di pojokan,"kata Matt lagi.
"Gak ada silahkan diam saja di kamar, kami akan memberi tahu bila ada lagi," kata orang yang berbaju aneh.
Akhirnya kerjaan mereka hanya bengong padahal mereka gak dibolehin bawa hal yang mereka suka ke kamar itu tentu kecuali Profesor. Pelayannya kayaknya baikan ke Profesor daripada ke 3 kembar tersebut.
"Coklat...coklat...," kata Mello merenung.
"Game...game...,"kata Matt ikut merenung.
"Teddy...Teddy...,"kata Near ikutan juga merenung.
"Nyam-nyam-nyam," kata Profesor sedang makan pakanan manisnya dengan tenang dan tentram tidak memperhatikan mereka yang sedang merenung. "Mau Mello," tanya Profesor menawarkan coklatnya yang besar.
"Ma-ma-mau," kata Mello yang air liurnya udah kayak air terjun deras...
"Mau game?" kata Profesor memperlihatkan game yang dia ambil diam-diam.
"Mau...MAU!," kata Matt yang semangatnya menjunjung tinggi bahwa tak ada orang hidup tanpa game.
"Mau ini?" kata Profesor memberi rubik.
"MUAU! Mau banget," kata Near senengnya udah selangit sampai langit ke-100(?).
Pada akhirnya mereka menjadi senang dengan adanya Profesor yang mengerti keinginan mereka.
Makan malampun tiba mereka disuruh pake kostum. Profesor menggunakan kostum L Death Note yang katanya pakaiannya mirip dengannya.
readers: Ya iyalah diakan L pasti pake bajunya dia sendiri...
Michele pake kostum Mello Death Note karena itu favoritnya, Mello pake kostum Matt karena baju Mello kan dipake Michel.
A/N: bayangin aja Mello rambutnya mesti merah demi pake kostumnya Matt.
Matt pake bajunya Phantom yang pake topeng setengah yang keren itu..., Near memutihkan rambutnya demi mendalami peran yang kayak di Death Note maklum rambutnya saya ubah jadi item karena aku benci putih. Light dan Watari cuma pake jas. Ciel pake baju bajak laut, Sebastian balerin- *dipukul Sebas* iya-iya baju pengikut. Si cewek siapa itu pake baju fictorian.
"Makanan," kata Profesor dengan sparkle eyes yang cukup mematikan. Ia sangat sibuk makan makanan penutup yang berlapis gula yang ternyata sengaja dibuat oleh Light untuk Profesor yang gemar makanan manis. Sedangkan pada saat Mello cuma makan puding langsung dimarahi oleh Light.
"Makan yang bener dunk. 4 sehat 5 sempurna nih susunya," kata Light kayak ngasih perintah ke anak kecil yang mau makan.
"Woi terserah gue mau makan yang mana! Gue bukan anak kecil,"kata Mello sebal padahal Matt dan Near asik aja makan tanpa diperhatikan.
Ternyata si Michele sedang asik mengembat puding coklat favoritnya, hal itu membuat Mello nangis karena gak tau mau makan apa lagi.
"Michele kau asik ya makan puding,"kata Light tiba-tiba.
"Aku Mello lihat bajuku,"kata Michele mengalihkan pembicaraan.
"Aku tahu kau adalah Michele tadi aku baru saja memarahi Mello," kata Light seram.
"Ah aku ngantuk banget aku pergi dulu ya...,"kata Michele mengalihkan pergi ke kamarnya.
Lalu pesta berlanjut sampai semuapun ikut tertidur seperti Profesor.
Pagipun datang mereka makan dengan tenang samapi mereka merasa ada seseorang yang tidak mengikuti makan pagi ini.
"Siapa yang tidak datang?"tanya Light merasa adiknya tidak datang-datang,"cari di segala tempat segera!"kata Light cemas.
"Tidak ada! Apakah ada ruangan lain di luar rumah?"tanya Profesor dengan nada menginterogerasi.
"Ada untuk alat properti,"kata Watari dengan muka yang sangat tenang. Semua orang pergi ke tempat itu dan tidak menemukan siapa-siapa serta gunung yang seharusnya ditempatnya.
"Gunung! Gunungnya kemana?"kata Ciel bingung,'bukankah harusnya di sini?" kata Ciel.
Mereka diam hening sejenak sampai ada orang yang berbicara. Orang itu melepas segala hal yang menutup dirinya dan menunjukkan indetitasnya...
"Saya adalah polisi yang disewa oleh ayah anda..."kata polisi yang aku skip karena sudah melebihi targetku.
Thank buat Claire Lawliet maaf baru sekarang... aku akan buat seOOS mungkin...
Thanks buat Nico-PortGas-Ichi-River aku emang buat mereka berbeda dan sangat ooc karena ceritanya harus 3 kembar maka aku jadikan mereka 3 kembar hehehehehe
beri tahu aku kesan-kesan kalian saat membaca cerita kasi tau aja kalau mau kasi flame tolong kasi nasihat kan aku anak baru thank ya
